• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Kesimpulan

tersebut adalah pertama, sebagian besar siswa kelas VII dan VIII SMP

Taman Dewasa Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2010/2011 memiliki

persepsi yang cukup tentang pelaksanaan layanan konseling individual.

Kedua, sebagian besar item siswa kelas VII dan kelas VIII tentang

pelaksanaan layanan konseling individual terindikasi kategori sedang.

3. Huminata Eka Widya Sulistyowati (2013) berjudul Persepsi Siswa

dalam Melaksanakan Tugas Perkembangan dan Implikasinya Terhadap

Usulan Topik-Topik Bimbingan Klasikal. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa 32 siswa (14%) berpendapat bahwa sangat berhasil dalam

melaksanakan tugas perkembangannya, 129 siswa (56%) berpendapat

bahwa berhasil dalam melaksanakan tugas perkembangannya, 63 siswa

(28%) berpendapat bahwa cukup berhasil dalam melaksanakan tugas

perkembangannya, 6 siswa (3%) berpendapat bahwa kurang berhasil

dalam melaksanakan tugas perkembangannya, dan 1 siswa (0,4%)

berpendapat bahwa tidak berhasil dalam melaksanakan tugas

perkembangannya.

4. Budi Tri Utami (2012) tentang Persepsi Siswa Terhadap Pelaksanaan

Proses Pembelajaran di SMP Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, tidak ada perbedaan

persepsi siswa terhadap pelaksanaan proses pembelajaran di SMP RSBI

ditinjau dari jenis kelamin. Kedua, tidak ada perbedaan persepsi siswa

terhadap pelaksanaan proses pembelajaran di SMP RSBI ditinjau dari

pekerjaan orang tua. Ketiga, tidak ada perbedaan persepsi siswa terhadap

pelaksanaan proses pembelajaran di SMP RSBI ditinjau dari tingkat

pendidikan orang tua.

5. Disertasi Vicki Carpenter Kirk (2003) tentang Investigation of the

Impact of Integrated Learning System Use on Mathematics Achievement

of Elementary Students. East Tennessee State University menghasilkan

kesimpulan bahwa penggunaan model pembelajaran terpadu dapat

dampak. Dampak negatifnya ketika model tersebut diterapkan secara

tidak maksimal atau penggunaan keseluruhannya rendah. Tidak adanya

dampak, dapat ditemukan dalam beberapa hal. Hal ini dapat dilihat

bahwa tidak adanya dampak yang berbeda terhadap perbedaan jenis

kelamin maupun perbedaan kemampuan kelas. Dampak positif model

pembelajaran terpadu, pada penggunaan konsep dan keterampilan

matematika.

Secara keseluruhan, ada dua hal yang dapat diambil dari penelitian

yang relevan, yakni adanya persepsi dan proses pembelajaran terpadu.

Peneliti berusaha mengaitkan kedua hal tersebut dengan melihat persepsi

dari siswa, guru dan kepala sekolah.

Penelitian ini berjudul Persepsi Siswa, Guru dan Kepala Sekolah

Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu. Penelitian lainnya

menggunakan subjek pada tingkatan sekolah menengah, sedangkan

penelitian ini menggunakan subjek pada tingkatan sekolah dasar. Selain

itu, subjek yang digunakan tidak hanya siswa, namun juga guru dan

C. Skema

Priscilla Van Rossum (2013) berjudul Persepsi Siswa Tentang Kemampuan Manajemen Waktu Belajar

Vicki Carpenter Kirk (2003), Investigation of the Impact of Integrated Learning System Use on Mathematics Achievement of Elementary Students.

1. Margaretha Hesti Hamdayani (2012) berjudul Persepsi Siswa Tentang Pelaksanaan Layanan Konseling Individual Kelas VII dan Kelas VIII di SMP Taman Dewasa Jetis Yogyakarta.

