• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

PENANGGULANGAN KEMISKINAN

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasar penelitian ini dapat dikemu-kakan hal-hal berkaitan dengan adaptasi komunitas PKL menjadi pedagang pasar.

Komunitas sektor informal di perkotaan merupakan salah satu kelompok masyara-kat marginal yang perlu diberdayakan agar lebih mampu melakukan kegiatan ekonomi sehingga taraf-hidupnya meningkatkan dan lebih berkontribusi dalam pembengunan bangsa. Kelompok ini pada umumnya mem-punyai keterbatasan-keterbatasan untuk me-lakukan usaha, antara lain: (1) minimnya modal, (2) rendahnya tingkat pendidikan, dan (3) kurangnya akses terhadap kebijakan pemerintah, informasi dan sarana-sarana eko-nomi maupun sosial. Usaha-usaha untuk mengatasi kelemahan-kelemahan ini perlu dilakukan agar kelompok masyarakat terse-but menjadi lebih berdaya dalam melaku-kan usaha, sehingga mereka tidak jatuh kedalam kemiskinan.

120 Trisni Utami “Pemberdayaan Komunitas Sektor Informal Pedagang Kaki Lima (PKL), Suatu Alternatif Penanggulangan Kemiskinan”

Perindahan lokasi usaha tersebut meng-akibatkan perubahan pada mereka, dari komunitas PKL menjadi pedagang pasar sehingga mereka sekarang tergabung dalam komunitas/himpunan pedagang pasar tra-disonal Notoharjo. Perubahan ini juga mengharuskan mereka untuk mampu ber-adaptasi.

Proses pengambiilan kebijakan dalam pengelolaan pasar Notoharjo masih belum menyentuh pada pendekatan komunitas atau pedagang pasar itu sendiri. Kepen-tingan komunitas cenderung terabaikan dan belum diakomodir dalam pengemba-ngan pasar. Pendekatan komunitas dan SDM turut menentukan keberhasilan daya saing pasar tradisional. Peran partisipasi Paguyuban belum mendapatkan perhatian secara memadai. Upaya pengembangan usaha dan pemberdayaan komunitas ma-sih sangat kurang. Dilihat dari daya tahan, para pedagang pasar yang tadinya berasal dari komunitas PKL mempunyai potensi dan kemandirian usaha yang sangat baik, karena mereka mampu bertahan di masa pemindahan. Mereka sering dikenal sebagai

“Small Scale Enterpreuneurs”.

Pemberdayaan komunitas dalam upa-ya pengentasan kemiskinan dalam penger-tian konvensional umumnya dilihat dari pendapatan (income). Oleh karena itu seringkali upaya pengentasan kemiskinan hanya bertumpu pada upaya peningkatan pendapatan komunitas. Pendekatan per-masalahan kemiskinan dari segi peningka-tan pendapapeningka-tan (income) saja tidak mampu

memecahkan permasalahan komunitas, karena pemberdayaan komunitas bukan hanya masalah ekonomi, namun meliputi berbagai masalah yang kompleks.

Bedasar hal-hal tersebut diatas, diperlu-kan upaya strategi pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan pedagang di pasar Notoharjo Semanggi Pasca Relokasi antara lain:

1) Penguatan kapasitas bisnis atau pe-ngembangan kewirausahaan di kalang-an pedagkalang-ang baik melalui training atau capacity building untuk komunitas PKL 2) Perlu pemberdayaan ekonomi melalui

akses bantuan permodalan.

3) Perlu dibangun komunikasi yang lebih dekat dengan para birokrat..

4) Perlu dibangun forum bersama antar stake holders dalam pengembangan pasar tradisional sehingga punya daya saing dengan pasar modern.

5) Perlu Pendampingan pada para Pe-dagang pasar Notoharjo dalam peme-cahan masalah terkait dengan kendala-kendala yang dihadapi di tempat yang baru.

6) Penataan dengan Pendidikan Lingku-ngan agar tidak terjadi kekumuhan dan perilaku yang tidak menguntungkan bagi pengembangan kebersihan pasar.

