D. Rancangan Penelitian
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian Kadar Kurkuminoid dan Aktivitas Antioksidan Oleoresin Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Pada Berbagai Teknik Pengeringan dan Warna Kain Penutup ini adalah :
1. Penggunaan solar dryer berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif oleoresin temulawak. Perlakuan dengan solar dryer memiliki kadar senyawa aktif (kurkuminoid, total fenol dan antioksidan) yang lebih tinggi dari pada perlakuan dengan sinar matahari.
2. Penggunaan warna kain penutup berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif oleoresin temulawak. Perlakuan dengan kain penutup putih memiliki kadar senyawa aktif (kurkuminoid, total fenol dan antioksidan) yang lebih tinggi dari pada perlakuan tanpa kain dan kain penutup hitam. 3. Terjadi interaksi antara teknik pengeringan dan warna kain penutup pada
kadar total fenol tetapi tidak terjadi interaksi pada kadar kurkuminoid dan kadar antioksidan oleoresin temulawak.
4. Kombinasi solar dryer dan kain penutup putih merupakan teknik pengeringan yang efektif yang dapat meminimalkan terjadi kerusakan pada senyawa aktif (kurkuminoid, total fenol dan antioksidan) temulawak jika dibandingkan dengan kombinasi lainnya.
B. Saran
1. Penggunaan solar dyer dan kain penutup putih dapat diaplikasikan ke masyarakat khususnya pembuat jamu karena perlakuan ini dapat meminimalkan terjadinya kerusakan pada senyawa aktif temulawak yaitu kurkuminoid, total fenol dan antioksidan.
2. Perlu dilakukan penelitian dengan menggunakan alat pengeringan lainnya yaitu alat pengering listrik seperti oven dan kabinet dryer untuk mengetahui seberapa efektif pengering tersebut dalam meminimalkan
lvii
terjadinya kerusakan pada senyawa aktif temulawak yaitu kurkuminoid, total fenol dan antioksidan.
3. Penelitian ini masih perlu disempurnakan dengan penelitian lebih lanjut tentang oleoresin temulawak pada perlakuan teknik pengeringan dan warna kain penutup yang dapat dilanjutkan dengan menguji cobakan pada in vivo untuk mengetahui efek oleoresin temulawak terhadap kesehatan.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
C. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian Kadar Kurkuminoid dan Aktivitas Antioksidan Oleoresin Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Pada Berbagai Teknik Pengeringan dan Warna Kain Penutup ini adalah :
5. Penggunaan solar dryer berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif oleoresin temulawak. Perlakuan dengan solar dryer memiliki kadar senyawa aktif (kurkuminoid, total fenol dan antioksidan) yang lebih tinggi dari pada perlakuan dengan sinar matahari.
6. Penggunaan warna kain penutup berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif oleoresin temulawak. Perlakuan dengan kain penutup putih memiliki kadar senyawa aktif (kurkuminoid, total fenol dan antioksidan) yang lebih tinggi dari pada perlakuan tanpa kain dan kain penutup hitam. 7. Terjadi interaksi antara teknik pengeringan dan warna kain penutup pada
kadar total fenol tetapi tidak terjadi interaksi pada kadar kurkuminoid dan kadar antioksidan oleoresin temulawak.
8. Kombinasi solar dryer dan kain penutup putih merupakan teknik pengeringan yang efektif yang dapat meminimalkan terjadi kerusakan pada
lviii
senyawa aktif (kurkuminoid, total fenol dan antioksidan) temulawak jika dibandingkan dengan kombinasi lainnya.
D. Saran
1. Penggunaan solar dyer dan kain penutup putih dapat diaplikasikan ke masyarakat khususnya pembuat jamu karena perlakuan ini dapat meminimalkan terjadinya kerusakan pada senyawa aktif temulawak yaitu kurkuminoid, total fenol dan antioksidan.
2. Perlu dilakukan penelitian dengan menggunakan alat pengeringan lainnya yaitu alat pengering listrik seperti oven dan kabinet dryer untuk mengetahui seberapa efektif pengering tersebut dalam meminimalkan terjadinya kerusakan pada senyawa aktif temulawak yaitu kurkuminoid, total fenol dan antioksidan.
3. Penelitian ini masih perlu disempurnakan dengan penelitian lebih lanjut tentang oleoresin temulawak pada perlakuan teknik pengeringan dan warna kain penutup yang dapat dilanjutkan dengan menguji cobakan pada in vivo untuk mengetahui efek oleoresin temulawak terhadap kesehatan.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
E. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian Kadar Kurkuminoid dan Aktivitas Antioksidan Oleoresin Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Pada Berbagai Teknik Pengeringan dan Warna Kain Penutup ini adalah :
9. Penggunaan solar dryer berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif oleoresin temulawak. Perlakuan dengan solar dryer memiliki kadar senyawa aktif (kurkuminoid, total fenol dan antioksidan) yang lebih tinggi dari pada perlakuan dengan sinar matahari.
