• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan pada pedagang Pasar Induk Lau Cih Kota Medan maka dapat diberikan saran – saran sebagai berikut :

1. Untuk pemerintah setempat penulis menyarankan untuk melakukan sosialisasi dan konsolidasi secara lebih terperinci mengenai harga dengan para pedagang tentang relokasi pasar yang akan di lakukan sehingga para pedagang dapat mengetahui bahwasannya relokasi akan di lakukan dan mengantisipasi bagaimana apa yang akan di lakukan selanjutnya sehingga tidak merugikan satu pihak saja, dalam hal ini para pedagang yang merasa dirugikan dengan mahalnya harga sewa lokasi.

2. Untuk para pedagang, hendaknya menambah modal dari pinjaman bank atapun bantuan kredit dari pemerintah sehingga kebutuhan untuk perdagangan dapat dipenuhi sehingga pedagang akan semakin berkembang dengan baik dan akan dapat mendapatkan keuntungan lebih banyak.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pasar

Pasar merupakan suatu daerah dimana pembeli dan penjual saling berhubungan satu sama lainya, untuk melakukan pertukaran barang maupun jasa pada waktu-waktu tertentu. Menurut Peraturan Presiden RI No. 112 Tahun 2007, pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu, baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plasa, pusat perdagangan maupun sebutanlainnya. Dari definisi ini, ada empat poin penting yang menonjol yang menandai terbentuknya pasar, yaitu:

1. Ada penjual dan pembeli

2. Mereka bertemu di sebuah tempat tertentu

3. Terjadi kesepakatan di antara penjual dan pembeli, sehingga terjadi jual beli atau tukar menukar

4. Antara penjual dan pembeli kedudukannya sederajat.

Peraturan Presiden RI No. 112 Tahun 2007, pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakatatau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan

proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar. Lebih lanjut menurut Perpres tersebut, pasar tradisional boleh berlokasi pada setiap sistem jaringan jalan, termasuksistem jaringan jalan lokal atau jalan lingkungan pada kawasan pelayanan bagian kota/kabupaten atau lokal atau lingkungan (perumahan) di dalam kota/kabupaten.

Di dalam Perpres tersebut juga disebutkan bahwa toko modern adalah toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran dengan bentuk minimarket, supermarket, atau department store. Dari sisi kelembagaan, perbedaan karakteristik pengelolaan pasar modern dan pasar tradisional nampak dari lembaga pengelolanya. Pada pasar tradisional, kelembagaan pengelola umumnya ditangani oleh Dinas Pasar yang merupakan bagian dari sistem birokrasi. Sementara pasar modern, umumnya dikelola oleh profesional dengan pendekatan bisnis. Selain itu, sistem pengelolaan pasar tradisional umumnya terdesentralisasi di mana setiap pedagang mengatur sistem bisnisnya masing-masing. Pada pasar modern, sistem pengelolaan lebih terpusat yang memungkinkan pengelola induk dapat mengatur standar pengelolaan bisnisnya.

Pasar adalah suatu institusi yang pada umumnya tidak berwujud secara fisik mempertemukan penjual dan pembeli suatu komoditas (barang dan jasa). (Sugiarto, 2002). Interaksi yang terjadi antara penjual dan pembeli akan menentukan tingkat harga suatu komoditas (barang dan jasa) dan jumlah atau kuantitas komoditas yang diperjualbelikan. Pasar dimana

penjual dan pembeli melakukan interaksi dapat dibedakan menjadi pasar komoditas dan pasar faktor. Pasar komoditas adalah interaksi antara penjual dan pembeli dari suatu komoditas dalam menentuan jumlah dan harga barang atau jasa yang diperjualbelikan. Pasar faktor adalah interaksi antara para pengusaha (pembeli faktor-faktor produksi) dengan para pemilik faktor produksi untuk menentukan harga (pendapatan) dan jumlah faktor-faktor produksi yang akan digunakan dalam menghasilkan barang-barang dan jasa yang diminta oleh masyarakat, sedangkan industri adalah kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang menghasilkan komoditas yang sama atau sangat bersamaan yang terdapat dalam suatu pasar(Sugiarto, 2002: 35 dalam Rudi Laksono: 2013)

