Ill. DESKRlPSl USAHA PABRIK GULA
Dalam bab ini dikemukakan keragaan usaha pabrik gula untuk mernberikan rnasukan mengenai perspektif biaya produksi di pabrik gula. Sebelum perspektif biaya pabrik gula diuraikan, akan dikemukakan kondisi pabrik gula di Indonesia yang akan digunakan sebagai unit analisis penelitian ini.
Bahasan bab ini terdiri dari : (1) Kondisi pabrik gula, (2) Struktur
biaya, (3) Biaya pokok, dan (4) Analisa laba-rugi.
I Kondisi Pabrik Gula
ldentifikasi pabrik gula secara rind, berdasarkan tahun didirikan, jurnlah hari giling, jam berhenti giling dan kapasitas giling, disajikan pada
Lampiran Tabel I. Jumlah pabrik gula di lndonesia sampai dengan tahun
giling 1997 adalah 70 unit, terdiri dari 57 unit di Jawa dan 13 unit di Luar
Jawa. Spesifikasi secara ringkas pabrik gula di fndonesia, disajikan pada Tabel 7.
Perkembangan produktivitas gula sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1998 terus rnenurun. Rendemen yang pada tahun 1969 sebesar
10.05 persen terus turun dan pada tahun 1998 menjadi 5.24 persen.
Dernikian pula produktivitas tebu yang pada tahun 1969 sebesar 92.3 ton tebu per hektar pada tahun 1998 turun menjadi 69.5 ton tebu per hektar.
Tabel 7. Spesifikasi Ringkas Pabrik Gula di Indonesia : 1990-1997 Deskripsi
1. Kapasitas ailing eksklusif (tidak terhasuk jam berhenti).
2. Kapasitas pabrik gula (ton tebu per hari) :
~ 3 0 0 0
3 000
-
6 000> 6 000
3. Hari giling rata-rata
4. Jam berhenti giling rata-rata per tahun :
4.1. Disebabkan faktor-faktor
di dafam pabrik
Keterangan
1 150 ton
-
9 750 ton tebu per hari45 unit (64 persen) 20 unit (29 persen)
5 unit (7 persen)
131 hari
14.1
-
16.4 jam per I 0 0 jam gilingRata-rata 41 persen dari jam
berhenti giling, mengindikasikan
bahwa pabrik gula sebagian besar di Jawa sudah tua.
Keterangan : Data lebih rinci, lihat Lampiran Tabel 1
4.2. Disebabkan faktor-faktor
di luar pabrik
5. Usia pabrik gula : > 150 tahun 100
-
150 tahun 75-
100 tahun 25-
75 tahun < 25 tahun 6. Proses pabrikasi : 6.1. Proses sulfitasi 6.2. Proses karbonatasimengemukakan bahwa terjadinya penurunan efisiensi industri gula saat ini
Rata-rata 59 persen dari jam
berhenti giling, disebabkan
kekurangan tebu, hari libur atau sebab-sebab lain. 16 unit (23 persen) 22 unit (32 persen) 9 unit ( I 3 persen) 1 1 unit (3 5 persen) 12 unit (1 7 persen) 60 unit (86 persen) 10 unit (1 4 persen)
dibandingkan dengan masa sebelum kemerdekaan disebabkan karena
Sumber: 7 . lkhtisar Angka Perusahaan, Masa Giling 1990-1997. Pusat
Penelitian Perusahaan Gula. 2. Sekretariat Dewan Gula Indonesia.
terjadinya konstelasi kepentingan dari pihakpihak yang terlibat dalam
interests) dari pihak-pihak yang menangani industri gula menyebabkan
menuwnnya efisiensi industri gula di Indonesia. Fenomena ini
menyangkut aspek institusi atau kelembagaan. Dengan pendekatsn Olson, dapat dipahami bahwa penurunan efisiensi industri gula di
Indonesia disebabkan oleh vested
interests
dari pihak-pihak yang terlibatdalam menangani industri gula di Indonesia.
Perkembangan produksi gula, upaya peningkatan produksi dan
beberapa data penting mengenai industri gula di Indonesia periode : 1969-
1 998 disaji kan pad& Lampiran Tabel 2.
3.2. Struktur Biaya
Struktur biaya produksi di pabrik gula dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap adalah over
head cost, yaitu gaji dan tunjangan bagi pimpinan dan karyawan (biaya
manajemen) dan biaya penyusutan. Biaya tidak tetap produksi gula terdiri dari (1) Biaya tanaman tebu, (2) Biaya bahan bakar, (3) Biaya Bahan pembantu, (4) Biaya tenaga kerja, dan (5) Biaya transportasi. Khusus
untuk pabrik gula milik pemerintah (BUMN), selain 5 jenis biaya tidak tetap
tersebut di atas masih terdapat biaya tidak tetap lain, yaitu biaya penggantian tetes milik petani.
3.2.f. Biaya Tanaman
Tebu
Termasuk ke dalam komponen biaya tanaman tebu adalah biaya pengefolaan kebun bibit sejak kebun bibit pokok utama, kebun bibit pokok,
kebun bibit nenek, kebun bibit induk dan kebun bibit datar sampai dengan
biaya pengelolaan tanaman tebu giling terrnasuk biaya tebang.
Komponen biaya tanaman tebu adalah sewa lahan, pengolahan tanah, sarana produksi, biaya tanam, biaya pemeliharaan tanaman, biaya tebang dan biaya angkut tebu sampai di pabrik gula.
3.2.2.
Biaya Bahan BakarTermasuk ke dalam komponen biaya bahan bakar adalah biaya bahan bakar yang diperlukan untuk eksploitasi mesin-mesin pabrik dan mesin-mesin pengolahan gula. Komponen biaya k h a n bakar antara Iain adalah solar dan residu.
