BAB V. KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN DAN
A. Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemaknaan penderitaan dimulai dari penghayatan penderitaan tanpa makna sampai dengan penghayatan penderitaan dengan makna. Setelah penghayatan penderitaan tanpa makna, terjadilah proses pemaknaan penderitaan melalui nilai-nilai kepercayaan terhadap Tuhan, hubungan dengan orang lain, keterlibatan dalam aktivitas kerja dan menyerahkan diri pada pengalaman keindahan.
Penderitaan, melalui nilai-nilai tersebut, dimaknai sebagai: 1) keadaan yang ditakdirkan Tuhan, 2) pembentuk karakter dan tantangan agar tidak menyerah dan putus asa menghadapi penderitaan, dan 3) hidup baru yang Tuhan berikan melalui hemodialisa.
Makna penderitaan memunculkan cara-cara bersikap sebagai bentuk trensendensi diri yaitu perubahan sikap terhadap penderitaan, komitmen menjalani hemodialisa, bertanggungjawab, menerima kondisi fisik yang sakit, mengasihi orang lain, menemukan makna hidupnya, dan berorientasi pada masa depan.
B. KETERBATASAN PENELITIAN
Penelitian mempunyai keterbatasan jumlah subyek yang hanya berjumlah dua orang. Penelitian mendapatkan hasil yang terbatas karena hanya memperlihatkan makna penderitaan yang sama. Dinamika pembahasan pun terbatas pada kesamaan tersebut.
Subyek penelitian ini pada awalnya berjumlah tiga orang. Satu subyek mengundurkan diri dengan alasan takut pada topik penelitiannya yang membuatnya harus mengingat masa lalunya.
C. SARAN
Saran yang dikemukan oleh peneliti adalah sebagai berikut : 1. Bagi peneliti lainnya
a. Berangkat dari keterbatasan penelitian ini, penelitian yang akan datang disarankan melibatkan subyek yang lebih banyak untuk menemukan berbagai makna penderitaan.
b. Subyek penelitian ini adalah subyek yang rentan mengalami masalah-masalah psikologis. Penelitian yang akan datang disarankan untuk memastikan kesediaan subyek mengikuti proses penelitian sampai akhir.
2. Bagi pihak medis (rumah sakit, dokter dan paramedis)
a. Rumah sakit, dokter, dan paramedis perlu memahami bahwa pengalaman sakit adalah pengalaman krisis kehidupan yang dapat menimbulkan masalah psikologis. Oleh karenanya, penting bagi pihak
medis memperhatikan masalah psikologis yang muncul dan menyediakan jasa profesional untuk mengatasi hal tersebut.
b. Rumah sakit, dokter, dan paramedis perlu membentuk interaksi komunikasi yang baik dalam penyampaian diagnosa penyakit dan pengobatannya. Hal ini bertujuan menghindari kesalahpahaman penyakit dan pengobatan yang harus dijalani sehingga tidak memunculkan masalah psikologis.
3. Bagi praktisi psikolog kesehatan dan ahli kesehatan masyarakat
a. Melalui penelitian ini ditemukan informasi negatif (memperpendek umur dan proses yang menyakitkan) tentang penyakit gagal ginjal kronis dan hemodialisa. Peran psikolog kesehatan dan ahli kesehatan masyarakat dibutuhkan untuk melakukan intervensi sosial dengan mempromosikan hemodialisa secara obyektif dan simpatik sehingga pasien tidak takut menjalaninya.
b. Psikolog kesehatan perlu menyatukan diri dalam kerja sama di rumah sakit untuk menangangi masalah psikologis yang muncul dengan menyediakan konseling dan metode-metode lainnya untuk penemuan makna penderitaan.
4. Bagi Keluarga
a. Penemuan makna penderitaan sangat tergantung dari hubungan penderita dengan keluarga. Oleh karena itu, agar penderita dapat memaknai penderitaanya secara positif, keluarga perlu menyediakan dukungan sosial seoptimal mungkin bagi penderita.
