• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IX. PENUTUP

9.1. Kesimpulan

Ekonomi moral di dalam industri rumah tangga usaha pengolahan mie rajang di Desa Pegajahan Dusun II terjadi dan terbentuk diantara pelaku ekonomi dengan tanpa disadari oleh mereka. Ekonomi moral yang lahir di sana dipengaruhi oleh mayoritas suku bangsa yang ada yaitu suku bangsa Jawa. Secara tidak langsung nilai-nilai ke-Jawa-an yang ada dan dimiliki oleh mereka memberikan ruang bagi ekonomi moral untuk tumbuh.

Ekonomi moral yang terbentuk yaitu di usaha pengolahan mie rajang Desa Pegajahan Dusun II adalah sebagai berikut:

1. Tidak ada pengeksploitasian yang terjadi baik itu dari pemilik usaha kepada para pekerjanya, agen ubi terhadap pemilik usaha, agen mie terhadap pemilik usaha, maupun sebaliknya.

2. Aturan dalam bekerja baik itu penentuan kapan memulai pekerjaan dan penentuan waktu libur tidak dilakukan oleh pemilik usaha melainkan atas kehendak pekerja. Dengan kata lain aturan yang ada merupakan aturan yang bebas namun demokratis.

3. Penentuan upah pekerja bukan didasarkan harga jual mie atau harga bahan mentah, melainkan didasarkan atas rasa iba atau rasa kasihan kepada pekerja. 4. Tidak mengejar kekayaan sehingga mereka bekerja tidak terlalu bekerja keras atau tidak ngoyoh, atau tidak total.

5. Target dalam bekerja hanya untuk mencukupi kehidupan sehari-hari dan memiliki sedikit tabungan sebagai uang jaga-jaga.

6. Pemilik usaha lain tidak dianggap sebagai saingan, sehingga tidak ada sistem saingan diantara mereka.

7. Bekerja sama dengan pemilik usaha yang lain untuk menghimpun kekuatan.

Ekonomi moral yang tercipta di sana tidak semuanya memberikan dampak yang baik secara ekonomi. Ada beberapa ekonomi moral yang menjadikan pemilik usaha tidak menjadi produktif, hal tersebut tentu mengurangi nilai ekonomi dari usaha tersebut. Namun demikian bagi mereka yang menjadi pelaku ekonomi kehidupan yang mereka lakukan meng-amin-i sebuah nilai bahwa kebahagiaan hidup bukan dinilai dari seberapa banyak uang yang dimiliki, atau seberapa kaya mereka, namun kehidupan dengan bersyukur menjadikan kehidupan mereka menjadi bahagia.

9.2 Saran

Dari usaha pengolahan mie rajang di Desa Pegajahan Dusun II yang termasuk kedalam industri rumah tangga pada umumnya, dibuat dan dijalankan untuk mengejar profit dan keuntungan. Barang yang mereka produksi saat ini sudah diterima oleh masyarakat dan menjadi barang konsumsi yang dibutuhkan oleh sebagian masyarakat. Nilai-nilai ekonomi moral yang ada di sana menjadi cerminan bagaimana mereka pola pikir mereka serta tingkah laku mereka.

Dari hasil penelitian yang telah saya lakukan, saya memiliki beberapa saran atau usulan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam usaha ini. Saran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kebersihan dari produksi mie rajang sebaiknya lebih diperhatikan kembali dan diperbaiki supaya mutu atau kualitas mie rajang yang dihasilkan semakin baik untuk dikonsumsi.

2. Pihak pemerintahan, swasta maupun akademisi yang ingin memberikan bantuan kepada pemilik usaha ada baiknya memberikan bantuan yang benar-benar dibutuhkan agar bantuan yang diberikan tidak sia-sia. Namun apabila bantuan yang diberikan menurut pemberi bantuan merupakan bantuan yang tepat alangkah lebih baik jika pemilik usaha diberikan pembelajaran atau pembekalan mengenai kegunaan dan keuntungan yang akan mereka peroleh dengan menggunakan bantuan yang diberikan.

