Bab ini terdiri atas kesimpulan dari permasalahan-permasalahan dalam penelitian ini dan selanjutnya hasil-hasil penelitian yang diperoleh akan didiskusikan. Pada akhir bab ini akan dikemukakan saran-saran prkatis dan metodologis sesuai dengan hasil untuk penelitian berikutnya dengan tema yang sama.
V. A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil utama dan hasil tambahan penelitian, maka penelitian ini menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
1. Hasil perbandingan antara skor mean empirik dengan skor mean hipotetik menunjukkan bahwa mean empirik lebih besar dibandingkan dengan mean hipotetik. Hal ini berarti bahwa makna hidup pada subjek penelitian lebih tinggi dari rata-rata makna hidup berdasarkan skala makna hidup.
2. Berdasarkan kategorisasi mean empirik dari skala LRI mayoritas subjek penelitian kurang memandang positif hidupnya atau merasa hidupnya kurang bermakna (41,93%), tetapi (24,19%) subjek penelitian memandang hidupnya secara sangat positif atau merasa hidupnya sangat bermakna dalam suatu kerangka acuan tertentu, dan sedang berada dalam proses pemenuhan makna hidup. Selanjutnya (19,35%) subjek penelitian memandang hidupnya secara positif dan bermakna, dan sedang berada dalam proses pemenuhan, sedangkan (14,51%) memandang hidupnya
tidak positif atau merasa hidupnya tidak bermakna dan tidak berada dalam proses pemenuhan dari makna hidupnya.
3. Hasil perbandingan antara skor mean empirik lebih besar dibandingkan dengan mean hipotetik pada sub-scale framework. Subjek penelitian lebih mampu melihat hidupnya dalam suatu kerangka acuan tertentu berdasarkan suatu perspektif atau tujuan hidup tertentu (framework) dibandingkan dengan rata-rata pada umumnya.
4. Berdasarkan kategorisasi framework dapat dilihat bahwa subjek penelitian sangat mampu melihat hidupnya dalam suatu kerangka acuan berdasarkan suatu perspektif (56,5%), sedangkan (29%) subjek penelitian mampu melihat hidupnya dalam suatu kerangka acuan tertentu, dan (14,5%) subjek penelitian kurang mampu melihat hidupnya dalam suatu kerangka acuan berdasarkan suatu perspektif.
5. Berdasarkan hasil perbandingan pada sub-scale fulfillment didapatkan bahwa skor mean empirik lebih tinggi dibandingkan dengan mean hipotetik. Hal ini berarti bahwa subjek penelitian memandang tujuan hidupnya telah terpenuhi atau setidaknya berada dalam proses pemenuhan dibandingkan dengan rata-rata pada umumnya.
6. Berdasarkan kategorisasi sub-skala fulfillment diperoleh bahwa (46,8%) subjek penelitian merasa sangat mampu memandang bahwa tujuan hidupnya telah terpenuhi atau setidaknya berada dalam proses pemenuhan, (37,1%) subjek penelitian merasa mampu memandang bahwa tujuan hidupnya telah terpenuhi atau setidaknya berada dalam proses pemenuhan , sedangkan (14,5%) merasa kurang mampu memandang bahwa tujuan
hidupnya telah terpenuhi atau setidaknya berada dalam proses pemenuhan dan (1,6) subjek penelitian merasa tidak mampu memandang bahwa tujuan hidupnya telah terpenuhi atau setidaknya berada dalam proses pemenuhan. Hal ini berarti secara umum waria mampu memandang bahwa tujuan hidupnya setidaknya berada dalam proses pemenuhan makna hidup.
7. Berdasarkan hasil tambahan, maka diperoleh:
a. Usia dewasa tengah lebih berkomitmen terhadap nilai-nilai tertentu atau percaya terhadap keyakinan-keyakinan tertentu dan memiliki pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengan dewasa awal.
b. Jenjang pendidikan SMU lebih berpikir positif terhadap hidup yang dijalani, lebih puas dan bahagia dibandingkan dengan jenjang pendidikan SMP, SD dan Diploma.
c. Pekerja salon lebih dapat memaknai hidup, berpikir mengenai kehidupan yang dijanani dengan pemikiran positif dibandingkan dengan pedagang, pekerja seks komersil dan penyanyi cafe/bar.
