• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan tabel 3.5, diperoleh perhitungan hasil uji reliabilitas senilai 0,686. Hasil uji reliabilitas kuesioner karakter mandiri dapat disimpulkan bahwa kuesioner masuk dalam kategori cukup.

3. Uji Normalitas

Menurut Nurgiyantoro, dkk (2009), uji normalitas adalah salah satu bagian dari uji prasyarat analisis data, artinya sebelum melakukan analisis data yang sesungguhnya, data penelitian tersebut harus diuji kenormalan distribusinya. Tujuan dari uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah data dalam variabel yang akan dianalisis berdistribusi normal

Tabel 3.6

Tabel Hasil Uji Normalitas

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.

Pretest ,181 30 ,013 ,928 30 ,044

Postest ,185 30 ,010 ,925 30 ,035

a. Lilliefors Significance Correction

Pada tabel 3.6 hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,010 < 0,05 dengan demikian sampel penelitian berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal. Apabila ditinjau dari hasil uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,035 < 0,05 dengan demikian sampel penelitian berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal.

F. Teknik Analisis Data

Riduwan (2006) mengemukakan bahwa teknik analisis data bertujuan untuk menjawab rumusan masalah dan pengujian hipotesis. Peneliti menggunakan teknik analisis data sebagai berikut:

a. Untuk menjawab rumusan masalah pertama mengenai gambaran tingkat karakter mandiri sebelum dan sesudah diberikan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter mandiri peneliti menggunakan kategorisasi. Kategorisasi digambarkan pada tabel 3.7 sebagai berikut:

Tabel 3.7

Tabel Kategorisasi Tingkat Karakter Mandiri

Kriteria Skor Kategori

+1,8 < Sangat tinggi +0,6 < <+1,8 Tinggi -0,6 < < 0,6 Sedang -1,8 < < -0,6 Rendah <-1,8 Sangat rendah Keterangan:

Skor maksimum teoritik : Skor tertinggi yang diperoleh subjek Skor minimum teoritik : Skor terendah yang diperoleh subjek Standar deviasi /sd) : Luas jarak rentang yang dibagi dalam 6

satuan deviasi sebaran

μ (mean teoritik) : Rata-rata teoritik skor maksimum dan minimum

Kategori di atas kemudian diterapkan sebagai acuan dalam mengelompokan tinggi rendah tingkat karakter mandiri berdasar kuesioner karakter mandiri dengan jumlah 20 item diperoleh capaian skor subjek sebagai berikut:

Tingkat karakter mandiri

Skor maksimum teoritik : 4x20 = 80 Skor minimum teoritik : 1x20 = 20 Luas jarak : 80-20 = 60 Standar deviasi : 60:6 = 10

μ (mean teoritik) : (80+20) : 2 = 50

Hasil perhitungan analisis data skor kuesioner karakter mandiri disajikan dalam tabel 3.8 sebagai berikut:

Tabel 3.8

Kategorisasi Tingkat Karakter Mandiri Kriteria Skor Rentang Skor Kategori

+1,8 < >68 Sangat tinggi +0,6 < <+1,8 56 – 68 Tinggi

-0,6 < < 0,6 44 – 55 Sedang -1,8 < < -0,6 32 – 43 Rendah

<-1,8 < 32 Sangat rendah

b. Untuk menjawab rumusan masalah yang kedua mengenai efektivitas implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter mandiri berdasarkan penilaian guru peneliti menggunakan deskriptif kategorisasi. Peneliti menggunakan gradasi skor dengan kategori antara + bernilai 1 (sedikit lebih baik), ++

bernilai 2 (lebih baik), +++ bernilai 3 (sangat lebih baik), - bernilai -3 (sedikit kurang), -- bernilai -2 (sangat kurang), dan --- bernilai -3 (sangat buruk).

c. Untuk menjawab rumusan masalah yang ketiga mengenai efektivitas implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter mandiri berdasarkan penilaian siswa, peneliti menggunakan deskriptif dengan persentase. Hal ini dilakukan karena tiga alternatif jawaban tegas yang disajikan dalam kuesioner validasi program yaitu ya, tidak, tidak tahu sesuai dengan penilaian siswa dengan rumus sebagai berikut:

