KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
Bab ini membahas mengenai kesimpulan hasil penelitian yang telah dilakukan. Pembahasan ini meliputi tiga bagian, yaitu kesimpulan, diskusi dan saran.
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa secara simultan tidak adanya pengaruh antara religiusitas terhadap kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang.
Kemudian secara koefisien salah satu variabel menghasilkan adanya pengaruh antara religiusitas terhadap kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang. Dengan rincian sebagai berikut:
a. Islamic dimension tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang. b. Islamic religious conversion tidak memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang.
c. Islamic positive religious coping tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang.
d. Islamic negative religious coping tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang.
e. Islamic religious struggle memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang. f. Islamic religious internalization-identification tidak memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang.
g. Islamic religious internalization-introjuction tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang.
h. Islamic religious exclusivism tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang.
i. Jenis kelamin tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang. j. Usia tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecemasan
menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang.
k. Pendidikan terakhir tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang. l. Status bekerja tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang. m. Suku bangsa tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecemasan
menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang.
Berdasarkan perhitungan dan analisis statistic, dapat dilihat bahwa ada pengaruh yang signifikan antara religiusitas dengan kecemasan menghadapi pernikahan pada orang dewasa yang melajang sebesar 15%, sesuai dengan pendapat Thouless (dikutip dalam Kurniawan, 2008) bahwa religiusitas mempengaruhi kecemasan seseorang terhadap kebutuhan cinta kasih, yang telah dipaparkan dalam membedakan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan (religiusitas) seseorang, yaitu:
1) Pengaruh pendidikan atau pengajaran dan berbagai tekanan sosial (faktor sosial) ini mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keagamaan itu, termasuk pendidikan dari orang tua, tradisi-tradisi sosial, tekanan-tekanan lingkungan sosial untuk menyesuaikan diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang disepakati oleh lingkungan itu.
2) Berbagai pengalaman yang dialami oleh seseorang dalam membentuk sikap keagamaan terutama pengalaman-pengalaman seperti: keindahan, keselarasan dan kebaikan di dunia lain (factor alamiah) seperti menjalin hubungan yang baik pada sesama dengan saling tolong menolong, adanya konflik moral (faktor moral) seperti mendapatkan tekanan-tekanan dari lingkungan, dan pengalaman emosional keagamaan (faktor afektif) seperti perasaan mendapat peringatan atau pertolongan dari Tuhan.
3) Faktor-faktor yang seluruhnya atau sebagian timbul dari kebutuhan- kebutuhan yang tidak terpenuhi terutama terhadap kebutuhan terhadap keagamaan, cinta kasih, harga diri, dan ancaman kematian.
4) Berbagai proses pemikiran verbal atau proses intelektual dimana faktor ini juga dapat mempengaruhi religiusitas individu.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi tingkat religiusitas seseorang yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi: pendidikan formal, pendidikan agama dalam keluarga, tradisi sosial yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan, tekanan- tekanan lingkungan sosial dalam kehidupan seseorang. Faktor internal sendiri meliputi: pengalaman-pengalaman emosional keagamaan, kebutuhan seseorang yang mendesak untuk dipenuhi seperti kebutuhan akan rasa aman, harga diri dan cinta kasih.
Islam mengajarkan pada umatnya agar tidak mengalami kecemasan dalam menghadapi apapun termasuk kecemasan dalam menghadapi pernikahan. Untuk itu perlu meningkatkan religiusitas dalam kondisi apapun, agar merasa tentram, berserah diri pada Tuhan. (Kurniawan, 2008).
Kemudian menurut Jones & Francis (2004) dalam jurnal penelitiannya pada skala kecemasan yang mencapai suatu koefisien 70 dengan instrumen psychometric homogen dan unidimensional dan penghitungan rata-rata p-value
0125 menghasilkan bahwa pada perspektif psikologis terdapat hubungan hipotesis korelasi yang negatif antara religiusitas dan kecemasan.
Selanjutnya, variabel Islamic religious struggle memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kecemasan menghadapi pernikahan, dengan sumbangan pengaruh sebesar 11,5%. Dengan arah hubungan yang negative, artinya semakin tinggi nilaiIslamic religious struggle seseorang, maka semakin rendah kecemasan
seseorang dalam mengahadapi pernikahan dan juga sebaliknya. Nilai Islamic religious struggle mempengaruhi kecemasan seseorang dalam menghadapi pernikahan, karena dalam hal ini adanya kepercayaan individu terhadap nilai agama disaat mendapatkan kesulitan dan konflik. Hal ini sesuai dengan pendapat Ancok (2004) bahwa keberagamaan atau religiusitas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia, aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tetapi juga ketika melakukan aktivitas yang lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktivitas yang tak tampak dan terjadi dalam hati seseorang. Jadi walaupun seseorang belum menikah, namun jika mempraktekan agamanya secara menyuluruh kecemasannya akan berkurang. Kemudian menurut Ahira, Islam diartikan sebagai ketundukan atau kepasrahan dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang berserah memunculkan sikap tenang, karena kita menyerahkan diri kepada sesuatu yang “mampu” yaitu Allah SWT. (Setiyo, 2011)
Sedangkan variabel Islamic dimension, Islamic religious conversion, Islamic positive religious coping, Islamic negative religious coping, Islamic
religious internalization-identification, Islamic religious internalization-
introjuction, Islamic religious exclusivism, jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, status bekerja dan suku bangsa tidak memiliki pengaruh yang signifikan dengan kecemasan menghadapi pernikahan. Disini mungkin banyak faktor yng membuat tidak berpengaruh, seperti halnya responden sudah nyaman dengan masa lajangnya dan sesuai dengan data yang ada, disini lebih banyak responden yang bekerja dibanding yang tidak bekerja, jadi ada factor individu yang lebih
memprioritaskan bekerja ketimbang menikah sehingga membuat mereka tidak lagi memikirkan sebuah pernikahan. Kemudian ada faktor-faktor pendukung lainnya juga yang mempengaruhi hal tersebut.
