4 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
(1) Jenis dan kedalaman perairan tempat pemasangan atraktor berpengaruh tehadap penempelan telur cumi-cumi
(2) Telur cumi-cumi hanya menempel pada atraktor berpenutup karung goni
(3) Telur cumi-cumi menempel di atraktor pada kedalaman 4 hingga 5 m di atas dasar perairan
(4) Telur cumi-cumi menempel di atraktor pada waktu malam hari
(5) Telur cumi-cumi menetas pada hari ke dua puluh delapan hingga hari ke tiga puluh
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut :
(1) Penggunaan atraktor untuk mengumpulkan telur cumi-cumi dari alam lebih efektif dilakukan pada musim pemijahan cumi-cumi bulan Agustus hingga September
(2) Diperlukan penelitian tentang aspek biologi reproduksi cumi-cumi dan kemungkinan pembudidayaannya di Teluk Mutiara Kabupaten Alor.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, T, Gunarto, D. Pongsapan, A. G. Mangawe, M. Silele, M. I. Madeli, Muharijadi, E. Danakusumah. 1996. Penelitian Reproduksi dan Pemeliharaan Larva cumi-cumi Sebagai Upaya Menggali Pertumbuhan Produksi Pangan Baru. [Laporan Hasil Penelitian]. Maros : Balai Penelitian Perikanan Pantai. 27 hal.
Anonymous, 1989. Market Studi : Squid, Cuttle Fish and Octopus. A Study of The World Market for Cephalopods. Geneva : International Trade Center UNCTAD / GATT. 199 p
Anonymous, 1994. Offshore and Inshore Fisheries Development and Technologies. Squid Species. Ontario : Communications Directorate Department of Fisheries and Oceans.p 1-5.
Bandel, K and S. v. Boletzky. 1979. Comparativ Study of The Structure, Development, and Morphologycal Relationshipp of Chambered Cephalopod Shells. Veliger 21 (3) : 313-354
Bapedalda Kabupaten Alor. 2000. Strategi Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kalabahi : Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten Alor. 70 hal.
Barnes, R. D. 1987. Invertebrate Zoology. Fish Edition. Philadelphia : Sounders College Publishing.
Boletzky, S.v. 1977. The Biology of Cephalopods. Post-hatching Behaviour and More of Life in Cephalopods.England : Academic Press. P 557 - 567.
Boletzky, S.v. 1998. Cephalopod Eggs and Masses. Oceanography and Marine Biology : an Annual Review 36 : 341 – 371
Brandt, A. v. 1984. Fish Catching Methods of The World. 3rd Edition. England: Fishing News Books Ltd. 418 p.
Brodziak, J and L. Hendrickson. 1999. An Analysis of Environmental Effects on Survey Sathes of squid Loligo pealey and Illex illebrosus in The Northwest Atlantic. Fis.Bull. 97 : p 9-24.
Buchsbaum, R., M. Buchsbaum, J. Pearse and V. Pearse. 1987. Animal Without Backbones. 3 rd Edition. Dhicago : The University of Ghicago Press.
Danakusumah, E., A. Mansur dan S. Martinus 1995. Studi Mengenai Aspek-aspek Biologi dan Budidaya Cumi-cumi Sepioteuthis lessoniana LESSON . I Musim Pemijahan. Prosiding. Seminar Kelautan Nasional 15-16 November 1995. Jakarta : BPPT. 17 hal
Danakusumah, E. Mansur dan S. Martinus 1997. Studi Mengenai Aspek-aspek Biologi dan Budidaya Cumi-cumi Sepioteuthis lessoniana. II.
Pengaruh Pergantian Air Terhadap tingkat Penetasan Telur Cumi- cumi. [Makalah]. Bandar Lampung : Prosiding Seminar Nasional Biologi XV, 24-26 Juli 1997. p 868-871.
Direktorat Jenderal Perikanan. 1987. Penyebaran Beberapa Sumber Perikanan di Indonesia. Jakarta : Departemen Pertanian. 43 hal.
Djajasamita, M., S. Soemodiharjo, dan B. Sudjoko. 1993. Status sumberdaya Cephalopoda di Indonesia. Panitia Nasional Program MAB Indonesia. Jakarta : LIPI.
Effendie, M. I. 2002. Biologi Perikanan. Jogjakarta : Yayasan Pustaka Nusatama. 163 hal.
