• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 95-138)

5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Instalasi farmasi di rumah sakit berperan sebagai bagian fungsional dari organisasi rumah sakit yang menjamin terselenggaranya pelayanan kefarmasian yang komprehensif.

Pelayanan kefarmasian yang dilakukan di rumah sakit mencakup kegiatan manajemen yang terkait pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit dan pelayanan farmasi klinik untuk menjamin bahwa terapi yang diterima oleh pasien tepat dan aman. Pelaksanaan pelayanan kefarmasian tersebut di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo sudah cukup memenuhi persyaratan pelayanan kefarmasian dari Kementerian Kesehatan RI dan standar akreditasi internasional dari Joint Commission International. Akan tetapi, masih ditemui adanya aspek pelayanan yang belum dilakukan secara maksimal karena faktor keterbatasan jumlah SDM dan beberapa fasilitas penunjang.

Apoteker di rumah sakit berperan sebagai pelaksana pelayanan kefarmasian. Dari segi manajemen, Apoteker bertugas untuk memastikan bahwa perbekalan farmasi yang ada di rumah sakit memenuhi persyaratan untuk penyelenggaraan upaya kesehatan dan selalu tersedia, melakukan pengelolaan sumber daya manusia (SDM), serta berkontribusi dalam upaya peningkatan pendapatan rumah sakit. Dari segi klinis, Apoteker bertugas untuk memantau pengobatan pasien serta memberikan informasi yang diperlukan demi tercapainya tujuan pengobatan pasien dengan mengutamakan patient safety.

Pelayanan kefarmasian yang diberikan oleh RSCM berorientasi utama pada pasien (patient oriented). Untuk mendukung hal tersebut, dilakukan pemantauan terhadap resep yang diberikan oleh dokter, etiket obat serta respon time sehingga dapat mengetahui serta menilai kinerja tenaga farmasi di RSCM dalam melakukan pelayanan kefarmasian.

5.1 Saran

Selama melaksanakan PKPA ada beberapa saran yang dapat saya sampaikan :

a. Ruang Rawat Inap Terpadu (Gedung A)

1) Segera dilakukan perbaikan ruangan yang bocor di Gudang basement sebelum kerusakan menjadi semakin parah.

2) Sosialisasikan kepada tenaga farmasi untuk meletakkan barang seperti MSDS kembali di tempatnya setelah digunakan.

3) Mensosialisasikan kembali kepada asisten apoteker untuk selalu mengikuti briefing di pagi hari dan selama briefing ditegaskan kembali kepada para tenaga farmasi agar tetap disiplin kembali dalam melakukan pekerjaannya.

4) Komunikasikan antar tenaga kesehatan yaitu dokter, perawat dan farmasis terkait dengan masalah retur obat.

5) Peningkatan ketelitian dari tenaga farmasi dalam verifikasi resep sehingga jumlah obat yang diberikan secara berlebih dapat dikendalikan. 6) Penambahan telepon khusus untuk PIO dan dibuat jadwal bergilir untuk

apoteker dalam menjaga ruang PIO sehingga memudahkan pelayanan dan juga bisa dengan penambahan jumlah apoteker di bagian farmasi klinik.

b. Satelit Intensive Care Unit (ICU)

1) Penggunaan peresepan online untuk mencegah terjadinya medication error akibat kesalahan membaca resep, mempercepat pelayanan dan data administratif pasien pada resep dapat terisi dengan lengkap.

2) Pengadaan printer etiket agar mempercepat pelayanan kefarmasian dan data pada etiket dapat terisi dengan lengkap dan jelas.

3) Pengaturan kembali jadwal kerja petugas agar pelayanan dapat dilakukan secara optimal.

4) Penambahan fasilitas tangga lipat diperlukan untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja.

5) Pengadaan pengeras suara dibutuhkan untuk memudahkan petugas dalam melakukan pemanggilan keluarga pasien.

85 6) Penambahan wadah obat atau pemberian sekat pada wadah tersebut

disertai dengan pemantauan setiap harinya agar obat sesuai dengan letak penyimpanannya.

7) Pelaksanaan prosedur retur obat sebaiknya sesuai dengan standar prosedur operasional yang telah ditetapkan.

