JURUS SANG PENDEKAR Tujuan Inisiatif
Inisiatif ini mempunyai tujuan utama yakni menurunkan angka anemia ibu hamil melalui 5 JURUS SANG PENDEKAR. Hal ini mendesak karena pada tahun 2016-2017, Desa Mojong yang berpenduduk 4958 jiwa tersandera oleh anemia pada ibu hamil. Saat itu terjadi 26 kasus anemia sehingga memicu terjadinya komplikasi yang dapat mengancam nyawa ibu dan bayi. Di Desa ini terjadi 22 kasus komplikasi persalinan, 5 kasus BBLR dan 3 kasus kematian bayi.
Penyebab kedua, sepertiga wilayah berupa hutan dan danau . Rata-rata 50 ibu hamil pertahun tinggal dilokasi tersebut dengan berjualan ikan dan buruh batu bata. Ditambah lagi dengan pengetahuan dan tingkat pendidikan rendah, sosial ekonomi lemah , tingginya angka pernikahan dini dan masih kuatnya kepercayaan terhadap mitos tentang kehamilan dan persalinan.
Melihat fakta diatas, Poskesdes Mojong UPT Puskesmas Empagae pada akhir tahun 2017 tergerak untuk mengatasinya. Inovasi JURUS SANG PENDEKAR dirintis untuk memecahkan masalah tersebut dengan sasaran semua ibu hamil. Dan semua layanan yang diberikan bersifat gratis.
Caranya dengan merekrut kader posyandu menjadi kader Fe yang bertugas melakukan deteksi dini kehamilan bersama keluarga. Mereka dipilih karena setiap hari memiliki mobilitas tinggi dan jejaring informasi yang kuat di masyarakat. Bagi ibu hamil anemia akan didampingi mulai saat hamil sampai 42 hari masa nifas.
Keselarasan Dengan Kategori Yang Dipilih
Inovasi JURUS SANG PENDEKAR selaras dengan kategori nomor 7 SINOVIK yaitu Pelayanan Publik Responsif Gender karena inovasi ini memberi pelayanan publik kepada kelompok perempuan hamil, baik normal ataupun dengan resiko tinggi. Melalui pemberdayaan kader Fe,ibu mertua/keluarga dan bidan,sejak 2017 inisiatif ini telah berhasil menekan angka anemia ibu hamil dan komplikasinya menjadi Nol.
Ini linier dengan tujuan SDGs Goals 3:menjamin kehidupan sehat dan mendorong kesejahteraan semua orang di segala usia pada tahun 2030.Goals 3 sinergi dengan Goals 5, menjamin kesetaraan gender serta memberdayakan seluruh wanita. Para tokoh perempuan ini menjadi ujung tombak inisiatif sebagai motivator utama dalam menjaga kehidupan ibu hamil sekaligus memberdayakan perempuan setempat
Signifikansi (Arti Penting)
Sebelum munculnya inisiatif ini, konseling ibu hamil hanya dilakukan dengan menyarankan makan bergizi seimbang dan rutin minum tablet Fe minimal 90 biji selama kehamilan. Padahal , dengan saran saja pasti tidak akan cukup jika tidak sering diingatkan. Akibatnya ibu sering keteteran dan hasilnya, jumlah yang dikonsumsi akan jauh kurang dibawah target. Apalagi untuk mengkonsumsi sayuran tiap hari malah jauh lebih berat dilakukan. Sehingga ketidakpatuhan ibu hamil ini akan membawa dampak besar untuk resiko terkena anemia bahkan komplikasi saat bersalin nanti.
