• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Kesimpulan 2. Saran

BAB II

STRATEGI NATO PASCA PERANG DINGIN

Dalam bab II ini akan membahas mengenai strategi NATO pasca perang dingin. Pembahasan ini dalam bab ini akan diawali oleh sejarah terbentuknya NATO. Kemudian dilanjutkan oleh pembahasan mengenai strategi NATO masa perang dingin dan strategi NATO pasca perang dingin.

Pembagian pembahasan dalam dua periode ini dilakukan agar pembahasan dapat berjalan secara periodik sehingga lebih mudah dalam mengurutkan kejadian serta sebab akibatnya.

1. Sejarah Terbentuknya NATO

Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau dalam bahasa Inggris biasa disebut dengan North Atlantic Treaty Organisation (NATO) adalah sebuah organisasi internasional untuk keamanan bersama yang didirikan pada 4 April 1949 dengan penandatangan North Atlantic Treaty di Washington D.C. oleh 12 negara (Belanda, Denmark, Inggris, Italia, Islandia, Luxemberg, Perancis, dan Portugal) ditambah dua negara Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada)27. Collective security merupakan landasan terbentuknya NATO. Konsep ini dapat menjelaskan, mengapa negara-negara bergabung dalam wadah keamanan bersama. Adanya perasaan tidak aman yang dirasakan oleh suatu negara menyebabkan mereka harus menggabungkan diri dalam suatu kekuatan yang besar sehingga jaminan keamanan atas dirinya semakin besar, dan hal ini terjadi pada negara anggota NATO.

27

Pada masa perang dingin, kiprah NATO Sangat signifikan sebagai salah satu kekuatan blok, yaitu blok barat. NATO pada saat itu mempunyai kekuatan Sangat besar yang tidak ada tandingannya. Terbukti, eksistensi NATO mendapat reaksi cepat dari kekuatan blok timur dengan terbentuknya Pakta Warsawa yang bertujuan mengimbanginya. Disini konsep keseimbangan kekuatan diterapkan. Kedua organisasi pakta pertahanan ini saling unjuk kekuatan dan pengaruh yang bertujuan agar tidak ada dominasi diantara keduanya. Runtuhnya Uni Soviet juga menyebabkan ambruknya Pakta Warsawa. NATO pun melakukan serangkaian adaptasi dengan perubahan konstelasi dan kontestasi politik global. Sebelum terorisme berkembang di dunia, NATO tidak hanya memaknai konsep keamanan secara militer, tetapi diperluas lagi. NATO seringkali melakukan aksi humanitarian intervention sebagai instrumen perlindungan keamanan manusia dari kejahatan perang. Yugoslavia dapat dijadikan contoh menarik. NATO melakukan aksi humanitarian intervention terhadap Yugoslavia karena telah dianggap membahayakan keamanan manusia pada sekitar tahun 1997.

Dalam operasionalnya, NATO dilandasi oleh prinsip-prinsip yang menjadi landasannya.28

1. Solidaritas : berkomitmen menciptakan perdamaian dunia.

2. Freedom : menjaga kebebasan dan keamanan negara-negara anggotanya. 3. Demokrasi : menjaga nilai-nilai demokrasi.

4. Transatlantik link : membentuk hubungan keamanan transatlantik.

Prinsip-prinsip dasar ini harus dipatuhi oleh anggota NATO secara keseluruhan. Prinsip-prinsip ini memberikan kekuatan bagi NATO dalam setiap

28

melakukan aktivitasnya. Selain itu, prinsip NATO juga tertuang dalam tujuannya, pada perjanjian pasal 5,“semua serangan militer yang ditujukan untuk melawan salah satu atau lebih Negara anggota NATO yang berada di Amerika utara atau Eropa secara tidak langsung menjadi serangan yang ditujukan kepada seluruh Negara anggota, dan menjadi tanggungan bersama”. Jika serangan militer itu benar-benar terjadi, seluruh anggota NATO memiliki hak untuk membantu segera dengan memberikan bantuan militer dan pertahanan demi menjaga dan melestarikan keamanan kawasan atlantik utara.

