• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

KESIMPULAN DAN SARAN A Kesimpulan

2. Kesimpulan khusus

Pendidikan politik memiliki arti penting bagi partai politik namun partai politik belum melaksanakan pendidikan politik sesuai dengan yang diharapkan. Partai politik perlu membenahi pendidikan politik untuk elite-elite politiknya. Pendidikan politik yang diberikan kepada elite politik atau kader partai masih berbentuk indoktrinasi. Kader partai hanya menerima ideologi partai, visi misi partai serta program dan kepentingan partai politik tanpa daya kritisi dari masing- masing elite politik.Mereka dituntut loyalitas terhadap partai politik, dan dikenakan sanksi pencabutan keanggotaan legislatif bagi elite politik yang tidak loyal terhadap partai politiknya.Pendidikan politik sangat berbeda dengan propaganda yang membuat orang terlena dan dungu serta indoktrinasi yang membuat orang kaku, berpandangan sempit, dan fanatik.Para elite politik masih menganggap bahwa pendidikan politik bagi masyarakat adalah memberikan pemahaman tentang pentingnya memilih sehingga mereka hanya bertumpu pada kegiatan kampanye-kempanye politik. Padahal pendidikan politik bagi masyarakat

Rizwan Martiadi, 2015

PANDANGAN ELITE POLITIK TENTANG MAKNA PENDIDIKAN POLITIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

adalah bagaimana agar masyarakat melek politik. Media Reses yang seharusnya sebagai salah satu media pendidikan politik, selain untuk sosialisasi program- program pemerintah dan penyerapan aspirasi rakyat hanya digunakan untuk manuver politik yaitu kampanye pribadi.

Partai politik masih kekurangan kader-kader yang berkualitas baik secara pengetahuan, pengalaman, keterampilan maupun moral. Selain itu masih ada elite- elite politik yang belum mendapatkan pendidikan kader, belum berpengalaman dalam politik, belum terjun ketengah masyarakat namun ia berhasil duduk di parlemen. Belum ada elite politik yang dapat dijadikan contoh dalam kehidupan berpolitik. Mereka lebih banyak mengedepankan realita daripada idealisme. Sangat jarang perdebatan tentang kepentingan rakyat di parlemen. Mayoritas elite politik berorientasi kepada kekuasaan, kepentingan pribadinya dan golongan (partai politik). Interaksi yang mereka lakukan lebih bernuansa pencitraan. Bagaimana membuat dirinya baik dimata konstituen dan partai politik. Sehingga mereka akan terpilih di periode berikutnya.

Konstruksi Pendidikan politik bagi elite politik yang diselenggarakan partai politik masih belum memadai. Pendidikan politik berjalan secara beragam. Akhirnya keberagaman itu menyebabkan terjadinyamissperception atau kesenjangan persepsi tentang pendidikan politik antara politisi dan masyarakat. Sehingga konstruksi pendidikan politik bagi elite politik perlu dibenahi, agar mereka dapat bertanggung jawab dengan tugas dan fungsinya baik sebagai legislatif maupun eksekutif. Sementara itu konstruksi pendidikan politik bagi masyarakat harus memberikan pendidikan politik yang sebenarnya kepada masyarakat. Mereka harus menkonstruksi pendidikan politik bagi masyarakat agar masyarakat melek politik. Sehingga tujuan nasional yang tercantum dalam pembukaan UUD NRI 1945 dapat tercapai.

B. Implikasi

Jika kondisi ini tidak segera dibenahi akan berdampak pada meningkatnya angka golongan putih (golput) di kalangan masyarakat, karena mereka jenuh

Rizwan Martiadi, 2015

PANDANGAN ELITE POLITIK TENTANG MAKNA PENDIDIKAN POLITIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dengan janji-janji politik serta transaksi-transaksi politik yang tidak ditepati oleh elite-elite politik.

Bagi masyarakat yang tidak melek politik akan beranggapan bahwa politik itu adalah bagi-bagi uang, money politics adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan, masyarakat dapat beranggapan bahwa praktik money politics adalah simbiosis mutualisme, win win solution, take and give yang dilakukan oleh elite politik setiap lima tahun sekali.