Pembelajaran Terpadu Persepsi

Persepsi Siswa, Guru, dan Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA

Terpadu Huminata Eka Widya

Sulistyowati (2013) berjudul Persepsi Siswa Kelas VIII SMP Stella Duce 1 Yogyakarta Mengenai Keberhasilannya dalam Melaksanakan Tugas Perkembangan dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-Topik Bimbingan Klasikal.

Budi Tri Utami (2012) tentang Persepsi Siswa Terhadap Pelaksanaan Proses

Pembelajaran di SMP Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.

D. Kerangka Berpikir

Pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Dalam pendidikan,

terdapat unsur pembelajaran yang membangun. Untuk mencapai pembelajaran

yang baik maka diperlukan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan

menggunakan model pembelajaran. Namun terkadang model pembelajaran

tersebut kurang sesuai dengan perkembangan anak.

Salah satu model pembelajaran yang mendasarkan pada proses

perkembangan anak adalah model pembelajaran terpadu. Berkaitan dengan

pembelajaran terpadu maka peneliti akan melakukan penelitian mengenai

pembelajaran IPA terpadu di kelas IV SD.

SD Kanisius Kadirojo merupakan sekolah yang telah menerapkan

pembelajaran terpadu. Penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi terhadap

pelaksanaan model pembelajaran terpadu. Evaluasi tersebut dapat dilihat dari

persepsi siswa, guru dan kepala sekolah. Dengan demikian, peneliti ingin

melakukan penelitian tentang persepsi penerapan pembelajaran IPA terpadu.

E. Hipotesis

Hipotesis ini merupakan jawaban sementara peneliti dan tidak diuji sebelumnya.

1. Persepsi siswa kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan

pembelajaranIPA terpadu adalah positif.

2. Persepsi guru kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan

pembelajaranIPA terpadu adalah positif.

3. Persepsi kepala SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaranIPA

29

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan

metode survei. Survei adalah suatu kegiatan penelitian yang meneliti status

kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran atau suatu

kelas peristiwa pada masa sekarang yang bertujuan untuk membuat deskripsi,

gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai

faktor-faktor, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diteliti (Nazir, 2009: 63).

Penelitian survei mempunyai tujuan untuk memperoleh gambaran

tentang karakteristik dari satu fenomena tertentu dari keadaan sekarang dan atas

dasar itu dapat ditarik kesimpulan tentang fenomena tersebut.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu pelaksanaan penelitian dimulai pada tanggal 2 - 16 November

2013. Penelitian ini dilakukan di SD Kanisius Kadirojo yang beralamatkan di

Kadirojo, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

C. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas 4, guru IPA kelas 4 dan juga

kepala sekolah. Kepala Sekolah, sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap

sekolah yang dijadikan objek penelitian. Guru, sebagai orang yang menerapkan

pembelajaran terpadu. Adapun objek penelitian ini adalah persepsi mengenai

penerapan pembelajaran IPA terpadu kelas IV.

D. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini adalah suatu sifat aspek dari orang maupun objek

yang menjadi variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari serta

ditarik kesimpulan (Sugiono, 2010: 60). Variabel dalam penelitian ini bersifat

tunggal yaitu persepsi siswa, guru dan kepala sekolah mengenai penerapan

pembelajaran IPA terpadu. Dasar yang digunakan untuk mengetahui persepsi

tersebut adalah sesuai dengan dimensi penerapan pembelajaran IPA terpadu. Sub

variabel tersebut kemudian dijabarkan menjadi indikator-indikator yang nantinya

digunakan sebagai pertanyaan dalam kuesioner. Untuk mengembangkan

instrumen perlu dibuat kisi-kisi sebagai berikut:

Tabel 1 Kisi-kisi Kuesioner untuk Siswa

No Aspek Positif Negatif

1 Penerimaan 11 6 2 Evaluasi 9, 12 3, 20 3 Kesiapan 1, 14 16, 18 4 Motivasi 8 2 5 Keaktifan 4 10 6 Pembelajaran 7, 15, 19 5, 13, 17