V. B. DISKUSI
Berdasarkan hasil utama penelitian diperoleh bahwa mean empirik lebih besar dibandingkan dengan mean hipotetik, hal ini berarti bahwa makna hidup pada waria lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata makna hidup berdasarkan skala LRI. Menurut Frankl (Debats, 1993) dalam keadaan mendesak/menderita secara kuat mempengaruhi dalam mencapai makna hidup individu. Dibandingkan
dengan kehidupan individu pada umumnya kehidupan para waria jauh lebih mendesak. Kehidupan para waria yang tak pernah terlepas dari permasalahan dan peristiwa-peristiwa yang tak terelakkan baik yang bersumber dari dalam diri sendiri maupun yang berasal dari lingkungan yang mengakibatkan stress dan menimbulkan perasaan-perasaan kecewa, tertekan, susah, sedih, cemas, malu, marah, terhina, rendah diri, serta penghayatan-penghayatan yang tak menyenangkan lainnya. Tetapi para waria memiliki harapan akan terjadinya hal-hal yang baik atau perubahan yang menguntungkan di kemudian hari.
Harapan ini menuntun waria berusaha melepaskan diri dari perangkap kesedihan, mencurahkan seluruh perhatian dan kegiatannya kepada hal-hal lain yang dianggap jauh lebih penting dan bermakna (self-transcenaence), yakni menerima keadaan dirinya dengan sepenuh hati. Ketika waria menerima keadaan dirinya maka akan terjadi perubahan sikap pada dirinya, secara sadar waria akan mengarahkan diri (self-directing) dan mengikatkan diri (self-commitment) pada suatu kewajiban yang jauh lebih penting dan berarti bagi dirinya sendiri. Kewajiban yang penting dan bermakna inilah yang mengarahkan mereka pada tindakan-tindakan yang terarah, disertai dengan usaha-usaha yang sadar untuk mengembangkan bakat, kemampuan, dan ketrampilan yang menunjang tujuan hidupnya (Bastaman, 1996). Para waria tidak hanya berfokus pada peristiwa yang negatif saja tetapi mereka dapat menyeimbangkan peristiwa hidup yang positif dan negatif (Debats, 1995).
Skor LRI yang diperoleh oleh para waria pada penelitian ini mengkategorikan waria kepada empat kelompok. Berdasarkan hasil skor yang diperoleh maka kebanyakan para waria berada pada kategori rendah sebanyak 26
orang. Arti dari kategorisasi skor ini adalah semakin tinggi skor yang diperoleh subjek penelitian maka subjek merasa semakin mampu melihat konsep dari makna hidupnya terpenuhi secara keseluruhan. Mayoritas para waria dalam penelitian ini kurang mampu melihat bahwa mereka telah memenuhi konsep dari makna hidupnya secara keseluruhan, pada bab pertama telah dibahas fenomena yang terjadi pada waria. Kaum waria memiliki masalah yang amat kompleks, yang tidak hanya dapat dilihat dari satu sisi saja. Permasalahan yang dihadapi ketika tidak disikapi dengan bijak dapat menghambat waria menemukan hikmat dari penderitaanya (meaning in suffering). Hambatan ini dapat menimbulkan kegelisahan dan perasaan kurang gembira serta menjadi pemurung (Debats, 1996). Menurut Bastaman & Almond bahwa self-esteem juga mempengaruhi makna hidup, akibat tidak puas terhadap keadaan diri dan kondisi lingkungan yang kurang memuaskan waria dapat merasa self-esteem yang rendah yang juga berdampak pada pencarian makna hidupnya yang terhambat. Dampak yang ditimbulkan dari tidak terpenuhinya makna hidup ini para waria dapat merasa cemas, lebih depresif, dan kurang merasa bahagia di dalam hidupnya.
Waria yang menjadi subjek penelelitian ini bergabung dalam sebuah komunitas waria yang diprakaryai oleh sebuah LSM. Anggota dari komunitas ini menyadari bahwa mereka adalah waria dan tidak malu mengakui hal tersebut kepada masyarakat banyak, sadar dan menerima keadaan diri adalah sebuah sikap yang sangat positif. Frankl (dalam Bastaman, 2007) penerimaan terhadap keadaan diri sendiri merupakan awal dari sebuah penemuan sumber makna hidup, yaitu nilai bersikap, dengan bersikap positif terhadap diri sendiri akan membawa
pemikiran serta sikap kita kearah yang lebih positif mengenai arti dari kehidupan yang dijalani.