FAO. 1984. FAO Spesies Cataloque Vol 13. Cephalopods of The World. FAO Fisheries Synopsis No.125 (3). 274 p.
Field, W. G. 1965. The Strukture, Development, Food Relation, Reproduction, and Life History of The Squid, Loligo opalescens Berty. California : California Dept. Fish and Game, Fish Bull. 131 : 1-108.
Gappindo. 1999. Cephalopoda Suatu Industri dalam Masalah. Buletin Gappindo. Edisi Januari 1999. 34 -37.
Gunarso, W dan F. Purwangka. 1998. Cumi-cumi dan Kerabatnya. Biologi, Penangkapan, serta Prospek Bisnisnya. Bogor : Laboratorium Tingkah Laku Ikan. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor. 228 hal.
Hamzah, M.S. 1993. Pengamatan Tentang Perkembangan dan Kecepatan Penetasan Telur Sotong Buluh, Sepioteuthis lessoniana LESSON Pada Dua Kedalaman yang Berbeda di Teluk Un, Tual. Balai Litbang Sumberdaya Laut Puslitbang Oseanologi LIPPI Ambon. Ambon. Hal : 73-80
Hartati, S.T. 1998. Fluktuasi Musiman Hasil Tangkapan Cumi-cumi (Loligonidae) di Perairan Selat Alas, Nusa Tenggara Barat. [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 64 hal
Hegner, R.W., and J. G. Engemann. 1989. Invertebrate Zoology. 2 nd Edition. New York : Macmillan Publishing Co., Inc. 619 p.
Johnson, H. Willis., E. D. Louis., W. C. Elliot., A. C. Thomas. 1977. Principle of Zoology. New York : Holt, Rinehart and Winston Inc.
Kreuzer, R. 1984. Squid – Seafood Extraordinaire. Infofish 6 (86) : 29-32
Krissunari, D. 1987. Kebiasaan Makanan dan Pertumbuhan Cumi-cumi (Loligo edulis, Hoile) di Perairan Pulau Rambut, Kepulauan Seribu. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. 60 hal
Nabhitabhata, J. 1983. Eksternal Sex Characteristics and Seksual activities of Long Finned Squid, Sepioteuthis lessoniana LESSON. Technical Paper Rayong Brackishwater Fisheries Station : Brackishwater Fisheries Division, Departmen of Fisheries (1). 28 p.
Nabhitabhata, J. 1996. Life Cycle of Cultured Big Fin Squid, Sepioteuthis lessoniana LESSON. Phuket : Phuket Marine Biology Center. Special Publication 25 (1) : p 91 -99.
Nasoetion, A. H dan Barizi. 1980. Metode Statistik untuk Menarik Kesimpulan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. 223 hal.
Nateewathana, A. 1997. Systematic of Cephalopoda (Mollusca) of The Andaman Sea Thailand. Denmark. PhD Disertation [unpublicated]. Institute of Natural Science, Faculty of Natural Science, University of Aaurnus. 347 p
Nybakken, J. W. 1988. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis (diterjemahkan oleh M. Eidman, Koesbiono dan D. G. Bengen). Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama. 480 hal
Pongsapan, D.S., Usman, dan T. Ahmad. 1995.Pengaruh Padat Tebar Induk Sotong Buluh Sepioteuthis Lessoniana terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan Jumlah Telur dalam Keramba Jaring Apung. [Laporan Hasil Penelitian]. Maros : Balai Penelitian Perikanan Pantai Maros. Hal. 83 – 91
Raharjo, S dan D. G. Bengen. 1984. Studi Beberapa Aspek biologi Cumi-cumi (Loligo sp) di Perairan Gugus Kepulauan Seribu. [Laporan Penelitian]. Bogor : Fakultas perikanan, Institut Pertanian Bogor.
Roper, C.F.E.; M.J. Sweeney and C.E. Nauen, 1984. Cephalopods of The World. FAO Species Catalogue of Interest to fisheries, FAO fisheries Synopsis., 3 (25). 277 p.
Sauer, W.H.H, M.R. Lipinski and C.J. Augustyn. 1999. Tag Recapture Studies of The Chokka Squid Loligo vulgaris reynaudii d’Orbigny, 1845 on inshore spawning ground on the south-east coast of south Africa. Fisheries Research (45) : p 283-289.