50
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, S. (2002). Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya (ed. ke-2). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Bastaman, H.D. (1996). Meraih Hidup Bermakna : Kisah Pribadi Dengan Pengalaman Tragis. Jakarta : Paramadina.
Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (ed. ke-4). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Carpenter, C. B., & Lazarus, C. M. (1984). Dialysis And Transplantation In The Treatment Of Renal Failure. New Jersey : McGraw-Hill.
Chochinov, H. (2009). Prognostic Acceptance And The Well-Being Of Patients Receiving Palliative Care For Cancer [Abstrak]. Journal Of Clinical Oncology Abstract, 27.
Creswell, J.W. (1998). Qualitative Inquiry And Research Design Choosing Among Five Traditions. California : Sage Publications, Inc.
Frankl, V. E. (1963). Man’s Search For Meaning An Introduction To
Logotherapy. London : Hodder and Stougton.
Frankl, V. E. (1968). The Doctor And The Soul “A New Approach To The Neurotic Personality Which Emphasizes Man’s Spritual Values And The Quest For Meaning In Life”. New York : Knopf, Inc.
Guyton & Hall. (2007). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (ed. ke-11). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Hawari, D. (2007). Psikoterapi Doa. Diambil dari www.ishlah.com pada tanggal 30 April 2011.
Himpunan Psikologi Indonesia. (2008). Kode Etik Psikologi Indonesia : Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Psikologi Indonesia (ed. ke-4). Jakarta : Author. Holmes, T. H., & Rahe R. H. (1967). The Social Readjustment Rating Scale.
Journal of Psychosomatic Research, 11, 213-218.
Hurlock, E. B. (1973). Adolescent Development (ed. ke-4). New York : McGraw-Hill.
King, G. (2004). The Meaning Of Life Experiences : Application Of A Meta-Model To Rehabilitation Sciences And Services [Abstrak]. American Journal of Orthopsychatry Abstracts, 74.
Lyons, A. C., & Chamberlain, K. (2006). Health Psychology, A Critical Introduction. New York : Cambridge University.
Pollock, S. E., & Sands, D. (1997). Adaptation To Suffering Meaning And Implications For Nursing [Abstrak]. Journal of Clinical Nursing Research Abstracts, 6.
Santoso, J. (2008). Kasus Gagal Ginjal di Indonesia Tinggi. Diambil dari www.antara.com pada tanggal 30 April 2011.
Smeltzer, C. S., & Bare, G. B. (2002) Buku Ajar Keperewatan Medical Bedah (ed ke-8). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Smith, J. A. & Osborn, M. (2003) Interpretative Phenomenological Analysis. Dalam J. A. Smith (Ed.), Qualitative Psychology : A Practical Guide to Method (ed. ke-2). London : Sage
Starck, L. P. (1985). The Meaning Of Suffering Experience. Texas : The University Of Texas.
Suminar, M. (2001). Pengalaman Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronis Yang Melakukan Hemodialisa. Skripsi-tidak diterbitkan. Bandung : Universitas Padjajaran.
Suwitra, K. (2009). Hemodialisa. Dalam W. Sudoyo (Ed), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II (ed. ke-5). Jakarta : Internal Publishing.
Wilson, L. M., & Price, S. A. (Ed). (2006). Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit (ed. ke-6). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Yudiartini, N. (2005). Persepsi Pasien Gagal Ginjal Kronis (GGK) Terhadap
Tindakan Hemodialisis Di Unit Hemodialisa Rsud Undata Palu. Skripsi-tidak diterbitkan. Palu : Pendidikan Keperawatan Justitia.
INTERVIEW PROTOCOL
Waktu Interview (Tanggal/Jam) :Durasi Interview :
Tempat :
Nama Interviewe (Insial) :
Pekerjaan : Status Pernikahan : Usia : Sakit Sejak : No Panduan Pertanyaan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
Bisakah anda menceritakan secara singkat riwayat masalah penyakit ginjal anda?