8) Pembuatan jadwal konseling pasien pulang di ICCU.

c. Satelit Farmasi Pusat

1) Sebaiknya membuat daftar nama obat yang disimpan di dalam lemari pendingin sesuai dengan isi yang ada didalam lemari pendingin dan selalu diperbaharui.

2) Petugas langsung melakukan input ke dalam komputer setelah verifikasi resep agar tertib administrasi.

3) Pengadaan printer etiket untuk membantu mempercepat pelayanan dan data pada etiket dapat terisi dengan lengkap dan jelas.

4) Komunikasikan kembali kepada petugas untuk melengkapi etiket sesuai dengan prosedur.

5) Prosedur retur obat dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur yang telah ditetapkan oleh RSCM.

6) Pengadaan fasilitas kalkulator yang ditempel di antara rak-rak obat untuk mempermudah dalam perhitungan stok dan memastikan kalkulator tersebut tidak berpindah tempat dan mudah dicari.

7) Sebaiknya penulisan buku untuk obat hutang kepada pasien diperbaiki untuk memudahkan penelusuran pasien mana yang belum menerima obat tersebut dan di dokumentasikan secara rapih dan lengkap .

8) Koordinasi dan komunikasikan lebih lanjut dengan petugas Instalasi Administrasi dan Logistik tentang pemenuhan kebutuhan perbekalan farmasi.

9) Penyusunan obat-obat termolabil dengan menggunakan wadah pada lemari pendingin dan penempatan obat-obat LASA sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

10) Sosialisasikan kepada seluruh petugas untuk fokus pada saat briefing berlangsung agar informasi diperoleh dengan tepat dan jelas.

d. Sub Instalasi Produksi

1) Perlu penambahan Asisten Apoteker pada Sub Instalasi Produksi untuk meningkatkan pelayanan kepada pasien.

2) Pengadaan mesin pengisi kaspul dan sirup agar mempermudah proses produksi serta menghemat waktu dan tenaga.

e. Instalasi Gawat Darurat (IGD)

1) Menempel kalkulator pada rak obat agar tidak terjadi kesalah dalam menghitung jumlah obat, setiap rak obat dan alkes ada penanggung jawab yang menghitung stok obat setiap hari. Untuk kepraktisan sebaiknya mengganti kartu stok dengan buku stok agar data obat mudah diperiksa. 2) Mengadakan printer etiket agar dapat mempercepat dan mempermudah

petugas dalam proses dispensing obat sehingga pelayanan obat ke pasien juga lebih cepat dan informasi obat yang benar dan jelas dapat diperoleh pasien.

3) Melakukan pengecekan secara rutin untuk memastikan troli emergency masih terkunci, meningkatkan komunikasi farmasi, perawat dan dokter serta melakukan evaluasi terhadap terbukanya troli untuk disampaikan kepada kepala unit.

f. Satelit Kirana

1) Menempel kalkulator pada rak obat agar tidak salah dalam menghitung jumlah obat dan mengganti kartu stok dengan buku stok agar data obat mudah diperiksa.

2) Sosialisasikan kepada Asisten Apoteker secara lisan untuk menginformasikan batas penyimpanan sediaan tetes mata setelah dibuka. Jika tidak bisa dilakukan, informasi dapat ditambahkan di etiket obat. 3) Sebaiknya dilakukan penambahan pekarya untuk mengambil stok obat di

87 4) Dibuat loket untuk pengambilan obat dan alat operasi untuk menghindari

adanya perbekalan farmasi yang hilang.

g. Membuat daftar yang berisikan data-data administrasi yang harus dilengkapi oleh pasien dan ditempelkan di dekat loket penerimaan atau ruang tunggu pasien.Gudang Perbekalan Farmasi Pusat

1) Sebaiknya menyediakan kartu stok dalam bentuk buku dan menyediakan kalkulator untuk mempermudah perhitungan stok barang ketika mengisi kartu stok dan melakukan sampling stock setiap hari.

