• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS AKHIR PENERAPAN MRP PADA PERENCANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TUGAS AKHIR PENERAPAN MRP PADA PERENCANA"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

PENERAPAN MRP PADA PERENCANAAN KEBUTUHAN

BAHAN BAKU YANG OPTIMAL TERHADAP PRODUK

KURSI ARMANDO (CH-409)

(Studi Kasus Pada CV. Ambar Jati Furniture Klaten)

Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Teknik Industri Fakultas Teknik

Universitas Muhammadiyah Surakarta

Disusun Oleh:

Nama : Tulus Indra Bhakti NIM : D 600 980 086

NIRM : 989.6.106.03064.50086

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN

PENERAPAN MRP PADA PERENCANAAN KEBUTUHAN

BAHAN BAKU YANG OPTIMAL TERHADAP PRODUK

KURSI ARMANDO (CH-409)

(Studi Kasus Pada CV. Ambar Jati Furniture Klaten)

Hari/Tanggal: Jam :

Oleh:

Nama : Tulus Indra Bhakti NIM : D600980086

NIRM : 98.6.106.03064.5.0086

(3)

(Ir. Munifah, MSIE) (Siti Nandiroh, ST)

LEMBAR PENGESAHAN

PENERAPAN MRP PADA PERENCANAAN KEBUTUHAN

BAHAN BAKU YANG OPTIMAL TERHADAP PRODUK

KURSI ARMANDO (CH-409)

(Studi Kasus Pada CV. Ambar Jati Furniture Klaten)

Pada

Hari / Tanggal:

Jam :

Penguji

Nama Tanda Tangan

1. Pembimbing I : Ir. Munifah, MSIE

2. Pembimbing II : Siti Nandiroh, ST

3. Penguji :

4. Penguji :

Mengetahui:

(4)

(DR. Waluyo Adi Siswanto, M.Eng) (M. Djunaidi, ST, MT)

ABSTRAKSI

Perusahaan Ambar Jati Furniture adalah suatu perusahaan perorangan, yang hasil produksinya adalah mebel. Pada awal berdirinya hasil produksinya hanya untuk memenuhi permintaan masyaraat sekitar, kemudian dari tahun ketahun pangsa pasarnya telah mampu menembus pangsa pasar luar negeri. Untuk memenuhi kebutuhan pesanan maka perlu melakukan perencanaan kebutuhan bahan yang tepat. Dalam hal ini perencanaan bahan baku diangkat sebagai tema masalah yang harus dipecahkan, mengingat bahwa pengelolaan perencanaan kebutuhan bahan baku di perusahaan ini belum terlaksana dengan maksimal. Hal ini terlihat dengan adanya kelebihan bahan baku kayu menjadi menumpuk dengan nilai investasi yang sangat besar dalam jangka waktu yang lama,belum lagi adanya kerusakan akan bahan baku tersebut.

Penerapan metode MRP dapat sedikit membantu perusahaan dalam perencanaan kebutuhan bahan baku sehingga proses produksi berjalan lancar dengan biaya persediaan minimal. Dalam penelitian ini diterapkan metode MRP terbatas pada produk dominan dalam perusahaan yaitu kursi Armando (CH-409) dengan rata-rata permintaan yang cukup tinggi dibandingkan dengan produk lain dalam perusahaan.

(5)

KATA PENGANTAR

Bismilahirohman nirohim

Puji dan syukur Alhamdulilah selalu dipanjatkan kehadirat Alloh SWT,

yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayahnya. Sehingga penulis

dapat menyelesaikan laporan tugas akhir dengan judul “ PENERAPAN MRP

PADA PERENCANAAN KEBUTUHAN BAHAN BAKU YANG OPTIMAL

TERHADAP PRODUK KURSI ARMANDO (CH-409) “ Sebagai salah satu

syarat untuk meraih gelar sarjana teknik industri.

Tugas akhir ini ditulis dengan tujuan sebagai berikut :

• Untuk memperkenalkan kepada para pembaca bagaimana

cara menerapkan MRP pada perencanaan kebutuhan

bahan baku.

• Untuk menjelaskan metode metode yang terdapat dalam

MRP.

Dalam penulisan laporan tugas akhir ini terdiri atas lima bab yaitu :

• Bab satu pendahuluan : membahas tentang latar belakang

masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan

(6)

• Bab dua landasan teori : menjelaskan konsep dan prinsip

dasar serta teori teori yang mendasari penelitian untuk

memecahkan masalah yang dihadapi.

• Bab tiga metodologi penelitian : membahas mengenai

kerangka dalam memecahkan suatu masalah serta

menjelaskan secara garis besar bagaimana

langkah-langkah pemecahan masalah dengan menggunakan

metode-metode yang diinginkan oleh penulis dalam

memecahkan masalah.

• Bab empat pengumpulan dan pengolahan data serta

analisa : manyajikan hasil-hasil data yang diperoleh dari

obyek penelitian pengolahan data serta analisis dan

pembahasanya.

• Bab lima kesimpulan dan saran : berisi tentang

kesimpulan dan saran yang dapat memberikan masekan

guna pertimbangan bagi perusahaan.

Susunan bab dalam tugas akhir ini sudah diatur sedemikian rupa sehingga

memudahkan pada para pembaca untuk memahami materi yang terdapat dalam

laporan tugas akhir ini, dan terdapat hubungan keterkaitan antara bab satu

dengan bab lainya.

Penulis menyadari bahwa banyak terdapat banyak kekurangan

dalam penulisan laporan tugas akhir ini, oleh karena itu penulis minta

(7)

para pembaca, Segala bentuk kritik dan saran dari para pembaca untuk

perbaikan tugas akhir ini sangat penulis harapkan.

Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih pada semua oihak yang

telah membantu dalam penulisan laporan tugas akhir ini, oleh karena itu

penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1 Bapak Ir. Waloyo Adi Siswanto, M. Eng, selaku dekan

fakultas teknik Universitas Muhamadiyah Surakarta.

2 Bapak M Junaidi, ST. sebagai ketua jurusan teknik industri

Universitas Muhamadiyah Surakarta.

3 Bapak Ir. Boy Hendratmo selaku pembimbing akademik Fakultas

teknik industri kelas B “98” Universitas Muhamadiyah Surakarta.

4 Ibu Ir. Munifah M. SIE, selaku pembimbing pertama yang telah

berkenan meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan,

pengarahan dan dorongan semangat selama menyelesaikan tugas

akhir ini.

5 Ibu Siti Nandiroh ST. selaku pembimbing kedua dengan penuh

kesabara memberikan bimbingan, pengarahan dan dorongan

selama menyelesaikan tugas akhir ini.

6 Ibu Erna yang telah memberikan ijin penelitian kepada penulis di

PT. Ambar Jati Furniture, Klaten.

7 Seluruh dosen teknik industri Universitas Muhamadiyah Surakarta

(8)

8 Mbak Win yang telah membantu dalam penyusunan laporan tugas

akhir ini dan tak lupa rekan-rekan seperjuangan angkatan “98”.

Harapan penulis, semoga laporan tugas akhir ini dapat

bermanfaat bagi penulis dan para pembaca, terima kasih.

Alhamdulilahirrobil alamin.

Surakarta, Desember 2003

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL i

LEMBAR PERSETUJUAN ii

LEMBAR PENGESAHAN iii

MOTTO iv

PERSEMBAHAN v

ABSTRAKSI vi

KATA PENGANTAR vii

DAFTAR ISI ix

DAFTAR TABEL xii

DAFTAR GAMBAR xv

BAB I PENDAHULUAN

(9)

1.2. Identifikasi Masalah...2

1.3. Batasan Masalah...2

1.4. Rumusan Masalah ...3

1.5. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian ...4

1.6. Sistematika Penulisan...5

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Persediaan...5

2.1.1. Definisi Dan Peranaan Persediaan...9

2.1.2. Jenis-Jenis persediaan...10

2.1.3. Biaya-Biaya Dalam Persediaan...10

2.1.4. Empat Sasaran Manajemen Sediaan...11

2.1.5. Titik Pemesanan Kembali...12

2.2. Peramalan...17

2.2.1. Pengertian Peramalan ...19

2.2.2. Pengklasifikasian Metode Peramalan...20

2.2.3. Macam-Macam Metode Peramalan ...20

2.3. Perencanaan Kebutuhan Bahan...21

2.3.1. Pengertian Perencanaan Kebutuhan Bahan...22

2.3.2. Tujuan Perencanaan Kebutuhan Bahan...

2.3.3. Masukan Dan Keluaran MRP...

2.3.4. Pendekatan Material Requirement Planing (MRP)... 2.3.5. Langkah-Langkah Proses Pengolahan MRP...

(10)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Obyek Penelitian...28

3.2. Pengumpulan Data...28

3.3. Metode & Analisa Data...29

3.3.1. Peramalan... 3.3.2. Penentuan Jadwal Induk Produksi (JIP)... 3.3.3. Perhitungan Material Requirement Planing (MRP)... 3.3.4. Perhitungan Lot Sizing... 3.4. Kesimpulan Dan Saran... 3.5. Kerangka Pemecahan Masalah... BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA SERTA ANALISA 4.1. Hasil Penelitian...32