Tabel 2 Kisi-kisi Kuesioner untuk Guru

No Aspek Positif Negatif

1 Penerimaan 4 6 2 Evaluasi 20 14 3 Keterampilan 2 8 4 Perencanaan 1, 5, 19 3, 10, 17 5 Pelaksanaan 7, 13 9, 16, 18 6 Penilaian 11 12, 15

Tabel 3 Kisi-kisi Kuesioner untuk Kepala Sekolah

No Aspek Positif Negatif 1 Penerimaan 2, 10 4, 12

2 Evaluasi 7 20

3 Perencanaan 1, 8, 14 6, 16, 18 4 Pelaksanaan 3, 5, 13, 15, 19 9, 11, 17

E. Teknik Pengumpulan Data

Berdasarkan jenis penelitian kuantitatif survei, maka peneliti

menggunakan metode pengumpulan data kuesioner. Kuesioner merupakan

sejumlah pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari

responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui.

Berdasarkan bentuknya, maka ada 4 bentuk kuesioner, yakni kuesioner pilihan

ganda, kuesioner isian, check list, dan rating-scale (skala bertingkat). Penelitian

ini menggunakan kuesioner berbentuk rating-scale (skala bertingkat). Kuesioner

berbentuk rating-scale (skala bertingkat) adalah sebuah pernyataan diikuti oleh

Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah siswa kelas IV, guru IPA,

dan kepala sekolah.

F. Sumber Data Penelitian

Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat

diperoleh (Arikunto, 2010: 172). Penelitian ini menggunakan kuesioner dalam

pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang

merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti. Responden dari

penelitian ini adalah siswa kelas IV, guru IPA, dan kepala SD Kanisius Kadirojo.

Sehubungan dengan wilayah sumber data yang dijadikan subjek penelitian, maka

dikenal 3 jenis penelitian, yakni penelitian populasi, penelitian sampel, dan

penelitian kasus (Arikunto, 2010: 173).

Penelitian ini termasuk penelitian kasus. Penelitian kasus adalah suatu

penelitian yang dilakukan secara intensif terinci dan mendalam terhadap suatu

organisasi, lembaga atau gejala tertentu. Ditinjau dari wilayahnya, maka

penelitian kasus hanya meliputi daerah atau subjek yang sangat sempit.

Kesimpulan yang diambil ini hanya berlaku di tempat penelitian. Sehingga

kesimpulan dari penelitian ini hanya berlaku di SD Kanisius Kadirojo.

G. Instrumen Penelitian

Instumen dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner yang

digunakan adalah kuesioner yang berbentuk skala bertingkat dari 1-4 dengan

ketentuan sangat setuju, setuju, sangat tidak setuju, dan tidak setuju.

Kuesioner berbentuk skala bertingkat adalah sebuah pernyataan diikuti

H. Teknik Pengujian Instrumen

1. Uji Validitas

Suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen yang digunakan tersebut

dapat mengukur apa yang hendak diukur (Arikunto, 2010: 211).

a. Uji Validitas Isi (Content Validity)

Validitas isi yaitu derajat dimana sebuah tes evaluasi mengukur

cakupan substansi yang ingin diukur. Pengujian validitas isi dapat

dilakukan dengan membandingkan antara indikator-indikator dengan

item-item pernyataan dalam kuesioner.

b. Uji Validitas Konstruk (Construct Validity)

Validitas konstruk merupakan derajat yang menunjukkan suatu tes

mengukur sebuah konstruk sementara atau hypotetical construct.

Untuk menguji validitas konstruk, dapat digunakan pendapat dari ahli

(judgment experts). Dalam penelitian ini, setelah instrumen

dikonstruksi tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan

berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan

ahli. Ahli diminta pendapatnya tentang istrumen yang telah disusun.

Ahli dalam pengujian instrumen ini adalah Drs. Adimassana, M.A.

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa suatu instrumen

cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data

karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan

Reliabilitas menunjukpada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabel artinya

dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan (Arikunto, 2010: 221).

