• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN KUNJUNGAN KERJA KOMISI II DPR RI KE PROVINSI SUMATERA SELATAN

MASA RESES PERSIDANGAN I TAHUN SIDANG 2021-2022 TANGGAL 11 S.D 15 OKTOBER 2021

---

I. PENDAHULUAN

1.1 Dasar Kunjungan Kerja

Kunjungan kerja Tim Komisi II DPR RI adalah dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi dewan yaitu fungs legislasi (perundang- undangan), fungsi budgeting (anggaran), fungsi kontrol (pengawasan) sebagaimana yang diamanatkan dalam undang-undang. Fungsi yang lain adalah menampung serta menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat.

Kunjungan kerja reses Tim Komisi II DPR RI ke Provinsi Sumatera selatan dilaterbelakangi oleh pelaksanaan fungsi pengawasan terkait dengan persoalan- persoalan yang berkaitan dengan : 1). Penyelenggaraan pemerintahan daerah, reformasi birokrasi, dan pelayanan publik di masa pandemi covid-19, utamanya pelayanan publik secara digital melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE); 2). Evaluasi pelaksanaan program KTP-el, dimana penerapannya masih menemukan banyak masalah diantaranya Ketersediaan blangko KTP-el yang belum memadai dan distribusi blangko KTP-el yang belum berjalan lancar, Data KTP-el yang belum terintegrasi sehingga berpotensi munculnya KTP palsu, KTP ganda, dan lain- lain; 3). Persiapan pelaksanaan pemilu serentak dan pilkada serentak tahun 2024; 4). Evaluasi pelaksanaan reforma agraria dan tata ruang wilayah di Provinsi Sumatera Selatan serta penyesuaiannya dengan UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja; dan 5). Evaluasi Pelaksanaan program pemetaan dan penanganan kasus-kasus pertanahan

Kunjungan Kerja Komisi II DPR RI ke Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan pada Keputusan DPR RI Tentang Penugasan kepada Anggota Komisi I sampai dengan Komisi XI dan Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk melakukan Kunjungan Kerja Berkelompok dalam Reses Masa Persidangan I Tahun Sidang 2019-2020 dan Keputusan Rapat Intern Komisi II DPR RI.

Tim kunjungan kerja Komisi II DPR RI ke Provinsi Sumatera Selatan berjumlah 13 (tiga belas) orang Anggota yang dipimpin oleh Dr. H. Syamsurizal / Wakil Ketua Komisi II DPR RI/F-PPP, dengan Anggota tim terdiri dari :

NO. NO.

ANGGOTA N A M A KETERANGAN

1. A-462 Dr. H. Syamsurizal, S.E., M.M Ketua Tim

Wakil Ketua Komisi II/ F-PPP

(2)

2. A-152 Ir. H. Endro Suswantoro Yahman, M.Sc Anggota/ F-PDI.P

3. A-195 Drs. H. Heru Sudjatmoko, M.Si Anggota/ F-PDI.P

4. A-165 H. Yadi Srimulyadi Anggota/ F-PDI.P

5. A-315 Zulfikar Arse Sadikin, S.IP., M.Si Anggota/ F-Golkar

6. A-308 Teti Rohatiningsih, S.Sos Anggota/ F-Golkar

7. A-83 Ir. Irwan Ardy Hasman Anggota/ F- P.Gerindra

8. A-105 Andika Pandu Puragabaya, S.Psi., M.Si., M.Sc Anggota/ F- P.Gerindra 9. A-366 Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, M.M Anggota/ F- Nasdem 10. A-16 Drs. H. Acep Adang Ruhiat, M.Si Anggota/ F- PKB

11. A-534 H. Zulkifli Anwar Anggota/ F-PD

12. A-533 H. Wahyu Sanjaya, SE Anggota/ F-PD

13. A-541 H. Mohammad Muraz, M.M Anggota/ F-PD

14. A-428 Teddy Setiadi, S.I.Kom Anggota/ F-PKS

15. --- Dahliya Bahnan Kasubag Rapat Set. Komisi II

16. --- Taofiek Hidayat Sekretariat Komisi II

17. --- Syaiful Hadi Sekretariat Komisi II

18. --- Eko Supriyanto Protokol Komisi II

19. --- Anggia Michel Tenaga Ahli Komisi II

20. --- Andi Zastrawati Tenaga Ahli Komisi II

21. --- Ridwan TV Parlemen

22. --- Agung Hidayat Media Sosial

Tim kunjungan kerja didampingi oleh 4 (empat) orang staf sekretariat Komisi II DPR RI, 2 (dua) Tenaga Ahli Komisi II DPR RI, Bagian Pemberitaan DPR RI serta perwakilan Departemen Dalam Negeri, Sekretaris Kabinet, BPN, ANRI, BKN, Bawaslu RI dan anggota Ombudsman RI.

1.2 Waktu Kunjungan Kerja

Kunjungan kerja dilaksanakan dari tanggal 11 s.d 15 Oktober 2021 dan telah diadakan pertemuan dengan beberapa pihak berikut:

a. Gubernur Provinsi Sumatera selatan dan jajarannya.

b. Kepala Kanwil BPN Provinsi dan Kakan BPN Se-Provinsi Sumatera selatan.

c. KPU dan Bawaslu Provinsi Se-Provinsi Sumatera selatan.

Dalam pertemuan tersebut telah diperoleh sejumlah informasi, keterangan, data dan masukan, baik secara tertulis maupun lisan, terkait dengan sejumlah hal yang menjadi bidang kerja Komisi II DPR RI. Pokok-pokok pikiran yang berkembang dalam pertemuan tersebut disajikan dalam laporan di bawah ini.

II. HASIL KUNJUNGAN KERJA

2.1 PENGANTAR BAPAK DR.H. SYAMSURIZAL, WAKIL PIMPINAN KOMISI 2 DPR RI

(3)

Komisi II DPR RI adalah salah satu Komisi di DPR yang memiliki mitra kerja yang cukup banyak dibandingkan dengan komisi-komisi lain yang ada di DPR, yaitu terdapat 16 mitra kerja. Tugas utama Komisi II DPRI RI meliputi persoalan- persoalan yang berkaitan dengan politik & pemerintahan dalam negeri, aparatur sipil negara & reformasi birokrasi, agraria & tata ruang, serta kepemiluan.