Apa yang anda pikirkan saat anda mengetahui kenyataan itu?
Bagaimana perasaan anda saat mengetahui bahwa anda sakit dan harus menjalani hemodialisa?
Bisakah anda menceritakan bagaimana aktivitas kerja anda sehari-hari saat ini? Adakah perbedaan
Dorongan : Aktivitas kerja, sebelum dan sesudah? Bila ada perbedaan, bagaimana itu bisa terjadi?Apa yang anda dapatkan melalui aktivitas-aktivitas yang anda kerjakan?
Bagaimana anda memandang hidup anda saat ini?
Dorongan : Terkait dengan keadaan saat ini, bagaimana anda melihat suatu kebenaran dalam filsafat hidup? Bagaimana anda mengalaminya?
Menurut anda, bagaimana kehadiran orang lain bagi diri anda?
Dorongan : Pasangan, keluarga dan kerabat. Adakah perubahan dari mereka?Adakah pengaruhnya terhadap anda?
Menurut anda, Bagaimana cara orang lain memandang diri anda?
Dorongan : Adakah pengaruhnya?
Dari hari ke hari, bagaimana cara anda menghadapi penyakit gagal ginjal ini (Rasa sakit yang diderita) ?
Dorongan : Apakah anda memiliki strategi khusus, cara-cara menghadapi secara praktis dan mental. Melalui spiritual dan doa-doa.
Bisakah anda menceritakan apa yang akan anda lakukan ke depan?
Dorongan : Apakah terjadi perubahan tujuan hidup sebelum dan sesudah sakit?
VERBATIM WAWANCARA SUBYEK I CH
No Komentar Verbatim Judul Tema
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. Menolak untuk
menjalani cuci darah
Adanya ketakutan untuk cuci darah sehingga menolak dan menjalani alternatif pengobatan lain
Kembali ke medis setelah pengobatan alternaitif dirasakan sia-sia
Keluhan-keluhan fisik yang dikaitkan dengan penyakit tertentu.
Pengecekan lengkap
Saya ada beberapa
pertanyaan terkait dengan penelitian saya bu.
Oh iya gak apa-apa mas. Silahkan saja.
Baik terima kasih bu. Langsung saja ya bu. Hmmm... ibu bisa
menceritakan kepada saya secara singkat riwayat penyakit ibu ?
Hmm. saya sakitnya sejak umur 40 tahun. Kan baru sekitar 2 tahunan ini. Berarti cuci darahnya setahun, tahunya penyakit ini 2 tahun yang lalu tapi belum mau menjalani cuci darah selama satu tahun. Ah pas waktu itu kan berobat lanjut terus ke makasar sudah divonis cuci darah tapi saya masih takut menolak. Jadi saya coba aternatif lain ke herbal. Kurang lebh dua bulanan saya konsumsi herbal ternyata tidak ada hasilnya ahh akhirya kembali ke medis lagi sudah jalani cuci darah. Waktu itukan sudah sempat koma pas di poso kan karena saya dari Poso.
Awalnya sakit itu seperti apa bu?
Pertama sakit awal-awalnya itu keluhannya cuma mual, terus asam urat jadi dokter waktu itu bilang cuma sakit asam urat sama lambung. Berapa bulan saya juga pernah diopame waktu itu, dari dokter di sana tidak pernah bilang kalau saya sakit ginjal, akhirnya dirujuk ke palu. Tes laboratorium lengkap di sini
Penolakan terhadap
kenyataan
48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97.
untuk mengetahui jenis penyakit.
Usaha untuk mencari pengobatan yang lebih baik dan akurat. Vonis pertama harus menjalani cuci darah
Melakukan pengobatan herbal untuk
menghindari cuci darah
Keadaan semakin parah dan akhirnya bersedian menjalani cuci darah.
Perasaan terkejut mendengar vonis gagal ginjal kronis dan harus cuci darah.