Dalam penelitian ini tidak ada uji reliabilitas dikarenakan validitas

yang dilakukan adalah validitas pada expert judgement.

I. Teknik Analisis Data

Langkah-langkah analisis data (Arikunto, 2002: 209) ialah :

a. Persiapan. Langkah persiapan dilakukan untuk mengecek identitas

responden, pengecekan kelengkapan pengisian dan pengecekan lain

yang bertujuan supaya data yang dikumpulkan dapat maksimal.

b. Tabulasi. Dalam tabulasi ini adalah kegiatan mengelompokkan data ke

dalam tabel frekuensi untuk mempermudah dalam menganalisa.

Kegiatan tabulasi cording dan scoring. Cording adalah memberi kode

pada setiap data. Scoring adalah pemberian skor pada jawaban

responden untuk memperoleh data kuantitatif dalam penelitian ini

untuk penentuan skor, penelitian menggunakan skala Likert. Ada 4

alternatif jawaban yang diberi tanda () yaitu sangat setuju, setuju, sangat tidak setuju, tidak setuju. Bobot yang diberikan untuk alternatif

jawaban adalah:

1. Pernyataan positif

Sangat Setuju (SS) : 4

Setuju (S) : 3

Tidak Setuju (TS) : 2

2. Pernyataan negatif

Sangat Setuju (SS) : 1

Setuju (S) : 2

Tidak Setuju (TS) : 3

Sangat Tidak Setuju (STS) : 4

c. Penerapan data disesuaikan dengan pendekatan penelitian

Alat analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

mencari mean dari skor kuesioner yang diperoleh. Mean digunakan

untuk mengetahui atau menghitung nilai rata-rata. Pengitungan mean

tersebut ditentukan dengan cara mengombinasikan bobot nilai tiap

jawaban responden tersebut. Berdasarkan nilai maksimum dan nilai

minimum, dapat diketahui persepsi responden. Ada 4 kategori persepsi

responden yakni sangat negatif, negatif, positif, dan sangat positif.

Rumus mean (Arikunto, 2005: 284) adalah sebagai berikut:

∑X 1. X =

N Keterangan:

X = Rata-rata hitung

∑X = Jumlah semua nilai kuesioner N = Jumlah responden

Total Rata-rata hitung 2. Grand Mean (X) =

Jumlah pertanyaan

Langkah selanjutnya data dijabarkan dalam bentuk kalimat

Gambar 1 Diagram tahap analisis data

J. Jadwal Penelitian

No Tahap Waktu Kegiatan

1

Pembuatan

Proposal

Penelitian

23 September Revisi Bab I

27 September Revisi Bab II

3 Oktober Revisi Bab III

7 Oktober Revisi dan Validasi Instrumen

25-31 Oktober Pengurusan Ijin Penelitian

2 Penelitian November Penyebaran kuesioner

3

Penulisan Hasil

Penelitian

Januari-April Penulisan Bab IV

Mei-Juni Penulisan Bab V Persiapan

Tabulasi

Penerapan data disesuaikan dengan

37

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan di SD Kanisius Kadirojo yang beralamat di Kadirojo,

Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada

tanggal 2-16 November 2013 tahun ajaran 2013/2014. Subjek penelitian ini adalah

kepala sekolah, guru, dan siswa. Objek dari penelitian ini adalah persepsi

mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu kelas 4 SD.

Berdasarkan hasil kuesioner yang dikembalikan maka selanjutnya akan

diolah dengan cara memberi nomor 1 sampai 29 sesuai jumlah responden.

Kemudian peneliti memberi skor jawaban responden pada masing-masing butir

pernyataan. Lalu kuesioner diolah dengan cara memasukkan jawaban responden

ke dalam tabulasi data yang telah disiapkan. Ada 4 alternatif jawaban yang diberi

tanda () yaitu sangat setuju, setuju, sangat tidak setuju, tidak setuju. Apabila pernyataan positif, jawaban responden Sangat Setuju (SS) skor 4, Setuju (S) skor

3, Tidak Setuju (TS) skor 2, Sangat Tidak Setuju (STS) skor 1. Sebaliknya jika

pernyataan negatif, jawaban responden Sangat Setuju (SS) skor 1, Setuju (S) skor

2, Tidak Setuju (TS) skor 3, Sangat Tidak Setuju (STS) skor 4.