2) Sebaiknya membuat daftar nama obat yang terdapat dalam masing-masing lemari pendingin dan menempelkannya pada depan pintu lemari pendingin dimana obat tersebut disimpan. Daftar tersebut juga perlu diperiksa dan diperbaharui secara berkala sehingga data yang tersedia selalu ter-update sesuai dengan persediaan yang terdapat di dalamnya. 3) Untuk masalah barang kosong sebaiknya dikomunikasikan secara

intensif dengan pimpinan rumah sakit dan dicari solusi untuk mengatasinya sehingga pelayanan kepada pasien tidak terhambat.

4) Sebaiknya memperketat keamanan di gudang dengan cara membatasi petugas yang bukan petugas gudang untuk tidak boleh masuk ke dalam wilayah gudang pusat tanpa didampingi oleh petugas gudang yang berwenang. Petugas disosialisasikan kembali tentang pentingnya prosedur tersebut.

5) Sebaiknya lebih memperhatikan kebersihan di tempat penyimpanan obat dan alat kesehatan.

6) Sebaiknya tidak merubah tempat penyimpanan perbekalan farmasi jika barang tersebut sedang habis atau kosong, karena akan menyulitkan petugas lain yang nanti akan mengambil barang tersebut.

Dewan Perwakilan Rakyat RI. (2009a). Undang-Undang No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

Dewan Perwakilan Rakyat RI. (2009b). Undang-Undang No.44 tahun 2009 tentang Rumah

Sakit.

Departemen Kesehatan RI. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1197/

Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta:

Kementerian Kesehatan RI.

Departemen Kesehatan RI. (2008). Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit.

Jakarta.

Peraturan Pemerintah RI. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun

2009 tentang Pekerjaan Kefarmasiaan

89 Lampiran 1.Struktur Organisasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

Direktur Utama Direktur Medik dan Keperawatan Departemen

Instalasi

Farmasi

UPT Direktur Pengembangan dan Pemasaran Instalasi promkes UPJM Direktur Keuangan Bagian Anggaran Bagian Perbendaharaan Bagian Akuntansi Direktur SDM dan Pendidikan Bagian Diklat Bagian SDM Bagian Hukor Instalasi Pendidikan Direktur Umum dan Operasional Bagian Administrasi

Bagian Aset dan Inventaris Bagian Teknik Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Instalasi Medik ULP Unit Utilitas Komite Medik, Komite Etik, PPIRS, Komite Mutu

Lampiran 2. Struktur Organisasi Instalasi Farmasi

Direktorat Medik dan Keperawatan Kepala Instalasi Farmasi Koordinator Administrasi dan Keuangan Koordinator Produksi dan Diklitbang Koordinator Pelayanan Farmasi

91 Lampiran 3. Struktur Organisasi Koordinator Administrasi dan Keuangan

Kepala Instalasi Farmasi

Koordinator Administrasi dan Keuangan

Penanggung Jawab Keuangan Penanggung Jawab Akuntansi dan IT Penanggung Jawab SDM dan Administrasi

Lampiran 4. Struktur Organisasi Penanggung Jawab Produksi Sediaan Farmasi Pelaksana Produksi Non Steril Pelaksana Repacking Sediaan Injeksi Serbuk

Struktur Organisasi Koordinator Produksi dan Diklitbang

Kepala Instalasi Farmasi

Koordinator Produksi dan Diklitbang

Penanggung Jawab Produksi Sediaan Pelaksana Repacking Sediaan Injeksi Serbuk Penanggung Jawab Aseptik Dispensing Pelaksana Pencampuran Obat Sitostatika Pelaksana Pencampuran Obat Suntik dan Diklitbang Pencampuran Pelaksana Repacking Sediaan Injeksi Cair Penanggung Jawab Diklitbang

93 Lampiran 5. Struktur Organisasi Koordinator Pelayanan Farmasi

Kepala Instalasi Farmasi Koordinator Pelayanan Farmasi Penanggung Jawab Perencanaan Perbekalan Farmasi Penanggung Jawab