Terjadi penolakan pada cuci darah terkait kurangnya pemahaman tentang cuci darah.
baru diketahui kalau ada kerusakan ginjal dan waktu itu sudah stadium hmmm, infeksi ginjal. Akhirnya saya jalani berobat ke dokter terus lanjut ke makasar, saya langsung berobat ke konsultan ginjal, profesor disana. Nah di makasar itulah sudah divonis saya cuci darah, tapi fisik waktu itu belum istilahnya masih bagus, jalan masih kuat cuma berat badan menurun sendirilah. Dari makasar itu saya berangkat ke jawa kurang lebih 3 bulan saya di sana. Ke jakarta saya
berobat,ke herbal. Kurang lebih 2 bulanan saya konsumsi herbal, saya pulang ke poso, di situ sudah saya parah, sempat koma, baru di bawa ke palu. Datang dari poso, langsung cito kan cuci malam.
Berarti ibu di vonisnya di makassar ya bu?
Iya. Vonis pertama cuci darah itu di Makasar dan ketika mendengar itu saya shock berat, shock istilahnya tidak terima dan waktu itu kan pemahaman tentang cuci darah itu kan kurang, baru waktu kan juga dokter tidak menjelakan proses cuci darah gimana, maksudnya dia tidak memberi dengan keterangan dan bahwa cuci darah itu seperti ini. Sayananti tahu cuci darah itu prosesnya begini ini. Kalau saya tahu dari dulu begini kan sudah dari dulu tahun lalu itu cuci darah. Dulu saya pikir kalau cuci darah itu, darahnya kita dikeluarkan, darahnya orang lain dimasukan, gak tahukan prosesnya gimana. Informasikan juga kurang kalau tentang cuci darah HD. Jadi waktu itu, saya sempat shock.
Menolak pengobatan yang dikaitkan dengan rasa takut
Menerima kenyataan
dalam keadaan tak
berdaya
Terkejut mendengar
informasi yang tidak diduga
Menolak pengobatan yang
dikaitkan dengan
98. 99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. Adanya pikiran-pikiran negatif tentang cuci darah
Adanya pikiran negatif mendorong usaha untuk mencari alternatif pengobatan yang lebih baik
Shock pada cuci darah dan juga pada penyakit gagal ginjal kronisnya.
Terjadi penolakan, tawar menawar terhadap upaya penyembuhan
Adanya penyesalan dan perasaan marah.
Kebingungan dalam melampiaskan rasa marahnya namun akhirnya memilih marah kepada diri sendiri serta
Saya tidak kepikiran sekali tentang proses cuci darah itu kayak bagaimana. Mungkin karena masukan dari orang-orang bahwa cuci darah itu katanya tinggal sekian persen kita hidup. Terus katanya kalau orang sudah cuci darah itu, pokoknya bayangan saya itu tidak ada yang baik. Jadi mungkin mencoba ke alternatif. Pikiran saya kalau alternatif kan karena dia menjanjikan tidak akan cuci darah.
Saya pikir juga ini tentang hemodialisa ini kurang sosialisasinya ke masyarakat. Jadi itulah saya punya
pandangan tentang hemodialisa ini negatif padahal setelah saya jalani oohhh begini.
Jadi, ibu shocknya lebih pada masalah cuci darahnya atau pada masalah sakitnya? Cuci darahnya ia, sakitnya juga iya. Jadi satulah semuanya. Makanya keluarga juga shock, jadi kita beralih ke alternatif. Saya sempat kaget,shock berat, dan sempat terjadi penolakan, sampai saya bilang apakah tidak ada jalan lain, tapi dokter bilang tidak ada jalan lain harus cuci darah.
Ibu merasa shock ya? Rasa shocknya itu seperti apa ya bu?
