• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKETSA ELIT DAN FRAGMEN EKONOMI POLITIK KOTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKETSA ELIT DAN FRAGMEN EKONOMI POLITIK KOTA"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

SKETSA ELIT DAN FRAGMEN EKONOMI POLITIK KOTA

Akhmad Ramdhon

Sosiologi FISIP Universitas Sebelas Maret

Abstract

The city in its development experience dynamics. Relation schema elite is one of the determinants of movement of the city. Note the various cases concerning the pattern of relations between elites also determine the pattern of development of the city, where the economic elite could become the motor for the diverse schedule of change. The dynamics of urban political economy that should open a wide space for the involvement of stakeholders city was experiencing reduction by the elite. Transactions of interest between political interests and economic interests became the largest energy to ensure direction, movement and pattern of change that occurred in the city.

Keywords : city, elite, economic, politic, social change

A. Konstruksi Umum

Diskursus tentang kondisi politik kon- temporer di negara kita tidak dapat dilepas- kan dari berbagai perspektif yang me- nyertainya, entah itu dalam perspektif yang deterministik ataupun yang plural. Berbagai perdebatan-pun penuh dengan analisa- analisa yang menempatkan politik bersama relasinya dengan variabel-variabel lain entah budaya, ekonomi hingga variabel-variabel yang tidak tampak dalam permukaan seper- ti tarik ulur kepentingan antara pelaku- pelaku dalam jaring-jaring kekuasaan. Kon- sekuensi dari kondisi seperti itu melahirkan paradoks dalam setiap perdebatan (dalam bahasa lain, perdebatan yang melahirkan perdebatan lagi) yang ingin menjelaskan kondisi perpolitikan kita secara konprehen- sif dan kami-pun mengalami dampak dari kondisi itu.

Kedepan menjadi penting untuk mem- beri penekan pada relasi antara ekonomi dan politik yang beraras pada konteks

perkotaan, secara umum dan luas. Banyak referensi juga memberi jalan bagi kami untuk melihat signifikansi perkembangan ekonomi yang berbanding seimbang de- ngan perkembangan kota. Pada konteks itu kita mencoba menganalisanya dengan memberi penekanan pada contoh kasus ter- utama yang ada di negara berkembang de- ngan menggunakan perspektif yang mela- hirkan dikotomik antara pelakunya. Sebab dalam perspektif inilah bisa dibedah kons- truksi dari dinamika perpolitikan di negara- negara baik yang sudah maju ataupun negara- negara yang tidak berkembang-berkem- bang secara ideal untuk diperdebatkan dan ideal karena banyak referensi untuk mem- bedahnya, disamping juga keinginan untuk melihatnya sebagai wacana yang tidak datar namun potensial untuk dieksploitasi.

Dalam banyak wacana sebelumnya, ki- ta melihat ada banyak kristalisasi pemikiran kita terhadap pembangunan kota-kota di berbagai negara, dengan menempatkan

(2)

64 Akhmad Ramdhon “Sketsa Elit dan Fragmen Ekonomi Politik Kota”

variabel ekonomi sebagai pendorong utama laju pertumbuhan dan perkembangannya.

Catatan sejarah bisa mengenal perkemba- ngan kota-kota yang dimulai dari penemu- an flying shuttle yang memudahkan proses penenunan, pemintalan dan memudahkan, menambah produksi sekaligus meletakkan pondasi bagi Revolusi Industri di Eropa. Pe- nemuan itu kemudian disusul dengan ber- bagai penciptaan teknologi baru yang pada akhirnya menyeret arah pola perekonomi- an klasik ke arah perkembangan ekonomi kapitalistik dengan modal sebagai sandaran utamanya, dan pada akhirnya mengubah wajah kota-kota di Eropa dan belahan dunia yang lain. Oleh sebab perkembangan eko- nomi dan berbagai variabelnya menyebab- kan over produksi yang menuntut adanya pasar yang bisa mereduksi berbagai produk yang telah tercipta.

Kondisi ini memang tidak begitu saja tercipta namun sudah terkonstruksi sebe- lumnya dengan berbagai latar belakang so- sio-historis di Eropa pada saat itu, terutama dengan lahirnya orang-orang yang tidak puas terhadap kondisi masyarakat secara umum, yang dikuasai oleh koalisi otoritas monarkhi absolut dan gereja. Mereka me- nunut ada pembaharuan di dalam masyara- kat, yang mana mereka anggap stagnan (L.

Laeyendecker. 1983 : 13-18). Kondisi yang ada dan berlangsung sesudahnya adalah menggeliatnya kekuatan ekonomi sebagai kekuatan yang merenggut semua variabel yang ada, menjaring semua pelakunya da- lam sebuah jaringan global yang tidak me- nyisakan sedikit ruang–pun bagi individu- individu untuk melakukan penolakkan, agar tereduksi di dalamnya. Keadaan seperti ini bertahan dalam satu arah perubahan yang memang secara sengaja diciptakan oleh para pemodal, dengan proses yang ber- jalan secara cepat, dengan berbagai instru- men yang diciptakan sebagai pelengkap dari eksistensi-nya dan berbagai produk yang tetap menyertakan kita semua dalam

bingkai keterikatan dan ketergantungan yang menyesakkan.

Arah perubahan menempatkan ekono- mi sebagai motor utama dan secara otoma- tis merubah pola kekuasaan yang ada sebe- lumnya, dimana kekuasaan sebelumnya diletakkan di atas pondasi-pondasi non- ekonomi. Tapi setelah perkembangan kapi- talisme menyebar dan menjadi potret besar wajah dunia global maka yang terjadi adalah tarik ulur antar pelaku kekuasan untuk se- banyak mungkin melakukan akumulasi ka- pital. Maka dari sinilah analisa untuk me- nempatkan relasi yang signifikan antara ke- kuatan ekonomi dengan tegaknya eksistensi kekuasaan. Dan implikasi dari cara berpikir seperti itu mempunyai konsekuensi baru yaitu membuat dikotomi bagi para pelaku politik, atas dasar kepemilikan. Konsekuensi dari paparan tersebut menghasilkan sebuah kategori yang sederhana yaitu menempat- kan mereka dalam kerangka relasi antara elit, kelas menengah dan kelas bawah. Relasi yang terbangun diantara mereka adalah dengan menganggap posisi masing-masing secara obyektif-kontradiktif dalam lokasi hubungan kelas. Dimana hubungan antara mereka adalah hubungan antagonistik, sa- ling bertentangan satu sama lain dalam ke- pentingannya masing-masing dan persete- ruan mereka terhadap aset-aset ekonomi yang terbatas jumlahnya namun tetap me- narik untuk diperebutkan. Anthony Gid- dens dan David Held, 1987 : 62). Dan tentu- nya dengan pengabaian terhadap berbagai standart nilai yang ada dan berlaku. Di sini- lah potret yang tampak bukanlah potret yang indah, dengan komposisi keadilan dan kebenaran yang berada pada tempatnya.

Namun sebuah potret yang buram yang ti- dak nyaman untuk disaksikan dalam ke- rangka moral ataupun nilai-nilai normatif dan diyakini eksistensi nilai-nilai tersebut.

B. Sketsa Elit dan Korporasi-nya Dalam kondisi modern dimana setiap masyarakat secara otomatis berafiliasi dalam

(3)

bingkai negara maka peran akan subyek yang ditempatkan secara khusus sebagai elit adalah orang yang paling banyak ‘mempunyai’

standart nilai yang berlaku dalam masyara- kat tersebut. Dalam hal ini elit kemudian dilekatkan dalam statusnya sebagai subyek yang telah memegang otoritas tinggi atau- pun tertinggi dalam masyarakat, untuk men- jalankan mekanisme negara (J.W. Schrool, 1980: 128-134). Atau dalam arti yang paling umum, elit itu menunjuk sekelompok orang yang di dalam masyarakat menempati ke- dudukan tinggi atau dalam arti khusus orang-orang yang terkemuka dalam bidang- bidang tertentu dan khususnya memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan serta lingkungan dari mana pemegang ke- kuasaan itu diambil.

Kosekuensinya adalah mengangkat preposisi bahwa kekuasaan ditegakkan oleh ekonomi dan aset-aset ekonomi yang terba- tas jumlahnya. Oleh karena itu sudah men- jadi konsekuensi yang logis apabila kemudi- an setiap orang cenderung memperebutkan sejumlah peran utama (elit) dalam kerangka itu, untuk kemudian menciptakan atau men- dapatkan fasilitas dalam kerangka meng- akumulasi berbagai kapital. Maka yang akan dilakukan oleh setiap subyek yang ber- usaha dan telah mendapatkannya adalah kecenderungan untuk mempertahankan- nya dalam waktu yang relatif lama (status quo). Namun juga tidak bisa dipungkiri ka- lau tuntutan terhadap status itu terlalu besar bagi subyek yang tidak punya kemampuan karena yang akan dihadapinya adalah tun- tutan yang terlalu banyak dari masyarakat luas. Tuntuan untuk menempatkan masya- rakat pada garda depan takkala membuat kebijakan, tuntutan untuk membuat ma- syarakat lebih baik, secara ekonomi ataupun politik. Tuntutan-tuntutan itu sudah semes- tinya ditempatkan sebagai kewajiban atau tugas yang harus dilaksanakan oleh elit. Di samping juga menghadapi berbagai tarikan dari kepentingan yang lain yaitu individu

yang terkait dengan berbagai kebijakan yang diambil oleh elit, membuat hal ini terasa se- bagai buah dari semakin kompleks dan me- madatnya kota, dalam segala aspeknya. Di sini akan terasa sekali bagaimana masing- masing orang berusaha untuk mendapat- kan keuntungan dari berbagai kebijakan yang ada, entah keuntungan yang mereka rasakan dari adanya aturan yang tidak begi- tu mengikat ataupun kelonggaran dalam banyak hal, yang intinya menguntungkan bagi mereka.