C. Saran

1) Kepada pemerintah pusat dan DPR sebaiknya dikaji kembali tentang sistem pemilihan umum proporsional terbuka, agar tidak menimbulkan konflik di internal partai politik.

2) Kepada anggota DPRD provinsi Jawa Barat agar tidak menggunakan praktik money politics dalam kegiatan kampanye. Gunakanlah sosialisasi program partai didalam meraih simpati masyarakat. Manfaatkan media Reses sebagai media pendidikan politik yang sebenarnya kepada masyarakat. Keberhasilan pendidikan politik adalah masyarakat melek terhadap politik. Jangan terpaku pada kampanye politik dan tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilu.

3) Kepada semua Partai politik agar melakukan

a) Re-Ideologisasi Pancasila. Walaupun sekarang Partai politik tidak menganut asas tunggal lagi, karena Pancasila adalah ideologi dan dasar negara walaupun tidak berbicara azas tunggal, semua Partai politik harus berpijak pada Pancasila yang sesuai dengan pembukaan UUD NRI 1945 dan UUD NRI 1945.

b) Re-konseptualisasi, mengkonsep ulang apa yang dimaksud pendidikan politik. Pendidikan politik bukanlah semata-mata kampanye politik, tetapi harus diartikan sebagai upaya yang terencana dan sistematis dalam rangka masyarakat yang melek politik.

c) Re-Instrumenisasi, bagaimana struktur partai politik itu dibangun. Elite-elite partai politik harus mendapatkan pendidikan politik secara

Rizwan Martiadi, 2015

PANDANGAN ELITE POLITIK TENTANG MAKNA PENDIDIKAN POLITIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

komprehensif. Bentuk pembelajaran pendidikan politik harus diubah dari yang bernuansa indoktrinasi menjadi demokratis yang terbuka terhadap berbagai kritisi dari elite- elite politik sepanjang tidak keluar dari koridor Pancasila dan UUD NRI 1945.

4) Kepada civitas akademika khususnya Pendidikan Kewarganegaraan merevitalisasi pendidikan politik untuk elite politik dan masyarakat, bekerja sama dengan pemerintah dan partai politik agar terwujud sinergitas untuk melakukan:

a) Re-Ideologisasi mendorong, menggiring, mengajak menuntun, seluruh komponen bangsa ini, mulai individu, organisasi kemudian lembaga- lembaga baik pemerintah maupun swadaya masyarakat kembali ke patokan dasar yaitu ideologi Pancasila, memahami Pancasila seutuhnya tidak hanya memahami Pancasila lewat kata-katanya saja. Bukan hanya pengertian struktural bahwa Pancasila itu ada lima sila, tetapi kita harus memaknai bahwa jika kita bicara kemanusiaan maka kemanusiaan yang harus berketuhanan, kemanusiaan yang berkesatuan indonesia, kemanusiaan yang mampu hidup berdemokrasi, kemanusiaan yang berkeadilan sosial, jadi sila sila itu harus ditempatkan didalam sentrumnya.

b) Re-Konseptualisasi, merekonsepsi, mengkonsep ulang apa yang dimaksud pendidikan politik agar semua media pendidikan politik menjalankan pendidikan politik yang sebenarnya, tidak hanya terjebak dalam indoktrinasi, kampanye politik dan propaganda semata

c) Re-Instrumenisasi, alat-alatnya ditata ulang seperti ceramah-ceramah dan pidato-pidatodari elite-elite politik maupun pejabat negara yang memberikan muatan pendidikan politik dan tidak semata terjebak dalam indoktrinasi dan kampanye politik sehingga masyarakat memiliki kesadaran dan melek akan politik.Pembelajaran di kelas yang lebih variatif dan aktual sumbernya sehingga peserta didik memahami apa yang salah dari sebuah fenomena dan bagaimana

