BAB 5 Kesimpulan, Diskusi, dan Saran
5.1 Kesimpulan
Pada bagian ini, akan dipaparkan kesimpulan dari pengujian hipotesis yang telah diuraikan pada bab empat yaitu:
1. Berdasarkan hipotesis alternatif mayor (Ha) yang menyatakan “ada
pengaruh yang signifikan dari self-efficacy, kecemasan akademis, jenis kelamin, dan grades (angkatan) terhadap self-regulated learning pada
mahasiswa psikologi UIN Jakarta” diterima.
2. Variabel self-efficacy memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,478, artinya variabel self-efficacy secara positif signifikan mempengaruhi self- regulated learning. Hal ini berarti hipotesis Ha1 minor yang berbunyi ada
pengaruh yang signifikan self-efficacy terhadap self-regulated learning
pada mahasiswa psikologi UIN Jakarta diterima.
3. Pada komponen psikologis dari variabel kecemasan akademis nilai koefisien regresi sebesar -0,021, artinya komponen psikologisdari variabel
kecemasan akademis secara negatif tidak berpengaruh signifikan terhadap
self-regulated learning. Hal ini berarti Ha2 minor yang berbunyi ada
pengaruh yang signifikan komponen psikologis dari variabel kecemasan akademis terhadap self-regulated learning pada mahasiswa psikologi UIN Jakarta ditolak.
4. Komponen motorik dari variabel kecemasan akademis memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,121, artinya komponen motorik dari variabel kecemasan akademis secara positif tidak signifikan mempengaruhi self- regulated learning. Hal ini berarti Ha3 minor yang berbunyi ada pengaruh
yang signifikan komponen motorik dari variabel kecemasan akademis terhadap self-regulated learning pada mahasiswa psikologi UIN Jakarta
ditolak.
5. Komponen kognitif dari variabel kecemasan akademis memiliki nilai koefisien regresi sebesar -0.175, artinya komponen kognitif dari variabel kecemasan akademis secara negatif signifikan mempengaruhi self- regulated learning. Hal ini berarti Ha4 minor yang berbunyi ada pengaruh
yang signifikan komponen kognitif dari variabel kecemasan akademis terhadap self-regulated learning pada mahasiswa psikologi UIN Jakarta
diterima.
6. Komponen somatik dari variabel kecemasan akademis mempunyai nilai koefisien regresi komponen somatik dari variabel kecemasan akademis adalah -0,029, artinya komponen somatik dari variabel kecemasan akademis secara negatif tidak berpengaruh signifikan terhadap self-
regulated learning. Hal ini berarti Ha5 minor yang berbunyi ada pengaruh
yang signifikan komponen somatik dari variabel kecemasan akademis terhadap self-regulated learning pada mahasiswa psikologi UIN Jakarta
ditolak.
7. Variabel jenis kelamin mempunyai nilai koefisien regresi sebesar -0,734, artinya variabel jenis kelamin secara negatif tidak berpengaruh signifikan terhadap self-regulated learning. Hal ini berarti Ha6 minor yang berbunyi
ada pengaruh yang signifikan jenis kelamin terhadap self-regulated learning pada mahasiswa psikologi UIN Jakarta ditolak.
8. Variabel angkatan (grades) mempunyai nilai koefisien regresi sebesar - 0,240, artinya variabel grades (angkatan) secara positif tidak signifikan mempengaruhi self-regulated learning. Hal ini berarti Ha7 minor yang
berbunyi ada pengaruh yang signifikan angkatan (grades) terhadap self- regulated learning pada mahasiswa psikologi UIN Jakarta ditolak.