Ehh, marah, kecewa ya
menyesal begitu lah. Menyesali kok bisa begini. Perasaan itu kayak ya marah-marah. Mau marah sama Tuhan ya kayaknya tidak, mungkin marah pada diri sendiri lebih banyak. Pertama juga benci sama dokternya, ada rasa ih kok dokternya langsung
Bergulat dengan
ketakutan akan informasi negatif dari luar diri
Menolak pengobatan yang
dikaitkan dengan
ketidaktahuan
Terkejut mendengar
informasi yang tidak diduga
Penolakan terhadap
kenyataan
Perilaku tawar-menawar
Rasa marah dan sedih Rasa penyesalan yang mendalam
Ketiadaan kontrol diri
Marah mendapat
perlakuan yang tidak baik
148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195. 196. 197.
dokter yang memvonis.
Menyikapi keadaan dengan menangis, teriak dan menyesal.
Waktu yang relatif cepat untuk mengendalikan perasaan sedih dan penolaka
Menyesali kenyataan mengidap penyakit berat karena tidak mau menjaga kesehatan.
Merasa sudah melakukan tindakan untuk menjaga kesehatan lalu marah karena tetap menderita penyakit berat
Adanya kemarahan pada dokter yang tidak dapat mendeteksi sejak dini
bilang begitu. Maksud saya pertama kali dia vonis saya itu, maunya dia jelaskan dulu penyakit saya tapi dia tidak tanpa penjelasan langsung bilang penyakit ibu tidak ada obatnya, obatnya Cuma cuci darah. Kan kita tidak mengerti penyakitnya ini kenapa kok dokter langsung bilang cuci darah. Jadi pertama marah pada dokternya, kedua shok itu rasa langsung ingin menangis sedih dan malam itu saya menangis memang lama. Ingin teriak, menyesal kok begini, kok kenapa harus punya penyakit seperti ini. Tapi ya tidak lama, tidak berlanjut lama. Cepat saya mengendalikan bahwa ini sudah diatur oleh yang maha kuasa.
Oh ya tadi ibu bilang ada perasaan menyesal, kalau boleh tahu bagaimana perasaan menyesal itu? Menyesalnya itu kenapa kok bisa punya penyakit berat begini. Menyesal itu maksudnya kok saya gak mau jaga
kesehatan saya dulu. Kenapa saya terlalu sering
mengkonsumsi obat, itu menyesalnya dulu. Kalau tahu deteksi dari dulu mungkin kita sudah jaga-jaga kan. Baru saya kan orangnya suka olah raga. Gak bisa gak olah raga. Saya kan orangnya aktif. Jadi ketika saya kena penyakit itu, saya marah saya bilang kenapa saya harus kenapa penyakit ini padahal saya sudah olahraga. Jarang makan berlemak. Itulah rasa penyesalan. Kok bisa punya penyakit begini. Marahnya lagi itu sama dokter yang pertama
informasi
Penolakan yang dikaitkan dengan ketidaktahuan Ketiadaan kontrol diri
yang memunculkan
kekecewaan
Penolakan kenyataan
Butuh waktu untuk
memunculkan kepasrahan
Rasa penyesalan yang mendalam
Sikap menyalahkan diri sendiri
Adanya rasa marah Penolakan pada kenyataan
198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234. 235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. Mencoba menerima keadaan yang sudah terjadi
Menyadari sebagai manusia yang tidak mungkin hidup tanpa menyesal
Merasa beruntung karena ada keluarga yang mendampingi dan menerima dirinya apa adanya.
Menyadari bahwa keluarganya mengalami kesedihan yang sama namun berusaha membantu
menghilangkan rasa sedih dn penyesalan. Menyesali usaha untuk sembuh yang pernah dilakukan melalui pengobatan alternatif.
