DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
LAPORAN HASIL KUNJUNGAN KERJA KOMISI II DPR RI KE PROVINSI JAWA BARAT
MASA RESES PERSIDANGAN II TAHUN SIDANG 2021-2022 20 DESEMBER 2001
I. PENDAHULUAN
A. DASAR KUNJUNGAN KERJA
Pelaksanaan kunjungan kerja didasarkan pada hasil rapat konsultasi antara Pimpinan DPR RI dengan pimpinan Alat Kelengkapan Dewan, serta Keputusan Rapat Intern Komisi II DPR RI.
Tim Kunjungan Kerja Komisi II DPR-RI ke Provinsi Jawa Barat (Jabar) berjumlah 12 (dua belas) orang Anggota, yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi II DPR-RI, Saan Mustopa, M.Si (F-Nasdem).
Tim Kunjungan Kerja didampingi oleh Kabag dan Staf Sekretariat Komisi II DPR-RI, Tenaga Ahli Komisi II DPR-RI, bagian Pemberitaan dan TV Parlemen, serta utusan dari Kementerian/Lembaga mitra kerja Komisi II DPR RI, yaitu Kementerian Dalam Negeri, Kementrian Sekretaris Negara, Kementrian Sekretaris Kabinet, Kementrian PAN/RB, Kementrian ATR/BPN RI, KPU RI, Bawaslu RI, ORI dan LAN RI.
B. WAKTU KUNJUNGAN KERJA RESES
Kunjungan Kerja Komisi II DPR RI ke Provinsi Papua Barat dalam rangka Reses Masa Persidangan II Tahun Sidang 2021-2022 dilaksanakan pada tanggal 17 s.d. 21 Desember 2021.
C. RUANG LINGKUP
Pada kunjungan kerja ke Provinsi Jabar ini, Komisi II DPR RI mengadakan pertemuan dan dialog dengan KPU Provinsi Jawa Barat dan KPU Kabupaten/Kota Se-Jawa Barat, Bawaslu Provinsi Jawa Barat dan Bawaslu Kabupaten/Kota Se-Jawa Barat terkait pembahasan evaluasi kinerja KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat, selain itu juga pertemuan dengan Kepala Kantor WIlayah adan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Jawa Barat dan Kepala Kantah BPN Kabupaten/Kota Se-Jabar beserta jajarannya.
Beberapa topik yang menjadi fokus perhatian Komisi II DPR RI dalam kunjungan kerja reses yakni berbagai hal yang berkaitan dengan Penyelenggara Pemilu yakni tentang evaluasi Kinerja Komisi Pemilihan Umum KPU dan Bawaslu, capaian dan program apa yang telah dilaksanakan oleh KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat selama tahun 2021. Pelaksanaan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan yang dijalankan oleh KPU Provinsi Jawa Barat. Batas Akhir Masa Jabatan (AMJ) anggota KPU dan Bawaslu Provinsi/Kabupaten/Kota Se-Provinsi Jawa Barat. Kesiapan KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat terkait persiapan penyelenggaraan tahapan Pemilu serentak tahun 2024 yang menyangkut dengan SDM Pegawai KPU, persiapan sistem informasi Pemilu dan permasalahan infrastruktur penunjang lainya dalam menunjang kerja KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat. Hal penting yang selama ini menjadi permasalahan pada Pemilu 2019 tetapi belum masuk di dalam PKPU serta masih menjadi permasalahan multi tafsir terkait dengan semua tahapan Pemilu. Sedangkan permasalahan Pertanahan terkait dengan Reforma Agraria, evaluasi PTSL, permaslahan HGU, HGB dan HPL di Jawa Barat, permasalahan Tata Ruang dan kasus-kasus Pertanahan yang ada di Provinsi Jawa Barat.
II. HASIL KUNJUNGAN KERJA
A. Sambutan Wakil Ketua Komisi II DPR RI
Evaluasi terhadap penyelenggara Pemilu selain merupakan pengawasan dari DPR RI sebagaimana amanat dalam Undang-Undang, dalam persepektif lain merupakan upaya dalam mewujudkan pemilihan umum yang berkualitas dimana salah satunya sangat ditentukan oleh penyelenggara Pemilu, yakni
penyelenggara Pemilu yang diharapakan menjadi penyelenggara Pemilu yang Independent, profesional, memilki integritas inggi, kapabilitas mempuni, bermartabat serta memenuhi prinsip akuntabilitas dan trasparansi. Evaluasi ini menjadi bagian hal penting jika dilaksanakan oleh penyelenggara Pemilu sehingga dapat menemukan permalahan yang sebenarnya sehingga dapat menginventarisasi beberapa kendala-kendala yang ada sehingga akan mendapatkan solusi untuk menyusun sousulan-usulan yang konkrit untuk perbaikan-perbaikan terhadap kelemahan yang ditemukan selama berjalannya program-program maupun kegiatan penyelenggara KPU Daerah maupun Bawaslu Daerah.
Sesuai dengan amanat UU No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dan UU No. 10 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota bahwasanya Pemilihan Umum (Pemilu) serentak tahun 2004 untuk memilih Anggota DPR, anggota DPD, Presiden dan Wapres, dan anggota DPRD akan bersamaan di tahun yang sama untuk pemilihan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota secara serentak di 33 Provinsi dan 415 Kabupaten dan 93 Kota serentak secara Nasional.
Apabila Pemilu dan Pilkada tahun 2024 berlangsung terselenggara, maka akan menjadi catatan sejarah bangsa untuk pertama kalinya Indonesia melaksanakan Pemilu dan Pilkada secara serentak di tahun 2024, bahkan juga akan tercatat sebagai sejarah Pemilu terbesar yang pernah terselenggara di tingkat Dunia.
Tetapi tentu dibalik itu juga, Pemilu serentak 2024 merupakan pertaruhan bagi bangsa dan negara apakah Pemilu dapat terselenggara dengan sukses, aman dan tertib, berjalan secara jujur dan adil tanpa menimbulkan gejolak yang akan mempengaruhi stabilitas pertahanan dan keamanan Bangsa. Untuk menjawab hal tersbut, tentunya dibutuhkan kerja keras KPU dan Bawaslu kedepan untuk memastikan terselenggaranya Pemilu 2024 denga menerapkan asas mandiri dan independent juga mampu mempraktikan sikap professional dalam menjalankan tugas penyelenggaraan pemilu serta dapat memberi kepastian hukum yang baik dalam penyelenggaraan Pemilu.
Ada beberapa hal penting yang menjadi konsen evaluasi dalam perjalanan KPU dan Bawaslu selama pra pelaksanaan tahanan Pemilu 2024 yang akan masuk di pertengahan tahun 2022, diantaranya adalah:
1. Permasalahaan kerja KPU dan Bawaslu yang menyangkut pelaksanaan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan apakah selama tahun 202 ini dijalankan. Bagaimana relasi dan koordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil ditingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan akses data untuk melakukan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan. Apakah ada kendala dan hambatan yang berarti.
2. Terkait dengan Sumber Daya Manusia (SDM) pada penyelenggara Pemilu, baik KPU maupun Bawaslu. Apakah selama ini dengan tidak adanya perhelatan Pilkada, KPU dan Bawaslu telah mempersiapkan program- perogram peningkatkan dan kapasitas SDM baik Komisioner, Staf Sekretariat pendukung dan Staf penunjang lainnya dengan Pelatihan, Bimtek TOT, Diklat Pejabat PNS, Pembinaan Pengelolaan Kesekretariatan di semua tingkatan Penyelenggara Pemilu. Salah satu tolak ukur keberhasilan dari kerja-kerja kelembagaan ditentukan dari kualitas SDM-nya. Parameternya banyak, bisa tingkat rekruitmen, pendidikan, pengalaman, pengetahuan, ketarampilan, dan banyak hal yang bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan lainnya.
3. Permasalahan Review pelaksanaan Regulasi. Sebagaimana diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 2017 maupun UU Nomor 10 Tahun 2016 maupun turunannya PKPU dan Perbawaslu. Apa yang selama ini menjadi permasalahan dan kendala pada Pemilu 2019 dan Pilkada. Apakah masih banyak Pasal-Pasal yang dipandang multi tafsir dalam pelaksanaannya atau ada aturan yang tidak konsisten diterapkan. Apakah belum terinci masuk di dalam PKPU maupun Perbawaslu atau bahkan salah dalam penafsiran dan salah dalam pelaksanaannya.
4. Terkait dengan Persiapan dan kesiapan sarana dan prasarana menjelang Pemilu serentak 2024, Apa yang telah dipersiapkan selama ini, hal penting juga adalah terkait dengan kesiapan penggunaan Sistem informasi Pemilu dan permasalahan infrastruktur penunjang lainya yang menunjang kesuksesan kerja Penyelenggara Pemilu.