Pep= x100 %

Keterangan :

Pep : Persentase efektivitas program : Jumlah jawaban tiap item N : Jumlah responden

d. Untuk menjawab rumusan masalah yang keempat mengenai signifikansi hasil implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter mandiri peneliti menggunakan uji T. Menurut Suparno (2011) t-test untuk kelompok dependen (paired sample T-test) digunakan untuk mengetes satu kelompok yang dites dua kali yaitu pada pre-test dan post-test. Uji T paired sample

test dihitung menggunakan SPSS versi 18.0. Rumus uji t paired sample test (Suparno, 2011) adalah sebagai berikut:

Keterangan:

D : Perbedaan antara skor tiap subjek = N : Jumlah pasang skor (jumlah pasangan) Derajat kebebasan : Df = N 1

Peneliti juga membandingkan selisih antara mean postest dan pretest dari hasil analisis uji T. Adapun rumus membandingkan selisih antara mean postest dan pretest sebagai berikut:

O2-O1 Keterangan:

O2 : Mean postest O1 : Mean pretest

47 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini dipaparkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian. A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Tingkat Karakter Mandiri Siswa Kelas VIII F SMP N 31 Purworejo Tahun Ajaran 2014/2015 Sebelum dan Sesudah Diberikan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning untuk Meningkatkan Karakter Mandiri

Tingkat karakter mandiri siswa kelas VIII F SMP N 31 Purworejo tahun ajaran 2014/2015 sebelum dan sesudah diberikan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter mandiri tampak pada tabel 4.1 dan grafik 4.1 berikut ini:

Tabel 4.1

Kategorisasi Tingkat Karakter Mandiri Sebelum dan Sesudah diberikan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning untuk

Meningkatkan Karakter Mandiri Rentang

Skor Kategori

Pretest Posttest Selisih

F % F % % >68 Sangat Tinggi 21 70 19 63,3 -2 -6,7 56-68 Tinggi 9 30 11 36,7 2 6,7 44-55 Sedang 0 0 0 0 0 0 32-43 Rendah 0 0 0 0 0 0 <32 Sangat Rendah 0 0 0 0 0 0

Berdasarkan data tabel di atas, jika dilihat dalam bentuk grafik tampak pada halaman berikut:

Grafik 4.1

Grafik Tingkat Karakter Mandiri Sebelum dan Sesudah diberikan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning untuk

Meningkatkan Karakter Mandiri

Tingkat karakter mandiri pada siswa kelas VIII F SMP N 31 Purworejo sebelum diberikan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter mandiri (pre-test) jika dilihat berdasarkan tabel dan grafik di atas menunjukkan bahwa:

a. Ada 21 (70 %) siswa kelas VIII F SMP N 31 Purworejo memiliki karakter mandiri pada kategori sangat tinggi.

b. Ada 9 (30 %) siswa kelas VIII F SMP N 31 Purworejo memiliki karakter mandiri pada kategori tinggi.

c. Tidak ada (0 %) siswa kelas VIII F SMP N 31 Purworejo memiliki karakter mandiri pada sedang, rendah, dan sangat rendah.

Tingkat karakter mandiri pada siswa kelas VIII F SMP N 31 Purworejo sebelum diberikan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter mandiri (post-test) jika dilihat berdasar tabel dan grafik di atas menunjukkan bahwa:

a. Ada 19 (63,3 %) siswa kelas VIII F SMP N 31 Purworejo memiliki karakter mandiri pada kategori sangat tinggi.

b. Ada 11 (36,7 %) siswa kelas VIII F SMP N 31 Purworejo memiliki karakter mandiri pada kategori tinggi.

c. Tidak ada (0 %) siswa kelas VIII F SMP N 31 Purworejo memiliki karakter mandiri pada sedang, rendah, dan sangat rendah.