Segawa, S. 1987. Life History of Oval Squid Sepoteuthis lessoniana in Kominato and Adjacent Waters Central Honsu, Japan. Tokyo. Journal of Tokyo University of Fisheries. 74 (2) : 67 – 105
Soewito, A. P. Dan B. Syarif. 1990. Uji Coba Pancing Cumi-cumi”Squid Jigger” di Perairan Laut Cina Selatan dan Kalimanatan Barat. Semarang : Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. 32 hal.
Sudjoko, B. 1988. Cumi-cumi (Cephalopoda Molusca) Sebagai Salah Satu Makanan dari Laut. Jakarta : Oseana (13) : p 97 – 107
Tasywiruddin M.T. 1999. Sebaran dan Kelimpahan Cumi-cumi (Loligo edulis Hoyle, 1885) berdasarkan jumlah dan posisi lampu pada operasi penangkapan dengan payang oras di perairan selat Alas, Nusa Tenggara Barat. [Thesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 52 hal.
Tulak, D. C, 1999. Pengamatan Substrat Penempelan Telur Cumi-cumi Sirip Besar (Sepioteuthis lessoniana, LESSON ) di Habitat Pemijahan Perairan Teluk Banten. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. 34 hal.
Warsiati, 2003. Analisis Morfometrik Cumi-cumi Sirip Besar (Sepioteuthis lessonniana, LESSON) di Teluk Banten, Serang, Banten. [skripsi]. Bogor : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelatuan, Institur Pertanian Bogor. 50 hal.
Lampiran 1 Foto bentuk keramba pemeliharaan cumi-cumi
Keterangan : A = Keramba, B = Tempat penetasan, C = Penutup keramba
Lampiran 2 Foto pengangkutan atraktor dengan perahu
Lampiran 3 Foto pengukuran parameter oseanografi
Lampiran 4 Data parameter oseanografi setiap minggu selama penelitian Waktu Minggu Harian Suhu ( o C) Salinitas (ppt) DO (mg/liter) pH Pagi 25.9 32.1 7.03 8.17 Siang 28.9 31.6 8.9 8.12 Minggu I Sore 30.49 32.5 7.65 8.13 Pagi 26 32.2 7.04 8.19 Siang 29 31.7 8.92 8.1 Minggu II Sore 30.4 32.4 7.59 8.12 Pagi 25.7 32.29 7.03 8.22 Siang 29.11 31.4 8.89 8.18 Minggu III Sore 30.8 32.4 7.58 8.2 Pagi 26.01 32.1 7.02 8.19 Siang 28.9 31.48 8.9 8.01 Minggu IV Sore 30.29 32.5 7.62 8.13 Pagi 25.82 32.19 7.03 8.16 Siang 29 31.51 8.9 8.11 Minggu V Sore 30.2 32.41 7.45 8.14 Pagi 25.92 32.4 7.04 8.18 Siang 29.1 31.61 8.9 8.15 Minggu VI Sore 30.3 32.45 7.62 8.18 Pagi 25.91 32.59 7.04 8.19 Siang 29.1 31.2 8.94 8.13 Minggu VII Sore 30.8 32.9 7.68 8.13 Pagi 25.91 32.5 7.05 8.19 Siang 28.9 31.49 8.92 7.99 Minggu VIII Sore 30.73 33.2 7.61 8.12
Lampiran 5 Uji rata-rata dengan uji - t
PERLAKUAN
Dengan penutup Karung Goni Tanpa Penutup Karunng Goni ULANGAN Permukaan (0-1 m) Tengah (2-3 m) Dasar (4-5) Permukaan (0-1 m) Tengah (2-3 m) Dasar (4-5 m) 1 - - 125 - - - 2 - - 53 - - - 3 - - 150 - - - 4 - - 75 - - - Rata-rata - - 100,75 - - - Contoh : Diketahui :
- Atraktor berpenutup karung goni di dasar (kedalaman 4-5 m) = X1
- Atraktor tidak berpenutup karung goni di dasar (kedalaman 4 -5 m) = X2
Perhitungan : 4 75 150 53 125 1 + + + = − X = 100, 75 0 2 = − X 4 ) 403 ( ) 75 ( ) 150 ( ) 53 ( ) 125 ( 2 2 2 2 2 1= + + + − SS = 5956,75 0 2 = SS 4 1 4 1 2 4 4 0 75 , 5956 2 1 + − + + = −SX X SX = 62,049 = 7,88 t hit = 88 , 7 75 , 100 = 12,78 (dk = n-1); 4 - 1 = 3 t tabel 0,05 = 2,35
t hit > t table 0,05 ; tolak Ho : yang berarti ada pengaruh tipe dan kedalaman pemasangan atraktor terhadap penempelan telur cumi-cumi.