Oleh sebab itu menjelang dilaksanakannya tahapan Pemilihan Umum serentak tahun 2024, penyelenggara Pemilu hendaknya dapat fokus pada persiapan-
persiapan dalam upaya meningkatkan kualitas disetiap tahapan, mengangkat partisipasi masyarakat yang lebih besar dan menjamin pelaksanaan pemilihan umum akan berjalan secara demokratis. Komitmen dari penyelanggara pemilihan umum yang profesional akan menutup ruang bagi peserta pemilihan umum dalam kecurangan dan ketidakadilan.
Selanjutnya, Pemerintah merumuskan Visi Indonesia Maju 2045 sebagai langkah strategis menjadikan Indonesia 5 (lima) besar kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2045. Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, pemerintah mengharapkan adanya “gelombang investasi” untuk mempercepat proses pembangunan melalui UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) yang bertujuan untuk menciptakan iklim berusaha dan investasi yang berkualitas bagi para pelaku bisnis termasuk UMKM dan investor asing. Keberadaan UU Cipta kerja sangat berkaitan erat dengan pengaturan pertanahan di Indonesia, khususnya ketersediaan tanah, ganti rugi tanah masyarakat yang diperuntukan bagi pembangunan, penyelesaian kasus tanah, perizinan di sektor pertanahan, dan lain – lain. Dalam hal ini, diperlukan peran serta Kementerian ATR/BPN beserta jajarannya sebagai leading sektor untuk memastikan pertumbuhan investasi berjalan lancar dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat dengan tidak merugikan hak – hak rakyat atas tanah.
Reforma agraria merupakan salah satu program strategis nasional yang bertujuan untuk menciptakan sumber kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat berbasis agraria. Reforma agraria terdiri dari 2 komponen yaitu: asset reform (legalisasi asset) dan access reform (redistribusi tanah). Tanah memiliki fungsi yang sangat strategis, baik sebagai sumber daya alam maupun sebagai ruang untuk pembangunan. Karena kesediaan tanah relatif tetap sementara kebutuhan akan tanah terus meningkat, maka diperlukan pengaturan yang baik, tegas, dan cermat mengenai penguasaan, pemilikan, maupun pemanfaatan tanah, oleh karenanya bukti kepemilikan tanah berupa Sertipikat Hak Atas Tanah (SHAT) menjadi sangat penting bagi masyarakat karena dapat memberikan kepastian hukum (asset reform) dan memberikan akses masyarakat kepada lembaga keuangan formal sehingga terjadi peningkatan financial inclusion (access reform).
Masalah Pertanahan khusunya terkait dengan HGU, HGB dan HPL berupaya mengawasi, memeriksa dan mengurai permasalahan HPL, HGU, dan HGB terkait sejumlah isu penting. Isu tersebut antara lain berapa luas lahan HPL, HGU, dan
HGB yang dikuasai negara dan sektor swasta. Berapa jumlah perizinan HPL, HGU, dan HGB yang telah berakhir jangka waktunya. Berapa luas lahan yang telah diberikan perizinan HPL, HGU, dan HGB dan berakhir jangka waktunya sehingga menjadi lahan terlantar yang kemudian menjadi obyek redistribusi lahan atau obyek reforma agraria, serta berapa luas lahan yang berhasil diredistribusikan oleh Pemerintah untuk kepentingan umum.
Secara khusus Kunjungan Kerja Komisi II DPR RI ke Kota Tangerang Selatan ini adalah ingin mendapatkan masukan maupun informasi yang sejelas-jelasnya berkaitan dengan permasalahan-permasalahan yang ada di BPN Kota Tangerang Selatan sesuai dengan lingkup tugas Komisi II DPR RI, antara lain:
1. Evaluasi pelaksanaan reforma agraria dan tata ruang wilayah Kota Tangerang Selatan serta penyesuaian dengan UU Cipta Kerja;
2. Evaluasi pelaksanaan program PTSL;
3. Evaluasi perizinan HPL, HGU dan HGB yang dikuasai oleh Negara (BUMN/BUMD) dan pihak Perusahaan Swasta.
4. Permasalahan Tata Ruang Wilayah,
5. Evaluasi Pelaksanaan program pemetaan dan penanganan kasus-kasus Pertanahan.
B. Pemaparan KPU Provinsi Jawa Barat Tentang Evaluasi Kinerja 2021 1. Kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan capaian program 2021
KPU Provinsi Jawa Barat melaksanakan persiapan Pemilihan Kepala Daerah Serentak Tahun 2024 berlandaskan pada Pasal 201 ayat (8) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang yang menyatakan “Pemungutan suara serentak nasional dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dilaksanakan pada bulan November 2024”.
Rincian perkiraan jumlah penyelenggara badan adhoc dalam Pemilihan Serentak Nasional Tahun 2024 di Provinsi Jawa Barat sebagai berikut:
Badan Adhoc Jumlah Penyelenggara Badan Adhoc
Total Penyelenggara
Badan Adhoc
PPK 627 5 Orang 3.135
Sekretariat PPK
627 4 Orang 2.508
PPS 5.957 3 Orang 17.871
Sekretariat PPS
5957 3 Orang 17.871
KPPS 98.475 9 Orang 886.275
PPDP 98.475 1 Orang 98.475
Total 1.026.135
Perkiraan Jumlah Pemilih (DPT pada Pemilu TAHUN 2019 ditambah DPT pada Pilkada tahun 2020): 98.475 TPS.
Perkiraan Jumlah Pemilih (DPT pada Pemilu TAHUN 2019 ditambah DPT pada Pilkada TAHUN 2020): 33,036,982.
Standar Kebutuhan Barang dan Jasa Pemilihan Serentak (Keputusan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia Nomor 444/HK.03.1- Kpt/01/KPU/IX/2020):
Pengajuan anggaran awal untuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat adalah sebesar Rp 2.407.052.153.816. Di dalam perjalanan pengajuan anggaran Pemilihan, KPU Jawa Barat berkonsolidasi dengan KPU Kabupaten/Kota Se-Jawa Barat di dalam konsep pendanaan Pemilihan bersama. Yang menjadi dasar hukum pendanaan bersama adalah pasal 4 Permendagri 54 Tahun 2019 yang berbunyi:
(1) Pemilihan gubernur dan wakil gubernur yang dilaksanakan pemungutan suara serentak pada tanggal dan bulan yang sama dengan Pemilihan bupati dan wakil bupati dan/atau wali kota dan wakil wali kota dalam 1 (satu) daerah provinsi, dilakukan Pendanaan Kegiatan Pemilihan bersama antara provinsi dengan kabupaten dan/atau kota yang bersangkutan.
(2) Pendanaan Kegiatan Pemilihan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dibebankan pada APBD masingmasing Pemerintah Daerah secara proporsional sesuai dengan beban kerja masing- masing daerah.
Konsep yang diajukan dalam pendanaan bersama ini dibagi dua yaitu:
a. Pendanaan oleh Provinsi - Honorarium PPK - HonorariumPPS - Pembuatan TPS - Perlengkapan TPS b. Pendanaan oleh Kab/Kota
- Honorarium PPDP
- Pelayanan Perkantoran dari tingkat KPU Kabupaten/Kota hingga KPPS
Konsep pendanaan bersama ini menghasilkan penghematan anggaran Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Tahun 2024 sebesar Rp. 1.111.333.483.340,- sehingga anggaran Pemilihan Gubernur Jawa Barat Tahun 2024 adalah sebesar Rp.
1.295.718.670.476.
