• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN IMPLIKASI HASIL PENELITIAN

A. Kesimpulan

12

BAB II

LANDASAN TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

1. Pemasaran Jasa

a. Perusahaan jasa

Perusahaan jasa merupakan perusahaan yang menawarkan

produk kepada konsumen. Produk yang ditawarkan pada

perusahaan jasa bukan berupa barang, melainkan pelayanan,

orang, ide, ataupun organisasi. Sarana produk jasa pada dasarnya

bisa berwujud dan tak berwujud seperti hotel, konsultasi

manajemen, salon, restoran, transportasi, konsultasi psikologi dan

rumah sakit. Selain itu usaha jasa juga tidak memiliki hak milik

kepada konsumen.

Dari beberapa para ahli juga menyatakan tentang

pengertian perusahaan jasa, seperti Kotler dan Keller (2013:378)

“A service is any act or performance one party can offer to another that is essentially intangible and does not result in the

ownership of anything”. Jasa adalah semua tindakan atau kinerja yang dapat ditawarkan satu pihak kepada pihak lain yang pada

intinya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan

apapun. Sedangkan Maria (2007:3) Pengertian Perusahaan secara

ekonomi yaitu wadah atau organisasi untuk mencapai tujuan

yaitu memproduksi barang dan jasa dalam suatu masyarakat.

Sedangkan perusahaan jasa adalah perusahaan yang kegiatannya

menyediakan kemudahan, kenyamanan, kenikmatan, keamanan,

atau layanan profesional lainnya.

Menurut Kotler dan Amstrong (2013:248) menyatakan

“Product as anything that can be offered to a market for attention, acquisition, use, or consumption that might satisfy a want or need. Products include more than just tangible objects. Services are a from of product that consists of activities, benefits, or satisfactions offered for sale that are essentially intangible and do not result in the ownership of anything”. Produk adalah sebagai segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar agar menarik perhatian,

akuisisi, penggunaan, atau konsumen yang dapat memuaskan

suatu keinginan atau kebutuhan. Produk mencakup lebih dari

sekadar barang-barang yang beruwujud, salah satunya adalah jasa.

Jasa adalah bentuk produk yang terdiri dari aktivitas, manfaat, atau

kepuasan yang ditawarkan untuk dijual dan pada dasarnya tak

berwujud serta tidak menghasilkan kepemilikan akan sesuatu.

Tjiptono (2011:23) mendefinisikan bahwa salah satu

produk jasa bisa berhubungan dengan produk fisik maupun non

fisik. Maksudnya, ada produk jasa murni (child care, konsultasi

psikologi, dan konsultasi manajemen), ada pula jasa yang

untuk angkutan laut, pesawat dalam jasa penerbangan, dan

makanan di restoran).

b. Karakteristik Jasa

Kotler dan Keller (2013:380) menyatakan “Four

distinctive service characteristics greatly affect the design of marketing programs: intangibility, inseparability, variability, and perishability” jasa memiliki empat karakteristik berbeda yang sangat mempengaruhi desain program pemasaran: tak bewujud,

bervariasi, dan dapat musnah. Menurut Tjiptono (2011:25-30)

berbagai riset dan literature pemasaran jasa mengungkapkan bahwa jasa memiliki sejumlah karakteristik unik yang

membedakannya dari barang. Karakteristik tersebut terdiri dari:

1) Intangibility

Jasa berbeda dengan barang. Barang merupakan suatu

objek, alat, atau benda; maka jasa adalah suatu perbuatan,

tindakan, pengalaman, proses, kinerja, atau usaha. Oleh sebab

itu, jasa tidak dapat dilihat, dirasa, dicium, didengar, atau

diraba sebelum dibeli dan dikonsumsi.