4.1.1. Sejarah Dan Perkembangan Perusahaan (Di Lampiran)...32

4.2.Pengumpulan Data...35

4.2.1. Data Pemesanan Kursi Armando (CH-409)...36

4.2.2. Data Struktur Produk...37

4.2.3. Data Persediaan Dan Waktu Ancang...39

4.3. Pengolahan Data...39

4.3.1. Tahap Peramalan...40

4.3.2. Penentuan Jadwal Induk Produksi...41

4.3.3. Tahap Perhitungan Perencanaan Kebutuhan Bahan Dengan Metode Lot For Lot (LFL)...53

(11)

4.4.1. Analisa Hasil Perhitungan Peramalan...61

4.4.2. Analisa Hasil Perhitungan Jadwal Induk Produksi (JIP)...61

4.4.3. Analisa Struktur Produk...62

4.4.4. Analisa Hasil Perhitungan MRP...62

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan...76

5.2. Saran ...78

DAFTAR PUSTAKA... LAMPIRAN DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Contoh Jadwal Kebutuhan Kotor...24

Tabel 2.2. Perhitungan Kebutuhan Bersih... Tabel 2.3. Hasil Keseluruhan Perhitungan Kebutuhan Bersih... Tabel 2.4. Contoh Proses Lotting Dengan Menggunakan Teknik LFL... Tabel 2.5. Contoh Proses Offsetting Dengan Waktu Ancang Dua Periode... Tabel 2.6. Contoh Suatu Proses Explosion... Tabel 2.7. Contoh Rencana Produksi... Tabel 2.8. Bagan MRP Dengan Metode LFL... Tabel 2.9. Bagan MRP dengan Metode EOQ...25

Tabel 4.1 Data Pemesaan Kursi Armando (CH-409) Dari BulanJuli 2002 Sampai Juni 2003...33

(12)

Tabel 4.3 Data Persediaan Dan Waktu Ancang Komponen Kursi...36

Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Peramalan...38

Tabel 4.5 Hasil Peramalan...40

Tabel 4.6 JIP Perkomponen Untuk Tiga bulan Yang Akan Datang...41

Tabel 4.7 Perhitungan Kebutuhan Bahan Baku Produk Kursi Armando...41

Tabel 4.8 Kebutuhan Bersih Produk Kursi Armando...42

Tabel 4.9 MRP Produk” Kursi Armando(CH-409)”(LFL& EOQ)...42

Tabel 4.10 MRP Produk” Kursi Armando(CH-409)”(Metode POQ)...42

Tabel 4.11 MRP Produk” Kursi Armando(CH-409)”(Akumulasi 39 unit)...42

Tabel 4.12 MRP Produk” Kursi Armando(CH-409)”(Akumulasi 78 unit)...43

Tabel 4.13 MRP Produk” Kursi Armando(CH-409)”(Akumulasi 156 unit)...43

Tabel 4.14 Rekapitulasi Hasil Perbandingan Antara Empat Metode MRP...43

(13)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Titik Pemesanan Kembali Dengan Sediaan Pengaman...11

Gambar 2.2 Sistem Lengkap MRP...11

Gambar 4.1 Struktur Produk Kursi Armando (CH-409)...34

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Perkembangan teknologi pada masa sekarang ini semakin pesat,

khususnya pada bidang industri. Seiring dengan kemajuan tersebut

perusahaan-perusahaan berusaha untuk dapat menghasilkan produk

dengan optimal. Namun pemanfaatan kemajuan teknologi tersebut

harus memperhatikan sumber daya yang ada. Perusahaan juga harus

memperhatikan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam

menjalankan kegiatannya.

Salah satu industri kecil yang diandalkan Kabupaten Klaten

adalah industri kerajinan kayu, dan kerajinan kayu yang ada di desa

Gombang kecamatan Cawas tergolong potensial. Industri kerajinan

kayu ini telah ada sejak dulu sebagai warisan turun temurun dalam

(15)

Furniture yang memang mempunyai prospek cukup cerah dalam

industri kerajinan kayu.

Kerajinan kayu Ambar Jati Furniture tidak hanya memasarkan

produknya di dalam negeri saja tetapi juga memasarkan produknya ke

luar hegeri.

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, perusahaah

Ambar Jati Furniture belum menerapkan sistem perencanaan

kebutuhan material dengan baik, sehingga dalam proses produksinya

sering terjadi keterlambatan produksi terutama pada saat proses

perakitan.

Salah satu faktor penting yang harus diperhatikan adalah

penyediaan bahan baku untuk proses produksi. Persediaan bahan baku

yang kurang untuk proses produksi akan menyebabkan kerugian

karena kesempatan untuk melakukan produksi menjadi hilang.

Sebaliknya persediaan bahan baku yang berlebihan juga berakibat

kerugian, akibat kelebihan bahan baku menyebabkan persediaan

bahan baku menjadi menumpuk dengan nilai investasi besar dalam

jangka waktu yang lama, belum lagi adanya kerusakan akan bahan

baku tersebut.

Proses produksi akan berjalan dengan baik jika persediaan

bahan baku seimbang dengan kapasitas persediaan bahan baku

(16)

persediaan tersebut tidak kurang dan tidak lebih selama proses

produksi berlangsung.

Agar perencanaan kebutuhan baku pada CV Ambar Jati

Furniture dapat berjalan dengan baik maka penulis memilih judul : “

PENERAPAN MRP PADA PERENCANAAN KEBUTUHAN

BAHAN BAKU YANG OPTIMAL TERHADAP PRODUKSI

KURSI ARMANDO (CH-409) “ Setudi kasus pada CV Ambar Jati

Furniture klaten.

1.2. Identifikasi Masalah

Peranan pengendalian bahan baku pada perusahaan merupakan

hal yang sangat penting dalam menunjang jalannya proses produksi,

karena dengan adanya pengendalian bahan baku diharapkan tingkat

kekurangan atau kelebihan bahan baku yang terjadi dapat

dikendalikan secara optimal.

Permasalahan yang sering timbul yaitu adanya penumpukan

bahan yang berlebihan yang biasanya digunakan untuk persediaan

pengaman (safety stock).Akibat perencanaan kebutuhan bahan baku yang kurang terkoordinasi sehingga menimbulkan penyimpangan

jumlah bahan baku yang berlebihan.

1.3. Batasan Masalah

Agar penelitian dapat dilakukan, maka kami memberikan

(17)

1. Penelitian dilakukan pada perusahaan CV Ambar jati Furniture Klaten,dan

terbatas pada penetuan kebutuhan bahan baku pada proses produksi salah satu

jenis produk yaitu kursi Armando(CH-409).

2. Penentuan lot dalam persediaan menggunakan metode lot for lot (LFL),

Economic Order Quantity(EOQ), Period order Quantity (POQ), Akumulasi. 3. Periode penjadwalan adalah Mingguan dan peramalan dilakukan untuk tiga

bulan yang akan datang, yaitu bulan Juli – Agustus 2003.

1.4. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini permasalahan yang ada di atas dapat dirumuskan

sebagai berikut :

1. Apakah perusahaan sudah melakukan pembelian bahan baku yang paling

ekonomis?

2. Apakah perusahaan telah melakukan persediaan pengaman untuk

kelancaran proses produksi?

3. Apakah sudah terdapat tenggang waktu (lead time) dalam mengadakan pemesanan bahan baku?

1.5. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan Penelitian :

1. Untuk mengetahui jumlah pembelian yang paling optimal dalam

pengadaan bahan baku pada perusahaan Ambar Jati Furniture.

2. Untuk mengetahui kapan pemesanan kembali harus dilakukan agar

(18)

perusahaan tidak kehabisan bahan baku untuk kelancaran proses

produksi.

3. Untuk mengetahui apakah perusahaan telah menyelenggarakan

persediaan pengaman guna kelancaran proses produksi

Manfaat Penelitian:

1. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan

dan masukan dalam menentukan kebijaksanaan yang akan diambil

perusahaan pada saat yang akan datang.

2. Bagi penulis

Dapat dipergunakan untuk menerapkan teori-teori yang didapat dibangku

kuliah dengan keadaan sebenarnya di dunia industri dan dapat menambah

pengetahuan dalam menerapkan disiplin ilmu .

3. Bagi pekembangan keilmuan

Dapat digunakan sebagai sumber informasi atau dipakai sebagai data

sekunder bagi perlengkapan suatu penelitian dan dijadikan sebagai

referensi atau acuan dalam melanjutkan dan melakukan penelitian dengan

topik yang hampir sama.

1.6. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan laporan penelitian tugas akhir ini terdiri dari lima

bab. Adapun sistematika penyusunan laporan ini adalah sebagai berikut:

(19)

Berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan

masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika

penulisan.