Kunjungan Kerja yang dilaksanakan oleh Komisi II DPR RI adalah dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi DPR, khususnya fungsi pengawasan.

Kunjungan kerja ini juga untuk menampung dan menindaklanjuti aspirasi dari pemerintah daerah ataupun masyarakat yang terkait dengan lingkup tugas Komisi II DPR RI. Pada kunjungan kerja reses kali ini, Komisi II DPR RI ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai beberapa isu strategis yang berkembang saat ini, yaitu:

1. Penyelenggaraan pemerintahan daerah, reformasi birokrasi, dan pelayanan publik di masa pandemi covid-19;

Masa pandemi covid-19 yang telah dirasakan dalam waktu setahun lebih menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah, terutama dalam hal memastikan penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik tetap berjalan optimal.

Tranformasi pelayanan publik ke arah digital menjadi suatu keharusan agar masyarakat tetap mendapatkan pelayanan publik yang prima meskipun protokol kesehatan pencegahan covid-19 diterapkan di berbagai bidang seperti:

kesehatan, kependudukan, pendidikan, perdagangan, sosial budaya, dan lain- lain. Pemerintah semakin berlomba memberikan pelayanan publik secara digital melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) sesuai amanat Peraturan Presiden No. 95 Tahun 2018 tentang SPBE. Penerapan SPBE yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah belum memiliki semangat keterpaduan dan integrasi. Optimalisasi SPBE dilakukan dengan meningkatkan kesadaran dan komitmen pimpinan instansi pemerintah agar dapat memberikan arah kebijakan dan koordinasi penerapan SPBE di masing-masing instansi.

2. Evaluasi pelaksanaan program KTP-el;

Pelayanan KTP-el merupakan salah satu jenis pelayanan administrasi kependudukan yang saat ini dapat dilakukan secara online. Meskipun pelayanan KTP-el dapat dilakukan secara online namun keluhan masyarakat terkait pelayanan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil masih terus muncul, mulai soal calo atau pungli, blangko yang kerapkali tidak tersedia, perekaman biometrik dan pencetakan KTP-el yang lambat, hingga masalah-masalah teknis di loket- loket layanan. Selain itu, jaminan atas kerahasiaan data pribadi menjadi hal penting yang harus menjadi perhatian mengingat KTP-el dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti: penerbitan paspor, Surat Izin Mengemudi (SIM), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Polis, syarat mendapatkan vaksinasi covid- 19, dan lain-lain.

3. Persiapan pelaksanaan pemilu serentak dan pilkada serentak tahun 2024;

Pemilu serentak dan pilkada serentak tahun 2024 tidak lama lagi akan digelar dan tahapannya akan dimulai pada Januari 2022. Pemilu ini pun menjadi sebuah sejarah baru bagi Indonesia, sebab akan dilaksanakan pemilihan presiden dan wakil presiden, DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD kabupaten/kota dan pemilihan gubernur dan wakil gubernur, bupati/wakil bupati dan wali kota/wakil wali kota pada tahun yang sama. Meskipun pilihan teknis pelaksanaan pemilu nasional (pileg dan pilpres) maupun pemilu lokal (pilkada) pada bulan yang berbeda, namun tetap pada desain tahun yang sama pada 2024. Pada pelaksanaan pemilu sebelumnya terjadi masalah terkait hak pilih, secara khusus jaminan hak memilih (right to be voters) belum tuntas. Hak memilih ini kerap menjadi masalah di ujung tahapan dan berlanjut menjadi perkara di Mahkamah Konstitusi (MK).

Keakuratan Daftar Pemilih Tetap (DPT) selalu menjadi inti permasalahan. Oleh

(4)

karena itu, perlu langkah-langkah persiapan dalam menghadapi pemilu serentak dan pilkada serentak tahun 2024, salah satunya dengan melaksanakan Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB). Data pemilih harus terus diperbaharui agar diperoleh data valid ketika akan digunakan pada saatnya nanti.

4. Evaluasi pelaksanaan reforma agraria dan tata ruang wilayah di Provinsi Sumatera Selatan serta penyesuaiannya dengan UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja;

Reforma Agraria berdasarkan Peraturan Presiden No. 86 Tahun 2018 tentang Reforma agraria merupakan upaya pemerintah untuk melakukan penataan kembali struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah yang lebih berkeadilan melalui penataan aset dan disertai dengan penataan akses untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Namun, masih terdapat berbagai permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan reforma agraria di Indonesia, antara lain:

a. Kejelasan status tanah, karena obyek redistribusi tanah adalah Tanah Obyek Reforma Agraria yang berasal dari tanah Hak Guna Usaha (HGU) dan Hak Guna Bangunan (HGB) yang habis masa berlakunya dan tidak diperpanjang, tanah terlantar, tanah negara, pelepasan kawasan hutan, dan lain-lain.

b. Ketidaksesuaian izin HPL, HGU, dan HGB serta penguasaan lahan yang telah melebihi batas waktu perizinan yang dimiliki perusahaan swasta, BUMN, dan BUMD dengan kenyataan di lapangan.

c. Konflik agraria terhadap objek redistribusi tanah antara masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan korporasi, masyarakat dengan BUMN dan lain-lain.

Di sisi lain, belum terintegrasinya tata ruang dan wilayah di Indonesia menyebabkan timbulnya tumpang tindih pemanfaatan lahan, bahkan menjadi salah satu penyebab utama terjadinya pelanggaran, sengketa dan konflik tata ruang. Permasalahan tata ruang dan wilayah dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, laju investasi, percepatan pembangunan dan percepatan otonomi daerah. Kebutuhan akan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi (PZ) bagi para pemangku kepentingan sangat mendesak, mengingat RDTR dan peraturan zonasi sangat diperlukan sebagai acuan operasional bagi pemberian izin pemanfaatan ruang.

