• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian pada pelaksanaan tindakan terhadap proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Team Games Tournament

maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Pada saat diberikan pretest diperoleh tingkat ketuntasan sebanyak 8 orang (20 %) sedangkan sebanyak 28 orang

Linda Septi Yanti Sianipar Model Pembelajaran TEAM Games……. ISSN: 2356-2595 Volume-2, Edisi-2, September 2015

mahasiswa (80 %) mendapat nilai belum tuntas

2. Setelah melaksanakan siklus I dengan menerapakan model pembelajaran

Team Games Tournament (TGT) diperoleh

tingkat ketuntasan hasil belajar sebanyak 20 orang (55,56 %) sedangkan sebanyak 16 orang mahasiswa (44,44%) mendapat nilai belum tuntas.

3. Setelah melaksanakan siklus II dengan menerapkan model pembelajaran

Team Games Tournament (TGT) diperoleh

tingkat ketuntasan hasil belajar sebanyak 33 orang mahasiswa (91,7%) sedangkan sebanyak 3 orang mahasiswa (86,11%) yang mendapat nilai belum tuntas.

4. Berdasarkan hasil observasi pada siklus I ditemukan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan Team

Games Tournament (TGT) tergolong sudah

cukup baik tetapi belum maksimal sedangkan pada siklus II kegiatan belajar mengajar meningkat sangat baik

5. Dengan demikian maka dapat hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa Model Pembelajaran Team Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan

hasil belajar mahasiswa dapat di terima.

Saran

Dari kesimpulan penelitian ini, maka peneliti mengajukan saran sebagai berikut :

1. Model pembelajaran Team Games

Tournament (TGT) ini sekiranya dapat

dijadikan alternatif bagi tenaga pengajar untuk menerapakannya pada matakuliah Strategi Pembelajaran Akuntansi untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa.

2. Kepada pengajar yang ingin menerapkan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) sebaiknya melibatkan mahasiswa secara langsung dalam proses belajar mengajar agar mereka dapat merasakan langsung manfaat yang dapat diambil dari kegiatan belajarnya.

3. Adanya kebiasaan tenaga pengajar yang kurang harmonis kepada mahasiswa dan kurangnya keterlibatan pengajar dalam mengubah prilaku belajar yang kurang demokratis, hal ini sangat diharapkan sekali kepada pengajar untuk dapat menguasai dan merubah perilaku yang kurang harmonis antara pengajar dan mahasiswa.

4. Bagi peneliti lain yang melakukan penelitian tindakan, sebaiknya melakukan penelitian secara tuntas dengan cara mengkombinasikan berbagai model

Linda Septi Yanti Sianipar Model Pembelajaran TEAM Games……. ISSN: 2356-2595 Volume-2, Edisi-2, September 2015

pengajaran dengan memperhatikan materi ajar yang diajarkan

DAFTAR PUSTAKA

Agus, Suprijono, 2008. Cooperatve

Learning. Surabaya :Pustaka Belajar

Arikunto, 2008. Penelitian Tindakan

Kelas. Jakarta : Bumi Aksara

Daulay, Anwar Saleh. 2007.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Bandung:

Citapustaka Media.

Dimyati, Mudijono, 2009. Belajar Dan

Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik. 2008. Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Istarani, 2011. Model Pembelajaran Inovatif . Medan: ISCOM Medan.

Isjoni, 2009. Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Kunandar, 2009. Guru Profesional Implementasi KTSP Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. Jakarta : Rajawali Pers.

Lie, Anita, 2008. Cooperative Learning :

Memperaktikkan di ruang-ruang kelas.

Jakarta : Grasindo.

Sanjaya,Wina, 2008. Strategi

Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana.

Salim, Syahrum, 2009. Metodelogi

Penelitian Kuantitatif. Bandung :

Citapustaka Media.

Slameto, 2010. Belajar Dan

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta :

Renika Cipta.

. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Slavin, E Robert, 2010. Cooperative

Learning : Teori, Riset, Dan Praktik.

Bandung : Nusa Media,

Sudijono,Anas, 2009. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Raja

Grafindo Persada.

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil

Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT.

Remaja Rosdakarya.

Trianto, 2011. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta : Bumi Aksara.

Hamdani,2011.Strategi Belajar Mengajar.Bandung : CV. Pustaka Setia.

