5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data serta pengujian hipotesis yang telah
dikemukakan pada bab 4, dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada
perbedaan yang signifikan antara remaja yang bersekolah di SMA dan MA
terhadap aborsi pra-nikah. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan nilai
koefisien t hitung lebih kecil dari pada t tabel (0,989 < 2,021) pada taraf
signifikansi 5% yang menyebabkan Ho diterima dan Ha ditolak.
5.2. Diskusi
Hasil penelitian membuktikan tidak terdapat perbedaan sikap terhadap aborsi
pra nikah pada remaja yang bersekolah di SMA dan MA. Hasil penelitian ini
sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Azwar (2007) bahwa
pembentukan sikap pada seseorang tidak terjadi begitu saja melainkan
terbentuk melalui proses bagaimana individu berinteraksi dengan
lingkungannya maupun dengan individu lainnya. Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi terbentuknya sikap adalah : pengalaman pribadi, pengaruh
massa, pengaruh lembaga pendidikan dan lembaga agama, dan pengaruh
emosional.
Menurut Sarwono (2007), Sekolah adalah lingkungan pendidikan sekunder.
Bagi anak yang sudah bersekolah, lingkungan yang setiap hari dimasukinya
selain lingkungan rumah adalah sekolahnya. Anak remaja yang sudah duduk
di bangku SMP atau SMA umumnya menghabiskan waktu sekitar tujuh jam
sehari di sekolahnya. Ini berarti bahwa hampir sepertiga dari waktunya setiap
hari dihabiskan di sekolah. Tidak mengherankan kalau pengaruh sekolah
terhadap perkembangan jiwa remaja cukup besar. Sebagai lembaga
pendidikan, sebagai mana halnya dengan keluarga, sekolah juga
mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Sebagai lembaga pendidikan sekolah mengajarkan nilai dan norma yang
berlaku di masyarakat disamping mengajarkan keterampilan dan kepandaian
kepada siswanya. Dimulai dari mata pelajaran yang diberikan, kegiatan
pembiasaan mengenai pengadaan peraturan sekolah hingga kegiatan ekstra
kulikuler di sekolah yang bersangkutan. Lebih khusus MA melakukan
penanaman nilai-nilai moral yang diperoleh dari mata pelajaran agama yang
dibebankan lebih banyak dari pada SMA, yaitu sebanyak 30% dari mata
pelajaran yang ada. Dengan demikian siswa MA memiliki pengalaman
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Adams & Gullota dalam (Sarwono,
2007) bahwa agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa menerangkan mengapa dan untuk apa seseorang ada didunia. Agama menawarkan
perlindungan dan rasa aman, khususnya bagi meraka yang sedang mencari
identitas dirinya.
Hasil penelitian menjelaskan bahwa tidak terbukti secara signifikan sikap
siswa MA terhadap aborsi pra-nikah lebih negatif dari pada sikap siswa SMA,
tetapi hasil penelitian mengakatakan bahwa (40%) siswa SMA dan MA
memiliki sikap yang cukup negatif terhadap aborsi pra nikah. Adapun siswa
SMA dan MA yang bersikap positif terhadap aborsi pra-nikah sama, yakni
(16%). Sedangkan siswa SMA yang bersikap negatif terhadap aborsi
pra-nikah (16%) dari pada siswa MA (12%). Artinya tidak ada perbedaan sikap
terhadap aborsi pra nikah pada remaja yang bersekolah di SMA dan MA.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori Azwar (2003), yang
tujuannya diharapkan dapat melihat pada aspek mana dari indiktor-indikator
sikap, yakni kongisi, afeksi dan konasi, yang mempunyai pengaruh lebih
besar dalam melakukan penilaian sikap terhadap aborsi pra nikah. Adapun
aspek-aspek tersebut adalah :
1. Aspek psikologis
3. Aspek Moral dan Sosial
4. Aspek Hukum
5. Aspek Ekonomi
Skala sikap merupakan cara umum yang digunakan untuk mengukur sikap.
