BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
Fakta cerita yang meliputi Tema, Tokoh dan Alur dalam film American Dreams in China adalah sebagai berikut.
Tema dalam film American Dreams in China adalah perjuangan. Perjuangan tiga orang mahasiswa yang bersahabat dalam membangun dan mengembangkan sekolah bahasa Inggris yaitu “New Dreams” dan berhasil mengirimkan murid-murid di Cina sekolah ke Amerika walaupun mereka sendiri tidak pernah sekolah di Amerika.
Dalam film American Dreams in China terdapat dua tokoh tambahan dan ada hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama pada filmAmerican Dreams in
China adalah Cheng Dong Qing yaitu sebagai tokoh yang berkarakter
protagonis.Karakter Cheng Dong Qing sebagai tokoh utama dalam film
American Dreams in China adalah memiliki sikap pantang menyerah dalam
kegagalan yang berulang kali didapatnya dan juga seseorang yang sangat tekun dalam menimba ilmu. Sehingga film ini sangat memberi motivasi bagi pelajar atau pun mahasiswa yang menontonnya.
Tokoh tambahan lainnya adalah sahabat dari tokoh utama yaitu Meng Xiao Jun yang berkarakter protagonis digambarkan seseorang yang sangat ambisius dan Wang Yang berkarakter protagonist digambarkan seseorang yang sangat puitis.
Alur cerita dalam film American Dreams in Chinacukup sederhana dan tidak berbelit –belit. Alur yang digunakan adalah alur campuran karena diceritakan dari alur maju dahulu kemudian diceritakan ke flashback yang menjelaskan latar belakang. Tetapi alur yang diterapkan dalam film ini mudah dipahami. Didalam alur terdapat lima langkah yaitu pertama saling mengenal dimana pada alur inilah tokoh diceritakan saling mengenal satu sama lain. Kedua munculnya konflik dimana para tokoh sudah mempunyai suatu masalah. Ketiga konflik meninggi dimana pada alur ini tokoh sudah sering bertengkar. Keempat klimaks dimana emosi para tokoh sudah mulai mereda. Dan kelima penyelesaian masalah dimana pada alur ini masalah sudah selesai dan berakhir dengan bahagia
5.2 Saran
1. Penulis berharap penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya dan semoga hasil dari penelitian ini dapat menyempurnakan penelitian sebelumnya. Semoga penelitian ini juga dapat dijadikan refrerensi untuk penelitian mengenai sebuah film.
2. Penulis berharap hasil penelitian ini memberi motivasi pada pembelajar dan penikmat film untuk lebih mencintai dunia satra dan film, memberi
pengalaman hidup pada penikmat film dari sisi kehidupan lain, dan dapat mengapresiasi sebuah karya seni.
3. Peneliti berharap semoga hasil penelitian ini dapat menyempurnakan penelitian-penelitian sebelumnya mengenai kajian struktural cerita dan juga dapat dijadikan acuan untuk penelitian mengenai kajian struktural khususnya teori Boggs dan Himawan
4. Penulis berharap untuk dilakukan penelitian lagi terhadap film American
Dreams in Chinadengan fokus penelitian dan pendekatan yang berbeda.
Dengan demikian akan semakin menambah wawasan atau makna film ini dari sudut pandang yang berbeda.
BAB II
KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
Tinjauan Pustaka hasil meninjau pandangan, pendapat sesudah menyelidiki atau mempelajari (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003:1198). Pustaka adalah kitab-kitab; buku; skripsi yang isinya relevan dengan judul penelitian ini. Penelitian yang berkaitan dengan Tema Cerita yang penelitain dilakukan oleh beberapa sepengetahuan penulis, beberapa diantaranya dilakukan oleh:
Sally (2016) , dalam skripsinya yang berjudul “Kajian Struktural Film Confucius Versi 2010. Dalam skripsi ini, penulisnya menceritakan bagaimana struktur film yang terdapat dalam film Confucius dan bagaimana peran tokoh utama Chow Yun Fat melakonkan tokoh Confucius. Dalam film Confucius(孔子)terdapat beberapa tokoh bawaan tetapi hanya ada satu tokoh utama atau tokoh sentral yaitu Kong Zi. Tokoh Confucius dalam film tersebut yaitu sebagai tokoh yang berkarakter protagonis. Tema dalam film Confucius( 孔 子 )adalah tentang perjalanan hidup Kong Zi pada usia 35 tahun yang penuh dengan tantangan dan penolakan karena ajarannya tentang etika, moral, dan kemanusiaan. Selain itu mengisahkan tentang perjalanan Kong Zi selama mengembara dalam pengasingan setelah meninggalkan tanah Lu.