Parlindungan Sitorus JURNAL Suluh Pendidikan FKIP-UHN

ISSN: 2356-2595 Volume-2, Edisi-2, September 2015

Halaman 155-169

MODEL PEMBELAJARAN ARIAS DENGAN BERBASIS KONSEP DASAR FISIKA DALAM MATA KULIAH LISTRIK DAN MAGNET DI FKIP UNIVERSITAS HKBP

NOMMENSEN MEDAN TAHUN AJARAN 2014/ 2015 Parlindungan Sitorus

Jurusan Pendidikan Fisika FKIP Universitas HKBP Nommensen

Email:[email protected]

Abstrak

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah model pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction ) dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa program studi pendidikan fisika Universitas HKBP Nommensen Medan, pada mata kuliah Listrik dan Magnet dengan menggambil topik kapasitor dan rangkaiannya. Dari hasil perhitungan analisis regresi diperoleh persamaan regresinya: ŷ = 6,52 + 0,85X. Pada persamaan tersebut koefisien arah regresi atau b = 0,85 bertanda positif yang artinya kedua variabel mempunyai hubungan linear yang positif, perhitungan uji kelinearan regresi diperoleh Fhitung < Ftabel atau 0,398 < 2,45 . Pada uji keberartian regresi diperoleh Fhitung > Ftabel atau 280,37 > 4,20. Berdasarkan hasil pengujian koefisien korelasi didapat r = 0,95 maka dapat disimpulkan bahwa kedua variabel termasuk dalam kategori hubungan yang sangat kuat.. Pada uji keberartian koefisien korelasi diperoleh thitung > ttabel atau 16,11 > 2,048 makaperhitungan koefisien determinasi diperoleh r2 = 91,15% yang artinya kemampuan mahasiswa terhadap pemecahan masalah dalam persoalan fisika dipengaruhi oleh model pembelajaran ARIAS berbasis konsep dasar sebesar 91,15% sedangkan sisanya 8,85% dipengaruhi oleh faktor lain. Perhitungan peningkatan hasil belajar mahasiswa prodi pendidikan fisika mengalami peningkatan, sebesar rata-rata sebesar 27,7 %

Kata Kunci: Model Pembelajaran ARIAS, KonsepDasar ,Hasil Belajar

PENDAHULUAN

Pendidikan bagi sebagian besar orang berarti membimbing anak sehingga menjadi dewasa atau juga membuat orang yang tidak tau menjadi tau. Hampir semua manusia bisa menulis dan membaca karena belajar disekolah atau ada yang memberitahu. Pendidikan juga merupakan jalan yang dapat menuntun manusia dalam arah,tujuan terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pendidikan juga merupakan tolak ukur dan faktor pendorong kemajuan suatu bangsa. Setiap negara maju memberikan sikap dan kebijakan yang hampir sama dalam menyikapi hal ini dan menempatkan pendidikan dalam skala prioritas yang tinggi dalam pembangunan. Dalam hal ini , pendidikan ditempatkan sebagai wadah untuk menciptakan bangsa yang memiliki sumber daya manusia yang tinggi. Oleh karena itu pendidikan dan

Parlindungan Sitorus Model Pembelajaran Arias……. ISSN: 2356-2595 Volume-2, Edisi-2, September 2015

lembaga pendidikan ditangani oleh orang – orang yang benar profesional dan kompeten. Selain itu , banyak kebijakan yang dibuat untuk menunjang tercapainya keberlangsungan proses itu baik terhadap pendidik, lembaga pendidikan, peserta didik, masyarakat dan aspek lain yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Dengan demikian pendidikan ditempatkan sebagai salah satu sistem dimana setiap bagian terkait satu sama lain dan memiliki perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, kontrol, evaluasi dan juga tujuan yang akan dicapai. Model pembelajaran sudah banyak yang dikembangkan oleh ahli pendidikan, misalnya model kooperatif, mind map dan lain sebagainya, model ini berfungsi untuk mempermudah siswa memahami materi . Model pembelajaran merupakan cara yang digunakan guru/dosen dalam proses pembelajaran agar tercapainya tujuan pembelajaran. Suatu kegiatan pembelajaran di kelas disebut model pembelajaran jika :1) Kajian Ilmiah dari penentu atau ahlinya. 2) Adanya tujuan. 3) Adanya tingkah laku yang spesifik. 4)Adanya kondisi spesifik yang diperlukan agar tindakan atau kegiatan pembelajaran tersebut dapat berlangsung.