Berbeda dengan para waria yang memiliki kategorisasi skor LRI yang sangat tinggi dan tinggi, waria pada kategori ini merasa yakin mereka dapat memenuhi konsep dari makna hidupnya Battista & Almond (Debats, 1993) berpendapat bahwa keyakinan ini menyangkut beberapa hal diantaranya para waria mampu secara positif berkomitment terhadap suatu konsep makna hidup, dimana konsep makna hidup ini akan memberikan suatu kerangka acuan atau tujuan untuk memandang kehidupannya. Waria mampu mempersepsikan hidupnya berkaitan dengan, atau memenuhi konsep makna hidupnya, dan dapat menghayati pemenuhan itu sebagai sebuah perasaan integration, relatedness, dan significance. Debats, 1996 berpendapat bahwa keyakian ini akan membawa mereka kedalam perasaan yang lebih bahagia dan merasa puas terhadap kehidupan yang dia miliki, ini didukung juga oleh penelitian yang dilakukan oleh Debats mengenai hubungan antara makna hidup dengan kebahagiaan. Para waria juga memiliki kecenderungan pola penilaian diri, orang lain, dan dunia yang positif. Para waria yang berada pada skor tinggi dan sangat tinggi lebih sering memberikan, menerima, dan berbagi sesuatu secara positif dengan orang lain. Mereka membantu atau memperhatikan orang lain (memberikan), merasa dipahami atau diperhatikan oleh orang lain dengan baik (menerima), dan menjalani waktu yang menyenangkan atau menyelesaikan masalah bersama-sama orang lain (berbagi) dibandingkan dengan skor rendah dan sangat rendah (Debats, 1996).
Skala LRI terbagi kedalam dua sub-skala yaitu framework dan fulfillment.
Framework merupakan kerangka acuan yang membantu seseorang melihat hidupnya dalam suatu perspektif atau tujuan hidup tertentu yang mempengaruhi pola kognitif individu. Fulfillment ialah pandangan tentang tujuan hidupnya telah terpenuhi atau setidaknya berada dalam proses pemenuhan yang mempengaruhi pola perasaan individu. Waria pada penelitian ini lebih kepada sub-skala
framework, pada umumnya waria ini sudah mampu melihat tujuan-tujuan atau kerangka acuan mengenai apa yang ingin mereka capai dalam kehidupan. Tetapi belum sampai pada tahap pemenuhan atau sudah memenuhi kerangka acuan yang dimiliki (fulfillment).
Framework dan fulfillment dikategorisasikan agar diperoleh gambaran yang jelas mengenai tingkatan dari masing-masing sub-skala LRI. Pengelompokan yang dilakukan membagi setiap sub-skala ke dalam empat kategorisasi yaitu, sangat tinggi, tinggi , rendah dan sangat rendah. Katogorisasi ini akan memberikan gambaran mengenai 62 subjek waria yang diteliti berada pada posisi yang mana pada masing-masing sub-skala. Sub-skala framework
menggambarkan bahwa mayoritas waria pada penelitian ini berada pada kategorisasi sangat tinggi sebanyak 35 orang dan tinggi sebanyak 18 orang. Data ini menyatakan bahwa kebanyakan waria pada penelitian mampu melihat kerangka acuan yang jelas mengenai pandangan hidup dan orientasi hidupnya. Ada sebanyak 9 orang yang termasuk kedalam kategorisasi rendah yang memiliki
framework yang kurang jelas sehingga pandangan hidup dan orientasi hidup waria ini juga kurang jelas. Berdasarkan kategorisasi fulfillment diperoleh mayoritas dari waria pada penelitian ini berada pada kategorisasi sangat tinggi sebanyak 29
orang, tinggi sebanyak 23 orang, rendah 9 orang dan sangat rendah sebanyak 1 orang. Sebagian besar waria pada penelitian ini merasa sedang berada dalam proses pencapaian makna hidup, sedangkan 10 orang yang tergabung ke dalam kategorisasi rendah dan sangat rendah kurang merasa berada dalam proses pencapaian makna hidup.
Berdasarkan hasil tambahan penelitian menurut usia, ternyata usia mempengaruhi seseorang dalam penemuan makna hidupnya, dewasa tengah lebih dapat memaknai hidup dibandingkan dengan dewasa awal. Victor Frankl (dalam Bastaman, 2007) juga menjelaskan mengenai makna hidup paripurna, dimana setiap orang dewasa seharusnya sudah mampu menemukan makna hidup. Makna hidup bersifat spesifik dan konkrit artinya dapat ditemukan dalam pengalaman dan kehidupan nyata sehari-hari. Bertambahnya usia akan menambah pengalaman seseorang dalam menjalani hidup, sehingga peluang untuk menemukan makna hidup dari pengalaman yang didapat juga bertambah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Debats (1996) pada pelajar diperoleh bahwa merka belum mampu menemukan makna hidup mereka, faktor yang menyebabkan adalah karena tugas tahap perkembangan mereka. Tahap perkembangan pada saat remaja menurut Erik Erikson masih berfokus pada penemuan identitas diri, berfokus pada diri sendiri, dan hubungan pertemanan, sedangkan pada tahap dewasa awal mereka mengalami intimacy dan isolation. Kedua tahap ini menyatakan kesibukan yang dialami individu, pada tahap remaja individu disibukan dengan perubahan yang terjadi pada dirinya, sedangkan pada dewasa awal kesibukan yang muncul akibat membina hubungan dan permasalahan pekerjaan.