5. Evaluasi Pelaksanaan program pemetaan dan penanganan kasus-kasus pertanahan.

Sengketa dan konflik pertanahan adalah bentuk permasalahan yang sifatnya kompleks dan multi dimensi. Oleh karena itu usaha pencegahan, penanganan dan penyelesaiannya harus memperhitungkan berbagai aspek baik hukum maupun non hukum. Seringkali penanganan dan penyelesaian terhadap sengketa dan konflik pertanahan dihadapkan pada dilema-dilema antara berbagai kepentingan yang sama-sama penting. Mencari keseimbangan atau win-win solution atas konflik yang sudah terjadi jelas membutuhkan upaya yang tidak mudah. Karena itu dibutuhkan pemahaman mengenai akar konflik, faktor pendukung dan faktor pencetusnya sehingga dapat dirumuskan strategi dan solusinya. Dengan usaha-usaha penyelesaian akar masalah, diharapkan sengketa dan konflik pertanahan dapat ditekan semaksimal mungkin, sekaligus menciptakan suasana kondusif dan terwujudnya kepastian hukum dan keadilan agraria yang mensejahterakan.

Komisi II DPR RI juga telah menyampaikan pertanyaan secara tertulis, dan kami harapkan akan memperoleh penjelasan yang lebih detail dan tajam secara

(5)

tertulis dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan jajarannya. Semua jawaban ataupun masukan yang disampaikan kepada Komisi II DPR RI, akan menjadi bahan diskusi di internal Komisi II DPR RI, dan selanjutnya akan dijadikan sebagai bahan untuk ditindaklanjuti dalam Raker/RDP dengan kementerian/lembaga terkait.

2.2 PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA SELATAN

1. Penyelenggaraan pemerintahan daerah, reformasi birokrasi, dan pelayanan publik di masa pandemi covid-19;

a. Alokasi APBD Provinsi Sumatera Selatan setelah dilakukan refocusing anggaran

• Alokasi APBD sebesar Rp. 10.720.096.013.693

• Pergub No. 13 Tahun 2021 APBD perubahan sebesar Rp.

10.965.692.503.428

• Langkah dan upaya yang dilakukan Pemprov Sumsel adalah Pemrov Sumsel mengefektifkan anggaran dan diutamakan untuk penanggulangan covid 19 dengan mengurangi komponen belanja barang/jasa, frekwensi perjalanan dinas, pakaian, workshop dan belanja modal seperti pengadaan kendaraan dinas, serta peningkatan PAD dengan adanya pemutihan pajak kendaraan bermotor.

• Dalam keterbatasan anggaran, Pemprov mendapat pinjaman pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)

b. Penerapan kebijakan sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) di Provinsi Sumatera Selatan.

• Kebijakan penerapan SPBE telah tertuang dalam Pergub No. 63 Tahun 2020 tentang Tata Kelola SPBE sebagai pedoman bagi seluruh perangkar daerah dilingkungan Pemprov. Sumsel dalam penyelenggaraan SPBE dan didukung juga dengan Pergub No. 4 Tahun 2021 tentang Satu Data Provinsi Sumatera Selatan. Selain itu Pemprov juga telah memiliki Rencana Induk SPBE.

• Bentuk layanan SPBE, antara lain :

➢ Layanan pusat data sumsel

➢ Layanan pengaduan (SP4AN LAPOR dan Wishtle Blowing System)

➢ Layanan kepegawaian (Si,peg dan e-layanan)

➢ Layanan perencanaan, penganggaran, monitoring dan evaluasi keuangan berbasis elektronik (e-sumsel)

➢ Layanan akuntabilitas instansi pemerintah daerah berbasis elektronik (e-performance)

➢ Layanan kinerja pegawai (anjab.sumselprov.go.id)

➢ Layanan data

➢ Layanan jaringan dokumentasi dan informasi hukum (JDIH)

➢ Layanan investasi dan perijinan (PTSP)

➢ Layanan pengadaan barang dan jaya secara elektronik (LPSE)

➢ Layanan kearsipan

➢ Layanan informasi kebakaran hutan dan lahan (songket)

(6)

c. Kinerja pelayanan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sumatera Selatan setelah diterbitkan UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja terhadap Investasi

• Memberikan kemudahan perizinan berusaha dan meningkatkan kepercayaan investor dengan membuat proses permohonan perizinan berusaha lebih sederhana dan efisien sehingga pelayanan menjadi semakin cepat sebagaimana diatur dalam PP Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Resiko dan UU No. 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah

• Penyelenggaraan perizinan berusaha berbasis resiko yang diaplikasikan melalui sistem yang terintegrasi secara elektronik yang dikenal dengan online single submission risk based approach (OSS RBA).

• Dalam implementasi aplikasi melalui sistem yang terintegrasi secara elektronik yang dikenal dengan online single submission risk based approach (OSS RBA). Dalam implementasi sistem OSS RBA di daerah masih banyak kendala dan masih dalam tahap pengembangan sistem.

• Aparatur DPMPTSP Pemprov. Sumsel terus meningkatkan kinerjanya dengan mengikuti berbagai Diklat/Sosialisasi/Workshop dan pelatihan – pelatihan lainnya terkait perizinan berusaha DPMPTSP sebagai penyelenggara pelayanan perizinan berusaha selalu memberikan informasi dan pendampingan kepada pelaku usaha dalam proses pengajuan perizinan berusaha melalui sistem OSS RBA.

d. Jumlah Mal Pelayanan Publik di Pemprov Sumsel, dan uapayanya dalam mempercepat pendirian Mal Pelayanan Publik di Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan

• Kabupaten/Kota Se-Sumsel yang telah dimiliki Mal Pelayanan Publik (MPP) adalah Kota Palembang, sedangkan yang masih dalam progress pembentukan MPP adalah Kabupaten Muara Enim, Kota Lubuk Linggau, Kota Prabumulih, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.

• Upaya Pemprov Sumsel dalam mendukung pembentukan dan penyelenggaraan Mal Pelayanan Publik telah membuat Surat Himbauan Gubernur Sumatera Selatan No. 067/0198/PTSP/2021 Tanggal 25 Januari 2021 perihal Himbauan Pendirian Mal Pelayanan Publik (MPP) kepada Bupati/Walikota se-Sumatera Selatan.

e. Penyelenggaraan pelayanan public di Provinsi Sumatera Selatan di masa pandemi covid – 19

• Pemprov. Sumsel berkomitmen dan bekerjasama dengan kementerian PAN RB RI dalam peningkatan kualitas pelayanan public, hal tersebut ditunjukkan dimana Provinsi Sumatera Selatan sebagai Provinsi percontohan HUN jaringan inovasi pelayanan public (JIPP).

• Pemprov. Sumsel telah mengeluarkan intruksi Gubernur Sumatera Selatan Nomor 1210 tahun 2018 tentang gerakan one agency innovation di Prov.