Berikut ini merupakan faktor- faktor yang mempengaruhi kecemasan: a. Keadaan pribadi individu
Priest (dalam Sari & Kuncoro, 2011) mengungkapkan bahwa dalam hal yang menpengaruhi kecemasan adalah situasi pada diri individu yang dirasakan belum siap untuk dihadapi seperti kehamilan, menuju usia tua, kenaikan pangkat dan masalah kesehatan yang pada akhirnya akan menjadi suatu konflik dalam diri individu sehingga dapat menimbulkan kecemasan.
b. Tingkat pendidikan
Kondisi kecemasan yang dialami individu juga dipengaruhi oleh perbedaan tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikannya akan semakin baik pemecahan terhadap masalah yang dihadapinya.
c. Pengalaman tidak menyenangkan
Freud (dalam Sari & Kuncoro, 2011) mengatakan bahwa suatu pengalaman yang menyulitkan ditimbulkan oleh k etegangan-ketegangan dalam alat-alat intern dari tubuh dapat menyebabkan kecemasan. Ketegangan- ketegangan tersebut akibat dari dorongan-dorongan dalam dan luar tubuh.
Dukungan sosial dari orang-orang sekitar individu yaitu orang tua, kakak, adik, kekasih, teman dekat, saudara dan masyarakat. Dukungan yang positif berhubungan dengan kurangnya kecemasan. Pendapat ini didukung oleh Conel (dalam Sari & Kuncoro, 2011) menyatakan bahwa kecemasan akan rendah apabila individu memiliki dukungan sosial. Dukungan sosial tersebut diperoleh dari keluarga, teman dan atasan.
Sesuai juga dengan pendapat Debi Bernt, seorang konselor hubungan dan penulis buku 'Let Love In', bahwa bentuk kecanduan menjadi lajang seperti merokok, dan seringkali tidak disadari, yang akhirnya bisa membuatnya lupa untuk menikah. (Noviara, 2010).
5.3 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut.
5.3.1. Saran Teoritis
Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian tentang pengaruh religiusitas dengan melibatkan variabel lain selain kecemasan berkaitan dengan pernikahan sebagai pembanding.
5.3.2. Saran Praktis
Diharapkan kepada seluruh kalangan masyarakat khususnya kepada orang dewasa yang melajang agar memperhatikan aspek-aspek psikologis dan religiusitasnya masing-masing, sehingga pada saat menghadapi suatu masalah yang terjadi pada individu dapat terselesaikan dengan baik. Dalam hal ini
sebaiknya mengikuti kegiatan yang bersifat positif yang dapat mengurangi kecemasan, yakni kecemasan dalam menghadapi pernikahan atau yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahira, A, Definisi agama islam. http://www.anneahira.com/definisi-agama- islam.htm(Diambil pada tanggal 24 November 2011)
Anoraga. P. (1995).Perilaku keorganisasian, Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. Ancok, D dan Fuad. A. (2004), Psikologi islam: solusi islam atas problem-
problem psikologi,.Yogyakarta ; Pustaka Belajar
Anwar, M. (1991). Dasar-dasar hokum islam dalam menetapkan keputusan di pengadilan agama. Bandung: CV Diponogoro.
Arifin, B. S, (2008),Psikologi agama,Bandung: Pustaka Setia
Asmarini, F. C. (2003). Hubungan antara berpikir positif dengan kecemasan menghadapi pernikahan.Skripsi: Universitas Muhammadiyah Surakarta
Atkinson R. L. (1999),Pengantar psikologi,Jakarta : Penerbit Erlangga Arikunto S. (1997).Prosedur penelitian, Jakarta : Rineka Cipta.
Azwar, S. (2003).Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Bastaman, H. D. (2005), Integrasi psikologi dengan islam:menuju psikologi islamiYogyakarta: Yayasan Insan Kamil & Pustaka Pelajar
Bayu, H. (2008). Pernikahan adalah sebuah fitrah kemanusiaan. Artikel.
(http://www.haryobayu.web.id/?aksi=detail_blog&nomor=369). Di ambil pada tanggal 02 Juni 2011.