Selanjutnya, jika dilihat berdasarkan proporsi varians masing-masing variabel, terdapat dua variabel yang signifikan. Variabel-variabel tersebut adalah
self-efficacy dan komponen kognitif dari variabel kecemasan akademis. Variabel
self-efficacy memberi sumbangan atau pengaruh sebesar 19,9% bagi self- regulated learning mahasiswa psikologi UIN Jakarta dan komponen kognitif dari variabel kecemasan akademis memberi sumbangan atau pengaruh sebesar 2% bagi self-regulated learning mahasiswa psikologi UIN Jakarta.
5.2 Diskusi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel self-efficacy memiliki pengaruh yang signifikan terhadap self-regulated learning dengan nilai koefisien regresi sebesar adalah 0,478, artinya variabel self-efficacy secara positif signifikan mempengaruhi self-regulated learning. Jadi, semakin tinggi self-efficacy maka semakin tinggi self-regulated learning, dan dalam hal ini secara statistik signifikan (self-efficacy terhadap self-regulated learning). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zimmerman et al. yang menyatakan bahwa self- efficacy untuk self-regulated learning berhubungan secara positif dengan self- efficacy untuk prestasi akademik (Zimmerman et al, 1992;. Zimmerman & Martinez-Pons, 1988 dalam Joo, 2000).
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh persentase sebesar 9,5% mahasiswa psikologi UIN berada pada kategori self-regulated learning yang tinggi. Artinya dalam penelitian ini baru sedikit mahasiswa yang memiliki dan menggunakan kemampuan self-regulated learning dengan efektif. Kemudian sebesar 47% berada pada kategori rendah dan sebanyak 43,5% subjek berada pada kategori sedang. Hal ini menunjukkan mahasiswa psikologi UIN kurang menggunakan potensinya untuk memonitor, mengatur dan mengontrol kognisi, motivasi, dan perilakunya dalam proses belajar, karena hanya 8% dari mahasiswa psikologi UIN mempunyai self-efficacy yang tinggi. Hal ini membuktikan belum maksimalnya mahasiswa psikologi UIN dalam membangun dan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam lingkungan akademis.
Pada penelitian ini terdapat empat komponen pada kecemasan akademis, diantaranya komponen psikologis, komponen motorik, komponen kognitif, dan komponen somatik. Dari empat komponen tersebut hanya satu komponen yang signifikan terhadap self-regulated learning yaitu komponen kognitif dengan nilai koefisien regresi sebesar -0.175, artinya komponen kognitif dari variabel kecemasan akademis secara negatif signifikan mempengaruhi self-regulated learning. Jadi, semakin tinggi komponen kognitif dari variabel kecemasan akademis, maka semakin rendah self-regulated learning. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu, yang secara keseluruhan membahas mengenai kecemasan akademis terhadap self-regulated learning, bukan kecemasan akademis pada masing-masing dimensinya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2009) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecemasan akademis dengan self-regulated learning siswa Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di SMA Negeri 3 Surakarta ditunjukkan dengan angka koefisien korelasi sebesar rxy=-0,294 dengan tingkat signifikansi p=0,002 (p<0,01). Tanda negatif pada koefisien korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kecemasan akademis dengan self-regulated learning. Kondisi tersebut berarti semakin tinggi kecemasan akademis maka akan semakin rendah self-regulated learning, begitu pula sebaliknya, semakin rendah kecemasan akademis maka akan semakin tinggi self-regulated learning yang dimiliki siswa. Nilai signifikansi diperoleh sebesar 0,002 dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,01. Nilai signifikansi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kecemasan akademis dengan self-regulatedlearning.
Berdasarkan rata-rata empirik komponen kognitif dari variabel kecemasan akademis yang diperoleh sebesar 75% yang berarti saat dilakukan penelitian rata- rata mahasiswa psikologi UIN berada pada kategori sedang, artinya individu kurang menunjukkan adanya dorongan pikiran dan perasaan akan ketakutan dalam menghadapi tugas dan aktivitas akademis sehingga pola pikir, respon fisik dan perilaku pun tidak terganggu. Secara kognitif, mahasiswa psikologi UIN yang merasa cemas akan terus mengkhawatirkan segala macam masalah yang mungkin terjadi, sehingga ia akan sulit untuk berkonsentrasi atau mengambil keputusan, bingung, dan menjadi sulit untuk mengingat kembali.