2) Inseparability

Barang biasanya diproduksi, kemudian dijual, lalu

dikonsumsi. Sedangkan jasa umumnya dijual terlebih dahulu,

baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi pada waktu dan

3) Variability atau heterogeneity atau inconsistency

Jasa sangat bersifat variabel karena merupakan non-standardized output, artinya banyak variasi bentuk, kualitas, dan jenis, tergantung, pada siapa, kapan, dan di mana jasa

tersebut diproduksi.

4) Perishability

Perishability berarti bahwa jasa tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan. Kursi pesawat yang kosong, kamar hotel yang

tidak dihuni, atau kapasitas jalur telepon yang tidak

dimanfaatkan akan berlalu atau hilang begitu saja kerena tidak

disimpan. Bila permintaan bersifat konstan, kondisi ini tidak

menjadi masalah, karena staf dan kapasitas penyedia jasa bisa

direncanakan untuk memenuhi permintaan. Namun,

permintaan pelanggan terhadap sebagian besar jasa sangat

fluktuatif.

5) Lack of Ownership

Lack of Ownership merupakan perbedaan dasar antara jasa dan barang. Pada pembeli barang, konsumen memiliki hak

penuh atas penggunaan dan manfaat produk yang dibelinya.

Mereka bisa mengkonsumsi, menyimpan, atau menjualnya.

Sisi lain pihak, pada pembelian jasa, pelanggan mungkin

hanya memiliki akses personal atas suatu jasa untuk jangka

penerbangan dan pendidikan). Pembayaran biasanya ditujukan

untuk pemakaian, akses atau penyewaan item-item tertentu berkaitan dengan jasa yang ditawarkan.

Tabel 2.1

Karakteristik Jasa dan Implikasi Manajemen KARAKTERISTIK IMPLIKASI MANAJEMEN

Intangibility Produk bersifat abstrak: lebih berupa tindakan atau pengalaman

Kesulitan dalam alternatof penawaran jasa: persepsi konsumen terhadap resiko Tidak dapat dipajang: diferensiasi sukar dilakukan

Tidak dapat hak paten: hambatan masuk rendah

Inseparability Konsumen terlibat dalam produksi Pelanggan lain juga terlibat

Karyawan mencerminkan dan mewujudkan bisnis jasa

Lingkungan jasa

Kesulitan dalam produksi massal: pertumbuhan mebutuhkan jaringan kerja sama

Variability Standarisasi sukar dilakukan Kualitas sulit dikendalikan Perishability Tidak dapat disimpan

Masalah beban periode puncak: produktivitas rendah

Sulit menentukan harga jasa

Lack of Ownership Pelanggan tidak dapat memiliki jasa Sumber: Tjiptono (2011:30)

c. Kategori Jasa

Jasa bisa diklasifikasikan berdasarkan beraneka ragam

kriteria. Menurut Lovelock, Wirtz, dan Mussry (2011:19-23) jika

kita beranggapan bahwa jasa biasanya tidak meliputi perpindahan

berbagai jenis jasa, tergantung pada apa yang diprosesnya. Dalam

sektor jasa, manusia, benda fisik, dan data dapat diproses, dan sifat

dari proses tersebut bisa terlihat atau tidak terlihat. Tindakan yang

terlihat (tangible actions) dilakukan pada tubuh manusia atau

barang-barang milik mereka. Tindakan yang tidak dapat dilihat

(intangible actions) dilakukan pada pikiran manusia atau aset-aset

nirwujud milik mereka. Hal ini membuat adanya klasifikasi jenis

jasa dalam empat kategori luas, yaitu people processing, possession processing, mental stimulus processing, dan information processing.