BAB II

GAMBARAN UMUM

2.1Kondisi Fisik, Sosial dan Keagamaan Desa Pegajahan

Daerah tempat penelitian saya ini terletak di Dusun 2 Desa Pegajahan. Jarak tempuh dari kota Perbaungan ke tempat penelitian saya ini memakan waktu 30 menit dengan mengendarai Sepeda Motor. Keadaan jalan yang dilalui terdapat beberapa tipe, sebagian jalan beraspal, ada juga yang di cor beton dan sebahagian lagi masih ada jalan tanah. Jalan yang dilalui dapat dikatakan rusak karena banyak lubang-lubang yang terdapat di sepanjang jalan.

Banyaknya jalan yang rusak disepanjang yang dilalui kalau mau ke Desa Pegajahan awalnya disebabkan oleh truck-truck colt diesel pengangkut sawit yang melewati jalan itu. Rusaknya jalan itu semakin diperparah dengan adanya pembangunan jalan tol Medan-Tebing yang melintasi tanah perkebunan di Desa Pegajahan, banyak truck-truck pengangkut material pembangunan jalan tol yang melewatin jalan itu. Rusaknya jalan ditambah banyaknya debu-debu membuat perjalanan yang dilalui semakin tidak bagus untuk kesehatan.

Jalanan rusak akan dirasakan sepanjang jalan masuk dari kota sampai ke Desa Pegajahan. Desa Pegajahan sendiri terletak di sekeliling kebun PTPN II yakni Kebun Melati. Selain sarana jalan, di Desa Pegajahan terdapat 6 jembatan besar dan terdapat satu jembatan yang keadaannya rusak berat. Jembatan yang rusak berat ini terletak di Dusun Karangsari, tetapi pada saat sekarang ini jembatan yang rusak itu sedang proses pembangunan dengan material cor beton.

Desa Pegajahan tidak memiliki transportasi umum seperti Bus, Mikrolet, maupun jenis angkutan umum sejenisnya. Masyarakat yang bertempat tinggal di Desa ini biasanya dalam kehidupan sehari-hari menggunakan transportasi sepeda motor, maupun sepeda. Kendaraan umum yang bisa digunakan untuk menuju ke Desa Pegajahan yaitu Becak. Banyak becak yang tersedia di Kota Perbaungan yang bisa digunakan. Di sekeliling Desa Pegajahan terdapat berbagai macem usaha pertanian, baik yang dimiliki pemerintah (BUMN) maupun yang dimiliki oleh masyarakat. Usaha pertanian yang terdapat di Desa Pegajahan diantaranya usaha pertanian perkebunan, tanaman kelapa sawit, tanaman karet, tanaman kakao, tanaman kelapa, dan tanaman Holtikultural lainnya seperti palawija dan singkong.

Keadaan rumah di Desa Pegajahan sebagian besar sudah termasuk bangunan permanen. Namun ada beberapa rumah yang masih non permanen, rumah yang non permanen ini terbuat dari kayu dengan dinding-dinding rumahnya terbuat dari anyaman bambu (tepas). Untuk listrik Desa Pegajahan sudah tersedia jaringan listrik PLN, sehingga hampir semua Rumah Tangga sudah menggunakan tenaga listrik untuk memenuhi keperluan penerangan dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan air, masyarakat di Desa Pegajahan masih mengandalkan sumur airr di setiap rumah. Kualitas air yang keluar dari sumur air di Desa Pegajahan ini sebagian besar dapat dikatakan bagus karena untuk mandi pun segar dan tidak berbau. Listrik yang sudah ada digunakan untuk pompa listrik yang kemudian mengambil air dari dalam sumur tadi dan hal ini sudah banyak dipakai oleh masyarakat yang tinggal di Desa Pegajahan ini.

Selama saya tinggal di sana terasa sekali keramahtamahan dan keakraban yang terjalin diantara keluarga maupun dengan para tetangga. Hal tersebut terlihat dari intensitas mereka saling berkumpul dan bercengrama bersama. Biasanya orang yang suka berkumpul sore-sore dibelakang rumah adalah kaum perempuan, namun di Dusun II laki-laki pun saling berkumpul dan berbincang mengenai banyak hal.

Keakraban yang terjalin diantara mereka tentu bukan terjadi begitu saja. Mereka terbiasa hidup saling menyapa satu dengan yang lainnya, bertegur sapa dan sesekali bercanda bahkan ketika mereka saling berpapasan. hal yang sangat menyenangkan karena hal tersebut membuat mereka saling berinteraksi secara terus menerus.