Sumsel dan Pemerintah Kabupaten/Kota se Sumatera Selatan pada tanggal. 16 Oktober 2018.

(7)

• Penyelenggaraan pelayanan public dimasa pandemic covid-19 tetap berjalan seperti biasanya tanpa mengalami hambatan dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat, namun tetap menerapkan protocol kesehatan.

• Bentuk inovasi dalam rangka mempermudah akses layanan kepada masyaraat dalam mendapatkan pelayanan di masa covid-19, Pemprov.

Sumsel melalui UPTB Samsat Palembang 1 dan DPM-PTSP.

• Selain itu Pemprov. Sumsel memberikan pelayanan khusus bagi kaum rentan dengan cara delivery service dimana masyarakat pengguna layanan kebutuhan khusus dan lansia tidak perlu menunggu karena berkas tersebut akan langsung dan urus dan diantar kerumah yang bersangkutan oleh petugas tanpa dikenakan biaya (gratis).

2. Pengawasan Ombudsman dan Pengaduan Masyarakat

a. jumlah laporan/pengaduan yaitu konsultasi non laporan (KNL), laporan masyarakat (LM), reaksi cepat ombudsman (RCO), inisiatif investigasi (IN), tembusan. Segala bentuk laporan ombudsman. Adapun total jumlah laporan/pengaduan temasuk kelompok instansi terlapor yang masuk kepada Ombudsman perwakilan Sumatera Selatan tahun 2017 – 2021 adalah sebagai berikut :

NO KELOMPOK

INSTANSI TERLAPOR

JUMLAH

2017 2018 2019 2020 2021 TOTAL

1 Pemerintah Daerah 58 60 98 66 62 344

2 Kepolisian 32 31 25 6 35 129

3 BUMN/BUMD 10 25 26 17 27 105

4 Perbankan 8 3 4 4 13 32

5 BPN 20 17 13 7 12 69

6 Badan

Swasta/Perseorangan

- 1 2 2 11 16

7 Kejaksaan 3 2 4 5 10 24

8 Lain – Lain 6 - 26 25 18 75

9 Instansi

Pemerintah/Kementerian

32 17 18 8 3 78

10 Komisi Negara/Non Struktural

3 10 2 - 3 18

11 Lembaga Pendidikan Negeri

3 17 21 5 3 49

12 Lembaga Peradilan 5 8 7 3 3 26

13 TNI - 1 - - 2 3

14 Rumah Sakit Pemerintah

- 2 4 3 1 10

15 Lembaga Pemerintah Non Kementerian

12 3 - 4 - 19

16 Perorangan - - 1 - - 1

17 Lembaga Pendidikan Swasta

- - - 2 - 2

Total Laporan 192 197 251 157 203 1000

Sumber : Sistem pelaporan Ombudsman RI, 2021

b. Dalam upaya penyelesaian laporan masyarakat sesuai ketentuan UU No. 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman RI, terdapat beberapa cara yang bisa

(8)

dilakukan yaitu dengan cara melakukan konfirmasi langsung kepada instansi yang dilaporkan (terlapor), meminta penjelasan/klarifikasi tertulis, pemeriksaan lapangan/klarifikasi pertemuan.

c. Di masa pandemi Ombudsman RI perwakilan Sumatera Selatan secara maksimal kegiatan pencegahan maladministrasi di Sumatera Selatan dengan tetap memperhatikan protocol kesehatan Covid-19. Kegiatan tersebut mencakup, memberikan informasi kepada masyarakat tentang peran penting keterlibatan masyarakat dalam peningkatan pelayanan public. Selain tu juga memberikan arahan dan paparan kepada para penyelenggara pelayanan public tentang melakukan pelayanan public sesuai peraturan dan prosedur yang telah ditetapkan.

d. Pada tahun 2020, Ombudsman RI membuka Posko Pengaduan Covid-19 yang tersebar diseluruh perwakilan Ombudsman di Indonesia RI Perwakilan Sumatera Selatan. Kegiatannya adalah menerima laporan/pengaduan terkait Covid melalui link pengaduan Ombdsman RI Pusat dan Whatsap Center Ombudsman Perwakilan Sumsel. Laporan yang masuk langsung ditindaklanjuti dan dikoordinasikan kepada seluruh narahubung.

e. Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Selatan tetap menerima pengaduan dari masyarakat melalui, email,telepon dan datang langsung. Pengaduan/laporan yang disampaikan masyarakat paling banyak pada substansi Pedesaan di tahun 2020 yaitu sebanyak 20 pengaduan, yang kemudian mengalami penurunan di tahun 2021 yaitu menjadi 12 pengaduan. Substansi agraria menjadi laporan tertinggi yaitu sebanyak 25 pengaduan yang mana substansi agrarian ditahun 2020 hanya sebanyak 16 pengaduan.

3. Pelaksanaan Program KTP-EL

a. Realisasi Perekaman dan Pecetakan KTP-el di Provinsi Sumatera Selatan

• Target nasional perekaman KTP-el tahun 2021 adalah sebesar 99,2%.

Penyelenggaraan kegiatan perekaman dan pencetakan KTP-el di Sumatera Selatan berjalan sangat baik. Jumlah penduduk Sumatera Selatan sebesar 8.490.335 jiwa. dengan jumlah wajib KTP-el sebesar 5.975.590 jiwa. sampai saat ini jumlah perekaman sebesar 5.975.590 jiwa atau sebesar 99,76%.

Namun ada beberapa kabupaten/kota yang belum mencapai target nasional untuk perekaman KTP-el.

• Upaya – upaya yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Sumatera Selatan dalam rangka meningkatkan capaian persentase wajib KTP-el adalah:

➢ Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan perekaman setiap bulan melalui kegiatan pelaporan kinerja Dukcapil

➢ Memastikan dimasa pandemi tetap memberikan pelayanan secara online dan perekaman KTP-el dilaksanakan dengan kegiatan jemput bola dengan protocol kesehatan.

➢ Mendorong kabupaten/kota mencapai target nasional

➢ Memfasilitai ketersediaan/stock blanko KTP-el, jangan sampai terjadi kekosongan blanko di disdukcapil kab/kota.

b. Membangun Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) terintegrasi secara nasional

• Pemanfaatan data kependudukan yang terkoneksi pada disdukcapil Prov.