Siapa atau apa yang menjadi penerima langsung dan layanan

Manusia Barang/kepemilikan

Pemrosesan Manusia (jasa ditujukan pada tubuh seseorang):

Penumpang transportasi Restoran

Layanan kesehatan

Pemrosesan Kepemilikan (jasa ditujukan pada fisik benda yang dimiliki):

Transportasi kargo Perbaikan dan perawatan Binatu dan dry cleaning Pemrosesan stimulus mental

(jasa ditujukan pada pikiran seseorang): Pendidikan Iklan/hubungan masyarakat Psikoterapi Pemrosesan informasi (jasa ditujukan pada aset-aset nirwujud):

Akuntansi Perbankan Jasa hokum

Gambar 2.1 Empat Kategori Layanan

Sumber: Lovelock, Wirtz, dan Mussry (2011:21) Sifat dari tindakan layanan

Tindakan yang tidak terlihat Tindakan yang terlihat

1) Pemrosesan Manusia (People Processing)

Sejak zaman dahulu, Manusia telah meningkatkan jasa

untuk diri mereka sendiri (berpindah tempat, makan, memiliki

tempat tinggal, mengembalikan kesehatan, atau menjadi lebih

cantik). Untuk menerima jenis jasa seperti ini, pelanggan harus

secara fisik masuk kedalam sistem pelayanan. Pelanggan harus

masuk kedalam sistem pelayan dikarenakan pelanggan

merupakan bagian integral dari proses dan tidak akan

mendapatkan manfaat yang diinginkan jika berhubungan

dalam jarak terpisah dengan penyedia layanan. Selain itu,

kadang-kadang penyedia jasa akan mau mendatangi para

pelanggan, membawa alat-alat yang diperlukan untuk

menciptakan berbagai manfaat di lokasi pilihan para

pelanggan.

2) Pemrosesan Kepemilikan (Possession Processing)

Sering kali, para pelanggan meminta sebuah organisasi

jasa memberikan perawatan yang dapat dilihat (tangible treatment) untuk beberapa barang fisik seperti, sebuah rumah yang terserang serangga, lift yang rusak, maupun binatang

peliharaan yang sakit. Pada kategori pemrosesan kepemilikan,

para pelanggan tidak terlalu terlibat secara fisik dibandingkan

dengan jasa pemrosesan manusia. Keterlibatan konsumen

dirawat, mengajukan permintaan layanan, menjelaskan

masalah, dan nantinya kembali lagi untuk mengambil

barangnya dan membayar tagihan.

3) Pemrosesan Stimulasi Mental (Mental Stimulus Processing)

Jasa yang ditujukan untuk pikiran manusia meliputi

pendidikan, berita, nasihat professional, psikoterapi, hiburan,

dan beberapa kegiatan keagamaan. Apapun yang menyentuh

pikiran manusia memiliki kekuatan untuk membentuk sikap

dan memengaruhi perilaku.

4) Pemrosesan Informasi (Information Processing)

Pemrosesan informasi telah terevolusi oleh teknologi

informasi, tetapi tidak semua informasi diproses oleh mesin.

Para professional diberbagai bidang juga menggunakan otak

mereka untuk melakukan pemrosesan informasi dan

pengemasannya. Informasi adalah bentuk yang paling tidak

berwujud dari sebuah layanan, tetapi dapat diubah dalam

bentuk yang lebih berwujud seperti surat, laporan, rencana,

CD-ROM, atau DVD yang bersifat lebih tahan lama.

2. Pengertian Restoran

Menurut Marsum (2001:7) dalam Iskhandar dan Sugiharto

(2013) restoran adalah suatu tempat atau bangunan yang

diorganisasikan secara komersial yang menyelenggarakan pelayanan

Pos dan Telekomunikasi Nomor KM.95/HK.103 MPPT-87 tentang

ketentuan usaha dan penggolongan restoran, mengemukakan bahwa

restoran adalah salah satu jenis usaha pangan bertempat di sebagian

atau seluruh bangunan yang permanen, dilengkapi dengan peralatan

dan perlengkapan untuk proses pembuatan, penyimpanan, dan

memenuhi ketentuan-ketentuan persyaratan yang ditetapkan dalam

Keputusan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi. Menurut

Soekresno (2000:7) restoran adalah suatu usaha komersial yang

menyediakan pelayanan makan dan minum bagi umum dan dikelola

secara professional.

