• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen TUGAS AKHIR PENERAPAN MRP PADA PERENCANA (Halaman 19-77)

Berisi tentang kesimpulan dan saran yang dapat memberi masukan guna pertimbangan bagi perusahaan.

BAB II

2.1. Persediaan

2.1.1. Definisi dan peranan persediaan

Setiap perusahaan yang mengolah bahan baku menjadi produk jadi akan selalu mengadakan persediaan, baik persediaan bahan baku, persediaan bahan dalam proses, maupun persediaan produk jadi. Tanpa adanya persediaan perusahaan akan dihadapkan pada resiko bahwa perusahaan tersebut tidak dapat memenuhi permintaan konsumen maupun permintaan dalam proses produksi.

Disamping itu yang perlu diperhatikan dalam persediaan adalah biaya-biaya yang ditanggung perusahaan. Oleh karena itu persediaan yang ada pada perusahaan harus dalam keadaan seimbang antara persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan produk jadi.

Apabila terjadi kekurangan persediaan akan mengakibatkan terganggunya proses produksi, demikian pula apabila terjadi kelebihan persediaan perusahaan akan menanggung biaya penyimpanan yang besar. Itulah resiko yang terjadi apabila perusahaan tidak dapat menerapkan adanya keseimbangan pengadaan persediaan.

Beberapa definisi persediaan yang sering dikemukakan adalah sebagai berikut :

1. Persediaan didefinisikan sebagai suatu aktiva yang meliputi usaha barang milik dengan maksud dapat dijual dalam periode usaha yang normal atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses

produksi atau persediaan bahan mentah yang menunggu penggunaannya dalam proses produksi (Assauri. S, 1987).

2. Persediaan dapat didefinisikan sebagai bahan yang ada di gudang yang dapat digunakan pada masa yang akan datang (Biegel, 1974). Bahan yang dimaksud disini dapat berupa bahan mentah untuk keperluan produksi, bahan setengah jadi, atau barang jadi yang siap dipasarkan.

3. Teori persediaan memberikan penentuan proses yang optimal untuk mendapatkan perkiraan kebutuhan masa yang akan datang (Starr dan Miller, 1986).

Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa persediaan adalah merupakan barang atau bahan baik bahan mentah, bahan setengah jadi, maupun barang jadi yang dengan sengaja disimpan menurut cara-cara tertentu sehingga dapat digunakan pada masa yang akan datang dengan menguntungkan.

2.1.2. Jenis-jenis persediaan

Berjalan lancarnya proses produksi dalam perusahaan adalah suatu hal yang sangat diharapkan. Supaya proses produksi dapat lancar sesuai dengan tujuan perusahaan, maka perusahaan harus memperhatikan unsur persediaan sesuai dengan fungsi dan kegunaannya. Persediaan dalam perusahaan dapat dibedakan menjadi dua cara, yaitu dilihat dari fungsinya dan dilihat dari jenis barang tersebut dalam pengerjaannya.

Dilihat dari fungsinya, persediaan dapat dibedakan antara lain, sebagai berikut : (Assauri, Sofyan, 1987).

1. Persediaan yang berlebihan (Batch stock atau lot zise inventory), yaitu persediaan yang diadakan karena membeli atau membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar dari pada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu. Jika dalam hal ini pembelian atau pembuatan yang dilakukan untuk jumlah yang besar, sedangkan penggunaannya atau pengeluarannya dalam jumlah yang kecil. Terjadinya persediaan ini disebabkan oleh pengadaan bahan atau barang yang dilakukan lebih banyak dari yang dibutuhkan.

2. Persediaan yang berfluktuasi (Fluctuation stock), yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan mengadakan persediaan untuk dapat memenuhi permintaan konsumen apabila terjadi tingkat permintaan menunjukkan keadaan yang tidak beraturan atau tidak tetap dan fluktuasinya tidak dapat diramalkan lebih dahulu.

