BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN
Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah : vaksin polivalen dan vaksin polivalen plus sel A. hydrophila efektif dalam mengendalikan penyakit MAS pada lele dumbo. Vaksin ini
dapat meningkatkan produksi titer antibodi, sintasan, dan RPS, namun tidak berpengaruh nyata pada RWK. Cara vaksin suntik intrapertoneal, suntik intramuskular, dan rendaman dapat menjadi alternatif pilihan untuk vaksinasi, karena ketiganya memiliki efektivitas yang sama dalam meningkatkan efikasi vaksin.
B. SARAN
Saran dari penelitian ini adalah perlu dilakukan uji efikasi vaksin polivalen dan vaksin polivalen plus sel A. hydrophila skala lapangan dengan waktu penelitian yang lebih lama, misalkan 2-3 bulan untuk melihat sejauh mana efektivitas vaksin polivalen plus (vitamin C dan beradjuvant) maupun vaksin polivalen (tanpa vitamin C dan adjuvant) dalam penyakit MAS pada lele dumbo. Selanjutnya, penelitian ini disarankan untuk dicobakan pada ikan air tawar lain, seperti gurami, karper, tawes, maupun nila.
DAFTAR PUSTAKA
Alabaster, J.S. & Lloyd, R. 1982. Water Quality Criteria For Freshwater Fish. University Press. Cambridge. Great Britain. 361 p.
Anderson, D.P. 1974. “Fish Immunology”, dalam Diseases of Fishes, buku ke-4, Snieszko, S.F. & Axelrod, H.R. (ed.). T.F.H. Publications, Ltd. 239 p.
Boyd, C.E. 1990. Water Quality in Ponds for Aquaculture. Birmingham Publishing Co. Alabama. 482 p.
Ellis, A.E. 1988. “Optimizing Factors For Fish Vaccination” dalam Fish Vaccination, A.E. Ellis (ed). Academic Press Ltd. London. 32-46 pp.
Esteve-Gassent, M.D., M.E. Nielsen & C. Amaro. 2004. The Kinetics of Antibody Production in Mucus and Serum of European Eel (Anguilla anguilla L) After Vaccination Against Vibrio vulnivicus. Development of a New Method for Antibody Quantification in Skin Mucus. Fish & Shellfish Immunology 15:51-61
Horne, M.T. & Ellis, A.E. 1988. ”Strategies of Vaccination”. dalam Fish Vaccination, A.E. Ellis (ed). Academic Press Ltd. London. 55-56 pp.
Isnansetyo, A. 1996. Penambahan Vitamin C pada Pakan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) untuk Meningkatkan Tanggap Kebal Terhadap Vaksin Aeromonas hydrophila. Jurnal
Perikanan UGM (GMU J. Fish. Sci) . I(1) : 35-41.
Johny, F. & D. Roza. 2007. Peningkatan Imunitas Benih Ikan Kerapu Lumpur Epinephelus coioides Terhadap Infeksi Virus Irido dengan Aplikasi Vitamin C dan Imunostimulan. Panduan Semnaskan UGM, Perikanan dan Kelautan UGM. 228 hal.
Lamers, C. H. I. & W. B. Van Muiswinkel. 1985. Natural Aquidred to Aeromonas hydrophila in Carp (Cyprinus carpio). Canadian J. Fish Aquatic Science, 619-624.
Lund, V., J.A. Arnesen & G. Eggset. 2002. Vaccine Development for Atypical Furunculosis in Spotted Wolffish Anarchicas minor O.: Comparison of Efficacy of Vaccine Containing Different Strains of Atypical Aeromonas salmonicida. Aquaculture 204:33-44.
Kamiso, H. N. 1990. Vaksinasi Penyakit Bakterial pada Ikan. PAU Bioteknologi UGM. Yogyakarta.
Kamiso, H.N. & Triyanto. 1990. Sistem Pertahanan dan Diagnosis Serologi Penyakit Ikan. Pelatihan Karantina Ikan Ciawi-Bogor. 21 Mei-4 Agustus 1990. 29 hal.
Kamiso, H.N., Triyanto, & S. Hartati. 1992. Penanggulangan Penyakit Motil Aeromonas
Septisemia (MAS) pada Ikan Lele (Clarias sp.). ARM Project Tahun ke-1. Balitbang Pertanian, Deptan. Jakarta. 38 hal.
Kamiso, K.H., A. Isnansetyo, Murwantoko & B.S. Priyono. 1998. Pembuatan Antigen Murni
Untuk Memproduksi Polivalen Antibodi dan Vaksin Aeromonas hydrophila. Laporan Penelitian Hibah Bersaing V/2 Perguruan Tinggi UGM. 37 hal.
Kamiso, K.H., A. Isnansetyo, Triyanto, M. Murdjani & L. Sholichah. 2005. ”Efektivitas Vaksin Polivalen untuk Pengendalian Vibriosis pada Kerapu Tikus.” Jurnal Perikanan UGM
(GMU J. Fish. Sci) . VII(2) : 95-100.
Mulia, D.S. 2003. “Pengaruh Vaksin Debris Sel Aeromonas hydrophila Dengan Kombinasi Cara Vaksinasi dan Booster Terhadap Respons Imun dan Tingkat Perlindungan Relatif Pada Lele Dumbo (Clarias gariepinus Burchell).” Tesis. PPs. UGM. Yogyakarta. 125 hal. Tidak dipublikasi.
Mulia, D.S., R. Pratiwi, dan Triyanto. 2004. “Efikasi vaksin debris sel Aeromonas hydrophila secara suntik dengan variasi cara booster pada lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell).” Berkala Ilmiah Biologi. 3 (3): 145-156.