3.2.3. Biaya Bahan Pembantu
Komponen biaya bahan pembantu merupakan biaya bahan-bahan proses untuk pengolahan gula, seperti kapur dan belerang.
3.2.4. Biaya Tenaga Kerja
Termasuk dalam biaya tenaga kerja adalah agregasi (penjumlahan)
seluruh tenaga kerja yang kurang terampil (unskilled
labour)
untukkegiatan dalam pabrik rnaupun dalam proses pengolahan gula, tidak termasuk kegiatan di [uar pabrik gula. Sedangkan tenaga kerja terampil
3.2.5. Biaya Transportasi
Biaya transportasi adalah biaya untuk pengangkutan tebu yang siap angkut dari kebun ke pabrik gula. Struktur biaya produksi rata-rata
pabrik gula milik BUMN dan milik swasta tahun 1990 sampai dengan 1997
disajikan pada Tabel 8. Dari Tabel 8 terlihat babwa biaya rata-rata
produksi gula tahun 1992, 1993 &n 1995 pabrik gula swasta, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan milik BUMN. Hal ini disebabkan karena pada
periode tesebut terdapat dua pabrik gula baru milik swasta ( Naga Manis
dan Sweet lndo Lampung ) yang masih dalam kondisi trial run.
3.3. Biaya Pokok
Biaya pokok secara ekspfisit tidak dilakukan, namun baik
perusahaan milik negara (BUMN) rnaupun perusahaan milik swasta,
secara umum menggunakan rnetoda yang sarna, yaitu meralui
penghitungan harga pokok penjuafan. Biaya pokok dan harga pokok penjualan tidak dapat dipisahkan untuk masing-masing output. Harga
pokok penjualan dihitung dengan rumus : (persediaan awal + jumlah biaya
Tabel 8. Struktur Biaya Produksi Rata-rata Pabrik Gula Milik BUMN dan Swasta Tahun 1990
-
1997Catatan : 2 pabrik gula swasta, Naga Manis dan Sweet lndo Lampung, pada petiode 1992, 1993 dan 1995 dalam kondisi trial run (giling percobaan)
KomponenB1aya 1. Blaya tanrman I& (R~lkg) 2. Blap bahan bakar (ribu Npiah I ton tebu) 3. Biaya Bahan pembantu (rih NpiaMOntebu) 4. Biaya lenaga kwja harian (ribu NpiaMon tebu) 5. Biaya Tmqwtasl (rlbu rupiaH ton lnh) 6. Biaya Manajemen (milyarrupiah) 7. Biaya Penyusulan (mllyar~plah) 8. Biaya rala-rata produksi Rp I ka gull) 1990 BUMN 14.45 1.05 1.24 2.85 3.47 2.85 0.98 1058.02 Swast a 9.68 1.04 1.23 1.79 4.29 5.24 5.23 973.52 BUMN 19.49 1.23 1.36 3.66 3.76 2.94 1.07 1 09.47 1991 Swasta 14.18 12.93 1.78 1.74 3.69 9.04 614 1 046.67 BUMN 21.51 1.02 1.11 3.75 3.80 3.67 1.24 1 203.29 1992 Swasta 14.25 1.10 1.16 1.91 2.99 17.51 7.42 1 307.65 BUMN 23.M 1.03 1.10 3.98 3.31 4.11 1..42 t 253.07 1993 Swasta 16.15 1.31 1.31 246 3.50 38.85 3.69 t 286.21 BUMN 29.97 1.05 1.06 3.93 3.38 4.42 1.20 1 208.37 1994 Swasta 20.M 1.32 1.81 2.28 2.00 34.20 12.11 1 lM.72 BUMN 33.76 1.19 1.02 4.51 3.55 4.51 1.29 1321.73 1995 Swasta 20.W 1.23 1.24 2.83 2.89 45.91 14.00 1 412.12 BUMN 37.17 1.26 1.11 5.89 3.54 4.73 1.52 1 474.10 1896 Swasta 31.84 4 6 1.30 2.85 2.43 45.98 18.75 1430.48 BUMN 61.63 1.49 1.51 7,OO 4.71 6.98 105 1 582.84 1997 Swasta 45.37 1.68 1.42 3.33 4.61 62.52 30.13 1 488.50
Kornponen persediaan awal terdiri dari total bahan dabam proses dan bahan jadi. Bahan dalarn proses terdiri dari gula sisan tahun lalu sedangkan bahan jadi adalah tetes. Komponen utama biaya produksi adalah biaya produksi gula dan tetes, penyusutan aktiva tetap. pengemasan dan angkut gula dan biaya penggantian tetes. Komponen persediaan akhir adalah bahan dalam proses yaitu guia sisan dalam tahun giling yang berjalan dan bahan jadi yaitu tetes.
3.4. Analisa L a b - R u g i
Laba atau rugi dihitung dengan cara menentukan selisih pendapatan (penghasilan) dengan jumlah biaya usaha. Pendapatan merupakan total dari penjualan gula, tetes dan provenue mutu gula. Jumlah biaya usaha ditentukan dengan cara menjumlahkan harga pokok penjualan dengan biaya umum dan administrasi. Biaya umum dan administrasi terdiri dari penjumlahan komponen biaya kantor administrasi dan biaya penjualan tetes. Setisih pendapatan dengan jumlah biaya usaha diperoleh laba (rugi) usaha. Beberapa pabrik gula memiliki kegiatan di luar usaha (kegiatan bukan memproduksi gula dan tetes) misalnya rumah sakit. Kegiatan di luar usaha tersebut dihitung laba atau ruginya. Dengan demikian saldo laba (rugi) akhir adalah penjumlahan laba (rugi) usaha dengan laba (rugi) di luar usaha.