Bab II Landasan Teori

Menjelaskan konsep dan prinsip dasar serta teori-teori yang

mendasari penelitian untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Bab III Metodologi Penelitian

Membahas mengenai kerangka dalam memecahkan suatu masalah

serta menjelaskan secara garis besar bagaimana

langkah-langkahpemecahan masalah dangan menggunakan metode yang

diinginkan oleh penulis dalam memecahkan masalah.

Bab IV Pengumpulan dan pengolahan data serta analisa

Menyajikan hasil- hasil data yang diperoleh dari obyek penelitian,

pengolahan data serta analisis dan pembahasannya.

Bab V Kesimpulan dan saran

Berisi tentang kesimpulan dan saran yang dapat memberi masukan

guna pertimbangan bagi perusahaan.

BAB II

(20)

2.1. Persediaan

2.1.1. Definisi dan peranan persediaan

Setiap perusahaan yang mengolah bahan baku menjadi produk jadi akan

selalu mengadakan persediaan, baik persediaan bahan baku,

persediaan bahan dalam proses, maupun persediaan produk jadi.

Tanpa adanya persediaan perusahaan akan dihadapkan pada resiko

bahwa perusahaan tersebut tidak dapat memenuhi permintaan

konsumen maupun permintaan dalam proses produksi.

Disamping itu yang perlu diperhatikan dalam persediaan adalah

biaya-biaya yang ditanggung perusahaan. Oleh karena itu persediaan yang

ada pada perusahaan harus dalam keadaan seimbang antara persediaan bahan

baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan produk jadi.

Apabila terjadi kekurangan persediaan akan mengakibatkan

terganggunya proses produksi, demikian pula apabila terjadi kelebihan

persediaan perusahaan akan menanggung biaya penyimpanan yang besar.

Itulah resiko yang terjadi apabila perusahaan tidak dapat menerapkan adanya

keseimbangan pengadaan persediaan.

Beberapa definisi persediaan yang sering dikemukakan adalah

sebagai berikut :

1. Persediaan didefinisikan sebagai suatu aktiva yang meliputi usaha barang

milik dengan maksud dapat dijual dalam periode usaha yang normal atau

(21)

produksi atau persediaan bahan mentah yang menunggu penggunaannya

dalam proses produksi (Assauri. S, 1987).

2. Persediaan dapat didefinisikan sebagai bahan yang ada di gudang yang

dapat digunakan pada masa yang akan datang (Biegel, 1974). Bahan yang

dimaksud disini dapat berupa bahan mentah untuk keperluan produksi,

bahan setengah jadi, atau barang jadi yang siap dipasarkan.

3. Teori persediaan memberikan penentuan proses yang optimal untuk

mendapatkan perkiraan kebutuhan masa yang akan datang (Starr dan

Miller, 1986).

Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa persediaan

adalah merupakan barang atau bahan baik bahan mentah, bahan setengah jadi,

maupun barang jadi yang dengan sengaja disimpan menurut cara-cara tertentu

sehingga dapat digunakan pada masa yang akan datang dengan

menguntungkan.

2.1.2. Jenis-jenis persediaan

Berjalan lancarnya proses produksi dalam perusahaan adalah suatu

hal yang sangat diharapkan. Supaya proses produksi dapat lancar sesuai

dengan tujuan perusahaan, maka perusahaan harus memperhatikan unsur

persediaan sesuai dengan fungsi dan kegunaannya. Persediaan dalam

perusahaan dapat dibedakan menjadi dua cara, yaitu dilihat dari fungsinya

dan dilihat dari jenis barang tersebut dalam pengerjaannya.

Dilihat dari fungsinya, persediaan dapat dibedakan antara lain,

(22)

1. Persediaan yang berlebihan (Batch stock atau lot zise inventory), yaitu persediaan yang diadakan karena membeli atau membuat bahan-bahan

atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar dari pada jumlah yang

dibutuhkan pada saat itu. Jika dalam hal ini pembelian atau pembuatan

yang dilakukan untuk jumlah yang besar, sedangkan penggunaannya atau

pengeluarannya dalam jumlah yang kecil. Terjadinya persediaan ini

disebabkan oleh pengadaan bahan atau barang yang dilakukan lebih

banyak dari yang dibutuhkan.

2. Persediaan yang berfluktuasi (Fluctuation stock), yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak

dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan mengadakan persediaan untuk

dapat memenuhi permintaan konsumen apabila terjadi tingkat permintaan

menunjukkan keadaan yang tidak beraturan atau tidak tetap dan

fluktuasinya tidak dapat diramalkan lebih dahulu.

3. Persediaan yang dapat diramalkan (Anticipation stock), yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi yang dapat diramalkan

berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan

menghadapi penggunaan, penjualan, atau permintaan yang meningkat dan

dimaksudkan pula untuk menjaga kemungkinan terjadi kesulitan untuk

memperoleh bahan-bahan sehingga tidak mengganggu operasi.

Disamping persediaan berdasarkan fungsi, persediaan dapat pula

dibedakan menurut jenis dan posisi barang tersebut dalam urutan pengerjaan

(23)

1. Persediaan bahan baku, yaitu persediaan barang-barang yang berujud yang

digunakan dalam proses produksi yang dapat diperoleh dari

sumber-sumber alam ataupun dibeli dari perusahaan yang menghasilkan bahan

baku bagi perusahaan yang menggunakannya. Bahan baku diperlukan oleh

pabrik untuk diolah, setelah melalui beberapa proses diharapkan menjadi

bahan atau barang jadi.

2. Persediaan bagian produk yang dibeli, yaitu persediaan barang-barang

yang terdiri dari bagian produk yang diterima dari perusahaan lain yang

dapat secara langsung dirakit dengan bagian produk yang lain tanpa

melalui proses produksi sebelumnya.

3. Persediaan barang setengah jadi, yaitu persediaan yang keluar dari

tiap-tiap bagian dalam suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses kembali untuk

kemudian menjadi barang jadi.

4. Persediaan barang jadi, yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai

diproses atau diolah dalam pabrik dan siap dijual kepada konsumen atau

perusahaan lain. Jadi barang jadi ini adalah merupakan produk selesai dan

telah siap untuk dijual.

2.1.3. Biaya biaya dalam persediaan

Secara umum, biaya meliputi semua pengeluaran dan kerugian yang

timbul akibat adanya persediaan. Unsur-unsur biaya yang terdapat

dalam persediaan menurut E. Harjanto (1997) dapat digolongkan

menjadi :

(24)

Adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dengan kegiatan pemesanan bahan

atau barang, sejak dari penempatan, pemesanan sampai tersediannya

barang di gudang. Biaya pemesanan ini meliputi semua biaya yang

dkeluarkan dalam rangka mengadakan pemesanan barang tersebut, yang

terdiri dari :

a. Biaya administrasi dan penempatan order

b. Biaya pemasok

c. Biaya pengangkutan dan bongkar muat,

d. Biaya penerimaan dan biaya pemeriksaan barang dan

e. Biaya hubungan telepon

Biaya pemesanan tidak tergantung dari jumlah yang dipesan, tetapi

tergantung pada berapa kali pemesanan dilakukan. Sehingga total biaya

pemesanan sama dengan frekuensi pemesanan dikalikan biaya satu kali

pesan, dengan biaya konstan untuk setiap kali pesan. Formulasinya :

2. Biaya Penyimpanan

Adalah biaya-biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan diadakannya

persediaan barang yang termasuk biaya ini antara lain :

a. Biaya sewa gedung

b. Biaya administrasi pergudangan

c. Biaya listrik

d. Biaya kerusakan, dan

e. Gaji pelaksana pergudangan

Biaya penyimpanan dapat dinyatakan dalam dua bentuk yaitu sebagai

prosentase dari harga barang atau dalam bentuk per unit barang.

Formulasinya.

Biaya pemesanan = frekuensi pemesanan X biaya satu kali pesan

(25)

3. Biaya kekurangan persediaan

Adalah biaya yang timbul sebagai akibat tidak tersedianya barang pada waktu

diperlukan. Termasuk dalam biaya ini adalah biaya yang timbul karena :

a. Terhentinya proses produksi sebagai akibat tidak adanya bahan yang

diproses

b. Biaya administrasi tambahan

c. Biaya tertundanya penerimaan keuntungan, serta

d. Biaya kehilangan pelanggan

Biaya kekurangan persediaan biayasanya sulit untuk diukur dan sering hanya

diperkirakan besarnya secara subjektif.

2.1.4. Empat sasaran manajemen sediaan

1. Memaksimalkan Pelayanan pada Pelanggan

peramalan permintaan pelanggan yang tidak akurat, perubahan besar

pada pesanan pelanggan, dan kurangnya manajemen yang bertanggung

jawab merupakan penyebab utama lemahnya kinerja pelayanan pada

pelanggan dalam hal pengiriman tepat waktu. Akibatnya timbul sediaan

yang berlebihan, yang selanjutnya mengarah pada penghapusan sediaan,

biaya produk yang tinggi, serta marjin keuntungan yang rendah.