Irma Fitri Setyawati (2012) mahasiswa jurusan komunikasi dan penyiaran islam fakultas dakwah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dalam skripsinya berjudul Moral Anak dalam Film Hapalan Sholat Delisa mengkaji moral anak yang menggunakan metode dokumentasi dan teknik analisis model Roland Barthes. Metode ini menggu nakan teori moral dari Pam Schiller dan Tamera Bryant juga mengkaji struktur film tersebut termasuk unsur instrinsik terutama tokoh.
Rani Hastari (2012) mahasiswa fakultas ilmu budaya Universitas Indonesia dalam skripsinya yang berjudul Representasi Tokoh Kulit Hitam Film Animasi The Princess and The Frog (2009) Negosiasi Disney dalam Isu Gender dan Rasial. Dalam skripsi tersebut digunakan juga teori structural yang membahas tentang tema, alur, latar, tokoh dan penokohan dan lain-lain. Tokoh utama yang terdapat dalam film tersebut adalah Tiana, Charlotte dan Naveen. Charlotte adalah refresentasi dari putrid klasik yang berkulit putih, cantik dan menginginkan menikah dengan pangeran. Tokoh Tiana adalah sosok perempuan yang sempurna, pemberani, dan mandiri tetapi dalam film ini sosok tiana adalah seekor katak. Tokoh Naveen yaitu seorang pangeran kaya yang didepak dari kerajaannya karena tidak dapat diandalkan. Sosok Naveen digambarkan sebagai sosok yang suka menebar cinta dan menunjukkan pesonanya. Selanjutnya analisis aspek tema, dan konflik menunjukkan adanya kaitan film ini dengan konteks sosial ekonomi di New Orleands, Amerika Serikat, pada tahun 1920-an. New Oerlands menjadi latar yang memiliki “paket lengkap” sesuai cirri khas. Tema ini mengandung semangat warga Amerika untuk meraih impian dan kehidupan yang lebih baik
Referensi tersebut diatas adalah untuk acuan didalam analisis penelitian penulis dalam judul Analisis Tema Film American Dreams in China
2.2Konsep
Konsep penelitian merupakan operasional keterkaitan antar variable- variabel yang berasal dari kerangka teori dan biasanya berkonsentrasi pada satu bagian dari kerangka teori.
Penelitian membutuhkan pemahaman yang memadai mengenai istilah- istilah yang dipakai didalamnya. Istilah-istilah tersebut merupakan konsep pedoman atau panduan bagi peneliti. Adapun konsep-konsep yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Tema, Film dan Tokoh Cerita. Boggs (1992:24) mengatakan sastra dan film betul-betul memiliki banyak unsur yang sama. Biarpun keduanya adalah media yang berbeda, keduanya mengkomunikasi bermacam hal dengan cara yang sama dalam analisis sastra. Membagi film ke dalam berbagai unsurnya untuk kepentingan analisa adalah sebuah proses yang artifisial, karena unsur-unsur dari seni mana pun juga tidak pernah berwujud secara terpisah dari yang lainnya. Misalnya adalah suatu yang mustahil untuk memisahkan konsep-konsep plot dan tokoh. Peristiwa yang mempengaruhi manusia dan manusia mempengaruhi peristiwa.
Dalam sebuah karya fiksi, drama atau film keduanya terjadi dengan erat sekali. Biarpun tindakan untuk memisahkan unsur-unsur ini lalu menyorotinya secara terpisah pula merupakan tindakan yang artifisial, namun metoda analisis mempergunakan teknik ini untuk kemudahan dan kelayakannya. Tapi hal ini ia lakukan dengan kesadaran bahwa unsur-unsur ini dapat kita pelajari secara
terpisah tanpa kehilangan pandangan dari saling ketergantungan atau kaitan mereka dengan keseluruhan. Himawan (2008:2) menyatakan film, secara umum dapat dibagi atas dua unsur pembentuk yakni, unsur naratif dan unsur sinematik. Unsur naratif adalah bahan (materi ) yang akan dikaji berhubungan dengan aspek cerita atau tema film. Setiap cerita pasti memiliki unsur-unsur seperti tokoh, tema, masalah, konflik, waktu, serta lainnya.