Rizwan Martiadi, 2015

PANDANGAN ELITE POLITIK TENTANG MAKNA PENDIDIKAN POLITIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

seharusnya.Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang memberikan muatan pendidikan politik sehingga masyarakat yang demokratis dan toleransi dapat tercapai. Tayangan telivisi yang memberikan informasi yang sesungguhnya, tidak terjebak dalam propaganda semata, serta memberikan muatan pendidikan politik untuk tujuian smart and good citizen.

d) Re-Praksisasi, membenahi kehidupan nyata. Akademisi PKN harus mengawal jalannya pendidikan politik di masyarakat, memberikan teladan yang baik, dan mampu menciptakan pendidikan politik yang terencana dan sistematis kepada semua lapisan masyarakat agar masyarakat sadar akan hak dan tanggung jawabnya sebagai warga negara sehingga tidak menjadi objek politik semata. Menciptakan masyarakat yang smart and good citizen.

5) Mengingat peneliti merasa masih banyak kekurangan dalam penelitian tesis ini, perlu peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian yang mendalam tentang elite politik dan budaya politik, mengingat kedua konsep ini begitu penting dalam menambah khazanah keilmuan PKn yang belum banyak membahas tentang elite politik dan budaya politik dalam rangka upaya pembangunan politik Bangsa dan Negara Indonesia.

Rizwan Martiadi, 2015

PANDANGAN ELITE POLITIK TENTANG MAKNA PENDIDIKAN POLITIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Affandi, Idrus. (1993). Analisis Buku Political Education R Brownhill dan Patricia Smart (Makalah). Bandung: Lab PPKN IKIP.

Affandi, Idrus. (2011). Pendidikan Politik (Mengefektifkan Organisasi Pemuda, Melaksanakan Politik Pancasila dan UUD 1945) Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Alfian, (1978). Pemikiran dan perubahan Politik Indonesia (kumpulankarangan). Jakarta PT. Gramedia.

Alfian (1981). Politik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia Jakarta: LP3ES Alfian & Nazarudin, (1991) Profil Budaya Politik Indonesia. Jakarta. PT.

Temprint.

Almond Gabriel A dan Powell Bingham G (1978) “Comparative Politics Systems, Process and Policy, Boston. Little Brown Comp.

Almond, Gabriel A dan Sidney Verba. 1984. Budaya Politik: Tingkah Laku Politik dan Demokrasi di Lima Negara. Bina Aksara. Jakarta.

Almond and Verba, (1990) Budaya Politik Tingkah laku politik dan Demokrasi di Lima negaraTerjemahan oleh Sahat Simamora. Jakarta : Bumi Aksara Al Muchtar, Suwarma (2000) Pengantar Studi Sistem Politik Indonesia.

Bandung. Gelar Pustaka Mandiri.

Andrain, Charles F. (1992)Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial. dari buku asliberjudul Political Life and Social Change. Penerjemah Luqman Hakim.Yogyakarta: PT Tiara Wacana.

Berger Peter dan Luckman, Thomas.(1990)”Tafsiran Sosial Atas Kenyataan

Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan”. LP3ES, Jakarta.

Bogdan, R.C dan Biklen, S.K. (1982). Qualitative Research for Education : An Introduction to Theory and Mehtods,Boston : Allyn and Bacon, Inc Budimansyah, Dasim. (2010) Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan

menyenangkan. Bandung PT GENESINDO

Budiardjo,M(1991)Aneka pemikiran tentang Kuasa dan Wibawa, Jakarta:

Rizwan Martiadi, 2015

PANDANGAN ELITE POLITIK TENTANG MAKNA PENDIDIKAN POLITIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Budiardjo, M (2009) Dasar-dasar Ilmu Politik Jakarta: PT Gramedia

Bungin, Burhan. (2001). Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta : Kencana PrenadaMedia Group

Cogan JJ. (1999) Developing The Civic Society, The Role of Civic Education Bandung CICED

Creswell, John W. (2010). Edisi ketiga Research Design Pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Creswell, John W (1998) Qualitative Inquiry and Research Design: choosing among Five Traditions. London: Sage Publication

Darmawan, Cecep (2013) Urgensi Keterbukaan Informasi dan Pendidikan Warganegaradalam Potret Keterbukaan Informasi Publik Pemikiran Dan Gagasan Dari Jawa Barat Komisi Informasi Provinsi Jawa Barat Djahiri. A. Kosasih (1993). Membina Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial PLS

dan PPS yang Menjawab Tantangan Hari Esok. Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, I/1993. Bandung : Forum Komunikasi FPIPS / IPS Indonesia.