2. Memaksimalkan Efisiensi Pembelian dan Produksi

Ada beberapa contoh dimana sediaan disimpan demi efisiensi biaya

pengadaan dan produksi. Bila terjadi pembelian barang tang lebih besar dari

pada yang dibutuhkan untuk mencapai efisiensi pembelian dan

tranportasi,maka akan timbul sediaan barang yang menumpuk dalam waktu

yang lama.

3. Meminimalkan Investasi Sediaan

Sediaan akan mengikat uang yang seharusnya dapat digunakan

perusahaan untuk berbagai hal lain dalam bisnis. Sediaan yang berlebihan

(26)

sebabnya mengapa orang orang keuangan berusaha menjaga sediaan

serendah mungkin.

4. Memaksimalkan Profit

Profit dapat dimaksimalkan dengan meningkatkan pendapatan atau

menurunkan biaya. Salah satu yang terbaik adalah melakukan dengan

manajemen sediaan yang tepat.

2.1.5. Titik pemesanan kembali.

Titik Pemesanan Kembalidengan Sediaan Pengaman.

“Diagram gigi-gergaji” tradisional pada Gambar dibawah ini secara grafis

menunjukkan rumus titik pemesanan kembali.

Gambar 2.1 : Titik Pemesanan Kembali dengan Sediaan Pengaman

A = Titik Pemesanan Kembali – Titik dimana pesanan harus dilakukan

supaya dapat diterima sebelum tingkat sediaan menjadi nol.

B = Titik dimana pesanan baru diterima dan posisi gudang meningkat

sejumlah pesanan.

C = Waktu tenggang sebelum pesanan diterima.

(27)

D = Sediaan pengaman yang disimpan untuk menyangga kekurangan dan

kehabisan (stockout).

Dalam sistem ini, tingkat sediaan diperiksa secara periodik dan semua

pesanan terjadi di satu waktu, sering kali untuk semua jenis stok, untuk

mengisi kembali sediaan sampai pada tingkat target tertentu.

2.2. Peramalan

Untuk perkembangan dan kelangsungan suatu perusahaan adalah

kemampuan perusahaan tersebut di dalam menyesuaikan strateginya di

lingkungan yang berubah dengan cepat. Hal ini menuntut manajemen untuk

secara tepat mengantisipasi kejadian di masa yang akan datang. Harga yang

dibayar perusahaan akan sangat mahal jika sampai terjadi kesalahan

peramalan.

Bagaimana cara perusahaan melakukan peramalan lingkungan atau

peramalan industri. Perusahaan besar memiliki departemen perencanaan yang

melakukan peramalan jangka panjang atas faktor-faktor lingkungan yang

mempengaruhi pasarnya.

2.2.1. Pengertian Peramalan

Peramalan merupakan penelitian tingkat permintaan satu atau lebih

produk selama beberapa periode mendatang. Peramalan pada dasarnya

(28)

Dapat dikatakan bahwa peramalan tersebut merupakan taksiran ilmiah. Peramalan akan semakin baik jika terjadi sedikit kesalahan, walaupun

kesalahan peramalan tetap merupakan suatu hal yang sangat manusiawi. Agar

berarti maka hasil peramalan seharusnya dinyatakan dalam bentuk satuan

produk (unit) dan mencakup periode perencanaan tertentu. Peramalan dalam

jangka yang terlalu pendek tidak mungkin untuk digunakan mengambil

tindakan yang efektif.

2.2.2. Pengklasifikasian Metode Peramalan

Ada banyak macam metode peramalan yang telah di

kembangkan.Pemakaian metode peramalan diharapkan dapat mengurangi

sedikit ketidak pastian dimasa yang akan datang.

Metode peramalan dapat diklasifikasikan kedalam dua kategori

utama,yaitu metode peramalan kualitatif dan kuantitatif.

1. Metode peramalan kualitatif

Merupakan metode yang dalam pembuatanya tidak memerlukan data

kuantitati. Masukan yang dibutuhkan tergantung pada metode

tertentu yang akan dipakai dan biasanya merupakan hasil pemikiran

dari pembuatnya,dengan didasarkan pemikiran dan

pengalaman-pengalaman yang dipunyai.

Metode peramalan kualitati dapat diterapkan bila terdapat kondisi

sebagai berikut:1.Tidak tersedianya data masa lalu

2. Penemuan ditujukan untuk memperkirakan perkembangan

(29)

2. Metode peramalan kuantitatif

Merupakan metode yang berdasarkan data masa lalu. Peramalan ini

dapat diterapkan apabila terdapat kondisi sebagai berikut :

1. Melihat informasi masa lalu

2. Informasi itu dapat disajikan dalam bentuk kuantitatif

3. Dapat diasumsikan bahwa beberapa aspek masa lalu akan

berkelanjutan pada pola data yang akan datang.

2.2.3. Macam-macam metode peramalan:

Untuk menemukan metode peramalan yang paling tepat, maka

pada penelitian ini digunakan juga program Quant system version 3.0, yang terdiri dari sepuluh metode antara lain metode peramalan :

a. Simple Average

Metode rata-rata secara sederhana menghitung rataan dari data yang

tersedia (sejumlah n)

Persamaan metode rata-rata yaitu :

=

"

1

-t

(t)

n

A

(t)

F

Dimana :

F(t) = Ramalan untuk periode t

A(t) = Data aktual permintaan untuk periode t

(30)

b. Double Moving Average = Moving Average With Linier Trend

Peramalan double moving average meliputi 3 aspek, antara lain :

a. Mengadakan single moving averange pada waktu t

b. Terjadinya penyesuaian antara single moving average

double moving average (St’-St) pada saat t c. Terjadinya penyesuaian trend – N+1.

Aspek ini dapat dilihat pada persamaan berikut ini :

St’ =

St’ = statistik perataan pertama

St” = statistik perataan kedua

(31)

Peramalan Single Exponentional Smoothing dihitung berdasarkan hasil peramalan ditambah kesalahan peramalan

sebelumnya digunakan untuk mengoreksi peramalan berikutnya.

Peramalan Single Exponentional Smoothing adalah ; F(t) = a. A(t) + (1-a) . F(t –1)

Dengan

0 ≤ a ≤ 1,0

pengaruh Smoothing a yaitu ;

- Semakin besar a, Smoothing yang dilakukan semakin kecil. - Semakin kecil a, Smoothing yang dilakukan semakin besar. Karena a berupa variabel, masalah yang diahadapi dalam melakukan

peramalan Single Exponentional Smoothing adalah mencari a optimum.

d. Exponential Smoothing Trend

Metode penulisan Exponential Smoothing Trend ini digunakan untuk serial data yang memiliki unsur trend

(kecenderungan) yang konsisten. Metode ini melakukan smoothing

trend secara terpisah. Pemisahan ini menciptakan fleksibilitas

dimana Smoothing Trend dapat dilakukan dengan parameter yang berbeda dengan parameter yang dipakai series asli.

Persamaannya adalah sebagai berikut :

(32)

T(t) = β . (F(t-1) + T(t-1)) + (1 – β ). T(t-1)

F(1+σ) = F(t) + σ . T(t)

e. Double Exponential Smoothing

Metode ini merupakan linier yang dimaksudkan untuk

memperbaiki model exponential tunggal yang cenderung

F’(t) = Statistik penghalusan yang dapat menyesuaikan trend

untuk mengeliminasi kerlambatan yang terjadi sewaktu

statistik utama dihitung.

F”(t) = Parameter untuk memperbaiki penaksiran trend daripada

sebelumnya.

f. Winters Model

Salah satu dari metode peramalan yang khusus untuk data

yang berpola musionan adalah metode penghalusan exponensial

linier dan musiman dari winters, metode ini didasarkan atas tiga persamaan, yaitu masing-masing untuk unsur statoner, trend dan

musiman,sebagai berikut :

F(t) = α . A(t) / I(t-m) + (1 – α ) . (F(t-1) + T(t-1))

T(t) = β . (F(1) + F(t-1)) + (1 – β ). T(t-1)

I(t) = Y . A(t) / F(t) + (1 - β ) . T(t-m)

F(1+σ) = F(t) + σ . T(t)

Tertinggal dari pergerakan waktu sebenarnya. Dengan model ini

mampu menghasilkan ramalan yang tepat jika terdapat trend baik

(33)

Persamaan dari model ini adalah sebagai berikut :

F’(t) = α . A(t) + (1 – α ) . F’(t-1)

F”(t) = α . F(t) + (1 – α ) . F”(t-1)

f(t +σ)= F’(t)

Dimana :

F’(t) = Statistik penghalus pertama

F”(t) = Statistik penghalus kedua

α = Parameter penghalus pertama

A(t) = Permintaan aktual untuk periode t

F(t-1) = Peramalan permintaan untuk t-1

σ = Waktu dari t

g. Double Exponential Smoothing With Linier Trend

Keunggulan dari teknik ini terletak pada fleksibilitasnya

tetapi dengan dua parameter penghalus. Dengan rumus sebagai

berikut :

F’(t) = α . A(t) + (1 – α ) . F’(t-1)

F”(t) = α . F(t) + (1 – α ) . F”(t-1)

Dimana :

F’(t) = Statistik penghalus pertama

F”(t) = Statistik penghalus kedua

α = Parameter penghalus pertama

A(t) = Permintaan aktual untuk periode t

(34)

σ = Waktu dari t

h. Linier Regression

Regresi linier adalah kecenderungan titik koordinat dari

variabel bebas dan variabel titik bebas membentuk suatu garis linear.