Pelayanan Farmasi Jawab SatelitPenanggung

Satelit

IGD Satelit ICU Satelit Pusat KiranaSatelit

Satelit Gedung A Satelit Poli di URJT Satelit Radio terapi Satelit

ULB Satelit PJT Satelit IBP Penanggung

Jawab Farmasi Klinis

95 Lampiran 7. Contoh Klip Plastik Obat Unit Dose

Lampiran 8. Contoh Stiker Obat

Stiker High Alert

Stiker Obat Termolabil

Stiker Obat yang Mendekati Tanggal Kadarluasa Stiker Obat

High Alert Stiker LASA

Obat Termolabil Stiker Obat Sitostatika

Stiker Obat yang Mendekati Tanggal Kadarluasa

Lampiran 9. Contoh Blanko Kartu Stok . Contoh Blanko Kartu Stok

99 Lampiran 11. Lembar Monitoring Pengobatan Pasien Rawat Inap

UNIVERSITAS INDONESIA

Penyesuaian Data Obat Pada Teknologi Informasi Satelit Farmasi Dengan Formularium RSUPN DR. Cipto Mangunkusumo Tahun 2013

LAPORAN TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL (RSUPN)

DR. CIPTO MANGUNKUSUMO

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker

IMELDA PRIANA, S.Farm 1206329713

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK JANUARI 2014

HALAMAN JUDUL ... ii DAFTAR ISI ... iii DAFTAR TABEL ... iv 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Tujuan ... 2 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3 2.1 Rumah Sakit... 3 2.2 Panitia Farmasi dan Terapi ... 4 2.3 Formularium Rumah Sakit ... 5 3 METODE PENELITIAN ... 7 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 7 3.2 Prosedur Kerja ... 7 4 PEMBAHASAN ... 8 5 KESIMPULAN DAN SARAN... 23 5.1 Kesimpulan... 23 5.2 Saran... 23 DAFTAR ACUAN ... 24

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Data Obat Yang Berubah Dari Formularium Menjadi Non

Formularium...45 Tabel 4.2 Data Obat Yang Berubah Dari Non Formularium Menjadi

1.1 Latar Belakang

Rumah sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan. Tugas rumah sakit umum adalah melaksanakan upaya kesehatan secara berdayaguna dan berhasilguna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemeliharaan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan rujukan(Depkes RI,1992). Pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang utuh dan berorientasi pada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat (Depkes RI, 2004).

Suatu rumah sakit tidak mungkin untuk menyediakan semua jenis obat yang ada di pasaran untuk pelayanan rumah sakit, untuk itu dikembangkan kebijakan formularium rumah sakit yang merupakan upaya untuk menyederhanakan penyediaan obat di rumah sakit agar jenis dan jumlah obat yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan perawatan pasien di rumah sakit. Setiap rumah sakit di negara maju dan negara berkembang umumnya telah menerapkan formularium rumah sakit. Formularium yang telah disepakati di satu rumah sakit perlu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh (commitment) dari pihak-pihak yang terkait, meliputi pengelola obat, menyediakan obat-obat di rumah sakit sesuai dengan formularium dan dokter menggunakan obat-obat yang ada di formularium (Siregar, 2004).

Mengingat pengembangan dan penerapan formularium adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan melalui penggunaan obat yang aman, efektif, rasional dan juga dalam rangka efisiensi biaya pengobatan, maka pengembangan formularium perlu melibatkan berbagai pihak yang terkait di rumah sakit, yakni pihak pengelolaan obat, manajemen rumah sakit, dokter dan departemen klinik yang ada. Keputusan untuk memasukkan suatu obat dalam formularium harus

2 didasarkan atas kesepakatan akan kriteria tertentu yang mencakup bukti, manfaat klinik obat, keamanan obat, kesesuaian obat dengan pelayanan yang ada dirumah sakit dan biaya. Faktor-faktor ini harus dikaji secara ilmiah dari sumber-sumber informasi ilmiah yang layak dipercaya (Siregar, 2004). Formularium yang telah dikembangkan harus disosialisasikan di kalangan dokter dan dalam penerapannya harus dilakukan pemantauan secara berkesinambungan untuk memastikan bahwa pelayanan resep obat untuk pasien telah sesuai dengan formularium yang ada.

1.2 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk penyesuaian data obat (formularium dan non-formularium) pada teknologi informasi satelit farmasi dengan Formularium RSUPN Cipto Mangunkusumo tahun 2013. Hal ini diperlukan untuk memberikan gambaran dari pelayanan instalasi farmasi bahwa seberapa banyak resep yang dapat dilayani sesuai dengan formularium RSUPN Cipto Mangunkusumo.