7) Perlu Penguatan Komunitas Pasar Noto-harjo dalam membangun saya saing pasar tradisionaldi Surakar

Daftar Pustaka

Agung Wibowo. Skripsi : “BUNGA TROTOAR” KE PEDAGANG KIOS (Studi Pemaknaan Formalisasi Pedagang Pasca Huni Relokasi Pedagang Kaki Lima Monumen ’45 Banjarsari ke Pasar Klithikan Notoharjo Kota Surakarta). Surakarta. Jurusan Sosiologi FISIP UNS. 2009

Agus Dody Sugiartoto, Perencanaan Pembangunan Parsitipatif Kota Surakarta, Pendekatan Pembangunan Nguwongke-Uwong, Surakarta : IPGI, 2003

Alif Basuki dan Yanu Endar, Memusiumkan Kemiskinan, Saatnya Suara si Miskin Didengar Dan Menjadi Dasar Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan Daerah, Pattiro Surakarta, 2007

Bartley. M, Unemployment and Ill Health: Understanding the Relationship. Journal of Epidemiology and Community Health.1994; 48 (4):333–37.

Benneth, J.W. Human Behaviour and Environment, Plenum Press, London.1976

Chriswardani Suryawati, 2005. Memahami Kemiskinan Secara Multidimensional. JMPK Vol. 08/No.03/September/2005

Cyert & Much. A. Behavioral Theory. Englewood Cliffs. 1963

 Etzioni, A. & Halevy, Eva Etzioni- (eds). Social Changes: Sources, Patterns and Consequences. 

Basic Books, New York. 1973

 Everett E. Hagen. On The Theory of Social Change; How Economic Growth Begins. Illinois.

The Dorsey Press.1962

Friedman, J. Urban Poverty in America Latin, Some Theoritical Consideration, Dag Hammarskjold Foundation. Upsala.1979

 Goodman. Douglas  J. Teori Sosiologi Modern. Jakarta. Prenada Media. 2004

Hardesty, Ecological Anthropology, New York, Chechester, Brisbane, Toronto, 1977.

Hidayat. “Situasi Pengangguran, Setangah Pengangguran dan Kesempatan Kerja di Sektor Informal”. Bandung: PPES UNPAD, 1983

Indriyati Suparno, Masih Dalam Posisi Pinggiran, SPEKHAM Surakarta, 2005

Jonathan H. Turner, The Structure of Sociological Theory, California, Wadsworth Publishing Company, 1990, hal. 51

Kemmis, S. and Mc.Taggert, R., The Action Research Planner. Dankin University, 1988.

 Koento,  Wibisono.  1983. Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Aygus Comte.

Yogyakarta. Gadjah Mada University Press. 1983

Lewis, Oscar. Kebudayaan Kemiskinan dalam Parsudi Suparlan. Kemiskinan di Perkotaan.

Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 1996:7-11.

M. Hari Mulyadi, dkk, Runtuhnya Kekuasaan “Kraton Alit” (Studi Radikalisasi Sosial Kerusuhan Mei 1998 di Surakarta), Surakarta : LPTP, 1999

Mc. Clelland, The Achieving Society. Van Nostrandt Reinhald Co. New York. 1961.

Muttia, S. 1991. Penduduk dan Perubahan Lingkungan di Marunda Pulo, Studi tentang Stress, Adaptasi, Disertasi Antropologi UI, Jakarta.1991

122 Trisni Utami “Pemberdayaan Komunitas Sektor Informal Pedagang Kaki Lima (PKL), Suatu Alternatif Penanggulangan Kemiskinan”

Onny S. Prijono, Pemberdayaan; Konsep, Kebijakan dan Implementasi, CSIS.

Poloma, Margaret. 1994. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pres.

Praptono Djunedi. 2004. Tinjauan Teoritis Dan Empiris Kemiskinan Di Indonesia Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan, Volume 8, Nomor 4 Desember 2004.

Robert K. Marton, Social Theory and Social Structure, New Delhi, American Publishing, 1981, hal. 193.