Bentuk umum persamaan regresi untuk dua variabel sebagai berikut :

ŷ(t) = Variabel tidak bebas

T = Variabel bebas

α = Nilai daripada ŷ(t) bila t = 0

b = Perubahan rata-rata ŷ(t) = terdapat perubahan per unit t

Nilai α dan b yang meminimalkan jumlah kesalahan kuadrat dapat

dicari dengan menggunakan persamaan berikut :

α =

2.3. Perencanaan Kebutuhan Bahan

(35)

Perencanaan kebutuhan bahan (material requirement planing)

menggantungkan pengendalian pekerjaan dan pengendaian produk. Waktu

yang digunakan untuk mengubah jadwal produksi akibat permintaan atau

kelambatan tak terduga secara manual cukup panjang, sehingga

memungkinkan perhitungan kebutuhan bahan untuk keperluan produksi.

Adanya komputer mempercepat perhitungan sehingga peramalan, saat

pemesanan, jumlah pesanan, penjadwalan induk, waktu ancang, serta kondisi

persediaan pada saat yang sama. MRP pada dasarnya dapat diterapkan untuk

sebagian besar industri manufaktur yang bersifat diskrit, seperti industri

mobil, elektronika, dan lain sebagainya.

2.3.2. Tujuan Perencanaan Kebutuhan Bahan

Tujuan perencanaan ada tiga, yaitu :

1. Merupakan rencana produksi atau rencana pemesanan komponen dan

material yang diperlukan untuk menyusun jadwal induk produksi. Rencana

ini meliputi identifikasi produk yang harus dipesan, identifikasi jumlah dan

menjadwalkan pada saat dibutuhkan (order rekose) dan batas penyerahan

(duedate).

2. Menirukan prioritas berdasarkan pemesanan dengan berubahnya sistem.

3. Menjadi masukan perencanaan kebutuhan kapasitas untuk memprediksi

kebutuhan sumber yang diperlukan untuk mencapai jadwal induk

produksi.

(36)

1. Jadwal Induk Produksi (JIP)/Master Production Schedule (MPS).

Jadwal induk produksi merupakan rencana rinci tentang jumlah barang

yang akan diproduksi pada beberapa satuan waktu dalam barisan

perencanaan. Jadwal induk produksi merupakan optimasi ongkos dengan

memperhatikan kapasitasnya yang tersedia dan ramalan permintaan untuk

mencapai rencana produksi yang akan meminimasi total ongkos produksi

dan persediaan.

2. Struktur Produk/Bill of Material (BOM)

Setiap item dan komponen harus memiliki identifikasi yang jelas dan unik

sehingga berguna pada saat komputerisasi. Hal ini dilakukan dengan

membuat struktur produk dan bill of material tiap produk.

Struktur produk berisi tentang informasi mengenai hubungan antar

komponen dalam perakitan. Informasi ini penting dalam penentuan

kebutuhan kotor dan kebutuhan bersih suatu komponen. Lebih jauh lagi,

struktur produk juga mengandung informasi tentang semua item, seperti

nama item, serta jumlah yang dibutuhkan pada tiap tahun terhadap

perakitan.

3. Keadaan persediaan/Inventory Master File (IMF)

Data jumlah persediaan yang dimiliki digunakan untuk membuat

keputusan dalam memesan suatu barang dengan sebaik-baiknya.

Keluaran MRP meliputi :

(37)

1. Memberikan catatan mengenai pesanan.

MRP dapat menentukan jumlah kebutuhan komponen serta waktu

pemesanannya untuk memenuhi permintaan sesuai dengan JIP.

2. Memberikan indikasi untuk penjadwalan ulang.

MRP dapat memberi indikasi penjadwalan ulang apabila kapasitas

produksi yang telah ada tidak dapat memenuhi pesanan yang dijadwalkan.

3. Memberi indikasi untuk pembatalan pesanan.

Memberikan kepastian terhadap pembatalan pesanan yang dilakukan atas

suatu komponen.

4. Memberi informasi mengenai keadaan persediaan.

MRP dapat menentukan secara tepat penjadwalan setiap komponen

sehingga dapat meminimumkan biaya pesan maupun biaya perawatan.

2.3.4. Pendekatan Material Requirement Planning (MRP)

Pada tahap perencanaan kebutuhan material, dilakukan perencanaan

terhadap produk/part/material. Pendekatan untuk menyelesaikan masalah ini

dilakukan melalui logika sederhana, yaitu :

Peramalan Master Prod.

Schedule

Pesanan Langganan

Status

Persediaan Sistem MRP Struktur Produk

Rencana Pemesanan

Pemesanan

Pembelian Pesanan Kerja

Penjadwalan Kerja

(38)

Gambar 2.2 : Sistem legkap MRP

2.3.5. Langkah –Langkah Dasar Proses Pengolahan MRP 1. Perhitungan Kebutuhan Bersih (Netting)

Merupakan proses perhitungan untuk menetapkan jumlah kebutuhan

bersih yang besarnya merupakan selisih antara kebutuhan kotor dengan

keadaan persediaan. Masukan yang diperlukan dalam proses perhitungan

kebutuhan bersih ini adalah :

1. Kebutuhan kotor setiap periode

2. Persediaan yang ada di tangan

3. Rencana penerimaan (schedule receipts) pada periode mendatang

Tabel 2.1 adalah contoh jadwal kebutuhan kotor untuk setiap

periode, jadwal penerimaan, dan persediaan di tangan untuk produk akhir

(level nol). Dengan demikian kebutuhan bersih sesuai dengan persamaan (1)

dan (2) dihitung sebagaimana diperlihatkan Tabel 2.2. Hasil keseluruhan

perhitungan kebutuhan bersih ialah sebagaimana Tabel 2.3.

Tabel 2.1 : Contoh Jadwal Kebutuhan Kotor

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 total

Kebutuhan Kotor 10 15 25 22 72

Jadwal Penerimaan 30

Persediaan di Tangan : 23

Tabel 2.2 : Perhitungan Kebutuhan Bersih

(39)

5

Tabel 2.3 : Hasil Keseluruhan Perhitungan Kebutuhan Bersih

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 Total

Kebutuhan Kotor 10 15 25 22 72

Jadwal Penerimaan 30 30

Persediaan di Tangan : 23 23 13 43 18 18 -7 -29 -29 -29

Kebutuhan Bersih 0 0 0 0 0 7 22 29

Dalam perhitungan bersih dapat ditambahkan faktor-faktor lain,

misalnya faktor cadangan pengaman. Cadangan pengaman diperlukan apabila

permintaan selalu berubah-ubah dan faktor kesalahan peramalan besar. Tetapi

cadangan pengaman ini hanya dimasukkan untuk item-item yang independen.

Sementara untuk item-item yang memiliki ketergantungan terhadap item

lainnya, faktor cadangan pengaman sama sekali tidak dimasukkan.

2. Penentuan Ukuran Lot (lotting)

Lotting merupakan proses untuk menentukan besarnya pesanan

setiap item berdasarkan kebutuhan bersih yang dihasilkan dari proses netting.

Teknik lot sizing yang paling sederhana adalah dengan menggunakan konsep

jumlah atau periode pemesanan yang tetap (lot for lot).

Tabel 2.4 merupakan pengembangan Tabel 2.3 terdahulu dengan

menggunakan teknik penentuan ukuran lot for lot.

Tabel 2.4 : Contoh Proses Lotting dengan MenggunakanTeknik Lot For Lot

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 total

Kebutuhan Bersih 0 0 0 0 0 7 2 29

Ukuran Lot 7 2 29

(40)

Proses ini ditunjukan untuk menentukan saat yang tepat guna

melakukan rencana pemesanan dalam upaya memenuhi tingkat kebutuhan

bersih. Rencana pemesanan dilakukan pada saat material dibutuhkan

dikurangi dengan waktu ancang. Tabel 2-5 berikut ini memberikan contoh

offsetting dengan waktu ancang dua periode.