2.1.1 Film
Menurut Nur Dwi Andayani (2007:41) Film adalah salah satu bentuk kesenian yang saling mempengaruhi antara cahaya dan bayang-bayang secara halus. Film melakukan komunikasi verbal melalui dialog (seperti drama), film mempergunakan irama yang kompleks dan halus (seperti musik), film berkomunikasi melalui citra, metafora, dan lambang-lambang (seperti puisi), film memusatkan diri pada gambar bergerak (seperti pantomime) yang memiliki ritmis tertentu (seperti tari), dan akhirnya film memiliki kesanggupan untuk memainkan waktu dan ruang, mengembangkan dan mempersingkatnya, memajukan atau memundurkannya secara bebas dalam batas-batas wilayah yang cukup lapang. Boggs (1992:23) juga mengatakan bahwa film tetaplah sesuatu yang unik walaupun terdapat kesamaan dengan media lain. Film melebihi drama karena film memiliki kemampuan mengambil sudut pandang yang bermacam-macam, gerak, waktu dan ruang yang tidak terbatas. Berbeda dari novel film berkomunikasi tidak melalui lambang-lambang abstrak yang dicetak di atas halaman kertas sehingga
memerlukan suatu penerjemah oleh otak ke pelukisan visual dan suara, tapi langsung melalui gambar-gambar visual dan suara nyata Asrul Sani(1992:4-13).
2.1.2 Struktural Film
` Produksi film yang menghasilkan suatu karya yang memiliki keunggulan sendiri sebagai media massa. Film memiliki suatu tujuan. Film tidak berwujud semata-mata untuk dirinya sendiri sebagai sebuah media massa dan objek estetis murni, melainkan berwujud pada ruang lingkup dunia sekelilingnya. Film dapat menjadi mediator realitas. Ia dapat menunjang kesan manusia tentang realitas. Pendapat ini ditunjang oleh keunggulan film sebagai media massa yang menghibur berisi gambar bergerak dengan inovasi yang tidak terbatas, musik yang canggih, dan dibuat dengan teknologi yang menghasilkan konsep visual yang menarik Asrul Sani (1984:3).
UsmarIsmail (1965:47) mengungkapkan bahwa sejak pertama kali dibuat, film langsung dipakai sebagai alat komunikasi massa atau populernya alat untuk bercerita. Menurut Himawan Pratista (2008:29) sebagai alat komunikasi massa untuk bercerita film memiliki struktur dan klasifikasi, yaitu:
Film dapat diklasifikasi menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Menurut Jenis Film a. Film Cerita (Fiksi)
Film Cerita (fiksi) adalah cerita yang dikarang dan dimainkan oleh aktor dan aktris yang sifatnya komersial.
b. Film Non Cerita (Non Fiksi)
Film Non Cerita (Non Fiksi) adalah film yang mengambil kenyataan sebagai objeknya. Film non cerita ini terbagi menjadi 2 kategori, yaitu: • Film Faktual : Film yang menampilkan fakta atau kenyataan (new
real) yang kejadiannya actual.
• Film Dokumenter : Film ini mengungkapkan fakta dan berhubungan dengan orang-orang, tokoh, peristiwa, dan lokasi yang nyata. Film documenter tidak menciptakan suatu peristiwa atau kejadian namun merekam peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi atau otentik.
Film dalam penelitian ini merujuk pada film non cerita (non fiksi) yaitu film yang nyata dan dikatagorikan kedalam film dokumenter karena membahas tentang orang-orang, tokoh, peristiwa, dan lokasi yang nyata.