Kesadaran dari elit, bahwa mereka tidak bisa berdiri sendiri tanpa ditopang oleh pe- laku yang lain, menjadikan mereka memba- ngun kekuatan bersama dalam rangka me- ngokokohkan kekuasaan itu. Pertanyaan- nya kemudian, ketika elit sudah mempu- nyai kekuasaan maka siapa yang akan mere- ka ajak bergabung, tentunya pihak lain yang mempunyai kekuatan lain dan kekuatan yang mampu menegakkan kekuasaan ada- lah modal (I. Warsana Windhu, 1992 : 39) Dengan berkoalisi dengan kekuatan modal maka pertukaran keuntungan terbangun diantar keduanya. Bagi para pemilik modal, kebebasan yang mereka dapatkan, kebijak- an-kebijakan yang memihak atau jaminan keamanan atas dasar pertemanan adalah sesuatu yang tidak bisa didapatkan begitu saja dengan mudah. Begitu juga bagi para elit, mengelola aliran modal yang masuk kemudian tidak jelas penggunaannya atau modal untuk menjaga tegaknya kekuasaan mereka juga bukan hal yang mudah.

Koalisi antara kekuasaan dan para pemi- lik modal, sebenarnya lebih disebabkan karena bertemunya para politisi yang lemah dengan para pemodal yang memang tidak punya kemampuan berbisnis dengan baik.

Keduanyalah yang kemudian akan memba- ngun kekuasaan menjadi kekuasaan yang tidak mempunyai kepekaan terhadap ber- bagai tuntutan diluar hubungan keduanya.

Mereka dengan serta merta sedang memba- ngun rezim untuk kemudian membuat

(4)

66 Akhmad Ramdhon “Sketsa Elit dan Fragmen Ekonomi Politik Kota”

berbagai kebijakan yang mendukung apa- apa yang mereka lakukan dan tentunya ujung dari semua itu adalah terpeliharanya kekua- saan yang mereka punyai sekaligus juga mengembangkannya dengan menghambat ber- bagai gejala perubahan dalam masyarakat- nya. Rezim yang ditegakkan atas dua ke- kuatan itu, biasanya mampu bertahan relatif lama bila dibandingkan dengan rezim yang hanya berbasiskan kekuatan militer saja.

Sebab dengan mereduksi kekuatan modal dalam satu bingkai kekuasaan maka dengan sendirinya mereka juga telah mereduksi ke- kuatan kelas menengah di dalamnya. Kare- na letak orientasi kelas menengah lebih pada prosesi ekonomi saja, mereka bukan orang yang berobsesi untuk memegang kekuasa- an namun juga tidak mempunyai cukup modal untuk memiliki alat-alat produksi, jadi lebih pada kesempatan-kesempatan hi- dup yang lebih baik secara ekonomis. Hara- pan dari keadaan seperti ini adalah minim- nya keinginan dari kelas menengah untuk melakukan perubahan karena memang bia- sanya potensi perubahan memang sering kali datang dari kelas ini, terutama yang ber- pendidikan tinggi. Dengan sendirinya rezim sedang mengkebiri kelas menengah ini.

C. Konsekuensi ekonomi-politik kota Sketsa politik yang terurai dalam des- kripsi diatas pada akhirnya menyeret juga perubahan dalam struktur masyarakat seca- ra luas, dimana akan lahir kelas yang tidak memiliki kekuasaan baik politik, modal ataupun kemapanan secara ekonomi. Da- lam diskursus ini, menempatkan kelas ba- wah yaitu kelas yang tercipta akibat proses marjinalisasi ruang-ruang politik dan ekono- mi. Proses ini menghasilkan arogansi kebija- kan yang menciptakan tingkat produktivitas yang pincang antara kota dan desa, sedikit- nya keterkaitan antara kebijakan dengan berbagai perangkat yang disediakan, distance yang luar biasa (antar pelaku ekonomi, desa- kota atau sektor formal-informal) dan ke-

senjangan tingkat pendapatan serta rendah- nya tingkat kehidupan masyarakat secara luas (Didik J. Rachbini, Prisma 1991). Pada- hal kondisi negara kita adalah negara agraris, sedangkan kebijakannya tidak mengarah pada kondisi itu maka yang terjadi adalah melemahnya tingkat perkembangan komo- diti pertanian dibandingkan dengan per- kembangan komoditi diluar pertanian.

Kondisi terpusatnya kebijakan meng- akibatkan membesarnya pergeseran manu- sia ke arah kota, sehingga meningkat pula proporsi penduduk kota. Akumulasi manu- sia di kota-kota, yang tidak diimbangi oleh jumlah lapangan kerja pada akhirnya me- nyebabkan pengangguran yang tinggi, di- mana luapan ini kemudian bekerja pada kantong-kantong ekonomi informal, de- ngan produktifitas rendah dan subsisten.

Pada beberapa kasus di beberapa negara (terutama negara berkembang) potret urba- nisasi merupakan proses yang berjalan seca- ra terus menerus dan tidak dapat ditekan laju pergerakannya. Ada beragam kekuatan yang menyebabkan proses tersebut berjalan secara simultan oleh sebab dinamika kota yang semakin lanjut, sebagai efek dari ada- nya kolonialisasi dimana kota tumbuh dan dijadikan pusat konsentrasi atas penguasa- an dan pengelolaan daerah jajahan. Dan si- tuasi tersebut masih tetap bertahan sekali- pun telah terjadi proses dekolonialisasi. Ke- mudian teknologi yang tersedia dan hanya dapat diakses di kota-kota semata menye- babkan terpusatnya berbagai inovasi tekno- logi manusia di ranah kota. Pertumbuhan penduduk secara keseluruhan menunjuk- kan peran dalam mempertegas pentingnya arti dan makna kota bagi penghidupan. Di negara-negara maju, lalu lintas penduduk dalam negeri atau dari/ke kota menjadi alas- an atas tingginya laju urbanisasi disamping meningkatnya jumlah pendapatan di wila- yah perkotaan. Berbeda dengan kasus-kasus pada negara-negara berkembang dimana perubahan penduduk secara alami merupa-

(5)

kan selisih jumlah antara kelahiran dan ke- matian yang menjadi variabel dominan un- tuk mendorong laju urbanisasi (Philip M.

Hauser dan Robert W. Gardner, 1985 : 46-52).

Ada banyak paparan tentang kuantifi- kasi fenomena urbanisasi dan dinamikanya di berbagai belahan dunia. Oleh Peter JM Nas (1979) diurai : pada tahun 1800-an, ter- dapat 15.6 juta dari 906 juta orang (1,7 %) yang tinggal dan menetap di daerah perko- taan. Dan pada tahun 1960 kenaikan atas meningkatnya jumlah penduduk kota ber- kisar pada kisaran angka 51.6 juta menjadi 590 juta atau meningkat 20 %. Dimana fakta lain tentang urbanisasi adalah tentang level urbanisasi (presentase jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan dibagi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan) dan pada kasus Indonesia terdapat kenaikan yang konstan -bahkan naik (Achmad Nur- mandi, 1999 : 3-12) : 1960 terdapat 15%;

1970 terdapat 17%; 1980 terdapat 22%; dan 1990 terdapat 31%. Pemusatan beberapa sektor kehidupan seperti perdagangan, industri, pendidikan hingga politik menjadi penyebab utama signifikansi angka-angka tersebut (Takayoshi Kitagawa, 1998 : 297).

Akibatnya kota makin dinamis dan kom- pleks atas berbagai hal. Kawasan kota seba- gai mekanisme perekonomian secara tidak langsung adalah sebagai konsekuensi dari perkembangan sektor pertanian dimana keberhasilan atas pencapaian hasil pertanian secara maskimal bahkan surplus mampu men- stimulan perkembangan pasar sebagai ben- tuk transaksi atas pertemuan-pertemuan aktivitas ekonomi. Akumulasi atas kondisi ini menstimulan pula pengelompokkan ma- syarakat diluar sektor pertanian dan pada saat yang bersamaan industrialisasi melebar.

Pembagian kerja dan spesialisasi kemudian menjadi ciri masyarakat kota di samping terstratifikasinya pola pendapatan dan pola konsumsi masyarakat dalam struktur eko- nomi berbasis non agraris. Telah terjadi transisi dari ekonomi tradisional ke modern.

Kondisi ekonomi yang mapan membu- tuhkan pola pengaturan atas berbagai hal dan tata pemerintahan kemudian menjadi jalan keluar atas persoalan ini. Kawasan ko- ta kemudian menjadi satuan-satuan peme- rintahan dimana kondisi penduduk makin banyak, persoalan makin kompleks dan ke- butuhan makin beragam. Relasi-relasi indi- vidual kemudian membutuhkan mediator dan spesialisasi pekerjaan melahirkan pro- fesi bagi sebagian individu untuk mengatur dan menata kota, dengan segala aspeknya.

Bangunan organisasi sosial yang terbentuk -sebagai bentuk pengkristalan berbagai per- bedaan- menjadi aktualisasi perilaku indivi- du di kawasan perkotaan, selain karakter yang rasional, ekonomis dan dinamis. Kon- disi ini juga diikuti oleh dinamika ruang da- lam berbagai bentuk dan maknanya dalam lingkungan dan kawasan perkotaan. Per- tumbuhan ekonomi dan investasi menyeret pola pendapatan dan pola konsumsi masya- rakat dalam ragam-ragam kebaharuan.

Dalam ranah politik, konsekuensi dari dominannya ekonomi kota melahirkan subyek-subyek yang apatis sebab mereka biasanya hanya mempunyai sedikit penge- tahuan, hidup dalam segala keterbatasan, minimnya partisipasi dalam lingkungan sosialnya. Sebagai subyek mereka sangat potensial, karena jumlah yang sangat ba- nyak. Namun penghargaan terhadap mere- ka (dalam kapitalisme-birokratis) tidak se- suai. Mereka hanya dieksploitasi sebagai lumbung-lumbung suara takkala pemilihan umum berlangsung, dalam tuturan Samuel Hungtinton menegaskan, mereka merupa- kan sumber daya politik yang telah kehilang- an daya politiknya untuk memperjuangkan kepentingannya sendiri. Potensi ini lebih banyak dimanfaatkan oleh berbagai kelom- pok kepentingan, terutama rezim yang se- dang berkuasa sebab biasanya sikap inferio- ritas lebih karena dominasi politik yang da- tang untuk meyumbat dan menyekat parti- sipasi mereka. Akhirnya semakin ter-

(6)

68 Akhmad Ramdhon “Sketsa Elit dan Fragmen Ekonomi Politik Kota”

subordinasi, semakin apatis pula mereka.