Kehidupan mereka yang sering berkumpul bersama juga membuat mereka saling mengenal bahkan sampai ke lain Dusun. Salah satu tema pembicaraan ketika mereka saling berkumpul adalah kegiatan-kegiatan yang ada di Dusun tersebut maupun di luar Dusun. Hal yang paling sering mereka bicarakan adalah mengenai akan dilaksanakannya pesta oleh tetangga atau kenalan mereka. Dalam cerita mereka pasti terbersit saling menanyakan kabar orang yang mereka bicarakan secara langsung maupun tidak langsung. Kepedulian terhadap satu dengan yang lainnya tentu akan memberikan kesan keharmonisan hubungan masyarakat di sana.

Keadaan rumah masyarakat di sana saling berdekatan, posisi rumah di pedesaan yang cenderung tidak beraturan tidak seperti rumah di kompleks yang teratur dan memiliki kesamaan bentuk. Rumah mereka yang saling berdekatan

membuat para tetangga saling berteriak saja untuk memanggil tetangga mereka apabila ada keperluan. Kehidupan bertetangga memang tidak selalu baik adanya, terkadang ada masalah yang terjadi dengan sebab-sebab yang berbeda. Begitu pula dengan masyarakat di Pegajahan, sering terjadi perselisihan antara tetangga. Namun berdasarkan perbincangan saya dengan Buk Lasmiem tidak ada perselisihan yang membuat satu yang lainnya saling menyakiti atau merugi secara ekonomi. Hal yang lumrah terjadi adalah para tetangga tidak saling berbicara dalam waktu yang sangat lama.

Hubungan masyarakat di Pegajahan khususnya di Dusun II kebanyakan diantara mereka bersaudara. Hubungan saudara yang terjalin diantara mereka bukan karena tanah yang mereka tinggali merupakan milik nenek moyang mereka, tetapi karena ada perkawinan yang terjadi diantara keluarga dengan tetangga. Dalam hubungan kekerabatan etnis Jawa apabila ada perkawinan maka keseluruhan keluarga akan menyatu, baik itu bibik atau uwak, keponakan dan juga sepupu mereka juga ikut mendapat keluarga baru seperti mereka yang menikah. Kasus tersebut juga terjadi dalam masyarakat Dusun II, dimana mereka bersaudara karena keponakan mereka saling menikah. Bahkan ada yang mereka merasa bersaudara jauh karena pengikat saudara mereka juga jauh. Mereka menyebut persaudaraan yang seperti itu sebagai masih “bau-bau saudara”.

Komposisi keagamaan masyarakat Desa Pegajahan terdiri dari agama Islam, Kristen Protestan serta Hindu. Berdasarkan data kependudukan diketahui bahwa dari 4.274 penduduk ada 4086 jiwa yang menganut agama Islam, 156 jiwa yang menganut agama Kriten protestan dan 32 jiwa yang menganut agama Hindu.

Agama Islam merupakan agama yang paling banyak dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Pegajahan. Tidak begitu halnya dengan agama Kristen dan Hindu. Hanya sebagian kecil saja masyarakat yang menganut agama Kristen dan Hindu di sana. Persebaran agama Kristen berpusat pada Dusun IV dan Dusun V Pegajahan. Tempat ibadah Kristen sendiri hanya ada satu di Pegajahan, yang terletak di Dusun IV.

Gambar 2.1

Keberadaan agama Hindu di Pegajahan menjadi keunikan tersendiri yang dimiliki Desa Pegajahan. Agama Hindu yang umumnya dianut oleh orang India dan Bali. Penganut Hindu yang bermukim di Pegajahan merupakan orang yang berasal dari Bali. Orang Bali yang bermukim di Pegajahan membawa kebudayaan mereka kesini. Mereka membangun tempat ibadah mereka sendiri, rumah-rumah mereka seperti perumahan yang ada di Bali. Hal tersebut membuat wilayah tempat mereka bermukim disebut dengan Kampung Bali.