2. Efektivitas Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning untuk Meningkatkan Karakter Mandiri Siswa Kelas VIII F SMP N 31 Purworejo Tahun Ajaran 2014/2015 berdasarkan Penilaian Guru

Implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter mandiri dilihat keefektivitasan berdasarkan penilaian guru. Hasil validasi efektivitas program yang diisi oleh mitra kolaboratif adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2

Hasil Validasi Efektivitas Program oleh Mitra Kolaboratif No Nilai Efektivitas Model

Peka Bila Bisa Kode Exl

Guru BK Guru Pkn Guru IPS Jumlah Skor Rata-rata 1. Desain/rancangan lebih operasional 3 2 2 7 2,33 2. Komprehensif/kelengkapan komponen 2 2 3 7 2,33 3. Kemudahan dalam implementasi/penerapan 3 3 2 8 2,66 4. Kepraktisan dalam pelaksanaan 3 2 2 7 2,33 5. Sistematis/keruntutan langkah 3 2 2 7 2,33 6. Efektivitas pencapaian tujuan 2 2 2 6 2,00 7. Kesesuaian dengan kebutuhan

siswa

3 1 3 7

2,33 8. Kesesuaian dengan karakteristik

siswa

2 2 2 6

2.00 9. Kesesuaian dengan tingkat

perkembangan siswa

3 3 2 8 2,66

10. Kesesuaian dengan nilai karakter yang ditanamkan

3 2 2 7

2,33 11. Kemenarikannya bagi siswa 3 2 2 7 2,33 12. Kemudahan bagi siswa dalam

mengikuti kegiatan

3 2 2 7

2,33 13. Kebermanfaatan bagi peningkatan

karakter siswa

3 2 2 7 2,33

14. Kemudahan bagi siswa dalam menangkap materi

3 3 2 8 2,66

15. Kekuatannya dalam memperbaiki karakter siswa 3 3 2 8 2,66 16. Ketepatan strategi/metode penanaman karakter 2 3 2 7 2,33 17. Keberpihakan pada kearifan lokal 3 2 2 7 2,33 18. Kemudahan dalam mengevaluasi

proses

2 1 2 5

1,66 19. Kemudahan dalam penilaian

capaian hasil

2 2 2 6

2,00 20. Menumbuhkan

antusias/keberkesanan bagi siswa

3 3 2 8 2,66

21. Memotivasi siswa untuk terlibat aktif 3 3 2 8 2,66 22. Menumbuhkan kreativitas/inisiatif siswa 3 3 2 8 2,66 23. Memunculkan keberanian siswa

untuk tampil

3 3 2 8

2,66 24. Menanamkan rasa hormat siswa

thd guru/teman

3 2 2 7

2,33 25. Peningkatan keberanian siswa

bertanggung jawab

3 3 2 8 2,66

26. Penghargaan siswa terhadap teman/orang lain 3 2 2 7 2,33 27. Peningkatan kerja sama/kekompakan tim 3 2 2 7 2,33 28. Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan 3 2 2 7 2,33 29. Ketaatan terhadap norma/peraturan/petunjuk 3 2 2 7 2,33 30. Memotivasi siswa untuk

berusaha/daya juang

3 2 2 7

31. Membangun

kepedulian/kesetiakawanan

3 2 2 7

2,33 32. Kegembiraan siswa dalam

mengikuti kegiatan

3 3 2 8

2,66 33. Peningkatan keingintahuan siswa 2 3 2 7 2,33 34. Mendorong siswa untuk

berpendapat/merespon

3 3 2 8

2,66 35. Peningkatan kesadaran siswa

memperbaiki diri

3 2 2 7

2,33 36. Mendorong siswa berrefleksi 3 2 2 7 2,33 37. Membuat hubungan guru-siswa

akrab/hangat/dekat

3 3 3 9 3.00

38. Mengatasi perilaku negatif/trouble pada siswa

2 2 3 7

2,33 39. Membangkitkan keikhlasan siswa

untuk menolong

2 2 2 6

2,00

Tabel 4.3

Kategori Validasi Efektivitas Program oleh Mitra Kolaboratif Kriteria Skor Kategori Frekuensi %