Sumsel yaitu Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Selatan dan

(9)

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sumsel, selanjutnya pihak pengguna yang sedang dalam proses perizinan yaitu Rumah Sakit Siti Fatimah dan Rumah Sakit Bayangkara.

• Terkait dengan akurasi, validasi, dan keamanan data

➢ Setiap pemanfaatan data kependudukan dilakukan dengan perjanjian kerjasama antara dinas kependudukan dan pencatatan sipil dengan lembaga pengguna

➢ Akses data yang dilakukan oleh lembaga pengguna hanya elemen data tertentu yang dapat diberikan, akses data yang dilakukan oleh lembaga pengguna yang menggunakan jaringan virtual private network (VPN).

➢ Setiap perjanjian kerjasama diikuti dengan penandatangan fakta integritas menjamin bahwa data yang diakses tidak di salah gunakan (sesuai peruntukan).

➢ Ruang server hanya dapat diakses oleh petugas khusus yang memiliki akses tertentu melalui sidik jari.

➢ Petugas yang diberi tanggungjawab terkait dengan akses data harus memiliki integritas dan server data kependudukan diberikan user id dan password.

c. Penerapan Kartu Identitas Anak (KIA)

• Target nasional kepemilikan KIA untuk tahun 2021 adalah sebesar 30%.

Hingga saat ini capaian kepemilikan KIA untuk Provinsi Sumatera Selatan adalah sebesar 38,50%.

• Masih ada kabupaten/kota di sumatera selatan yang belum mencapai target nasional kepemilikan KIA yaitu Kabupaten Musi Rawas Utara sebesar 17,9%, Kabupaten OKU Timur sebesar 25,42% dan Kabupaten Musi Rawas sebesar 29,82%.

• Upaya – upaya yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi melalui Disdukcapil dalam rangka meningkatkan persentase cakupan kepemilikan KIA antara lain :

➢ Mendorong Disdukcapil kabupaten/kota untuk berkoordinasi dengan pihak sekolah dalam rangka penerbitas KIA

➢ Disdukcapil Provinsi terus proaktif mensosialisasi akan pentingnya kepemilikan KIA

• Beberapa manfaat KIA bagian anak antara lain :

➢ Merupakan identitas resmi untuk anak di bawah usia 17 tahun

➢ Memudahkan anak untuk mendapatkan pelayanan public seperti pelayanan perbankan, kesehatan dan sebagainya.

➢ Sebagai bukti identitas diri saat melakukan pendataan tertentu seperti daftar ulang sekolah, membuka tabungan di bank, bukti pendaftaran BPJS dan lainnya.

2.3I. KOMISI PEMILIHAN UMUM PROVINSI SUMATERA SELATAN

1. Persiapan dan Kesiapan Penyelenggaraan Pemilu dan Pemilihan Serentak 2024

a. Penyusunan peningkatan kapasitas SDM berupa :

▪ Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pilkada 2020, sehingga hal – hal yang menjadi kelemahan dan kekurangan dapat menjadi

(10)

masukan untuk persiapan penyelenggaraan pemilu dan pemilihan serentak 2024.

▪ Mengikuti kegiatan webinar series desa peduli pemilu dan pemilihan yang diselenggarakan KPU RI, yang bertujuan menyampaikan informasi kepemiluan dalam rangka persiapan pemilu dan pemilihan serentak 2021

▪ Sirekap mengikuti FGD dan evaluasi penggunaan sistem informasi rekapitulasi (SIREKAP) pada pemilihan tahun 2020.

b. Kesiapan regulasi, beberapa kegiatan terkait regulasi yang telah dilakukan dalam menjaring persiapan pemilu dan pemilihan serentak, diantaranya :

▪ Daerah pemilihan (Dapil), beberapa KPU Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan telah menyampaikan data pemekaran wilayah ke KPU RI, tinggal menunggu tindak lanjut terhadap daerah pemekaran tersebut, apakah akan merubah daerah pemilihan yang telah ada. Sedangkan khusus untuk Provinsi Sumsel belum ada pemekaran wilayah

▪ Pengganti Antar Waktu (PAW) mengikuti kegiatan koordinasi PAW yang menjadi kewenangan KPU , sehingga proses PAW dapat dilaksanakan secara cermat.

▪ FGD Rancangan PKPU tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Pemilu dan Pemilihan Serentak Tahun 2024.

▪ FGD Rancangan PKPU tentang pendaftaran, Verifikasi dan Penetapan Partai Politik Peserta Pemilu bersama LSM. Termasuk didalamnya optimalisasi penggunaan SIPOL untuk mendukung tahapan pendaftaran, verifikasi dan penetapan partai politik calon peserta pemilu.

▪ FGD Rancangan Penyederhanaan Surat Suara Pemilu 2024 dengan harapan penyederhanaan surat suara memudahkan pemilih menentukan pemilihan

d. Kesiapan pendidikan pemilih, sosialisasi dan partisipasi masyarakat

▪ Melaksanakan kegiatan pendidikan pemilih berupa Program Dasar Peduli Pemula/Pemilihan (DP3). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kualifikasi partisipasi memilih di Indonesia.

▪ Pelaksanaan sekolah demokrasi di 10 Kab/Kota dan Progam Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan di 17 Kab/Kota yang anggarannya bersumber dari Hibah APBD

▪ Penguatan kelembagaan sebagai bagian dari persiapa SDM KPU se-Sumatera Selatan untuk menghadapi Pemilu Tahun 2024, dan

▪ Pelaksanaan rapat koordinasi rapat kerja, sosialisasi FGD, dll.

2. Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan yang dilakukan KPU Provinsi Sumatera Selatan. Koordinasi yang dilakukan KPU Provinsi Sumatera Selatan dengan Dinas Kependudukan Catatan Sipil Provinsi Sumatera Selatan guna memudahkan akses data dalam melakukan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan.

a. Pelaksanaan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan di KPU Provinsi Sumatera Selatan sudah berjalan sesuai aturan.

b. KPU Kabupaten/Kota Se – Sumatera Selatan melakukan rekapitulasi daftar pemilih berkelanjutan per bulan dan menyampaikan hasil rekapitulasi tersebut kepada partai politik, bawaslu dan disdukcapil.