Lampiran 6 Foto telur cumi-cumi menempel pada atraktor tipe tertutup
GLOSARIUM
Glosarium atau terminologi yang berhubungan dengan cumi-cumi, tertulis di dalam tesis dan tercantum di bawah ini menurut Roper et al. 1984, Djajasasmita et al. (1993) dan Nateewathana (1997) sebagai berikut :
Chorion : Selubung kedua pada kapsul telur cephalopoda yang disintesis dan disekresikan oleh sel-sel folikel selam oogenesis/viteigenesis
Funnel : Corong, tabung berbentuk kerucut yang terletak ada bagian ventral tubuh , tempat lewatnya air yang berasal dari rongga mantel selama pergerakan dan respirasi
Gladius :Kepingan khitin berbentuk seperti bulu sayap atau batang yang melengkung bagian dorsal cumi-cumi
Gonopore : Lubang saluran kelamin
Hectocotylus : Hektokotil, satu atau beberapa lengan cephalopoda jantan yang bermodifikasi untuk memindahkan spermatofora ke rubuh betina
Inkubasi : Pengeraman
Mantle : Mantel, bagian tubuh cephalopoda berbentuk seperti kantung terdiri dari otot-otot, berisi berbagai organ tubuh (insang, organ reproduksi) Nidamental : Organ seksual sekunder
Oviduct : Saluran telur
Spermatophore : Spermatofora, struktur berbentuk tabung yang dihsilkan oleh cephalopoda jantan untuk membungkus sperma, setiap spermatofora berisi berjuta-juta sperma yang akan dipindahkan kepada betina
Tentacle : Tentakel, sepasang lengan yang memanjang (pada sepioidea dan teutthoidea) yang lebih panjang daripada lengan-lengan yang lain, dapat ditarik dan diulurkan, digunakan untuk menangkap mangsa
PERBEDAAN JENIS DAN KEDALAMAN PEMASANGAN
ATRAKTOR TERHADAP PENEMPELAN TELUR CUMI-CUMI
ISMAWAN TALLO
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2006
PERNYATAAN MENGENAI TESIS
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Perbedaan Jenis dan Kedalaman Pemasangan Atraktor Terhadap Penempelan Telur Cumi-cumi adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, September 2006
Ismawan Tallo NRP C551040011
ABSTRAK
ISMAWAN TALLO. Perbedaan Jenis dan Kedalaman Pemasangan Atraktor Terhadap Penempelan Telur Cumi-cumi. Dibimbing oleh Mulyono S. Baskoro dan Sulaeman Martasuganda.