Munculnya inisiatif ini membawa dampak positif terhadap pelayanan publik yang signifikan. Melalui pemberdayaan kader Fe sebagai pendamping ibu hamil anemia, peran suami untuk menanam sayuran dipekarangan rumah. Keluarga yang senantiasa mengingatkan ibu makan tablet Fe saat alarm HPnya berbunyi, menambah pengetahuan ibu hamil dengan Pojok literasi dan kontrol rutin Hb, Dilakukan terjadwal menjadi hal utama yang dilakukan Bidan Desa, sehingga perkembangan kondisi kehamilan dapat terpantau, tidak terjadi lagi kejadian anemia bahkan komplikasi saat bersalin.
Dampak positif lainnya tidak hanya para ibu hamil dan bayi, tapi juga keluarga dan kelompok masyarakat setempat. Sebab, Inisiatif ini selain memberdayakan para kader juga melibatkan tokoh desa. Inisiatif ini mampu meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab warga satu desa, untuk menjaga keselamatan nyawa perempuan hamil dan bayi.
Inovasi
Inisiatif JURUS SANG PENDEKAR merupakan terobosan luar biasa karena dalam pelaksanaannya mampu mendorong masyarakat untuk terlibat langsung dalam pembangunan kesehatan dengan menggabungkan 5 Jurus Sang Pendekar. Misalnya, memberdayakan kader Fe sebagai pendamping ibu hamil anemia hingga 42 hari masa nifas. Sehingga pemerintah tidak perlu menambah tenaga formal baru. Langkah inovatif ini efisien karena low cost dengan impact yang jauh lebih besar.
Keluarga terdekat dan kader menjadi agen perubahan. Mereka mudah merubah pola fikir bahkan kebiasaan ibu hamil untuk kesehatannya setiap hari. Sedangkan bidan desa menjadi rekan kolaboratif yang membuat kesadaran warga satu desa ikut bertanggung jawab dalam menjaga kesehatan ibu hamil. Inisiatif JURUS SANG PENDEKAR original dan pertama di Kabupaten SIDRAP bahkan di Indonesia. Langkah strategis dalam inisiatif ini murni dari kearifan lokal. Seperti pendampingan keluarga terdekat dan kader yang pendapatnya sangat didengar oleh ibu hamil. Ini sangat lekat dengan konteks kehidupan Bugis Sidrap sipakatau, sipakainge, sipakalebbi (saling mengingatkan dalam kebaikan).
Bukti bahwa terobosan ini asli dari lingkungan setempat adalah munculnya kepedulian sosial yang menembus lintas sosial dan institusi. Maka, jangan heran jika TNI dan Polisi desa mengantarkan perempuan yang akan melahirkan ke fasilitas kesehatan dengan menggunakan kendaraan operasional pengamanan. Kepedulian sosial yang bersifat sukarela tersebut menjadi ciri asli masyarakat Indonesia yang masih mengedepankan sifat gotongroyong.
Transferabilitas
Inisiatif JURUS SANG PENDEKAR ini low cost dan sangat mudah dipindahkan, ditransfer dan diadaptasi karena hanya mengandalkan komunikasi yang intens dengan pemangku kepentingan yaitu dengan Bidan Desa, suami , ibu mertua / keluarga terdekat dan Kader.
Inisiatif JURUS SANG PENDEKAR yang awalnya dilaksanakan di Desa Mojong ini sudah direplikasi di wilayah kecamatan wattang sidenreng yaitu di Desa Aka-akae dan Desa Talumae yang juga merupakan wilayah Puskesmas Empagae dan semoga bisa diimplementasikan dan diterapkan di seluruh wilayah yang berada di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Sumber Daya
1. Keuangan: Berasal dari dana APBN Desa Mojong dalam inisiasi pembuatan Pojok Literasi Ibu Hamil sebesar Rp 20.000.000. Dana APBN Desa Mojong untuk insentif bulanan kader Fe sebesar Rp 50.000. Dana BOK Puskesmas Empagae dalam pengadaan kartu dan pemeriksaan Hb. Dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidrap berupa pengadaan Buku-buku kesehatan. Anggaran swadaya Bidan Desa Mojong,dalam pengadaan bibit sayur bayam dan kangkung.