2,0 – 3,0 Sangat lebih baik 38 97,4 1,1 – 1,9 Lebih baik 1 2,5

< 1,0 Sedikit lebih baik 0 0

Efektivitas implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter mandiri jika dilihat berdasarkan tabel 4.2 tentang hasil validasi efektivitas program oleh mitra kolaboratif menunjukkan bahwa:

a. Terdapat 38 item (97,4 %) pada kategori sangat lebih baik. Artinya, dalam proses implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning berjalan sangat lebih baik pada aktivitas yang digambarkan melalui item-item tersebut. Item tersebut diantaranya adalah: desain/rancangan lebih operasional, komprehensif/kelengkapan komponen, kemudahan dalam implementasi/penerapan, kepraktisan

dalam pelaksanaan, sistematis/keruntutan langkah, efektivitas pencapaian tujuan, kesesuaian dengan kebutuhan siswa

b. Terdapat 1 item (2,5 %) pada kategori lebih baik. Artinya, dalam proses implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning berjalan lebih baik pada aktivitas yang digambarkan melalui item-item tersebut. Item tersebut adalah kemudahan dalam mengevaluasi proses.

Berdasarkan hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa program ini sangat lebih baik untuk diimplementasikan. Artinya, mitra kolaboratif menilai proses implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning berjalan sangat lebih baik untuk meningkatkan karakter mandiri. 3. Efektivitas Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Layanan

Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning untuk Meningkatkan Karakter Mandiri Siswa Kelas VIII F SMP N 31 Purworejo Tahun Ajaran 2014/2015 Berdasarkan Penilaian Siswa

Selain memberikan kuesioner karakter mandiri dan kuesioner validasi efektivitas program yang diisi oleh mitra kolaboratif, pada akhir bimbingan peneliti juga memberikan validasi efektivitas program dengan jumlah 30 item yang diisi oleh siswa dengan jumlah 30 siswa. Tujuan menggunakan kuesioner validasi efektivitas program agar siswa memberikan penilaian mengenai efektivitas implementasi pendidikan

karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter mandiri sehingga diketahui efektivitasnya berdasar penilaian siswa. Hasil validasi efektivitas program yang diisi oleh siswa adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4

Hasil Validasi Efektivitas Program oleh Siswa

No Dalam kegiatan bimbingan karakter ini, saya

mengalami/ memperoleh/ merasa : Ya %

1. Semangat untuk mengikuti kegiatan 30 100 2. Keberanian untuk tampil/melakukan sesuatu 26 87 3. Gembira/senang dalam melaksanakan kegiatan 28 93,3

4. Berani berpendapat 27 90

5. Lebih kreatif 25 83,3

6. Berani mencoba melakukan sesuatu 26 87 7. Takut salah dalam melakukan permainan * 9 70 8. Malu dalam permainan kelompok * 3 90 9. Dihargai oleh teman-teman 23 77 10. Tertarik untuk mengikuti semua kegiatan 19 63,3 11. Kemudahan bagi siswa dalam mengikuti kegiatan 25 83,3 12. Manfaat bagi perbaikan perilaku 29 97 13. Kemudahan bagi siswa dalam menangkap materi 26 87 14. Keinginan untuk menolong orang lain 30 100 15. Puas terhadap bimbingan yang diberikan 25 83,3 16. Tertantang untuk mencoba 22 73,3 17. Capek/lelah/bosan dalam mengikuti semua kegiatan * 4 96,7 18. Berkesan terhadap kegiatan yang diikuti 27 90 19. Terdorong untuk terlibat aktif 29 97 20. Berani bertanggung jawab 30 100

21. Menghargai teman 30 100

22. Kesediaan bekerja sama/kekompakan tim 29 97 23. Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan 29 97 24. Ketaatan terhadap norma/peraturan/petunjuk 29 97 25. Memotivasi siswa untuk berusaha/daya juang 28 93,3 26. Membangun kepedulian/kesetiakawanan 29 97 27. Peningkatan keingintahuan siswa 27 90 28. Peningkatan kesadaran siswa memperbaiki diri 30 100 29. Mendorong siswa lebih disiplin 30 100 30. Membuat hubungan guru-siswa akrab/hangat/dekat 25 83,3