Kelas ini dalam perkembangannya hanya menjadi bumper’ pada masyarakat kapitalis.

Dan ini juga tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga banyak dinegara-negara lain terutama negara yang sedang berkembang, setidaknya nilai-nilai elit politik, elit ekonomi dan kebijakan para penguasa, lebih dominan dan menentukan dari pada yang lain dalam membentuk pola partisipasi masyarakat maupun menentukan arah pengembangan suatu negara (J.E. Goldthrope, 1992 : 392).

Sejarah politik memberi ruang lapang bagi kemapanan sistem politik tradisional yang diikuti dengan hadirnya momentum kolonialisasi. Kolonialisasi yang berwajah- kan perdagangan dan militer mengubah secara frontal potret kekuasaan, sekaligus mengubahnya dengan melemahkan makna serta fungsi kekuasaan yang terkonsentrasi pada tradisi sebagai pusat. Kekuatan dan kekuasaan tergerogoti oleh sistem politik yang dikembangkan kaum kolonial dan melahirkan ketertundukkan secara politis kekuasaan dalam bingkai ekonomi, politik dan budaya. Konflik eksternal kaum kolo- nial untuk melakukan ekspansi ke berbagai wilayah ikut menyeret kekuasaan yang ada dan masuk ke dalam keterbelahan kekua- saan internal raja-raja, yang luar biasa. Ke- pentingan kolonial untuk mengembangkan sistem ekonomi sebagai bagian dari perda- gangan internasional melahirkan kebijakan dan sistem politik yang mengkonstruksi ke- tergantungan sekaligus mengkebiri ke- mampuan kebudayaan Jawa. Salah satu ke- bijakan politik kolonial yang kapitalistik adalah terjadinya reorganisasi berbagai tata- nan dalam masyarakat struktur masyarakat Jawa. Berbekal semangat yang tetap kolo- nialistik, kebijakan untuk rasionalisasi, standartrisasi dan pemusatan pada tatanan administrasi kolonial, ditata kembali.

Penghadiran pelaku-pelaku kebudaya- an barupun dilahirkan dengan mencipta- kan alternatif dalam struktur yang feodal, lewat pendidikan. Kebutuhan akan indivi- du yang terdidik menjadi tak terhindarkan ketika kegiatan perdagangan meningkat dengan cepat, angka-angka eksport mening- kat dua kali lipat dan kegiatan tersebut terus mengalami perluasan. Pendidikan menjadi jalan keluar atas kebutuhan memproduksi tenaga kerja yang dibutuhkan bagi kekuasa- an baru dan kebutuhan bisnis swasta kolo- nial serta politik untuk mengawali terinte- grasinya modernisasi di Jawa, sebagai per- paduan-persinggungan Barat dan Timur.

Lahir elit-elit baru sebagai pelaku politik yang tak berbasiskan tradisi tapi mempu- nyai latar belakang pendidikan. Mobilitas struktural yang terjadi kemudian mengala- mi perubahan yang paling awal, yang di- ikuti oleh perubahan karakter kebudayaan masyarakat kota.

Semua kondisi tersebut menjadi pra- syarat terbangunnya semangat kebersama- an dalam bingkai nasionalisme. Bangunan identitas kemudian dikonstruksikan, kebe- basan kemudian didengung-dengungkan dan organisasi-organisasi baik politik, pen- didikan atau kebudayaan, terus diperba- nyak lalu mendiseminasikan semua kesada- ran tersebut. Politik sebagai manifestasi semua itu, mengalami dinamika yang luar biasa. Pioner dari semangat pergerakan ini adalah para pemuda hasil pendidikan pada fase kolonialisasi akhir dan meninggalkan kemampuan politik tradisional karena telah mampu menebak arah dan gerak perubah- an politik nasional. Gelombang perubahan yang memilih negara sebagai bentuk baru -tentang bagaimana kekuasaan diatur dan ditata gunakan- menjadi sangat cepat sekali- gus mengakselerasi perkembangan kota diatas rel ekonomi dan politik masyarakat modern.

(7)

Daftar Pustaka

Achmad Nurmandi, Manajemen Perkotaan, Lingkaran, 1999

Adi Sasono dan Sritua Arif, Ketergantungan dan Keterbelakangan, LSP, 1984 Didik J. Rachbini, Dimensi Ekonomi dan Poltik Pada Sektor Informal, Prisma 1991

Evers, Hans Dieter, Urbanisme di Asia Tenggara : Makna dan Kekuasaan Dalam Ruang- ruang Sosial, YOI 2002

Hauser, Philip M. dan Gardner, Robert W. Penduduk dan Masa Depan Perkotaan : Studi Kasus di Beberapa Daerah Perkotaan, YOI, 1985

Kitagawa, Takayoshi. Urbanisasi dan Industrialisasi di Indonesia, UGM press 1998 Knox, Paul. Urban Social Geography : an Introduction, Longman 1982

Manning, Cris-Tadjuddin Noer, Urbanisasi, Pengangguran, dan Sektor Informal di Kota, Gramedia-PSK UGM 1985).

Palen, J John. The Urban World, McGraw Hill 1987

Geertz, Clifford. Mojokuto : Dinamika Sosial Sebuah Kota di Jawa, Grafiti, 1986 Goldthrope, JE. Sosiologi Dunia Ketiga ; Kesenjangan dan Pembangunan,Gramedia 1999

Giddens, Anthony dan Held, David. Perdebatan Klasik dan Kontemporer Mengenai v Kelompok, Kekuasaan, dan Konflik, Rajawali Pers 1987

I. Warsana Windhu, Kekuasaan dan Kekerasan menurut John Galtung, Kanisius 1992 Laeyendecker, L. Tata, Perubahan dan Ketimpangan , Gramedia 1983

Schrool, JW. Modernisasi : Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara Berkembang, Gramedia 1980

(8)

70 Atik Catur Budiarti “Ketahanan Masyarakat Kota Solo”

KETAHANAN MASYARAKAT KOTA SOLO

(Model Pengelolaan Konflik Tionghoa – Jawa melalui Pendekatan Ketahanan Masyarakat)

Atik Catur Budiati

Pendidikan Sosiologi-Antropologi FKIP Universitas Sebelas Maret

Abstract

In Solo, a conflict which involved Tionghoa-Java is frequently, there is even an opinion that says that the Tionghoa-Java conflict is 15-year conflict cycle events. Therefore, Solo City Govern- ment develop community resilience program to create social harmony to prevent conflict. The creation of community resilience in Solo is a social phenomena that serve as an anticipation of all forms of social change, cultural. politics and economics which often leads to violence. One is to manage conflicts of Tionghoa-Java. In hopes, Tionghoa-Java conflicts do not occur again in Solo.

Keywords: Community Resilience, Conflict Management of Tioghoa - Java

A. Pendahuluan

Telah menjadi rahasia umum bahwa konflik yang melibatkan etnis Jawa dan Tionghoa sering terjadi. Konflik sosial ini seringkali berujung pada kerusuhan massal (pengrusakkan, penjarahan, & kebakaran) yang disertai aksi kekerasan. Tentu saja ini menimbulkan kerugian besar baik materiil maupun non materiil.

Satu sisi, etnis Jawa merasa dominasi Tionghoa terhadap perekonomian sangat besar. Masyarakat non Tionghoa hanya men- jadi kelas nomor dua tanpa mendapatkan kekuasaan dalam monopoli perdagangan.

Di sisi lain, adanya diskriminasi secara legal atau hukum dan sosial terhadap orang Tiong- hoa di Indonesia. Akibatnya konflik antar etnis ini tidak dapat dihindari.

Sepertinya pemahaman masyarakat ten- tang pluralitas atau kemajemukan budaya yang hidup dalam masyarakat Indonesia masih berada di tataran cita-cita. Selain itu

pembicaraan tentang isu SARA (Suku, Aga- ma, Ras dan Antar Golongan) masih diang- gap tabu dan dilarang untuk dibicarakan se- cara terbuka di tingkatan publik. Ironisnya, isu SARA kerap dijadikan “kambing hitam”

penyebab munculnya masalah-masalah sosial di Indonesia. (Rahardjo, 2005:8)

Pada era Orde Baru (Orba), Presiden Soeharto menunjukkan keberpihakkan yang besar kepada sekelompok pengusaha yang kebanyakan Etnis Tionghoa. Tetapi di sisi lain, kebijakan Orba tentang pelarangan agama, kepercayaan, ekspresi seni, kebuda- yaan dan sastra cina memberikan bentuk diskriminatif lain bagi Etnis Tionghoa. Pada- hal, tanpa disadari hal ini menjadi bom wak- tu bagi terjadinya ledakan chaos sosial. Tra- gedi Mei 1998 adalah salah satu contohnya.

Menurut Taufik Abdullah, kerusuhan sosial antar etnis memiliki persamaan seba- gai peristiwa sosial yang tidak terlepas dari masalah kekuasaan dan cenderung terkait

(9)

dengan afinitas atau situasi yang saling ber- gesekan dari ketiga unsur. Pertama, kegeli- sahan ekonomi yang terkait dengan perbe- daan penilaian terhadap keputusan politik.

Kedua, kejengkelan politik bersumber pada perbedaan pendapat diantara kelompok- kelompok dalam masyarakat tentang legali- tas kekuasaan politik yang dimiliki penguasa dan perbedaan pandangan atau preferensi terhadap pejabat atau lembaga politik ter- tentu. Ketiga, kegelisahan sosial yang tidak terkait secara langsung dengan politik, teta- pi bersumber pada rasa kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap ketidakadilan di antara pihak-pihak yang terlibat, sebagai aki- bat ketimpangan manfaat yang diperoleh.

(Thung Ju Lan, 1999).