10. Penggunaan warna kain penutup berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif oleoresin temulawak. Perlakuan dengan kain penutup putih
lix
memiliki kadar senyawa aktif (kurkuminoid, total fenol dan antioksidan) yang lebih tinggi dari pada perlakuan tanpa kain dan kain penutup hitam. 11. Terjadi interaksi antara teknik pengeringan dan warna kain penutup
pada kadar total fenol tetapi tidak terjadi interaksi pada kadar kurkuminoid dan kadar antioksidan oleoresin temulawak.
12. Kombinasi solar dryer dan kain penutup putih merupakan teknik pengeringan yang efektif yang dapat meminimalkan terjadi kerusakan pada senyawa aktif (kurkuminoid, total fenol dan antioksidan) temulawak jika dibandingkan dengan kombinasi lainnya.
F. Saran
1. Penggunaan solar dyer dan kain penutup putih dapat diaplikasikan ke masyarakat khususnya pembuat jamu karena perlakuan ini dapat meminimalkan terjadinya kerusakan pada senyawa aktif temulawak yaitu kurkuminoid, total fenol dan antioksidan.
2. Perlu dilakukan penelitian dengan menggunakan alat pengeringan lainnya yaitu alat pengering listrik seperti oven dan kabinet dryer untuk mengetahui seberapa efektif pengering tersebut dalam meminimalkan terjadinya kerusakan pada senyawa aktif temulawak yaitu kurkuminoid, total fenol dan antioksidan.
3. Penelitian ini masih perlu disempurnakan dengan penelitian lebih lanjut tentang oleoresin temulawak pada perlakuan teknik pengeringan dan warna kain penutup yang dapat dilanjutkan dengan menguji cobakan pada in vivo untuk mengetahui efek oleoresin temulawak terhadap kesehatan.
lx DAFTAR PUSTAKA
Abubakar; Edy Mulyono dan Yulianingsih, 2006. Prospek oleoresin dan penggunaannya di Indonesia. Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian. Bogor.
Ahsan, et al. 1999. Chemico.-Biological Interaction. 121 (2), 161-175.
Anonim, 1985. Simposium Nasional Temulawak. Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran. Bandung.
Anonim. 2007. Curcuma xanthorrhiza (Temulawak): Morfologi, Anatomi dan Fisiologi.http://toiusd.multiply.com/journal/item/240/Curcuma_xanthorrhi za_Temulawak_-_Morfologi_Anatomi_dan_Fisiologi. Diakses pada tanggal 29 Desember 2009.
Anonima. 2008. Oleoresin.
http://simonbwidjanarko.wordpress.com/2008/07/03/ekstraksi-oleoresin-atau-bahan-aktif-tumbuhan-dengan-pelarut/. Diakses pada 30 Desember 2009.
Anonimb. 2008. Teknologi Penyiapan Simplisia Terstandar Tanaman Obat
http://thepharmacyst.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 1 Januari 2010. Anonimaa. 2009. Temulawak. http://www.osun.org/temulawak-pdf-3.html.
Diakses pada tanggal 30 Desember 2009.
Anonimb. 2009. Teknologi Pengolahan Oleoresin.
http://cecepharisnurhidayat.blogspot.com/2009/01/teknologi-pengolahan-oleoresin.html. Diakses pada tanggal 1 Januari 2010.
Anonimc. 2009. Warna. http://www .adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-gdl-s1-
2006-revelinair-1655&PHPSESSID=0f42861a12c9da15b5d4cb83ecccc8bd. Diakses pada
tanggal 5 Januari 2010. Diakses pada tanggal 6 Januari 2010.
Anonimd. 2009. Ekstrak temulawak.
http://www.google.co.id/search?hl=id&lr=lang_id&client=firefox-a&channel=s&rls=org.mozilla:id:official&q=oleoresin&start=20&sa=N
lxi
Aprita, Ika Rezvani. 2008. Gambaran Umum Isolasi Oleoresin dari Jahe secara Ekstrasi. http://rezvani.blog.friendster.com/. Diakses pada tanggal 5 Januari 2010.
Cahyono, B. 2007. Standardisasi Bahan Baku Obat Alam. Seminar Nasional Penggunaan Obat Bahan Alam Dalam Pelayanan Kesehatan. Semarang. Dalimartha, S. dan Soedibyo, M. 1999. Awet Muda Dengan Tumbuhan Obat dan
Diet Supleme., Trubus Agriwidya, Jakarta. hal. 36-40.
