A. kesimpulan
1. Logam berat adalah unsur logam yang mempunyai massa jenis lebih besar
dari 5 g/cm3, antara lain Cd, Hg, Pb, Zn, dan Ni. Logam berat Cd, Hg, dan Pb dinamakan sebagai logam non esensial dan pada tingkat tertentu menjadi logam beracun bagi makhluk hidup (Subowo dkk, 1999). Menurut Darmono (1995), faktor yang menyebabkan logam berat termasuk dalam kelompok zat pencemar adalah karena adanya sifat-sifat logam berat yang tidak dapat terurai (non degradable) dan mudah diabsorbsi. Organisme pertama yang terpengaruh akibat penambahan polutan logam berat ke tanah atau habitat lainnya adalah organisme dan tanaman yang tumbuh ditanah atau habitat tersebut. Dalam ekosistem alam terdapat interaksi antar organisme baik interaksi positif maupun negatif yang menggambarkan bentuk transfer energi antar populasi dalam komunitas tersebut. Dengan demikian pengaruh logam berat tersebut pada akhirnya akan sampai pada hierarki rantai makanan tertinggi yaitu manusia.
2. Sumber kadmium terutama dari biji seng, timbal-seng, dan timbal- tembaga-seng. Kandungan logam Cd bersumber dari makanan dan lingkungan perairan yang sudah terkontaminasi oleh logam berat. Kontaminasi makanan dan lingkungan perairan tidak terlepas dari aktivitas manusia didarat maupun pada perairan. Sifat logam Cd yang akumulatif pada suatu jaringan organisme serta sulit terurai. Kadmium dalam air juga
berasal dari pembuangan industri dan limbah pertambangan. Logam ini sering digunakan sebagai pigmen pada keramik, dalam penyepuhan listrik, pada pembuatan alloy, dan baterai alkali. Hasil penelitian Siaka menjelaskan tingginya kandungan Pb di perairan PPN Prigi dapat berasal dari limbah industry di kawasan pelabuhan serta limbah padat dan cair domestik yang terbawa aliran sungai yang bermuara di sekitar pelabuhan. Sedangkan kegiatan di laut (marina) salah satunya adalah buangan sisa bahan bakar kapal motor, cat kapal dan wisata bahari. Kapal motor penangkap ikan juga menggunakan cat anti korosi yang pada umumnya mengandung Pb (Siaka, 2008).
3. kandungan logam berat yang berlebihan akan berdampak buruk bagi kondisi perikanan disana. Selain perairan yang tercemar, sumberdaya perikananpun juga akan ikut terkontaminasi logam berat. Dampak berikutnya yang disebabkan oleh peningkatan logam berat ini adalah tercemarnya sedimen yang tersebar dihampir seluruh kawasan estuaria. Seperti diketahui bersama bahwa sedimen merupakan tempat dimana tumbuhan dan hewan tinggal di sana. Sebagian besar daerah pesisir, termasuk estuaria, didominasi oleh substrat lunak. Substrat tersebut berasal dari sedimen yang terbawa oleh sungai menuju perairan pesisir dan terendapkan di dasarnya. Pada saat industri yang berlokasi di pinggiran sungai membuang limbah maka akan terbawa oleh aliran sungai menuju perairan dan akan mengalamipengendapan di kawasan muara
sungai. Hal tersebut mengakibatkan konsentrasi bahan pencemar dalam sedimen meningkat. Dan hasilnya, logam berat yang terendapkan akan terdispersi dan akan diserap oleh organisme yang hidup di perairan tersebut. Jika terus dibiarkan maka akan berdampak pada penurunan kualitas perairan, tercemarnya sedimen , dan terkontaminasinya berbagai tumbuhan dan biota di sana.