Tabel program dan kegiatan KPU Jawa Barat APBN T.A. 2021
No. Program Kegiatan Progres Keterangan
1
CQ Penyelenggaraan Pemilu dalam Proses Konsolidasi
Demokrasi
3356 Pengelolaan Data, Dokumentasi, Pengadaan, Pendistribusian, dan
Inventarisasi Sarana dan Pra Sarana Pemilu
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
2
CQ Penyelenggaraan Pemilu dalam Proses Konsolidasi
Demokrasi
3356 Pengelolaan Data, Dokumentasi, Pengadaan, Pendistribusian, dan
Inventarisasi Sarana dan Pra Sarana Pemilu
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
3
CQ Penyelenggaraan Pemilu dalam Proses Konsolidasi
Demokrasi
3356 Pengelolaan Data, Dokumentasi, Pengadaan, Pendistribusian, dan
Inventarisasi Sarana dan Pra Sarana Pemilu
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
4
CQ Penyelenggaraan Pemilu dalam Proses Konsolidasi
Demokrasi
3356 Pengelolaan Data, Dokumentasi, Pengadaan, Pendistribusian, dan
Inventarisasi Sarana dan Pra Sarana Pemilu
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
5
CQ Penyelenggaraan Pemilu dalam Proses Konsolidasi
Demokrasi
3363 Penyiapan Penyusunan Rancangan Peraturan KPU, Advokasi, Penyelesaian Sengketa dan Penyuluhan Peraturan Perundang- Undangan yang Berkaitan Dengan Penyelenggaraan Pemilu
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
6
CQ Penyelenggaraan Pemilu dalam Proses Konsolidasi
Demokrasi
3363 Penyiapan Penyusunan Rancangan Peraturan KPU, Advokasi, Penyelesaian Sengketa dan Penyuluhan Peraturan Perundang- Undangan yang Berkaitan Dengan Penyelenggaraan Pemilu
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
7
CQ Penyelenggaraan Pemilu dalam Proses Konsolidasi
Demokrasi
3363 Penyiapan Penyusunan Rancangan Peraturan KPU, Advokasi, Penyelesaian Sengketa dan Penyuluhan Peraturan Perundang- Undangan yang Berkaitan Dengan Penyelenggaraan Pemilu
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
8
CQ Penyelenggaraan Pemilu dalam Proses Konsolidasi
Demokrasi
3364 Fasilitasi Pelaksanaan Tahapan Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, Pemilukada, Publikasi dan Sosialisasi serta partisipasi Masyarakat dan PAW
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
9
CQ Penyelenggaraan Pemilu dalam Proses Konsolidasi
Demokrasi
3364 Fasilitasi Pelaksanaan Tahapan Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, Pemilukada, Publikasi dan Sosialisasi serta partisipasi Masyarakat dan PAW
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
10
CQ Penyelenggaraan Pemilu dalam Proses Konsolidasi
Demokrasi
3364 Fasilitasi Pelaksanaan Tahapan Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, Pemilukada, Publikasi dan Sosialisasi serta partisipasi Masyarakat dan PAW
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
11
CQ Penyelenggaraan Pemilu dalam Proses Konsolidasi
Demokrasi
3364 Fasilitasi Pelaksanaan Tahapan Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, Pemilukada, Publikasi dan Sosialisasi serta partisipasi Masyarakat dan PAW
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
12
WA Program Dukungan Manajemen
3355 Pelaksanaan Akuntabilitas Pengelolaan Administrasi
Keuangan di Lingkungan Setjen KPU
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
13
WA Program Dukungan Manajemen
3355 Pelaksanaan Akuntabilitas Pengelolaan Administrasi
Keuangan di Lingkungan Setjen KPU
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
14
WA Program Dukungan Manajemen
3355 Pelaksanaan Akuntabilitas Pengelolaan Administrasi
Keuangan di Lingkungan Setjen KPU
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
15
WA Program Dukungan Manajemen
3355 Pelaksanaan Akuntabilitas Pengelolaan Administrasi
Keuangan di Lingkungan Setjen KPU
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
16
WA Program Dukungan Manajemen
3357 Pelaksanaan Manajemen
Perencanaan dan Data 91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
17
WA Program Dukungan Manajemen
3357 Pelaksanaan Manajemen
Perencanaan dan Data 91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
18
WA Program Dukungan Manajemen
3357 Pelaksanaan Manajemen
Perencanaan dan Data 91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
19
WA Program Dukungan Manajemen
3357 Pelaksanaan Manajemen
Perencanaan dan Data 91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
20
WA Program Dukungan Manajemen
3358 Pembinaan Sumber Daya Manusia, Pelayanan dan
Administrasi Kepegawaian
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
21
WA Program Dukungan Manajemen
3358 Pembinaan Sumber Daya Manusia, Pelayanan dan
Administrasi Kepegawaian
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
22
WA Program Dukungan Manajemen
3358 Pembinaan Sumber Daya Manusia, Pelayanan dan
Administrasi Kepegawaian
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
23
WA Program Dukungan Manajemen
3360 Penyelenggaraan
Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran (KPU)
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
24
WA Program Dukungan Manajemen
3360 Penyelenggaraan
Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran (KPU)
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
25
WA Program Dukungan Manajemen
3360 Penyelenggaraan
Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran (KPU)
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
26
WA Program Dukungan Manajemen
3361 Pemeriksaan di Lingkungan Setjen KPU, Sekretariat KPU Provinsi, dan Sekretariat KPU
Kabupaten/Kota
91,63
Sedang dalam proses pelaksanaan
dan pemanfaatan
KEGIATAN KPU PROVINSI JAWA BARAT BERSUMBER DARI HIBAH APBD NON PEMILIHAN TAHUN 2021
NO NAMA KEGIATAN
1 Rapat Pimpinan/Rapat Evaluasi
2 Evaluasi Pelaksanaan Pemilihan 2018, Pemilu 2019, Pemilihan 2020 dan Penyusunan Buku
3 Penyusunan Rencana Kegiatan Pemilihan 2023 4 Sawala KPU Jabar
5 Digitalisasi Hasil Pemilu dan Pemilihan
6 Penataan Layanan Informasi Pemilu Terpadu
7 Rapat Evaluasi Kinerja Badan Penyelenggara Adhoc pada Pemilihan Serentak 2020
8 Rapat Koordinasi/Bimbingan Teknis/Pembinaan Peningkatan Kompetensi SDM sbg Penyelenggara Pemilu/Pemilihan
9 In House Training
10 Penyelenggaraan Tes Assessment/Pelantikan di Lingkungan KPU Prov Jabar dan KPU Kab/Kota
11 Portal Informasi Daftar Pemilih Berkelanjutan 12 Pelatihan Manajemen Data dan Informasi
13 Rakor/kerjasama Lintas Pemangku Kepentingan Untuk Peningkatan Kualitas DPB
14 Data and Digital Discussion (3D) --diskusi daring rutin--
15 Pembahasan Anggaran Pilgub dengan 27 KPU Kabupaten/Kota
16 Rapat Koordinasi Persiapan Rekonsiliasi SAIBA dan SIMAK BMN Semester I 17 Rakor terkait tindak lanjut pemeriksaan BPK/BPKP
18 Rakor Koordinasi terkait Pemeriksaan Inspektorat 19 Pengelolaan dan Penerapan Kearsipan
20 Rapat tentang Penatausahaan BMN (Rekonsiliasi SIMAK dan SAIBA Semester II)
21 Rapat Kerja KPU Provinsi Jawa Barat Dengan 27 KPU Kab/Kota mengenai perumusan perundang-undangan
22 Rapat Kerja Koordinasi KPU Provinsi Jawa Barat dengan KPU Kabupaten/Kota Mengenai Pelaksanaan dan Pengawasan SPIP
23 Rapat Koordinasi Evaluasi Pelayanan Administrasi Laporan Dana Kampanye Kepemiluan KPU Provinsi Jawa Barat Kepada Partai Politik Serta Instansi Terkait Pada Pemilu 2019 dan Pemilihan Serentak Tahun 2020
24 Sosialisasi Dengan Fakultas Hukum Universitas Negri dan Universitas Swasta Mengenai JDIH KPU Provinsi Jawa Barat
25 Rapat Daring (Zoom Meeting) Evaluasi Advokasi dan Sengketa Pemilu Tahun 2019 dan Pemilihan Serentak 2020
26 Rapat PAW dengan Setwan, Pemda dan KPU Kab/Kota, Pemprov ,Partai 27 Rakor Proyeksi Penyelenggaraan Pilkada yg akan dating
28 Rapat Fasilitasi Persiapan Pilkada bersama Multi Stakeholder (forkopimda, bawaslu,Parpol,KPU)
29 Rapat Koordinasi Sosparmas bersama KPU Kabupaten/Kota
30 Kursus Demokrasi (Kerjasama dengan kampus, LSM atau Ormas)
31 Penghargaan PPID, RPP,Website, Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan terbaik KPU Kab/Kota se Jabar (KPU Kabupaten Kota)
32 Pelatihan Komunikasi Media (Tim Media Center KPU Kab Kota) 33 Sosialisasi/ Seminar Undang-Undang Pemilu
34 Pengembangan Aplikasi dan Perlengkapan PPID dan RPP
35 Diskusi berkala berbagi pengalaman kerja program sosialisasi, pendidikan pemilih, dan partisipasi masyarakat kpu kab/kota di provinsi Jawa Barat penyelenggara Pemilihan Serentak lanjutan 2020
36 Rakor Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Logistik dalam rangka persiapan Pilgub 2023 dan Pemilu 2024
37 Penyusunan Kebutuhan Perlengkapan dalam rangka persiapan Pilgub 2023 dan pemilu 2024
38 Rakor Pengelolaan barang logistik pasca pemilihan serentak 2020
Kendala krusial dalam persiapan Pemilihan Kepala Daerah Serentak Tahun 2024 adalah kemampuan anggaran Provinsi dan Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Adanya wacana untuk kenaikan honorarium badan adhoc pada tahapan Pemilu 2024 perlu diantisipasi mengingat akan berdampak pula pada honorarium badan adhoc pada Tahapan Pemilihan Serentak Tahun 2024 mengingat honorarium badan adhoc mengingat honorarium badan adhoc adalah sebesar 60 persen dari total ajuan anggaran Pemilihan Tahun 2024.