Kebijakan dari Fakultas Psikologi untuk membuat mahasiswanya menjadi lebih berkualitas, sementara itu padatnya jadwal dan tugas-tugas yang taraf kesulitannya lebih tinggi, memaksa mahasiswa psikologi UIN harus berusaha lebih keras memenuhi tuntutan tersebut. Kecemasan akan berpengaruh pada performa mahasiswa di universitas, terutama pada proses belajar. Terlihat bahwa mahasiswa psikologi UIN harus menerapkan self-regulated learning selama kegiatan akademis berlangsung, seperti menetapkan tujuan pendidikan atau subtujuan dan merencanakan langkah selanjutnya, pengaturan waktu dan menyelesaikan aktivitas yang berhubungan dengan perkuliahan akademik dengan bertujuan untuk mengurangi kecemasan akademik.
Selain menggunakan variabel self-efficacy dan kecemasan akademis, peneliti menambahkan variabel angkatan (grades) dan jenis kelamin. Pada hasil penelitian mengenai pengaruh variabel angkatan (grades) dan jenis kelamin terhadap self- regulated learning, tidak terdapat satupun yang berpengaruh. Hasil penelitian ini
tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Zimmerman & Martinez-Pons (1990) menunjukkan hasil analisis mengenai perbedaan jenis kelamin dalam penggunaan strategi self-regulated learning bahwa secara signifikan perempuan lebih mengingat dan memonitor diri, mengatur dan merencanakan tujuannya dibandingkan laki-laki. Selanjutnya, di dalam penelitian ini juga ditemukan hasil bahwa strategi self-regulated learning berkaitan secara signifikan dengan tingkatan (grades) dalam sekolah (Zimmerman & Martinez- Pons, 1990). Variabel grades (angkatan) tidak memberi sumbangan varians sama sekali, dan variabel jenis kelamin hanya memberi sumbangan atau pengaruh sebesar 0,1% bagi self-regulated learning mahasiswa psikologi UIN. Berdasarkan penelitian ini sebanyak 47% atau 94 responden memiliki self-regulated learning
yang rendah yang artinya mahasiswa psikologi UIN Jakarta masih sedikit sekali memiliki strategi dalam belajar yang efektif.
5.3 Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis seluruh proses dan isi laporan, masih terdapat ketidaksempurnaan, sehingga ada beberapa saran yang dapat diberikan untuk selanjutnya dapat digunakan bagi yang menggunakan topik atau pendekatan yang sama, antara lain:
5.3.1 Saran Teoritis
1. Jika ada yang ingin melanjutkan penelitian dengan tema yang sama, disarankan agar sebaiknya dispesifikkan ke dalam satu bidang studi,
seperti mata kuliah statistik serta menambahkan beberapa variabel lain yang ikut mempengaruhi self-regulated learning.
2. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk terlebih dahulu menggunakan elisitasi dalam mengukur konstruk-konstruk psikologisnya.
3. Pada penelitian selanjutnya diharapkan ketika menyebar angket di perhatikan situasinya, misalnya ketika responden dalam tekanan mengerjakan tugas kuliah atau ketika selesai ujian agar kecemasan akademisnya bisa terukur.
5.3.2 Saran Praktis
1. Berdasarkan hasil penelitian ini, self-efficacy menjadi prediktor kuat bagi self-regulated learning. Hal praktis yang dapat dilakukan pelaku pendidikan seperti dosen pengajar dan dosen pembimbing akademik adalah untuk meningkatkan self-efficacy mahasiswa dengan cara memberikan tugas-tugas sesuai dengan kemampuan mahasiswa, tingkatkan rentang kesulitannya secara bertahap serta memberikan persuasi verbal untuk meningkatkan self-efficacy mahasiswa, seperti pernyataan yang memberikan keyakinan kepada mahasiswa bahwa mereka memiliki kemampuan yang memadai untuk mencapai yang diinginkan.