Menurut Uno dalam Hamzah (2011:6) menyatakan bahwa pemilihan

strategi pembelajaran yang tepat sangatlah penting. Artinya dibutuhkan kreativitas dan keterampilan guru/dosen dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran, yaitu yang disusun berdasarkan karateristik peserta didik dan sesuai kondisi yang diharapkan.

Model pembelajaran ARIAS dikembangkan sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan oleh guru/dosen sebagai dasar melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Model pembelajaran ARIAS berisi lima komponen yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran yaitu Assurance, Relevance,

Interest, Assessment, dan Satisfaction yang

dikembangkan berdasarkan teori-teori belajar. Model ini sudah dicobakan di dua sekolah yang berbeda yaitu salah satu SD negeri di Kota Palembang (percobaan pertama) dan satu SD negeri di Sekayu, Kabupaten Musi Banyu Asin (percobaan kedua). Hasil percobaan di lapangan menunjukkan bahwa model pembelajaran ARIAS memberi pengaruh yang positif terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil percobaan tersebut model pembelajaran ARIAS dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar melaksanakan kegiatan pembelajaran

Parlindungan Sitorus Model Pembelajaran Arias……. ISSN: 2356-2595 Volume-2, Edisi-2, September 2015

dalam usaha meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa.

Hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor dari dalam (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Menurut Suryabrata (1982: 27) yang termasuk faktor internal adalah faktor fisiologis dan psikologis (misalnya kecerdasan motivasi berprestasi dan kemampuan kognitif), sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah faktor lingkungan dan instrumental (misalnya guru, kurikulum, dan model pembelajaran). Bloom (1982: 11) mengemukakan tiga faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu kemampuan kognitif, motivasi berprestasi dan kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran adalah kualitas kegiatan pembelajaran yang dilakukan dan ini menyangkut model pembelajaran yang digunakan.

Sering ditemukan di lapangan bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Hal itu terjadi karena kegiatan tersebut tidak didasarkan pada model pembelajaran tertentu sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa rendah. Timbul pertanyaan apakah mungkin dikembangkan suatu model pembelajaran yang sederhana, sistematik, bermakna dan

dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik sehingga dapat membantu meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar. Berkenaan dengan hal itu, maka dengan memperhatikan berbagai konsep dan teori belajar dikembangkanlah suatu model pembelajaran yang disebut dengan model pembelajaran ARIAS. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh model pembelajaran ARIAS terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa, telah dicobakan pada sejumlah siswa di dua sekolah yang berbeda. Hasil percobaan di lapangan menunjukkan bahwa model pembelajaran ARIAS memberi pengaruh yang positif terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, model pembelajaran ARIAS ini dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, dan sebagai suatu alternatif dalam usaha meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa. Tujuan percobaan lapangan ini untuk mengetahui apakah ada pengaruh model pembelajaran ARIAS terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar.

Adapun yang menjadi batasan masalah dalam penelitian ini adalah penelitian ini hanya akan membahas

Parlindungan Sitorus Model Pembelajaran Arias……. ISSN: 2356-2595 Volume-2, Edisi-2, September 2015

penerapan model pembelajaran ARIAS dengan berbasis konsep dasar fisika dalam mata kuliah listrik dan magnet di FKIP Universitas HKBP Nommensen Medan Tahun Ajaran 2014/ 2015. Perlakuan akan dilakukan sekaligus pada kelas yang sama, waktu yang berbeda dan materi pokok bahasan yang berbeda, mengingat jumlah kelasnya hanya satu. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana peningkatan kemampuan pemahaman konsep dasar fisika mahasiswa yang akan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan dalam listrik dan magnet? 2) Bagaimana hasil belajar mahasiswa yang diajarkan dengan menggunakan model ARIAS berbasis konsep dasar fisika ? Tujuan dari Penelitian ini adalah 1) Mengetahui adanya peningkatan pemahaman konsep dasar fisika bagi mahasiswa program studi pendidikan fisika. 2) Mengetahui hasil belajar mahasiswa yang diajarkan dengan menggunakan model ARIAS berbasis konsep dasar fisika dalam mata kuliah listrik dan magnet.

Kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku merupakan proses belajar, sedangkan perubahan tingkah laku itu merupakan hasil belajar (Hudojo, 1988). Artinya perubahan setelah belajar

itu dapat dilihat dari prestasi belajar yang dihasilkan oleh mahasiswa, dalam menjawab pertanyaan atau persoalan yang ada serta menyelesaikan tugas yang diberikan guru /dosen. Belajar fisika adalah suatu proses psikologis berupa kegiatan aktif dalam upaya seseorang untuk mengonstruksi, memahami atau menguasai dan menggambarkan serta menggunakan konsep dasar fisika agar tercapai tujuan belajar. Artinya konsep-konsep yang ada dalam ilmu pengetahuan tidak boleh dipindahkan langsung dari guru ke mahasiswa sebab di dalamnya mengandung proses abstraksi, dimana mahasiswa harus dilibatkan dalam proses penemuan konsep.

Mahasiswa dituntut memahami konsep paling dasar dalam fisika, mengaplikasikannya, mencari hubungan-hubungan membentuk konsep. Pembelajaran a akan lebih efektif bila dosen dapat menerapkan model mengajar, pendekatan mengajar, dan media mengajar itu mengikut sertakan mahasiswa secara aktif dalam menemukan pengetahuan sehingga pengetahuan yang di peroleh itu menjadi bermakna.

Model pembelajaran ARIAS merupakan modifikasi dari model ARCS. Model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction), dikembangkan

Parlindungan Sitorus Model Pembelajaran Arias……. ISSN: 2356-2595 Volume-2, Edisi-2, September 2015

oleh Keller dan Kopp, sebagai jawaban pertanyaan bagaimana merancang pembelajaran yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi dan hasil belajar. Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan teori nilai harapan (expectancy

value theory) yang mengandung dua komponen yaitu nilai (value) dari tujuan yang akan dicapai dan harapan (expectancy) agar berhasil mencapai tujuan itu. Dari dua komponen tersebut oleh Keller dikembangkan menjadi empat komponen. Keempat komponen model pembelajaran itu adalah attention, relevance, confidence dan satisfaction

dengan akronim ARCS (Keller dan Kopp, 1987: 289-319).

Model pembelajaran ini menarik karena dikembangkan atas dasar teori-teori belajar dan pengalaman nyata para instruktur (Bohlin, 1987: 11-14). Namun demikian, pada model pembelajaran ini tidak ada evaluasi (assessment), padahal evaluasi merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran. Evaluasi yang dilaksanakan tidak hanya pada akhir kegiatan pembelajaran tetapi perlu dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung. Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang dicapai atau hasil belajar yang diperoleh

siswa . Evaluasi yang dilaksanakan selama proses pembelajaran menurut Saunders ,seperti yang dikutip Beard dan Senior dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Mengingat pentingnya evaluasi, maka model pembelajaran ini dimodifikasi dengan menambahkan komponen evaluasi pada model pembelajaran tersebut.

Dengan modifikasi tersebut, model pembelajaran yang digunakan mengandung lima komponen yaitu: attention (minat/perhatian); relevance (relevansi); confidence (percaya/yakin); satisfaction (kepuasan/bangga), dan assessment (evaluasi). Modifikasi juga dilakukan dengan penggantian nama confidence menjadi assurance, dan attention menjadi interest. Penggantian nama confidence (percaya diri) menjadi assurance, karena kata assurance sinonim dengan kata self-confidence (Morris, 1981: 80). Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa siswa akan mampu dan berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri siswa bahwa mereka merasa mampu dan dapat berhasil. Demikian juga penggantian kata attention menjadi interest, karena pada kata interest (minat) sudah terkandung pengertian attention (perhatian). Dengan kata interest tidak hanya sekedar menarik minat/perhatian siswa pada awal kegiatan

Parlindungan Sitorus Model Pembelajaran Arias……. ISSN: 2356-2595 Volume-2, Edisi-2, September 2015

melainkan tetap memelihara minat/perhatian tersebut selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk memperoleh akronim yang lebih baik dan lebih bermakna maka urutannya pun dimodifikasi menjadi assurance, relevance, interest, assessment dan satisfaction. Makna dari modifikasi ini adalah usaha pertama dalam kegiatan pembelajaran untuk menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa. Kegiatan pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat/perhatian siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga pada siswa dengan memberikan penguatan (reinforcement). Dengan mengambil huruf awal dari masing-masing komponen menghasilkan kata ARIAS sebagai akronim. Oleh karena itu, model pembelajaran yang sudah dimodifikasi ini disebut model pembelajaran ARIAS.