Capaian kinerja untuk kegiatan Program Pilot Poject Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan (DP3), KPU Provinsi Jawa Barat selain sempurna menyelenggarakan DP3 di 3 (tiga) daerah percontohan dengan anggaran APBN, yaitu Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Bandung, juga sukses menyelenggarakan di lebih dari 12 Kabupaten/Kota dengan anggaran Hibah Daerah maupun hasil kerja sama dengan Pemerintah Daerah setempat, yaitu Kota Tasikmalaya, Kabupataen Kuningan, Kota Cimahi, Kota Banjar, Kabupaten Bandung Barat, Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Tasikmalaya.
Rencana Program DP3 di Jawa Barat Tahun 2022
Dalam Pelayanan Informasi Publik, KPU Provinsi Jawa Barat memperoleh Penghargaan sebagai Badan Publik Instansi Vertikal kategori Informatif untuk Keterbukaan Informasi Publik.
2. Pelaksanaan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan yang dijalankan KPU Provinsi Jawa Barat.
Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan yang dilakukan KPU Provinsi Jawa Barat berjalan dengan baik. Data pemilih dari KPU Kabupaten/Kota diperoleh dari berbagai macam sumber data KPU Kabupaten/Kota, ada yang mendatangi RT/RW, Kantor Desa/Kelurahan, Kantor Kecamatan, mendatangi Pengurus TNI dan Polri untuk mendapatkan data Pensiun, mendatangi Satgas Covid untuk mencari data kematian akibat Covid serta berkoodrinasi dengan Disdukcapil setempat. Untuk saat ini Daftar Pemilih Berkelanjutan di KPU menggunakan Aplikasi Sidalihjut, permasalahan mulai timbul ketika aplikasi ini meminta eleman data secara lengkap untuk di
masukan menjadi data pemilih berkelanjutan sedangkan data yang diberikan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil elemen datanya terbatas karena ada regulasi di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil sendiri yang tidak boleh memberikan data lengkap ke lembaga lain karena terkait issue keamanan data pribadi dan KPU sekarang bukan dalam masa tahapan pemutakhiran data pemilih Pemilu ataupun Pemilihan.
Selanjutnya KPU Kabuapten/Kota banyak melakukan inovasi dan kreativitas dengan membuat berbagai aplikasi layanan untuk masyarakat baik berbasis web ada juga yang berbasis mobile guna mendapatkan data lengka secara mandiri apliaksi-aplikasi yang di buat KPU Kabupaten/Kota untuk membantu pemutakhiran data pemilh berkelanjutan diantaranya: SIPILIHAN (KPU Kota Tasikmalaya), SILADAP (KPU KBB), SIMANGGIS (KPU Kab Purwakarta), SIDJALU (KPU Kab Majalengka), SIDINDA & SIPETA (KPU Kab Indramayu) dan SIKAT (KPU Kab Tasikmalaya) semua aplikasi ini dibuat untuk melayani masyarakat umum agar masyarakat mau berkontribusi dan berpartisipasi aktif dalam memutakhirkan data secara berkelanjutan bagi yang belum terdaftar bisa mendaftarkan diri disertai bukti otentik berupa E-KTP, bagi yang elemen datanya sudah berubah diharapkan masyarakat secara mandiri mengupdate datanya sama disertai bukti otentik E-KTP yang baru, bagi yang meninggal agar keluarga atau kerabatnya mengupdate di aplikasi tersebut disertai bukti otentik berupa surat kematiaanya, akan tetapi dengan terbatasnya anggaran hal ini belum berjalan sesuai harapan karena sosialisi aplikasi layanan ini masih di kalangan terbatas belum secara meluas, harapan kedepan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan bisa lebih baik lagi dengan adanya kerjasama antar lembaga terkait yang jelas dan dukungan anggaran yang cukup untuk pelaksanaanya.
Kendala dan hambatan yang dihadapi, antara lain :
- Hambatanya data yang diberikan oleh Disdukcapil elemen datanya terbatas, tidak bisa dimasukan menjadi pemilih DPB karena tertolak oleh aplikasi sidalih berkelanjutan.
- Disdukcapil tidak bisa memberikan data secara lengkap karena ada regulasi di lembaga Disdukcapil sendiri.
- Terkait perlindungan data pribadi.
- Tidak ada data yang diberikan dari Disdukcapil Pprovinsi, semua data dari Disdukcapil Kabupaten/Kota.
3. Batas Akhir Masa Jabatan (AMJ) Anggota KPU Provinsi/Kabupaten/Kota Se-Provinsi Jawa Barat.
Akhir Masa Jabatan (AMJ) anggota KPU Provinsi dan anggota KPU Kabupaten/Kota di wilayah Jawa Barat sebagai berikut:
No. Akhir Masa Jabatan (AMJ)
Satuan Kerja
1 24 September 2023 KPU Provinsi Jawa Barat 2 7 Oktober 2023 1. KPU Kabupten Bandung
2. KPU kabupaten Bandung Barat 3. KPU Kabupaten Bekasi
4. KPU Kabupaten Cianjur 5. KPU Kabupaten Indramayu 6. KPU Kabupaten Karawang 7. KPU Kabupaten Purwakarta 8. KPU kabupaten Sukabumi 9. KPU Kabupaten Sumedang 10. KPU KabupatenTasikmalaya 11. KPU Kota Bekasi
12. KPU Kota Cimahi 13. KPU Kota Cirebon 14. KPU Kota Depok 15. KPU Kota Sukabmui 16. KPU Kota Tasikmalaya 3 24 Desember 2023 1. KPU kabupaten Bogor
2. KPU Kabupaten Ciamis 3. KPU Kabupaten Kuningan 4. KPU Kabupaten Majalnegka 5. KPU kabupaten Pangandaran 6. KPU Kabupaten Subang 7. KPU Kota Bandung 8. KPU Kota Banjar 9. KPU Kota Bogor 4 3 Februari 2024 KPU Kabupaten Garut 5 19 Maret 2024 KPU Kabupaten Cirebon
Rencana persiapan KPU Provinsi Jawa Barat terhadap seleksi KPU Kabupaten/Kota sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, Untuk Persiapan seleksi KPU kabupaten/Kota sepenuhnya menjadi kewenangan KPU RI sesuai dengan Pasal 32 sampai dengan Pasal 34 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. KPU
Provinsi Jawa Barat mengikuti arahan dan perintah dari KPU RI sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. Kesiapan KPU Provinsi Jawa Barat terkait persiapan penyelenggaraan tahapan Pemilu Serentak tahun 2024 antara lain terkait dengan:
1) SDM Pegawai KPU:
Persiapan KPU Provinsi Jawa Barat dalam menghadapi tahapan penyelenggaraan Pemilu Serentak tahun 2024, diantaranya adalah melakukan konsolidasi internal, pemetaan formasi pegawai dan penataan kelembagaan di lingkungan KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota sesuai kebijakan dan arahan KPU RI, adalah sebagai berikut:
a. Keadaan Jumlah Anggota (Komisioner) KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota saat di lingkungan Provinsi Jawa Barat hampir seluruhnya masih lengkap, kecuali di KPU kabupaten Cianjur satu orang meninggal dunia, dan di Kabupaten Garut satu orang diberhentikan oleh DKPP.
b. Jumlah pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota di Jawa Barat, walaupun kalau mengacu pada Surat Edaran Setjen KPU RI Nomor 5 Tahun 2016, bahwa Jumlah PNS Sekretariat KPU Provinsi, termasuk pejabat struktural dan fungsional adalah sebanyak 35 orang, dan untuk Sekretrait KPU Kabupaten/Kota, termasuk pejabat struktural dan fungsional adalah sebanyak 35 orang. Berdasarkan ketentuan tersebut di atas maka jumlah kebutuhan pegawai PNS organik untuk sekretariat KPU provinsi dan 27 sekretariat KPU Kabupaten/Kota di Jawa Barat adalah sebanyak 512 pegawai PNS, sedangkan jumlah pegawai PNS organik yang ada saat ini adalah sebanyak 359 PNS. Oleh karena itu untuk idealnya dibutuhkan penambahan pegawai sebanyak 153 PNS Organik. Namun demikian untuk mengantisipasi kekuarangan SDM KPU di lingkungan Provinsi Jawa Barat, dilakukan upaya untuk pada saat akan dimualinya tahapan mengajukan usulan kepada KPU RI merekrut Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), Pegawai Pemerintah Non Pegawai negeri (PPNPN), dan/atau
Tenaga Kontrak yang sesuai dengan kalifikasi yang dibutuhkan oleh KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota.