Sampai saat ini, masyarakat non Tiong- hoa masih memberikan keberadaan yang kurang menguntungkan bagi Etnis Tiong- hoa. Ditambah dengan kebijakan pemerin- tah yang masih tidak jelas dalam menangani persoalan berbasis kultural, berakibat terja- dinya berbagai kerusuhan sosial yang akhir- nya warga Etnis Tionghoalah menjadi sasar- an kekerasan. Kebijakan asimilasi yang salah arah, karena dipahami sebagai penyeraga- man, memunculkan persepsi bahwa loyali- tas masyarakat Tionghoa hanya dapat dica- pai melalui pengingkaran identitas kultural mereka. Sebagai etnis minoritas, maka etnis Tionghoa perlu melakukan strategi dan frik- si demi memperjuangkan dan memperta- hankan identitas budaya yang dimilikinya.

Kota Solo merupakan kota yang perta- ma kali menciptakan peristiwa rasial anti Cina. Menurut Sejarawan, Sartono Kartodir- djo, pada tahun 1913 dicatat sebagai “lembaran terburam” dalam sejarah Indonesia, sejauh menyangkut kerusuhan-kerusuhan anti Cina (Rahardjo, 2005:104). Puncaknya pada Tragedi Mei 1998. Konflik etnis Tionghoa dan Jawa terus terjadi dan berulang yang biasanya disertai amukan massa (pembakar- an, penjarahan, perkosaan dengan kekerasan).

Berdasarkan catatan Harian Solo Heritage

Community, Kota Solo di bakar massa su- dah terjadi sebanyak tujuh kali yaitu:

1. Tragedi 22 Oktober 1965

Pembantaian 3 pelajar oleh pasukan PKI di depan Benteng Vastenburg oleh Batalyon 444 yang juga dikenal sebagai Batalyon Empat Refting.

2. Kerusuhan Krisis Pangan, 6 November 1966 Dimotori gerakan pemuda kota mem- bongkar gudang sembako di seluruh kota utamanya di Kawasan Tambak Segaran.

3. Tahun 1972

Gegeran abang becak vs pemuda Arab tahun 1972. berdampak di selu- ruh kawasan pertokoan pasar Pon dan Coyudan di bakar massa

4. Insiden Kerusuhan Pri vs Non Pri di Mesen Tahun 1980

Mengakibatkan munculnya keru- suhan kota yang berkarakter dan bersi- fat endemis dan pathologis sebagai geja- la awal munculnya penyakit sosial per- kotaan di Solo.

5. Kerusuhan Mei Kelabu 1998

Masih menggambarkan kerusuhan secara endemis dalam ukuran jam, ke- rusuhan meluas hingga kawasan eks ka- residenan Surakarta dan sifat penyakit sosial pathologis kerusuhan senantiasa kambuhan pada skala siklus 15 tahunan 6. Kerusuhan November Kelabu 1999

Amuk massa sebagai dampak ke- kalahan Megawati dalam pencalonan sebagai Presiden

7. Amuk Massa Trek-trekan tahun 2001 Dilakukan oleh kalangan pemuda kota akibat kebut-kebutan di kota. Amuk ini berdampak dibakarnya kantor polisi di tingkat kawasan Gendengan.

(Solopos, 17 Mei 2007)

Kerusuhan sosial yang terjadi pada bu- lan Mei 1998 mengakibatkan kerugian yang

(10)

72 Atik Catur Budiarti “Ketahanan Masyarakat Kota Solo”

tidak terhitung baik materiil maupun non materiil. Penjarahan, kebakaran, pemerko- saan terhadap perempuan Tionghoa, peng- rusakkan, pelemparan bom oleh massa yang membabi buta menghancurkan Kota Solo. Berbagai bangunan yang dianggap

“berbau Tionghoa” di rusak, dibakar dan dijarah. Supermarket, plaza, gedung bios- kop, hotel hancur dan mematikan sendi perekonomian masyarakat.

Biaya sosial dari Mei Kelabu ini harus dibayar oleh semua masyarakat tidak hanya dari etnis Tionghoa saja. Ikatan solidaritas masyarakat Solo dan sekitarnya tercerai be- rai, dan sosialisasi nilai-nilai kekerasan antar generasi pun terjadi. Ingatan masyarakat akan kerusuhan mei 1998 tidak begitu saja mudah dilupakan. Trauma psikologis para korban selalu mengingatkan bagaimana ke- brutalan massa pada waktu itu sangat tidak terkendali. Luapan emosi sesaat mampu menghancurkan bangunan-bangunan baik fisik dan sosial yang selama ini dibangun, hancur hanya dalam waktu sekejap.

Akar persoalan dari kerusuhan anti Tiong- hoa ini sampai sekarang masih menjadi per- debatan baik di kalangan etnis Tionghoa maupun Jawa. Persoalan banyak berujung pada proses saling menyalahkan satu sama lain dengan mencari pembenaran sendiri sehingga menambah runcingnya permasalahan. Sehing- ga, solusi penyelesaian dari masalah ini belum dianggap cukup untuk tidak mengulang lagi kerusuhan anti Tionghoa.

Padahal, keberadaan etnik Cina di Sura- karta tidak dapat dilepaskan begitu saja karena mampu menjadi bandul perubahan tatanan sosial maupun ekonomi di Surakarta. Peran warga Cina dalam perkembangan ekonomi memang tak perlu diragukan seperti keberada- an Pasar Gede berawal dari pasar yang dibidani oleh masyarakat Cina. (Solopos, 15 Februari 2007). Seiring dengan perkembangannya ma- ka terjadilah pembauran sosial antara etnik Cina dan Jawa yang terpusat di Kampung Pe- cinan “Balong”. Keberagaman tersebut mam-

pu memberikan warna baru bagi terjadinya kohesi sosial diantara mereka. Identitas kultural masing-masing tetap dibangun tanpa melalui penyeragaman. Beberapa simbol-simbol kul- tural Cina masih tetap bertahan dan mem- berikan saksi bisu bagi kelanggengan hubu- ngan antar etnik.

Selain itu kebudayaan Cina juga telah membaur dengan kebudayaan masyarakat lokal seperti tradisi Cembengan yaitu meng- arak sepasang batang tebu yang disinyalir merupakan salah satu tradisi masyarakat Cina sebagai hari ziarah. Salah satu contoh kongkrit dari pengakulturasian budaya Cina adalah da- pat dilihat dari motif kain batik seperti burung Hong atau lebih dikenal burung Phoenix dan bentuk sulur (Solopos, 16 Februari 2007).

Dengan berbagai pembauran sosial ini terlihat sebuah pola ketahanan sosial yang dibangun antara etnik Cina dan Jawa yang harapannya mengurangi sumber-sumber konflik. Segala keberagaman kultural yang ada di Indonesia mampu menjembatani terjadinya kesatuan sosial masyarakat.

Tetapi mengapa konflik antar etnis ini masih sering terjadi?

B. Pendekatan Struktural: Kebijakan Penyeragaman

Kebijakan pemerintah Indonesia yang tidak jelas berakibat kerusuhan sosial dima- na warga Tionghoa menjadi sasaran meru- pakan wujud nyata persoalan Tionghoa tidak atau belum terselesaikan. Kebijakan asimilasi yang diterapkan pada era Orde Baru misalnya menjadi salah arah karena muncul persepsi bahwa loyalitas orang-orang Tionghoa dapat dicapai melalui pengingkaran ciri-ciri kultural.

Pendekatan politik ini sangat kental dengan konsep penyeragaman sehingga mereduksi berbagai keunikan yang melekat dalam komunitas Tionghoa. (Jamuin, 2005). Selain itu berkaitan juga dengan konsep pembauran yang diartikan sebagai upaya menghapus atribut asal (indegenous) dan mengadopsi ciri baru yang dianggap mainstream.

(11)

C. Pendekatan Perilaku: Enklusifisme Tionghoa

Melihat berbagai kebijakan yang diam- bil pemerintah, etnis Tionghoa secara indivi- dual dan komunal memilih menekuni satu- satunya bidang yang paling mungkin survive yaitu bidang bisnis (perdagangan). Hal ini menjadi motivator survival of the fitness yang menghasilkan ekses-ekses yang tidak sehat dalam iklim kehidupan komunitas Tiong- hoa ketika berinteraksi dengan komunitas lain non Tionghoa. (Rahardjo, 2005). Iklim yan tidak sehat ini juga akibat pola-pola se- gregasi sosial yang ekslusif secara berlebihan di kalangan komunitas Tionghoa. Implikasi- nya adalah berkembangnya praktek-praktek nepotisme dan patronase dalam relasi bisnis di kalangan etnis Tionghoa.

Persepsi sosial itu akhirnya berkembang ketika eksklusifisme di kalangan konglome- rat yang berasal dari etnis Tionghoa terlibat dalam berbagai kolusi dengan penguasa.

Berbagai bentuk perilaku plutokratis (me- nguasai/mempengaruhi kekuasaan dengan kekayaan atau kekuatan uang) lalu menja- lankan bisnis mereka dengan cara-cara ko- tor. Prasangka negatif lainnya yang dilekat- kan dan dipelihara secara terus menerus adalah bahwa etnis Tionghoa itu pelit, bina- tang ekonomi, konglomerat pengeruk keka- yaan negara, licik, tidak memiliki jiwa nasio- nalis,dll. Sedangkan orang Tionghoa me- mandang orang Jawa juga memiliki pra- sangka yang negatif bahwa orang Jawa itu malas, mau enaknya sendiri (suka meminta bantuan) dan kalau membayar utang tidak menepati janji. (Kinasih, 2005)

D. Pendekatan Culture:Penghilangan Jati Diri Etnis Tionghoa

Karakter yang dilekatkan pada masyara- kat Tionghoa sebagai masyarakat eksklusif didasari pada semangat kekauman yang menjadi dasar bagi etnis Tionghoa. Ajaran

Tahun Peristiwa

1900- an

Penggolongan secara diskriminatif oleh Pemerintah Hindia Belanda ke dalam 3 golongan yaitu:

1. Masyarakat Eropa

2. Golongan Timur Asing (Tionghoa, Arab) 3. Pribumi (penduduk asli)

Penggolongan tersebut membuat Pemerintah Hindia Belanda memberikan hak-hak istimewa kepada orang keturunan Tionghoa misalnya penjualan candu bahkan hak untuk memungut pajak

Adanya system pass dan zoning, pengelompokkan warga Tionghoa ke dalam wilayah tertentu sehingga memunculkan kampung peTionghoan (memberikan persepsi seolah-olah warga Tionghoa sangat ekslusif)

1960 Perpu No. 10 tentang pribumisasi pemerintah yang melarang warga Indonesia keturunan Tionghoa untuk berdagang di tingkat pedesaan.