Keanggotaaan NATO pada awalnya berjumlah 12 negara. Yunani dan Turki bergabung pada masa perang dingin tepatnya pada tahun 1952. Pada 7 Mei 1954 Inggris dan Amerika Serikat menolak upaya Uni Soviet untuk bergabung dalam NATO. Jerman Barat sebaliknya diajak bergabung dalam NATO pada saat ditandangani Persetujuan Paris, 23 Oktober 1954, Jerman Barat dan Italia masuk dalam Western European Union (WEU). Enam bulan kemudian Jerman Barat menjadi Anggota NATO, 5 Mei 1955. sembilan hari setelah Jerman Barat bergabung ke dalam NATO, Pakta Warsawa dibentuk. Uni Soviet, Albania, Bulgaria, Czechoslovakia, Jerman Timur, Hungaria, Polandia dan Romania menandatangani Traktat Warsawa, 14 Mei 1955. secara ideologis para anggota Pakta Warsawa sama-sama menganut komunisme.29

Perluasan NATO berlanjut Spanyol menjadi anggota NATO yang ke 16 pada 30 Mei 1982. hasil refendum yang diadakan Perdana Menteri Felipe Gonzalez pada 12 Maret 1986 menunjukkan bahwa rakyat Spanyol mendukung agar

29

Spanyol tetap dalam NATO, tanpa berpartisipasi dalam NATO’s integrated

military Structure.30

Berakhirnya perang dingin dan dibubarkannya Pakta Warsawa tidak menyurutkan hasrat untuk menambah keanggotaan NATO, dengan masuknya Jerman Timur di tahun 1990, Polandia, Czechoslovakia, Hungaria pada 12 Maret 1999. Dengan perluasan NATO ini maka perbatasannya jauh bergeser ke timur, langsung bersebelahan dengan Rusia. Di tahun 2004 banyak negara pecahan Uni Soviet yang bergabung dengan NATO diantaranya Bulgaria, Estonia, Latvia, Lithuania, Romania, Slowakia, Slovenia, dan di tahun 2009 Albania dan Kroasia.31 Para penandatangan perjanjian menyatakan keinginan mereka untuk hidup damai dengan semua negara di dunia dan juga mempertegas prinsip PBB unutk memelihara perdamaian dan keamanan internasional dan juga untuk menjaga stabilitas wilayah Atlantik Utara.

Adapun yang menjadi tugas utama NATO adalah:32

1. Menjamin Keamanan Eropa dengan berdasarkan demokrasi dan kepercayaan bahwa selalu ada cara-cara damai untuk menyelesaikan suatu konflik.

2. Memberikan kesempatan kepada negara-negara anggotanya untuk saling berkonsultasi satu sama lain dalam setiap hal yang dapat mempengaruhi kepentingan negara-negara anggotanya, termasuk perkembangan yang dapat mengancam keamanannya, dan juga memfasilitasi kerjasama berdasarkan kepentingan bersama.

30

http://www.nato.int/cps/en/natolive/topics_52044.htm, , diakses pada tanggal 07 Oktober 2010 31

http://nasional.kompas.com/read/2009/04/08/06201121/memaknai.esensi.nato.setelah.60.tahun, diakses pada tanggal 7 Oktober 2010.

32

http://www.nato.int/docu/handbook/2001/hb0102.htm NATO Fundamental Security Task, diakses pada tanggal 7 Oktober 2010.

3. NATO berfungsi sebagai penangkal dan sebagai suatu pertahanan dari setiap agresi yang dapat mengancam wilayah negara-negara anggotanya. 4. NATO berfungsi untuk memelihara stabilitas dan keamanan dengan cara

membina hubungan baik dan melakukan kerjasama dengan negar-negara mitranya.

5. NATO harus mengembangkan adanya kesamaan wawasan mengenai keamanan internasional dan tujuan dari diadakannya kerjasama.

2. Struktur Sipil dan Militer NATO 2.1. Struktur Sipil

Struktur sipil NATO sejak awal pembentukkannya pada tanggal 4 April sudah banyak mengalami perubahan. Perubahan dalam badan-badan NATO dilakukan untuk menyesuaikan kondisi organisasi dengan perubahan lingkungan eksternal pasca perang dingin. Tetapi tidak semua badan yang ada dalam NATO mengalami perubahan, seperti Dewan Atlantik Utara (North Atlantic Council).33 Dewan ini masih merupakan pemegang komando tertinggi dalam organisasi NATO. Di dalam North Atlantic Council setiap negara akan mempunyai perwakilan, yang mempunyai tugas untuk membahas semua permasalahan atau isu-isu yang menyangkut perdamaian dan keamanan Negara anggotanya. Di dalam organisasi NATO setiap negara mempunyai hak yang sama, setiap persetujuan dicapai melalui kata sepakat, dan tidak dilakukan sistem pemungutan suara seperti voting atau keputusan dengan suara terbanyak dan hal itu berarti setiap keputusan diambil dengan suara bulat. Jika suatu keputusan telah diambil maka keputusan tersebut akan mengikat setiap negara anggotanya dan jika ada