3. Persediaan yang dapat diramalkan (Anticipation stock), yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi yang dapat diramalkan berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan menghadapi penggunaan, penjualan, atau permintaan yang meningkat dan dimaksudkan pula untuk menjaga kemungkinan terjadi kesulitan untuk memperoleh bahan-bahan sehingga tidak mengganggu operasi.

Disamping persediaan berdasarkan fungsi, persediaan dapat pula dibedakan menurut jenis dan posisi barang tersebut dalam urutan pengerjaan produk, yaitu sebagai berikut :

1. Persediaan bahan baku, yaitu persediaan barang-barang yang berujud yang digunakan dalam proses produksi yang dapat diperoleh dari sumber-sumber alam ataupun dibeli dari perusahaan yang menghasilkan bahan baku bagi perusahaan yang menggunakannya. Bahan baku diperlukan oleh pabrik untuk diolah, setelah melalui beberapa proses diharapkan menjadi bahan atau barang jadi.

2. Persediaan bagian produk yang dibeli, yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari bagian produk yang diterima dari perusahaan lain yang dapat secara langsung dirakit dengan bagian produk yang lain tanpa melalui proses produksi sebelumnya.

3. Persediaan barang setengah jadi, yaitu persediaan yang keluar dari tiap-tiap bagian dalam suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses kembali untuk kemudian menjadi barang jadi.

4. Persediaan barang jadi, yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap dijual kepada konsumen atau perusahaan lain. Jadi barang jadi ini adalah merupakan produk selesai dan telah siap untuk dijual.

2.1.3. Biaya biaya dalam persediaan

Secara umum, biaya meliputi semua pengeluaran dan kerugian yang timbul akibat adanya persediaan. Unsur-unsur biaya yang terdapat dalam persediaan menurut E. Harjanto (1997) dapat digolongkan menjadi :

Adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dengan kegiatan pemesanan bahan atau barang, sejak dari penempatan, pemesanan sampai tersediannya barang di gudang. Biaya pemesanan ini meliputi semua biaya yang dkeluarkan dalam rangka mengadakan pemesanan barang tersebut, yang terdiri dari :

a. Biaya administrasi dan penempatan order b. Biaya pemasok

c. Biaya pengangkutan dan bongkar muat,

d. Biaya penerimaan dan biaya pemeriksaan barang dan e. Biaya hubungan telepon

Biaya pemesanan tidak tergantung dari jumlah yang dipesan, tetapi tergantung pada berapa kali pemesanan dilakukan. Sehingga total biaya pemesanan sama dengan frekuensi pemesanan dikalikan biaya satu kali pesan, dengan biaya konstan untuk setiap kali pesan. Formulasinya :

2. Biaya Penyimpanan

Adalah biaya-biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan diadakannya persediaan barang yang termasuk biaya ini antara lain :

a. Biaya sewa gedung

b. Biaya administrasi pergudangan c. Biaya listrik

d. Biaya kerusakan, dan e. Gaji pelaksana pergudangan

Biaya penyimpanan dapat dinyatakan dalam dua bentuk yaitu sebagai prosentase dari harga barang atau dalam bentuk per unit barang. Formulasinya.

Biaya pemesanan = frekuensi pemesanan X biaya satu kali pesan

Biaya penyimpanan = jumlah unit barang di akhir periode x (biaya simpan/periode/unit)

3. Biaya kekurangan persediaan

Adalah biaya yang timbul sebagai akibat tidak tersedianya barang pada waktu diperlukan. Termasuk dalam biaya ini adalah biaya yang timbul karena : a. Terhentinya proses produksi sebagai akibat tidak adanya bahan yang

diproses

b. Biaya administrasi tambahan

c. Biaya tertundanya penerimaan keuntungan, serta d. Biaya kehilangan pelanggan

Biaya kekurangan persediaan biayasanya sulit untuk diukur dan sering hanya diperkirakan besarnya secara subjektif.