tangani saya. Kenapa tidak dia bilang dari awal padahal kan bisa dideteksi. Nah itu semua lah. Makanya saya menyesal. Kenapa tidak diketahui dari awal. Kenapa tidak langsung ke lab, berobat dari dulu padahal kan punya fasilitas. Tapi ya sudah, kalau memang sudah digariskan seperti itu ya sudah, saya merasa bahwa ini bagian dari hidup saya. Karena kalau Cuma disesali terus buat apa. Toh kita harus tetap hidup jadi ya saya mencoba bangkit, menerima dan ya anggap semua penyesalan tadi sebagai
pelajaran. Ya memang sebagai manusia kan tidak mungkin tidak menyesal. Saya rasakan itu dibulan-bulan awal. Untungnya ada bapak, keluarga yang ada terus disamping saya. Sama-sama mereka menerima saya apa adanya keadaan saya, yang paling penting adalah bapak. Setia sama saya ya tidak ada duanya. Dia membantu saya untuk menguatkan diri. Dia bilang jangan menyesal, jangan sedih, ya sama-sama lah istilahnya menjalani ini semua. Saya tahu bapak itu rasanya berat tapi mungkin dia memang mau membantu saya untuk segera pulih dari rasa menyesal maka dia tidak menunjukkan perasaan beratnya itu. Nah lucunya, saya juga pas mulai cuci darah jadi menyesal kenapa cuci darahnya baru sekarang. Kenapa tidak dari dulu-dulu. Dulu saya malah percaya herbal. Hahahhaaa... tapi itulah hidup kayaknya memang harus dilalui semua. Lihat orang sembuh dengan herbal, jadi ingin ke herbal nanti sudah alami sendiri ternyata tidak berefek baru sekarang
perlakuan yang tidak baik
terkait pemberian
informasi
Rasa penyesalan yang mendalam
Sikap menyalahkan diri sendiri
Menerima keadaan yang tak bisa dikendalikan
Tabah menghadapi
kenyataan
Rasa penyesalan yang mendalam
Penerimaan diri yang
muncul dari adanya
dukungan sosial
Mendapatkan perhatian dan cinta kasih dari keluarga
Menghadapi tekanan
penyesalan bersama orang lain
248. 249. 250. 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 262. 263. 264. 265. 266. 267. 268. 269. 270. 271. 272. 273. 274. 275. 276. 277. 278. 279. 280. 281. 282. 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. 297. Tetap dapat menjalankan aktivitas sebagai ibu rumah tangga dan sebagai istri.
Berhentinya melakukan aktivitas kerja yang berat karena sakit.
Aktivitas sosial tetap dilakukan seperti biasa.
Aktivitas kerja berhenti untuk menjaga kondisi tubuh.
disesali... hahahaaa... lucu juga ya. Padahal herbal itu Cuma diterawang-terawang saja. Lihat kuku lah, wajah, aura, jangan-jangan aura kasih juga.. hahahaaa..
Nah berkaitan dengan penyakit ibu tersebut.
Bagaimana aktivitas kerja ibu saat-saat ini?
Oh kalau aktivitas saya sebagai ibu rumah tangga, Saya masih tetap masak, biasalah mengurus suami dan rumah. Hubungan dengan suami juga biasa tidak ada yang berubah.
Apakah ibu juga punya aktivitas lain?
Kalau sekarang setelah sakit sudah tidak lagi. Sebelum sakit banyak kegiatanku misalnya, saya home indstri kayak katring, buat-buat kue dan jualan. Aktivitas diluar juga banyak seperti keagamaan, olah raga. Setalah sakit saya memutuskan untuk istirah total. Pensiun... heheheee... dari pekerjaan. Cuma aktivitas untuk bersosialisasi dengan lingkungan itu masih seperti keagamaan sedangkan aktivitas seperti home industri saya hentikan karena aktvitas itu menguras tenaga, menjaga kan jangan sampai kecapekan. Tapi kalau untuk konsumsi sendiri masih tetap misalnya suami ingin makan kue jadi saya buatkan atau bagi-bagi dengan tetangga. Cuma tidak berlebih seperti masak untuk makan orang 500an sekarang sudah tidak.
Tetap melaksanakan
aktivitas kerja ringan
Terjadi perubahan
aktivitas kerja yang berat.