Djahiri, A Kosasih (2004) Landasan organisasi Kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan Persekolahan, Bandung: Lab PKn UPI.

Delican, Mustafa. ELITE THEORIES OF PARETO, MOSCA AND MICHELS Dye, Thomas R. and Zeigler, Harmon. (1970)The Iron of Democracy. Cliff: Wad

Worth.

Goetz, Judith Preissle and LeCompteMargaret Diane (1984) Ethnography and Qualitative Design in Educational Research.Published by Academic Press Huntington, Samuel P. (1994). Partisipasi Politik di Negara Berkembang, Jakarta

PT. Rineka Cipta.

ICCS Asian Report Civic Knowledge and Attitudes among Lower and Secondary Students in Five Asian Countries 2009

Kaelan. (2007). Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan tinggi. Yogyakarta. Penerbit Paradigma.

Rizwan Martiadi, 2015

PANDANGAN ELITE POLITIK TENTANG MAKNA PENDIDIKAN POLITIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Kantaprawira, Rusadi. (2004) Sistem Polilik Indonesia: Suatu Model PengantarBandung: Sinar Baru Algensindo

Kantaprawira, Rusadi. (1988).Sistem Politik Indonesia Suatu Model Pengantar Bandung : Sinar Baru

Kartono, Kartini. (2009) Pendidikan Politik sebagai Bagian dari Pendidikan Orang Dewasa Bandung. Mandar Maju

Kartodirdjo,Sartono. (1990)Kepemimpinan dalam Dimensi Sosial, Jakarta, LP3ES

Kavang, Dannis (1998) Political Culture. Bandung CV Armico

Kencana, Inu (2005) Sistem politik Indonesia Bandung Refika Aditama

Kerlinger (2000) Asas asas Penelitian Behavioral. Penerjemah Landung R. Simatupang. Yogyakarta: Universitas Gajahmada Pers.

Komarudin. Shaleh, R (2005). Implikasi Pendidikan Politik Di Pondok Pesantren Terhadap Perilaku Politik Santri (Tesis). Tidak Diterbitkan

Lincon and Guba. (1985). Naturalistic Inquiry. London : Sage Publication Mas'oed,Mochtar. dan Colin Mac Andrew (1982). Perbandingan Sistem Politik,

Yogyakarta, Gajah Mada University Press.

Michels, Robert. (1984). Partai Politik Kecenderungan Oligarkis dalam Birokrasi. Jakarta CV Rajawali.

Mahfud, MD. (2000). Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. Yogyakarta, Penerbit Rineka Cipta.

Miles, Mathew B. Dan A. Michael Huberman (1992) Analisis data kualitatif:Buku sumber tentang Metode-metode baru. Terjemahan oleh Tjetjep Rohendi Rohidi dari judulQualitatif data analisis. Jakarta : UI Press

Mills, C. Wright. (1956). The Power Elit. New York: Oxford University Press Mulyana, Dedi. (2002) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung PT Remaja

Rosda Karya.

Nasution, S (2003) Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung Tarsito Syamsudin, Nazaruddin. (1991). Profil Budaya Politik Indonesia. Jakarta: PT

Rizwan Martiadi, 2015

PANDANGAN ELITE POLITIK TENTANG MAKNA PENDIDIKAN POLITIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Patton, M.Q (1990) Qualitative Evaluation and Research Methods, London SAGE Publication

Poloma, Margaret M. (1994) Sosiologi Kontemporer, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Ritzer, George. & Smart, Barry The Hand Book of Social Theory London: University of Portsmouth, UK

Rush, Michael. dan Althof, Phillip. (1989) Pengantar Sosiologi Politik, Jakarta: PT. Rajawali

Rush, Michael dan Althoff, Phillip (2001). Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta:PT. Rajawali Press

Sadeli, Elly Hasan, dkk. (2009). Bedah Buku Political Education dari Robert Brownhill and Patricia Smart. Bandung, Kencana Utama.