Rogers. Communication of Inovation and Cross Cultural Approach, New York.1972 Scott,James. Moral Ekonomi Petani. Bandung: Bina Aksara, 1985.

Sigit Wibowo dkk, Bergerak Dari Komunitas, Jari Indonesia, 2004.

Smelser, Neil. Toward Theory of Modernization dalam Amitai Etzioni dan Eva Etzioni (Ed), Social Change. Basic Books. New York.1964:268–84.

Soerjono Soekanto, Kamus sosiologi, Jakarta : Rajawali Press, 1985, h.10.

Sulton Mawardi dan Sudarno Sumarto. 2003. Kebijakan Publik yang Memihak Orang Miskin (Fokus : Pro-poor Budgeting). Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU.

Sulton Mawardi dan Sudarno Sumarto. 2003. Kebijakan Publik yang Memihak Orang Miskin (Fokus : Pro-poor Budgeting). Jakarta : Lembaga Penelitian SMERU.

Sunyoto Usman, Di antara Harapan Dan Kenyataan, CIRed, Yogyakarta,2004.

Sunyoto Usman. Jalan Terjal Perubahan Sosial.CIReD Yogyakarta,2004.

Sunyoto Usman. Ruang Malioboro.Yogyakarta:UGM, 2005.

Suparlan P, Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan, Jakarta.1980.

Supriatna, Tjahya. Birokrasi Pemberdayaan dan Pengentasan Kemiskinan. Humaniora Utama Press. Bandung.1997.

Tara Suprobo, Ingan Ukur Tarigan, Daniel Weiss. 2007. Laporan Teknis Sektor Informal Di Indonesia Dan Jaminan Sosial. Jakarta: Kementrian bidang Kesejahteraan Rakyat, Departemen Kesehatan, GTZ

Theodorson, GA, Modern Dictionary of Sociology, New York, Thomas Crowell, 1970, hal. 5 Tim Kerja Stakeholders City Developmen Strategy (CDS) Kota Surakarta. 2003.

Kharakteristik Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Surakarta (Sebuah Penelitian dalam Rangka kajian pendalaman Issu Pedagang Kaki lIma (PKL) dengan Metode PRA (Participatory Rural Apprasial). Surakarta: Laporan Penellitian.

Tim Kerja Stake-holders. Penelitian Kharakteristik Pedagang kaki Lima (PKL) di Kota Surakarta. 2003.

Trisni Utami ,Transformasi Tenaga Kerja Dari Sektor Pertanian ke Sektor Informal Perkotaan. Skripsi S1 Sosiologi Fisipol UGM.1986.

Trisni Utami, Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi, Pemberdayaan Komunitas Sektor Informal (PKL) Melalui Kerjasama Antar Stake Holdeers Kota Surakarta UNS Surakarta- DIKTI, 2006.

Trisni Utami, Pola Adaptasi Masyarakat Dalam Penerimaan Inovasi Pada Sistem Pertanian Peladangan, Studi Adaptasi Masyarakat Transmigran Rawajitu lampung Utara, Thesis UI.1994.

Trisni Utami. 2005. Pemberdayaan Komunitas Sektor Informal Melalui Kemitraan Antar Stageholder (Studi Pada Komunitas Pedagang Kaki Lima Kota Surakarta. Surakarta:

Laporan Penelitian Hibah Bersaing Tahun I.

Trisni Utami. 2006. Pemberdayaan Komunitas Sektor Informal Melalui Kemitraan Antar Stakeholders (Studi Pada Komunitas Pedagang Kaki Lima Kota Surakarta. Surakarta:

Laporan Penelitian Hibah Tahun II

Urban and Regional Development Institute (URDI). 2003. Studi Penanganan Ekonomi Informal di tingkat Lokal’. (‘Study of Informal Economy at Regional Level’). Jakarta:

Info URDI Volume 15

Weinreb, L., Goldberg, R., Bassuk, E., Perloff,L, Determinants of Health and Services Use Patterns in Homeless and Low Income Ho used Children. Journal of Pediatrics.1998;102(3): 554–62.