Saat merayakan hari besar keagamaan mereka juga tetap melakukan ritual- ritual keagamaan selayaknya masyarakat yang ada di Bali. Masyarakat yang lain

Jumlah Penduduk Berdasarkan

Agama

Islam Protestan Hindu

pun mengerti dan menghargai prosesi keagaman yang sedang mereka lakukan. Masyarakat yang lain juga tidak mengganggu ketika mereka sedang melakukan hari raya Nyepi. Toleransi keagaman di Pegajahan terpelihara dengan baik.

Penganut agama Kristen juga mendapat perlakuan yang sama, mereka tidak diganggu ketika merayakan natal atau ritual keagamaan yang lain. Gereja yang ada di Dusun IV berada di wilayah para penganut agama Kristen, mereka sering melakukan gotong royong juga untuk memperbaiki ataupun membersihkan gereja yang hanya satu-satunya di Desa Pegajahan tersebut.

Kehidupan bertetangga para penganut agama yang satu dengan agama yang lain pun tetap harmonis dan menjaga ketentraman dengan tidak memunculkan sentimentil keagaman dimasyarakat. Kehidupan beragama penganut agama Kristen terlihat dari selalu ramainya gereja pada hari minggu. Mereka juga memiliki perkumpulan agama untuk melakukan doa bersama secara bergantian dirumah-rumah tetangga mereka. Perilaku yang sama juga terjadi pada masyarakat yang beragama Islam.

2.2Pengolahan Ubi Kayu di Pegajahan 2.2.1 Pengolah Ubi Kayu Di Pegajahan

Sejauh ini Kecamatan Pegajahan sudah memiliki banyak pemilik usaha pengolahan ubi kayu. Tidak ada jumlah pasti yang diberikan oleh pihak terkait mengenai keberadaan pengolah ubi kayu ini, pihak kelurahan Pegajahan menyebut kegiatan pengolahan ubi kayu sebagai usaha kecil rumah tangga. Berdasarkan informasi yang didapat dari informan para pemilik usaha olahan ubi kayu ini sudah melakukan kegiatan ini rata-rata lebih dari 5 tahun, banyak juga diantara mereka yang telah mencapai lebih dari sepuluh tahun.

Keberadaan pengolah ubi di Pegajahan tersebar di beberapa Desa. Ada tiga Desa yang penduduknya banyak melakukan pengolahan yaitu Desa Pegajahan, Desa Bingkat, dan Desa Sukasari. Kecamatan Pegajahan merupakan salah satu Kecamatan dari Kabupaten Serdang Bedagai. Kota terdekat dari Kecamatan Pegajahan adalah Kota Perbaungan. Untuk bisa mencapai Kecamatan Pegajahan tepatnya tiga Desa di atas memerlukan waktu kurang lebih 30 menit dari Kota Perbaungan, dengan keadaan jalan yang sudah di aspal namun banyak yang berlubang.

Di Desa Pegajahan ada banyak petani yang menanam ubi kayu dikebun mereka. Petani di Desa Pegajahan lebih banyak menanam ubi kayu daripada menanam padi. Penjelasan mengenai topik ini akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya. Banyaknya petani yang menanam ubi kayu dapat menjamin ketersediaan ubi kayu untuk pemenuhan kebutuhan pemilik usaha. Dengan kata lain pemilik usaha memperoleh kemudahan dengan keadaan tersebut. Kemudahan

yang mereka peroleh adalah jaminan ketersediaan ubi dalam jangka waktu yang lama. Lokasi pertanian yang dekat setidaknya membuat mereka memperoleh harga ubi yang relatif murah. Selain itu apabila pemilik usaha merasa ada yang perlu mereka komplen dari barang yang mereka peroleh mereka bisa langsung menemui sumbernya.

Pengolahan ubi kayu yang dilakukan oleh masyarakat di Pegajahan masih tergolong industri rumah tangga yang masih dilakukan oleh kurang lebih lima sampai 6 orang dalam satu rumah produksi. Hasil olahan ubi kayu yang ada di Pegajahan beranekaragam, seperti mie yeye, opak piring, manggleng, alen-alen, rengginang, dll. Penjelasan mengenai jenis-jenis hasil olahan ubi kayu akan dibahas dalam pembahasan selanjutnya.