Menurut Battista & Almond, 1973; Cantor & Kihlstrom, 1987; Zirkel & Cantor, 1990 (dalam Lindeman, dkk, 1996) menjelaskan pengalaman hidup yang
meaningfull sebagian besar banyak diperoleh dari pendidikan. Individu yang dicukupi dengan pilihan karir dan studi telah membuktikan bahwa hidupnya lebih penuh arti (meaningfull) dibandingkan dengan individu yang tidak dicukupi dengan pilihan karir dan studi. Debats (1996) juga berpendapat bahwa ada hubungan yang positif antara pendidikan dengan meaning in life pada individu. Berdasarkan hasil tambahan yang diperoleh mengenai skala LRI yang dihubungkan dengan pendidikan, dimana jenjang pendidikan dari seluruh subjek penelitian terbagi kedalam empat kelompok yaitu SD, SMP, SMA, dan Diploma. Diperoleh bahwa tingkat pendidikan SMU adalah kelompok yang memiliki makna hidup yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya. Tingkat pendidikan Diploma berada pada urutan terbawah disebabkan karena subjek penelitian hanya menjalani jenjang pendidikan ini selama 2 semester, dalam arti tidak berhasil menyelesaikan perkuliahan, urutan kedua pada jenjang pendidikan SD dan ketiga adalah SMP.
Frank (Bastaman, 2007) menyatakan bahwa salah satu sumber untuk dapat menemukan makna hidup adalah melalui nilai kreatif (values creative). Nilai kreatif ini dapat diperoleh melalui kegiatan berkarya, bekerja, mencipta serta melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab. Melalui karya dan kerja seseorang dapat menemukan arti hidup dan menghayati kehidupan secara bermakna. Hasil penelitian De Klerk (2006) menyatakan bahwa ada hubungan yang positif antara hasrat untuk hidup bermakna dengan pekerjaan,
individu yang menemukan makna hidup dari pekerjaannya akan memiliki komitmen dan motivasi kerja yang besar.
Hasil data dari penelitian ini menunjukkan bahwa pekerja salon dan pedagang merupakan jenis pekerjaan yang menimbulkan makna hidup yang positif pada waria. Jenis pekerjaan sebagai pekerja seks komersil berada pada urutan ketiga dan penyanyi cafe/bar pada urutan keempat. Menurut Koeswinarno (2004), pekerjaan yang paling banyak digeluti oleh waria adalah pekerjaan sebagai seorang penata rias di salon atau pedagang. Disebabkan karena pada bidang ini mereka dapat tampil dengan apa adanya sebagai seorang waria secara total, dan mereka juga memiliki keahlian yang lebih dibidang ini dibandingkan dengan dengan wanita atau pria. Sedangkan pada pekerjaan pada bidang pekerja seks dan penyanyi kafe biasanya digeluti karena kurang memiliki keahlian di bidang lain dan minimnya pendidikan yang mereka miliki.
V. C. Saran
Dari penelitian yang telah dilakukan dan kesimpulan yang dikemukakan, maka peneliti mengemukakan beberapa saran. Saran-saran ini diharapkan dapat berguna bagi perkembangan kelanjutan studi ilmiah untuk bidang kajian yang sama.
1. Saran Metodologis
a. Penelitian ini hanya menggambarkan mengenai makna hidup pada waria dengan menggunakan skala LRI, oleh karena itu penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti makna hidup waria dihubungkan dengan variabel lain.
b. Penelitian selanjutnya diharapkan untuk menggunakan teknik pengambilan sampel secara random (acak) yang memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk dapat dipilih sebagai subjek penelitian. c. Peneliti selanjutnya yang ingin meneliti topik yang sama diharapkan untuk
memperbanyak jumlah subjek yang hendak diteliti sehingga didapatkan sampel yang lebih representatif.
2. Saran Praktis
a. Waria diharapkan lebih dapat memfokuskan diri untuk lebih memperjelas
framework dan fulfillment yang dia miliki, agar memperoleh makna hidup yang jelas.
b. Waria diharapkan dapat senantiasa berpikir positif terhadap kehidupan yang dia miliki agar dapat membantunya melihat framework dari makna hidup, dan berusaha memenuhi framework yang dimiliki agar terjadi proses pemenuhan makna hidup sehingga memperoleh makna hidup
fulfillment.
c. Diharapkan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang menangai permasalahan waria dapat memberikan penyuluhan-penyuluhan yang berguna, agar waria mengetahui bagaimana, kapan, dan dimana mereka harus bertindak positif dalam situasi yang dialami sehingga menuju pada proses pemenuhan makna hidup.