2.1.4. Empat sasaran manajemen sediaan

1. Memaksimalkan Pelayanan pada Pelanggan

peramalan permintaan pelanggan yang tidak akurat, perubahan besar pada pesanan pelanggan, dan kurangnya manajemen yang bertanggung jawab merupakan penyebab utama lemahnya kinerja pelayanan pada pelanggan dalam hal pengiriman tepat waktu. Akibatnya timbul sediaan yang berlebihan, yang selanjutnya mengarah pada penghapusan sediaan, biaya produk yang tinggi, serta marjin keuntungan yang rendah.

2. Memaksimalkan Efisiensi Pembelian dan Produksi

Ada beberapa contoh dimana sediaan disimpan demi efisiensi biaya pengadaan dan produksi. Bila terjadi pembelian barang tang lebih besar dari pada yang dibutuhkan untuk mencapai efisiensi pembelian dan tranportasi,maka akan timbul sediaan barang yang menumpuk dalam waktu yang lama.

3. Meminimalkan Investasi Sediaan

Sediaan akan mengikat uang yang seharusnya dapat digunakan perusahaan untuk berbagai hal lain dalam bisnis. Sediaan yang berlebihan akan dapat menciptakan aliran kas negatif,dan ini harus dihindarkan. Itulah

sebabnya mengapa orang orang keuangan berusaha menjaga sediaan serendah mungkin.

4. Memaksimalkan Profit

Profit dapat dimaksimalkan dengan meningkatkan pendapatan atau menurunkan biaya. Salah satu yang terbaik adalah melakukan dengan manajemen sediaan yang tepat.

2.1.5. Titik pemesanan kembali.

Titik Pemesanan Kembalidengan Sediaan Pengaman.

“Diagram gigi-gergaji” tradisional pada Gambar dibawah ini secara grafis menunjukkan rumus titik pemesanan kembali.

Gambar 2.1 : Titik Pemesanan Kembali dengan Sediaan Pengaman

A = Titik Pemesanan Kembali – Titik dimana pesanan harus dilakukan supaya dapat diterima sebelum tingkat sediaan menjadi nol.

B = Titik dimana pesanan baru diterima dan posisi gudang meningkat sejumlah pesanan.

C = Waktu tenggang sebelum pesanan diterima.

Jumlah Sediaan Titik Pemesanan Kembali D C B A Waktu Tenggang C B A Waktu Tenggang Waktu Tenggang

D = Sediaan pengaman yang disimpan untuk menyangga kekurangan dan kehabisan (stockout).

Dalam sistem ini, tingkat sediaan diperiksa secara periodik dan semua pesanan terjadi di satu waktu, sering kali untuk semua jenis stok, untuk mengisi kembali sediaan sampai pada tingkat target tertentu.

2.2. Peramalan

Untuk perkembangan dan kelangsungan suatu perusahaan adalah kemampuan perusahaan tersebut di dalam menyesuaikan strateginya di lingkungan yang berubah dengan cepat. Hal ini menuntut manajemen untuk secara tepat mengantisipasi kejadian di masa yang akan datang. Harga yang dibayar perusahaan akan sangat mahal jika sampai terjadi kesalahan peramalan.

Bagaimana cara perusahaan melakukan peramalan lingkungan atau peramalan industri. Perusahaan besar memiliki departemen perencanaan yang melakukan peramalan jangka panjang atas faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pasarnya.

2.2.1. Pengertian Peramalan

Peramalan merupakan penelitian tingkat permintaan satu atau lebih produk selama beberapa periode mendatang. Peramalan pada dasarnya merupakan suatu taksiran. Namun demikian dengan menggunakan teknik-teknik tertentu maka peramalan akan menjadi bukan hanya sekedar taksiran.