Olahan yang tidak hanya satu jenis itu telah menggunakan beberapa teknologi mesin untuk bisa mempermudah pengolahan yang dilakukan oleh mereka. Meskipun ada beragam jenis hasil olahan ubi kayu di sana, namun secara umum proses pengolahannya cenderung sama. Satu hal yang belum bisa mereka gantikan sampai saat ini adalah tenaga sinar matahari. Mereka bergantung kepada sinar matahari untuk bisa mengeringkan olahan mereka.

Para pemilik usaha olahan ubi kayu ini merupakan masyarakat Pegajahan yang memiliki keadaan ekonomi menengah. Ekonomi menengah yang saya maksud adalah kehidupan mereka tidak kaya atau pas-pasan. Sebagian dari mereka mengandalkan sepenuhnya kebutuhan rumah tangga dari hasil olahan ubi kayu. Sementara itu sebagian lainnya masih melakukan pekerjaan yang lain untuk bisa dijadikan sumber mata pencaharian mereka.

Kehidupan perekonomian sebagian besar masyarakat di Kecamatan Pegajahan adalah pertanian, buruh harian, perdagangan dan hanya sebagian kecil saja dari mereka yang termasuk ke dalam pegawai negeri. Dengan begitu saya menyimpulkan bahwa sebagian masyarakat di sana bekerja dengan mengandalkan tenaga yang mereka miliki, serta sebagian lainnya menggunakan pikiran dan kreativitas mereka untuk bekerja dan mencari nafkah.

Hal tersebut senada dengan yang dikatakan oleh informan saya yang bernama Junaidi :

“Mereka yang bekerja dengan menggunakan tenaga saja adalah mereka yang tidak memakan bangku sekolahan, sementara mereka yang bisa bekerja dengan menggunakan kemampuannya dalam berkreasi sedikit banyaknya mereka sekolah dan belajar. Kalau masyarakat sini masih jarang yang sekolahnya tinggi, apalagi yang udah tua-tua macem saya” .

Keseluruhan pemilik usaha pengolahan ubi beragama Islam, tidak ada satupun dari mereka yang beragama Kristen atau Hindu. Kenyataan tersebut seakan seirama dengan kenyataan bahwa mayoritas agama yang dianut oleh masyarakat di Pegajahan adalah agama Islam. Selain itu sebagian besar pemilik usaha bersuku Jawa, ada sebagian kecil yang bersuku Banjar. Namun suku Jawa menjadi suku yang paling banyak dimiliki oleh pemilik usaha.

Sebelum menjadi pengolah ubi kayu, pekerjaan yang mereka kerjakan beranekaragam, ada yang bekerja diladang, ada pula yang menjadi buruh harian. Tidak semua dari mereka meninggalkan pekerjaan yang lama dan fokus menjadi

pengolah ubi, ada sebagian dari mereka yang masih menjadi buruh harian, ada pula yang masih mengolah ladang yang mereka miliki. Meskipun mereka membayar orang lain untuk mengolah lahan mereka. Namun tetap saja mereka tidak hanya memiliki satu sumber matapencaharian.

Para Pemilik usaha kebanyakan adalah satu keluarga yaitu suami dan istri. Namun tak jarang pula ada beberapa kasus dimana suami bekerja diluar dan istrilah yang memanajemen usaha mereka. Namun hal tersebut tidak menjadi persoalan yang merumitkan karena banyak orang yang bisa ikut bekerja dengan mereka. Selain itu suami yang telah bekerja diluar, setelah mereka pulang kerumah maka mereka pun ikut membantu pekerjaan yang belum terselesaikan. 2.2.2 Zona-Zona Hasil Olahan Ubi Kayu

Telah dikatakan sedikit bahwa pemilik usaha olahan ubi yang ada di Kecamatan Pegajahan ini tersebar di 3 Desa yaitu Desa Pegajahan, Desa Bingkat, dan Desa Sukasari. Ketiga Desa tersebut memiliki hasil olahan yang berbeda pula. Walaupun ada yang sama namun hal tersebut tidak menjadi dominasi, hanya sebagian kecil saja yang memiliki kesamaan hasil olahannya dengan Desa yang lain.

a. Desa Pegajahan

Di Desa Pegajahan pemilik usaha olahan tersebar lagi di beberapa Dusun, Desa Pegajahan memiliki lima Dusun. Pemilik usaha ubi ada di dua Dusun yaitu Dusun II atau Dusun Harapan I dan Dusun IV atau Dusun Karang Sari. Di Dusun II hasil olahan ubi yang diproduksi adalah mie rajang. Di sana ada 13 kepala keluarga yang memproduksi mie rajang , serta 2 kepala keluarga yang

memproduksi opak sayur dari 123 kepala keluarga. Bila dipersentasekan maka ada 12% penduduk yang mengolah ubi kayu di Desa Pegajahan Dusun II.