c. Untuk menjadikan satu kesatuan manajemen kepegawaian KPU, KPU RI telah melakukan kebijakan, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada pegawai PNS DPK untuk alih status menjadi PNS organik KPU, dan bagi yang tidak bersedia alih status dikembalikan kepada institusi asalnya. Di lingkungan KPU Provinsi dan KPU kabupaten/Kota se Jawa Barat, dari 52 orang PNS DPK yang dikembalikan ke institusi asalnya adalah sebanyak 32 orang, dan yang bersedia alih status 20 orang. Sedangkan untuk mengisi kekosongan jabatan administrator di 7 (tujuh) sekretariat KPU Kabupaten/Kota sebagi akibat pejabatnya kembali ke institusi asalnya, saat ini sedang dalam proses pengisian jabatan/seleksi (Job Fit). Sedangkan untuk kekosongan jabatan Pengawas atau Kasubbag di lingkungan KPU provinsi Jawa Barat dan KPU di Kabupaten/Kota sebanyak 43 jabatan pengawas/Kasubbag, yang saat ini dijabat oleh pelaksana tugas (Plt) sudah diusulkan dan kemungkinan akan dilaksanakan pada tahun 2022. Sehingga pada saat dimulainya tahapan Pemilu, jabatan-jabatan strategis di lingkungan KPU provinsi dan Kabupaten/Kota di Jawa Barat sudah dapat terisi.
d. Untuk Persipan Pembentukan SDM badan penyelenggara Pemilu adhoc di wilayah Provinsi Jawa Barat, kebutuhannya dapat dilihat pada tabel berikut:
Kecamatan/Desa/
Kelurahan/TPS
Jumlah lembaga
Anggota Badan Adhoc
Jumlah SDM Anggota Badan
Adhoc
Kecamatan (PPK) 627 5 orang 3.135 orang
Sekretariat PPK 627 3 orang 2.508 orang
Desa/Kelurahan (PPS)
5.957 3 orang 17.871 orang Sekreatiat PPS 5.957 3 orang 17.871 orang
TPS 98.475 9 orang 886.275 orang
PPDP 98.475 1 orang 98.475 orang
Jumlah 1.026.135 orang
ORGANIK DPK BERSEDIA TIDAK BERSEDIA
PIMPINAN TINGGI
PRATAMA ADMINISTRATOR PENGAWAS MEMADAI BERLEBIH KURANG
1 KPU PROVINSI JAWA BARAT 36 31 5 2 3 2 1 1
2 KPU KABUPATEN BOGOR 14 14 0 - - 1 3
3 KPU KABUPATEN SUKABUMI 10 7 3 3 - 3 7
4 KPU KABUPATEN CIANJUR 12 12 0 - - 1 5
5 KPU KABUPATEN BEKASI 5 5 0 - - 1 1 12
6 KPU KABUPATEN KARAWANG 13 13 0 - - 3 4
7 KPU KABUPATEN PURWAKARTA 6 5 1 1 - 2 11
8 KPU KABUPATEN SUBANG 13 13 0 - - 1 4
9 KPU KABUPATEN BANDUNG 15 15 0 - - 2 2
10 KPU KABUPATEN SUMEDANG 10 9 1 1 - 1 2 7
11 KPU KABUPATEN GARUT 20 19 1 1 - 3
12 KPU KABUPATEN TASIKMALAYA 12 11 1 1 - 1 2 5
13 KPU KABUPATEN CIAMIS 9 7 2 2 - 4 8
14 KPU KABUPATEN CIREBON 11 10 1 1 - 1 6
15 KPU KABUPATEN KUNINGAN 11 9 2 2 - 2 6
16 KPU KABUPATEN INDRAMAYU 13 9 4 4 - 1 4
17 KPU KABUPATEN MAJALENGKA 12 12 0 - - 2 5
18 KPU KAB. BANDUNG BARAT 12 12 0 - - 2 5
19 KPU KABUPATEN PANGANDARAN 8 7 1 - 1 3 9
20 KPU KOTA BANDUNG 17 17 0 - - √
21 KPU KOTA BOGOR 12 12 0 - - 4 5
22 KPU KOTA SUKABUMI 10 10 0 - - 1 7
23 KPU KOTA CIREBON 13 13 0 - - 1 4
24 KPU KOTA BEKASI 18 17 1 1 - 1
25 KPU KOTA DEPOK 16 15 1 1 - 1
26 KPU KOTA TASIKMALAYA 10 9 1 1 - 1 2 7
27 KPU KOTA CIMAHI 15 15 0 - - 1 2
28 KPU KOTA BANJAR 11 11 0 - - 2 6
364 339 25 21 4 0 8 43 5 135
DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KOMISI PEMILIHAN UMUM PROVINSI JAWA BARAT REKAPITULASI FORMASI PEGAWAI
JUMLAH
KEADAAN : DESEMBER 2021
NO. NAMA SATKER JUMLAH
PNS
JABATAN KOSONG
STATUS PNS ALIH STATUS PNS DPK KETERANGAN
e. Untuk memudahkan dan menyederhanakan proses rekrutmen badan penyelenggara adhoc Pemilu, mengacu pada pengalaman Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Serentak Tahun 2020, di lingkungan KPU Provinsi Jawa Barat, menggunakan pendaftaran secara online, seleksi tertulis dengan menggunakan CAT (compter Assisted Test), dan membuat database badan penyelenggara Pemilu adhoc untuk memudahkan dalam melakukan pelacakan terhadap periodisasi anggota badan adhoc.
2) Persiapan sistem informasi Pemilu:
Karena Sistem Informasi Pemilu merupakan kewenangan KPU RI, KPU Provinsi Jawa barat hanya melengkapi dengan membeli peralata pelengkap komunikasi.
Memastikan jaringan komunikasi aman.
Hasil koordinasi dengan Diskominfo Jabar pada Pemilihan Serentak di Jawa Barat Tahun 2020:
No. Kabupaten/Kota
Jaringan TPS Signal
Lemah
TPS Tidak Ada Signal 1 Kabupaten
Pangandaran
72 29
2 Kabupaten Sukabumi 773 231
3 Kabupaten Bandung 564 28
4 Kabupaten Tasikmalaya
377 141
5 Kabupaten Cianjur 548 181
6 Kabupaten Karawang 3057 612
3) Permasalahan infrastruktur penunjang lainnya dalam menunjang kerja KPU Provinsi Jawa Barat.
Permasalahan infrastruktur lainnya dalam menunjang kerja KPU Provinsi Jawa Barat, terkait persiapan penyelenggaraan Tahapan Pemilu Serentak Tahun 2024 di KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota adalah:
a. Kesiapan Gedung Kantor, dengan adanya fasilitasi Gudang kantor yang representatif dalam bentuk pinjam pakai (misalnya KPU Kabupaten Majalengka), hibah Gedung yang sedang dalam tahap renovasi (misalnya KPU Kota Cirebon), dan hibah tanah serta pembangunan Gedung dan Gudang (misalnya di KPU Kabupaten Cirebon).
b. Menunggu arahan dari KPU RI mengenai kebijakan sewa Gedung/Gudang logistik untuk KPU Kabupaten/Kota yang tidak memiliki Gudang, atau memiliki Gudang, namun ada keterbatasan penyimpanan logistik, dan tetap koordinasi dengan Pemerintah Daerah tentang kemungkinan pinjam pakai Gedung/Gudang, dan/atau bila dimungkinkan dukungan dana untuk sewa Gedung dan Gudang logistik.
c. Koordinasi dengan PLN setempat, untuk penyediaan genset dan memastikan aliran listrik tetap menyala saat proses rekapitulasi penghitungan surat suara di KPU Kabupaten/Kota dan KPU Provinsi.
d. Kondisi Gedung kantor dan Gudang di KPU Kabupaten/kota per tahun 2021.
5. Hal penting yang selama ini menjadi permasalahan pada Pemilu 2019 tetapi belum masuk di dalam PKPU serta masih menjadi permasalahan muti tafsir terkait dengan semua tahapan Pemilu.
Masih ada perbedaan persepsi mengenai jumlah volume Kelompok Kerja yang beririsan dalam kegiatan tahapan Pemilu/Pemilihan yang seharusnya ada Peraturan KPU yang mengatur batasan Kelompok Kerja dari masing- masing kegitan.
Secara umum masih ada permasalahan teknis penyelenggaraan yang seringkali berbeda penafsiran di antara penyelenggara pemilu/pemilihan.
C. Pemaparan Bawaslu Provinsi Jawa Barat Tentang Evaluasi Kinerja 2021
D. Pemaparan Kepala Kantor BPN Wilayah Provinsi Jawa Barat
III. PENDALAMAN DARI ANGGOTA KOMISI II DPR RI
A. Evaluasi Kinerja Penyelenggara Pemilu Jawa Barat dan Persiapan Pemilihan Umum serentak 2024
1. Permaslaahan akhir masa jabatan KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat, dimana banyak KPU dan Bawaslu Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat akan berkahir pada tahun 2023, sedangkan pada tahun 2023 akan terjadi padatnya agenda tahapan Pemilu, sehingga ada kekhawatiran penyelenggara pemilu terhadap kelencaran dan kualitas Pemilu apakah bisa terwujud atau tidak.
