Ritual bakar batu yang dilakukan oleh masyarakat Kristen suku Dani di kota Semarang merupakan bentuk menjaga identitas ditengah-tengah lingkungan sosial yang baru sebagai para perantau.Ada begitu banyak hal baru yangdijumpaidalam kehidupa sebagai masyarakat urban. Seperti: kebudayaan yang beraneka ragam dan perkembangan teknologi yang semakin maju. Hal-hal seperti dapat mengakibatkan orang-orang yang jauh dari daerah asal melupakan budaya serta jati diri sebagai masyarakat suku Dani. Dengan demikian dilakukannya ritual bakar batu di kota Semarang merupakan sebuah tindakan yang baik karena di dalam ritual tersebut terkandung nilai-nilai luhur seperti solidaritas, bergotong royong, dan kerukunan. Pelaksanaan ritual bakar batu di kota Semarang mengajarkan kepada masyarakat sekitar agar mengenal kebudayaan dari daerah lain serta bagaimana bersama-sama melestarikan kebudayaan tersebut. Karena budaya merupakan cara hidup manusia dan pada saat yang sama menjadi
freamwork yang menjadi acuhan bagi manusia untuk hidup sebagai makluk sosial. Ritual bakar batu yang dilakukan oleh masyarakat suku Dani yang beragama Kristen di kota Semarang juga merupakan bentuk kecintaan akan budaya yang dimiliki serta menjalankan tradisi yang telah dijalankan oleh leluhur
34
mereka. Tradisi-tradisi yang terdapat dalam masyarakat memiliki nilai-nilai luhur yang tinggi sehingga patut untuk dilestarikan. Pelestarian akan tradisi yang dimiliki bukanlah sebuah kesalahan karena Tuhan Yesus juga menjalankan tradisi-tradisi yang ada dalam kehidupan kelompoknya. Injil yang adalah kabar baik tentang keselamatan di dalam Yesus Kristus tidak lepas dari kaitan budaya Yahudi dimana Yesus lahir dan dibesarkan.Oleh karena itu ada banyak tradisi Israel yang muncul dalam kesaksian injil, seperti peringatan hari Purim, hari raya pondok daun dan aturan-aturan sabat.Ritual-ritual itu tidak bisa di hilangkan dari dalam kehidupan masyarakat.Selama ritul itu memiliki nilai-nilai luhur yang baik dan tidak merugikan kehidupan manusia maka ritual itu masih harus dilestarikan.Ritual bakar batu memiliki nilai-nilai luhur yang baik yang juga terdapat dalam seluruh ajar Kristen seperti kekeluargaan, kebersamaan, kesatuan, gotong royong dan juga berfungsi sebagai alat mediasi.Sehingga perlu diberikan perhatian besar untuk melestarikan ritual tersebut.Kebudayaan bukanlah
“momok” yang menakutkan bagi kekristenan. Tetapi kebudayan dan kekristenan
dapat membangun dialog yang baik untuk mencipatakan sebuah kehidupan yang lebih baik dan juga menjadi kekuatan yang besar dalam mengembangkan iman Kristen kita.
Rekomendasi
Selanjutnya penulis ingin menyampaikan saran bagi pihak-pihak yang terkait, yakni: Pertama untuk Fakultas Teologi UKSW, hasil penelitian yang penulis lakukan ini setidak-tidaknya dapat menjadi salah satu acuan bagi fakultas untuk memberikan perhatian khusus bagi kelestarian budaya yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Sebagai lembaga akademik Kristen, Fakultas Teologi UKSW bisa menjadi tempat di mana teologi kontekstual diajarkan kepada para calon-calon pekerja gereja agar dapat diterapkan dalam kehidupan bergeraja dan berteologi di era postmodern ini.Berteologi kita tidaklah berbunyi monoponik seperti yang di ungkapkan Izak Lattu76 tetapi berteologi kita hendaknya berbunyi poliponik karena realita keberagaman yang menjadi kekuatan tersendiri bagi kita
76 Izak Lattu,
Kekristenan Poliponik:Mendialogkan Teologi dan Budaya Lokal , Jurnal Theologi interdisipliner. Vol. IV.No. 1.Agustus 2009.
35
yang berteologi di konteks Indonesia.Kedua, untuk masyarakat suku Dani sikap menjaga dan melestarikan ritual yang mereka miliki merupakan bentuk tanggung jawab mereka kepada sang pemberi kebudayaan dan kehidupan. Sehingga proses pelestarian budaya yang telah mereka lakukan tidak berhenti tetapi terus menjadi sebuah proses pembelajaran yang baik kepada generasi penerus agar kekayaan- kekayaan dalam kebudayaan yang kita miliki dari masa ke masa tidak hilang di telan ke majuan yang semakin pesat. Ketiga, bagi gereja sebagai lembaga yang menaungi para anggota jemaatnya dapat mempertimbangan segi-segi kebudayaan mengingat berteologi tanpa membudaya seperti sesuatu yang mengawang-awang tetapi hendaknya setiap tindakan yang dilakukan oleh gereja harus kontekstual dengan tidak mengabaikan nilai-nilai luhur dari kebudayaan yang dimiliki oleh jemaat.