Dari ketiga Desa yang ada pengolahan ubi kayu yaitu Desa Pegajahan, Desa Bingkat dan Desa Sukasari, hanya Desa Pegajahan Dusun II saja yang mengolah mie rajang. Karena banyaknya pemilik usaha yang memproduksi mie rajang maka Dusun II Desa Pegajahan ini dikenal juga sebagai Dusun mie rajang. Mereka menyebut nama lain dari Dusun II tersebut karena kekhasan yang dimiliki oleh Dusun II ini.

Selanjutnya adalah Dusun IV Desa Pegajahan, di sana ada juga penduduk yang mengolah ubi kayu menjadi berbagai penganan setengah jadi. Dari Informasi yang diperoleh ada 369 jumlah kepala keluarga di Dusun IV Desa Pegajahan ada 28 kepala keluarga yang mengolah ubi kayu10. Bila di persentasekan maka ada 7% penduduk Desa Pegajahan Dusun IV yang memiliki pengolahan ubi kayu. Ke-28 kepala keluarga tersebut mengolah ubi kayu menjadi olahan yang berbeda jenis. Pemilik usaha yang ada di Dusun IV mengolah ubi kayu menjadi manggleng (belungkuok), opak petak, dan ada satu industri rumah tangga yang memproduksi rengginang ubi. Dari ketiga jenis olahan ubi kayu yang ada di Pegajahan dusun IV tersebut, olahan ubi yang paling banyak adalah olahan manggleng atau belungkuok.

b. Desa Bingkat

Desa Bingkat memiliki 10 Dusun, Dusun yang mengolah ubi kayu adalah Dusun 10 B dan Dusun 9A. Ada beberapa industri rumah tangga yang

10

Berdasarkan wawancara dari Kepala Lorong Desa Pegajahan Lorong IV yaitu Bapak Kari yang berusia 58 tahun.

memproduksi olahan ubi kayu. Informasi yang diperoleh dari informan diketahui bahwa ada kurang lebih 50 kepala keluarga atau 9% yang mempunyai usaha olahan ubi dari 508 KK yang ada di dua Dusun tersebut.

Hasil olahan ubi kayu yang dihasilkan oleh pemilik usaha di Desa Bingkat tepatnya Dusun 10B dan 9A adalah opak lidah dan opak sayur. Opak lidah merupakan opak yang berbentuk memanjang dengan ujung yang berbentuk seperti lidah. Opak lidah hanya diproduksi di Desa Bingkat dan berpusat di Pasar 10B. Tidak ada Desa lain yang memproduksi opak jenis opak lidah seperti yang dibuat oleh pemilik usaha yang ada di Bingkat.

Tidak semua pemilik usaha di Desa bingkat memproduksi opak lidah, ada pula yang memproduksi opak sayur yang sama seperti yang di produksi di Desa Pegajahan Dusun II. Kesamaan jenis yang diproduksi oleh mereka salah satu sebabnya adalah mereka merupakan orang pindahan dari salah satu Desa tersebut. Selain itu ada pula mereka yang merupakan anak dari pemilik usaha opak sayur juga. Sehingga ilmu dan kemampuan yang mereka miliki sama, jadi ketika mereka memutuskan untuk membuka usaha, maka mereka menggunakan kemampuan yang telah mereka miliki di tempat mereka tinggal.

c. Desa Sukasari

Di Desa Sukasari pemilik usaha olahan ubi tersebar di beberapa Dusun, yaitu Dusun III dan Dusun IV. Desa Sukasari ini terdiri dari lima Dusun, dan masing-masing Dusun terbagi lagi kedalam beberapa lorong, ada A, B dan C. Olahan ubi kayu yang dihasilkan oleh pemilik usaha yang ada di Desa Sukasari cukup beragam, yaitu: opak piring, opak koin, rengginang ubi, alen-alen, mie

Dokumen terkait