Dapat dikatakan bahwa peramalan tersebut merupakan taksiran ilmiah. Peramalan akan semakin baik jika terjadi sedikit kesalahan, walaupun kesalahan peramalan tetap merupakan suatu hal yang sangat manusiawi. Agar berarti maka hasil peramalan seharusnya dinyatakan dalam bentuk satuan produk (unit) dan mencakup periode perencanaan tertentu. Peramalan dalam jangka yang terlalu pendek tidak mungkin untuk digunakan mengambil tindakan yang efektif.

2.2.2. Pengklasifikasian Metode Peramalan

Ada banyak macam metode peramalan yang telah di kembangkan.Pemakaian metode peramalan diharapkan dapat mengurangi sedikit ketidak pastian dimasa yang akan datang.

Metode peramalan dapat diklasifikasikan kedalam dua kategori utama,yaitu metode peramalan kualitatif dan kuantitatif.

1. Metode peramalan kualitatif

Merupakan metode yang dalam pembuatanya tidak memerlukan data kuantitati. Masukan yang dibutuhkan tergantung pada metode tertentu yang akan dipakai dan biasanya merupakan hasil pemikiran dari pembuatnya,dengan didasarkan pemikiran dan pengalaman-pengalaman yang dipunyai.

Metode peramalan kualitati dapat diterapkan bila terdapat kondisi sebagai berikut:1.Tidak tersedianya data masa lalu

2. Penemuan ditujukan untuk memperkirakan perkembangan dan penemuan baru yang mungkin terjadi di masa depan.

2. Metode peramalan kuantitatif

Merupakan metode yang berdasarkan data masa lalu. Peramalan ini dapat diterapkan apabila terdapat kondisi sebagai berikut :

1. Melihat informasi masa lalu

2. Informasi itu dapat disajikan dalam bentuk kuantitatif

3. Dapat diasumsikan bahwa beberapa aspek masa lalu akan berkelanjutan pada pola data yang akan datang.

2.2.3. Macam-macam metode peramalan:

Untuk menemukan metode peramalan yang paling tepat, maka pada penelitian ini digunakan juga program Quant system version 3.0, yang terdiri dari sepuluh metode antara lain metode peramalan :

a. Simple Average

Metode rata-rata secara sederhana menghitung rataan dari data yang tersedia (sejumlah n)

Persamaan metode rata-rata yaitu :

= "

1

-t

(t)

n

A

(t)

F

Dimana :

F(t) = Ramalan untuk periode t

A(t) = Data aktual permintaan untuk periode t n = jumlah obsevasi

b. Double Moving Average = Moving Average With Linier Trend

Peramalan double moving average meliputi 3 aspek, antara lain : a. Mengadakan single moving averange pada waktu t

b. Terjadinya penyesuaian antara single moving average

double moving average (St-St) pada saat t c. Terjadinya penyesuaian trend – N+1. Aspek ini dapat dilihat pada persamaan berikut ini :

St’ =

+ = 1 N t t i N Xi St” =

+ = 1 N t t i N Xi α 1 = St’ + (St’ – St”) β t = 1 N 2 (St’ – St”) F1+m = α 1 + β t . m Dimana :

St’ = statistik perataan pertama St” = statistik perataan kedua

Peramalan Single Exponentional Smoothing dihitung berdasarkan hasil peramalan ditambah kesalahan peramalan sebelumnya digunakan untuk mengoreksi peramalan berikutnya. Peramalan Single Exponentional Smoothing adalah ;

F(t) = a. A(t) + (1-a) . F(t –1)

Dengan 0 ≤ a ≤ 1,0

pengaruh Smoothing a yaitu ;

- Semakin besar a, Smoothing yang dilakukan semakin kecil. - Semakin kecil a, Smoothing yang dilakukan semakin besar. Karena a berupa variabel, masalah yang diahadapi dalam melakukan peramalan Single Exponentional Smoothing adalah mencari a optimum.

d. Exponential Smoothing Trend

Metode penulisan Exponential Smoothing Trend ini digunakan untuk serial data yang memiliki unsur trend (kecenderungan) yang konsisten. Metode ini melakukan smoothing trend secara terpisah. Pemisahan ini menciptakan fleksibilitas dimana Smoothing Trend dapat dilakukan dengan parameter yang berbeda dengan parameter yang dipakai series asli.