2. Dengan asumsi Pemilu 2024 secara serentak baik Pemilu maupun Pilkada ditahun yang sama, maka akan lebih berat dari Pemilu tahun 2019 karena terjadi kepadatan dan kerumitan penyelenggaraan Pemilu
sehingga menjadi pertanyaan terhadap kesediaan masyarakat untuk menjadi penyelenggara di Tempat Pemungutan Suara (TPS), terlebih lagi adanya beberapa permasalahan syarat dan aturan yang sulit diwujudkan oleh penyaelenggara Pemilu.
3. Pemerintahan Provinsi dan Kabupaten/kota di Jawa Barat punya keterbatasan dalam pemenuhan Anggaran sebesar 1.2 T sebagaimana sepert Pemilihan Gubernur, baru pertama kali terjadi Provinsi tidak mampu memenuhi anggaran Pilkada.
4. Harus ada Perda dana cadangan, Bagi Kabupaten/Kota yang belum dianggarkan pada tahun 2022, jika tidak akan menjadi perosoalan anggaran Pemilihan. Dan hal ini harus diluruskan kepada Pemerintah Daerah dan DPRD untuk mulai dianggarakan untuk tahun 2023.
Sedangkan untuk Provinsi hendaknya dianggarkan mulai tahun 2002 dari APBD Murni dan APBD tambahan.
5. Terkait dengan Anggaran untuk Pilkada tahun 2024 yang cukup memberatkan bagi Pemerintah Daerah, dimana anggaran digunakan untuk penanganan Pandemi Covid 19 sehingga mengalami kekurangan Anggran untuk Pilkada, Apakah anggaran yang diajukan Penyelenggara Pemilu baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota dapat mengefesiensikan lagi usulan Anggaran tersebut sehingga dapat dipenuhi oleh Pemerintah Daerah.
6. Permasalahan Anggran Pilkada yang berkelanjutan, masih banyak Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota yang belum membuat Peraturan Daerah (Perda) untuk penganggran Pilkada, sehingga diusulkan kepada Kementraian Dalam Negeri terhadap permasalahan ini bagaimana langsung diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) tentang perintah langsung anggaran Pilkada masuk dalam APBD di semua Provinsi/Kabupaten/Kota sehingga tidak panjang waktunya untuk membahas hal tersebut.
7. Permalasahan Kesiapan penyelenggara Pemilu KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat terhadap penyelenggaran Pemilu 2024 baik dilaksanakan pada bulan Februari maupun Mei 2024 sehingga dapat menjamin kualitas Pemilu dan demokrasi Indonesia setiap lima tahun sekali.
8. Konsekuensi dan Perisapaan KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat apabila Pemilu dilaksanakan Pada Bulan Mei dan Pilkadanya bulan November 2024 atau Pemilunya Februari dan Pilkadanyan November 2024.
9. Terkait dengan permasalahan Aparat Sipil Negara (ASN) di KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat ditarik ke Induknya asal institusinya, bagaimana pengaruh permasalahan tersbut terhadap Kinerja penyelenggara Pemilu.
10. Permasalahan masih ada persentase sinyal 40% di Jawa Barat yang belum tercapai dan masih bermasalah, Komisi II DPR RI pernah mempertanyakan hal ini dengan Mendagri dan Menkoinfo. Mendorong proses sinyalisasi untuk mewujudkan program penyelenggara Pemilu dalam membantu proses tahapan Digitalisasi Kepemiluan sehingga penyelenggaraan Pemilu lebih baik.
11. Masalah Program sosialisasi Kepemiluan di masyarakat. Sekarang sudah ada program Desa Peduli Pemilu yang dicanagkan oleh KPU sehingga menjadi percontohan. Desa Peduli Pemilu sangat mendukung terjadinya edukasi politik terhadap masyarakat dan sangat diperlukan sehingga Pemilu 2024 diharapkan dapat lebih berkualitas.
12. Permsalahan Saksi yang masih menjadi beban bagi Calon Anggota Legislatif maupun dari Partai Politik srtiap Pemilu, Pilkada maupun Pilpres menghabiskan dasa yang sangat besar untuk Saksi. Sehingga diharapkan dengan SDM dan sistem yang baik dibangun KPU dan Bawaslu akan menghasilkan kinerja Saksi yang baik dalam bertugas di setiapTPS sehingga Peserta Pemilu dapat mempercayainya dan tidak lagi menjadi beban berat bagi peserta Pemilu.
13. Ada beberapa catatan permsalahan data kependudukan dan pemukhtahiran data pemilih yang masih acak-acakan, masih ada miss koordinasi dan harmonisasi data antara KPU dan Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil, hal ini perlu mendapat perhatian untuk diselesaikan di Jakarta sehingga akses data dan ketepan data ini tidak berulang, walaupun KPU sudah punya Policy soaldalam data Pemilih berkelanjutan,
14. Permasalahan ASN yang menjadi bagian penyelengara Pemilu, ini merupakan problem juga, ASN bisa masuk ke KPU dan Bawaslu dan seenaknya kapan saja bisa dapat ditarik dari KPU dan Bawaslu, hal ini menunjukan posisi KPU dan Bawaslu belum begitu penting masih, belum menjadi unit kerja yang kokoh, kuat, tetap dan mandiri. Hal ini menajdi Pekerjaan rumah dan harus clear.
15. Status Lembaga Badan Ad Hoc, baik yang ada di KPU maupun yang ada di Bawaslu, terkait dengan posisi mereka menghadapi Pemilu dan Pilkada serentak pada satu titik tahun yang sama di 2024, hal in terkait denga Rezim Regulasi dan UU nya berbeda antara Pemilu dengan Rezim Pilkada, sehingga hal ini perlu dicari jalan keluarnya. Jika menurut aturan selesai kontraknya untuk Pemilu selesai, maka mereka akan dibubarkan terleih dahulu, dan dibentuk lagi Panitia menyiapkan kembali sisi administrasi dalam seleksinya sehingga memerlukan waktu dan anggaran lagi, bukan hal yang kecil dan sepele tetapi hal ini harus dicari jalan keluarnya dalam mengambil kebijakan.
16. Ironis permasalahan Infrastruktur teknologi informasi sekelas Jawa Barat masih belum selesai bagaimana dengan daerah-daerah lain diluar jawa, padahal Jabar sebagai penyangga Ibukota, karena 60% yang sudah memenuhi daerah-daerah di Jawa Barat berbanding dengan 40%
masih bermasalah infrastrur IT nya terutama masalah akses sinyal Internet.
17. Digitalisasi Pemilu masih jauh dari harapan, Digitalisasi proses Pemilu masih jauh dari harapan, Beberapa tahun kedepan Pemilu dan Pilkada kedepan kita masih memakai metode manual. Koordinasi dengan Kemenkoinfokom dan jajaran terkait lainnya dangat penting dan secepatnya.
18. Permasalahan kesiapan pergantian jajaran KPU dan Bawaslu menjalang 2024 karena ini kewajiban yang harus diselesaikan karena ditahuntersebut terjadi penumpukan pekerjaan.
19. Dari Paparan KPU dan Bawaslu Jawa Barat sepertinya penyelenggaran Pemilu pesimis karena penganggaran untuk Pilkada 2024 di daerah- daerah tmasih belum menyiapkan penganngaran persiapan Pilkada.
20. Untuk kegiatan Sosialisasi Pemilu dan Pilkada 2024 diharapkan bisa dilaksanakan lebih efisiensi dan efektif, dilakukan secara mobile keliling desa-desa sehingga partisipasi masyarakat dapat maksimal.
B. Permasalahan Pertanahan
1. Permasalahan HGUm HGB dan HPL yang ada sepanjang jalan dari Tangkupan Perahu ke wilayah Kabupaten Subang dimana tanah-tanah perkebunan dan tanah-tanah Perhutani sekarang banyak menjadi tempat wisata, BPN Wilayah Jabar agar dapat mengecek masa berlaku tanahnya apabila itu stautusnya HGU, HPL karena informasi yang didapatkan tanah tersebut sudah habis masa berlakunya dan disewakan kepada pihak-pihak seasta sehingga banyak masyarakat yang teriak dengan permaslaahan ini.
2. Permasalahan HGU dan HPL juga terjadi di Sukabumi bekas PTPN VIII kemudian juga terjadi permasalahan HGU HPL di Cianjur juga ada, ada permaslaahan tanah yang 12 Ribu Hektar dan ada juga permasalahan tanah yang 1400 hektar informasi yang didapatkan permalahan HGU HPL ini langsung dari rakayat yang menyampaikan tanah-tanah tersebut sudah habis masa berlakuknya, tetapi kenapa disewakan ke pihak swasta disewakan, kenapa tidak diperpanjang atau dilakukan redistrubsi tanah kepada rakyat,
3. Permasalahan Tata ruang, bagaimana masalah-masalah Tata ruang harus disederhakan sebagaimana ketentuan dalam UU Cipta kerja.