(11)

c. KPU Provinsi Sumsel melakukan koordinasi secara berkala dengan Disdukcapil Provinsi Sumsel guna memudahkan akses data dalam melakukan pemutakhiran data pemilih.

d. Kendala dan hambatan yang dihadapi oleh KPU Kabupaten/Kota dalam melakukan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan (PDPB), adalah :

▪ Data yang didapatkan dari Dinas Dukcapil bukan data by name by address tetapi hanya mendapatkan elemen data nama dan NIK, sehingga susah untuk menempatkan pemilih yang mutasi masuk ke dalam kelurahan/desa dan di TPS mana.

▪ Minimnya anggaran untuk melakukan kegiatan PDPB termasuk melakukan kegiatan verifikasi faktual data pemilih, terutama untuk pemilih yng mutasi dan meninggal, serta perbaikan elemen data yang masih invalid.

3. Saran dan Masukan a. Aspek Regulasi

▪ Penyiapan regulasi sejak awal

▪ Penyempurnaan Regulasi sehingga tidak memerlukan banyak surat edaran terutama menjelang tahapan berlangsung sehingga tidak menimbulkan multitafsir terkait surat edaran tersebut.

▪ Penyelarasan Peraturan KPU dan Bawaslu pada penyelenggaraan tahapan pemilihan umum dan pemilihan kepada daerah serentak.

b. Aspek Teknis Pelaksanaan

▪ Pemanfaatan dan Penyempurnaan Sistem IT yang ada untuk

beberapa aplikasi dalam tahapan pemilu seperti Silon, Sidalih, Sipol, Situng, Sirekap dan lainnya.

▪ Penyiapan Insfrakstruktur seperi Kantor dan gudang yang representatif dan Jaringan Internet masuk desa.

▪ Pemilu Serentak dan Pilkada Serentak 2024 akan sukses jika adanya koordinasi dan konsolidasi yang baik antara seluruh elemen stake holder kepemiluan :

➢ Penyelenggara Pemilu: KPU, BAWASLU, DKPP

➢ Pemerintah

➢ Media/Pers

➢ Partai Politik/Kandidat

➢ Masyarakat Sipil

➢ TNI dan Polri

2.4. BADAN PENGAWAS PEMILU (BAWASLU) PROVINSI SUMATERA SELATAN a. Persiapan dan Kesiapan Bawaslu Provinsi Sumatera Selatan dalam

Penyelenggaraan Pemilu dan Pemilihan Serentak Tahun 2024

▪ Penguatan kelembagaan pengawasan ditingkat Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan, dimana dari 17 Bawaslu Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan telah ada 3 Bawaslu yang sudah membentuk satuan kerja (Satker), sedangkan 14 (empat belas) lainnya diusulkan untuk dapat menjadi satuan kerja sebelum pelaksanaan pemilu serentak dan pilkada serentak tahun 2024

(12)

▪ Melakukan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Lingkungan Bawaslu Provinsi Sumatera Selatan dan Bawaslu Kabuaten/Kota se-Sumatera Selatan, seperti sosialisasi Perbawaslu No.

15 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pembinaan dan Pengawasan terhadap pelaksanaan tugas pengawasan pemilihan

▪ Melakukan sosialisasi pengawasan partisipasi kepada masyarakat dalam rangka mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk mengawasi pemilu dan pemilihan serentak tahun 2024.

▪ Melakukan kegiatan sekolah kader pengawasan partisipatif (SKPP) 2021 yang dilaksanakan di 2 titik yaitu Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering ilir.

▪ Melakukan evaluasi pengawasan, penanganan pelanggaran dan penyelesaian sengketa proses dalam rangka upaya perbaikan dan proyeksi peningkatan kualitas dalam pelaksanaan tugas pengawasan, penanganan dan penyelesaian sengketa menghadapi pemilu dan pemilihan serentak 2024.

c. Pengawasan Bawaslu Provinsi Sumatera Selatan terhadap pelaksanaan pemutakhiran data pemilih berkelanjuan yang dilakukan KPU Provinsi Sumatera Selatan.

▪ Pemutakhiran data pemilih berkelanjutan adalah untuk memperbahurui data pemilih seperti menambahkan pemilih baru, mencoret pemilih yang sudah tidak memenuhi syarat, dan perubahan elemen data pemilih secara berkelanjutan.

▪ Kendala yang dihadapi yaitu Bawaslu tidak dapat melakukan penelusuran terhadap akses NIK dan NKK yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kesamaan atau kemiripan NIK dan NKK untuk efektifitas pemutakhiran data pemilih.

▪ Kedepan Bawaslu berharap memiliki akses terhadap NIK dan NKK serta mendorong KPU untuk melakukan kreatifitas dan terobosan dalam konteks pemutakhiran data pemilih berkelanjutan.

d. Saran dan Masukan Bawaslu Provinsi Sumatera Selatan untuk persiapan penyelenggaraan pemilu serentak dan pilkada serentak 2024.

▪ Mengusulkan perubahan usia paling rendah untuk pengawas TPS dari paling rendah 25 tahun menjadi 21 tahun.

▪ Untuk efektifitas dan akuntabilitas penyusunan data pemilih berkelnjutan diharapkan adanya regulasi yang memungkinkan Bawaslu untuk dapat megakses data NIK dan NKK.

▪ Mendorong adanya mekanisme penyederhanaan surat suara dalam rangka efektifitas dan efisiensi pelaksanaan pemilu tahun 2024

▪ Mendorong mekanisme distribusi logistik yang dilakukan oleh KPU secara terencana dan tepat.

▪ Mempertimbangkan jumlah pengawas tingkat kelurahan/desa berkorelasi dengan jumlah pengawas TPS.

▪ Mempertimbangkan perpanjangan masa jabatan Bawaslu Kabupaten/Kota dalam rangka menghadapi pemilu dan pilkada 2024.

2.5. BADAN PERTANAHAN NASIONAL PROVINSI SUMATERA SELATAN a. Luas tanah terlantar yang terdata dan tidak terdata

▪ Luas tanah terlantar yang telah didata ± 6.640 Ha dan tanah yang terindikasi terlantar dan belum didata ± 9.000 Ha

(13)

▪ Sudah ditetapkan sebagai tanah negara seluas ± 6.640 Ha

▪ Tanah terlantar yang sudah menjadi obyek redistribusi seluas ± 4.540 Ha.

