• Tidak ada hasil yang ditemukan

ACARA BAKTI SOSIAL

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut.

1. Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan penalaran statistis antara siswa yang mendapat pembelajaran kontekstual dan siswa yang mendapat pembelajaran konvensional. Peningkatan kemampuan penalaran statistis siswa yang mendapat pembelajaran kontekstual termasuk dalam kategori sedang, sedangkan peningkatan kemampuan penalaran statistis siswa yang mendapat pembelajaran konvensional termasuk dalam kategori rendah. 2. Peningkatan kemampuan penalaran statistis siswa pada kedua level sekolah

yang mendapat pembelajaran kontekstual lebih tinggi daripada peningkatan kemampuan penalaran statistis siswa yang mendapat pembelajaran konvensional. Tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan penalaran statistis siswa setelah mendapat pembelajaran kontekstual pada kedua level sekolah.

3. Peningkatan kemampuan penalaran statistis siswa pada ketiga kategori KAS yang mendapat pembelajaran kontekstual lebih tinggi daripada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional. Siswa dengan KAS tinggi mendapatkan peningkatan kemampuan penalaran statistis yang paling tinggi dibandingkan dengan siswa dengan KAS sedang ataupun rendah.

193

4. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan level sekolah terhadap peningkatan kemampuan penalaran statistis siswa. Perbedaan peningkatan kemampuan penalaran statistis disebabkan oleh perbedaan pendekatan pembelajaran yang digunakan, bukan karena perbedaan level sekolah.

5. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan KAS terhadap peningkatan kemampuan penalaran statistis siswa. Perbedaan peningkatan kemampuan penalaran statistis disebabkan oleh perbedaan pendekatan pembelajaran yang digunakan dan perbedaan KAS siswa.

6. Terdapat perbedaan peningkatan self-efficacy siswa antara yang mendapat pembelajaran kontekstual dan konvensional. Peningkatan self-efficacy siswa yang mendapat pembelajaran kontekstual ataupun konvensional termasuk dalam kategori sedang.

7. Peningkatan self-efficacy siswa pada kedua level sekolah yang mendapat pembelajaran kontekstual lebih tinggi daripada peningkatan self-efficacy siswa yang mendapat pembelajaran konvensional. Peningkatan self-efficacy siswa sekolah level rendah setelah mendapat pembelajaran kontekstual tidak berbeda dengan siswa sekolah level sedang.

8. Peningkatan self-efficacy siswa dengan KAS tinggi dan sedang yang mendapat pembelajaran kontekstual lebih tinggi daripada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional. Peningkatan self-efficacy siswa dengan KAS rendah yang mendapat pembelajaran kontekstual tidak berbeda dengan siswa yang mendapat pembelajaran konvensional.

194

9. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan level sekolah terhadap peningkatan self-efficacy siswa. Perbedaan peningkatan

self-efficacy disebabkan oleh perbedaan pendekatan pembelajaran yang digunakan, bukan karena perbedaan level sekolah.

10. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan KAS terhadap peningkatan self-efficacy siswa. Perbedaan peningkatan

self-efficacy disebabkan oleh perbedaan pendekatan pembelajaran yang

digunakan dan perbedaan KAS siswa.

B. Implikasi

Dari paparan kesimpulan di atas diketahui bahwa pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan penalaran statistis dan self-efficacy siswa Madrasah Aliyah. Peningkatan ini secara signifikan lebih tinggi daripada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional. Berikut ini dikemukakan beberapa implikasi dari kesimpulan tersebut.

1. Pembelajaran kontekstual dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pendekatan pembelajaran matematika pada siswa Madrasah Aliyah.

2. Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan pada level sekolah sedang dan level sekolah rendah dan pada ketiga kategori KAS (tinggi, sedang, dan rendah) untuk meningkatkan kemampuan penalaran statistis dan self-efficacy siswa Madrasah Aliyah.

3. Untuk meningkatkan kemampuan penalaran statistis, pembelajaran kontekstual tepat digunakan pada siswa Madrasah Aliyah baik pada sekolah

195

level sedang ataupun rendah. Selain itu, pembelajaran ini juga tepat digunakan pada siswa dengan KAS tinggi, sedang, ataupun rendah.