2.2 Pedagang

Pedagang adalah orang atau institusi yang memperjual belikan produk atau barang, kepada konsumen baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Dalam ekonomi pedagang dibedakan menurut jalur distribusi yang dilakukan, yaitu: a. Pedagang distributor (tunggal) yaitu pedagang yang memegang hak distribusi atau produk dari perusahaan tertentu. b. Pedagang (partai) besar yaitu pedagang yang membeli suatu produk dalam jumlah besar yang dimaksudkan untuk dijual kepada pedagang lain. c. Pedagang eceran yaitu pedagang yang menjual produk langsung kepada konsumen (Damsar,1997: 106-107)

2.3 Pendapatan

Menurut (Gilarso: 1998) pendapatan atau penghasilan adalah sebagai balas karya. Pendapatan sebagai balas karya terbagi dalam enam kategori, yaitu :

1. Upah atau gaji adalah balas jasa untuk pekerjaan yang

dilaksanakan dalam hubungan kerja dengan orang atau instansi lain (sebagai karyawan yang dibayar).

2. Laba usaha sendiri adalah balas karya untuk pekerjaan yang dilakukan sebagai pengusaha, yaitu mengorganisir produksi, mengambil keputusan tentang kombinasi faktor produksi serta menanggung resikonya sendiri entah sebagai petani, buruh, maupun pedagang dan sebagainya.

3. Laba Perusahaan (Perseroan) adalah laba yang diterima atau diperoleh perusahaan yang berbentuk atau badan hukum.

4. Sewa adalah jasa yang diterima oleh pemilik atas penggunaan hartanya seperti tanah, rumah atau barang-barang tahan lama.

5. Penghasilan campuran (Mixed Income) adalah penghasilan yang diperoleh dari usaha seperti : petani, tukang, warungan, pengusaha kecil, dan sebagainya disebut bukan laba, melainkan terdiri dari berbagai kombinasi unsur-unsur pendapatan :

a. Sebagian merupakan upah untuk tenaga kerja sendiri.

b. Sebagian berupa sewa untuk tanah/ alat produksi yang dimiliki sendiri.

c. Sebagian merupakan bunga atas modalnya sendiri. d. Sisanya berupa laba untuk usaha sendiri.

6. Bunga adalah balas jasa untuk pemakaian faktor produksi uang. Besarnya balas jasa ini biasanya dihitung sebagai persen ( % ) dari modal dan disebut tingkat atau dasar bunga (rate off) (Gilarso, 1998: 380)

2.4 Relokasi Pasar Tradisional

Pengertian Relokasi dalam kamus Indonesia diterjemahkan adalah membangun kembali tempat yang baru, harta kekayaan, termasuk tanah produktif dan prasarana umum di lokasi atau lahan lain. Dalam relokasi adanya obyek dan subyek yang terkena pajak dalam perencaan dan pembangunan lokasi. Secara harafiah relokasi adalah penataan ulang dengan tempat yang baru atau pemindahan dari tempat lama ke tempat yang baru.

Persamaan fungsi yang dimiliki oleh pusat perbelanjaan modern dan pasar tradisional menimbulkan persaingan antara keduanya dan juga menimbulkan modernisasi dari pasar tradisional ke pusat perbelanjaan modern. Preferensi prioritas faktor internal, faktor eksternal, faktor bertahan, dan daya tarik pusat perbelanjaan modern menyebabkan pasar tradisional mengalami kondisi bertahan, kehancuran, maupun modernisasi. Ketiganya ini dapat menyebabkan sebuah pasar tradisional dapat tetap mempertahankan konsep dan fisik bangunannya sebagai pasar, modernisasi dari pasar tradisional ke pusat perbelanjaan modern, dan

menyebabkan suatu pasar tradisional ke arah kehancuran (Andreas Y.C dan Marinus W, 2006 dalam Hendra Widi Utomo 2011).