Persamaannya adalah sebagai berikut : F(t) = α . A(t) + (1 – a) . (F(t-1) + T(t-1))

T(t) = β . (F(t-1) + T(t-1)) + (1 – β ). T(t-1) F(1+σ) = F(t) + σ . T(t)

e. Double Exponential Smoothing

Metode ini merupakan linier yang dimaksudkan untuk memperbaiki model exponential tunggal yang cenderung

F’(t) = Statistik penghalusan yang dapat menyesuaikan trend untuk mengeliminasi kerlambatan yang terjadi sewaktu statistik utama dihitung.

F”(t) = Parameter untuk memperbaiki penaksiran trend daripada sebelumnya.

f. Winters Model

Salah satu dari metode peramalan yang khusus untuk data yang berpola musionan adalah metode penghalusan exponensial linier dan musiman dari winters, metode ini didasarkan atas tiga persamaan, yaitu masing-masing untuk unsur statoner, trend dan musiman,sebagai berikut :

F(t) = α . A(t) / I(t-m) + (1 – α ) . (F(t-1) + T(t-1)) T(t) = β . (F(1) + F(t-1)) + (1 – β ). T(t-1) I(t) = Y . A(t) / F(t) + (1 - β ) . T(t-m) F(1+σ) = F(t) + σ . T(t)

Tertinggal dari pergerakan waktu sebenarnya. Dengan model ini mampu menghasilkan ramalan yang tepat jika terdapat trend baik negatif maupun positif.

Persamaan dari model ini adalah sebagai berikut : F’(t) = α . A(t) + (1 – α ) . F’(t-1)

F”(t) = α . F(t) + (1 – α ) . F”(t-1) f(t +σ)= F’(t)

Dimana :

F’(t) = Statistik penghalus pertama F”(t) = Statistik penghalus kedua α = Parameter penghalus pertama A(t) = Permintaan aktual untuk periode t F(t-1) = Peramalan permintaan untuk t-1 σ = Waktu dari t

g. Double Exponential Smoothing With Linier Trend

Keunggulan dari teknik ini terletak pada fleksibilitasnya tetapi dengan dua parameter penghalus. Dengan rumus sebagai berikut :

F’(t) = α . A(t) + (1 – α ) . F’(t-1) F”(t) = α . F(t) + (1 – α ) . F”(t-1) Dimana :

F’(t) = Statistik penghalus pertama F”(t) = Statistik penghalus kedua α = Parameter penghalus pertama A(t) = Permintaan aktual untuk periode t F(t-1) = Peramalan permintaan untuk t-1

σ = Waktu dari t

h. Linier Regression

Regresi linier adalah kecenderungan titik koordinat dari variabel bebas dan variabel titik bebas membentuk suatu garis linear. Bentuk umum persamaan regresi untuk dua variabel sebagai berikut : ŷ(t) = Variabel tidak bebas

T = Variabel bebas

α = Nilai daripada ŷ(t) bila t = 0

b = Perubahan rata-rata ŷ(t) = terdapat perubahan per unit t

Nilai α dan b yang meminimalkan jumlah kesalahan kuadrat dapat dicari dengan menggunakan persamaan berikut :

α =

∑ ∑

∑ ∑

∑ ∑

= = = = = =       − − N 1 t 2 N 1 t 2 N 1 t N 1 t N 1 t N 1 t 2 t t . N ) t .( y . t . t t ). t ( y b = 2 1 1 2 1 1 1