Mengendalikan aktivitas
kerja untuk menjaga
kondisi tubuh yang tetap dilaksanakan
Mengendalikan aktivitas
kerja untuk menjaga
kondisi tubuh yang tetap dilaksanakan
Usaha memberikan
sesuatu yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain
298. 299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313. 314. 315. 316. 317. 318. 319. 320. 321. 322. 323. 324. 325. 326. 327. 328. 329. 330. 331. 332. 333. 334. 335. 336. 337. 338. 339. 340. 341. 342. 343. 344. 345. 346. 347. Kesulitan untuk menghentikan aktivitas yang disukai
Berusaha untuk tidak menyesal
Tidak mau tergantung pada orang lain
Dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri
Pemahaman bahwa rasa berat itu muncul karena tidak mau tergantung
Menyadari bahwa itulah „Aku‟
Berusaha menerima keadaan
Ohh, berarti ada perbedaan ya bu aktivitasnya sebelum dan sesudah sakit?
Iya itu pasti. Apalagi saya kan harus menjaga kondisi fisik saya kan jadi memang tidak boleh capek takutnya nanti kenapa-kenapa.
Begitu ya bu. Nah, kalau harus istirahat total itu bagaimana bu rasanya? Kan ibu yang awalnya terbiasa kerja tiba-tiba sekarang tidak?
Awalnya terasa berat kan soalnya home industri itu sudah menjadi seperti hobi, inikan hobi kan jadi rasanya susah harus berhenti. Tapi ya tidak menyesal berlarut-larut juga lah. Kan saya juga buatnya karena orang pesan. Kayak katringan begitu kan tidak setiap hari hanya selalu ada saja. Jadi saya rasakan itu berat karena dulu kan bisa punya uang sendiri sekarang sepenuhnya berharap dari suami. Dulu kan bisa beli apa begitu dengan uang sendiiri tanpa kompensasi dari suami kan rasanya enak. Bisa membantu perekonomian keluarga ya setidaknya
kebutuhan pribadi bisa terpenuhi lah. Maka saya beratnya
disitulah. Karena kan saya tidak mau terlalu mengantungkan diri sama suami. Apa yang bisa dikerja ya dikerjakan. Memang saya orangnya begitu tidak bisa hanya diam atau
menggantungkan diri saja walaupun itu suami. Tapi ya keadaan sudah begini mau gimana lagi. Smua dijalani saja.
Mengendalikan aktivitas
kerja untuk menjaga
kondisi tubuh yang tetap dilaksanakan
Konflik diri antara harus
berhenti kerja VS
kecintaan bekerja
Tabah menjalani
kenyataaan
Diri yang merasa berat untuk berhenti kerja yang dipandang sebagai bukan “Aku” yang tergantung
Bekerja untuk pemenuhan
kebutuhan diri dan
membantu keluarga
Diri yang merasa berat untuk berhenti kerja yang dipandang sebagai bukan “Aku” yang tergantung
Menyadari keadaan yang tidak bisa dikendalikan
348. 349. 350. 351. 352. 353. 354. 355. 356. 357. 358. 359. 360. 361. 362. 363. 364. 365. 366. 367. 368. 369. 370. 371. 372. 373. 374. 375. 376. 377. 378. 379. 380. 381. 382. 383. 384. 385. 386. 387. 388. 389. 390. 391. 392. 393. 394. 395. 396. 397.
Tidak butuh waktu lama untuk pulih dari
perasaan-perasaan sulit
Melakukan aktivitas hanya untuk kebutuhan kecil
Usaha untuk menyikapi dengan kuat.
Bersikap positif pada keharusan menjalani diet
Pemahaman akibat negatif jika tidak diet
Berarti ibu rasa beratnya terkait sikap ibu yang tidak suka tergantung ya?
Iya. Tapi sebenarnya suami tidak memaksakan. Makanya kalau ini berkaitan dengan hobi saya yang memang suka home industri jadi tidak terlalu rasa