4. Pembelajaran kontekstual tepat digunakan untuk meningkatkan self-efficacy

siswa baik pada sekolah level sedang ataupun rendah. Selain itu, pembelajaran kontekstual lebih tepat digunakan untuk meningkatkan self-efficacy siswa dengan KAS tinggi dan sedang daripada siswa dengan KAS rendah.

5. Penerapan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan aktivitas siswa dan menciptakan suasana pembelajaran yang lebih kondusif. Hal ini terlihat ketika siswa berinteraksi dengan siswa lain selama pelaksanaan diskusi kelas, siswa belajar berkomunikasi, menyatakan pendapat dan menghargai pendapat siswa lain.

6. Pelaksanaan pembelajaran matematika yang menyajikan masalah kontekstual bernuansa islami ini menarik bagi siswa dan dapat meningkatkan kepekaan dan kecepatan siswa untuk memberikan tanggapan awal proses pemecahan masalah.

C. Rekomendasi

Berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, peneliti mengemukakan beberapa rekomendasi sebagai berikut.

1. Pembelajaran kontekstual hendaknya digunakan sebagai salah satu alternatif pendekatan pembelajaran matematika bagi guru untuk meningkatkan kemampuan penalaran statistis dan self-efficacy siswa Madrasah Aliyah.

196

2. Guru hendaknya dapat menyajikan masalah yang menarik serta menguasai proses pemecahannya. Hal tersebut dapat memudahkan guru untuk melakukan pembimbingan ketika siswa kurang memahami masalah dalam melaksanakan proses pemecahan masalah tersebut.

3. Penggunaan masalah atau situasi yang bernuansa islami dalam pembelajaran kontekstual tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penalaran statistis dan self-efficacy siswa Madrasah Aliyah, tetapi juga untuk memberikan pemahaman dan kesadaran kepada siswa tentang pengetahuan yang harus dipelajari selain pengetahuan agama. Oleh karena itu, dalam menggunakan pembelajaran kontekstual yang bernuansa islami, selain pengetahuan statistis, guru juga perlu memiliki pengetahuan yang cukup tentang masalah atau situasi islami yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan bernalar siswa.

4. Guru hendaknya dapat menyusun sendiri bahan ajar matematika dan merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa sehari-hari. Hal ini dapai diupayakan melalui penggunaan berbagai masalah atau situasi islami yang dekat dengan keseharian siswa untuk dijadikan masalah kontekstual yang menarik dalam pembelajaran matematika. Kegiatan ini dapat meningkatkan kompetensi guru untuk menjadi guru yang profesional. 5. Mengingat masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mencari contoh aplikasi materi statistika dalam kehidupan sehari-hari, guru hendaknya banyak memberikan masalah kontekstual yang dekat dengan

197

keseharian siswa, serta menggunakan alat bantu seperti kalkulator dan komputer untuk menghemat waktu dalam proses menyelesaikan masalah. 6. Dalam proses belajar mengajar, guru adalah salah satu faktor yang

mempengaruhi hasil belajar. Agar kemampuan penalaran statistis dan self-efficacy siswa dapat berkembang dengan baik, maka guru hendaknya senantiasa memperhatikan komponen-komponen yang harus dilaksanakan dalam pembelajaran kontekstual.

7. Peneliti selanjutnya hendaknya dapat mengembangkan penelitian ini pada siswa sekolah level tinggi dan pada siswa selain Madrasah Aliyah dengan mengutamakan penyusunan bahan ajar yang menggunakan permasalahan atau situasi yang sesuai dengan kondisi atau potensi di daerah tempat penelitian yang membutuhkan perhatian dan mewarnai kehidupan siswa sehari-hari.

Maria Ulpah, 2013

Peningkatan Kemampuan Penalaran Statistis dan Self-Efficacy Siswa Madrasah Aliyah Melalui Pembelajaran Kontekstual

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA

Arends, R.I. (2008). Learning to Teach, Belajar untuk Mengajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arikunto, S. (2005). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara.

---. (2007). Manajemen penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Armanto, D. (2001) Upaya Peningkatan Pembelajaran Matematika SD Melalui Pendidikan Matematika Realistik (PMR). Seminar Nasional Pendidikan Matematika di UNESA Surabaya.