Eryanto dkk. 2009. Pengambilan Oleoresin Jahe Dengan Metode Ekstraksi.
http://oleoresin-ekstraksi/detil.php.htm. Diakses pada tanggal 1 Januari 2010.
Fessenden, R.J dan Fessenden, J.S. 1989. Kimia Organik Jilid 2, Edisi Ketiga. A.b: Aloyrius Hadyana Pudjaatmaka Ph.D. Penerbit Erlangga. Jakarta. Hartiwi. 2001. Pengaruh Waktu Pemanasan dan Kombinasi Ekstrak Jahe, Kunit,
Kencur dan Temulawak Terhadap Daya Tangkap Radikal Bebas (DPPH). UGM. Yogyakarta.
Huda, Muhammad D.K dkk. 2008. Pengaruh proses pengeringan terhadap kandungan kurkuminoid dalam rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza roxb.). Jurusan Kimia FMIPA UNDIP Jl. Prof. Soedarto, SH, Tembalang, Semarang.
Jayaprakasha, G. K., Jagan Mohan Rao, L., dan Sakariah, K. K. 2005. Chemistry and biological activities of C. longa. Trends in Food Science and Technology 16, 533-548.
Jayaprakasha, G. K., Jaganmohan Rao. L., dan Sakariah K. K. 2006. Antioxidant activities of curcumin, demethoxycurcumin and bisdemethoxycurcumin. Food Chemistry 98, 720-724.
Jitoe A., T. Masuda, I.G.P. Tengah, D.N. Suprapta, I.W. Gara, dan N. Nakatani. 1992. Antioxidant activity of tropical ginger extracts analysis of the contained curcuminoids. J. Agric. Food Chem. 40: 1337-1340.
Kemala, S., Sussiarto, Pribadi A.R, Yuhono, J.T., Yusron, M. Mauludi, M. Raharjo, M. Ferry, Y. Waskito, B., dan Nurhayati, H. 2003. Studi Serapan Pasokan dan Pemnafaatan Tanaman Obat di Indonesia. Laporan teknis
lxii
Penelitian Bagian Proyek Penelitian Tanaman Rempah dan Obat APBN tahun 2004. Balai Peneliian Rempah dan Obat. Bogor.
Kinsella, J.E., Frankel, E., German, B. and Kanmer, J., 1993. Possible Mekanisme for the Protective role of Antioxidants in Wine and Plant Foods J Food Technology. 4:5-89.
Krisnamurthy. 1976. Budidaya Temulawak. http://localhost /budidaya%20temulawak/manfaat%20temulawak%20«%20informasi%20 petani%20INDONESIA.htm. Diakses pada tanggal 1 Januari 2010. Kumalaningsih, Sri. 2006. Antioksidan Alami. Trubus Agrisarana. Surabaya. Lestari, S. 1978. Pengaruh Blanching dan Cara Pengeringan Terhadap Kualitas
Temulawak Kering. Fakultas Teknologi Pertanian, UGM. Yogyakarta. Majeed, M., Badmaev, V., and Rajendran, R., 1999. Bioprotectant Composition
Method of Use and Extraction Process of Curcuminoid, United States Patent, 5,861,415.
Pudjihartatti, L., 1999. Stabilitas Antioksidan Ekstrak Kunyit ( Curcuma Domestica) selama penyimpanan Umbi dan Pemanasan. Thesis. UGM. Yogyakarta.
Putra. 2009. Laporan Praktikum Fitokimia.
http://rizkytrondol.blogspot.com/2009/04/laporan-praktikum-fitokimia-oleh-rizky.html. Diakses pada tanggal 1 Januari 2010
Pratomo, 2009. Solar Tunnel Driyer, Pengering Pangan Efisien dan Higenis.
http://obortani.com/2009/03/26/solar-tunnel-driyer-pengering-pangan-efisien-dan-higenis/). Diakses pada tanggal 1 Januari 2010.
Price, L. C., dan Buescher, R. W., 1996. Decomposition of Turmeric Curcuminoids as Affected by Ligth, Solvent and Oxygen. J. Food Biochem. 20 : 125-133.
Rachman. 2009. Teknologi Pengeringan Bahan Makanan.
http://localhost/pengeringan/Wizz%20Aditya%20Rachman_%20Teknolog
i%20Pengeringan%20Bahan%20Makanan.mht. Diakses pada tanggal 1
lxiii
Rahardjo, Mono dan Otih Rostiana. 2005. Budidaya tanaman temulawak. Sirkuler No. 11. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. p.1-7.