Tabel 2.5 : Contoh Proses Offsetting dengan Waktu Ancang Dua Periode

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 total

Ukuran Lot 7 2 29

Renc. Pemesanan 7 2 29

4. Proses Explosion

Proses explosion adalah proses perhitungan kebutuhan kotor item yang berada di tingkat lebih bawah, didasarkan atas rencana pemesanan yang

telah disusun pada proses offsetting. Dalam proses explosion ini data struktur produk dan bill of material memegang peran penting karena menentukan arah explosion item komponen. Proses explosion dilakukan dengan menggunakan

persamaan (3). Tabel 2.6 di bawah ini memberikan gambaran proses

explosion yang terjadi pada tiga tingkat.

Tabel 2.6 : Contoh Suatu Proses Explosion

Item A-Tingkat I-Waktu Ancang 2 Periode

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 Total

Kebutuhan Kotor 10 15 10 20 5 10 70

Jadwal Penerimaan 14 14

Persediaan di Tangan : 12 2 2 1 -9 -29 -34 -34 -44 -44

Renc. Pesan 9 20 5 10 44

Item B – Tingkat 2 (1/1) – Waktu Ancang 1 Periode

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 Total

Kebutuhan Kotor 9 20 5 10 44

Jadwal Penerimaan

Persediaan di Tangan : 28 28 19 -1 -6 -6 -16 -31 -31 -31

Renc. Pesan 1 5 10 15 31

Item C – Tingkat 3 (2/1) – Waktu Ancang 2 Periode

Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 Total

Kebutuhan Kotor 2 10 20 30 62

(41)

Persediaan di Tangan : 8 6 -4 -4 -24 -54 -54 -54 -54

Renc. Pesan 4 20 30 62

2.3.6 Teknik Lot Sizing dalam MRP

Ukuran jumlah barang yang dipesan (lot size) akan berhubungan dengan biaya pemesanan (set up) dan biaya penyimpanan barang semakin rendah ukuran lot, berarti semakin sering melakukan pemesanan barang,

akan menurunkan biaya penyimpanan, tetapi menambah biaya pemesanan

barang akan menurunkan biaya penyimpanan, tetapi menambah biaya

pamesanan. Sebaliknya semakin tinggi ukuran lot akan mengurangi frekuensi

pemesanan, berarti mengurangi biaya pemesanan tetapi meningkatkan biaya

penyimpanan. Untuk itu perlu dicari ukuran lot yang tepat agar dapat

meminimalkan total biaya persediaan.

Adapun teknik teknik lot sebagai berikut menurut Zulian Yamit (1998):

1. Lot for lot (LFL)

Metode Lot for lot dikenal sebagai metode persediaan minimal berdasarkan ide penyediaan persediaan (memproduksi) sesuai dengan

yang diperlukan saja, jumlah persediaan diusahakan seminimal mungkin.

Jika pesanan dapat dilakukan dalam jumlah berapa saja,maka

pesanan sesuai dengan jumlah yang sesungguhnya diperlukan (lot for lot) menghasikan tidak adanya persediaan. Biaya yang timbul berupa biaya

pemesanan saja. Metode ini beresiko tinggi, yaitu apabila terjadi

keterlambatan dalam pengiriman barang, maka akan mengakibatkan

(42)

Tabel 2.7.Contoh rencana produksi

Minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Produk

si

5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000

Biaya setiap kali pemesanan (set-upt) Rp. 35.000 dan biaya simpan Rp 50 per komponen per tahun. Dengan menggunakan metode LFL maka

rencana kebutuhan material dapat disusun seperti tabel dibawah ini:

Tabel 2.8. Bagan MRP dengan Metode LFL(dalam ribuan unit)

PERIODE 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Kebutuhan kotor 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan di tangan 15 10 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Kebutuhan bersih 0 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

Rencana terima pesanan

0 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

Rencana pemesanan 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

Biaya total persediaan dapat dihitung sebagai berikut :

Biaya pemesanan = 50 x Rp. 35.000 = Rp. 1.750.000

Biaya simpan = Rp. 0 +

Total biaya = Rp. 1.750.000

2. Economic Order Quantity (EOQ)

Metode ini digunakan untuk permintaan yang tidak seragam dalam

beberapa periode. Rata-rata permintaan dipergunakan untuk mendapatkan

rata-rata jumlah bahan setiap kali pemesanan, rata-rata permintaan beberapa

(43)

hasilnya dibulatkan ke dalam angka integer. Angka terakhir yang

menunjukkan jumlah ekonomis dalam setiap kali pemesanan.

Dibawah ini contoh penerapan EOQ sederhana :

Agen gallati adalah agen pembelian suatu perusahaan

manufakturing besar . Dia sedang melakukan negosiasi suatu komponen yang

digunakan dalam sebagian produk yang sedang di produksi perusahaan.

Permintaanakan komponen tersebut adalah 250.000 unit per 250 hari kerja per

tahun . permintaan adalah konstan dan seragam. Biaya penyimpanan sebesar

Rp 50,- per komponen per tahun. Biaya pemesanan Rp 35.000,- per order , dan

penyedia (supplier) memerlukan waktu 2 minggu (10 hari kerja) untuk

pengiriman . Tentukan (a) Titik pemesanan kembali (kuantitas dimana

pesanan harus dilakukan ), (b) economic order quantity(EOQ), dan (c) biaya

persediaan tahunan total pada EOQ. Pemecahan masalah diatas adalah sebagai

berikut :

(a) Dalam hal ini ,

Permintaan per minggu (d) =

50

lead time(L) =10 hari kerja (2 minggu)

(44)

Jadi, Kapan saja persediaan mencapai 10.000 unit, pesanan akan dilakukan

(c) Total biaya = Total biaya simpan + Total biaya pesan

TC =

Tabel 2.9. Bagan MRP dengan Metode EOQ (dalam ribuan unit)

PERIODE 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Kebutuhan kotor 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan di tangan 15 10 50 0 14 9 4 18 13 8 3 17 12 7

Kebutuhan bersih 0 5 1 2

Rencana terima pesanan

19 19 19

Rencana pemesanan 19 19 19

3. Periode Order Quantity (POQ)

Interval periode waktu pemesanan = 4 minggu atau setiap periode 4

minggu melakukan pemesanan sebanyak (4 x 20.000 = 80.000 unit/order).

Frekuensi pemesanan dalam 1 tahun = 250.000 : 20.000 = 12.5 kali = 13 kali

Total biaya pemesanan = 13 x Rp 35.000 = Rp 455.000

(45)

Tabel 2.9. Bagan MRP dengan Metode EOQ (dalam ribuan unit)

PERIODE 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Kebutuhan kotor 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan di tangan 15 10 50 0 15 10 5 0 15 10 5 0 15 10

Kebutuhan bersih 0 5 5 5

Rencana terima pesanan

20 20 20

Rencana pemesanan 20 20 20

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 OBYEK PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di perusahaan CV Ambar Jati Furniture yang

berlokasi di Klaten. Obyek penelitian hanya terbatas pada kebutuhan bahan

baku pada proses produksi kursi santai.

3.2 PENGUMPULAN DATA

Untuk memperoleh data yang baik dan akurat maka Pengumpulan

data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara cara sebagai berikut:

a. Studi Kepustakaan

Studi yang merupakan pengumpulan yang diperoleh dengan

membaca dan mempelajari buku buku yang ada hubunganya dengan

masalah yanga dihadapi.

(46)

Studi ini dilakukan dengan mengadakan penelitian langsung pada

perusahan yang bersangkutan sebagai sasaran penelitian. Penelitian di

lapangan dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Observasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan

penelitian atau pengamatan langsung terhadap kegiatan di lapangan.

2. Wawancara. Merupakan komunikasi langsung dengan mengadakan tanya

jawab dengan yang bersangkutan untuk memperoleh data yang diperlukan.

3. Dokumentasi. Merupakan pengumpulan data yang berasal dari

catatan-catatan atau arsip yang dimiliki oleh perusahaan.

3.3 METODE & ANALISIS DATA

Analisis data merupakan proses perhitungan secara kualitatif

dengan menggunakan perumusan yang telah ditentukan.

3.3.1. Peramalan

Ada banyak macam metode peramalan yang telah di kembangkan.

Pemakaian metode peramalan diharapkan mengurangi sedikit ketidak pastian

dimasa yang akan datang.

Dari data permintaan diolah dengan menggunakan program

Quanyitative System 3.0. dan untuk mengukur tingkat kesalahan

menggunakan MAD yang terkecil sehingga mendapat hasil yang lebih akurat.

Ada sepuluh metode peramalan yang dipergunakan antaralain:

a) Simple Average

(47)

d) Moving Average With Linier Trend e) Single Exponential Smoothing

f) Exponential Smoothing With Linear Trend g) Double Exponential Smoothing

h) Double Exponential Smoothing With Linear Trend i) Linear Regression

j) Winter’s model

Penentuan tingkat kesalahan terkecil dalam peramalan

Mean Absolut Deviation (MAD) =

(

)

F(t) = nilai peramalan periode ke-t

Xi = data aktual periode ke –1

N = jumlah observasi

Standar Deviation Error : SDE =

(48)

Mean Percentage Error : MPE =

Mean Absolut Percentage Error : MAPE =

=

Untuk penelitian ini MAD (Mean Absolut Deviation) digunakan sebagai ukuran kesalahan untuk menentukan kebaikan suatu peramalan.