124 Sigit Pranawa “Globalisasi”

Ketika kita membicarakan globalisasi ada beberapa pertanyaan muncul misalnya:

apakah globalisasi merupakan suatu proses yang alami atau sebenarnya dikemudikan oleh kepentingan ekonomi politik Dunia Pertama? Juga pertanyaan apakah globalisasi sebagai proses demokratisasi atau sebenar-nya dominasi? Pertasebenar-nyaan ini menjadi pen-ting karena globalisasi yang merupakan ge-jala abad ke-21, nampaknya semakin ber-dampak pada munculnya kesenjangan anta-ra negaanta-ra maju dengan negaanta-ra berkembang.

Dalam Human Development report undp ta-hun 1999, disebutkan bahwa globalisasi menciptakan ancaman terhadap negara ber-kembang, misalnya berupa kecemasan ke-hilangan pekerjaan, gangguan kesehatan, kekhawatiran kehilangan kebudayaan dan kehidupan masyarakat, kerusakan lingku-ngan serta kurang terjaminnya keamanan pribadi (Bisnis Indonesia, 16 Juli 1999).

Dalam sebuah konferensi yang diseleng-garakan di India oleh Indian Social Institute disebutkan bahwa globalisasi bukanlah se-buah kekuatan yang alami (Suseno, Kompas 16 Maret 1998). Globalisasi dengan demiki-an tidak bisa dipdemiki-anddemiki-ang sebagai satu ideologi yang tinggal diterima begitu saja. Tidak da-pat dipungkiri bahwa globalisasi adalah se-suatu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Hanya bagaimana harus dipersiapkan, ruang mana yang perlu dibuka dan diberikan pada proses itu, itu nampaknya yang perlu ditentukan oleh masing-masing negara. Hal itu pulalah yang nampaknya menjadi tan-tangan bagi negara berkembang utamanya

penentu kebijakan untuk mempersiapakn diri dalam mengantisipasi air bah globalisasi.

Berkait dengan persoalan globalisasi tersebut, sejak awal buku Globalization So-sial Theory and Culture karya Roland Robert-son ingin mengajak para pembaca untuk

“bertamasya” dan melihat proses muncul-nya globalisasi dan sekaligus melihat globali-sasi sebagai sebuah maslaah. Menurut Ro-bertson, sebagai fenomena atas mengerut-nya batas geografis dunia, globalisasi sebe-narnya sudah terjadi selama berabad-abad.

Namun dalam pengertian adanya saling ke-tergantungan global yang nyata dan mun-culnya kesadaran akan adanya kesatuan global baru muncul pada akhir abad ke-20, dengan penggunaan istilah globalisasi yang meluas dan bersilangasengkerut pada awal atau bahkan pertengahan tahun 1980-an.

Dalam mencoba memperkaya tulisan-nya, Robertson memaparkan gagasan Mc-Luhan mengenai desa global yang memiliki pengaruh besar sehingga terjadi sebuah re-volusi ekspresi di tahun 1960-an dan gagas-an Albrow tentgagas-ang tahapgagas-an sejarah berkait dengan globalisasi yang disebutnya univer-salisme; sosiologi nasionalis; internasio-nalisme; indegenisasi dan globalisasi. Ro-bertson juga tertarik pada gagasan Dumont tentang dunia sebagai sebuah kesatuan, bahwa dunia dalam totalitasnya harus di-pahami terdiri dari serangkaian hubungan antar masyarakat dunia di satu sisi, dan keunikan diri di sisi lain. Ia menegaskan bahwa kecenderungan akan upaya penya-tuan dunia merupakan hal yang tidak dapat

GLOBALISASI

Sigit Pranawa

Universitas Nasional Jakarta

ditawar-tawar lagi. Dan sistem global ini adalah sebagai sistem yang secara lebih sadar diri ditempatkan dalam sistem aturan dan hukum global terkait dengan sistem perda-gangan ekonomi dan kesadaran ekonomi global sebagai sebuah kesatuan. Dunia di-pandang sebagai sebuah kesatuan, khusus-nya mengenai sistem ekonomi global.