2. Sumber daya manusia: Para Suami,Para ibu mertua,1 Bidan,1 petugas gizi,1 petugas laboratorium,para kader kesehatan Desa Mojong dan aparat desa.
3. Penunjang:Lahan pekarangan rumah,pot tanaman / botol Aqua bekas,bibit tanaman sayur,Pupuk kompos,buku kesehatan ibu dan bayi dan 1 set strip pemeriksa Hb.
Dalam aspek sosial, inisiatif ini telah mampu menciptakan jaringan kepedulian yang kuat sekaligus kemampuan eksekusi yang sangat cepat. Semuanya dilakukan demi menjaga kehidupan perempuan hamil dan bayi. Bahkan sampai taraf menciptakan struktur volunterisme baru dengan pemilihan ibu mertua/ keluarga terdekat dan kader menjadi ujung tombak inisiatif karena dari merekalah informasi mengenai kebiasaan hidup sehat ibu hamil bisa terpantau dengan baik oleh bidan desa kemudian dilanjutkan ke puskesmas bahkan sampai dokter spesialis kandungan di rumah sakit.
Dalam aspek ekonomi,inisiatif ini telah berhasil memanfaatkan pekarangan rumah yang gersang menjadi pekarangan sehat. Melalui program menanam dan makan sayur, para ibu bisa menghemat paling tidak Rp5.000 per hari untuk membeli sayuran. Ibu dan janin bisa sehat namun tetap hemat. Pemerintah Desa Mojong juga memberikan insentif bulanan Rp 50.000 sebagai penghargaan untuk kontribusi para kader. Dalam hal lingkungan,inisiatif mampu menciptakan pekarangan yang asri dan daya dukung lingkungan sosial yang jauh lebih kondusif untuk perempuan dan anak.Tanggung jawab komunitas dalam menjaga calon kehidupan yang dikandung oleh ibu hamil ikut berkontribusi dalam menciptakan lingkungan baru yang lebih baik.
Inisiatif ini sudah dikuatkan dengan surat keputusan kepala Desa Mojong no 001/MOJONG/X/2017 dengan membentuk Tim tingkat Desa yang diketuai oleh Kepala Desa Mojong dengan anggota dari berbagai unsur di masyarakat.
Dampak
Evaluasi dilakukan setiap tiga bulan melalui rapat koordinasi internal antar pemerintah desa , para kader, petugas gizi dan petugas laboratorium Puskesmas Empagae. Bertempat di Aula Desa Mojong yang dipimpin langsung oleh Bidan Desa dan Kepala Desa Mojong. Agendanya,meminta laporan dari para kader dan hasil evaluasi kegiatan selama 3 bulan termasuk keberhasilan dan hambatan yang terjadi.
Hasil rapat koordinasi ini akan menjadi laporan ke Puskesmas Empagae kemudian dibawa ke forum eksternal tingkat kecamatan. Dipimpin oleh Camat dengan mengundang Kepala desa, TNI dan Polisi desa serta organisasi perempuan. Dalam evaluasi tersebut, dibahas tuntas segala perkembangan dan hambatan dilapangan. Hasilnya dibawa untuk bahan evaluasi ditingkat kabupaten.
Pertama,memastikan kerjasama tim baik internal maupun eksternal bekerja sesuai dengan tupoksinya. Anggaran insentif para kader Fe bisa diberikan setiap bulan. Sistem informasi pelaporan dari kader berjalan lancar, ibu hamil anemia sudah mendapatkan pendampingan.
Kedua, data jumlah ibu hamil, penemuan ibu hamil baru, jumlah kehamilan resiko tinggi dan kehamilan dengan anemia, jumlah yang aktif control, jumlah penanganan komplikasi persalinan. Pendampingan kader hingga 42 hari masa nifas juga menjadi perhatian termasuk rujukan ibu hamil ke dokter spesialis serta data ibu hamil yang sudah mendekati kelahiran. Keberadaan para kader juga harus selalu siap untuk mendampingi ibu hamil yang mau melahirkan.