Keterangan: *) Item negatif

Efektivitas implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter mandiri jika dilihat berdasarkan tabel 4.4

tentang hasil validasi efektivitas program yang diisi oleh siswa menunjukkan bahwa:

a. Terdapat 6 item dari 30 item dijawab “ya” oleh semua siswa. Artinya, perolehan persentasenya 100%. Adapun 6 item tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5

Item Validasi Efektivitas Program yang Memperoleh Persentase 100%

No

Item Pernyataan

1. Semangat untuk mengikuti kegiatan 14. Keinginan untuk menolong orang lain 20. Berani bertanggung jawab

21. Menghargai teman

28. Peningkatan kesadaran siswa memperbaiki diri 29. Mendorong siswa lebih disiplin

b. Terdapat 19 item dari 30 item mendapatkan persentase antara 90-100 %. Adapun 19 item tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 4.6

Item Validasi Efektivitas Program yang Memperoleh Persentase antara 90-100%

No

Item Pernyataan

1. Semangat untuk mengikuti kegiatan

3. Gembira/senang dalam melaksanakan kegiatan 4. Berani berpendapat

8. Malu dalam permainan kelompok * 12. Manfaat bagi perbaikan perilaku 14. Keinginan untuk menolong orang lain

17. Capek/lelah/bosan dalam mengikuti semua kegiatan * 18. Berkesan terhadap kegiatan yang diikuti

19. Terdorong untuk terlibat aktif 20. Berani bertanggung jawab 21. Menghargai teman

22. Kesediaan bekerja sama/kekompakan tim 23. Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan 24. Ketaatan terhadap norma/peraturan/petunjuk 25. Memotivasi siswa untuk berusaha/daya juang 26. Membangun kepedulian/kesetiakawanan 27. Peningkatan keingintahuan siswa

28. Peningkatan kesadaran siswa memperbaiki diri 29. Mendorong siswa lebih disiplin

Keterangan: *) Item negatif

c. Terdapat 11 item dari 30 item mendapatkan persentase dibawah 90%. Adapun 11 item tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 4.7

Item Validasi Efektivitas Program yang Memperoleh Persentase dibawah 90%

No

Item Pernyataan

2. Keberanian untuk tampil/melakukan sesuatu 5. Lebih kreatif

6. Berani mencoba melakukan sesuatu

7. Takut salah dalam melakukan permainan * 9. Dihargai oleh teman-teman

10. Tertarik untuk mengikuti semua kegiatan

11. Kemudahan bagi siswa dalam mengikuti kegiatan 13. Kemudahan bagi siswa dalam menangkap materi 15. Puas terhadap bimbingan yang diberikan

16. Tertantang untuk mencoba

30. Membuat hubungan guru-siswa akrab/hangat/dekat Keterangan: *) Item negatif

Berdasarkan analisis diatas, semua siswa mengalami pernyataan tersebut setelah mendapatkan pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning efektif untuk meningkatkan karakter mandiri pada siswa kelas VIII F SMP N 31 Purworejo tahun ajaran 2014/2015.

4. Signifikansi Hasil Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning untuk Meningkatkan Karakter Mandiri Siswa Kelas VIII F SMP N 31 Purworejo Tahun Ajaran 2014/2015

Efektivitas implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter mandiri siswa kelas VIII F SMP N 31 Purworejo tahun ajaran 2014/2015 dianalisis dengan menggunakan uji t paired sampel test. Hasil uji t sebagai berikut:

Tabel 4.8 Uji T Pretest dan Postest Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean

Pair 1 Pretest 69,2000 30 4,30237 ,78550 Postest 70,2667 30 4,44067 ,81075 B e r d a

Paired Samples Test

Paired Differences T Df Sig. (2-tailed) Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pretest - Postest -1,06667 4,58584 ,83726 -2,77905 ,64571 -1,274 29 ,213

Jika ditinjau berdasarkan selisih mean skor karakter mandiri postest dan pretest dengan rumus O2-O1 yaitu senilai 1,0667. Artinya, terjadi peningkatan karakter mandiri pada siswa VIII F SMP N 31 Purworejo tahun ajaran 2014/2015 setelah diberikan layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning.