Skala sikap berbeda-beda baik dalam tipe maupun metode konstruksinya,
tetapi tujuannya selalu sama yaitu menempatkan individu ke dalam posisi
numerik dalam suatu kontinum. Adapun pengembangan skala sikap
membutuhkan seleksi item-item relevan yang harus membedakan antara
individu dengan posisi sikap yang berbeda. Hubungan diagnostik antara item
dengan manifest content yang langsung berhubungan dengan objek sikap.
Tetapi dapat juga dibuat item yang sisanya tidak mengandung hubungan
langsung dengan objek sikap. Karena sifat interkoneksi yang luas dari sikap
satu sikap individu akan cenderung mempengaruhi penilaian terhadap
berbagai hal yang hanya berhubungan tidak langsung dengan obyek sikap
yang ingin diukur.
Dampak dari sikap terhadap aborsi pra nikah dapat memberikan efek yang
positif atau negatif. Sehingga perlu mengantisipasi sejak dini ketika seorang
remaja mulai mencari jati dirinya agar tidak terjebak dalam seks bebas yang
berakibat pada aborsi. Sekolah adalah lingkungan pendidikan sekunder. Bagi
lingkungan rumah adalah sekolahnya. Anak remaja yang sudah duduk
dibangku SMP atau SMA umumnya menghabiskan waktu sekitar tujuh jam
sehari disekolahnya. Ini berarti bahwa hampir sepertiga dari waktunya setiap
hari dihabiskan disekolah. Tidak mengherankan kalau pengaruh sekolah
terhadap perkembangan jiwa remaja cukup besar. Sebagai lembaga
pendidikan, sebagai mana halnya dengan keluarga, sekolah juga
mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
5.3. Saran
5.3.1. Secara Teoritis
1. Bagi peneliti selanjutnya, hal yang cukup menarik untuk diteliti adalah
melihat perbedaan terhadap aborsi pra-nikah yang dilihat dari jenis
sekolahnya. Hal lainnya yang menarik untuk diteliti adalah motivasi remaja
yang melakukan aborsi pra-nikah ditengah moderenisasi dan krisis global
yang kian meningkat.
2. Disarankan juga peneliti selanjutnya, untuk menambahkan
variabel-variabel yang mendukung, misalnya dampak seks pra-nikah pada remaja
yang melakukan aborsi, serta mengupayakan agar para siswa tidak
memiliki sikap yang positif terhadap aborsi pra-nikah.
3. Perlu ditelusuri lebih lanjut, faktor-faktor apa sajakah kiranya yang dapat
ini dapat di jadikan sebagai tindakan preventif dalam mencegah semakin
meningkatnya degradasi moral di kalangan remaja khususnya pelajar
Indonesia, terkait dengan perbuatan aborsi pra-nikah.
4. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk membuat item aborsi pra-nikah
dalam konteks remaja, supaya dapat mewakili sampel penelitian.
5. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk selalu mengupdate data
terbaru tentang aborsi pra-nikah yang ada di Indonesia.
6. Disarankan bagi peneliti selanjutnya buatlah jadwal atau schedule time
mengenai proses waktu yan diinginkan dalam melakukan penelitian, agar
tidak berbenturan dengan jadwal dari pihak sekolah.
5.3.2. Secara Praktis
1. Kepada para remaja agar dapat menghindarinya (memberikan gambaran
kepada para siswa khususnya remaja mengenai bahaya aborsi, sehingga
diharapkan mereka dapat menjaga pergaulannya dengan baik).
2. Sebagai referensi para pendidik, keluarga, serta praktisi terkait lainnya,
sehingga dapat lebih memperhatikan, mengerti dan memahami
kebutuhan serta kondisi anak-anak mereka.
3. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah dan masyarakat agar saling
bekerja sama dan lebih memperhatikan masalah ini dengan