2.1 Rumah Sakit

2.1.1 Definisi rumah sakit

Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah sakit juga dapat didefinisikan sebagai institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Dewan Perwakilan Rakyat RI, 2009).

Pengaturan penyelenggaraan rumah sakit bertujuan untuk :

a. Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan; b. Memberikan perlindungan terhadap keselamataan pasien, masyarakat,

lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit;

c. Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit; d. Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya

manusia rumah sakit dan rumah sakit.

2.1.2 Tugas dan fungsi rumah sakit

Menurut UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna, untuk menjalankan tugas sebagaimana yang dimaksud, rumah sakit mempunyai fungsi sebagai berikut :

a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit;

b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis;

4 a. Penyelenggaraan penelitian dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka

peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan;

b. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

2.2 Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) 2.2.1. Definisi PFT

Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) adalah organisasi yang mewakili hubungan komunikasi antara para staf medis dengan staf farmasi sehingga anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili spesialisasi-spesialisasi yang ada di rumah sakit dan Apoteker wakil dari farmasi rumah sakit, serta tenaga kesehatan lainnya (Depkes RI, 2004).

2.2.2. Fungsi dan ruang lingkup PFT

Berikut adalah beberapa fungsi PFT, yaitu (Depkes RI, 2004) :

a. Mengembangkan formularium di rumah sakit dan merevisinya. Pemilihan obat untuk dimasukan dalam formularium harus didasarkan pada evaluasi secara subjektif terhadap efek terapi, keamanan serta harga obat dan juga harus meminimalkan duplikasi dalam tipe obat, kelompok, dan produk obat yang sama;

b. Panitia Farmasi dan Terapi harus mengevaluasi untuk menyetujui atau menolak produk obat baru atau dosis obat yang diusulkan oleh anggota staf medis;

c. Menetapkan pengelolaan obat yang digunakan di rumah sakit dan yang termasuk dalam kategori khusus;

d. Membantu instalasi farmasi dalam mengembangkan tinjauan terhadap kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan mengenai penggunaan obat di rumah sakit sesuai peraturan yang berlaku secara lokal maupun nasional; e. Melakukan tinjauan terhadap penggunaan obat di rumah sakit dengan

mengkaji medical record dibandingkan dengan standar diagnosa dan terapi. Tinjauan ini dimaksudkan untuk meningkatkan secara terus menerus penggunaan obat secara rasional;

f. Mengumpulkan dan meninjau laporan mengenai efek samping obat;

g. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang menyangkut obat kepada staf medis dan perawat.

Adapun kebijakan PFT dirumah sakit adalah pengusulan obat baru, menetapkan kategori obat, obat-obat yang tidak memenuhi kategori disebut obat non formularium, menetapkan kebijakan dalam dispensing, mengadakan ketentuan dan peraturan untuk menentukan perwakilan perusahaan farmasi, penarikan obat, menyusun aturan untuk order obat bagi penderita Rawat Jalan. 2.2.3. Struktur organisasi PFT

Susunan organisasi PFT serta kegiatan yang dilakukan bagi tiap rumah sakit dapat bervariasi sesuai dengan kondisi rumah sakit setempat.

a. PFT harus sekurang-kurangnya terdiri dari 3 (tiga) dokter, apoteker, dan perawat. Untuk rumah sakit yang besar tenaga dokter bisa lebih dari 3 (tiga) orang yang mewakili semua staf medis fungsional yang ada;

b. Ketua PFT dipilih dari dokter yang ada di dalam kepanitiaan dan jika rumah sakit tersebut mempunyai ahli farmakologi klinik, maka sebagai ketua berasal dari bidang Farmakologi. Sekretarisnya adalah apoteker dari instalasi farmasi atau apoteker yang ditunjuk;

c. PFT harus mengadakan rapat secara teratur, sedikitnya 2 (dua) bulan sekali dan untuk rumah sakit besar rapatnya diadakan sebulan sekali. Rapat PFT dapat mengundang pakar-pakar dari dalam maupun dari luar rumah sakit yang dapat memberikan masukan bagi pengelolaan PFT;

d. Segala sesuatu yang berhubungan dengan rapat PFT diatur oleh sekretaris, termasuk persiapan dari hasil-hasil rapat; dan

e. Membina hubungan kerja dengan panitia di dalam rumah sakit yang sasarannya berhubungan dengan penggunaan obat (Depkes RI, 2004).