▪ Tanah terlantar yang sudah didayagunakan seluas 4.540 Ha

▪ Kasus Tanah terlantar yang bersengketa di PTUN untuk sampai saat ini belum ada.

▪ Luas tanah terlantar yang belum diinventarisir oleh Badan Pertanahan Nasional sekitar ± 9.000 Ha

▪ Luas tanah terlantar yang berhasil diredistribusi untuk kepentingan umum sekitar ± 200 Ha ( untuk Kantor Pemerintahan Daerah Musi Rawas Utara) b. Sengketa Lahan di Provinsi Sumatera Selatan antara masyarakat hukum adat

dengan izin HGU, HGB dan HPL yang dikuasai oleh Perusahaan swasta maupun BUMN/BUMD

▪ Ada, yaitu masyarakat suku anak dalam berkonflik dengan PT. London Sumatera Indonesia Tbk. di Kabupaten Musi Rawas Utara atas tanah yang telah bersertipikat HGU.

▪ Sudah tidak ada tumpang tindih di HGU, HGB dan HPL dengan Kawasan Hutan di Sumatera Selatan

▪ Tidak ada tumpang tindih antara HGU, HGB, dan HPL dengan izin/Konsensi pertambangan swasta maupun BUMN/BUMD.

▪ Semua Perusahaan Swasta di Provinsi Sumatra Selatan yang mendapatkan pengelolaan HGU dan HGB sudah memilki Izin Lokasi dan Izin Usaha Perkebunan (IUP) atau sebaliknya.

c. hasil evaluasi Kanwil Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Selatan terhadap pelaksanaan reforma agraria di wilayah Provinsi Sumatera Selatan

▪ Berdasarkan amanat Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2018 tentang Gugus Tugas Reforma Agraria, Provinsi Sumatera Selatan membentuk Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) tahun 2018 dengan berfokus pada kegiatan inventarisasi dan analisis data-data potensi Tanah Objek Reforma Agraria (TORA).

▪ Pada tahun 2019 Pembentukan Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) di Provinsi tetap dilaksanakan mengingat banyaknya potensi sumber- sumber TORA yang ada di Provinsi Sumatera Selatan dan juga

PETA KONFLIK PENYELESAIAN

➢ Melakukan koordinasi dengan Dinas Kehutanan.

➢ Melakukan penelaahan terhadap peta bidang tanah dalam Kawasan hutan.

➢ Setelah dilakukan penelitian terhadap peta bidang tanah tersebut dipastikan bidang tanah tersebut tumpeng tindih dengan Kawasan Hutan.

➢ Kantor Pertanahan Muara Enim mengirimkan surat perihal pembatalan sertifikat yang cacat administrasi ke Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Selatan.

➢ Setelah dilakukan gelar kasus awal maka disepakati akan dilakukan pembatalan.

SHM

Kawasan Hutan SK.

454/MENLHK/SETJEN/PLA.2/6/2016 Tanggal 17 Juni 2016

Sertipikat Hak Milik

1. SHM No. 263/Muara Enim Luas 20. 260 M2 2. SHM No. 264/Muara Enim Luas 20. 720 M2 3. SHM No. 265/ Muara Enim Luas 19. 990 M2

(14)

dibentuknya Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) ditingkat Kabupaten

yang berada di Kabupaten Banyuasin.

▪ Untuk tahun 2020 pelaksanaan Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) di Provinsi Sumatera Selatan mengalami tantangan akibat adanya pandemic Covid-19 sehingga adanya saving anggaran (GTRA hanya dibentuk ditingkat Provinsi). Dengan adanya Social Distancing berdasarkan kebijakan dari Pemerintah maka kegiatan GTRA dilapangan mengalami kendala.

▪ Tahun 2021 Reforma Agraria di Provinsi Sumatera Selatan yang didanai APBN yaitu di 5 Kabupaten (Musi Banyuasin, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Ogan Komering Ilir dan Ogan Komering Ulu Timur). Sampai pada bulan September 2021 realisasi di Provinsi Sumatera Selatan sebesar 62%, sementara di Kabupaten/Kota sebesar 61,08%.

d. Pelaksanaan Reforma Agraria

2 Akses Reform

Desa Terusan Kec. Karang Jaya Kab. Muratara

Memilik potensi perkebunan jeruk

Sudah dibagikan sertifikat melalui redis pada tahun 2020

Masuk program pemberdayaan 2021

202 Bidang

2020 Pelepasan Kawasan Hutan

Desa Lubuk Bintialo, Kecamatan Batanghari Leko

Telah diverifikasi pada tahun 2020 dan berstatus clean and clear, masuk target redistribusi tanah tahun 2021

195 KK

Lubuk Muda, Megang Sakti III, Pagar Ayu, Jajaran Baru II

Sudah diselesaikan melalui skema redistribusi tanah

1000 Bidang

NO TAHUN POTENSI TORA PROGRESS KETERANGAN

1 Tanah Transmigrasi

Simpang, Damar Pura, Simpang Saga.

Sudah IPL 2019

Masuk target Redis 2021

500 Bidang

2019 Pelepasan Kawasan Hutan

Lubuk Tua, Jajaran Baru, Jajaran Baru II, Mulyo Sari, Muara Kati Bari I, Batu Bandung, Lubuk Besar, Lubuk Rumbai.

Sudah melewati tahapan berita acara tata batas

Sudah di selesaikan melalui redistribusi tanah tahun 2019

3500 Bidang

(15)

Kabupaten Musi Banyuasin Eks HGU PT.

Pakerin tanah seluas 119Ha

Telah diselesaikan melalui skema redistribusi tanah tahun 2020 di Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir

369 Bidang

e. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Reforma Agraria di Sumatera Selatan dan upaya untuk mengatasi permasalahan

▪ Untuk sumber Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) yang berasal dari Kawasan Hutan, terdapat lokasi yang sudah ditata batas namun sampai saat ini belum ada SK Pelepasan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

▪ Upaya: terkait data lokasi yang telah ditata batas tersebut kepada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional agar dapat segera merekomendasikan lokasi-lokasi tersebut ke Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

▪ Data Subyek dan Obyek Tanah transmigrasi dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi tidak sama dengan data subjek dan objek dilapangan.

▪ Upaya: melakukan konfirmasi data dan rapat secara berkala dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi terkait untuk pengkinian (Update) data.

f. Pengelolaan Tata Ruang Wilayah

▪ Tugas dan Fungsi Penataan Ruang di Provinsi dan Kabupaten/Kota menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten atau Kota.