2. Sesuai hasil penelitian, untuk meningkatkan self-regulated learning
dapat ditempuh dengan cara mengurangi kecemasan dalam kegiatan akademis, baik di universitas maupun di luar universitas. Hal tersebut dapat dilakukan oleh mahasiswa dengan cara melakukan pengulangan, elaborasi, organisasi, dan meregulasi metakognitif pada mata kuliah mahasiswa tersebut. Kemudian diharapkan mahasiswa psikologi UIN mengatur atau menambah kemauan untuk memulai, mempersiapkan tugas berikutnya atau menyelesaikan aktivitas tertentu atau sesuai tujuan. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan dapat mengatur waktu dan tempat dengan membuat jadwal belajar untuk mempermudah proses belajar, dan mencoba mendapatkan bantuan dari teman sebaya, orang tua, atau dosen apabila mengalami kesulitan.
DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, RL. (1983). Pengantar psikologi, Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Azwar, S. (2008). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bandura, A. (1986). Social foundation of thought and action: A social cognitive
theory. Englewood Cliffs, NJ:Prentice Hall.
Bandura, A. (1997). Self efficacy: The exercise of control. New York: Freeman and Company.
Conger, J.J. (1993). Adolescence and youth: Psychologycal development in a changing world. Fifth Edition. New York: AddisonWesley Longman Inc. Darajat, Z. (1986). Kesehatan mental. Jakarta: Gunung Agung.
Ghufron, M. N., & Rini R. S. (2010). Teori-teori psikologi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Holmes, D. (1991). Abnormal psychology. New York: Harper Collins Publisher, Inc.
Joo, Young-Ju., Mimi Bong & Ha Jeen Choi. (2000). Self-efficacy for self- regulated learning, academic self-efficacy, and internet self-efficacy in web- based instruction. ETR&D, Vol. 48, No. 2
Kaplan, H, I.,Benjamin J. S.,&Jack A. G. (1997). Sinopsis psikiatri: Ilmu pengetahuan perilaku psikiatri klinis. Jakarta: Binarupa Aksara.
Kartono, K. (1981). Patologi sosial 3: Gangguan gangguan kejiwaan. Jakarta: CV Rajawali.
Matthews, G., Davies D.R., Westerman, S.J, Stammers, R.B. (2000). Human performance cognition, stress and individual differences. Philadelphia: Psyhology Press.
Nevid, J. S., Spencer A. R., & Beverly G. (2005). Psikologi abnormal. Jakarta: Penerbit Erlangga.
O'Connor, F. (2007). Frequently asked questions about academic anxiety. New York: The Rosen Publishing Group.
Ottens, A.J. (1991). Coping with academic anxiety. New York: The Rosen Publishing Group.
Pajares, F. dan Tim Urdan. (2006). Self efficacy beliefs of adolescents. Connecticut: Information Age Publishing.
Pintrich, P.R., E.V de Groot. (1990). Motivational and self-regulated component of classroom. Journal of Educational Psychology, 82, 1, 33-40.
Prasetyo, A., & Febriana W. (2008). Pengaruh stress terhadap komitmen mahasiswa mahasiswa universitas airlangga untuk menyelesaikan pendidikan mereka dengan faktor kecemasan sebagai variabel moderator. Majalah Ekonomi, Tahun XVIII, No. 3
Pratiwi, A. (2009). Hubungan antara kecemasan akademis dengan self-regulated learning pada siswa rintisan sekolah bertaraf internasional di SMA Negeri 3 Surakarta.FakultasPsikologi Universitas Diponegoro: Semarang.