3. Store Atmosphere

a. Pengertian store atmosphere

Menurut Kotler dan Keller (2013:479) “atmosphere is another element in the store arsenal. Every store has a look, and

physical layout that makes it hard or easy to move around”.

Atmosfir adalah elemen lain dalam melengkapi toko. Setiap toko

mempunyai penampilan dan tata letak fisik yang bisa mempersulit

atau mempermudah orang untuk bergerak. Utami (2008:117)

mengatakan bahwa suasana toko (store atmosphere) adalah kombinasi dari karakteristik fisik toko seperti arsitektur, layout, pencahayaan, pemajangan, warna, temperatur, musik, aroma yang

secara menyeluruh akan menciptakan image atau citra dalam benak konsumen. Melalui suasana toko yang sengaja diciptakan

oleh ritel, ritel berupaya untuk mengkomunikasikan informasi

yang terkait dengan layanan, harga maupun ketersediaan barang

dagangan yang bersifat fashionable.

Dari teori yang dikemukakan di atas, bahwa store atmosphere adalah salah satu cara untuk melengkapi toko seperti, warna, pencahayaan, musik, aroma, dan lain - lain. Suasana toko

juga merupakan hal penting dalam kepuasan pelanggan. Store atmosphere ini bisa dilihat dari arsitekturnya, layout, pencahayaan, pemajangan, warna, musik, ataupun dari aromanya.

b. Elemen-elemen store atmosphere

Menurut Barry dan Evans (2004) dalam Sugiarto dan

Subagio (2014), “Atmosphere can be divided into several

elements: exterior, general interior, store layout, and displays.”

Store atmosphere ini mencakup beberapa bagian, antara lain : 1) Exterior (Bagian Luar Toko)

Karakteristik exterior mempunyai pengaruh yang kuat pada citra toko tersebut, sehingga harus direncanakan dengan

sebaik mungkin. Kombinasi dari exterior ini dapat membuat bagian luar toko menjadi terlihat unik, menarik, menonjol dan

mengundang orang untuk masuk kedalam toko.

Elemen-elemen exterior ini terdiri dari sub Elemen-elemen-sub Elemen-elemen sebagai

a) Storefront (Bagian Muka Toko)

Bagian muka atau depan toko meliputi kombinasi

papan nama, pintu masuk, dan konstruksi bangunan.

Storefront harus mencerminkan keunikan, kemantapan, kekokohan atau hal-hal lain yang sesuai dengan citra toko

tersebut. Khususnya konsumen yang baru sering menilai

toko dari penampilan luarnya terlebih dahulu sehingga

merupakan exterior merupakan faktor penting untuk mempengaruhi konsumen untuk mengunjungi toko.

b) Marquee (Simbol)

Marquee adalah suatu tanda yang digunakan untuk memejang nama atau logo suatu toko. Marquee dapat dibuat dengan teknik pewarnaan, penulisan huruf, atau

penggunaan lampu neon. Marquee dapat terdiri dari nama atau logo saja, atau dikombinasikan dengan slogan dan

informasi lainya. Supaya efektif, marquee harus diletakan

di luar, terlihat berbeda, dan lebih menarik atau mencolok

daripada toko lain di sekitarnya.

c) Entrance (Pintu Masuk)

Pintu masuk harus direncanakan sebaik mungkin,

sehingga dapat mengundang konsumen untuk masuk

melihat ke dalam toko dan juga mengurangi kemacetan

d) Display Window (Tampilan Jendela)

Tujuan dari display window adalah untuk mengidentifikasikan suatu toko dengan memajang

barang-barang yang mencerminkan keunikan toko tersebut,

sehingga dapat menarik konsumen masuk. Dalam

membuat jendela pajangan yang baik harus

dipertimbangkan ukuran jendela, jumlah barang yang

dipajang, warna, bentuk, dan frekuensi penggantiannya.