33

negara yang tidak setuju dengan keputusan tersebut maka hal itu harus disampaikan kepada dewan (council).34

Dalam struktur NATO ada dua badan penting yang mempunyai tugas untuk mengatur operasionalisasi organisasi. Defence Planning committee (DPC) merupakan bagian dari North Atlantic Council (NAC) dan DPC dikepalai oleh sekretaris Jendral NATO. DPC berfungsi untuk mengatur setiap kegiatan sipil dan militer organisasi.35 Setiap negara anggota NATO mempunyai perwakilan di dalam DPC kecuali Perancis. Badan lainnya yang mempunyai peran penting sama seperti DPC yang berada di bawah kewenangan NAC adalah NPG (Nuclear Planning Group). Di dalam NPG tersebut terdiri dari seluruh perwakilan menteri-menteri pertahanan negara anggota yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang dilakukan oleh DPC dengan demikian Perancis tidak termasuk dalam NPG. Setiap NPG melakukan pertemuan dipimpin oleh Sekretaris Jenderal. NPG mempunyai tugas dalam kegiatan NATO yeng berhubungan dengan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan masalah persenjataan dan kekuatan nuklir.36

2.2. Struktur Militer NATO

NATO merupakan salah satu aliansi militer. Selama Perang Dingin NATO bertujuan untuk mencegah adanya ancaman yang dilakukan oleh Uni Soviet, NATO menciptakan suatu strategi yang dapat melindungi Eropa dari ancaman Uni Soviet. Struktur kekuatan NATO tersebut meliputi penggunaan senjata konvensional dan senjata nuklir. Sejak perang dingin berakhir, peran NATO mengalami perubahan.NATO tidak hanya berfungsi sebagai pertahanan, tetapi juga berfungsi sebagai penjaga perdamaian. Agar dapat efektif dalam

34

http://www.nato.int/docu/handbook/2001/hb070101.htm, diakses pada tanggal 7 Oktober 2010. 35

http://www.nato.int/cps/en/natolive/topics_49201.htm, diakses pada tanggal 07 Oktober 2010 36

melaksanakan fungsinya sebagai penjaga perdamaian, NATO menciptakan suatu badan yang disebut dengan Integrated Military Force.37

Dalam Organisasi NATO, keputusan politik untuk mengambil tindakan militer merupakan wewenang dari Sekretaris Jendral. Sekretaris Jenderal mendapatkan wewenang tersebut dari North Atlantic Council. Dalam NATO ada komando tertinggi Supreme Allied Commanders (SAC) yang bertanggung jawab untuk melalukan operasi militer NATO. Kedua Komando tersebut mempunyai tugas untuk mengawasi semua asset militer di dalam wilayah wewenang tanggung jawabnya masing-masing. Kedua SAC tersebut adalah Supreme Allied Commander Europe (SACEUR)38 dan Supreme Allied Commander Atlantic (SACLANT).39 SACEUR bertanggung jawab untuk mengatur dan mengembangkan kemampuan kekuatan pertahanan yang dibutuhkan dalam bidang manajemen krisis, kemanusiaan, dan melindungi kepentingan aliansi.40 Selain itu SACEUR juga bertindak sebagai jurubicara resmi dari NATO. SACEUR dan SACLANT masin-masing bertanggung jawab kepada komisi militer (military committee) NATO.41

Military Committee (MC) adalah pemegang wewenang tertinggi yang beranggotakan kepala staff militer masing-masing anggota. Military Committee berada dibawah kewenangan politik NAC dan DPC. Military Committee terdiri dari kepala staf setiap Negara anggota, yang mengadakan pertemuan sedikitnya tiga kali dalam setahun atau kapanpun diperlukan. Military Committee mempunyai

37

http://www.nato.int/docu/handbook/2001/hb1201.htm, diakses pada tanggal 10 Oktober 2010. 38

NATO handbook: Partnership and cooperations, Brussel, : NATO Office of Information and Press, 2001 h.259. 39 Ibid, h. 259 40 Ibid, h. 264. 41

tugas untuk mengkoordinasi aktifitas-aktifitas militer NATO. Setiap kepala staf memilih perwakilan militer tetap yang berfungsi sebagai anggota komite militer yang dipilih tiga tahun sekali. Hanya Iceland yang negaranya tidak mempunyai kekuatan militer.42