Seperti yang telah dikemukakan model pembelajaran ARIAS terdiri dari lima komponen (assurance, relevance, interest, assessment, dan satisfaction) yang disusun berdasarkan teori belajar. Kelima komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Deskripsi singkat masing-masing komponen dan beberapa contoh yang dapat dilakukan untuk

membangkitkan dan meningkatkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.

Komponen pertama model pembelajaran ARIAS adalah assurance (percaya diri), yaitu berhubungan dengan sikap percaya, yakin akan berhasil atau yang berhubungan dengan harapan untuk berhasil (Keller, 1987: 2-9). Menurut Bandura seperti dikutip oleh Gagne dan Driscoll (1988: 70) seseorang yang memiliki sikap percaya diri tinggi cenderung akan berhasil bagaimana pun kemampuan yang ia miliki. Sikap di mana seseorang merasa yakin, percaya dapat berhasil mencapai sesuatu akan mempengaruhi mereka bertingkah laku untuk mencapai keberhasilan tersebut. Sikap ini mempengaruhi kinerja aktual seseorang, sehingga perbedaan dalam sikap ini menimbulkan perbedaan dalam kinerja. Sikap percaya, yakin atau harapan akan berhasil mendorong individu bertingkah laku untuk mencapai suatu keberhasilan (Petri, 1986: 218). Siswa yang memiliki sikap percaya diri memiliki penilaian positif tentang dirinya cenderung menampilkan prestasi yang baik secara terus menerus (Prayitno, 1989: 42). Sikap percaya diri, yakin akan berhasil ini perlu ditanamkan kepada siswa untuk mendorong mereka agar berusaha dengan

Parlindungan Sitorus Model Pembelajaran Arias……. ISSN: 2356-2595 Volume-2, Edisi-2, September 2015

maksimal guna mencapai keberhasilan yang optimal. Dengan sikap yakin, penuh percaya diri dan merasa mampu dapat melakukan sesuatu dengan berhasil, siswa terdorong untuk melakukan sesuatu kegiatan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mencapai hasil yang lebih baik dari sebelumnya atau dapat melebihi orang lain. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap percaya diri adalah:

 Membantu siswa menyadari kekuatan dan kelemahan diri serta menanamkan pada siswa gambaran diri positif terhadap diri sendiri. Menghadirkan seseorang yang terkenal dalam suatu bidang sebagai pembicara, memperlihatkan video atau potret seseorang yang telah berhasil (sebagai model), misalnya merupakan salah satu cara menanamkan gambaran positif terhadap diri sendiri dan kepada siswa. Menurut Martin dan Briggs (1986: 427433) penggunaan model seseorang yang berhasil dapat mengubah sikap dan tingkah laku individu mendapat dukungan luas dari para ahli. Menggunakan seseorang sebagai model untuk menanamkan sikap percaya diri

menurut Bandura seperti dikutip Gagne dan Briggs (1979: 8) sudah dilakukan secara luas di sekolah-sekolah.

 Menggunakan suatu patokan, standar yang memungkinkan siswa dapat mencapai keberhasilan (misalnya dengan mengatakan bahwa kamu tentu dapat menjawab pertanyaan di bawah ini tanpa melihat buku).  Memberi tugas yang sukar tetapi

cukup realistis untuk diselesaikan/sesuai dengan kemampuan siswa (misalnya memberi tugas kepada siswa dimulai dari yang mudah berangsur sampai ke tugas yang sukar). Menyajikan materi secara bertahap sesuai dengan urutan dan tingkat kesukarannya menurut Keller dan Dodge seperti dikutip Reigeluth dan Curtis dalam Gagne (1987: 175202) merupakan salah satu usaha menanamkan rasa percaya diri pada siswa.

 Memberi kesempatan kepada siswa secara bertahap mandiri dalam belajar dan melatih suatu keterampilan.