3.3.2. Penentuan Jadwal Induk Produksi (JIP)

JIP merupakan rencana rinci tentang jumlah barang yang akan

diproduksi pada beberapa satuan waktu dalam horison perencanaan.JIP

merupakan optimasi ongkos dengan memperhatikan kapasitas yang tersedia

dan ramalanpermintaan untuk mencapai rencana produksi yang akan

meminimasi total ongkos produksi dan persediaan.

JIP =

3.3.3. Perhitungan Material Requirement Planning (MRP)

Berdasarkan perhitungan JIP maka dapat dilakukan perencanaan

kebutuhan bahan. Data yang akan diolah dlam MRP adalah:

a) JIP / MPS

b) Status Persediaan

c) Struktur Produk (Bill of Material)

(49)

Dalam menghitung ukuran lot dilakukan secara manual dan dibantu

dengan menggunakan dua metode yaitu:

1. Lot for lot

2. Economic Order Quantity (EOQ) 3.4. kesimpulan dan saran

Berisi kesimpulan dari hasil pengolahan data secara keseluruhan

serta saran saran yang diberikan ke Perusahaan.

3.5. Kerangka Pemecahan Masalah

Kesimpulan dan Saran Selesai

Mulai

Perumusan Masalah

Pengumpulan Data

Data-data permintaan masa lalu Data struktur produk Data persediaan yang dimiliki Data Lead Time (waktu ancang)

Pengolahan Data & Analisa Peramalan

Jadual Induk Produksi (JIP) MRP meliputi :

Lot For Lot (LFL)

Economic Order Quantity (EOQ)

Period Order Quantity (POQ) Akumulasi

Studi pendahuluan

Tujuan penelitian

Selesai

(50)

Gambar 3.1.Kerangka pemecahan masalah

BAB IV

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA SERTA ANALISA 4.1. Hasil penelitian

4.1.1. sejarah dan perkembangan Ambar Jati Furniture (di lampiran) 4.2. Pengumpulan Data

Data yang telah diteliti dan dikumpulkan tentang produk kursi santai

adalah sebagai berikut :

1. Data pemesanan produk kursi santai dari bulan Juli 2002 - Juni 2003.

2. Data struktur produk kursi Armando(CH-409)

3. Data persediaan komponen kuri Armando(CH-409)

4. Data waktu ancang (lead time) setiap komponen pembentuk kursi

Armando(CH-409).

5. 4.2.1.Data Pemesanan Kursi Armando(CH-409) Dari bulan Juli 2002 sampai Juni 2003.

(51)

No Tahun Bulan Pemesanan

Data struktur produk ini mengenai komponen-komponen penyusun

kursi Armando (CH-409).

Tabel 4.2. Data Struktur Produk Kursi Armando(CH-409)

No Nama Komponen Kode Jumlah Level Produksi/Beli

(P/B)

1 Kursi CH-40901 1 0 P

2 Rangka depan CH-40911 1 1 P

3 Rangka belakang CH-40912 1 1 P

4 Busa dudukan CH-40913 1 1 B

5 Bingkai depan CH-40921 1 2 P

6 Kaki depan CH-40922 2 2 P

7 Bingkai samping CH-40923 2 2 P

8 Bingkai belakang CH-40924 1 2 P

9 Kaki belakang CH-40925 2 2 P

10 Sandaran tangan CH-40926 2 2 P

11 Busa sandaran CH-40927 1 2 B

12 Busa CH-40928 1 2 B

13 Rangka dudukan CH-40929 4 2 P

14 Busa CH-40931 1 3 P

15 Rangka sandaran CH-40932 4 3 P

(52)

Data persediaan yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data

persediaan komponen yang digunakan untuk membuat kursi.

Tabel 4.3.

Data Persediaan dan Waktu Ancang Komponen Kursi

No Nama Komponen Kode Jumlah Lead time

(Minggu)

1 Kursi CH-40901 10 1

2 Rangka depan CH-40911 10 1

3 Rangka belakang CH-40912 10 1

4 Busa dudukan CH-40913 10 1

5 Bingkai depan CH-40921 20 1

6 Kaki depan CH-40922 30 1

7 Bingkai samping CH-40923 30 1

8 Bingkai belakang CH-40924 20 1

9 Kaki belakang CH-40925 30 1

10 Sandaran tangan CH-40926 30 1

11 Busa sandaran CH-40927 10 1

12 Busa CH-40928 0 1

13 Rangka dudukan CH-40929 30 1

14 Busa CH-40931 0 1

15 Rangka sandaran CH-40932 30 1

Lead time untuk masing-masing komponen dihitung mulai dari

pemesanan sampai bahan baku tiba ditambah dengan lamanya proses

pengerjaan sampai komponen siap dipakai.

Pada pembuatan kursi Armando(CH-409) ini, pembelian bahan baku

dalam bentuk kayu olahan. Adapun ukuran komponen pembentuknya adalah

sebagai berikut (dalam cm3 ).

Bingkai depan = 45 x 5 x 4 = 900 Cm3

Kaki depan = 60 x 6 x 4 = 1440 Cm3

Bingkai samping = 40 x 5 x 4 =800 Cm3

(53)

Kaki belakang = 80 x 6 x 4 = 1920 Cm3

Sandaran tangan = 45 x 5 x 2,5 = 562.5 Cm3

Rangka sandaran = 35 x 4 x 4 = 280 Cm3

Rangka dudukan = 40 x 4 x 4 = 640 Cm3

Total persediaan kayu olahan komponen kursi :

Bingkai depan = 20 x 900 = 18000 Cm3

Kaki depan = 30 x 1440 = 43200 Cm3

Bingkai samping = 30 x 800 = 24000 Cm3

Bingkai belakang = 20 x 900 = 18000 Cm3

Kaki belakang = 30 x 1920 = 57600 Cm3

Sandaran tangan = 30 x 562.5 = 16875 Cm3

Rangka sandaran = 15 x 4280 = 64200 Cm3

Rangka dudukan = 15 x 640 = 9600 Cm3

4.3. Pengolahan Data

Data yang akan diolah dan di analisis adalah data permintaan produk

kuri santai, data Jadwal Induk Produksi (JIP) untuk tiga bulan yang akan

datang yaitu bulan Juli sampai September 2003. Data perencanaan kebutuhan

komponen dan penentuan lot perkomponen pembentuk kursi Armando.

Pengolahan data dilakukan berdasarkan langkah-langkah

sebagai berikut :

(54)

2. Penentuan jadwal induk produksi

3. Perhitungan perencanaan kebutuhan bahan

4. Penentuan ukuran lot yang optimbal

4.3.1. Tahap Peramalan

Tahap peramalan ini bertujuan untuk memperkirakan kebutuhan

bahan baku untuk masa yang akan datang. Pengumpulan data-data peramalan

didapat dari data pemesanan produk kursi Armando(CH-409) pada bulan Juli

2002-Juni 2003. Dalam menentukan hasil peramalan digunakan program Qs

Version 3.0 berdasarkan nilai MAD yang terkecil.

Tabel 4.4. Rekapitulasi Hasil Peramalan

No Metode MAD

1 Simple Average 15.25

2 Double Moving Average 25.26

3 Single Exponential Smoothing 16.15

4 Exponential Smoothing Trend 17.96

5 Double Exponential Smoothing 14.86

6 Winters Model 33.94

7 Double Exponential Smoothing With linear Trend 18.75

8 Linear Regression 19.33

9 Adaptive Exponential Smoothing 15.24

10 Weighted Moving Average 18.74

Jadi metode peramalan yang dipilih adalah metode Double Exponential Smoothing karena memiliki nilai MAD yang terkecil.

Tabel 4.5. Hasil Peramalan

No Tahun Bulan Jumlah (unit)

1 2003 Juli 49.849

(55)

3 2003 September 49.849

4.3.2. Penentuan Jadwal Induk Produksi

Jadwal induk produksi merupakan jumlah rincian produk akhir

berdasarkan hasil induk produksi untuk tiga bulan yang akan datang yaitu

bulan Juli, Agustus dan September 2003. Dan periode produksi dalam

mingguan, sehingga didapat rumus sebagai berikut :

Data hasil peramalan dalam periode bulanan dikonvermasikan

Jadi jadwal induk produksi untuk tiga bulan yang akan datang adalah :

JIP =

Jadwal Induk Produksi perkomponen Untuk Tiga Bulan Yang Akan Datang

1. Bingkai depan(CH-40921).

No Minggu ke Bulan Kebutuhan Bahan

(56)

2. Kaki depan(CH-40922).

No Minggu ke Bulan Kebutuhan Bahan

1 1 Juli 26

No Minggu ke Bulan Kebutuhan Bahan

1 1 Juli 26

No Minggu ke Bulan Kebutuhan Bahan

(57)

8 8 Agustus 26

No Minggu ke Bulan Kebutuhan Bahan

1 1 Juli 26

No Minggu ke Bulan Kebutuhan Bahan

1 1 Juli 26

No Minggu ke Bulan Kebutuhan Bahan

1 1 Juli 52

2 2 Juli 52

(58)

4 4 Juli 52

No Minggu ke Bulan Kebutuhan Bahan

1 1 Juli 52

4.3.3. Tahap Perhitungan Perencanaan Kebutuhan Bahan dengan metode

lot for lot

Tabel 4.7.