Mudrajad Kuncoro 2008, isu utama yang berkaitan dengan perkembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut :

1. Jarak antara pasar tradisional dengan hypermarket yang saling berdekatan.

2. Tumbuh pesatnya minimarket (yang dimiliki pengelola jaringan) ke wilayah pemukiman.

3. Penerapan berbagai macam syarat perdagangan oleh ritel modern yang memberatkan pemasok barang.

4. Kondisi pasar tradisional secara fisik sangat tertinggal, maka perlu ada program kebijakan untuk melakukan pengaturan.

Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, dikembangkan berbagai upaya untuk mengembangkan pasar tradisional, antara lain dengan mengupayakan sumber-sumber alternatif pendanaan untuk pemberdayaan, meningkatkan kompetensi pedagang dan pengelola, memprioritaskan kesempatan memperoleh tempat usaha bagi pedagang pasar tradisional yang telah ada sebelum dilakukan renovasi atau relokasi, serta mengevaluasi pengelolaan.

2.5 Penelitian Terdahulu

1. Haryanto, Doddy (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “Dampak Relokasi Kampus Universitas Diponegoro Terhadap Usaha Makanan di Sekitarnya (Studi Kasus: Pleburan dan

Tembalang)” menggunakan metode analisis data meliputi uji validitas, uji reliabilitas, dan uji t berpasangan (paired t test) menyatakan bahwa analisisBerdasarkan uji t berpasangan untuk variabel jumlah konsumen untuk usaha makanan di sekitar kampus Pleburan terjadi penurunan jumlah konsumen sebesar 53 %, untuk kawasan kampus Tembalang terjadi peningkatan jumlah konsumen sebesar 26%. Perhitungan uji t berpasangan untuk jumlah produksi usaha makanan sebelum dan sesudah relokasi kampus terjadi penurunan jumlah produksi di sekitar kampus Pleburan sebesar 52% dan terjadi kenaikan 21% untuk usaha makanan di sekitar kampus Tembalang. Untuk variabel tenaga kerja usaha makanan sebelum dan sesudah relokasi kampus terjadi penurunan tenaga kerja di sekitar kampus Pleburan sebesar 50% dan terjadi peningkatan 33% di sekitar kampus Tembalang. Untuk variabel omset penjualan usaha makanan sebelum dan sesudah relokasi kampus terjadi penurunan omset penjualan sebesar 60% dan terjadi peningkatan 21% di sekitar kampus Tembalang. Untuk variabel keuntungan usaha makanan sebelum dan sesudah relokasi kampus di sekitar kampus Pleburan terjadi penurunan sebesar 67% dan terjadi peningkatan 33% di sekitar kampus Tembalang.

2. Laksono, Rudi (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Relokasi Pedagang Pasar Ngarsopuro di Kota Surakarta” menyatakan bahwa hasil analisa rata-rata pendapatan para

pedagang di Pasar Ngarsopuro menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah dipindah. Hal ini terjadi karena frekuensi penjualan yang terjadi di dalam pasar yang sekarang dengan lokasi yang berbeda mengakibatkan penurunan frekuensi jual beli di masing-masing toko yang berada pada pasar tersebut. Faktor lain yang ditemukan dalam survey lapangan adalah bentuk bangunan pasar yang berbentuk gedung dan tertutup dari luar, sehingga lokasi sering tidak diketahui oleh orang dan pengguna di sekitar Jalan Ronggowarsito. Kurang publikasi dari pemerintah daerah tentang adanya lokasi pasar baru pasar tersebut yang menimbulkan efek ketidaktahuan masyarakat tentang lokasi baru pasar yang sering disebut dengan pasar elektronik oleh masyarakat Solo dan sekitarnya.

3. Pratama, Aditya (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Pedagang Pasar Setelah Relokasi di Pasar Purwoyoso” menyatakan bahwa modal berpengaruh terhadap pendapatan pedagang Pasar Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan Semarang. Selain itu jam dagang tidak berpengaruh terhadap pendapatan pedagang Pasar Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan Semarang, lokasi berpengaruh terhadap pendapatan pedangang Pasar Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan Semarang. Kemudian Pedagang hendaknya melakukan menambah modal sehingga kebutuhan untuk perdagangan dapat dipenuhi

sehingga pedagang akan semakin berkembang dengan baik dan akan mendapatkan keuntungan lebih banyak. Dan dalam menentukan lokasi berdagang seharusnya pihak pedagang lebih memperhatikan keadaan, letak yang dekat dengan konsumen dan yang jauh dengan konsumen harus memberikan pelayanan yang lebih baik.