∑ ∑

∑ ∑

= = = = =       − − N t N t N t N t N t t t . N . t ) t ( y ). t ( y . N

2.3. Perencanaan Kebutuhan Bahan

Perencanaan kebutuhan bahan (material requirement planing) menggantungkan pengendalian pekerjaan dan pengendaian produk. Waktu yang digunakan untuk mengubah jadwal produksi akibat permintaan atau kelambatan tak terduga secara manual cukup panjang, sehingga memungkinkan perhitungan kebutuhan bahan untuk keperluan produksi. Adanya komputer mempercepat perhitungan sehingga peramalan, saat pemesanan, jumlah pesanan, penjadwalan induk, waktu ancang, serta kondisi persediaan pada saat yang sama. MRP pada dasarnya dapat diterapkan untuk sebagian besar industri manufaktur yang bersifat diskrit, seperti industri mobil, elektronika, dan lain sebagainya.

2.3.2. Tujuan Perencanaan Kebutuhan Bahan

Tujuan perencanaan ada tiga, yaitu :

1. Merupakan rencana produksi atau rencana pemesanan komponen dan material yang diperlukan untuk menyusun jadwal induk produksi. Rencana ini meliputi identifikasi produk yang harus dipesan, identifikasi jumlah dan menjadwalkan pada saat dibutuhkan (order rekose) dan batas penyerahan (duedate).

2. Menirukan prioritas berdasarkan pemesanan dengan berubahnya sistem. 3. Menjadi masukan perencanaan kebutuhan kapasitas untuk memprediksi

kebutuhan sumber yang diperlukan untuk mencapai jadwal induk produksi.

2.3.3. Masukan dan keluaran MRP Masukan untuk MRP meliputi :

1. Jadwal Induk Produksi (JIP)/Master Production Schedule (MPS).

Jadwal induk produksi merupakan rencana rinci tentang jumlah barang yang akan diproduksi pada beberapa satuan waktu dalam barisan perencanaan. Jadwal induk produksi merupakan optimasi ongkos dengan memperhatikan kapasitasnya yang tersedia dan ramalan permintaan untuk mencapai rencana produksi yang akan meminimasi total ongkos produksi dan persediaan.

2. Struktur Produk/Bill of Material (BOM)

Setiap item dan komponen harus memiliki identifikasi yang jelas dan unik sehingga berguna pada saat komputerisasi. Hal ini dilakukan dengan membuat struktur produk dan bill of material tiap produk.

Struktur produk berisi tentang informasi mengenai hubungan antar komponen dalam perakitan. Informasi ini penting dalam penentuan kebutuhan kotor dan kebutuhan bersih suatu komponen. Lebih jauh lagi, struktur produk juga mengandung informasi tentang semua item, seperti nama item, serta jumlah yang dibutuhkan pada tiap tahun terhadap perakitan.

3. Keadaan persediaan/Inventory Master File (IMF)

Data jumlah persediaan yang dimiliki digunakan untuk membuat keputusan dalam memesan suatu barang dengan sebaik-baiknya.

Keluaran MRP meliputi :

Material Requirement Planning (perencanaan kebutuhan bahan) mempunyai beberapa keluaran antara lain:

1. Memberikan catatan mengenai pesanan.

MRP dapat menentukan jumlah kebutuhan komponen serta waktu pemesanannya untuk memenuhi permintaan sesuai dengan JIP.

2. Memberikan indikasi untuk penjadwalan ulang.

MRP dapat memberi indikasi penjadwalan ulang apabila kapasitas produksi yang telah ada tidak dapat memenuhi pesanan yang dijadwalkan. 3. Memberi indikasi untuk pembatalan pesanan.

Memberikan kepastian terhadap pembatalan pesanan yang dilakukan atas suatu komponen.

4. Memberi informasi mengenai keadaan persediaan.

MRP dapat menentukan secara tepat penjadwalan setiap komponen sehingga dapat meminimumkan biaya pesan maupun biaya perawatan.