e) Height and Size Building (Tinggi dan Ukuran Gedung) Dapat mempengaruhi kesan tertentu terhadap toko

tersebut. Misalnya, tinggi langit-langit toko dapat membuat

ruangan seolah-olah lebih luas.

f) Uniqueness (Keunikan)

Keunikan suatu toko bisa dihasilkan dari desain

bangunan toko yang lain dari yang lain.

g) Surrounding Area (Lingkungan Sekitar)

Keadaan lingkungan masyarakat di mana suatu

toko berada, dapat mempengaruhi citra toko. Jika toko lain

yang berdekatan memiliki citra yang kurang baik, maka

h) Parking (Tempat Parkir)

Tempat parkir merupakan hal yang penting bagi

konsumen. Jika tempat parkir luas, aman, dan mempunyai

jarak yang dekat dengan toko akan menciptakan

atmosphere yang positif bagi toko tersebut. 2) General Interior (Bagian Dalam Toko)

Paling utama yang dapat membuat penjualan setelah

pembeli berada di toko adalah display. Desain interior dari suatu toko harus dirancang untuk memaksimalkan visual merchandising. Display yang baik yaitu yang dapat menarik perhatian pengunjung dan membantu meraka agar mudah

mengamati, memeriksa, dan memilih barang dan akhirnya

melakukan pembelian.

Elemen-elemen general interior terdiri dari:

a) Flooring (Lantai)

Penentuan jenis lantai, ukuran, desain dan warna

lantai sangat penting, karena konsumen dapat

mengembangkan persepsi mereka berdasarkan apa yang

mereka lihat.

b) Color and Lightening (Warna dan Pencahayaan)

Setiap toko harus menpunyai pencahayaan yang

cukup untuk mengarahkan atau menarik perhatian

berkunjung akan tertarik pada sesuatu yang paling terang

yang berada dalam pandangan mereka. Tata cahaya yang

baik mempunyai kualitas dan warna yang dapat membuat

suasana yang ditawarkan terlihat lebih menarik, terlihat

berbeda bila dibandingkan dengan keadaan yang

sebenarnya.

c) Scent and Sound ( Aroma dan Musik)

Tidak semua toko memberikan pelayanan ini, tetapi

jika layanan ini dilakukan akan memberikan suasana yang

lebih santai pada konsumen, khususnya konsumen yang

ingin menikmati suasana yang santai dengan

menghilangkan kejenuhan, kebosanan, maupun stress

sambil menikmati makanan.

d) Fixture (Penempatan)

Memilih peralatan penunjang dan cara penempatan

meja harus dilakukan dengan baik agar didapat hasil yang

sesuai dengan keinginan, karena penempatan meja yang

sesuai dan nyaman dapat menciptakan image yang berbeda

pula.

e) Wall Texture (Tekstur Tembok)

Tekstur dinding dapat menimbulkan kesan tertentu

pada konsumen dan dapat membuat dinding terlihat lebih

f) Temperature (Suhu Udara)

Pengelola toko harus mengatur suhu udara, agar

udara dalam ruangan jangan terlalu panas atau dingin.

g) Width of Aisles (Lebar Gang)

Jarak antara meja dan kursi harus diatur sedemikian

rupa agar konsumen merasa nyaman dan betah berada di

toko.

h) Dead Area

Dead Area merupakan ruang di dalam toko dimana display yang normal tidak bisa diterapkan karena akan terasa janggal. Misalnya: pintu masuk, toilet, dan sudut

ruangan.

i) Personel (Pramusaji)

Pramusaji yang sopan, ramah, berpenampilan

menarik, cepat, dan tanggap akan menciptakan citra

perusahaan dan loyalitas konsumen.

j) Service Level (Tingkat Pelayanan)

Macam-macam tingkat pelayanan menurut Kotler

yang dialih bahasakan oleh Teguh, Rusli, dan Molan

(2000) adalah self service, self selection, limited service, dan full service.

k) Price (Harga)

Pemberian harga bisa dicantumkan pada daftar

menu yang diberikan agar konsumen dapat mengetahui

harga dari makanan tersebut.