Azwar, Saifudin. (2007). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bandura. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: W.H. Freeman and Company.

Benson, R. dan Samarawickrema, G. (2007). Teaching in Context: Some Implications for E-Learning Design. Proceedings ascilite Singapore.

Boediono dan Koster, W. (2004). Teori dan Aplikasi Statistika dan Probabilitas. Bandung: Remaja Rosdakarya

Bude, L. M. (2007). On The Improvement of Students’ Conceptual Understanding

in Statistics Education. Tersedia: http://www.stat.auckland.ac.nz/

~iase/publications/ [2 Juni 2010]

Chiesi, F. dan Primi, C. (2010). Learning Probability and Statistics: Cognitive and Non-Cognitive Factors Related to Psychology Students’ Achievement. Tersedia: http://www.stat.auckland.ac.nz/~iase/publications/icots8/ ICOTS8 _7C1_CHIESI.pdf [12 Januari 2011]

Corter, J. E. dan Zahner, D. C. (2007). Use of External Visual Representations in Probability Problem Solving. Statistics Educations Research Journal, 6(1), 22-50

Dahlan, Jarnawi A. (2004) Meningkatkan Kemampuan Penalaran dan Pemahaman Matematika Siswa Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SLTP) melalui Pendekatan Pembelajaran Open-Ended. Disertasi pada SPs UPI Bandung: Tidak diterbitkan

199

Maria Ulpah, 2013

Peningkatan Kemampuan Penalaran Statistis dan Self-Efficacy Siswa Madrasah Aliyah Melalui Pembelajaran Kontekstual

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dasari, D. (2009). Meningkatkan Kemampuan Penalaran Statistis Mahasiswa melalui Pembelajaran Model PACE. Disertasi pada SPs UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

delMas, R. (2002). Statistical Literacy, Reasoning, and Learning: A Commentary.

Journal of Statistics Education, 10(3).

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional RI. (2003). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdiknas.

Finney, S. J., & Schraw, G. (2003). Self-efficacy beliefs in college statistics courses. Contemporary Educational Psychology, 28, 161-186.

Gal, I. (2002). Adults’ Statistical Literacy: Meanings, Component, Responsibilities. Tersedia: www.stat.auckland.ac.nz/~iase/publications/ isr/02.Gal.pdf [15 Juni 2010]

Gal, I. dan Ginsburg, L. (1994). The Role of Self efficacys and Attitudes in Learning Statistics: Towards an Assesment Framework. Journal of Statistics Education, 2(2)

Gal, I., Ginsburg, L., & Schau, C. (1997). Monitoring Attitudes and Self efficacys in Statistics Education. In I. Gal & J. B. Garfield (Eds.), The assessment challenge in statisticseducation (pp 37-51). IOS Press.

Garfield, J. B. (2002). The Challenge of Developing Statistical Reasoning.

Journal of Statistics Education, 10(3).

---. (2003). Assessing Statistical Reasoning. Statistics Educations Research Journal, 2(1)

Garfield, J. B. dan Ahlgren, A. (1986). Difficulties in Learning Probability and Statistics. Tersedia: http://www.stat.auckland.ac.nz/~iase/publications/ icots2/Garfield.Ahlgren.pdf. [20 Februari 2010]

Garfield, J., dan Ben-Zvi, D. (2004). Statistical literacy, reasoning, and thinking: Goals,definitions, and challenges. In D. Ben-Zvi & J. Garfield (Eds.), The Challenge of Developing Statistical Literacy, Reasoning, and Thinking. The Netherlands: Kluwer Academic Publishers

--- (2007a). Helping Students Develop Statistical Reasoning: Implementing A Statistical Reasoning Learning environtment. Tersedia: http://www. causeweb.org/workshop/aims/Statistical Reasoning Learning Environment. pdf. [10 Januari 2010]

200

Maria Ulpah, 2013

Peningkatan Kemampuan Penalaran Statistis dan Self-Efficacy Siswa Madrasah Aliyah Melalui Pembelajaran Kontekstual

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

--- (2007b). How Students Learn Statistics Revisited: A Current Review of Research on Teaching and Learning Statistics. International Statistics Review, 75(3), 372-396.