Cumi-cumi merupakan salah satu sumber daya hayati laut yang bernilai ekonomis tinggi. Musim penangkapan cumi-cumi yang paling intensif terjadi pada musim pemijahan dimana pada musim ini cumi-cumi yang tertangkap pada umumnya telah matang gonad. Aktivitas penangkapan seperti ini akan menyebabkan penurunan jumlah cumi-cumi di alam. Teknologi budidaya laut seperti pemijahan diperlukan untuk menyeimbangkan aktivitas penangkapan dan pengkayaan stok cumi-cumi di alam. Ketersediaan telur-telur cumi-cumi secara berkesinambungan merupakan salah satu faktor pendukung upaya pengkayaan stok cumi-cumi di alam. Telur cumi-cumi dapat dikumpulkan dari alam dengan bantuan atraktor cumi-cumi. Aktivitas mengumpulkan telur-cumi-cumi dari alam dengan bantuan atraktor dapat menjadi mata pencaharian alternatif atau aktivitas tambahan bagi para nelayan. Berdasarkan hal ini maka diperlukan penelitian tentang jenis dan kedalaman pemasangan atraktor terhadap penempelan telur cumi-cumi. Penelitian ini telah dilakukan di Teluk Mutiara Kabupaten Alor Propinsi NTT selama empat bulan yaitu dari tanggal 17 Agustus 2005 hingga 18 Desember 2005. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh jenis atraktor terhadap penempelan telur cumi-cumi, mengkaji pengaruh kedalaman pemasangan atraktor terhadap penempelan telur cumi- cumi, menentukan waktu penempelan telur cumi-cumi pada atraktor, dan mengetahui waktu penetasan telur cumi-cumi. Atraktor terbuat dari bahan-bahan lokal seperti bambu dan serat ijuk. Percobaan menggunakan dua jenis atraktor dan dipasang pada tiga tingkat kedalaman perairan. Jenis-jenis atraktor adalah atraktor bertutup karung goni dan atraktor tidak tertutup karung goni. Kedalaman pemasangan atraktor adalah pada bagian permukaan (kedalaman 0 – 1meter), tengah (kedalaman 2 – 3 meter) dan di dasar perairan (kedalaman 4 – 5 meter). Data dianalisis dengan uji rata-rata (uji-t). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa telur cumi-cumi hanya menempel telurnya pada jenis atraktor berpenutup karung goni. Telur cumi-cumi menempel pada atraktor tersebut di dasar perairan pada kedalaman 4 - 5 meter. Telur cumi-cumi menempel di atraktor terjadi pada malam hari. Telur cumi-cumi menetas pada hari ke 28 hingga hari ke 30.
ABSTRACT
ISMAWAN TALLO. The difference of Type and Water Depth of Attractor Setting on Squid Egg Attachment. Under the direction of Mulyono S. Baskoro and Sulaeman Martasuganda
Squid represent marine resources that involves high economic value. Most intensive squid fishing season occurred at the spawning season where in this season most of squid has matured gonad. This activity make degradate squid amount in nature. Marine culture technology like breeding or hatchery need to balance squid fishing activity and to enhance stock of squid in nature. The hatchery needs squid egg supplied continuously. Attractor can be used to collect squid egg from nature. The squid egg collecting activity from nature can become additional activity or alternative job for fisherman. Based on this case, research was conducted on types and water depth differences of attractor setting on squid egg attachment. The research has been conducted in Mutiara Bay, Alor Regency, NTT Province for four months from 17 August 2005 to 18 December 2005. Aim of this research was to find out the effect of type and water depth differences of attractor setting on squid egg attachment and to determine what type and depth of attractor setting that suitable for squid lays their egg. Attractor was made from local materials like bamboo and palm tree fiber. The treatment design of this research used two types of attractors and three levels of water depth. The type of attractors were covered by goony sack and uncovered by goony sack. Setting difference of attractors were placed in surface (0-1 m), middle (2-3 m) and bottom (4-5 m) of coastal waters. Data was analysed by average test (t-test). The result of this research show that squids attach their eggs on the covered attractor by goony sack that placed in the bottom of coastal waters at 4 -5 m. The eggs hatched in 28 to 30 days.
PERBEDAAN JENIS DAN KEDALAMAN PEMASANGAN
ATRAKTOR TERHADAP PENEMPELAN TELUR CUMI-CUMI
ISMAWAN TALLO
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Teknologi Kelautan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2006