Santrock, J. W. (2007). Psikologi pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Schultz, D. & Schultz, E. S. (2005). Theories of personality (8th ed). Wodsworth. Schwarzer, dkk. (1996). Indonesian adaptation of the general self efficacy scale.
http://www.ralfschwarzer.de/ diakses pada tanggal 17 Mei 2011.
Sevilla, C. G. (2006). Pengantar metode penelitian. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Sugiyono. (2009). Metode penelitian administrasi. Bandung: CV ALFABETA.
Sukmadinata, N.S. (2003). Landasan psikologi proses pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Umar, J. (2010). http://www.fpsi-uinjkt.ac.id/main/about/ diakses pada tanggal 21 Desember 2010.
Valiante, G. dan Pajares, F. (1999). The inviting/disinviting index: Instrument validation and relation to motivation and achievement. Journal ofInvitational Theory and Practice. 6, 1, 28-47.
Wolters, C.A. (1998). Self regulated learning and college student regulation of motivational. Journal of Educational Psychology, Vol. 80, No. 3, 284-290. Wolters, C.A. Pintrich, P.R., & Karabenick, S.A. (2003). Assesing academic self-
regulated learning. Conference on Indicators of Positive Development: Child Trends. Hal 8-24
Yukselturk, E., & Bulut, S. (2009). Gender differences in self-regulated online learning environment. Educational Technology & Society, 12 (3), 12–22. Zimmerman, B. J. (1989). A social cognitive view of regulated academic learning.
Journal of Educational Psychology, Vol. 81, No. 3, 329-339
Zimmerman, B. J & Martinez-Pons. (1990). Student differences in self-regulated learning: Relating grade, sex, and giftedness to self-efficacy and strategy use.
LAMPIRAN A
SKALA PENELITIAN
((Skala Uji Coba)
Kepada Yth. Responden penelitian Assalamuallaikum Wr,Wb.
Semoga Anda selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT sehingga dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan baik. Saya adalah Mahasiswa Program Sarjana Reguler Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri UIN Syarif Hidayatullah yang sedang mengadakan penelitian mengenai “Pengaruh Self Efficacy dan Kecemasan Akademik terhadap Self Regulated Learning pada Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jakarta”. Saya mengharapkan kesediaan anda berpartisispasidalam penelitian ini.
Silahkan Anda mengisi kuesioner ini dengan mengikuti petunjuk yang diberikan dan TIDAK ADA JAWABAN SALAH dalam kuesioner ini, selama Anda mengisi jawaban sesuai dengan keadaan Anda saat ini. Data diri dan semua jawaban Anda akan diolah secara kelompok, bukan perorangan juga diperlakukan secara RAHASIA dan hanya untuk kepentingan penelitian. Atas perhatian dan bantuannya saya ucapkan terimakasih.
Wassalamua’laikum Wr. Wb
Hormat saya,
Hanny Ishtifa DATA DIRI
o Nama (Inisial) :
o Jenis Kelamin (silang salah satu) ( ) Perempuan
( ) Laki-laki
o Umur : Tahun
o Angkatan ( beri tanda silang salah satu): ( ) 2010
( ) 2009 ( ) 2008 ( ) 2007
Petunjuk Pengisisan
Berilah tanda silang ( X ) pada jawaban yang paling sesuai dengan keadaan Anda saat ini sesuai dengan pilihan jawaban yang diberikan, yaitu:
SS : Sangat Setuju S : Setuju
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju Contoh:
SKALA 1 Petunjuk
Bacalah dengan seksama setiap pernyataan, lalu berilah tanda silang ( X ) pada jawaban yang menggambarkan informasi diri Anda.
N0 Pernyataan SS S TS STS
1. Pemecahan soal-soal yang sulit selalu berhasil bagi saya, kalau saya berusaha.
2. Jika seseorang menghambat tujuan saya, saya akan mencari cara dan jalan untuk meneruskannya.
3. Saya tidak mempunyai kesulitan untuk melaksanakan niat dan tujuan saya.
4. Dalam situasi yang tidak terduga saya selalu tahu bagaimana saya harus bertingkah laku.
5. Kalau saya akan berkonfrontasi dengan sesuatu yang baru, saya tahu bagaimana saya dapat
menanggulanginya.