1965 Warga Tionghoa di bunuh dan ditangkap tanpa proses pengadilan atau prosedur yang jelas atas tuduhan komunisme

1967 Instruksi Presiden No. 14 tahun 1967 yang melarang agama, kepercayaan, ekspresi, seni, dan kebudayaan maupun sastra Tionghoa

1998 Sentiment anti-Tionghoa memuncak pada kerusuhan rasial 14-15 mei 1998

2000 Dikeluarkannya keputusan presiden No. 6 Tahun 2000 untk mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967 membuat ruang demokrasi mulai dibuka kembali

Tabel 1.1

Kebijakan tentang Etnis Tionghoa di Indonesia

Sumber: diolah dari berbagai data

(12)

74 Atik Catur Budiarti “Ketahanan Masyarakat Kota Solo”

Konghucu mengajarkan semangat persau- daraan yang kuat sekali rasa kekauman, dan kekeluargaan yang kuat. Filosofi ini menjadi pegangan bagi masyarakat Tionghoa yang menyatakan bahwa “kolong langit adalah satu rumah dan di empat penjuru lautan adalah saudara”. Pada saat rumah menjadi tempat berlindung pada saat bahagia maka kebaha- giaan menjadi milik anggota keluarga lainnya.

Kesadaran membagi kebahagiaan dengan sesamanya menjadi dasar interaksi masyara- kat Tionghoa. Tidak ada kekuatan mengikat selain ikatan darah. (Kinasih, 2005)

Hal ini berakibat pada struktur keluar- ga yang patrilineal sehingga marga menjadi sangat penting. Karena pengaruh dari mo- dernitas maka struktur keluarga Tionghoa mulai bergeser menjadi struktur keluarga baru (neolokal). Sebagai konsekuensinya ma- ka lambat lain kehilangan ciri khas Tiong- hoa seperti nilai-nilai tradisional keluarga.

Karakteristik lain yang hilang adalah berkai- tan dengan agama. Tiga agama tradisional yang disebut Sam Kao (Taoisme, Budhisme, dan Konfusianisme) jelas kehilangan penga- ruhnya karena tumbuhnya sentimen anti komunis.

E. Ketahanan Masyarakat: Model Pe- ngelolaan Konflik Antar Etnis di Kota Solo

Lingkaran sengketa antar kedua etnis tersebut tidak pernah diselesaikan hingga kini. Negara justru membiarkan dan me- ngambil keuntungan dari situasi semacam ini. Akhirnya sengketa itu melebar meluas dan berubah bentuk menjadi kekerasan massal bahkan terjadi secara berulang-ulang.

Lantas bagaimana dengan kendali pe- merintahan daerah Kota Solo menyelesai- kan masalah ini? Saat ini Pemerintahan Kota Solo (Pemkot Solo) melakukan upaya-upaya pencegahan konflik dengan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola konflik. Program ini dinamakan “Pengem- bangan Ketahanan Masyarakat”.

Program ketahanan masyarakat di Kota Solo selain bertujuan untuk menguatkan kem- bali lembaga dan mekanisme sosial yang mendukung terciptanya budaya damai da- lam masyarakat juga bertujuan sebagai berikut:

1. Memahami dan memetakan akar kon- flik dan kekerasan

2. Memperoleh data mengenai tingkat dan besaran konflik

3. Menyusun model pengelolaan konflik 4. Mengembangkan aktivitas-aktivitas

perdamaian

5. Membangun jejaring lintas etnis dan golongan

(Pedoman Praktis Kesbanglinmas Kota Solo, 2006)

Terciptanya ketahanan masyarakat atau komunitas tertentu merupakan sebuah geja- la sosial yang dijadikan sebagai suatu antisi- pasi dari segala bentuk perubahan sosial, bu- daya. politik dan ekonomi. Istilah ketahanan masyarakat dapat dikembangkan melalui upaya terjaringnya modal sosial yang ada di masyarakat. Baik modal sosial berupa norma dan jaringan sosial, ataupun keperca- yaan sosial yang mampu mendorong tin- dakan kolektifitas demi mencapai manfaat bersama.

Program ketahanan masyarakat ini me- rupakan hasil dari kegiatan yang telah ter- lebih dahulu dilakukan Pemkot Solo beker- jasama dengan UNICEF dari tahun 2001 – 2005 dengan melalui kegiatan. Pemetaan awal yang telah dilakukan Tim Kesbanglin- mas menyebutkan bahwa Kelurahan Giling- an Kecamatan Banjarsari sebagai wakil dari wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi dan Kelurahan Gandekan Kecamatan Jebres sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan sedang. (Pedoman Praktis Kesbanglinmas Kota Solo, 2006)

Dan pada tahun 2006 dimulai program ketahanan masyarakat dengan membentuk kader-kader ketahanan masyarakat di ting-

(13)

kat kelurahan (ada 51 kelurahan). Setiap kelurahan masing-masing mengirimkan 2 warganya untuk diberikan pelatihan ten- tang ketahanan masyarakat. Dalam hal ini, ketahanan masyarakat dilakukan melalui empat tahap yaitu identifikasi dan analisis masalah, penyelesaian masalah, penilaian mandiri secara berkala, dan memelihara dan meningkatkan hasil yang dicapai.

Berbagai kegiatan telah dilakukan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan ketahan- an masyarakat ini dari mulai lokakarya, FGD dengan stakeholder sampai sosialisasi ke tingkat kelurahan. Hasil sementara masih banyak kelurahan yang belum merespon terhadap program ini. Hal ini menurut analisis tim Kesbanglinmas karena kurangnya ke- sadaran masyarakat terhadap kondisi kota.

Terlepas berhasil atau tidaknya program ini di masa mendatang, tampaknya niat baik Pemkot Solo ini perlu mendapat duku- ngan. Karena dengan melalui fasilitasi Pem- kot Solo ini, kepentingan antar warga di tingkat kelurahan dipertemukan dan ini sa- ngat baik bagi hubungan antar warga kota.

Menurut analisa fungsionalisme, masyara- kat mendahului individu. Individu dicetak, ditekan dan dipengaruhi lingkungan sosial- nya. Dengan demikian, kepentingan indivi- du mencerminkan “kesadaran kolektif ” atau sistem nilai masyarakat. Dalam meng- analisa suatu masyarakat, maka tekanan ini disalurkan melalui mekanisme dimana insti- tusi-institusi sosial diintegrasikan satu sama lain untuk mempertahankan keteraturan sosial yang sudah ada (Jhonson, 1990:102).

Menurut Durkheim, realitas dilihat sebagai hasil komunikasi antara kenyataan sosial dan kesadaran. Masyarakat bukan ha- nya realitas melainkan juga milieu yang me- lahirkan ide tentang apa yang real itu. Oleh karena itu, individu haruslah terikat pada masyarakat, terikat pada kolektivitas. Kare- na perlunya suatu ikatan kolektivitas yang mampu menjembatani antara kesadaran in- dividu dengan kesadaran kolektivitas,

semakin besar perubahan sosial yang terjadi sehingga semakin diperlukan sebuah per- antara dalam bentuk organisasi untuk men- cegah kecenderungan disintegrasi. Kalau ke- sadaran kolektif cukup kuat maka kesadar- an itu mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk menetralisasikan perbedaan- perbedaan, sehingga menjadi tambah sensitif terhadap pelanggaran yang semula dianggap sebagai hal yang biasa (Soekamto, 1985).

Hal ini senada dengan pemikiran Roch- wan Achwan yang melihat lembaga-lembaga solidaritas yang ada di masyarakat merupa- kan sebuah jembatan untuk menyederha- nakan dan mengurangi ketidakpastian di dalam kehidupan sosial. Berbagai konflik sosial yang melibatkan ketegangan antar et- nis serta masalah sosial lainnya dapat meng- hilangkan “social trust” di dalam masyara- kat. Akibatnya dapat merenggangkan ikat- an solidaritas antar masyarakat. Dan akhir- akhir ini menunjukkan bahwa lembaga- lembaga solidaritas yang menjadi penopang ketahanan komunitas tersebut, mulai me- ngalami penciutan, keretakan, bahkan ke- lumpuhan. (Hikmat, 2003:6)

Di satu sisi, menurut Muhadjir Effendi yang memperkenalkan “Masyarakat Equili- brium”, menegaskan bahwa sebuah per- ubahan yang terjadi di Indonesia harus di- barengi dengan keseimbangan. Karena tan- pa keseimbangan, perubahan justru akan menghasilkan ketimpangan dan rusaknya tatanan sosial. Perubahan yang diiringi de- ngan keseimbangan inilah yang akan me- wujudkan masyarakat equilibrium. Dengan didukung nilai kebenaran yang ditentukan oleh masyarakat itu sendiri. Tanpa itu, akan menimbulkan suasana yang dalam dunia psikologi disebut itensi paradoksi (pertenta- ngan yang intens). Apalagi, jika pada kenya- taannya terjadi proses benturan-benturan nilai yang ada dalam masyarakat, maka hal itu tidak akan mengarahkan terciptanya new equilibrium tetapi menciptakan disequili- brium baru. (Effendy, 2002:12-13). Itulah

(14)

76 Atik Catur Budiarti “Ketahanan Masyarakat Kota Solo”

sebabnya, menurut Durkheim dalam kehi- dupan sosial perlu adanya solidaritas sosial yang terbentuk dalam masyarakat sebagai proses keseimbangan.

Berbagai perubahan kebijakan politik yang menyangkut Etnis Tionghoa menye- babkan keberadaan mereka sebagai etnis minoritas semakin termajinalkan khusus- nya di Era Orde Baru. Misalnya adanya pela- rangan penggunaan segala macam bentuk simbol-simbol kebudayaan Cina (Tionghoa) termasuk perayaan hari besarnya seperti Imlek. Pengakuan terhadap identitas kultu- ral sebagai sebuah hak yang perlu dimiliki oleh setiap kelompok etnis, diingkari oleh pemerintahan Orde Baru saat itu. Masyara- kat Etnis Tionghoa hanya diberi ruang un- tuk melakukan bisnis semata.