l) Cash Register (Kasir)

Pengelola toko harus memutuskan penempatan

lokasi kasir yang mudah dijangkau oleh konsumen.

m) Technology Modernization (Teknologi)

Pengelola toko harus dapat melayani konsumen

secanggih mungkin, misalnya dalam proses pembayaran

harus dibuat secanggih mungkin dan cepat, baik

pembayaran secara tunai atau menggunakan pembayaran

cara lain, seperti kartu kredit atau debet.

n) Cleanliness (Kebersihan)

Kebersihan dapat menjadi pertimbangan utama

bagi konsumen untuk makan di tempat tersebut.

3) Layout Ruangan (Tata Letak Toko)

Pengelola toko harus mempunyai rencana dalam

penentuan lokasi dan fasilitas toko. Pengelola toko juga harus

memanfaatkan ruangan toko yang ada seefektif mungkin.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang layout adalah sebagai berikut:

a) Allocation of floor space for selling, personel, and customers. Dalam suatu toko, ruangan yang ada harus dialokasikan untuk:

(1) Selling Space (Ruangan Penjualan)

Ruangan untuk menempatkan dan tempat

berinteraksi antara konsumen dan pramusaji.

(2) Personnel Space (Ruangan Pegawai)

Ruangan yang disediakan untuk memenuhi

kebutuhan pramusaji seperti tempat beristirahat atau

makan.

(3) Customers Space (Ruangan Pelanggan)

Ruangan yang disediakan untuk meningkatkan

kenyamanan konsumen seperti toilet dan ruang tunggu.

b) Traffic Flow (Arus Lalu Lintas), macam-macam penentuan arus lalu lintas toko, yaitu:

(1) Grid Layout (Pola Lurus)

Penempatan fixture dalam satu lorong utama yang panjang.

(2) Loop/Racetrack Layout (Pola Memutar)

Terdiri dari gang utama yang dimulai dari pintu

masuk, mengelilingi seluruh ruangan, dan biasanya

berbentuk lingkaran atau persegi, kemudian kembali ke

(3) Spine Layout (Pola Berlawanan Arah)

Pada spine layout gang utama terbentang dari depan sampai belakang toko, membawa pengunjung

dalam dua arah.

(4) Free-flow Layout (Pola Arus Bebas)

Pola yang paling sederhana dimana fixture dan barang-barang diletakan dengan bebas.

4) Interior Point of Interest Display (Dekorasi Pemikat Dalam Toko)

Interior point of interest display mempunyai dua tujuan, yaitu memberikan informasi kepada konsumen dan

menambah store atmosphere, hal ini dapat meningkatkan penjualan dan laba toko. Interior point of interest display

terdiri dari :

a) Theme Setting Display (Dekorasi Sesuai Tema)

Dalam suatu musim tertentu retailer dapat

mendesain dekorasi toko atau meminta promusaji

berpakaian sesuai tema tertentu.

b) Wall Decoration (Dekorasi Ruangan)

Dekorasi ruangan pada tembok bisa merupakan

kombinasi dari gambar atau poster yang ditempel, warna

tembok, dan sebagainya yang dapat meningkatkan

4. Brand Image a. Brand

Menurut Tjiptono dan Chandra (2012:238) merek sering

diinterpretasikan secara berbeda-beda, diantaranya sebagai logo,

instrumen legal (hak kepemilikan), perusahaan, shorthand notation, risk reducer, positioning, kepribadian, rangkaian nilai, visi, penambah nilai, identitas, citra, relasi, dan evolving entity. Walaupun demikian, definisi merek yang paling banyak diacu

adalah versi American Marketing Association (AMA) yang

merumuskan merek sebagai “nama, istilah, tanda, simbol atau

disain, atau kombinasi diantaranya, yang dimaksudkan untuk

mengidentifikasi barang dan jasa dari satu penjual dan

membedakannya dari barang dan jasa para pesaingnya”.