2.3.4. Pendekatan Material Requirement Planning (MRP)

Pada tahap perencanaan kebutuhan material, dilakukan perencanaan terhadap produk/part/material. Pendekatan untuk menyelesaikan masalah ini dilakukan melalui logika sederhana, yaitu :

Peramalan Master Prod.

Schedule

Pesanan Langganan

Status

Persediaan Sistem MRP Struktur Produk

Rencana Pemesanan

Pemesanan

Pembelian Pesanan Kerja

Penjadwalan Kerja

Pembatalan Kerja

Gambar 2.2 : Sistem legkap MRP

2.3.5. Langkah –Langkah Dasar Proses Pengolahan MRP 1. Perhitungan Kebutuhan Bersih (Netting)

Merupakan proses perhitungan untuk menetapkan jumlah kebutuhan bersih yang besarnya merupakan selisih antara kebutuhan kotor dengan keadaan persediaan. Masukan yang diperlukan dalam proses perhitungan kebutuhan bersih ini adalah :

1. Kebutuhan kotor setiap periode 2. Persediaan yang ada di tangan

3. Rencana penerimaan (schedule receipts) pada periode mendatang

Tabel 2.1 adalah contoh jadwal kebutuhan kotor untuk setiap periode, jadwal penerimaan, dan persediaan di tangan untuk produk akhir (level nol). Dengan demikian kebutuhan bersih sesuai dengan persamaan (1) dan (2) dihitung sebagaimana diperlihatkan Tabel 2.2. Hasil keseluruhan perhitungan kebutuhan bersih ialah sebagaimana Tabel 2.3.

Tabel 2.1 : Contoh Jadwal Kebutuhan Kotor

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 total

Kebutuhan Kotor 10 15 25 22 72

Jadwal Penerimaan 30

Persediaan di Tangan : 23

Tabel 2.2 : Perhitungan Kebutuhan Bersih

Periode Kebutuhan Kotor Jadwal Penerimaan Persediaan di Tangan Kebutuhan Bersih 1 2 3 4 0 10 0 15 0 0 30 0 23 23 13 43 0 0 0 0

5 6 7 8 0 25 22 0 0 0 0 0 18 18 0 0 0 7 22 0 72 30 29

Tabel 2.3 : Hasil Keseluruhan Perhitungan Kebutuhan Bersih

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 Total

Kebutuhan Kotor 10 15 25 22 72

Jadwal Penerimaan 30 30

Persediaan di Tangan : 23 23 13 43 18 18 -7 -29 -29 -29

Kebutuhan Bersih 0 0 0 0 0 7 22 29

Dalam perhitungan bersih dapat ditambahkan faktor-faktor lain, misalnya faktor cadangan pengaman. Cadangan pengaman diperlukan apabila permintaan selalu berubah-ubah dan faktor kesalahan peramalan besar. Tetapi cadangan pengaman ini hanya dimasukkan untuk item-item yang independen. Sementara untuk item-item yang memiliki ketergantungan terhadap item lainnya, faktor cadangan pengaman sama sekali tidak dimasukkan.

2. Penentuan Ukuran Lot (lotting)

Lotting merupakan proses untuk menentukan besarnya pesanan setiap item berdasarkan kebutuhan bersih yang dihasilkan dari proses netting. Teknik lot sizing yang paling sederhana adalah dengan menggunakan konsep jumlah atau periode pemesanan yang tetap (lot for lot).

Tabel 2.4 merupakan pengembangan Tabel 2.3 terdahulu dengan menggunakan teknik penentuan ukuran lot for lot.