Pembaca tanpa terasa dihantarkan dan dipandu memasuki isu globalisasi yang luas di mana dalam perkembangannya meng-alami suatu proses yang luar biasa. Bukan saha istilah globalisasi yang seringkalui di-pergunakan secara longgar, bahkan kontra-diktif. Robertson juga mengajak pembaca-nya untuk memahami bagaimana aktir-aktor, secara kolektif maupun individu, me-mahami dunia dalam pengertian analitis dan interpretatif. Di sinilah sebenarnya letak keuatan tulisan Robertson tentang globalisa-si. Ia memaparkan satu model analisis da-lam kaitannya dengan globalisasi, yang meli-puti empat aspek utama mengenai globali-sasi: masyarakat nasional; individu (diri);

hubungan antar masyarakat nasional atau sis-tem masyarakat dunia; dan umat manusia.

Berkaitan dengan karakteristik kebuyaan menurut Robertson dapat ditemui da-lam latar belakang masyarakat bangsa atas ilmu sosial modern dan teori sosial berikut.

Pertama, pemikiran bangsa Jerman berkait dengan masalah kebudayaan sejati dalam hubungannya dengan persoalan distorsi sosial ilmu pengetahuan. Kedua, minat bangsa Perancis mengenai struktur variasi pemikiran manusia dalam struktur sosial.

Ketigam pemikiran bangsa Inggris yang ba-nyak berkait dengan persoalan kedekatan alamiah kebudayaan dan hubungan serta struktur sosial yakni kebudayaan sebagai pandangan hidup masyarakat. Dan keem-pat, konsepsi kebudayaan Amerika yang bersifat utilitarian, dengan pandangan bah-wa pola-pola kebudayaan diciptakan oleh individu dalam latar belakang dan lingku-ngan sosial khusus.

Robertson juga memaparkan alur tem-poral historis hingga kondisi global saat ini.

Tahap I, disebut juga tahap awal yang ber-langsung sejak awal abad ke-15 hingga abad ke-18. Tahap ini merupakan tahap pertum-buhan komunitas bangsa yang muncul dan sistem internasional jaman Pertengahan.

Adanya perluasan jangkauan gereja Katolik dan penyebaran kalender Gregorian. Tahap II adalah Tahap Pertumbuhan, yang diwarnai oleh terjadinya pergeseran yang tajam menuju ide-ide negara homogen, bersatu, kristaliasi konsep hubungan internasional formal, stan-darisasi konsep individu warga negara dan konsep manusia secara kongkrit. Pergeseran ini meningkat dalam aturan hukum yang ber-kait dengan aturan dan komunikasi interna-sional dan transnainterna-sional. Tahap III, atau tahap Lepas Landas, adalah periode di mana tujuan-tujuan globalisasi dari periode sebelumnya terbukti dan memberi bentuk tunggal yang tidak dapat ditawar lagi, karena itu memaksa masyarakat bangsa, individu, masyarakat internasional tunggal dan makin singular, na-mun bukan penyatuan umat manusia. Tahap IV atau Tahap Perjuangan demi hegemoni ditandai dengan perselisihan dan perdebatan mengenai pola-pola proses globalisasi domi-nan yang dibangun pada akhir tahap lepas landas. Terakhir Tahap V atau Tahap Ketidak-pastian, yang ditandai meningkatnya masa-lah Hak Azasi Manusia, percepatan dalam komunikasi global dan institusi pergerakan global. Masyarakat menghadapi masalah polietnisitas dan multikulturalis, adanya hak-hak warga negara yang menjadi permasalahan global, pergerakan lingkungan, Islam sebagai pergerakan reglobalisasi/deglobalisasi serta sistem internasional yang mengambang.

Dalam bukunya tersebut, Robertson juga membahas tentang modernisasi, globalisasi sebagai problem kebudayaan dalam teori Sis-tem Dunia yang dikembangkan Wallerstein.

Juga tentang globalitas, kultur global dan citra tentang tatanan dunia yang dikembangkan oleh Haferkamp dan Neil Smelser.***

126

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL ILMIAH DAN

Dokumen terkait