Judul Tesis : Perbedaan Jenis dan Kedalaman Pemasangan Atraktor Terhadap Penempelan Telur Cumi-cumi
Nama : Ismawan Tallo NRP : C551040011 Program studi : Teknologi Kelautan
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro, M.Sc Dr. Sulaeman Martasuganda, B.fish.Sc, M.Sc Ketua Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Teknologi Dekan Sekolah Pascasarjana IPB Kelautan
Prof. Dr. Ir. John Haluan, M.Sc Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS
©
Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, Tahun 2006
Hak cipta dilindungi
Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam Bentuk apapun, baik cetak, fotocopi, microfilm, dan sebagainya
P R A K A T A
Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena berkat limpahan kasih, kesempatan dan kesehatan yang diberikan-Nya maka penulisan tesis ini dapat diselesaikan. Tesis ini dibuat sebagai suatu syarat dalam rangka penyelesaian studi Program Magister pada Program Studi Teknologi Kelautan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Dalam penyelesaian tulisan ini, penulis telah banyak mendapatkan arahan serta perbaikan dari komisi pembimbing, dan bantuan baik moril maupun materil dari banyak pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang dalam kepada :
(1) Bapak Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro, M.Sc dan Bapak Dr. Sulaeman Martasuganda, B.fish.sc M.Sc, yang telah mendidik dan membimbing penulis hingga penyelesaian tulisan ini
(2) Bapak Prof. Dr. Ir John Haluan, M.Sc dan Bapak Prof. Dr. Ir. Daniel R. Monintja, M.Sc serta semua Dosen Sekolah Pascasarjana Program Studi Teknologi Kelautan Institut Pertanian Bogor yang telah mengajar dan mendidik penulis
(3) Bapak Prof. Dr. Ir. Dr. Khairil A. Notodiputro, MS, sebagai Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
(4) Bapak Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta yang telah memberikan dukungan moril dan materil kepada penulis
(5) Ayah, Ibu, Kakak Aba, Kakak Boys, Adik Satri, Adik Mat Koho, Adik Lin dan Adik Juwita yang selalu memberikan dorongan kepada penulis
(6) Paman Hasym, Paman Mar, Kakak Man dan Kakak Jani yang telah membantu penulis
(7) Pimpinan dan staf LEPP-M3/KSU LEPP Mitra Mina yang telah mendukung dan membantu penulis
(8) Istriku tercinta Ade serta kedua anakku Arif dan Nining yang senantiasa memberikan semangat untuk menyelesaikan penelitian dan studi ini
(9) Semua teman-temanku di Kupang terutama Priyo Santoso, S.Pi, Ir. Sunadji, MP, Ir. Jotham S.R Ninef, M.Sc dan Gasper Enga, SE yang telah
banyak membantu
(10) Rekan-rekan mahasiswa Program Studi TKL S.Ps IPB (Pak Yahyah, Pak Alfa, Pak Jamal, Ibu Nusa, Ibu Fonny, Ibu Desy, Pak Chua, Pak Wesley, Ibu Rina, Ibu Lisa, Nia, Hasan, Irham, Jabal, Yanti dan Devy serta kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah ikut mendukung tulisan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tesis ini, masih ditemukan banyak kekurangan yang membutuhkan perbaikan. Oleh karena itu semua saran dan kritik yang bertujuan memperbaiki dan menyempurnakan tulisan ini akan diterima dengan senang hati.
Bogor, September 2006
DAFTAR ISI
Halaman DAFTAR TABEL ……….. DAFTAR GAMBAR ………. DAFTAR LAMPIRAN ………. viii ix x 1 PENDAHULUAN ……… 1.1 Latar Belakang ……….…….. 1.2 Perumusan Masalah …..……… 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ………...………… 1.4 Hipotesis ……… 1 1 2 4 4 2 TINJAUAN PUSTAKA ………...……..……… 2.1 Klasifikasi Cumi-cumi……….………... 2.2 Reproduksi dan Siklus Hidup Cumi-cumi ……….……… 2.3 Makanan Cumi-cumi ………...………... 2.4 Distribusi dan Habitat Cumi-cumi ………. 2.5 Atraktor Cumi-cumi ………... 2.6 Kapsul Telur Cumi-cumi ... 2.7 Inkubasi dan Penetasan Telur Cumi-cumi ...6 6 8 9 9 11 12 13 3 METODOLOGI PENELITIAN ……..…………...………...……… 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ……… 3.2 Bahan dan Alat Penelitian ………..……… 3.2.1 Bahan ... 3.2.2 Alat ... 3.3 Prosedur Kerja ... ………. 3.3.1 Pembuatan atraktor ...……….………. 3.3.2 Pembuatan keramba apung ... 3.3.3 Survey lokasi ... 3.3.4 Pemasangan atraktor ... 3.4 Pengumpulan data ………... 3.4.1 Pengamatan telur cumi-cumi pada atraktor ... 3.4.2 Penetasan telur cumi-cumi ... 3.4.3 Pengukuran parameter oseanografi ... 3.5 Analisis Data ……… 14 14 15 15 15 16 16 18 18 20 21 21 22 22 22
4 HASIL DAN PEMBAHASAN ……….……… 4.1 Keadaan Umum Teluk Mutiara ……… 4.2 Parameter Oseanografi ……… 4.3 Penempelan Telur Cumi-cumi pada Atraktor ...