Berdasarkan tabel 4.8, jika ditinjau berdasarkan standar deviasi terjadi kenaikan senilai 0,1383. Artinya ada peningkatan karakter mandiri pada siswa. Pada tabel Paired Sample Test di atas menunjukkan bahwa Sig. (2-tailed) (0,213) > (0.05) dan nilai t hitung (-1,274) < t tabel (29; 0,05) adalah 2,045. Nilai signifikansi tersebut menunjukkan Ho diterima. Artinya, secara statistik pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning tidak signifikan meningkatkan karakter mandiri pada siswa kelas VIII F SMP N 31 Purworejo tahun ajaran 2014/2015.

B. Pembahasan

1. Gambaran Tingkat Karakter Mandiri Siswa Kelas VIII F SMP N 31 Purworejo Tahun Ajaran 2014/2015 Sebelum dan Sesudah Diberikan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning untuk Meningkatkan Karakter Mandiri

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat karakter mandiri siswa kelas VIII F SMP N 31 Purworejo tahun ajaran 2014/2015 sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) diberikan bimbingan klasikal kolaboratif

dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter mandiri adalah sebagian besar memiliki karakter mandiri sangat tinggi dan tinggi. Hal ini dikarenakan siswa telah memiliki kemampuan dalam bertanggung jawab, memiliki prinsip mengenai apa yang benar dan salah dalam berpikir dan bertindak, melakukan tindakan atas kehendak sendiri, tidak tergantung pada orang lain, serta memiliki rasa percaya diri. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Bernadib (dalam Mulyaningtyas &Hadiyanto, 2007) yang mengatakan bahwa mandiri merupakan perilaku yang mampu berinisiatif, mampu mengatasi masalah, memiliki rasa percaya diri, dan tidak tergantung pada orang lain. Mandiri berarti sifat dan perilaku yang terbentuk dari kehidupan seseorang yang tidak tergantung kepada orang lain dalam menyelesaikan tugas dan masalah didalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan definisi tersebut siswa yang memiliki tingkat karakter mandiri pada kategori sangat tinggi dan tinggi berarti telah memiliki karakter mandiri yang sudah baik.

Ali & Asrori (2009) berpendapat bahwa faktor yang memengaruhi terbentuknya karakter mandiri adalah gen atau keturunan orang tua, pola asuh orang tua, sistem pendidikan di sekolah, dan sistem kehidupan di masyarakat. Terbentuknya karakter mandiri jika ditinjau berdasarkan pola asuh orang tua muncul berdasar cara orang tua dalam mendidik anak. Orang tua yang melatih anak sejak dini untuk berperilaku hidup mandiri serta orang tua yang mampu menciptakan interaksi yang aman dalam keluarga akan dapat mendorong kelancaran perkembangan anak.

Dukungan dari guru yang lebih menekankan pentingnya penghargaan terhadap potensi anak juga akan memperlancar perkembangan kemandirian anak. Selain itu lingkungan di masyarakat yang aman dan saling menghargai merupakan faktor pendorong perkembangan kemandirian remaja.

Masa remaja merupakan masa dimana individu mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek dari masa anak menuju masa remaja. Jika dikaitkan dengan pendidikan karakter, tugas remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh masyarakat kemudian bersedia untuk membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Ditinjau dari ciri masa remaja, siswa-siswi yang memiliki karakter mandiri yang sangat tinggi dan tinggi dapat diartikan bahwa siswa tersebut telah berusaha mengembangkan potensi yang dimilikinya. Sejalan dengan pendapat Hurlock (1980) yang mengemukakan bahwa salah satu ciri masa remaja adalah masuk pada periode perubahan dimana pada periode ini terjadi perubahan emosi, tubuh, minat dan peran, perubahan pada nilai-nilai serta keinginan akan kebebasan. Melalui pendapat ahli diatas, peneliti ingin mengatakan bahwa siswa yang memiliki tingkat karakter mandiri sangat tinggi dan tinggi telah mampu melalui dan melaksanakan periode perubahan sehingga siswa-siswi tersebut berusaha untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya agar menjadi pribadi yang utuh.