Alat analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan mencari

mean dari skor kuesioner yang diperoleh. Mean digunakan untuk mengetahui atau

menghitung nilai rata-rata. Pengitungan mean tersebut ditentukan dengan cara

maksimum dan nilai minimum, dapat diketahui persepsi responden. Menurut

Arikunto (2005:284) rumus mean adalah sebagai berikut:

∑X X =

N Keterangan:

X = Rata-rata hitung

∑X = Jumlah semua nilai kuesioner N = Jumlah responden

Total Rata-rata hitung Grand Mean (X) =

Jumlah pertanyaan

Dari ketiga subjek penelitian maka peneliti membuat rata-rata keseluruhan.

Tabel 4 Rata-Rata Keseluruhan

No Subjek Jumlah skor kuesioner Total Rata-Rata Keseluruhan Grand Mean 1 Siswa 1978 2112 68,12 3,406 2 Guru 68 3 Kepala Sekolah 66 B. Pembahasan

Peneliti membagi persepsi responden menjadi 4 kategori, yakni persepsi

sangat negatif, negatif, positif, dan sangat positif. Hal itu dapat terlihat pada

Garis bilangan kategori persepsi responden ini terbagi menjadi 4 bagian.

Nilai tengahnya adalah rata-rata keseluruhan. Lalu masing-masing bagian

dibagi lagi menjadi 2 bagian sama besar. Persepsi sangat negatif jika grand

mean 0 sampai 1,7. Persepsi negatif jika grand mean 1,78 sampai 3,4. Persepsi

positif jika grand mean 3,45 sampai 3,7. Persepsi sangat positif jika grand

mean 3,78 sampai 4. Pemilihan kategori persepsi ini berdasarkan grand mean.

Garis bilangan persepsi responden ditunjukkan seperti gambar berikut.

0 1,7 3,4 3,7 4

Sangat negatif Negatif Positif Sangat Positif

Gambar 2 Garis bilangan persepsi responden

1. Persepsi Siswa Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu

Tabel 5Persepsi Siswa Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu

Pernyataan Positif No No Item Pernyataan 1 4 7 8 9 11 12 14 15 19 1 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 32 2 3 4 3 4 4 4 4 4 3 4 37 3 3 4 3 4 3 2 2 4 4 4 33 4 4 4 4 4 4 4 1 3 3 2 33 5 3 4 3 4 4 3 3 4 4 3 35 6 3 3 4 4 3 4 3 4 3 3 34 7 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 36 8 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 32 9 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 37 10 3 4 4 4 4 3 3 3 4 3 35 11 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 31

No No Item Pernyataan 1 4 7 8 9 11 12 14 15 19 12 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 38 13 3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 33 14 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 39 15 4 4 3 3 3 4 3 4 3 2 33 16 3 1 3 3 3 4 3 4 3 3 30 17 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 32 18 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 39 19 4 4 3 4 3 4 3 4 3 1 33 20 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 39 21 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 37 22 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 32 23 3 4 3 4 4 4 3 4 3 3 35 24 4 4 3 4 3 4 4 3 4 2 35 25 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 36 26 4 4 4 2 4 3 3 4 1 1 30 27 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 35 28 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 31 29 3 4 3 3 1 4 4 3 1 4 30 ∑ 99 108 97 103 98 104 95 105 94 89

Tabel 6 Persepsi Siswa Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu

Pernyataan Negatif No No Item Pernyataan 2 3 5 6 10 13 16 17 18 20 1 4 3 2 3 3 3 3 2 3 3 29 2 4 2 1 4 1 4 4 3 4 4 31 3 4 4 3 4 1 2 3 3 2 3 29 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 39 5 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 38 6 4 4 3 3 3 3 4 3 3 4 34