4. Permalahan gugatan dari warga terhadap tanah pasar di Sukabumi yang sudah disertifikat lebih dari 40 tahun, ternyata Keputusan pengadilan menyatakan Pemda harus membayar 5 Milyar lebih kepada penggugat dan tanahnya mendapatkan hak perioritas. Pemda mengadu ke Ombudsman dan dari ORI diwajibkan untuk membayar dan sudah dilakukan pembayaran oleh Pemda. Bagaimana Kanwil BPN menyelesaiakan permasalahannya karena sertifikat tanahnya masih punya Pemda, tetapi kesulitan ketika akan menggunakannya.
5. Apakah permasalahan Luas HGU belum diatur dalam pengaturan perundang-undangan, termasuk juga masalah aturan Batasan suatu
Perusahaan memilki batas HGU. Harusnya permasalahan HGU ini memilki aturan yang tegas, sehingga orang atau Perusahaan tidak memilki tanah Rausan Ribu hektar dan dilapanagan sering terjadi tidak dimanfaatkan.
6. Pentingnya sosialisasi program BPN ke masyarakat. Program-program strategis BPN masih banyak masyarakat belum mengetahuinya dan banyak yang masih bertanya-tanya atau meraba-raba tentang program strategis BPN, yang paling penting supaya capain dan target program BPN lebih mudah teralisasi jika bekerja sama dengan Stakeholder yang disupport sebagai contoh program PTSL awalnya lambat berjalan teteapi ketika masyarakat dan Kepala Desa dan stakeholder lainnya tumbuh kesadaran maka mulai diketahui masyarakat termasuk juga dengan program Reforma Agraria, suatu program bagaimana redistribusi lahan kepada masyakaat menjadi penting, bagaimana dengan wilayah Jawa Barat selama ini sampai ke Kabupaten masing- masing, bagaimana program tersebut berjalan menyangkut masalah Teknik program, metode, capaian, output, out come apakah sosialisasi dapat berjalan atau tidak.
7. Permasalahan sosisalisasi yang kurang menyangkut program-program BPN terutama masalah PTSL, Reforma agraria dan program lainnya yang menyangkut langsung dengan masyarakat hendaknya BPN dapat melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang melibatkan Sekretaris Desa (Sekdes) sehingga teknis dan dokumen jika ada masayarakat yang mengajukan terkait dengan pertanahan akan terarsipkan/terdokumen dengan baik, karena selama ini Sekdes banyak tidak mengerti permaslahan administrasi pertanahan di Desa.
8. Terkait degan Permasalahan Pertanahan masyarakat di Bojong Koneng Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan pihak Perusahaan Sentul City melaui Deputi Legalnya, Bapak Faisal yang menagatakan memilkiki eks HGB sampai tahun 2034 terkhusus dengan blok 206 di bojong koneng, karena ini menyangkut konflik dgn masyarakat bagaiman progress permasalahan masayarakat dengan Sentul City.
9. Permasalahan mafia tanah, beberapa bulan terakhir Komisi II mendengar banyak oknum dari BPN dan masuk dalam ranah hukum, termasuk di daerah Sumatera Barat, okbumnya dari BPN bukan 1 orang tetapi lebih, dan sudah masuk dalam ranah hukum, Komisi II mengingatkan jangan main-main dengan urusan tanah, Komisi II akan mengust tuntas mafia tanah termasuk di Jawa Barat.
10. Permasalahan mafia tanah yang menimpa masyarakat Kabupaten Bandung Barat degan mengirim surat ke Presiden karena masyarakat tersebut masyarakat biasa yang menjadi korban mafia tanah di Kabupaten Bandung Barat. Bagimana Penjelasan Kakan Kabupaten Bandung Barat BPN terkait permasalahan tersebut.
11. Permasalahan pembangunan Tol Depok-Antasari (Desari) dan Tol Cinere-Jagorawi (Cijago), Apaka ada sengketa atensi nasional terkait Tol Desari-Cijago, bagaimana dengan pembebasan tanah masyarajat terkait apakah sudah dilakukan ganti untung ke masyarakat terkhusus di RT 02/01 Krukut Kecamatan Limo dimana dapat laporan dari masyarakat terdapat rumah dari Bapak Slamet Riyadi yang belum dibebaskan sampai sekarang, apa permasalahannya dan kenapa belum bisa selesaikan permasalahan tersebut.
IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KESIMPULAN :
A. Evaluasi Kinerja Penyelenggara Pemilu Jawa Barat dan Persiapan Pemilihan Umum serentak 2024
1. Terkait dengan permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM) di KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat dimana terjadi penarikan Aparat Sipil Negara (ASN) yang ada di KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat akibat kebijakan dari Kementrian PAN&RB Sehingga menganggu Kinerja penyelenggra Pemilu KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat, Komisi II DPR RI akan membicarakannya pada Rapat Kerja dengan Menteri PAN
& RB pada Rapat Kerja Komisi II DPR RI.
2. Terkait dengan permasalahan keterbatasan dalam pemenuhan Anggaran persiapan Pilkada 2024 untuk KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat oleh Pemerintahan Provinsi dan Kabupaten/kota di Jawa Barat, Komisi II DPR
RI akan membicarakannya pada rapat dengan mitra kerja yakni Menteri Dalam Negeri pada Rapat Kerja Komisi II DPR RI.
3. Diperlukan solusi bagi Menteri Dalam Negeri terkait permasalahan Anggran Pilkada 2024 yang berkelanjutan dari 2022-2024 dimana masih banyak Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota yang belum membuat Peraturan Daerah (Perda), terrhadap permasalahan tersebut, apakah Mendagri dapat langsung menhimbau kepada Pemerintah daerah untuk segera membuat anggran Pilkada melalui Perda atau langsung mengatur hal tesebut malalui Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) terkait dengan perintah langsung persiapan anggaran Pilkada masuk dalam APBD di semua Provinsi/Kabupaten/Kota tanpa lagi membuat Perda.
4. Terhadap permaslaahan akhir masa jabatan (AMJ) KPU dan Bawaslu Provinsi/ Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat yang rata-rata akan berkahir pada tahun 2023, diperlukan pengambilan keputusan bersama secepatnya antara Komisi II DPR RI dengan Pemerintah dan KPU RI terhadap Regulasi dan aturan pergantian penyelenggara Pemilu terutama yang kena AMJ di tahun 2023 maupun 2024 yang kena sebelum pelaksanaan pemungutan suara Pemilu, sehingga tidak lagi ada kekhawatiran bagi penyelenggara pemilu sehingga berdampak pada kelancaran dan kualitas Pemilu.
5. Dalam persiapan menghadapi Pemilu dan Pilkada serentak 2024 yang lebih berat, padat dan rumit, diperlukaan terobosan perubahan aturan tentang syarat dan umur untuk penyelenggaraan Pemilu terutama di tingkat Kecamatan, Kelurahan dan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) baik pada aturan didalam UU maupun PKPU.
6. Terkait dengan permsalahan persiapan penyusunan data kependudukan dan data pemilih yang masih terjadi miss koordinasi dan harmonisasi data antara KPU dan Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil, Komisi II DPR RI tidak henti-hentinya menyerukan perbikan sistem data pemilih dari hulu ke hilir kepada Dirjen Dukcapil Kemendagri dengan pembenahan berbasis IT tersistem, systematism akurat, valid dan trasparan dapat diakses semuanya ke public.
7. Perlu diambil keputusan bersama antara Komisi II DPR RI dengan Pemerintah, KPU RI dan Bawslu RI terkait dengan permaslahan status Lembaga Badan Ad Hoc, baik yang ada di KPU maupun yang ada di Bawaslu, apakah keberlangsungan Badan Ad Hoc saat di rekrut untuk Pemilu terus dilanjutkan untuk Pilkada, apakah diperlukan rekrutmen baru pada pengadaan Badan ad hoc saaat menjelang Pilkada.
8. Terkait dengan permasalahan Infrastruktur teknologi informasi, KPU RI dan Komisi II secepatnya akan mendorong Menkoinfokom membagun infrastrur IT nya terutama masalah akses sinyal Internet sampai kedaerah-daerah plosok yang ada di Indonesia.
B. Permasalahan Pertanahan
1. Permasalahan Mafia Tanah, Kanwil BPN Jawa Barat sepakat masalah mafia tanah harus diberantas. Ada beberapa titik di wilayah Jawa Barat yag rawan masalah mafia tanah diantaranya DI Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, Depok dan beberapa Kabupaten di bagian selatan Jawa Barat konflik penguasaan. Beberapa Kota dan Kabupaten tersebut pernah terjadi praktek mafia tanah.
sebagai contoh ada kasus mafia tanah pemalsuan sertifikat tanah yang mengaku padahal tanah tersebut adalah Aset BLBI di Cikarang. Apabila ada terjadi keterlibatan dari okunum BPN pada permasalahan mafia tanah, BPN sudah bersepakat dan berkomitmen berusaha tidak akan masuk kedalamnya, apparat BPN hingga saat in tidak ada yang bermsaalah, Pimpinan BPN selalu mengingatkatkan kepada Aparat ASN BPN untuk mengedepankan Integritas.