Hasil penelitian Departemen Sosial RI yang dilakukan di empat propinsi (Sumate- ra Utara, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Tengah) menunjukkan bahwa konflik (perubahan sosial) pada tingkat yang paling parah, mengendurkan pranata sosial. Karena, konflik adalah suatu klimaks dari suatu proses panjang dimana masuk dan berkembangnya “virus-virus sosial” ke dalam masyarakat. Konflik berat dalam wu- jud perusakan harta benda hingga nyawa manusia sebenarnya adalah hasil akumulasi proses sosial yang keropos. Oleh karena itu, perlunya memberdayakan pranata sosial dalam kerangka mencegah dan mengantisi- pasi terulang kembalinya konflik sosial.

(Muttaqin, 2002:1)

Ketahanan masyarakat atau Communiti Resilience yang dikembangkan Pemkot Solo merupakan kemampuan masyarakat me- ngelola berbagai gangguan, hambatan, an- caman, dan tantangan yang mempuyai po- tensi konflik dan kekerasan dalam rangka mencapai kehidupan yang harmoni. Hara- pan Pemkot Solo dengan program ketahan- an masyarakat ini adalah:

1. Terbangunnya kesadaran warga akan pentingnya budaya damai dan kesedia-

an warga untuk berperan aktif dalam menciptakan budaya damai

2. Menguatnya peran lembaga-lembaga formal dan informal di masyarakat da- lam mengupayakan perdamaian.

3. Menguatnya peran tokoh-tokoh masya- rakat, agama, etnis dan kepemudaan dalam mengupayakan perdamaian 4. Tersedianya data yang lengkap tentang

pola-pola konflik di masyarakat

5. Terciptanya mekanisme damai dalam pengelolaan konflik di masyarakat 6. Adanya dokumentasi tentang kegiatan-

kegiatan yang dapat menunjang ber- kembangnya perdamaian yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat.

(Pedoman Praktis Kesbanglinmas Kota Solo, 2006)

Terciptanya ketahanan masyarakat diin- dikasikan dengan kemampuan segenap kom- ponen pemerintah, asosiasi lokal, pengusaha, lembaga swadana masyarakat, lembaga pendidikan, lembaga ekonomi, dan lembaga keagamaan, guna melakukan peace keeping (menjaga perdamaian), antisipasi konflik, resolusi konflik, dan social recovery dalam proses kehidupan sosial (Kartono, 2005:39).

Selain itu, komponen-komponen inilah pula yang perlu memelihara dan memainkan fungsinya sebagai adaptasi, integrasi, goal- attainment, dan latence-pattern Maintenace.

Agar, ketahanan masyarakat bukan sebuah impian semata dalam kondisi sosial yang tidak menentu seperti sekarang ini.

Karena apabila dilihat dari perspektif konflik, setiap masyarakat akan selalu me- ngalami konflik akibat perubahan yang mengelilinginya. Konflik merupakan gejala alamiah dan tidak dapat dielakkan dalam kehidupan sosial. Konflik adalah realitas so- sial yang tidak mungkin dihilangkan na- mun dapat diperkecil atau dibatasi sebaran- nya. Dengan pemahaman tersebut, diharap- kan akan ada upaya yang sistematis untuk mengelola konflik dalam bentuk pencegah-

(15)

an ataupun penyelesaian konflik (Muttaqin, dkk, 2003:10).

Durkheim melihat konflik sebagai bagi- an dari kondisi yang anomie. Konflik seba- gai fungsi-fungsi antar elemen di dalam sis- tem sosial. Yakni, kondisi pertentangan yang dialami masyarakat dalam masa tertentu buah dari kehilangan kendali norma dan nilai-nilai sosial yang telah ada (Poloma, 1994). Goerge Simmel, salah satu tokoh dari aliran fungsionalisme, menganalisa konflik juga dalam arti keberfungsiannya. Dalam bukunya Conflict: The Web Of Affiliation Group (1955), Simmel mengatakan bahwa struktur sosial adalah suatu gejala yang men- cakup di dalamnya berbagai proses asosiatif dan disasosiatif yang tidak mungkin dipi- sah-pisahkan, namun dapat dibedakan da- lam analisa. Artinya, dalam kehidupan so- sial, konflik itu dapat menjadi penyebab ataupun pengubah kepentingan-kepenting- an kelompok, organisasi, kesatuan-kesatu- an, dan sebagainya. Konflik juga dapat me- ngatasi ketegangan-ketegangan antara hal- hal yang bertentangan sehingga mencapai perdamaian.

Di sini, konflik tidak harus dianggap sebagai penghancur sistem sosial, namun ju- ga dilihat sebagai perekat dan pembangun integrasi sistem sosial itu sendiri. Perasaan alamiah dalam manusia adalah sumber ter- jadinya konflik. Dalam buku The Fungtions of Social Conflict (1956), Lewis Coser mem- pertegas argumen Simmel bahwa konflik itu bisa menjadi salah satu media integrasi, persemaian yang subur bagi terjadinya per- ubahan sosial, serta penguatan identitas sua- tu kelompok sosial (social group). Kelompok sosial tertentu akan menjadi semakin kuat dan erat ketika mereka memiliki dan meng- hadapi lawan atau musuh dari kelompok sosial lainnya (Poloma, 1994).

Oleh karena itu pengembangan ketaha- nan masyarakat tidak hanya sekedar pada upaya mengubah perubahan menjadi pe- luang dan kesempatan tetapi harus mampu memberikan solusi konflik dan pencegah- annya. Sebuah konsep ketahanan masyara- kat yang lain menawarkan pemahaman bah- wa ketahanan sosial diperlukan pada status sehat (sebagai antibody) dan pada status sakit (sebagai obat). Menurut Rochwan Achwan, suatu komunitas dianggap memi- liki ketahanan masyarakat apabila:

1. Mampu melindungi secara efektif ang- gotanya, termasuk individu dan keluar- ga yang rentan dari kelompok perubah- an sosial yang mempengaruhinya 2. Mampu melakukan investasi sosial da-

lam jaringan sosial yang menguntung- kan

3. Mampu mengembangkan mekanisme yang efektif dalam mengelola konflik dan kekerasan.

(Hikmat,dkk, 2004:7)

Ketahanan masyarakat menggambar- kan kemampuan internal masyarakat dalam menggalang konsensus dan mengatur sumber daya maupun kemampuannya mengantisipasi faktor eksternal menjadi sumber ancaman menjadi peluang. Oleh karena itu ketahanan masyarakat tidak ha- nya dilihat sebagai final or finish product te- tapi juga process or dynamic product (Hik- mat,dkk, 2004:22). Ketahanan masyarakat tidak dapat diartikan dalam batas-batas

“social defence” pada konteks statis, tetapi perlu dimaknai pula sebagai “social resi- liance” yang lebih bercorak dinamis. Mung- kinkah langkah yang diambil Pemkot Solo dengan mengembangkan ketahanan ma- syarakat mampu mewujudkan masyarakat kota yang aman dan nyaman untuk di- tinggali?

(16)

78 Atik Catur Budiarti “Ketahanan Masyarakat Kota Solo”

Daftar Pustaka

Coser, Lewis A.,(1956), The Function of Social Conflict, New York: The Free Press Effendi, Muhadjir, (2002) Masyarakat Equilibrium, Yogyakarta, Bentang Budaya

Hikmat, Harry,dkk, (2004), Indikator Ketahanan Sosial Masyarakat (Kajian Konseptual dan Empirik), Jakarta, Pusat Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat, Departemen Sosial RI

Jamuin, Ma’arif (2001), Memupus Silang Sengkarut Relasi Jawa Tionghoa, Surakarta, Ciscore & The Asia Foundation

Johnson, Doyle Paul, (1990), Teori Sosiologi Klasik dan Modern 2, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama

Kartono, Drajat Tri, (2004), Pembentukan Sistem Ketahanan Sosial Melalui Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan, Surakarta, UNS Press

Kinasih, Ayu Windy (2005), Identitas Etnis Tionghoa di Kota Solo, Yogyakarta, Laboratorium Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM

Muttaqin,dkk, (2003) Model Pemberdayaan Pranata Sosial dalam Penanganan Konflik, Jakarta, Pusat Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat, Departemen Sosial RI Poloma, Margareth, (1994) Sosiologi Kontemporer, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada Rahardjo, Turnomo, (2005), Menghargai Perbedaan Kultural (Mindfulness dalam Komunikasi

Antaretnis), Yogyakarta, Pustaka Pelajar

Simmel, George, (1955), Conflict & Web of Group-Affiliation, Illinois: The Free Press Soekamto, Soerjono, (1985) Aturan-Aturan Metode Sosiologis (Seri Pengenalan Sosiologi 2

Emile Durkheim), Jakarta, CV Rajawali

Thung Ju Lan, (1999), “Konflik Cina – Non Cina” Etnisitas dan Kekuasaan, dalam Proceedings Lokakarya Etnisitas dan Konflik Sosial di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PMB-LIPI)

Sumber pusataka lainnya:

Tim Kota Solo, (2006), Pedoman Praktis Prose Pengembangan Ketahanan Masyarakat Di Kota Solo, Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Solopos, 15 Februari 2007

Solopos, 17 Mei 2007

(17)

DIMENSI SOSIOLOGIS DALAM UPAYA

MENINGKATKAN KUALITAS SUSU SAPI PERAH (Studi Kasus Di Kud Jatinom, Kabupaten Klaten)

Muflich Nurhadi

Sosiologi FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta

Abstract

This Research is done in selected location that is in KUD Jatinom which located in Countryside of Krajan, District Of Jatinom, Sub-Province of Klaten, Province Central Java.

Problem of which emerge and will look for its answer in this research is : Factors What Is Influence the Quality Of Milk of Cow Press out in KUD Jatinom.

To / answer that question, researcher do not use theory, but woke up a framework of think compiled of datas dug by field, later;then with especial Interview guide as a means of to collect data, is beside assisted other by means. like : observation, needed datas can be collected and analysed by using analysis qualitative.