Gambaran umum tingkat karakter mandiri sebelum (pretest) dan sesudah (postest) diberikan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning menunjukkan siswa kelas VIII F SMPN 31 Purworejo Tahun Ajaran 2014-2015 berada pada kategori sangat tinggi dan tinggi. Siswa tersebut bukan berarti tidak memiliki permasalahan terkait karakter mandiri dan tidak membutuhkan pendampingan atau bimbingan. Mereka membutuhkan pendampingan atau bimbingan dari berbagai pihak khususnya orang tua dan guru.

2. Efektivitas Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning untuk Meningkatkan Karakter Mandiri Siswa Kelas VIII F SMP N 31 Purworejo Tahun Ajaran 2014/2015 berdasarkan Penilaian Guru

Dalam penelitian ini mitra kolaboratif melakukan evaluasi dan observasi dengan mengisi validasi efektivitas program. Kolaborasi tidak hanya mengevaluasi dan mengobservasi. Depdiknas (2008) mengemukakan bahwa program bimbingan berjalan dengan efektif jika didukung oleh semua pihak, khususnya guru mata pelajaran dan wali kelas. Guru BK berkolaborasi dengan guru mata pelajaran dan wali kelas dalam rangka memperoleh informasi siswa (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan pribadinya), membantu memecahkan masalah siswa, serta mengidentifikasi aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan guru mata pelajaran

Penelitian ini menggunakan pendekatan experiential learning, artinya proses layanan bimbingan klasikal dimana siswa-siswi menggabungkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai dari pengalaman langsung sebagai media bimbingan/belajar. Proses layanan bimbingan klasikal menggunakan dinamika kelompok berupa permainan-permainan yang mendukung topik bimbingan agar siswa-siswi mampu mengalami secara langsung dan mampu merefleksikan apa yang diperoleh saat berdinamika. Siswa merefleksikan mengenai manfaat atau hikmah yang diperoleh setelah berdinamika kemudian mengaitkan dengan nilai-nilai kehidupan sehari-hari, dengan demikian diharapkan siswa-siswi mampu mempraktekkan kedalam kehidupan sehari-hari. Ng (dalam Purnami & Rohayati, 2003) mengemukakan bahwa pendekatan experiential learning dapat efektif apabila dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (a) Ice breaking untuk membangkitkan semangat peserta didik, (b) menciptakan pembelajaran yang kondusif, (c) memperkenalkan kegembiraan dalam pengerjaan tugas, (d) mendorong berfikir kreatif, (e) membantu peserta didik unuk melihat dari sudut pandang yang berbeda,(f) meningkatkan kesadaran akan perlunya berubah, (g) meningkatkan kesadaran diri.

Proses implementasi layanan bimbingan klasikal kolaboratif dinilai oleh mitra kolaboratif. Mitra kolaboratif dalam penelitian ini ada tiga guru, yaitu F. Sugeng Subagyo, M.Si (Guru BK), R. Abdullah (Guru Pkn), dan Rini Handayani (Guru IPS). Berdasarkan hasil data, validasi

efektivitas program yang diisi oleh mitra kolaboratif menggambarkan bahwa program ini sangat lebih baik untuk diimplementasikan. Terbukti bahwa ada sekitar 97,4 % pada kategori sangat lebih baik dan 2,5 % pada kategori lebih baik . Artinya, dalam proses implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning berjalan sangat lebih baik. Guru BK mengungkapkan bahwa tema yang diberikan berangkat dari kehidupan sehari-hari sehingga siswa dengan mudah memahami karena belajar dari pengalaman selama bimbingan klasikal berlangsung.

Ng (dalam Purnami & Rohayati, 2003) mengemukakan bahwa hal yang harus diperhatikan dalam pendekatan experiential learning, salah satunya adalah dengan menciptakan pembelajaran yang kondusif. Mitra kolaboratif menganggap bahwa program ini mampu membuat hubungan antara guru maupun siswa menjadi hangat dan akrab. Pada penelitian ini tampak dengan jelas bahwa proses layanan bimbingan klasikal mampu membuat akrab antara guru, peneliti, dan siswa.

3. Efektivitas Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning untuk Meningkatkan Karakter Mandiri Siswa Kelas VIII F

Dokumen terkait