--- (2008). Developing Students’ Statistical Reasoning: Connecting Research and Teaching Practice. New York: Springer

Ghinis, D., Korres, K., dan Bersimis. (2009). Difficulties Greek Senior High School Students Identify in Learning and The Teaching of Statistics: The Case of Experimental and Private High Schools. Journal of Statistics Educations, 17(3).

Hake, R. R. (1999). Analyzing Change/Gain Scores. Woodland Hills: Dept. of Physics, Indiana University. [Online]. Tersedia: http://www.physics. ndiana.du/~sdi/AnalyzingChange-Gain.pdf [10 Juni 2010].

Hall, S. dan Vance, E. A. (2010). Improving Self Efficacy in Statistics: Role of Self-Explanation & Feedback. Journal of Statistics Education, 18 (3). Hill, D. (2008). Similar but Different: The Complexities of Student’ Mathematical

Identities. [Online]. Tesis di Departement of Mathematics Education, Brigham Young University. Tersedia: http://contentdm.lib.byu.edu/ETD/ image/etd2304.pdf. [15 November 2009].

Hirsch, L. S. dan O’Donnell, A. M. (2001). Representativeness in Statistical Reasoning: Identifying and Assessing Misconceptions. Journal of Statistics Educations, 9(2).

Ibrahim, dkk. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA-University Press.

IMSTEP-JICA (1999). Permasalahan Pembelajaran Matematika SD, SLTP, dan

SMU di Kota Bandung: Bandung: FMIPA UPI.

Johnson, B. Elaine. (2007). Contextual Teaching & Learning Menjadikan

Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung: MLC

Kadir. (2010). Penerapan Pembelajaran Kontekstual Berbasis Potensi Pesisir sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik, Komunikasi Matematik, dan Keterampilan Sosial Siswa SMP. Disertasi Doktor pada PPs UPI Bandung: Tidak diterbitkan

Kaplan, J. J. (2006). Factors in Statistics Learning: Developing a Dispositional Attribution Model to Describe Differences in the Development of Statistical Proficiency. Tersedia: http://www.stat.auckland.ac.nz/~iase/publications/ dissertations/06.Kaplan.Dissertation.pdf [16 Maret 2010]

201

Maria Ulpah, 2013

Peningkatan Kemampuan Penalaran Statistis dan Self-Efficacy Siswa Madrasah Aliyah Melalui Pembelajaran Kontekstual

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Karli dan Yuliartiningsih. (2003). Model-model Pembelajaran. Bandung: Bina Media Informasi

Keraf, G. (1982). Argumen dan Narasi. Komposisi Lanjutan III. Jakarta: Gramedia

Koehler, J. J. (2007). Misconceptions about Statistics and Statistical Evidence. Tersedia: http://www.public.asu.edu/~jjkoehle/articles/2007_trial_ consulting_handbook.pdf [15 Juni 2010]

Komalasari, K. (2010). Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT Refika Aditama.

Lee, C., Zeleke, A., and Meletiou, M. (2003). A Study of Affective and Metacognitive Factors for Learning Statistics and Implications for Developing an Active Learning Environment. Tersedia: http://ciillibrary. org:8000/ciil/Fulltext/International_Journal_of_Educationa_Research/Articl e4.pdf. [11 Agustus 2010].

Leong, J. (2007). High School Students’ Attitudes and Self efficacys Regarding

Statistics in a Service-Learning-Based Statistics Course. Tersedia: http://digitalarchive.gsu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1011&context=msi t_diss. [18 Februari 2011]

Libman, Z. (2010). Integrating Real-Life Data Analysis in Teaching Descriptive Statistics: A Constructivist Approach. Journal of Statistics Education, 18(1). Linuwih, S. (1999). Peranan Berpikir secara Statistika di Masa Depan. Naskah Pidato Pengukuhan Guru Besar. Tersedia: http://digilib.its.ac.id/ pdfviewer/?id=13492&fn=76240. [17 Februari 2011]

Marnich, M. A. (2008). A Knowledge Structure for The Arithmetic Mean: Relationship between Statistical Conceptualizations and Mathematical Concepts. Tersedia: http://www.stat.auckland.ac.nz/~iase/publications/ dissertations/08.Marnich.Dissertation.pdf [10 Juni 2010]

McGregor, D. (2007). Developing Thinking Developing Learning. Poland: Open University Press

Moore, D. S. (1997). New Pedagogy and New Content: The Case of Statistics.