6. Untuk setiap problem saya mempunyai pemecahan.
7. Saya dapat menghadapi kesulitan dengan tenang, karena saya selalu dapat mengandalkan kemampuan saya.
8. Kalau saya menghadapi kesulitan, biasanya saya mempunyai banyak ide untuk mengatasinya.
9. Dalam kejadian yang tidak terduga saya kira, bahwa saya akan dapat menanganinya dengan baik.
10. Apapun yang terjadi, saya akan siap menangani
N0 Pernyataan SS S TS STS
masalah yang ada
11. Keyakinan saya terhadap kemampuan diri semakin bertambah, ketika saya dapat melewati hambatan
12. Jika saya harus bertentangan dengan sesuatu yang baru, saya tahu bagaimana mengatasinya
13. Saya akan meminta bantuan orang lain, jika saya merasa kesulitan menyelesaikan suatu tugas
14. Saya tidak yakin dapat menyelesaikan tugas-tugas yang sulit
15. Keberhasilan yang saya dapatkan, karena saya yakin akan kemampuan saya dalam menyelesaikan tugas- tugas yang diberikan
16. Saya tidak menyukai tugas yang memiliki tantangan
17. Sesulit apapun kondisi yang sedang saya hadapi, saya yakin dapat melewatinya
18. Seberapapun banyak aktivitas yang saya lakukan, saya yakin dapat menyelesaikan tugas di setiap aktivitas tersebut
19. Jika orang lain bisa sukses, maka saya pun bisa
20. Keputusan saya mengikuti banyak aktivitas adalah karena saya yakin dapat melaksanakan tugas di tiap aktivitas tersebut
21. Pengalaman yang saya miliki membuat saya yakin menghadapi tantangan hidup
SKALA 2 Petunjuk
Bacalah dengan seksama setiap pernyataan, lalu berilah tanda silang ( X ) pada jawaban yang menggambarkan diri Anda.
No Pernyataan SS S TS STS
1. Saat menyampaikan materi presentasi didalam kelas, saya merasa tegang
2. Ketika diperintahkan untuk mengumpulkan tugas kuliah, saya merasa khawatir akan mendapat nilai jelek
3. Ketika dosen menyuruh saya menerangkan materi didepan kelas, tangan saya langsung gemetar
4. Ketika dosen menerangkan materi, saya akan langsung bertanya jika ada yang tidak saya pahami
5. Saya merasa gugup, ketika dosen menyuruh saya untuk menjawab soal didepan kelas
6. Saya merasa santai dan rileks ketika mengerjakan soal ujian
7. Ketika ada tanya jawab materi didalam kelas, saya merasa takut mendapat giliran untuk menjawab
8. Saya tidak betah berlama-lama ketika perkuliahan berlangsung
9. Dalam menjawab soal ujian, saya sering terburu-buru
10. Saya ragu dalam menentukan jawaban dalam menjawab pertanyaan yang ditanyakan dosen didalam kelas
11. Saya takut ditanya oleh dosen tentang materi perkuliahan
12. Jantung saya berdebar cepat ketika saya tidak dapat mengingat materi yang telah saya pelajari
13. Meskipun telah mempersiapkan diri, saya tetap merasa tidak percaya diri dalam menjawabnya
14. Saya merasa sulit berkonsentrasi ketika teman-teman saya sudah selesai dalam mengerjakan ujian
15. Saya merasa tegang karena diperhatikan dosen saat ujian
16. Ketika dosen memulai tanya jawab dikelas, jantung saya langsung berdebar cepat
17. Saya merasa khawatir ketika dosen mengajukan pertanyaan tentang materi perkuliahan
18. Jantung saya berdebar cepat ketika saya ditunjuk oleh dosen untuk menerangkan materi perkuliahan di dalam kelas