2. Persoalan sering terjadinya pembatalan suatu sertifikat tanah yang masuk ke Kanwil BPN Jawa Barat, hal itu dikarenakan permasalahan tumpang tindih sertifikat, satu tanah dikuasai sertifikat dapat double/ganda atau sertifikat dengan bukti-bukti surat yang lain, hal ini akibat produk dan administrasi di masa yang lampau cukup kompleks masalah metodologi, teknologi, pengukuran per-bidang, transformasi digital dari peta maual menjadi peta digital, sehingga terjadi tumpeng tindih satu bidang tanah yang sudah bersertifikat ternayata beberapa
tahun kemudian muncul lagi kepemilikan sertifikat atas nama orang lain.
Ada sifatnya tidak sengaja karena sfiat prosesnyan yang manual.
3. Terkait degan Permasalahan Pertanahan masyarakat di Bojong Koneng Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan pihak Perusahaan Sentul City sudah diupayakan dan sudah dilaporkan ke Bapak Menteri ATR.BPN dan Pak Menteri sudah menugaskan kepada Kanwil BPN Jawa Barat, bahkan sudah dirapatkan untuk diselesaikan di darah bersama Forkopimda Kabuoaten Bogor dan kantah BPN Kab Bogor sudah menyusun dan membuat berita acara bagimana kondusifitas dan jaminan terhadap masyarakat yang mendiami tanah tidak di peta komplikan. Sehingga suasana kondusif yang utama dilakukan, hingga saat ini sudah beberapa surat dari masyarakat yang menempati tanah tersbut masuk ke BPN untuk penyelesaian masalah, BPN sudah komunikasi dengan manajemen Sentul agar smuanya diklarifikasi, BPN akan turun kelapangan untuk memastikan apakah pengaduan-engaduan terjadi dilapangan dam untuk komunikasi dengan Manajemen Sentul CIty untuk memastikan bahwa orang-orang itu memang warga disitu.
4. Permaslahan Tanah PTPN VIII seperti di sekitar tempat wisata Tangkupan Perahu. Sebagi contoh di Kabupetn Bogor, ada tanah PTPN tetapi dengan instruksi Presiden tanah tersbutb dipakai dan digunakan untuk masyarakat korban longsor tahun 2024. Saat ini masyarakat sudah tinggal disitu karena korban longsor dan Pemerintah daerah juga sudah memberikan bantuan keuangan berupa dibangunkan rumah, menyangkut tanah tersebut, Bupati Bogor meminta BPN dipastikan haknya tanah tersebut, BPN sudah rapat dengan Menteri dan Dirjen bersurat kepada Kementrian BUMN untuk memastikam bahwa tanah PTPN tersebut dilepas haknya tetapi jawabannya tanah agar diganti rugi sesuai dengan pengadaan tanah, ini lah kondisinya, peran Kementerian untuk PTPN yang sahamnya hanya tinggal 17% sehingga harus dikomunikasikan dengan para pemegang saham, solusi yang terakhir diterima BPN harus dilakukanganti rugi, bahakan uang yang telah di Pemerintah Pusat maupun di Pemerintah daerah, akhirnya tidak bisa dilaksanakan redistribusi tanah untuk wara Bogor korban longsor, hal
yang sama terjadi dengan tanah-tanah PTPN lain Yng tidak dimanfaatkan tetapi dimanfaatkan lain oleh masyarakat untuk berbagai kepentingan.
5. Permasalahan Tata Ruang, baru rencananya tahun 2022 Kanwil BPN Jawa Barat diberikan Anggran oleh Dirjen dengan peran memfasilitasi dan koordinasi pelaksanaan Tata Ruang di daerah.
6. Permalahan gugatan dari warga terhadap tanah pasar di Sukabumi yang sudah disertifikat yang sudah ada Keputusan pengadilannya, Cuma persoalannya bagaimana pemanfaat tanah tersebut karena banyak masyarakat yang menempatinya, BPN akan dalami dan akan rapat permasalahan ini dengan data-data yang disiapakan nantinya.
7. Permasalahan HGU sampai sekarang memang belum ada pengaturan tentang luasannya, jadi menjadi kelemahan ini akan disempurnakan.
8. Terkait dengan sosialisasi program-program Strategis Nasional, BPN menyadari Sosialsisasi menang kurang, sosialisasi yang dilakukan oleh Kepala Kantor BPN di daerah hanya berkaitan dengan lokasi-lokasi PTSL, jkia daerah tidak ditetapkan lokasi PTSL maka memang informasi tiudak akan samapai ke masyarakat lain. Kewajina kepada Kantah BPN saat ini sosialsisasi ke Radio terkait dengan program BPN, sedangkan untk Kecamatan dan Kelurahan hanya sosiaisasi lewat Pamlet saja.
BPN akan memformulasikan lagi soisalisasi dengan Anggran Sosialiasi yang cukup besar berupa penyuluhan dan sosialisasi masif malalui berbagai media.
9. Terkait dengan BMN, di Kab Purwakarta terkait dengan tanah Provinsi diklaim oleh Perorangan dan ganti tugi telah diterima oleh Perorangan, ini adalah bentuk-bentuk sengketa antara intansi Pemerintah dengan masyarakat, memang masih selalu didalami oleh BPN, memang Pengadilan memenangkan Perorangan tetapi kenyataannya itu adalah asset pemerintah masuk kedalam tanah Provinsi.
10. Keputusan Pengendalian terhadap permaslaahan sengketa pertanahan memang pada kenyataanya tidak semua dapat ditindak lanjuti oleh BPN.
Sebagai contoh terjadi kasus di Depok ada 25 sertifikat yang harus dibatalkan karena keputusan Pengadilan, ternyata cuma setengahnya bisa dilaksanakan karena tanah sudah di agunan ke pihak Bank, dan
pihak Bank tidak dijadikan pihak yang tidak terkait dalam Peradilan sengketa permasalahan tanah, seringkali ini menjadi Bumerang bagi BPN, jika kami harus batalkan maka bagaimana dengan posisi hak tanggungan karena Pihak Bank dengan sertifikat memberikan kredit untuk jaminan.
11. Permaslahan mafia tanah yang menimpa masyarakat Kabupaten Bandung Barat degan mengirim surat ke Presiden karena masyarakat tersebut masyarakat biasa yang menjadi korban mafia tanah, Deny Warow Sejak 2017 dasarnya dari putusandengan 5 klien tanah PPJB tanah adat, tanpa ada nomor. Dari Polda Jabar menglarifikasi ke BPN menanyakan kenapa belum terbit sertifikat milik Denny Warow, BPN mempelajari permasalaahnan tersebut dengan dokumen yang ada,timggal surat dari PT.Girilaya, menyatakan benar tanah tersebut milik Deny Warow. Pihak Denny Warrow sempat bersurat kee PT.
Girilaya, namun tidak ditanggapin, BPN melihat dokumen dan sepakat dengan Polda Jabar bahwa Kantah BPN yang bersurat ke PT.Girilaya dan mendapat jawaban bahwasanya itu merupakan asset dari PT.Girilaya bekas HGB Nomor 6, inilah yang menjadi permaslaahan.
Sementara Deny warow adalah pemenang putusan pengadilan dari tanah milik adat. Ketika BPN mempelajari Peta lama ketemu Salinan Peta Belanda, di lokasi tidak ada yang menyatakan milik adat.
PT.Girilaya melampirkan bukti kepemilihan HGB Nomor 6, waktu perpanjangan HGB, PT. Girilaya karena dikuasi oleh Denny Warrow dari 2,3 HA, cuma 1,7 HA diperpanjang sekitar 6500 meter tidak diperpanjang karena sisianya dikuasasi fisiknya oleh Deny Warow. Ini permasalahan yang sampai sekrang masih belum pengantar SK nya dikirim ke Kanwil BPN Jabar. Penyidik Polda Jabar silahkan fasilitasi lagi dalam mediasi degan pihak bersengketa, BPN Kantah Bandnung Barat menunggu hasilnya.
12. Permaslahan Mafia tanah, kondisi saat ini di wilayah Kabupaten Bogor banyak beroperasi. Banyak modus, awalnya BPN tahu ada modus pembobolan asset BLBI. Pada 2020 malakukan Redis terhadap eks HGU di 2 Desa, di Desa Pepmaya dan di Desa Neglasari. Dari luas total 500 HA BPN melakukan program Redis skitar 160 Ha. Dari berkas-