2. Menurut Tema Film (Genre) a. Drama
Tema ini lebih menekan pada sisi human interest yang bertujuan mengajak penonton ikut merasakan kejadian yang dialami tokohnya, sehingga penonton merasa sedih, senang, kecewa, bahkan ikut marah.
b. Action
Tema Action mengetengahkan adegan-adegan perkelahian, pertempuran dengan senjata, atau kebut-kebutan kendaraan antara tokoh
yang baik (protagonis), sehingga penonton ikut merasakan ketegangan, was- was takut, bahkan bisa ikut bangga terhadap kemenangan si tokoh.
c. Komedi
Tema film komedi intinya adalah mengetengahkan tontonan yang membuat penonton tersenyum, atau bahkan tertawa terbahak-bahak. Film komedi berbeda dengan lawakan, karena film komedi tidak harus dimainkan oleh pelawak, tetapi pemain biasa pun bisa memerankan tokoh lucu.
Menurut tema, film “American Dreams in China” ini bertemakan atau penjelasannya merujuk pada drama, action, dan komedi.
3. Fungsi Film
Adapun fungsi film adalah sebagai berikut: a. Pendidikan
Film yang dibuat dapat membawakan pesan yang mendidik. b. Tranformasi Kebudayaan
Film yang dibuat dapat memberikan penerang pada masyarakat yang menonton
c. Hiburan
Film tersebut dapat menghibur penontonnya yang membuat tertawa, ketakutan atau sedih.
d. Penerangan
Film yang dibuat dapat memberikan penerangan pada masyarakat yang menonton.
Fungsi dalam film American Dreams in China ini merujuk pada pendidikan dan transformasi kebudayaan
2.1.2 Naratif
Himawan (2008:33) menyatakan Naratif adalah suatu rangka ian peristiwa yang berhubungan satu sama lain dan terikat oleh logika sebab-akibat (kausalitas) yang terjadi dalam suatu ruang dan waktu. Sebuah kejadian tidak bisa terjadi begitu saja tanpa ada alas an yang jelas. Segala hal yang terjadi pasti disebabkan oleh sesutau dan terikat oleh satu sama lain oleh hokum kausalitas. Dalam sebuah film cerita sebuah kejadian pasti disebabkan oleh kejadian sebelumnya. Segala aksi dan tindakan para pelaku cerita akan memotivasi terjadinya peristiwa berikutnya dan terus memotivasi peristiwa berikutnya lagi. Perubahan ini akan membentuk sebuah pola pengembangan naratif . Pola pengembangan naratif secara umum dibagi menjadi tiga tahap yakni, pendahuluan, pertengahan, dan penutupan. Pola pengembangan naratif dalam film umunya disajikan secara linier dimana sebuah rangkaian peristiwa berjalan sesuai dengan urutan waktu sebenarnya.
2.1.4 Tema
Menurut Mido (1994:18), tema adalah persoalan yang berhasil menduduki tempat utama dalam cerita rekaan dan bukan dalam pikiran pengarangnya. Hal ini mengingat yang dihadapi oleh pembaca bukanlah pengarangnya, tetapi adalah karya sastra karangannya. Jadi tema adalah persoalan atau pokok pembicaraan yang mendasari cerita.Fungsi sebuah tema adalah memberi masukan bagi elemen
struktural lain, seperti plot, tokoh, dan latar. Fungsi tema yang terpenting dalam karya sastra adalah menjadi elemen penyatu terakhir keseluruhan cerita. Artinya, pengarang menciptakan dan membentuk plot, membawa tokoh menjadi hidup, baik secara sadar atau tidak, tersurat maupun tersirat, pada dasarnya merupakan perilaku yang dituntun oleh tema yang dipilih dan telah mengarahkannya. Dalam film “America Dreams In China” tema yang diangkat adalah “New Dreams”, yaitu Impian baru tiga orang yang bersahabat dalam menggapai cita-citanya. Melalui kerja keras mereka mengembangkan bisnis dari impian semula untuk mengembangkan dunia pendidikan di negera mereka sendiri meskipun dengan keberhasilan mereka datang tantangan baru dan masalah.
2.1.4 Tokoh
Tokoh adalah perilaku cerita dalam sebuah film. Peran tokoh sangatlah penting karena sebagai sudut pandang yang utama, tokoh juga merupakan pelaku yang berperan dalam suatu cerita. Tokoh merupakan gambaran seseorang dalam film dimana para pemirsa atau penonton dapat memahami secara jelas perwatakan dari tokoh-tokoh dalam film.