Sanit, Arbi (1981) Sistem Politik Indonesia, Kestabilan, Peta Kekuatan Politik dan Pembangunan Jakarta: CV Rajawali

Sanit, Arbi. (1985)Perwakilan Politik Indonesia. Jakarta : CV. Rajawali.

Sapriya. (2001). Analisis Signifikasi “Content” PKn Persekolahan dalam Menghadapi Tuntutan Era Demokrasi dan Penegakan Hak Asasi Manusia. Jurnal Civicus (1) 57-72. Bandung. Jurusan PMPKN. UPI. Sapriya. (2007).Perspektif Pemikiran Pakar tentang Pendidikan

Kewarganegaraan dalam Membangun Bangsa. SPS. UPI. Bandung Sastroatmodjo, S. (1995) Perilaku Politik. Semarang: IKIP Semarang Press. Sirozi, Muhammad. (2005) Politik Pendidikan: Dinamika Hubungan antara

Kepentingan Kekuasaan dan Politik Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sukardjo, Komaruddin Ukim (2009) Landasan Pendidikan: Konsep dan AplikasinyaJakarta Rajawali pers

Sumarno, AP. 1990. Pendapat Umum Dalam Sistem Politik. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Surbakti, Ramlan. (1992) MemahamiIlmu Politik, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama,

Rizwan Martiadi, 2015

PANDANGAN ELITE POLITIK TENTANG MAKNA PENDIDIKAN POLITIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Surbakti, Ramlan. (1999) Memahami Ilmu Polilik. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia

Suwarno, Wiji 2009. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jokjakarta: Ar-Ruzz Media Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan Sekolah Menengah Atas (2006) Departeman PendidikanNasional.

Wahab, Azis & Sapriya. (2011). Teori dan Landasan Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung Penerbit Alfabeta.

Widjaja, Albert (1982). Budaya Politik Dan Pembangunan Ekonomi. Jakarta LP3ES

Winataputra, U.S. ( 2001) Jati diri pendidikan Kewarganegaraan sebagai wahana sistemik pendidikan demokrasi: sutau kajian konseptual dalam konteks pendidikan IPS. Disertasi PPS UPI: tidak diterbitkan

JURNAL

Kokotiasa, Wawan. Urgensi Pendidikan Politik. e-Jurnal IKIP PGRI madiun Jurnal Prodi PPKn 2012, vol. 01, no. 01

Mahendra, A.A Oka,Kampanye Pemilu 2014 Sebagai Bagian dari Pendidikan Politik Masyarakat: Jurnal Legislasi Indonesia hal 551 vol. 9 No 4 Desember 2012

Santoso, Listiyono. Dicari Sosok ‘Negarawan’ Untuk Indonesia Jurnal karya ilmiah IKIP PGRI MadiunJurnal Prodi PPKn [online]2013, vol. 02, no. 01

DOKUMEN

Aggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Golongan Karya (Golkar) UNDANG-UNDANG

UUD NRI 1945

Rizwan Martiadi, 2015

PANDANGAN ELITE POLITIK TENTANG MAKNA PENDIDIKAN POLITIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu UU No 2 tahun 2008 tentang Partai Politik

UU No 2 tahun 2011 revisi UU Partai Politik

UU No 17 tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPRD I, DPRD II.

Inpres No 12 tahun 1982 tentang Pendidikan Politik bagi Generasi Muda MEDIA CETAK

Harian Umum Pikiran Rakyat 6 april 2014 Bandung Majalah Gatra , 03-09 Januari 2013

Dokumen terkait