Dalam sidang komite, komite militer mengadakan pertemuan yang dilakukan secara dimarkas besar NATO di Brusel untuk mengkaji kembali kekuatan dan strategi militer NATO. Komite militer bertanggung jawab untuk memformulasi dan merekomendasikan kepada badan-badan politik NATO, mengenai tindakan-tindakan apa saja yang diperlukan untuk menjamin pertahanan bersama dan adanya satu kebijakan untuk tentara NATO yang dikirimkan kepada operasi-operasi militer yang berbeda-beda seperti dibekas negara Yugoslavia.43 Komite militer membantu untuk mengembangkan konsep strategi aliansi dan melakukan sejumlah dan melakukan sejumlah penilaian dalam aset NATO. Dalam waktu krisis dan perang, komite militer dapat berfungsi sebagai suatu badan yang memberikan nasehat kepada Defence Planning Committee mengenai penggunaan kekuatan militer.

Untuk mendukung pekerjaan para stafnya NATO mempunyai jaringan yang sangat luas. International Military Staff terdiri dari para personel militer yang telah dipilih oleh NATO. Bekerja demi tujuan bersama aliansi dan bukan demi negaranya sendiri. Agar dapat mengatur sejumlah besar tugas-tugas yang diberikan, maka IMS dibagi dalam lima bagian.44

42

http://www.nato.int/cps/en/natolive/topics_49608.htm, diakses pada tanggal 10 Oktober 2010. 43

http://www.nato.int/cps/en/natolive/topics_49608.htm, diakses pada tanggal 10 Oktober 2010 44

NATO handbook: Partnership and cooperations, Brussel, : NATO Office of Information and Press, 2001, h. 242-244.

1. Planning and Policy division

Divisi ini bertugas untuk mengembangkan dan mengkoordinasikan kebijakan pertahanan dan perencanaan startegis NATO dengan komite militer. Kegiatan-kegiatan tersebut mencakup penilaian dan mempelajari lingkungan strategis dimana NATO harus bertindak. Penilaian ini mencakup pengkajian pertahanan yang diadakan setahun sekali, yang berguna untuk menciptakan untuk menciptakan tingkat kekuatan militer yang dibitihkan untuk mencapai tujuan organisasi.

2. Operation Division

Divisi operasi bertanggung jawab untuk memberi nasehat kepada militer mengenai rencana operasi dan manjemen operasi. Selain itu divisi ini juga bertugas untuk mengkoordinasikan pengiriman sejumlah pasukan dalam setiap operasi yang dilakukan oleh aliansi.

3. Intelligence Division

Divisi intelejen bertanggung jawab untuk mengumpulkan setiap informasi yang dibutuhkan memperlancar operasi NATO. Divisi intelejen bertugas untuk memonitor setiap kejadian diseluruh dunia dan mendapat informasi dari setiap negara anggotanya.

4. Cooperation and Regional Security Division

Divisi kerjasama dan keamanan regional bertugas untuk melakukan kerjasama dengan negara-negara non-NATO dan menciptakan keamanan di benua Eropa dan di wilayah lainnya diluar Eropa. Divisi ini dalam melakukan tugasnya melibatkan negara-negara non-NATO dalam operasi

penjaga perdamaian (peacekeeping) dan operasi membangun perdamaian (peacebuilding).45

5. Logistic Armaments and Resource Divison

Divisi ini bertugas untuk menjamin terpenuhinya setiap peralatan yang dibutuhkan oleh NATO dalam melakukan operasinya. Divisi ini bertugas untuk menjamin bahwa pasukan NATO menggunakan persenjataan dan sistem komunikasi yang sesuai dengan jenis operasi yang dilakukannya. NATO juga mempunyai tiga kekuatan utama (three primary forces) yang digunakan untuk membantu setiap kegiatan operasi yang dilakukannya dan untuk memenuhi apa yang menjadi tujuan strategisnya:46

1. Immediate and Rapid Reaction Forces

Pasukan ini merupakan pasukan yang sangat terlatih dan siap siaga untuk dikirimkan dalam setiap misi NATO. Pasukan ini terdiri dari pasukan darat dan laut. Setiap negara anggota yang tergabung dalam Integrated Military Structure saling bergantian untuk menjaga kesiapan unit-unit pasukannya dalam siap siaga penuh apabila terjadi sustu krisis.