Nurgianto (2007:176-177) mengungkapkan bahwa seorang pengarang cerita dituntut jeli dalam memilih seorang tokoh dalam cerita untuk menyampaikan pesan pengarang.pengarang cerita mengungkapkan permasalahan dalam suatu film melalui penampilan para tokohnya. Tokoh menunjuk pada orang atau pelaku cerita. Cerita akan terjadi hidup dengan hadirnya tokoh yang ada dan disertai berbagai konflik yang dihadapi. Melalui kajian tokoh, kita dapat mengetahui
bagaiman peran tokoh dalam suatu film, pembagian tokoh dapat dibedakan berdasarkan segi peranan dan tingkat pentingnya tokoh.
1. Tokoh Utama
Tokoh Utama (central character/main character) adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya karena tokoh utama merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh ini sangat penting dan ditampilkan secara terus menerus sehingga cenderung mendominasi sebuah cerita. Sebagian besar cerita menceritakan tentang tokoh ini sehingga Ia sangat menentukan perkembangan alur secara keseluruhan. Tokoh ini mncul sebagai orang yang dikenai kejadian dan konflik.
2. Tokoh Tambahan
Tokoh Tambahan (peripheral character) adalah tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita, dan itu pun mungkin dalam porsi penceritaan yang relatif pendek. Tokoh tambahan sering disebut sebagai peran pembantu dalam film, namun tanpa kehadiran tokoh tambahan maka jalan cerita akan kurang variatif. Tokoh tambahan biasanya seorang yang mendukung atau bahkan melawan si tokoh utama. Tokoh ini diceritakan dalam porsi yang cukup pendek. Ia adalah orang muncul untuk membantu tokoh utama baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dilihat dari watak yang dimiliki oleh tokoh dapat dibedakan atas tokoh protagonis dan tokoh antagonis.
1. Tokoh Protagonis
Tokoh yang dikenal baik dan disukai oleh penonton. Tokoh ini memiliki dua sisi kepribadian yang berbeda.
2. Antagonis
Tokoh yang biasanya dibenci oleh penonton. Tokoh ini biasanya berwatak buruk dan negative
Berdasarkan pembagian jenis-jenis tokoh tersebut di atas, tokoh yang diteliti dalam penelitian ini adalah tokoh utama (central character/main character). Menurut perwatakannya, tokoh yang diteliti yaitu tokoh yang sering muncul atau round character yang protagonist. Tokoh utama yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah tokoh yang diperankan oleh
2.1.5 Alur
Cheng Dongxing (Huang Xiaoming), Meng Xiaojun (Deng Chao) dan Wang Yang (Tong Dawei).
Kokasih (2006:56) menyatakan alur merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat. Intisari alur ada pada permasalahan cerita. Akan tetapi suatu permasalahan tidak bisa dipaparkan begitu saja, harus ada dasarnya. Oleh karena itu, alur terdiri atas:
1. saling mengenal 2. munculnya konflik
3. konflik meninggi 4. klimaks
5. menyelesaikan konflik atau masalah
di tahap saling mengenal pengarang mulai menggambarkan situasi dan memperkenalkan tokoh-tokoh cerita sebagai pendahuluan. Di bagian kedua pengarang mulai menampilkan pertikaian yang terjadi diantara tokoh. Pertikaian ini semakin meninggi, dan puncaknya dari masalah tersebut terjadi di bagian keempat (klimaks). Setelah fase tersebut terlampaui sampailah dibagian kelima (pemecahan masalah). Alur pun menurun menuju mencari solusi dalam masalah dan penyelesaian cerita. Itulah unsur-unsur alur yang berpusat pada konflik. Dengan adanya alur seperti diatas, pembaca dibawa kedalam suatu keadaan yang menegangkan (suspense). Suspense inilah yang menarik pembaca untuk mengikuti cerita tersebut. Dari tahap-tahap alur diatas menjelaskan bahwa kekuatan sebuah cerita terletak pada kemampuan pengarang pembawa pembacanya menemui masalah, memuncaknya masalah dan berakhirnya masalah. Timbulnya konflik sering berhubungan erat dengan unsur watak dan latar. Konflik dalam cerita mungkin terjadi karena watak seorang tokoh yang menimbulkan persoalan bagi tokoh lain atau lingkungannya. Nurgiyantoro (2009:159) ditinjau dari padu tidaknya alur dalam sebuah cerita, maka alur dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni alur rapat dan alur renggang. Alur rapat adalah alur yang menyajikan peristiwa yang secara cepat dan fungsional. Peristiwa-peristiwa yang terjalin dalam alur ini tidak dapat dipenggal atau atau dihilangkan karena sifatnya yang fungsional tinggi, sehingga jika suatu peristiwa saja dihilangkan, pembaca
akan kehilangan cerita, tidak memahami sebab-akibat, bahkan tidak dapat mengerti isi keseluruhan cerita. Alur renggang adalah alur yang menyajikan pergantian peristiwa dengan lambat dan memiliki hubungan antar peristiwa yang tidak erat. Alur renggang ditandai dengan adanya sela pada keterjalinan peristiwa sehingga dapat disisipi oleh peristiwa tambahan. Dalam penelitian ini, penulis hanya menggunakan alur rapat dalam pembahasan alur.