Rohman, Saepul 2008. Teknologi-pengeringan-bahan-makanan.
http://majarimagazine.com/2008/12/teknologi-pengeringan-bahan-makanan/. Diakses pada tanggal 30 Desember 2009.
RSNI. 2006. Sosialisasi RSNI Temulawak. Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB. Bandung.
Said, Ahmad. 2009. Oleoresin Temulawak.
http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=11&ved=0C
AcQFjAAOAo&url=http%3A%2F%2Fwww.kadin- indonesia.or.id%2Fenm%2Fimages%2Fdokumen%2FKADIN-103-1604-13032007.pdf&rct=j&q=perbandingan+bahan+dan+pelarut+dalam+pemb uatan+oleoresin&ei=hVw4S7_GOs6GkAWC7pH5DA&usg=AFQjCNFS
PB40CtR9Z9PrCjJ5ojG9BBNt-g. Diakses pada tanggal 5 Januari 2010.
Sembiring, Bagem Br ; Ma'mun ; Ginting, Edi Imanuel. 2006. Pengaruh kehalusan bahan dan lama ekstraksi terhadap mutu ekstrak temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb). Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat ; 17 (2) 2006: 53-58.
Sembiring, B. 2007. Teknologi Penyiapan Simplisia Terstandar Tanaman Obat. Warta Puslitbangbun Vol. 13 No. 2
Setiawan, Dalimartha. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Trubus Agriwidya. Jakarta.
Sidik, Moelyono M.W. dan Ahmad Muhtadi, 1995. Temulawak (Curcuma xanthoriza). Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medica. 200 hal.
Siswanto, Yuli Widiyastuti. 2004. Penanganan Hasil Panen Tanaman Obat Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.
Srijanto, Bambang dkk., 2004. Pengaruh waktu, suhu dan perbandingan bahan baku-pelarut pada ekstraksi kurkumin dari temulawak (curcuma xanthorriza roxb.) Dengan pelarut aseton. Prosiding seminar nasional
lxiv
rekayasa kimia dan proses 2004 jurusan teknik kimia fakultas teknik f-1-5 universitas diponegoro semarang.
Stankovic, I. 2004. Curcumin Chemical and Techical Assessment (CTA)”, 61st JECFA.
Sudarmajdi, dkk. 1997. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan Dan Pertanian (Edisi Keempat). Liberty. Yogyakarta.
Suhartono, E., Fujiati, Aflanie, I. 2002. Oxygen toxicity by radiation and effect of glutamic piruvat transamine (GPT) activity rat plasma after vitamine C treatmen, Diajukan pada Internatinal seminar on Environmental Chemistry and Toxicology, Yogyakarta.
Sukardi. 2003. Studi Stabilitas Antioksidan ekstrak Daun Dewa (Gynura procumbenslour Merr) Selama Pemanasan Dalam Menangkap Radikal Bebas. LEMLIT UMM. Malang.
Tonnesen. H.H. and J. Karlsen. 1985. Studies On Curcumin and Curcuminoids Alkaline Degradation of Curcuming Z.Lebens, Unters, Forsch, 180 : 132-134.
Wahyuni dkk. 2004. Ekstrak Kurkumin Dari Kunyit. Jurusan Teknik Kimia, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta. Yoyakarta.
Water house, A. 1999. Folin Ciocalteau Mikro Methode For Total Fenol In Wine. Departement of Viiculture and Ekology Universitas of California. USA. Widiyanti, Ratna. 2006. Analisa Kandungan Antioksidan dan Fenol pada Jahe.
Universitas Indonesia. Jakarta.
Wulandari, Rina Ratna. 2009. Uji Aktivitas Penangkap Radikal DPPH Analog Kurkumin Siklik dan N-Heterosiklik Monoketon. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
Yadie, 2009. Kenapa warna hitam lebih menyerap panas dari pada warna putih.
http://matahatidantelinga.blogspot.com/2009/05/kenapa-warna-hitam-lebih-menyerap-panas.html. Diakses pada tanggal 18 Januari 2010.
lxv
Yani, Endri; Abdurrachim; Adjar Pratoto. 2009. Analisis Efisiensi Pengeringan Ikan Nila Pada Pengering Surya Aktif Tidak Langsung. Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas. Padang. Sumatera Barat.
Y. Kiswanto.2000. Perubahan kadar senyawa bioaktif Rimpang temulawak dalam penyimpanan ( Curcuma xanthorrhiza Roxb). Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian (INTAN) Yogyakarta. Yogyakarta.
Zahro, Laely dkk. 2008. Profil Tampilan Fisik dan Kandungan Kurkuminoid dari Simplisia Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) pada Beberapa Metode Pengeringan. Jurnal Sains & Matematika. Volume 17 Nomor 1. Hal : 24-32