2. Main Defense Forces

Tugas pasukan ini adalah mencegah negara lain melakukan tindakan agresi yang dilakukan terhadap negara-negara anggota NATO. Kekuatan ini terdiri dari kekuatan konvensional dan kekuatan nuklir yang bertugas untuk menangani setiap ancaman yang mungkin terjadi terhadap anggota NATO. Ada empat pasukan multinasional yang ditempatkan di Jerman. Pasukan ini juga dpat digunakan sebagai penjaga perdamaian.

45

Ibid, h. 243. 46

3. Augmentation Forces

Pasukan ini merupakan pasukan cadangan NATO. Pasukan ini dapat digunakan untuk memperkuat pasukan NATO kapanpun jika diperlukan.

4. Konsep Strategi Keamanan NATO Masa Perang Dingin

Konsep strategi keamanan NATO pada waktu pertama kali NATO di kenal dengan sebutan The Strategic Concept for the defence of The North Atlantic area. Strategi tersebut dikembangkan antara Oktober 1949 dan April 1950, dirancang sebagai operasi skala besar untuk mempertahankan wilayah negaranya dari kemungkinan serangan yang dilakukan oleh Uni Soviet. Pada bulan Desember 1954, NATO mengembangkan strategi Massive Retaliation (pembalasan secara besar-besaran). Strategi ini menekankan pada pentingnya konsep deterrence (penangkalan), dimana jika terdapat ancaman yang dapat mengganggu keutuhan wilayah negara anggotanya, maka NATO akan melakukan tindakan dengan menggunakan cara apapun, termasuk penggunaan senjata nuklir untuk menyelesaikan masalah tersebut.47

strategi Massive Retaliation ini banyak menimbulkan kritik dikalangan ahli strategi sipil maupun militer. Salah satu kritik yang diajukan adalah dengan menggantungkan diri pada kekuatan nuklir, jika serangan yang dilakukan oleh Uni Soviet menggunakan kekuatan konvensional, maka tindakan pembalasan yang dilakukan oleh Amerika Serikat akan menghancurkan peradaban seluruh manusia. Oleh karenanya strategi Massive Retaliation dianggap sebagai kebijakan yang tidak bermoral dari beresiko tinggi.48

47

Ibid, h.43. 48

Anna Rinto Juliastuti, Kebijakan NATO di Eropa Timur Periode 1990-1996, Skripsi S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, 1997, h.38.

Akibat banyaknya kritik terhadap strategi Massive Retaliation, maka Pada tahun 1950-an NATO memulai pembahasan mengenai kemungkinan untuk merubah pendekatan strategi Massive Retaliation tersebut, dan pembahasan ini berlangsung sampai tahun 1967. pada tanggal 9 Mei 1967 setelah melalui perdebatan yang panjang, maka strategi Massive Retaliation digantikan dengan strategi Flexible Respond.49 Strategi Flexible Respond ini menuntut NATO untuk mempunyai kapabilitas guna merespons berbagai ancaman militer dari Pakta Warsawa dengan tingkat respons yang tepat.50

NATO perlahan-perlahan mulai mencari cara untuk mengurangi bahaya dan untuk mencari dasar untuk mengembangkan hubungan yang lebih lanjut melalui hubungan yang baik dengan Uni Soviet dan negara-negara lain anggota Pakta Warsawa. Pada tahun 1967 dikeluarkan Harmed Report, yang mendirikan pertahanan dan dialog termasuk didalamnya pengendalian senjata, sebagai pendekatan NATO yang baru.

Sebelumnya di tahun 1966, ketika NATO masih membahas tentang Strategi Flexible Respond,51 Perancis secara mengejutkan menyatakan diri keluar dari keanggotaan NATO. Hal tersebut dipicu oleh pertentangan-pertentangan yang sering dialami Perancis dengan Amerika Serikat. Pertentangan tersebut dapat dlihat ketika Perancis memberikan usulan mengenai pembentukan Dewan Pimpinan yang terdiri dari tiga negara yaitu Amerika Serikat, inggris dan Perancis, namun, ditolak oleh Presiden Eisenhower (AS) dengan alasan bahwa jika Dewan Pimpinan dilanjutkan maka hal itu akan memudarkan peranan NATO

49

http://www.nato.int/cps/en/natolive/topics_56626.htm, diakses pada tanggal 15 Maret 2012. 50