Tabel 2.4 : Contoh Proses Lotting dengan MenggunakanTeknik Lot For Lot

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 total

Kebutuhan Bersih 0 0 0 0 0 7 2 29

Ukuran Lot 7 2 29

Proses ini ditunjukan untuk menentukan saat yang tepat guna melakukan rencana pemesanan dalam upaya memenuhi tingkat kebutuhan bersih. Rencana pemesanan dilakukan pada saat material dibutuhkan dikurangi dengan waktu ancang. Tabel 2-5 berikut ini memberikan contoh

offsetting dengan waktu ancang dua periode.

Tabel 2.5 : Contoh Proses Offsetting dengan Waktu Ancang Dua Periode

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 total

Ukuran Lot 7 2 29

Renc. Pemesanan 7 2 29

4. Proses Explosion

Proses explosion adalah proses perhitungan kebutuhan kotor item yang berada di tingkat lebih bawah, didasarkan atas rencana pemesanan yang telah disusun pada proses offsetting. Dalam proses explosion ini data struktur produk dan bill of material memegang peran penting karena menentukan arah explosion item komponen. Proses explosion dilakukan dengan menggunakan persamaan (3). Tabel 2.6 di bawah ini memberikan gambaran proses explosion yang terjadi pada tiga tingkat.

Tabel 2.6 : Contoh Suatu Proses Explosion Item A-Tingkat I-Waktu Ancang 2 Periode

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 Total

Kebutuhan Kotor 10 15 10 20 5 10 70

Jadwal Penerimaan 14 14

Persediaan di Tangan : 12 2 2 1 -9 -29 -34 -34 -44 -44

Renc. Pesan 9 20 5 10 44

Item B – Tingkat 2 (1/1) – Waktu Ancang 1 Periode

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 Total

Kebutuhan Kotor 9 20 5 10 44

Jadwal Penerimaan

Persediaan di Tangan : 28 28 19 -1 -6 -6 -16 -31 -31 -31

Renc. Pesan 1 5 10 15 31

Item C – Tingkat 3 (2/1) – Waktu Ancang 2 Periode

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 Total

Kebutuhan Kotor 2 10 20 30 62

Persediaan di Tangan : 8 6 -4 -4 -24 -54 -54 -54 -54

Renc. Pesan 4 20 30 62

2.3.6 Teknik Lot Sizing dalam MRP

Ukuran jumlah barang yang dipesan (lot size) akan berhubungan dengan biaya pemesanan (set up) dan biaya penyimpanan barang semakin rendah ukuran lot, berarti semakin sering melakukan pemesanan barang, akan menurunkan biaya penyimpanan, tetapi menambah biaya pemesanan barang akan menurunkan biaya penyimpanan, tetapi menambah biaya pamesanan. Sebaliknya semakin tinggi ukuran lot akan mengurangi frekuensi pemesanan, berarti mengurangi biaya pemesanan tetapi meningkatkan biaya penyimpanan. Untuk itu perlu dicari ukuran lot yang tepat agar dapat meminimalkan total biaya persediaan.

Adapun teknik teknik lot sebagai berikut menurut Zulian Yamit (1998): 1. Lot for lot (LFL)

Metode Lot for lot dikenal sebagai metode persediaan minimal berdasarkan ide penyediaan persediaan (memproduksi) sesuai dengan yang diperlukan saja, jumlah persediaan diusahakan seminimal mungkin.

Jika pesanan dapat dilakukan dalam jumlah berapa saja,maka pesanan sesuai dengan jumlah yang sesungguhnya diperlukan (lot for lot) menghasikan tidak adanya persediaan. Biaya yang timbul berupa biaya pemesanan saja. Metode ini beresiko tinggi, yaitu apabila terjadi keterlambatan dalam pengiriman barang, maka akan mengakibatkan terhentinya produksi. Sebagai contoh:

Tabel 2.7.Contoh rencana produksi

Minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Produk si

5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000

Biaya setiap kali pemesanan (set-upt) Rp. 35.000 dan biaya simpan

Dalam dokumen TUGAS AKHIR PENERAPAN MRP PADA PERENCANA (Halaman 19-77)

Dokumen terkait