Kantor Wilayah dan Kantor Pertanahan terlibat aktif sebagai tim teknis.

▪ Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Selatan menjadi bagian dari tim koordinasi penataan ruang daerah yang memberi pertimbangan teknis dalam penerbitan KKPR. Insentif dan disinsentif menjadi bagian dari kewenangan pemerintah daerah.

▪ Penetapan sanksi menjadi Kewenangan Pemerintah Daerah, Kantor Wilayah dan Kantor Pertanahan aktif sebagai anggota tim teknis.

▪ Penanganan sengketa penataan ruang menjadi kewenangan pemerintah daerah

g. Isu-Isu Strategis penataan Ruang terkait terbitnya undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yaitu :

▪ Perlunya Pembentukan Forum Penataan Ruang Provinsi dan Kabupaten/Kota (Permen ATR Nomor 15 Tahun 2021 tentang Koordinasi Penyelenggaraan Penataan Ruang)

(16)

▪ Percepatan Pelaksanaan Revisi RTRW Provinsi dan Kabupaten/Kota yang telah memasuki Masa Peninjauan Kembali (PK)

▪ Percepatan Penyusunan Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) dalam rangka mendukung One Single Submission (OSS)

▪ Penyelesaian Peta Indikatif Tumpang Tindih Informasi Geospasial Tematik (PITTI) terkait terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2021 tentang penyelesaian Ketidaksesuaian Tata Ruang, Kawasan Hutan, Izin dan/atau Hak Atas Tanah

▪ Pengintegrasian RZWP3K kedalam RTRW provinsi

h. Capaian Kinerja PTSL

i. Hambatan, Kendala dan Masalah Dalam Program PTSL

• Sebagian daerah yang Pemilik tanahnya tidak berada ditempat lokasi letak tanah sehingga kesulitan didalam pengumpulan alas hak (surat tanah)

• Adanya pengenaan denda atas pelunasan Pajak Terhutang BPHTB (Misalnya di Kabupaten Muara Enim dikenakan 2 % setiap bulan atas keterlambatan tersebut)

• Biaya Pra-Sertipikasi yang dikenakan di Kantor Kelurahan/Desa terlalu tinggi, belum sesuai dengan SKB tiga Menteri.

• Pengumpulan data NIK/KK serta bukti Hak/penguasaan tanah sulit karena subyek berada di luar lokasi letak tanah.

• pemilik tanah (subyek) tidak mau dilakukan pengukuran terhadap objek (tanah) yang dimiliki.

• Terlambatnya pengadaan pelaksana pengukuran untuk kegiatan PTSL yang dibiayai Bank Dunia karena prior review (harus menunggu no objection letter (NOL)

J. Reforma Agraria

49,88 49,9 66,64

89,78 84,46

59,1 54,94 47,08

39,41

0,02 3,56 2,61 9,95 12,71 33,51

44,16 44 44,39

21,16 11,18

54,51

65,6178,88 73,6978,71 69,93

78,44

17,77 19,27 44,57

57,7463,73

60 64,13

57,74 60,17

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

C A P A I A N

BULAN Nilai Perencanaan (25%)

(17)

K. Kasus Pertanahan

• Kasus sengketa yang belum selesai : 22 kasus

• Kasus konflik yang belum selesai : 14 kasus

• Kasus perkara yang belum selesai : 5 kasus

• Sengketa dan Konflik diupayakan secara optimal diselesaikan melalui mekanisme mediasi (alternative dispute resolution/ADR). Melibatkan pihak yang bersangkutan/berkonflik serta pihak terkait terutama Pemerintah Daerah/Desa. Sengketa/Konflik yang tidak terselesaikan di tingkat Kantah dan Kanwil diteruskan upaya penyelesaiannya ke tingkat Kementerian.

• Setelah dilakukan pelitian dan pengkajian terhadap sengketa tersebut, banyak pengaduan yang tidak mimiliki data pendukung yang kuat, sehingga menyebabkan kesulitan untuk mengadakan tindak lanjut. Selain itu jika diadakan mediasi banyak yang tidak mau berdamai, tapi juga tidak ingin dilanjutkan ke jalur hukum (litigasi), sehingga masalah belum menemui titik terang.

2.6. PENUTUP

Demikian, laporan hasi Kunjungan Kerja Komisi II DPR RI ke Provinsi Sumatera selatan pada Masa Reses Masa Persidangan I Tahun Sidang 2021 - 2022, sebagai hasil pertemuan dan dialog dengan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera selatan untuk ditindaklanjuti oleh instansi terkait dalam menentukan kebijakan menuju masyarakat yang adil, sejahtera, dan makmur. Kepada Semua pihak yang membantu terselenggaranya Kunjungan Kerja ini, kami ucapkan terima kasih.

8%

61% 53% 66%

11%

52% 52% 60%

0%

20%

40%

60%

80%

100%

Realisasi Fisik

Referensi

Dokumen terkait

Keberhasilan inisiatif ini berbanding lurus dengan komitmen Bidan Desa dan keberanian untuk melakukan reformasi pelayanan dengan menggabungkan 5 JURUS SANG PENDEKAR,

kesesuaian informasi yang dicari dan kepuasan terhadap penggunaan katalog Universitas Terbuka. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kinerja layanan sumber informasi dan

Pengolahan data neraca sumber daya lahan untuk penyusunan saldo neracanya, dengan melakukan tumpang-tindih peta penggunaan lahan dengan status penggunaan lahan, dan

Gambar 5.1 Control Chart timbangan analitik tipe AL-204 untuk kalibrasi alat

Menyelenggarakan Konsinyering bagi Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di lingkungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan mengundang PPID Pelaksana

Dilihat dari tingkat pendidikan, sosial ekonomi kedua informan tersebut sudah mencapai tahap menengah dimana diharapkan ketiga informan tersebut memperoleh kesempatan untuk

Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan antibodi (IgG) anti Escherichia coli enterotoksigenik ( ETEC ) K99 di dalam darah induk sapi yang divaksin

Alat ukur kadar gula darah non-invasive berbasis mikrokontroler AT89S51 dengan menggunakan sistem sensor yang terdiri dari LED dan fotodioda yang, serta LCD karakter 2x16