No No Item Pernyataan 2 3 5 6 10 13 16 17 18 20 7 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 36 8 4 4 4 4 3 3 3 4 3 4 36 9 3 3 4 4 4 1 4 4 4 4 35 10 4 3 3 4 2 4 4 3 3 4 34 11 4 3 4 3 3 3 3 2 2 3 30 12 4 3 4 4 4 4 4 3 1 4 35 13 4 3 3 4 4 3 3 3 4 3 34 14 4 3 4 4 4 1 4 4 4 4 36 15 4 3 2 4 4 3 4 3 4 3 34 16 4 3 4 3 4 4 4 4 3 3 36 17 4 3 2 3 3 3 3 2 3 3 29 18 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 37 19 4 3 3 4 4 2 3 3 3 4 33 20 4 2 3 4 4 4 4 3 4 4 36 21 4 3 4 4 4 3 4 3 4 4 37 22 3 3 2 4 2 3 3 2 3 4 29 23 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 37 24 3 3 4 3 4 4 4 3 4 3 35 25 4 2 4 4 4 4 3 3 4 4 36 26 3 3 3 4 3 2 1 3 2 4 28 27 4 3 2 4 2 4 3 2 4 4 32 28 4 3 2 3 4 4 3 3 4 4 34 29 3 3 4 4 4 4 4 3 4 4 37 ∑ 111 88 92 108 98 95 102 88 98 106

Berdasarkan tabel 5 tersebut, terbatas pada pernyataan positif. Item yang

mendapat nilai terendah adalah no 19 dengan nilai 89. Item tersebut berkaitan

Terpadu. Sedangkan item yang mendapat nilai tertinggi adalah no 4 dengan nilai

108. Item tersebut berkaitan dengan keaktifan siswa.

Berdasarkan tabel 6 tersebut, terbatas pada pernyataan negatif. Item yang

mendapat nilai terendah adalah no 3 dan 17 dengan nilai 88. Item no 3 berkaitan

dengan evaluasi yakni tingkat kesulitan siswa dalam pelajaran IPA Terpadu. Item

no 17 berkaitan dengan pembelajaran mengenai kehadiran siswa ketika

pembelajaran IPA Terpadu. Sedangkan item yang mendapat nilai tertinggi adalah

no 6 dengan nilai 108. Item tersebut berkaitan dengan penerimaan.

Kedua tabel tersebut menunjukkan persepsi siswa mengenai penerapan

pembelajaran IPA Terpadu. Secara keseluruhan, dapat terlihat bahwa item yang

mendapat nilai terendah adalah no 3 dan no 17 dengan nilai 88. Pada no 3, ada 4

siswa menjawab sangat tidak setuju, 22 siswa menjawab tidak setuju, 3 siswa

menjawab setuju dan tidak ada siswa yang menjawab sangat setuju. Pada no 17,

ada 6 siswa menjawab sangat tidak setuju, 18 siswa menjawab tidak setuju, 5

siswa menjawab setuju dan tidak ada siswa yang menjawab sangat setuju. Item

tersebut berkaitan dengan tahap evaluasi dan tahap pembelajaran.

Sedangkan item yang mendapat nilai tertinggi adalah no 4 dan no 6 dengan

nilai 108. Pada no 4, ada 1 siswa menjawab sangat tidak setuju, tidak ada siswa

menjawab tidak setuju, 5 siswa menjawab setuju dan 23 siswa yang menjawab

sangat setuju. Pada no 6, tidak ada siswa menjawab sangat tidak setuju, tidak ada

siswa menjawab tidak setuju, 3 siswa menjawab setuju dan 21 siswa yang

Tabel 7 Persepsi Siswa Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu

No ∑ Skor Pernyataan Positif ∑ Skor Pernyataan

Negatif Total 1 32 29 61 2 37 31 68 3 33 29 62 4 33 39 72 5 35 38 73 6 34 34 68 7 36 36 72 8 32 36 68 9 37 35 72 10 35 34 69 11 31 30 61 12 38 35 73 13 33 34 67 14 39 36 75 15 33 34 67 16 30 36 66 17 32 29 61 18 39 37 76 19 33 33 66 20 39 36 75 21 37 37 74 22 32 29 61 23 35 37 72 24 35 35 70 25 36 36 72 26 30 28 58 27 35 32 67