Its result show, that earnings factors, capital, mischief of breeder and weaken control him/

observation become cause fluctuate him of[is quality of dairy cattle milk in KUD Jatinom.

Keywords : Quality, Product, Organization

A. LATAR BELAKANG MASALAH Produksi susu segar di Indonesia umum- nya dihasilkan oleh usaha rakyat dengan pemilikan sapi perah rata-rata 2 -3 ekor per peternak. Jumlah peternak sapi perah saat ini sekitar 100 ribu orang yang tersebar di sentra-sentra produksi sapi perah seperti Ja- wa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Populasi sapi perah di Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2008 sebanyak 114.116 ekor, dengan jumlah peternak sapi perah sekitar 28.400 orang, sedangkan jumlah pro- duksi susunya ada 70.561 ton Dilihat dari sudut populasi sapi perah, Propinsi Jawa Te- ngah menduduki peringkat kedua setelah Jawa Timur. Populasi sapi perah di Jawa Te- ngah berada menyebar di sejumlah wilayah KUD-KUD, di antaranya KUD Musuk,

KUD Cepogo, KUD Mojosongo Boyolali, KUD Getasan Salatiga, KUD Jatinom Klaten dan lain sebagainya.

KUD Jatinom (yang dijadikan lokasi pe- nelitian) terletak didesa Krajan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah, Koperasi ini didirikan pada tahun 1974 dengan nama BUUD, kemudian sete- lah berubah nama menjadi KUD Jatinom pada tahun 1996, dibuat Akte Pendirian ba- ru pada tanggal 30 Oktober 1996, dengan Badan Hukum Nomor 8679 b/Pad/KWK.II/

X/1996.

Pada tahun 1981 (melalui BRI) KUd Jati- nom mendpat bantuan Presiden (Banpres) berupa sapi perah sebanyak 50 ekor, pada tahun 1982 mendapat kredit sapi perah dari BRI sebanyak 250 ekor, kemudian pada ta- hun 1988 mendapat bantuan/kredit dari

(18)

80 Muflich Nurhadi “Dimensi Sosiologis Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Susu Sapi Perah”

Bank Bukopin juga nerupa sapi perah seba- nyak 125 ekor. Pada tahun 1989 – 1990 mendapat kredit sapi perah dari BRI seba- nyak 700 ekor, sehingga total bantuan sapi

NO ASAL

BANTUAN

TAHUN JUMLAH

1 2 3 4

BRI BRI BUKOPIN

BRI

1981 1982 1988 1989-1990

50 250 125 700

TOTAL 1.125

Tabel 1

Penerimaan Bantuan Sapi Perah di KUD Jatinom Mulai tahun 1981 – 1990

Sumber data : Unit Sapi Perah KUD Jatinom.

Sebagian besar produksi susu sapi perah di KUD Jatinom dijual ke Industri Pengolah Susu (IPS) dan sebagian kecil dijual eceran.

Yang dijual ke IPS sering menemui kendala, yaitu kualitas susu sapi perah di KUD Jati- nom kadang-kadang tidak memenuhi stan- dart kualiats susu yang telah ditetapkan oelh IPS, sehingga susu darti KUD jatinom sering Sementara itu jumlah populasi sapi perah diseluruh KUD jatinom pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : sapi laktasi jumlahnya ada 882 ekor, sedangkan induk yang kering jumlahnya ada 241 ekor, untuk

Tabel II

Populasi Sapi Perah KUD Jatinom Tahun 2009

Sumber data : Unit Sapi PerahKUD Jatinom.

INDUK KETURUNAN

NO

LAKTASI KERING DARA PEDET

JANTAN JML

1 1.116 241 686 419 396 2.85

8

ditolak oleh IPS di Jakarta, dan itu berarti kerugian bagi KUD Jatinom. Di bawah ini akan peneliti sajikan tabel standar kualitas susu sapi perah dari IPS dan kualitas susu sapi perah di KUD Jatinom hasil pengetesan susu tanggal 23 dan 25 Mei 2010 sebagai berikut:

perah yang diterima KUD Jatinom mulai tahun 1981 – 1990 sebanyak 1.125 ekor, seperti terlihat tabel dibawah ini.

sapi keturunan yang dara sebanyak 445 ekor, sedangkan pedet sebanyak 419 ekor, untuk sapi jantan berjumlah 386 ekor, sehingga jumlah total seluruhnya adalah 2.373 ekor, seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

(19)

Data diatas menunjukkan bahwa stan- dart kualitas susu yang ditetapkan oleh IPS adalah sebagai berikut : TS (Total Solid) minimal 11 %, NJ (Berat Jenis) : 1.024, fat (Kadar Lemak) : 3.3 %, Angka Kuman < 5 juta / CC, Kandungan Kadar Air Maksimal 10 %, Semakin tinngi TS, BJ dan fat akan semakin baik kualitas susu dan harganya akan semakin tinggi, semakin rendah angka kuman dan kandungan kadar airnya, maka kualitas susu akan semakin baik dan harga- nya pun juga semakin tinggi

B. PERUMUSAN MASALAH

Dari uraian di atas maka dapat diru- muskan masalah sebagai berikut : Faktor- Faktor Sosiologi apa saja Yang Menyebabkan Naik-Turunnya Kualitas Susu di Koperasi Unit Desa ‘ JATINOM’ Kabupaten Klaten?

C. KERANGKA PEMIKIRAN

Faktor pakan dan kebersihan merupa- kan faktor yang sangat menentukan terha- dap produktivitas sapi perah dalam meng- hasilkan susu, baik secara kualitas maupun secara kuantitas. Aspek pakan meliputi ba- han pakan, formulasi ransum. Dan cara pemberiannya merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Zat-zat makanan pada sapi laktasi akan digunakan untuk hidup pokok, pertumbuhan janin didalam kandungan serta untuk produksi

susu. Jika ingin mendapatkan produksi su- su yang tinggi, baik jumlah maupun mutu- nya, maka pakan harus diberikan dalam jumlah yang cukup dan bermutu.

Pakan sapi perah yang cukup dan ber- mutu terdiri dari : makanan penguat dan hijauan. Makanan penguat misalnya kon- sentrat, katul dan lai-lain. Yang sangat ber- pengaruh terhadap kadar SNF, susu. Bahan- bahan yang dipergunakan untuk penyusu- nan konsentrat juga harus berkualitas, dan konsentrat ini diberikan dalam keadaan ke- ring (tidak dicampur dengan air). Tujuan- nya agar derajat keasaman (PH) didalam rumen stabil sehingga berpengaruh positif terhadap jumlah dan kualitas susu yang di- produksi. Derajat keasaman di dalam ru- men dapat stabil apabila : Frekuensi pembe- rian pakan semakin tinggi dan hijauan di- berikan terlebih dahulu untuk merangsang air liur sapi. Air liur sapi mengandung zat buffer yang dapat membuat PH didalam ru- men menjadi stabil. Sapi perah saat laktasi sangat memerlukan dukungan kualitas dan kuantitas rangsum yang diberikan, yaitu untuk konsentrat kira-kira 7 kg, apabila be- rat sapi perahnya -/+ 400 kg, dan untuk hi- jauannya misalnya rumput gajah perlu di- berikan kira-kira 40 kg atau kurang lebih 10 % dari beratnya.

Selain itu pemberian hijauan atau serat kasar juga sangat penting, karena hijauan

HASIL PENGETESAN DI KUD NO KUALITAS SUSU STANDART IPS

TINGGI SEDANG RENDAH 1

2 3 4 5 6

Fat SNF TS

BJ Minimal Protein Mineral Kadar Air Mak

3.3 7.7 11 1.024

2.6 10

3.8 6.86 10.66 23.56 2.72 16.73

2.93 6.63 9.56 22.07

2.63 20.38

2.77 5.84 8.61 19.21

2.33 30.38 Tabel III

Standar kualitas Susu IPS dan Kualitas Susu KUD Jatinom Hasil Pengetesan tanggal 23 dan 25 Mei 2010

Sumber Data : Hasil Laporan Tes Susu di Kelompok Tanggal 23 dan 25 Mei 2010.

(20)

82 Muflich Nurhadi “Dimensi Sosiologis Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Susu Sapi Perah”

bisa berpengaruh terhadap tinggi rendah- nya kandungan lemak dalam susu. Pembe- rian hijauan tidak harus satu macam, sebaik- nya dilakukan substitusi hijauan dengan tanaman leguminosa yang pada umumnya mengandung protein kasar yang cukup tinggi, misalnya daun turi, daun lamtara, daun kaliandra, rendeng kacang tanah, daun katul dll, daun-daun itu akan bisa mening- katkan kadar rotein ransum dan otomatis akan menurunkan jumlah pemberian kon- sentratnya.

Sementara itu kebersihan meliputi ke- giatan sanitasi kandang, sanitasi peralatan, kebersihan puting, dan kebersihan sapi se- cara keseluruhan, kebersihan yang berkait- an dengan kegiatan pemerahan, ambing sa- pi perah harus dilakukan dengan menggu- nakan aturan dan metode yang sudah di- tentukan agar diperoleh kualitas dan kuan- titas susu yang optimal.

Ada tiga fase kegiatan pemerahan yang harus dikerjakan, yang kesemuanya itu akan berpengaruh terhadap angka kuman dan kadar air dalam susu yaitu :

a. Pra pemerahan, yaitu persiapan yang terdiri dari memandikan sapi yang akan diperah, membersihkan kandang, mem- persiapkan peralatan yang digunakan dalam pemerahan dan lain sebagainya.

b. Pelaksanaan pemerahan, yaitu kegiat- an pemerahan yang terdiri atas, massa- ge ambing dengan air hangat, mengoles puting dengan vaselin, pemerahan am- bing sampai tuntas (apak) dan member- sihkan puting setelah pemerahan.

c. Pasca pemerahan, yaitu kegiatan setelah pemerahan puting, yang terdiri dari penyaringan susu, pengukuran kualitas dikelompok dan mengantar susu ke KUD.