2.6 Kerangka Konseptual

Kerangka konspetual ini menjelaskan bagaimana dampak relokasi terhadap pendapatan pedagang di Pasar Induk Lau Cih sebelum dan sesudah adanya relokasi dari Pemerintah Daerah Kota Medan. Relokasi yang dilakukan pemerintah pada tahun 2015 menimbulkan permasalahan apakah dampaknya bagi pedagang di Pasar Induk.

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.7 Hipotesis Penelitian

Sesuai dengan kerangka konseptual, dan hasil-hasil penelitian terdahulu, maka hipotesis yang disusun adalah sebagai berikut:

Relokasi

Pasar Induk LauCih

Pendapatan SesudahRelokasi Pendapatan Sebelum Relokasi

1. (Ho): Diduga tidak ada dampak relokasi pasar terhadap pendapatan pedagang Pasar Induk Lau Cih.

2. (Ha): Diduga ada dampak relokasi pasar terhadap pendapatan pedagang Pasar Induk Lau Cih.

Hipotesis Penelitian penulis adalah (Ha) di terima yaitu Diduga ada dampak relokasi pasar terhadap pendapatan pedagang Pasar Induk Lau Cih.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pasar yang merupakan tempat dimana pedagang (penjual) dan pembeli berinteraksi. Pasar juga menjadi salah satu tempat dimana masyarakat bisa menjual barang, jasa, dan tenaga kerja dengan mendapatkan imbalan uang. Menurut kualitas pelayanannya pasar dapat digolongkan menjadi pasar tradisional dan pasar modern. Menurut sifat pendistribusiannya pasar dapat digolongkan menjadi dua yaitu pasar eceran dan grosir. Pasar tradional yang pada umumnya dimiliki oleh pemerintah, terjadi interaksi langsung antara penjual dan pembeli dengan proses tawar menawar.

Kegiatan pasar juga merupakan kegiatan dari bagian perekonomian yang dapat diukur dengan meraknya pembangunan perdagangan. Keberadaan pasar ini merupakan indikator ekonomi yang paling nyata kegiatan ekonomi masyarakat pada suatu daerah. Selain itu jika dilihat dari sisi kepentingan ekonomi apabila semakin meningkatnya jumlah pasar perdagangan baik yang tradisional maupun yang modern akan mondorong terciptanya peluang kerja bagi banyak orang. Kegiatan pasar juga dapat ikut serta dalam mengentaskan masalah pengangguran dan kemiskinan.

Perkembangan perekonomian kota sangat ditentukan oleh lajunya arus sistem perdagangan di kota itu sendiri. Salah satu sarana perdagangan

yang sampai saat ini tetap eksis di lingkungan perdesaan maupun perkotaan adalah pasar tradisional. Sifat khas pasar tradisional memiliki fungsi penting yang keberadaannya tidak pernah bisa tergantikan oleh pasar modern. Namun pasar tradisional juga memiliki kelemahan yang telah menjadi karakter dasar yang sangat sulit diubah, mulai dari faktor desain, tata ruang, tata letak, dan tampilan yang tidak sebaik pusat perbelanjaan modern, alokasi waktu operasional yang relatif terbatas, kurangnya teknologi yang digunakan, kualitas barang yang kurang baik, kurangnya promosi penjualan, rendahnya tingkat keamanan, kesemerawutan parkir, hingga berbagai isu yang merusak citra pasar tradisional seperti maraknya informasi produk barang yang menggunakan zat kimia berbahaya, praktek penjualan daging oplosan, serta kecurangan-kecurangan lain dalam aktivitas penjualan dan perdagangan. Kompleksitas kelemahan pasar tradisional tersebut menyebabkan konsumen beralih dari pasar tradisional ke pusat perbelanjaan modern.