Definis versi AMA tampaknya diacu juga dalam UU

Merek No. 15 Tahun 2001 pasal 1 ayat 1: “tanda yang berupa

gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna,

atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya

pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau

jasa”. Tjiptono (2011:40) menyatakan bahwa sebuah merek lebih besar dari sekedar produk. Produk adalah sesuatu yang di produksi

di pabrik, sedangkan merek adalah sesuatu yang dibeli konsumen.

Menurut Keller dalam Tjiptono (2011:40), menyatakan merek

secara unik membedakannya dari produk-produk lain yang

dirancang untuk memuaskan kebutuhan serupa. Perbedaan

tersebut bisa bersifat rasional dan tangible (terkait dengan kinerja

produk dari merek bersangkutan) mapun simbolik, emosional, dan

intangible (berkenaan dengan representasi merek) dengan kata lain, merek mencerminkan keseluruhan persepsi dan perasaan

konsumen mengenai atribut dan kinerja produk, nama merek dan

maknanya, dan perusahaan yang diasosiasikan dengan merek

bersangkutan. Konsumen biasanya tidak menjalin relasi dengan

baik atau jasa tertentu, namun sebaliknya membina hubungan

yang kuat dengan merek spesifik. Dapat disimpulkan bahwa

merek merupakan salah satu aset terpenting perusahaan, bahkan

Whitwell, Lukas dan Doyle (2003) dalam Tjiptono (2011:41)

menegaskan bahwa merek adalah intangible asset oraganisasi yang paling penting.

Kotler dan Keller (2009:258) merek adalah produk atau

jasa yang dimensinya mendiferensiasikan merek tersebut dengan

beberapa cara dari produk atau jasa lainnya yang dirancang untuk

memuaskan kebutuhan yang sama. Perbedaan ini bisa fungsional,

rasional, atau nyata-berhubungan dengan kinerja produk dari

merek. Perbedaan ini bisa juga lebih bersifat simbolis, emosional,

atau tidak nyata-berhubungan dengan apa yang direpresentasikan

Chernatony (2003) dalam Tjiptono (2011:21-23)

mengidentifikasi setidaknya ada empat belas interpretasi terhadap

merek, yang dikelompokkannya menjadi tiga kategori: interpretasi

berbasis input (branding dipandang sebagai cara para manajer

mengalokasikan sumber dayanya dalam rangka meyakinkan

konsumen), interpretasi berbasis output (interpretasi dan pertimbangan konsumen terhadap kemampuan merek memberikan

nilai tambah bagi mereka), dan interpretasi berbasis waktu

(menekankan branding sebagai proses yang berlangsung

terus-menerus). Ketiga kategori ini kemudian dijabarkan menjadi empat

belas macam interpretasi, yakni merek sebagai logo, instrumen

hukum, perusahaan, shorthand, risk reducer, positioning, kepribadian, serangkaian nilai, visi, penambahan nilai, identitas,

citra, relasi, dan evolving entity.

Tabel 2.2

Interpretasi terhadap merek

No Interpretasi Deskripsi

A. Perspektif Input 1 Merek sebagai

logo

Merek didefinisikan sebagai “nama, istilah, tanda,

simbol atau desain, atau kombinasi diantaranya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang dan jasa dari satu penjual atau sekelompok penjual dan membedakannya dari barang dan jasa para

pesaingnya” (definisi American Marketing Association, dikutip dalam Kotler, et al.). Definisi ini menekankan peranan merek sebagai identifier dan diferentator

2 Merek sebagai instrumen

hukum

Merek mencerminkan hak kepemilikan yang dilindungi secara hukum.

3 Merek sebagai perusahaan

Merek merepresentasikan perusahaan, dimana nilai-nilai korporat diperluas keberbagai macam kategori

produk. 4 Merek sebagai

shorthand

Merek memfasilitasi dan mengakselerasi

Dokumen terkait