Budiman, L. CH. (1999).Berdamai engan Stress, PT kompas media nusantara
Chaplin, J. P. (2006). Kamus lengkap psikologi. penerjemah kartini kartono. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Fahmi, M. Kesehatan Jiwa, dalam keluarga, sekolah dan masyarakat (jilid II).
Bandung : Bulan Bintang
Fetzer. (1999). Multidimensional measurment of religiosness, spirutually for use in health research. Fetzer Institute in Collaboration with the National Institute on Aging. Kalmazoo.
Gufron, MN & Risnawit. (2010).Teori-teori psikologi.Jogjakarta: Ar-ruzz Media Gunarsa S. D & Gunarsa Ny Y. S. (1986).Psikologi perawatan, PT BPK Gunung
Mulia
Ghofur A & Purwoko E, (2007), Pengaruh teknik nafas dalam terhadap perubahan tingkat kecemasan pada ibu persalinan kala i di pondok bersalin ngudi saras trikilan kali jambe sragen,. Jurnal Kesehatan Surya Medika Yogyakarta
Hurlock, E. B. (1980).Psikologi perkembangan,Jakarta: Penerbit Erlangga. Iqbal, H. M. (2002).Pokok-pokok materi metodologi penelitian & aplikasinya.
Bogor : Ghalia Indonesia.
Jalaludin & Ramayulis, (1993), Pengantar ilmu jiwa agama, Jakarta: Kalam Mulia
John, D. (2001). Agama Pragmatis telaah atas konsepsi agama, Haniah Magelang: Indonesia Tera.
Jones, S.H & Francis, L. J. (2004).The relationship between religion and anxiety: a study among anglician clergymen and clergywomen. journal of psychology and theology : 2004, Vol. 32, No. 2, 137-142
Kurniawan, H. (2008). Hubungan antara tingkat religiusitas dengan tingkat kecemasan dalam menghadapi ujian nasional. Skripsi : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Kuswara, E. (1991).Teori-teori kepribadian.Bandung: PT ERESCO
Leyfer, O. T; Ruberg, J. L; Borden, J. W. (2006). Manual for the beck anxiety inventory. San Antonio, TX: Psychological Corporation.
Nazir, M. (1983). Metode penelitian. Ghalia Indonesia
Nastalia, F. A. (2008). Kecemasan menghadapi pernikahan pada dewasa awal.
Skripsi:http://library.gunadarma.ac.id/abstraction_10505071- ssm_fpsi.pdf
Nashori, H. F & Mucharam, F. D. (2002). Mengembangkan kreativitas dalam perspektif psikologi islami.Jogjakarta: Menara Kudus
Noviara, W. (2011). Lima tanda wanita betah melajang. Oct 23, '10 9:38 AM
(http://wennynoviara.multiply.com/journal/item/1000).
Papalia, D.E; Olds, S. W & Feldman, R. D. (2009). Human development.Jakarta: Salemba Humanica.
Rakhmat, J. (2005). Psikologi agama sebuah pengantar. Bandung: PT Mizan Pustaka
Raiya, H. A. (2006). A Psychological measure of islamic religiousness: evidence for relevance, reliability and validity. A Dissertation, Submitted to The Graduate Of Bowling Green State University.
Sari, D. S & Kuncoro, J.(2011). Kecemasan dalam menghadapi masa pensiun ditinjau dari dukungan sosial.http://psikologi-
-ditinjau-dari-dukungan-sosial-(Diambil pada tanggal 24 November 2011)
Sari, F. Y. (2008). Hubungan religiusitas dengan penyesuaian perkawinan pada dewasa dini muslim.Skripsi: Universitas Sumatera Utara.
Sarwono, W. S. (2009). Pengantar psikologi umum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sarwono, J. (2006). Metode penelitian kuantitatif & kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu
Sevilla, C. G; Ochavo, J. A; Punsalan, T. G; Regala, B. P; Uriarte.G. G. (1993).
Pengantar metode penelitian.Jakarta : UI-Press.
Setiyo, (2011). Berserah diri dengan penuh keyakinan kepada allah.
http://solospiritislam.com/berserah-dengan-penuh-keyakinan-kepada- allah/(Diambil pada tanggal 24 November 2011)
Shaleh, A.R. (2009). Psikologi:suatu pengantar dalam perspektif islam, Jakarta: Kencana
Sugiyono. (2008). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif. R&D. Bandung : Alfabeta.
Sururin, (2004),Ilmu jiwa agama,Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Suwanti. (2003). Hubungan antara kematangan emosi dan tingkat religiusitas dengan kecemasan menghadapi pernikahan. Skripsi: Universitas Muhammadiyah surakarta
Trismiati (2004), Perbedaan Tingkat kecemasan antara pria dan wanita akseptor kontrasepsi mantap di rsup dr. sardjito yogyakarta, fakultas psikologi universitas bina darma palembang..Jurnal Psyche: Vol.1. No.1, Juli 2004.
Thouless, R.H. (1995), Pengantar psikologi agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.