International Statistics Review, 65(2), 123-165

NCTM. (1989). Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics. [Online]. Tersedia: http://www.krellinst.org/AiS/textbook/manual/stand/ NCTME_stand.html. [5 Februari 2010]

Nurgiyantoro, Gunawan, dan Marzuki. (2000). Statistik Terapan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

202

Maria Ulpah, 2013

Peningkatan Kemampuan Penalaran Statistis dan Self-Efficacy Siswa Madrasah Aliyah Melalui Pembelajaran Kontekstual

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Perepiczka, M., Chandler, N., dan Becerra, M. (2011). Relationship between Graduate Students’ Statistics Self-Efficacy, Statistics Anxiety, Attitude toward Statistics, and Social Support. The Professional Counselor: Research and Practice, 1(2).

Pfannkuch, M. dan Rubick, A. (2002). An Exploration of Students’ Statistical Thinking with Given Data. Statistics Educations Research Journal, 1(2). Risnanosanti (2010). Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis dan Self-Efficacy

terhadap Matematika Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam Pembelajaran Inkuiri. Disertasi pada SPs UPI: Tidak Diterbitkan.

Roseth, C. J., Garfield, J. B. dan Ben-Zvi, D. (2008). Collaboration in Learning and Teaching Statistics. Journal of Statistics Educations, 16(1)

Ruseffendi, H. E. T. (2005). Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan & Bidang Non-Eksakta Lainnya. Bandung: Tarsito

Schunk, D. H. (2012). Learning Theories: An Educational Perspective. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sharma, S. (2006). Personal Experiences and Self efficacys in Probabilistic Reasoning: Implications for Research. International Electronic Journal of Mathematics Education, 1(1)

Shaughnessy, J.M. (1992). Research in Probability and Statistics: Reflections and Direction. Dalam D. A. Grouw (Ed.). Handbook of Research on

Mathematics Teaching and Learning. New York: Macmillan.

Sudijono, A. (2005). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sudjana. (1996). Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

Sugiman. (2008). Aspek Keyakinan Matematik Siswa dalam Pendidikan Matematika. Jurnal Matematika Integratif, Vol. 7, Edisi Khusus, Desember 2008. Bandung: UNPAD.

Suherman, E. (2003). Evaluasi Pengajaran Matematika. Bandung: UPI.

Sumarmo. U. 1987. Kemampuan Pemahaman dan Penalaran Matematika Siswa dikaitkan dengan Kemampuan Penalaran Logik Siswa dan Beberapa Unsur Proses Belajar Mengajar. Disertasi pada SPs UPI: tidak diterbitkan.

Suparno, P. 1996. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Suryanto. (2002). Penggunaan Masalah Kontekstual dalam Pembelajaran

203

Maria Ulpah, 2013

Peningkatan Kemampuan Penalaran Statistis dan Self-Efficacy Siswa Madrasah Aliyah Melalui Pembelajaran Kontekstual

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Tahmir, S.(2008). Model Pembelajaran RESIK Sebagai Strategi Mengubah Paradigma Pembelajaran Matematika di SMP yang Teachers Oriented Menjadi Student Oriented. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Dikti. [online] Tersedia: http://www.puslitjaknov.org/data/file/2008/makalah_ poster_session_pdf/Suradi_.ModelPembelajaranResiksebagai Strategi.pdf. [16 Juni 2010]

Tim Pustaka Yustisia (2007). Panduan Lengkap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Jakarta: Pustaka Yustisia.

Ulpah, Maria. (2009). Belajar Statistika: Mengapa dan Bagaimana? Jurnal Insania STAIN Purwokerto, 14(3).

---. (2010). Penggunaan Konteks dalam Pembelajaran Statistika. Prosiding Seminar matematika UNY, November 2010.

---. (2011). Mengembangkan kemampuan penalaran Statistis Siswa. Jurnal Penelitian dan Pembelajaran Matematika UNTIRTA, 4(2).

Vanhoof, Sotos, C., Onghena dan Verschaffel. (2006). Attitudes toward Statistics and Their Relationship with Short and Long-Term Exam Results. Journal of Statistics Education, 14(3).

Dokumen terkait