Ibid, 39. 51

G. paskalina Moningka, Latarbelakang Sikap Presiden Mitterland Terhadapa Keputusan NATO Mengenai Penempatan Euromissile, Skripsi S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia,1989, h.33.

yang difokuskan pada negara-negara anggota yang mayoritas terdapat di Eropa Barat.52

Puncak pertentangan antara Perancis dan Amerika Serikat ketika Amerika Serikat dan Inggris membuat suatu persetujuan yang diberi nama anglo American. Di dalam persetujuan anglo American tersebut, Inggris bersedia membantu Amerika Serikat dengan memberikan sebagian senjata nuklirnya. Hal ini membuat Presiden Perancis yaitu Charles de Gaulle menjadi tidak suka. De Gaulle menyatakan Perancis harus bisa mengembangkan kekuatannya nuklirnya sendiri tanpa membaginya dengan negara lain. De gaulle sangat sadar bahwa kekuatan militernya sendiri terlampau kecil untuk memungkinkan negara tersebut memegang peranan utama di dunia. Masalah ini akhirnya membuat Perancis memutuskan untuk keluar dari NATO pada tanggal 7 Maret 1966.53 Walaupun begitu, ini tidak berarti Perancis keluar sepenuhnya dari NATO, De Gaulle menyatakan bahwa Perancis masih bersedia terus untuk bekerjasama dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara. Walaupun, Perancis tidak keluar sepenuhnya dari NATO, De Gaulle tetap meminta agar markas besar NATO yang berada di Perancis segera dipindahkan, maka atas permintaan Perancis tersebut akhirnya markas besar NATO dipindahkan ke Brussel, Belgia.54

5. Konsep Strategi Keamanan NATO Pasca Perang Dingin

Pasca perang dingin yang ditandai oeh runtuhnya Uni Soviet ternyata tidak membuat dunia khususnya Eropa menjadi aman tetapi malah memunculkan ancaman keamanan baru seperti konflik etnis, migrasi, konflik perbatasan, pelanggaran hak asasi manusia dan instabilitas politik dan ekonomi di sejumlah

52

Ibid, h.33. 53

http://www.nato.int/history/index.html, diakses pada tanggal 16 Maret 2012. 54

negara Eropa Timur dan Tengah yang memiliki potensi dapat meluas ke negara lain atau secara langsung mengganggu kepentingan keamanan negara anggota aliansi. Perkembangan yang terjadi tersebut menandai perubahan baru lingkungan keamanan di Eropa dan menuntut NATO untuk melakukan langkah adaptasi terhadap strategi keamanannya, dengan tetap kepada fungsi utamanya, memberikan jaminan keamanan bagi anggotanya.

Perubahan strategi NATO dimulai dengan diadopsinya NATO’s Strategi

Concept (NSC) dan Declaration and Peace and Cooperation pada pertemuan para kepala pemerintah dan negara NATO di Roma Bulan November 1991.55 NSC merupakan bentuk upaya NATO mengatasi masalah ”irrelevance dilemma (tidak lagi adanya ancaman monothic massive and simoultaneous attack Pakta Warsawa)56 yang dihadapi NATO, melalui perlunya peningkatan kegiatan NATO yang lebih luas melalui strategi out of area.57 Strategi out of area tersebut mendasari perlunya perluasan aktifitas NATO di luar kawasan dalam menghadapi perkembangan yang terjadi di negara-negara tersebut tersebut melalui operasi di luar kawasan (menjaga perdamaian/peacekeeping) dan formulasi baru dalam hubungannya dengan negara-negara bekas anggota Pakta Warsawa tersebut.

Pada intinya konsep baru strategi NATO adalah menggabungkan suatu pendekatan keamanan yang didasarkan kepada dialog dan kerjasama dengan memelihara kemampuan NATO Collective defence.58 Konsep ini mencerminkan tugas baru NATO yang meliputi (1) pengembangan proses kerjasama, dialog dan

55

NATO handbook: Partnership and cooperations, Brussel: NATO office and Press, 2001 h. 44. 56

Monothic massive and simoultaneous attack Pakta Warsawa adalah ancaman secara besar-besaran yang dilakukan sendiri oleh Pakta Warsawa dan penyerangannya dilakukan pada waktu bersamaan.

57

Ibid, h. 44. 58

kemitraan dengan negara Eropa Tengah dan Timur serta negara lain dalam The Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE), (2) kerjasama yang lebih erat dengan institusi lain di bidang keamanan Eropa seperti OSCE, Western European Union (WEU) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta

Dokumen terkait