Dari evaluasi, inisiatif ini memberi efek instan dalam mengatasi masalah utama, angka kejadian anemia ibu hamil langsung Nol sejak inisiatif dilakukan hingga dua tahun di 2019. Padahal sebelum inisiatif sebanyak 26 orang yang terkena anemia.
Selain itu, jumlah kasus komplikasi berupa perdarahan, abortus, BBLR dan kematian bayi yang dulunya 85,3% pada 2016-2017 setelah inisiatif berjalan tidak ada lagi kasus komplikasi yang terjadi. Pekarangan rumah yang tidak termanfaatkaan, kini ditanami sayuran disetiap rumah. Artinya partisipasi dan kesadaran terhadap kesehatan kehamilan semakin tumbuh.
Yang menggembirakan, munculnya elemen sosial baru dimasyarakat. Yakni komunitas masyarakat desa yang ikut bergotong-royong dan bertanggung jawab terhadap keselamatan nyawa perempuan hamil. Keterlibatan Pemangku Kepentingan
1. Bupati SIDRAP sebagai inspirator dan motivator inovasi. Yang selalu menekankan perbaikan pelayanan publik dengan terobosan baru yang langsung dirasakan oleh masyarakat.
2. Kepala Dinas Kesehatan sebagai inisiator. Yang selalu menekankan percepatan menekan angka kematian ibu, bayi dan balita dikabupaten SIDRAP dan menyediakan anggaran khusus dari Pemerintah.
3. Kepala Puskesmas Empagae Sebagai motivator pengawal jalannya inisiatif, dan selalu menjalin komunikasi dengan pemangku kepentingan
4. Camat Sebagai kepala Wilayah ikut menginisiasi dan mengevaluasi inisiatif ini.
5. Bidan Desa Mojong, Sebagai Inovator. Penggerak , pemegang irama inovasi dan tetap menjaga kekompakan tim.
6. Kepala Desa, inisiator Pojok Literasi Bumil , menyediakan anggaran insentif Pojok Literasi Bumil dan pendamping yang berasal dari Dana APBN Desa Mojong sekaligus mengeluarkan surat keputusan Kader JURUS SANG PENDEKAR..
7. Suami , ibu mertua / keluarga terdekat sebagai motivator dan 20 kader Fe sebagai tokoh perempuan desa yang bertugas di garda paling depan inisiatif ini. Memantau kebiasaan ibu hamil sampai 42 hari masa nifas dan melaporkannya ke bidan desa serta menjadi agen perubahan dimasyarakat.
8. TNI dan Polisi desa yang mengevakuasi ibu hamil anemia yang akan bersalin dari daerah yang jauh dari pusat pelayanan kesehatan.
9. Majlis taklim Desa Mojong dengan jumlah anggota 300 orang. sangat berperan aktif dalam sosialiasi inisiatif
Pelajaran Yang Dipetik
Keberhasilan inisiatif ini berbanding lurus dengan komitmen Bidan Desa dan keberanian untuk melakukan reformasi pelayanan dengan menggabungkan 5 JURUS SANG PENDEKAR, memberikan pendampingan ibu hamil anemia melalui para kader Fe dan keluarga terdekat serta membangun sinergitas dengan melibatkan banyak unsur di masyarakat tenyata hasilnya sangat menggembirakan.Bahkan, sampai mampu menekan angka anemia,komplikasi persalinan dan bayi menjadi ZERO.
Hal ini terasa lebih baik dibandingkan hanya mengandalkan tenaga Bidan Desa dalam proses pendampingan. Ibu adalah yang melahirkan para pemimpin dunia. Karena ibu pula, kita semua ada. Olehnya, ibu jangan mati sia-sia. Nyawa dan keselamatannya harus dijaga dan menjadi tanggung jawab kita bersama.