Susu murni adalah cairan yang berasal dari ambing sapi sehat yang diperoleh de- ngan cara pemerahan yang benar tanpa me- ngurangi atau menambah sesuatu kompo- nen atau bahan lain. Susu merupakan hasil

utama pada usaha sapi perah rakyat yang dihasilkan dan harus memenuhi syarat HAUS yaitu :

a. Halal, tidak bersentuhan dengan barang atau zat yang diharamkan, misalnya pada saat pemerahan bersentuhan dengan barang yang haram atau najis.

b. Aman, tidak mengandung bibit penya- kit, susu yang tidak aman misalnya me- ngandung mikroba atau kuman-kuman.

c. Utuh, tidak dikurangi atau ditambah de- ngan zat lain, misalnya ditambah air, San- tan, tepung, gula atau bahan-bahan lain.

d. Sehat, tidak mengandung/dicampur dengan zat berbahaya, misalnya pestisi- da, Logam berat, antibiotika dll, zat-zat tersebut akan membahayakan kesehat- an masyarakat konsumen susu serta merugikan industri pengolahan susu.

Kandungan gizi pada susu murni, mi- salnya kadar lemak dan protein, erat kaitan- nya dengan pakan yang diberikan. Akibat pemberian pakan kurang baik, kandungan gizi susu murni dalam negeri lebih rendah daripada susu import. Selain itu kebersihan yang kurang akan mengakibatkan jumlah mikroba dalam susu murni dalam negeri cukup tinggi (diatas 3 juta/ml) Padahal har- ga jual susu ke KUD/Koperasi susu dihitung berdasarkan kualitas, terutama kadar le- mak, SNF, angka kuman/mikroba dalam susu, dan kadar air dalam susu, Kadar le- mak dan SNF berkaitan langsung dengan kualitas pakan. Makin baik kualitas pakan makin baik pula kualitas susu yang dihasil- kan, sehingga peternak berpeluang untuk mendapatkan keuntungan yang lebih ting- gi. Oleh karena itu peternak harus dapat membuat target jumlah dan kualitas susu yang ingin diproduksi.

D. METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian

Kegiatan penelitian dapat dibeda- kan menjadi beberapa jenis. Dilihat dari pilihan lokasinya yaitu di Koperasi Unit

(21)

Desa Jatinomn, maka penetian ini lebih bersifat “Field – research”, sedang kalau dilihat dari tujuannya yaitu ingin me- ngetahui faktor-faktor yang menyebab- kan naik-turunnya kualitas susu di KUD Jatinom, penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian, “eksplorasi” sebab tujuan dari penelitian ini tidak begitu familiar dengan peneliti, dan literatur- literatur serta hasil-hasil penelitian yang membahas masalah ini masih langka.

Kalau dilihat dari kegunaannya, peneliti- an ini dapat digolongkan kedalam pene- litian terapan (Applied-serearch), ke- giatan penelitian ini untuk memecahkan masalah faktor-faktor yang menyebab- kan naik-turunya kualitas susu sapi pe- rah di Koperasi unit Desa Jatinom, se- hingga kegunaannya bersifat praktis.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini menuntut untuk dipi- lihnya suatu lokasi penelitian yang di dalamnya terdapat peternak sapi perah serta koperasi susu yang mengelola sapi perah dan produk sapi perahnya. Ada beberapa Koperasi di Jawa Tengah, di antaranya KUD Semarang, KUD Getas- an, KUD Cepogo, KUD Musuk, KUD Mojosongo, dan KUD Jatinom, Di KUD Jatinom peneliti sudah sering mengada- kan pengabdian masayarak disana, se- hingga sudah terjalin interaksi sosial antara peneliti dan pengurus serta de- ngan para karyawan dan beberapa pe- ternak, Itulah sebabnya pilihan lokasi penelitian jatuh ke Koperasi Unit Desa Jatinom.

3. Subyek penelitian

Penelitian ini mengambil informan sembilan orang, baik informan utama maupun informan pembantu, yang terdiri dari :

- Satu penguru KUD Jatinom yang membidangi masalah peternakan dan persusuan.

- Tiga prang karyawan KUD Jatinom yang mengurusi peternakan dan Persusuan, yaitu Dokter Hewan, Petugas IB (Insenminasi buatan) dan Ketua Unit peternakan yang kebetulan juga menjadi ketua ke- lomok sapi perah.

- Lima peternak sapi perah KUD Jatinom, yang berasal dari kayumas dan Bandungan.

4. Populasi dan sampel a. Populasi

Populasi penelitian ini adalah seluruh peternak di wilayah kerja KUD Jatinom, seluruh karyawan dan pengurus KUD Jatinom, Ka- rakteritik populasi ini tidak tercatat dikantor Kecamatan Jatinom, mau- pun dikantor-kantor desa se wila- yah kecamatan Jatinom. Untuk da- pat mengidentifikasi populasi yang demikian maka dilakukan pra- survey. Dengan metode ini dapat diketahui bahwa jumlah peternak di KUD Jatinom sebanyak 1286 orang, jumlah karyawan KUD Jati- nom 64 orang, dan jumlah pengu- rus KUD Jatinom 5 orang. Sedang- kan jumlah sapi perahnya 2858 ekor dan jumlah produksi susunya 10.044 liter/hari.

b. Teknik Pengambilan sampel Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Purposive samping. Teknik ini dapat digunakan apabila anggo- ta sampel dipilih secara khusus ber- dasarkan tujuan penelitian.

Peneliti cenderung untuk memilih informan yang dianggap mengetahui informasi dan dapat di- percaya untuk menjadi sumber dari pengambilan data.

Pelaksanaan pengambilan data dan pilihan informan dapat ber-

(22)

84 Muflich Nurhadi “Dimensi Sosiologis Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Susu Sapi Perah”

kembang sesuai dengan kebutuh- an, yang diangap tahu dalam tek- nik purposive sampling adalah : - Pengurus Koperasi Unit Desa

Jatinom yang membidangi ma- salah Peternakan dan persusuan.

- Karyawan KUD Jatinom yang membidangi peternakan dan persusuan.

- Para peternak.

c. Sample

Dari teknik pengambilan sam- pel diatas yaitu porposive sampling, maka ditentukanlah sample pene- litian sbb;

- Satu orang pengurus KUD Jati- nom yang membidangi peter- nakan dan persusuan.

- Tiga orang karyawan KUD Jatinom yang membidangi pe- ternakan dan persusuan.

- Lima orang peternak.

5. Teknik Pengumpulan Data

Dalam kontak penelitian ini langkah yang diambil adalah dengan meneliti se- buah kesadaran individual yang menga- cu pada kesadaran umum dan kemudian melihat pula hubungan antar keduanya.

Pada level empiris guna meneliti konstruksi-konstruksi subyektif para peternak dan orang bergerak/bertugas di peternakan dan persusuan, maka akan dilakukan pengambilan data de- ngan teknik sbb :

a. Wawancara

Wawancara terstruktur menurut aturan topik-topik atau urutan sub- sub pokok bahasan, terutama untuk memperoleh data primer, yaitu data yang diperoleh dari unit sampel.

Dalam wawancara ini akan diguna- kan interview guide agar lebih flek- sibel dan dikembangkan sesuai de- ngan tujuan penelitian, disamping itu juga dilakukan indepth-interview

untuk memperoleh informasi secara mendalam dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa dikembangkan. Hal ini dilakukan karena peternak tidak mudah mem- beri data yang valid atau informasi yang sebenarnya karena pengaruh kultur pedesaan.

b. Observasi.

Observasi yang dipilih adalah observasi non partisipasi, baik untuk pra-survey maupun untuk me- ngambil data primer. Sekunder pa- da penelitiannya.Observasi dilaku- kan terutama untuk mengamati se- tiap aktivitas peternak yang menjadi informan, khususnya pada saat pemberian pakan, pemerahan, pe- ngiriman ke kelompok maupun pe- ngiriman dari kelompok ke KUD Jati- nom dan lain sebagainya. Observasi ini bisa dipakai untuk mengambil data primer maupun data sekunder terutama dari unit-unit penelitian.

c. Dokumentasi

Dokumentasi ini juga dilaku- kan pada pra-survey dan pada pe- nelitiannya.Teknik ini dilakukan untuk mengumpulkan data-data skunder yang bersumber dari do- kumen, arsip, jurnal dan sebagainya.

Diantaranya adalah data tentang po- pulasi sapi, produksi susu sapi perah, laporan hasil tes susu kelompok, jumlah peternak dan jumlah sapi perah dan lain-lain yang berhu- bungan dengan tujuan penelitian.

6. Validasi Data.

Untuk menjamin kevalidan data yang diperoleh di lapangan, akan digu- nakan teknik trianggulasi. Dalam pene- litian ini peneliti menggunakan triang- gulasi sumber, yaitu menggunakan sumber data untuk data yang sama.

Gambar

Tabel II
Diagram gerak dan langkah organisasi (Andreas Hartmann; 2006 : 161)
Gambar 1. Roadmap penelitian pemberdayaan komunitas sektor informal PKL

Referensi

Dokumen terkait

Pemanfaatan kotoran ternak (sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, ayam, dan itik) sebagai penghasil biogas bukan saja dapat menambah suplai energi, tetapi dapat pula

Kemudian etika tersebut akan menuntun dan memberikan pengarahan kepada orang tersebut untuk dapat berperilaku tepat dan sesuai dengan norma yang berlaku dalam suatu

Sementara pendidikan ilmu komunikasi yang berorientasi operasi teknis membutuhkan teori praktis yang biasanya dikem– bangkan para praktisi bidang komunikasi dan metodologi berupa

division of culture and tourism of the city government displays the regulation of the major of Malang on the Master Plan of the Development of Regional Tourism

Yaitu suatu gerakan atau variasi yang menunjukan arah perkembangan secara umum (kecenderungan menaik atau menurun) dan bertahan dalam jangka waktu yang digunakan

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi penerapan model pem- belajaran kooperatif tipe STAD berbantuan permainan maju mundur untuk meningkatkan

Berdasarkan hasil pengujian, dapat ditarik kesimpulan bahwa dapat tercapai akurasi sistem sebesar 100% memakai fungsi kernel Linear pada setiap situasi berdasarkan umur dengan

Sementara itu, pada cerita rakyat “Si Kelingking” dari Bangka Belitung, di akhir cerita tokoh utama meraih kebahagian karena kedua orang tuanya menerima dirinya