No ∑ Skor Pernyataan Positif ∑ Skor Pernyataan

Negatif Total

28 31 34 65

29 30 37 67

Jumlah semua nilai kuesioner 1978

∑X X =

N Keterangan:

X = Rata-rata hitung

∑X = Jumlah semua nilai kuesioner N = Jumlah responden ∑X X = N = 1978 29 = 68,20

Total Rata-rata hitung Grand Mean (X) =

Jumlah pertanyaan

= 68,20 20

2. Persepsi Guru Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu

Tabel 8 Persepsi Guru Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Pernyataan Positif

No No Item Pernyataan

1 2 4 5 7 11 13 19 20

1 4 4 4 4 3 4 4 4 4 35

Tabel 9 Persepsi Guru Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Pernyataan Negatif

No No Item Pernyataan

3 6 8 9 10 12 14 15 16 17 18

1 4 2 3 3 3 3 3 3 4 1 4 33

Tabel 10 Persepsi Guru Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu

No ∑ Skor Pernyataan Positif ∑ Skor Pernyataan

Negatif Total

1 35 33 68

Berdasarkan tabel 8 tersebut, terbatas pada pernyataan positif. Item yang

mendapat nilai terendah adalah no 7 dengan nilai 3. Item tersebut berkaitan

dengan tahap pelaksanaan yakni mengenai pemilihan tema dalam pelajaran IPA

Terpadu. Sedangkan item yang mendapat nilai tertinggi hampir semua item.

Berdasarkan tabel 9 tersebut, terbatas pada pernyataan negatif. Item yang

mendapat nilai terendah adalah no 17 dengan nilai 1. Item tersebut berkaitan

dengan tahap perencanaan yakni mengenai penggunaan buku teks dalam pelajaran

IPA Terpadu. Sedangkan item yang mendapat nilai tertinggi adalah no 3, 16 dan

18. Pada no 3, berkaitan dengan perencanaan. Sedangkan no 16 dan 18 berkaitan

dengan pelaksanaan.

∑X X =

= 68 1

= 68

Total Rata-rata hitung Grand Mean (X) =

Jumlah pertanyaan

= 68 20

= 3,4

3. Persepsi Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA

Terpadu

Tabel 11 Persepsi Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu

Pernyataan Positif

No No Item Pernyataan

1 2 3 5 7 8 10 13 14 15 19

1 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 3 40

Tabel 12 Persepsi Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu

Pernyataan Negatif

No No Item Pernyataan

4 6 9 11 12 16 17 18 20

1 3 3 3 4 3 2 3 2 3 26

Tabel 13 Persepsi Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu

No ∑ Skor Pernyataan Positif ∑ Skor Pernyataan

Negatif Total

Berdasarkan tabel 11 tersebut, terbatas pada pernyataan positif. Item yang

mendapat skor 3 adalah no 2, no 13, no 15, dan no 19. Item tersebut berkaitan

dengan tahap penerimaan dan pelaksanaan. Sedangkan item yang mendapat skor 4

ada 16 item lainnya.

Berdasarkan tabel 12 tersebut, terbatas pada pernyataan negatif. Item yang

mendapat nilai terendah adalah no 16 dan 18 dengan nilai 2. Item tersebut

berkaitan dengan tahap perencanaan. Sedangkan item yang mendapat nilai

tertinggi adalah no 11. Pada no 11, berkaitan dengan pelaksanaan.