Mulia, D.S. 2007. “Keefektivan Vaksin Aeromonas hydrophila untuk Mengendalikan Penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia) pada Gurami (Osphronemus gouramy Lac.).” Jurnal Pembangunan Pedesaan. 7(1) : 43-52.
Mulia, D.S. & C. Purbomartono. 2007. “Perbandingan Efikasi Vaksin Produk Intra dan Ekstraseluler Aeromonas hydrophila untuk Menanggulangi Penyakit Motile Aeromonas
Septicemia (MAS) pada Lele Dumbo (Clarias sp.).” Jurnal Perikanan UGM (GMU J.
Fish. Sci) . IX(2) : 173-181.
Murtiningsih. 2003. Penggunaan Vaksin Protein Sitoplasma Bakteri Aeromonas hydrophila Pada Lele Dumbo (Clarias gariepinus). Skripsi. Fakultas Pertanian Jurusan Perikanan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Tidak Dipublikasi.
Olga & S. Aisiah. 2007. ”Vaksin Protein Produk Ekstraseluler Aeromonas hydrophila untuk Meningkatkan Tanggap Kebal Patin (Pangasius hypophthalmus) Terhadap Motile
Aeromonas Septicemia (Mas).” Sains Akuatik. 10(2) : 105-110.
Palm, R.C. JR, M. L.Landolt & R.A. Busch. 1998. Route of Vaccine Administration: Effect on the Specific Humoral Response in Rainbow Trut Oncorhyncus mykiss. Disease of Aquatic Organisms 33 : 157-166.
Retmonojati, K. 2007. “Penyimpanan dan Penggunaan Adjuvant pada Vaksin Polivalen
Vibrio.” Skripsi. Fakultas Pertanian Jurusan Perikanan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Tidak Dipublikasi.
Santoso, B. 1994. Petunjuk Praktis Budidaya Lele Dumbo dan Lele Lokal. Kanisius. Yogyakarta. 78 hal.
Steel, R.G.D. & Torrie, J.H. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistik (terjemahan Principles and
Procedures of Statistics oleh B. Sumantri). Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Subowo. 1993. Imunobiologi. Penerbit Angkasa. Bandung. 233 hal.
Suryantinah, R.K. Rini, dan Olga. 2005. ”Optimasi dosis vaksin debris sel Aeromonas
hydrophila terhadap pengendalian penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia) pada ikan nila (Oreochromis niloticus).” Prosiding Seminar Nasional Tahunan Hasil
Penelitian Perikanan dan Kelautan. Yogyakarta. P. 108-114.
Triyanto, Kamiso H.N. & Isnansetyo A. 1996. “Pengaruh Vaksinasi Induk Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Terhadap Kelulushidupan, Pertumbuhan Benih dan Produksi Ikan”. Jurnal Perikanan UGM (GMU J. Fish. Sci) . I(1) : 42-48.
Triyanto, Kamiso H.N., Isnansetyo A. & Murwantoko. 1997. Pembuatan Antigen Murni untuk
Memproduksi Polivalen Antibodi dan Vaksin Aeromonas hydrophila. Laporan Penelitian Hibah Bersaing V/1 Perguruan Tinggi Tahun Anggaran 1996/1997. Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta. 37 hal.
Zonneveld, E.A. Huisman & J.H. Boon. 1991. Prinsip-prinsip Budidaya Ikan. Gramedia. Jakarta.
C. SINOPSIS PENELITIAN LANJUTAN
Penelitian ini akan dilanjutkan dengan penelitian tahun ke-3. Penelitian tahun ke-3 akan menitikberatkan pada pembuatan vaksin polivalen dan vaksin polivalen plus A. hydrophila yang akan diuji efikasinya pada lele dumbo skala lapangan. Adapun rincian kegiatan yang akan dilakukan sebagai berikut:
a. membuat vaksin polivalen dan vaksin polivalen plus A. hydrophila dengan penambahan vitamin C dan adjuvant
b. mengetahui efikasi vaksin tersebut dalam mengendalikan penyakit MAS pada lele dumbo skala lapangan.
Setelah penelitian ini selesai dan diperoleh vaksin polivalen plus A. hydrophila yang imunogenik dan protektif, maka penelitian selanjutnya akan diarahkan pada pengembangan dan aplikasi vaksin yang lebih luas. Vaksin tersebut dapat digunakan oleh petani lele dumbo dan juga dimungkinkan diajukan untuk mendapatkan hak paten. Rencana penelitian selanjutnya adalah mencobakan vaksin polivalen plus pada ikan air tawar lainnya, seperti gurami, tawes, nila atau bawal, untuk mengetahui kemungkinan aplikasinya yang lebih luas. Selain itu, pengembangan vaksin ini bisa diarahkan pada pengemasan vaksin dengan nano atau mikro kapsul sehingga dapat diberikan secara oral. Aplikasi yang lain, penambahan vaksin polivalen pada pakan yang dibuat sendiri dengan formulasi yang sesuai untuk ikan air tawar, akan tetapi dengan memanfaatkan limbah atau bahan tidak bernilai sebagai campuran bahan baku pakan/pelet ikan, namun masih mempunyai nilai nutrisi yang tinggi. Dengan demikian, pakan buatan bisa lebih murah, memiliki nutrisi tinggi, dan penggunaannya tidak hanya terbatas sebagai sumber energi utama bagi kultivan, namun sekaligus diarahkan sebagai media perantara dalam mencegah terjadinya serangan penyakit bagi kultivan (medicated feed).
Pendanaan penelitian akan diarahkan melalui Ristek, Hibah Kompetensi, atau sumber lain.