Parlindungan Sitorus Model Pembelajaran Arias……. ISSN: 2356-2595 Volume-2, Edisi-2, September 2015

Komponen kedua model pembelajaran ARIAS, relevance, yaitu berhubungan dengan kehidupan siswa baik berupa pengalaman sekarang atau yang telah dimiliki maupun yang berhubungan dengan kebutuhan karir sekarang atau yang akan datang (Keller, 1987: 29). Siswa merasa kegiatan pembelajaran yang mereka ikuti memiliki nilai, bermanfaat dan berguna bagi kehidupan mereka. Siswa akan terdorong mempelajari sesuatu kalau apa yang akan dipelajari ada relevansinya dengan kehidupan mereka, dan memiliki tujuan yang jelas. Sesuatu yang memiliki arah tujuan, dan sasaran yang jelas serta ada manfaat dan relevan dengan kehidupan akan mendorong individu untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan tujuan yang jelas mereka akan mengetahui kemampuan apa yang akan dimiliki dan pengalaman apa yang akan didapat. Mereka juga akan mengetahui kesenjangan antara kemampuan yang telah dimiliki dengan kemampuan baru itu sehingga kesenjangan tadi dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali (Gagne dan Driscoll, 1988: 140).

Dalam kegiatan pembelajaran, para guru perlu memperhatikan unsur relevansi ini. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan relevansi dalam pembelajaran adalah:

1) Mengemukakan tujuan sasaran yang akan dicapai. Tujuan yang jelas akan memberikan harapan yang jelas (konkrit) pada siswa dan mendorong mereka untuk mencapai tujuan tersebut . Hal ini akan mempengaruhi hasil belajar mereka.

2) Mengemukakan manfaat pelajaran bagi kehidupan siswa baik untuk masa sekarang dan/atau untuk berbagai aktivitas di masa mendatang.

3) Menggunakan bahasa yang jelas atau contoh-contoh yang ada hubungannya dengan pengalaman nyata atau nilai-nilai yang dimiliki siswa. Bahasa yang jelas yaitu bahasa yang dimengerti oleh siswa. Pengalaman nyata atau pengalaman yang langsung dialami siswa dapat menjembataninya ke hal-hal baru. Pengalaman selain memberi keasyikan bagi siswa, juga diperlukan secara esensial sebagai jembatan mengarah kepada titik tolak yang sama dalam melibatkan siswa secara mental, emosional, sosial dan fisik, sekaligus merupakan usaha

Parlindungan Sitorus Model Pembelajaran Arias……. ISSN: 2356-2595 Volume-2, Edisi-2, September 2015

melihat lingkup permasalahan yang sedang dibicarakan (Semiawan, 1991).

4) Menggunakan berbagai alternatif strategi dan media pembelajaran yang cocok untuk pencapaian tujuan. Dengan demikian dimungkinkan menggunakan bermacam-macam strategi dan/atau media pembelajaran pada setiap kegiatan pembelajaran.

Komponen ketiga model pembelajaran ARIAS, interest, adalah yang berhubungan dengan minat/perhatian siswa. Menurut Woodruff seperti dikutip oleh Callahan (1966: 23) bahwa sesungguhnya belajar tidak terjadi tanpa ada minat/perhatian. Keller seperti dikutip Reigeluth (1987: 383430) menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran minat/perhatian tidak hanya harus dibangkitkan melainkan juga harus dipelihara selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan berbagai bentuk dan memfokuskan pada minat/perhatian dalam kegiatan pembelajaran. Herndon (1987:11-14) menunjukkan bahwa adanya minat/perhatian siswa terhadap tugas yang diberikan dapat mendorong siswa melanjutkan tugasnya. Siswa akan kembali

mengerjakan sesuatu yang menarik sesuai dengan minat/perhatian mereka. Membangkitkan dan memelihara minat/perhatian merupakan usaha menumbuhkan keingintahuan siswa yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Minat/perhatian merupakan alat yang sangat berguna dalam usaha mempengaruhi hasil belajar siswa. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk membangkitkan dan menjaga minat/perhatian siswa antara lain adalah:

 Menggunakan cerita, analogi, sesuatu yang baru, menampilkan sesuatu yang lain/aneh yang berbeda dari biasa dalam pembelajaran.

 Memberi kesempatan kepada