36
DAFTAR PUSTAKA
Bell, Catherine. Ritual Theory, Ritual Practice. New York-Oxford: Oxford University Press,1992.
Cornell, Stephen dan douglas Hartmann. Ethicity and Race. Amerika: Pine Forge Press. 1997.
Daniel L Pals, Seven Theories of Reigion. Jogjakarta: IRCiSoD
Dhavamony, Mariasusasi. Fenomena Agama. Yogyakarta: PenerbitKanisius,1995. Dillistone, F. W. Daya Kekuatan Simbol, The Power Of Simbols.
Yogyakarta:Penerbit Kanisius:2002.
Douglas, Mary. Natural Symbols: Explorations In Cosmology. London: Penguin Books, 1973.
Durkheim, Emile. Sejarah Agama. Yogyakarta: Kanisius, IRCiSoD, 2003. Firth, Raymond. Symbols: Public and Private. New York, Ithaca: cornell
University Press, 1973.
Francis M, Deng. War of Visions: Conict Of Identities in the Sudan. Washington DC: Brookings,1995
Herusatoto, Budiono. Simbolisme Jawa. Yogyakarta:Penerbit Ombak, 2008. Hogg, Michael A dan Dominic Abrams, Social Identification. London and New
York: Routledge, 1988
Hans Wakerkwa, Perang Antar Suku. Salatiga: dalam Thesis Program Pascasarjana Magister Sosiologi Agama.
Ismael Roby Silak, Konflik Perang dan Perdamaian Orang Yali di Anggruk.
Makasar: Pustaka Reflekasi, 2011.
Jenkins, Richard. Social Identity. London: Routledge,1996.
Koentjaraningrat., Sejara h Teori Antropologi. Jakarta: UI Press,1990.
Krueger,J. Social categorization, Psychology of,” dalam Neil J. Smeler & Paul B
Baltes (ed), international Encyclopedia of social science and behavior. London: Elsevier Science,2001.
. Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Jakarta: djambatan, 2002.
keseragaman dan Aneka Warna Masyarakat Irian Barat.
37
Mansoben, Jhoszua Robert sistem politik tradisonal di irian Jaya. Jakarta:LIPI, 2005.
Muhni Djuretna Imam. Moral dan Religi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994. Nawawi, Hadari H. Metode Penilitian Bidang Sosial. Yogyakrta: GajaMada
University Press, 1990.
Niebuhr Richard. Kristus dan Kebudayaan. Jakarta: Petra Jaya. 1956.
Robert A. Baron & Don Bayner. Psikologi Social Jilid I. Jakarta: Erlangga, 2003. Rodger Lewis. Karya Kristus di Indonesia (Bandung: Kalam Hidup, 1993), 424. Robert R Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan
Agama Kristen, Jakarta: PT BPK Gunung Mulia
Samiyono, David. Diktat Metode Penelitian Sosial.Salatiga: Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana. 2004.
Socratez, Dumma. Kita Meminum Air dari Sumur Kita Sendiri. Jayapura: Cendrawasih Press. 2010.
Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu pengantar. Jayapura: CV Rajawali. 1990 Supardan, Dadang H. Pengantar Ilmu Sosial: sebuah Kajian Pendekatan
Struktural. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008.
Stests Jan E dan Peter J. Burke, “ Identity Theory and Social Identity”,
Susanto, Hari P.S. Mitos Menurut pengertian Mircea Eliade. Yogyakarta: Kanisius, 1987.
Turner, Victor. The Ritual Process: Structure And Anti-Structure. Ithaca, New York: Cornell Paperbacks,1989.
“Sacrifice as Quintessential Process: Prophylaxis or Abandonment?,” dalam Jeffrey Carter Understanding . . . , 292-294.
The Forest of symbols. Ithaca,1967
Verkuyl.Etika Kristen dan Kebudayaan. Bogor: Percetakan Bogor. 1966 Wirangun, Wartaya Y. W. Masyarakat Bebas Struktur: Liminalitas dan
Komunitas menurut Victor Turner. Yogyakarta:Kanisius,1990. Widiadrto, Tri. Pengantar Antropologi Buday. Salatiga: widiya sari. 2007.
38 Jurnal
Tajfel, Henry. Social categorization, dalam S. Moscovici (ed). Introduction a la pschologic sociale, vol. 1. Paris: Larousse, 1972
Izak Lattu, Kekristenan Poliponik:Mendialogkan Teologi dan Budaya Lokal, dalam jurnal Theologia interdisipliner. Vol IV. No 1, Agustus 2009.
Web http://ensiklonesia.blogdetik.com/2012/05/28/upacara-adat-di-berbagai- macam-daerah-indonesia http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/02/suku-dani-kebudayaan- sistem-kepercayaan-bangsa-kekerabatan.html http://majalahselangkah.com/content/bakar-batu-babi-sakral-bagi-masyarakat- pegunungan-sebuah-perspektif-sosiologi-agama-emile-durkheim.