2.2 Landasan Teori Struktural
Menurut Abrams (1981:68) dalam bukunya, analisis struktural karya sastra dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur instrinsik yang bersangkutan. Tahap pertama diidentifikasi dan dideskripsikan, misalnya bagaimana keadaan peristiwa- peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Setelah dijelaskan bagaimana fungsi masing-masing unsur itu dalam menunjang makna dan keseluruhannya dan bagaimana hubungan antarunsur itu sehingga secara bersama membentuk sebuah totalitas makna yang padu.
Dengan demikian, pada dasarnya analisis struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antar unsur karya sastra yang secara keseluruhan. Analisis struktural tak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu sebuah karya fiksi, namun yang lebih penting adalah menunjukka n bagaimana hubungan antar unsur itu dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai.
Secara umum, terdapat perbedaan dan persamaan antara narasi film dan novel. Sekalipun terdapat perbedaan antara narasi novel dan film, terdapat
beberapa hal yang sama. Torop (1999:129) menyatakan bahwa tidak mungkin secara langsung mentransfer sebuah prosa kedalam film karena penggunaan kamera membuat gambar film begitu konkret sehingga menghilangkan kemungkinan adanya interprestasi lain yang muncul kedalam prosa. Sekalipun demikian, menurutnya proses adaptasi tidak perlu menghancurkan novel karena keduanya, novel dan film sama-sama menggunakan narasi hanya bentuknya yang berbeda. Novel teks naratif, sedangkan film berupa visual naratif.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Film merupakan sebuah karya seni berupa rangkaian gambar hidup yang diputar sehingga menghasilkan sebuah gambar bergerak yang disajikan sebagai bentuk hiburan. Film juga diartikan sebagai media ekspresi artistik bagi para seniman dan insan perfilman untuk mengungkapkan gagasan dan ide cerita yang dimilikinya. Pada awalnya film merupakan sebuah hiburan untuk ditonton yang tujuannya untuk menyampaikan suatu pesan kepada sekelompok orang yang berkumpul disuatu tempat tertentu. Selain itu film juga dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan karena sebuah film memiliki makna dari pesan moral yang disampaikan dengan cara yang baik, sederhana, dan sekreatif mungkin. Dengan cara tersebut penonton diharapkan mampu memaknai film dan mengambil pesan moral untuk dapat dijadikan contoh dan motivasi bagi kehidupan mereka.
Menurut Andayani (2007:40), dalam dunia film dikenal adanya naskah. Naskah yang terdapatpada film menguraikan segala komponen (suara, visual, aksi dan dialog) yang dibutuhkan untuk menceritakan sebuah cerita. Komponen- komponen utama dalam naskah terdiri dari aksi dan dialog. Aksi merujuk kepada “apa yang kita lihat” dan dialog merujuk kepada “apa yang dituturkan oleh tokoh”
. Sejalan dengan itu naskah dapat dihasilkan dalam bentuk olahan asli atau adaptasi dari penulisan yang sudah ada yaitu hasil karya sastra.