∑X X = N = 66 1 = 66

Total Rata-rata hitung Grand Mean (X) =

Jumlah pertanyaan

= 66 20 = 3,3

Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata setiap subjek dapat terlihat dari

Tabel 14 Rata-Rata Setiap Subjek

No Subjek Mean Keseluruhan Mean Keterangan

1 Siswa

3, 406

3,41 Positif

2 Guru 3,4 Positif

3 Kepala Sekolah 3,3 Negatif

Selain kuesioner, hal ini juga diperkuat dari hasil cross check dengan

beberapa siswa. Peneliti bertanya secara informal kepada siswa tersebut

mengenai pembelajaran IPA Terpadu. Mereka mengatakan bahwa dalam

pembelajaran IPA terpadu sering melakukan berbagai kegiatan di kelas maupun di

kebun sekolah. Peneliti juga melakukan cross check dengan guru. Peneliti

bertanya secara informal kepada guru mengenai pembelajaran IPA Terpadu. Guru

tersebut menjelaskan bahwa dalam kegiatan pembelajaran, siswa tidak hanya

menghafal namun juga memahami. Guru juga melakukan kegiatan proyek selama

1 semester. Biasanya kegiatan proyek ini dilakukan di kebun sekolah.

Selain siswa dan guru, peneliti juga melakukan cross check dengan kepala

sekolah. Peneliti bertanya secara informal kepada kepala sekolah mengenai

pembelajaran IPA Terpadu. Kepala sekolah menjelaskan bahwa awalnya SDK

Kadirojo merupakan sekolah adiwiyata kabupaten tahun 2010. Lalu sampai

tingkat provinsi, nasional, dan tahun 2013 merupakan sekolah adiwiyata mandiri

yang mempunyai 10 SD binaan. Hal itu tidak terlepas dari pembelajaran IPA

terpadu yang dilaksanakan di SDK Kadirojo. Pada tanggal 5 Juni 2013, Menteri

penghargaan kepada SDK Kadirojo sebagai sekolah peduli dan berbudaya

lingkungan.

Peneliti mengolah kuesioner yang telah diisi oleh responden. Dari

kuesioner tersebut, peneliti mencari grand mean dari setiap responden. Hasilnya

dapat terlihat dari tabel berikut.

Tabel 15 Grand Mean Setiap Responden

No Total Grand Mean

1 61 3,05 2 68 3,4 3 62 3,1 4 72 3,6 5 73 3,65 6 68 3,4 7 72 3,6 8 68 3,4 9 72 3,6 10 69 3,45 11 61 3,05 12 73 3,65 13 67 3,35 14 75 3,75 15 67 3,35 16 66 3,3 17 61 3,05 18 76 3,8 19 66 3,3 20 75 3,75 21 74 3,7 22 61 3,05 23 72 3,6 24 70 3,5 25 72 3,6 26 58 2,9 27 67 3,35 28 65 3,25 29 67 3,35

Berdasarkan tabel tersebut, maka ada 16 siswa yang memiliki rata-rata

dari 3,4. Peneliti mencoba memetakan aspek-aspek yang perlu menjadi perhatian

untuk ditingkatkan dan juga aspek-aspek yang sudah berjalan dengan baik.

Tabel 16 Aspek yang Perlu Ditingkatkan

No Subjek Aspek

1 Siswa Evaluasi dan Pembelajaran

2 Guru Perencanaan

3 Kepala Sekolah Perencanaan dan Pelaksanaan

Peneliti menggambarkan jawaban responden dalam bentuk diagram.

Aspek evaluasi dengan rumusan item saya merasa kesulitan menerima pelajaran

IPA Terpadu.

Diagram 1 Tanggapan Siswa Terhadap Aspek Evaluasi

Pandangan belajar menurut teori konstruktivisme adalah guru tidak

hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tapi

peserta didik harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri.

Ini berarti guru harus membantu dengan cara mengajar yang membuat

informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi peserta didik

untuk menerapkan sendiri ide-ide dan menggunakan sendiri strategi

Dokumen terkait