4. Pencemaran logam berat pada perairan sungai, pesisir pantai dan laut nampaknya sulit di cegah, karena aktifitas manusia selalu meningkat dan menghasilkan limbah ke lingkungan terus-menerus. Nampaknya niat kita untuk mendapat keuntungan yang lebih banyak terlalu besar sehingga kita tidak peduli dengan kesehatan lingkungan. sebagai contoh aktifitas pertambangan, industrial, perhotelan, perkotaan banyak menyumbang limbah ke lingkungan. limbah cair yang mengandung logam berat merupakan limbah yang berpotensi merusak sistem perairan, seperti sungai, dan perairan pesisir pantai. Pencemar logam berat yang terlarut pada perairan pesisir pantai dan laut sangat sulit untuk terbebas kembali dari badan air. Sehingga zat tersebut akan terakumulasi ke dalam tubuh biota laut dan tumbuhan laut. Jika zat tersebut terakumulasi ke dalam organisme laut maka volume konsentarsi zat pencemar di dalam badan air akan berkurang. Hewan laut seperti bivalvia memiliki kemampuan menyerap logam berat dari badan air tetapi ada kekuatiran karena bivalvia merupakan makanan sumber protein yang sangat digemari oleh
masyarakat. Sehingga penggunaan bivalvia sebagai biofilter zat pencemar di perairan masih sangat rendah. Salah satu solusi yang baik adalah dengan menggunakan teknik fitoremediasi. Teknik fitoremediasi adalah teknologi pembersihan zat polutan dari badan air yang telah tercemar dengan menggunakan tanaman. Teknologi ini mudah, dan murah, serta memberikan efek negative yang kecil bagi kesehatan (Khiatuddin. 2003 dalam Kusumastuti. 2009). Untuk mengurangi masalah pencemaran lingkungan oleh pencemar logam berat menggunakan teknik fisika, kimia juga dapat menggunakan teknik fitoremediasi. Teknik fitoremediasi sangat cocok untuk daerah perairan yang tercemar dengan menggunakan hutan mangrove. Ekosistem mangrove memiliki kemampuan alami untuk membersihkan lingkungan dari berbagai bentuk zat pencemar sehingga penggunaan tanaman mangrove sebagai tumbuhan penyerap logam berat dari perairan sangat tepat. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Amin (2001), di perairan pesisir Dumai, Propinsi Riau, menunjukan bahwa organ akar dan daun tumbuhan A. marina memiliki kemampuan menyerap logam berat timbal Pb dan tembaga Cu .
5. Dalam upaya menaggulangi menurunnya kualitas lingkungan, kesehatan
manusia dan makhluk hidup lainnya akibat pencemaran lingkungan yang semakin kompleks dan cenderung meningkat, selama tahun 2005, KLH telah menyiapkan beberapa kebijakan teknis, yang salah satu poin yang di ambil antara lain berupa:
a) Peraturan Presiden RI No 47 Tahun 2005 tentang Pengesahan Amendment To The Basel Convention On The Control Of Transboundary Movements Of Hazardous Wastes and Their Disposal (Amendemen Atas Konvensi Basel tentang Pengawasan Perpindahan Lintas Batas Limbah Berbahaya dan Pembuangannya). Peraturan Presiden RI No 60 Tahun 2005 tentang Pengesahan Framework Agreeement.
b) Peraturan Presiden RI No 60 Tahun 2005 tentang Pengesahan
Framework Agreeement Between The Government Of The Republic Of Indonesia and The Secretariat Of The Basel Convention On The Control Of Transboundary Movements Of Hazardous Wastes and Their Disposal On The Establishment Of A Basel Convention Regional Centre For Training and Technology Transfer For Southeast Asia (Persetujuan Kerangka Kerja Antara Pemerintah Republik Indonesia dan Sekretariat Konvensi Basel Mengenai Pengawasan Perpindahan Lintas Batas Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Serta Pembuangannya tentang Pembentukan Pusat Regional Konvensi Basel Untuk Pelatihan dan Alih Teknologi Bagi Asia Tenggara).
c) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 45 Tahun 2005
Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).
d) RUU tentang Konvensi Stockholm tentang Bahan-bahan Pencemar
Organik yang Persisten (POPs).
e) Rancangan Perpres tentang Penanggulangan Keadaan Darurat
Tumpahan Minyak di Laut (NCP). B. saran
1. Dengan mengetahui bahayanya logam berat maka perlu memperhatikan sampah -sampah domestic yang terbuang di sungai atau laut
2. Di harapkan pihak pengelola pelabuhan lebih memperhatikan lagi sampah ataupun bunangan yang terbuang di laut agar tidak sembarang membuang limbahnya.
3.masyarakat perlu lebih waspada dalam megonsumsi hasil daut karena bisa jadi ikan yang kita konsumsi telah tercemar logam berat ,maka perhatikan tempat pembelianya .
4.untuk para birokrasi dan segala aparatur negara di harapkan lebih memperhatikan kasus pencemaran logam berat karena selain merusak lingkungan dapat mengancam masyarakat luas .