2.3 Formularium Rumah Sakit

Perawatan pasien di rumah sakit dan dalam fasilitas perawatan kesehatan lain sering kali tergantung pada keefektifan penggunaan obat. Obat merupakan komponen penting dalam pelayanan kesehatan, dimana obat menyerap 40-60% dari anggaran pelayanan kesehatan, keragaman obat yang tersedia mengharuskan

6 dikembangkannya suatu program penggunaan obat yang baik di rumah sakit guna memastikan bahwa penderita menerima perawatan yang terbaik. Untuk kepentingan perawatan penderita yang lebih baik, rumah sakit harus mempunyai suatu program evaluasi pemilihan dan penggunaan obat yang objektif di rumah sakit. Program ini adalah dasar dari terapi obat yang tepat dan ekonomis, konsep program ini dikenal dengan sistem formularium.

Formularium adalah dokumen berisi kumpulan produk obat yang dipilih PFT disertai informasi tambahan penting tentang penggunaan obat tersebut, serta kebijakan dan prosedur berkaitan obat yang relevan untuk rumah sakit tersebut, yang terus menerus direvisi. Formularium merupakan sarana bagi staf medik, Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) dan perawat sebagai acuan untuk perawatan pasien, oleh karena itu formularium harus lengkap,ringkas dan mudah digunakan.

Keuntungan sistem formularium di rumah sakit adalah untuk membantu meyakinkan mutu dan ketepatan penggunaan obat dalam rumah sakit; sebagai bahan edukasi bagi staf tentang terapi obat yang tepat; memberi rasio manfaat-biaya yang tertinggi, tidak hanyadari harga yang paling murah.

Sistem pengelolaan keuangan rumah sakit dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan sistem formularium. Dengan suatu formularium, IFRS dapat mempertahankan suatu pembelian dan sistem pengendalian perbekalan yang lebih efisien. Penghematan terjadi karena IFRS tidak membiarkan modal terikat pada persediaan obat yang tidak perlu, melainkan dapat membeli obat dalam jumlah banyak dengan jumlah item obat tertentu sesuai dengan kebutuhan rumah sakit.

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di bagian teknologi informasi Instalasi Farmasi RSUPN Cipto Mangunkusumo. Penelitian dilakukan mulai tanggal 15 Agustus – 30 Agustus 2013.

3.2 Prosedur Kerja

Penyesuaian data obat pada teknologi informasi di instalasi farmasi RSUPN Cipto Mangunkusumo dilakukan dengan prosedur sebagai berikut : a. Pengambilan data obat dilakukan dengan cara menarik data obat dari

teknologi informasi instalasi farmasi yang sedang berjalan.

b. Data yang diperoleh ini selanjutnya akan dicocokkan dengan data pada formularium yang berlaku di RSUPN Cipto Mangunkusumo tahun 2013. c. Pemeriksaan masing-masing item obat dilakukan secara teliti mulai dari nama

sediaan, bentuk sediaan dan kekuatan dari sediaan. Dari hasil pemeriksaan ini akan diketahui sediaan mana yang berubah dari formularium menjadi non formularium dan sebaliknya dari non formularium menjadi formularium. d. Obat atau sediaan yang berubah status dari formularium menjadi non

formularium ataupun sebaliknya dicatat dan dihitung jumlahnya. Data yang berubah ini selanjutnya akan digunakan untuk memperbaiki data teknologi informasi instalasi farmasi yang sedang berjalan agar sesuai dengan formularium RSUPN Cipto Mangunkusumo.

BAB 4 PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian maka didapatkan jumlah obat/sediaan yang berubah status dari formularium menjadi non formularium sebanyak 264 item, data obat /sediaan yang berubah dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Data obat yang berubah dari formularium menjadi

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 95-138)

Dokumen terkait