Pasar tradisional memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh pusat perbelanjaan modern yaitu adanya sistem tawar menawar yang menunjukkan keakraban antara penjual dan pembeli. Di pasar tradisional terdapat suatu komunikasi yang tidak akan ditemui di pusat perbelanjaan modern. Sistem tawar menawar dalam transaksi jual beli di pasar tradisional membuat suatu hubungan tersendiri antar penjual dan pembeli. Berbeda dengan pusat perbelanjaan modern, dimana harga

barang sudah ditetapkan dan tidak ada komunikasi antara penjual dan pembeli.

Program relokasi ini diarahkan untuk menerapkan dan mengadopsi manajemen pusat perbelanjaan modern, terutama berkaitan dengan penanganan kebersihan. Program relokasi ini diharapkan mampu mengatasi kelemahan utama pasar tradisional yang identik dengan masalah kotor, becek, dan bau sehingga berdampak pada meningkatnya jumlah pengunjung pasar. Dengan bertambahnya jumlah pengunjung, maka diharapkan dapat meningkatkan pendapatan pedagang.

Agar pasar tradisional tidak terkesan kumuh, maka Pemerintah Kota Medan mengambil sebuah kebijakan untuk menata pasar tradisional menjadi pasar semi modern. Tahun 2015, Pemerintah Kota Medan telah berhasil menata pedagang Pasar Sentral yang di relokasi ke Pasar Induk kecamatan Medan Tuntungan. Pasar Induk merupakan pasar tradisional, di bangun di atas tanah seluas 12 hektare, terdapat 1.150 kios, tetapi pada pendataan yang dilakukan pada tahun 2012 terdapat 1.975 pedagang, artinya ada 800 pedagang yang tidak tertampung di Pasar Induk, namun para pedagang yang tidak mendapatkan kios kemudian membangun fisiknya secara swadaya. Di Pasar Induk ini dapat menampung hampir 3.000 pedagang ( Sumatera Bisnis, 19 Juni 2015).

Pemindahan pasar sentral ke pasar induk membuat para pedagang mengeluh dikarenakan besarnya harga beli dan harga sewa kios serta menurunnya keuntungan penjualan pedagang (Sumatera Bisnis, 28 April

2015). Omset pedagang juga terus mengalami penurunan karena jumlah pengunjung yang datang semakin berkurang, dikarenakan lokasi Pasar Induk yang sangat jauh sehingga biaya pengeluaran untuk transportasi cukup besar. Sebelum relokasi ke Pasar Induk pedagang mampu menjual barang dagangannya sebanyak 7 ton, namun setelah reloaksi ke Pasar Induk jumlah barang dagangan yang terjual merosot tajam dengan barang dagangan yang dibawa sebanyak 4 ton hanya 2 ton saja yang dapat terjual (Medan Bisnis, 25 April 2015).

Relokasi Pasar Induk merupakan upaya untuk memberikan kesan bahwa meskipun bersifat tradisional, namun dirancang sebagai pasar semi modern, agar tetap bersih, rapi, tidak kumuh, tertib, nyaman serta dikatagorikan menurut jenis barang dagangannya. Kebijakan Pemerintah Kota Medan untuk merelokasi pasar Induk, diharapkan akan berdampak pada tingkat pendapatan pedagang Pasar Induk.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian yang berjudul “ Dampak Relokasi Pasar Terhadap Pendapatan Pedagang Pasar Sentral Sebelum Dan Sesudah Relokasi Ke Pasar Induk Di Kota Medan ”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah disampaikan pada bagian latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah dampak pendapatan pedagang Pasar Sentral sebelum dan sesudah program relokasi pasar berbeda secara signifikan?

2. Bagaimana tanggapan pedagang terhadap relokasi Pasar Induk?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menjawab permasalahan yang ada pada rumusan masalah diatas :

1. Untuk mengetahui apakah dampak pendapatan pedagang Pasar Sentral sebelum dan sesudah relokasi berbeda secara signifikan. 2. Untuk mengetahui bagaimana tanggapan pedagang terhadap

relokasi Pasar Induk Lau Cih di Kota Medan.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diyakini bermanfaat luas terutama bagi :

1. Sebagai masukan bagi pemerintah daerah setempat dalam

pengambilan kebijakan, dalam hal ini pemerintah Kota Medan dalam membuat berbagai kebijakan berkaitan dengan pengembangan pasar tradisional.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan manfaat serta menjadi referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang relokasi pasar.