19. Saat menyelesaikan soal ujian, saya mendapati tangan saya berkeringat
20. Dalam mengerjakan soal ujian, saya selalu hati-hati dan teliti
21. Saya merasa tegang dalam menghadapi masalah saya
22. Saya merasa gemetar ketika harus menyelesaikan tugas individu dikelas
23. Saya dapat berkonsentrasi dengan baik, walaupun teman-teman dikelas berisik
24. Saya tidak yakin dengan keputusan yang saya ambil
25. Saya merasa tegang ketika perkuliahan berlangsung
26. Ketika akan mempresentasikan makalah didepan kelas, jantung saya berdetak cepat
27. saya merasa khawatir, jika saya tidak memahami materi yang disampaikan dosen dikelas
28. Menjelang ujian, telapak tangan dan kaki saya terasa dingin
29. Saya merasa keputusan yang saya ambil salah
30. Karena terburu-buru dalam membaca soal ujian, pemahaman saya sering salah
31. Saya merasa sulit berkonsentrasi, ketika di dalam kelas teman-teman saya berisik
32. Saya takut jika tidak mampu memahami materi perkuliahan yang diajarkan
33. Saya mampu mengambil keputusan dengan benar
34. Ketika dosen membagikan soal ujian, tangan saya merasa gemetaran
35. Saya dapat menjawab pertanyaan yang diajukan dosen dengan lancar
36. Saya sering terburu-buru dalam menjawab soal sehingga sering salah dalam menjawabnya
37. Jantung saya berdebar cepat ketika ujian saya selesai paling terakhir
38. Saya takut tentang kemungkinan dijauhi teman-teman jika mereka mengetahui saya tidak lulus dalam ujian
39. Sementara saya mengerjakan ujian, saya banyak mengeluarkan keringat
40. Saya merasa sulit memahami suatu tugas, sehingga saya harus membacanya kembali (berulang-ulang) sampai saya mengerti
SKALA 3 Petunjuk
Bacalah dengan seksama setiap pernyataan, lalu berilah tanda silang ( X ) pada jawaban yang menggambarkan diri Anda.
No Pernyataan SS S TS STS
1. Saya mengumpulkan informasi dari berbagai sumber yang berbeda, seperti dari dosen, buku bacaan, dan diskusi
2. Saya membaca bahan dan catatan mata kuliah dan mencoba untuk menemukan ide/ topik yang paling penting dari materi tersebut
3. Selama kelas berlangsung saya sering melewatkan point yang penting karena saya memikirkan hal yang lain
4. Saya mengatakan kepada diri saya bahwa saya harus tetap berusaha belajar sebanyak yang saya bias
5. Saya memberitahu diri saya pentingnya belajar mengenai suatu materi kuliah karena saya akan membutuhkannya di kemudian hari
6. Ketika belajar, saya akan berkonsentrasi dengan baik
7. Saya mengingatkan diri saya tentang pentingnya untuk mendapatkan nilai bagus.
8. Apabila saya membutuhkan pertolongan dalam kelas, saya akan minta bantuan pada seseorang
9. Saya membuat belajar lebih menyenangkan dengan mengubahnya menjadi permainan
10. Sebelum masuk kelas, saya membaca catatan saya dan berlatih mengingatnya secara berulang kali
11. Saya akan membuat grafik, diagram atau tabel untuk membantu saya merangkum materi kuliah
12. Saya membuat perjanjian dengan diri sendiri apabila saya mendapat nilai bagus dari apa yang saya kerjakan saya dapat melakukan sesuatu yang menyenangkan setelahnya
13. Saya membujuk diri saya untuk tetap belajar untuk melihat sebanyak apa saya dapat belajar
sesuatu yang saya senangi atau sesuatu yang menarik