Perhitungan Kebutuhan Bahan Baku Produk Kursi Armando(CH-409)

Nama Komponen : Kursi Armando(CH-409)

Lead Time : 1 Minggu Level 0

Periode Minggu

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kebutuhan kotor 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan ditangan 10 10 10 10

Kebutuhan bersih 3 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana terima pesanaan 3 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

(59)

Nama Komponen : Rangka depan (CH-40911).

Persediaan ditangan 10 10 10 7

Kebutuhan bersih 6 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana terima pesanan 6 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana pemesanan 6 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Nama Komponen : Bingkai depan(CH-40921)

Lead Time : 1 Minggu Level 2

Minggu

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kebutuhan kotor 6 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan ditangan 20 20 20 14 1

Kebutuhan bersih 12 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana terima pesanan 12 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana pemesanan 12 13 13 13 13 13 13 13 13

Nama Komponen : Kaki depan(CH40922)

Lead Time : 1 Minggu Level 2

Minggu

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kebutuhan kotor 12 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan ditangan 30 30 30 18

Kebutuhan bersih 8 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Rencana terima pesanan 8 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Rencana pemesanan 8 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Nama Komponen : Bingkai samping(CH-40923)

Lead Time : 1 Minggu Level 2

Periode Minggu

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kebutuhan kotor 12 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan ditangan 30 30 30 18

Kebutuhan bersih 8 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Rencana terima pesanan 8 26 26 26 26 26 26 26 26 26

(60)

Nama Komponen : Rangka belakang(CH-40912)

Persediaan ditangan 10 10 10 7

Kebutuhan bersih 6 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana terima pesanan 6 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana pemesanan 6 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Nama Komponen : Bingkai belakang (CH-40924)

Lead Time : 1 Minggu Level 2

Periode Minggu

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kebutuhan kotor 12 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan ditangan 20 20 20 8

Kebutuhan bersih 18 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Rencana terima pesanan 18 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Rencana pemesanan 18 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Nama Komponen : Kaki belakang(CH-40925)

Lead Time : 1 Minggu Level 2

Periode Minggu

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kebutuhan kotor 12 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan ditangan 30 30 30 18

Kebutuhan bersih 8 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Rencana terima pesanan 8 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Rencana pemesanan 8 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Nama Komponen : Sandaran tangan(CH-40926)

Lead Time : 1 Minggu Level 2

Periode Minggu

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kebutuhan kotor 12 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan ditangan 30 30 30 18

Kebutuhan bersih 8 26 26 26 26 26 26 26 26 26

Rencana terima pesanan 8 26 26 26 26 26 26 26 26 26

(61)

Nama Komponen : Busa Sandaran (CH-40927)

Persediaan ditangan 10 10 10 4

Kebutuhan bersih 9 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana terima pesanan 9 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana pemesanan 9 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Nama Komponen : Rangka Sandaran (CH-40931)

Lead Time : 1 Minggu Level 3

Periode Minggu

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kebutuhan kotor 36 52 52 52 52 52 52 52 52 52

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan ditangan 30 30 30

Kebutuhan bersih 6 52 52 52 52 52 52 52 52 52

Rencana terima pesanan 6 52 52 52 52 52 52 52 52 52

Rencana pemesanan 6 52 52 52 52 52 52 52 52 52

Nama Komponen : Busa dudukan(CH-40913)

Lead Time : 1 Minggu Level 1

Periode Minggu

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kebutuhan kotor 3 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan ditangan 10 10 10 7

Kebutuhan bersih 6 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana terima pesanan 6 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana pemesanan 6 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Nama Komponen : Rangka dudukan(CH-40929)

Lead Time : 1 Minggu Level 2

Periode Minggu

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kebutuhan kotor 24 52 52 52 52 52 52 52 52 52 52

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan ditangan 30 30 30 6

Kebutuhan bersih 46 52 52 52 52 52 52 52 52 52

Rencana terima pesanan 46 52 52 52 52 52 52 52 52 52

(62)

Untuk memenuhi kebutuhan bersih pada produk kursi Armando

(CH-409) penulis menggunakan empat alternatif metode pengukuran

lot pemesanan yaitu:

1. Lot For Lot (LFL)

2. Economic Order Quantity (EOQ) 3. Period Order Quantity (POQ) 4. Akumulasi

Tabel 4.8.

Kebutuhan Bersih Produk Kursi Armando(CH-409)

Periode Minggu

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kebutuhan kotor 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan ditangan 10 10 10 10

Kebutuhan bersih 3 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana terima pesanaan Rencana pemesanan

1. MetodeLFL

Tabel 4.9 berikut ini menunjukkan MRP produk kursi Armando (CH-409)

dengan lot pemesanan dengan menggunakan metode Lot For Lot.

Tabel 4.9

MRP Produk” Kursi Armando(CH-409)”(metode pemesanan LFL)

Periode Minggu

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kebutuhan kotor 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan ditangan 10 10 10 10

Kebutuhan bersih 3 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana terima pesanaan 3 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Rencana pemesanan 3 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Dengan menggunakan lot pemesanan sistem LFL berarti pesanan dilakukan untuk setiap minggu. Maka total biaya yang dikeluarkan adalah:

Biaya pemesanan = 12 x Rp 70.000 = Rp 840.000

Biaya simpan = Rp 0 +

(63)

2. Metode EOQ

Untuk menentukan jumlah lot dengan menggunakan metode EOQ ,

langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan besar

EOQ dan kemudian membuat MRP produk “kursi Armando

(CH-409)” (metode EOQ)

Diketahui : D = Rata-rata kebutuhan = 50 unit/minggu

S = Biaya pesan Rp 70.000,-setiap kali pesan

MRP Produk” Kursi Armando(CH-409)”(metode pemesanan EOQ)

Periode Minggu

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kebutuhan kotor 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Skedul penerimaan - - -

-Persediaan ditangan 10 10 10 10 35 22 9 34 21 8 33 20 7 32 19 6

Kebutuhan bersih 3 4 5 6

Rencana terima pesanaan 38 38 38 38

Rencana pemesanan 38 38 38 38

Frekuensi pembelian dalam tiga bulan = 150 : 38 = 3.9 kali = 4 kali

Interval waktu order /order = 12 : 4 = 3 minggu

Total biaya pemesanan = 4 x Rp 70.000 = Rp 280.000

Total biaya simpan = 3 x Rp 5.000 = Rp 15.000 +

Total biaya = Rp 295.000

Gambar

Gambar 2.1 : Titik Pemesanan Kembali dengan Sediaan Pengaman
Tabel 2.1 : Contoh Jadwal Kebutuhan Kotor
Tabel 2.4 : Contoh Proses Lotting dengan MenggunakanTeknik Lot For Lot
Tabel 2.5 : Contoh Proses Offsetting dengan Waktu Ancang Dua Periode
+7

Referensi

Dokumen terkait

Akhir yang berjudul “ Prototype Hydrogen Fuel Generator (Aplikasi Pemanfaatan Gas Hidrogen Pada Elektrolisis Sebagai Bahan Bakar Las) ”5. Tugas Akhir ini disusun untuk

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan protein dengan kadar ureum dan kreatinin pada pasien gagal ginjal kronik hemodialisis di unit ginjal

Penelitian ini mendapatkan persentase anak yang memiliki perkembangan yang normal lebih tinggi pada anak dengan status gizi normal (82,2%) daripada anak

Rubric Quality Matters(RQM) memiliki standar - standar yaitu course overview and introduction, learning objectives, assesment and measurement, instructional

Unit Layanan Pengadaan yang selanjutnya disebut ULP adalah unit organisasi pemerintah yang berfungsi melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa di Pemerintah Kota Cimahi

berkepanjangan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pada stadia awal [2]. Pada saat ini penerapan kemajuan teknologi yang digunakan hanya sebatas otomatisasi dan

1) Perubahan Mindseat Masyarakat Lebih Luas Perubahan mindseat masyarakat Sariwani merupakan suatu hal yang berguna untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Masyarakat Desa

Tujuan dari penelitan ini adalah untuk menghitung efisiensi penyaluran limbah cair pada saluran aplikasi sistem flatbed serta menganalisis sifat kimia limbah cair