3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta pengetahuan tentang relokasi pasar di Kota Medan

ABSTRAK

DAMPAK RELOKASI PASAR TERHADAP PENDAPATAN PEDAGANG PASAR SENTRAL SEBELUM DAN SESUDAH RELOKASI KE

PASAR INDUK DI KOTA MEDAN

Penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan relokasi pasar yang dilakukan pemerintah dari pasar sentral ke pasar induk Lau Cih Kota Medan yang memberikan banyak pro dan kontra terutama bagi para pedagang yang di relokasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada dampak pendapatan yang signifikan dari relokasi pasar sentral ke pasar induk Lau Cih Kota Medan. Metode penelitian menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling dan penentuan jumlah responden menggunakan rumus Roscoe dan Sugiono. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan kuisioner. Teknik analisis data menggunakan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dampak pendapatan yang signifikan sebelum dan sesudah relokasi ke pasar Induk Lau Cih Kota Medan dalam hal ini penurunan pendapatan. Hal ini dikarenakan mahalnya harga sewa lokasi berdagang dan tidak adanya pinjaman bagi para pedagang yang semakin memberatkan para pedagang.

ABSTRACT

IMPACT ON RELOCATION MARKET OF CENTRAL MARKET TRADERS INCOME BEFORE AND AFTER THE RELOCATION TO INDUK MARKET

IN MEDAN

This research was motivated by problems of market relocation by the government from the central market to induk market Lau Cih Medan which provides many pros and cons, especially for traders who relocated. The purpose of this study was to determine whether there is a significant revenue impact of the relocation of the central market central market to Lau Cih Medan. The research method using descriptive quantitative research using purposive sampling techniques and determination of the number of respondents using the formula Roscoe and Sugiono. Methods of data collection is done by interviews and questionnaires. Data were analyzed using paired t test. The results showed that there were significant revenue impact before and after relocating to market the Master Lau Cih Medan in this drop in revenue. This is because the high price of the rental location and the absence of loan trading for traders increasingly burden some traders.

SKRIPSI

DAMPAK RELOKASI PASAR TERHADAP PENDAPATAN PEDAGANG

PASAR SENTRAL SEBELUM DAN SESUDAH RELOKASI KE PASAR INDUK

DI KOTA MEDAN

OLEH

ARYO AFIEF PALEGO

120501073

PROGRAM STUDI S1 EKONOMI PEMBANGUNAN

DEPARTEMEN S1 EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

ABSTRAK

DAMPAK RELOKASI PASAR TERHADAP PENDAPATAN PEDAGANG PASAR SENTRAL SEBELUM DAN SESUDAH RELOKASI KE

PASAR INDUK DI KOTA MEDAN

Penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan relokasi pasar yang dilakukan pemerintah dari pasar sentral ke pasar induk Lau Cih Kota Medan yang memberikan banyak pro dan kontra terutama bagi para pedagang yang di relokasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada dampak pendapatan yang signifikan dari relokasi pasar sentral ke pasar induk Lau Cih Kota Medan. Metode penelitian menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling dan penentuan jumlah responden menggunakan rumus Roscoe dan Sugiono. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan kuisioner. Teknik analisis data menggunakan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dampak pendapatan yang signifikan sebelum dan sesudah relokasi ke pasar Induk Lau Cih Kota Medan dalam hal ini penurunan pendapatan. Hal ini dikarenakan mahalnya harga sewa lokasi berdagang dan tidak adanya pinjaman bagi para pedagang yang semakin memberatkan para pedagang.

ABSTRACT

IMPACT ON RELOCATION MARKET OF CENTRAL MARKET TRADERS INCOME BEFORE AND AFTER THE RELOCATION TO INDUK MARKET

IN MEDAN

This research was motivated by problems of market relocation by the

Dokumen terkait