24
24 25 28 4.4 Waktu Penempelan Telur ……….
4.5 Waktu Penetasan Telur Cumi-cumi ………..
32 33
5 KESIMPULAN DAN SARAN ………
5.1 Kesimpulan ……… 5.2 Saran ……….. 37 37 37 DAFTAR PUSTAKA ……… LAMPIRAN……… GLOSARIUM……….. 38 42 47
DAFTAR TABEL
Halaman 1 2 3 4Bentuk rancangan percobaan ……….………...
Parameter oseanografi di lokasi penelitian ...………...
Perbedaan parameter oseanografi di lokasi penelitian ...
Jumlah telur pada setiap jenis dan kedalaman pemasangan atraktor ... 21
26
26
DAFTAR GAMBAR
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18Skema pendekatan dan pemecahan masalah ……….
Anatomi cumi-cumi Loligo sp (Hegner and Engemann 1989) …..….. Organ genital cumi-cumi (Nateewathana 1997) ...
Peta penyebaran cumi-cumi di Indonesia (Ditjen Perikanan
DEPTAN 1987) ………..
Telur cumi-cumi ...
Peta lokasi penelitian ………....
Atraktor cumi – cumi tipe terbuka...………...
Atraktor cumi – cumi tipe tertutup...….……
Tahapan proses penelitian mengenai pemasangan atraktor …….……
Bentuk pemasangan atraktor cumi-cumi dengan sistem long line….... Teluk Mutiara Kabupaten Alor ...
Nilai parameter osanografi di lokasi penelitian pada saat pagi,
siang dan malam hari ...
Jumlah rata-rata telur pada masing-masing jenis dan kedalaman pemasangan atraktor ...
Persentase penempelan telur cumi-cumi pada atraktor
selama waktu penelitian ...
Pengangkatan atraktor cumi-cumi ...
Cara penetasan telur cumi-cumi di dalam keramba jaring apung ...
Perbedaan warna telur cumi-cumi awal dan mendekati waktu
menetas ...
Cumi-cumi hasil penetasan di dalam keramba jaring apung ...
3 7 8 10 12 14 16 17 19 20 24 27 29 31 32 34 35 36
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1 2 3 4 5 6Foto bentuk keramba pemeliharaan cumi-cumi ……….
Foto pengangkutan atraktor dengan perahu ...………
Foto pengukuran parameter oseanografi ……....………
Data parameter oseanografi setiap minggu selama penelitian ...
Uji rata-rata dengan uji-t ...
Foto telur cumi-cumi menempel pada atraktor tipe tertutup ... 42 43 44 45 46 47
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kadelang Kalabahi Timur Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 15 Juli 1970. Penulis merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara dari Ayah Klaping Tallo dan Ibu Kulsum T. Sallo.
Penulis lulus Sekolah Dasar Islam Cokroaminoto Kadelang tahun 1984 dan masuk SMP Negeri Molla. Pada tahun 1987 penulis lulus dari SMP Negeri Molla dan masuk SMA Negeri Kalabahi. Tahun 1990 Penulis lulus dari SMA Negeri Kalabahi. Pada Tahun 1991 lulus seleksi masuk Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi Manado melalui Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Penulis memilih Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. Penulis lulus dari Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi Manado pada tahun 1995 dan mendapat gelar Sarjana Perikanan.
Pada tahun 2004 penulis masuk Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Program Magister (S2), Program Studi Teknologi Kelautan. Sejak Tahun 1996 hingga sekarang penulis bekerja sebagai staf pengajar tetap pada Jurusan Perikanan dan Kelautan Universitas Nusa Cendana Kupang.
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cumi-cumi merupakan salah satu sumberdaya hayati laut bernilai ekonomis tinggi karena memiliki daging yang gurih dan lezat, hampir 80 % bagian tubuhnya merupakan bagian yang dapat dimakan (edible portion) yaitu 50 % mantel, 30 % lengan dan tentakel. Konsumen cumi-cumi terbesar adalah Jepang, Spanyol, Italia, dan Korea (Sudjoko 1988). Tahun-tahun terakhir ini, sangatlah dirasakan adanya peningkatan permintaan dan kebutuhan akan cumi-cumi dan kerabatnya dari beberapa negara seperti Jepang, Hongkong, Perancis, Jerman Barat maupun