• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN 1. Kesimpulan Umum

2. Kesimpulan Khusus

Setelah melakukan penelitian dan analisis, maka dalam tahapan ini peneliti akan memaparkan beberapa kesimpulan khusus yang di dasarkan kepada rumusan masalah yang ditentukan. Kesimpulan tersebut ialah sebagai berikut:

1. Proses pemberdayaaan potensi pemuda di Padepokan Putra Siliwangi diarahkan pada metode danstrategi berbasis kearifan lokal yang bersumber pada nilai-nilai tradisi lisan sunda “ tetekon” (Budaya warisan leluhur). 2. Pengembangan nilai-nilai karakter berbasis kearifan lokal dilaksanakan melalui tahap-tahap pengembangan karakter di antaranya tahap pengetahuan, tahap pemahaman, tahap pemaknaan, tahap penerapan hingga pada tahap pembiasaan. Karakter yang ditunjukkan pun dikolaborasikan dengan nilai-nilai tetekon Sunda yang disesuaikan dengan harapan pembentukan karakter peserta. 3. Terdapat dua kendala yang dihadapi oleh Padepokan Putra Siliwangi yaitu:1)

faktor internal dan 2) faktor eksternal. Faktor internal meliputi ketidakseriusan peserta dalam latihan, kesulitan dalam perekrutan pemuda, kurangnya dukungan pemahaman pemuda tentang warisan budaya Sunda. Kemudian faktor eksternalnya meliputi kurangnya fasilitas pendukung untuk latihan, kurangnya kepedulian sosial baik dari keluarga, masyarakat dan pemerintah, dan kurangnya promosi karena keterbatasan sarana dan prasarana.

4. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala yang dihadapi oleh padepokan putra siliwangi yaitu: 1) faktor internal meliputi pemberian variasi pada metode pembelajaran sifat, membantu pemuda dalam pengembangan

kewirausahaan, dan melatih pemuda supaya lebih mahir dalam mengembangkan seni tradisional, dan 2) faktor eksternal dilakukan melalui pengadaan sarana dan prasarana yang memadai.

B. REKOMENDASI

Dari hasil penelitian ini, sebagai bahan rekomendasi dengan mempertimbangkan hasil temuan maka beberapa hal yang dapat menjadi bahan rekomendasi atau saran peneliti adalah sebagai berikut:

1. Bagi Padepokan

a. Padepokan sebaiknya dalam metode pembelajaran pencak silat terlebih variatif dan menonjolkan sifat-sifat kearifan lokal secara khusus serta mendalami metode pengembangan karakter secara kontekstual seperti diadakan outbond, games kreatif dan sebagainya.

b. Padepokan hendaknya meningkatkan sarana dan prasarana untuk peserta agar dapat mengoptimalkan proses pemberdayaan pemuda.

2. Bagi Masyarakat (Pemuda) :

a. Masyarakat khususnya pemuda sebaiknya terjun langsung dalam pelestarian nilai-nilai kearifan lokal, misalnya dengan mengikuti sanggar, binaan desa, pos kearifan lokal dan sebagainya.

b. Masyarakat khususnya keluarga mendukung proses pengembangan karakter anak sebagai generasi penerus bangsa dengan mengajarkan nilai-nilai karakter dan kearifan lokal secara aplikatif.

3. Bagi Lembaga Jurusan :

a. Lebih mengintensifkan kajian-kajian tentang kearifan lokal untuk dijadikan bahan kajian studi jurusan pendidikan kewarganegaraan.

b. Memperbanyak melaksanakan pengabdian pada masyarakat untuk mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal.

126

4. Bagi Pemerintah :

a. Pemerintah khususnya Dinas Pariwisata dan kebudayaan lebih mengoptimalkan pemberian bantuan sarana dan prasarana kepada lembaga-lembaga pemberdayaan seperti padepokan pencak silat.

b. Membuat regulasi kebijakan dalam pembuatan peraturan daerah mengenai pentingnya memasukan nilai-nilai kearifan lokal (pencak silat) pada kegiatan ekstrakurikuler dipersekolahan.

5. Bagi Peneliti Lain :

a. Sebaiknya mengadakan penelitian lebih mendalam mengenai pembinaan karakter khususnya penerapan nilai-nilai kearifan lokal secara menonjol melalui pencak silat karena pencak silat merupakan salah satu unsur kebudayaan yang berkonstribusi terhadap pembentukan karakter khususnya dalam menanamkan karakter religius, disiplin, mandiri, tanggung jawab dan peduli sosial.

b. Sebaiknya peneliti menggunakan penelitian research and development dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif untuk mendeskripsikan pengembangan inovasi model pembelajaran melalui pencak silat dan mengetahui pengaruh kegiatan pencak silat terhadap pengembangan karakter pemuda.

Alquran (QS.Al-Anbiya, 21:59-60, QS.18: 13-14, QS. Al-Kahfi,18 : 60.). Alwasilah, A. Chaedar. (2002). Pokoknya Kualitatif. Pustaka Jaya: Jakarta.

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kuriulum. (2010).Bahan Penelitian

Penguatatan Metodelogi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya Untuk Membentuk Daya Saingdan Karakter Bangsa (Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional.

Budimansyah, D. (2010). Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk

Membangun Karakter Bangsa. Bandung: Widya Aksara Press.

Budimansyah, Dasim dan Bestari, Prayoga (Eds). 2011. Aktualisasi Nilai-Nilai

Pancasila dalam Membangun Karakter Warga Negara. Bandung: Widia

Askara Press.

Darmawan, Cecep.2010. Kebijakan Pendidikan: Catatan Kritis Sebuah Bunga

Rampai. Bandung: Pustaka Aulia Pres.

Djahiri, Ahmad Kosasih . (1985). Strategi Pengajaran Afektif, Nilai Moral VCT

dan Games dalam VCT. Bandung: Lab. PMPKN IKIP Bandung.

Elmubarok, Z. 2007. Membumikan Pendidikan Nilai ( mengumpulkan yang

terserak menyambung yang terputus dan menyatukan yang tercerai).

Bandung: Alfabeta.

Faisal, S. (1992). Format-format Penelitian Sosial (Dasar-dasar dan Aplikasi). Jakarta: Rajawali Pers.

Fedyani Saifudin Achmad dan Karim Mulyawan. 2008. Refleksi Karakter Bangsa. Jakarta: Forum Kajian Antropologi Indonesia.

Kamisa. (1997). Kamus Lengkap Bangsa Indonesia. Surabaya: Kartika.

Kartasasmita, Ginanjar. Ekonomi Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan

Pemerataan, Jakarta: CIDES, 1995

Kasmahidayat dan Sumiyati. 2008. Ibing Pencak Silat Sebagai Materi

Kementerian Pendidikan Nasional. (2010). Kerangka Acuan Pendidikan Karakter

Tahun Anggaran 2010. Jakarta: Kemendiknas.

Khan, Yahya. (2010). Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri. Yogyakarta: Public Publishing.

Koesoema A, Doni (2007). Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di

Zaman Globalisasi. Jakarta: Grasindo.

Kurnadi, Edi. 1991. Peranan Pemuda dalam Pembangunan Politik di Indonesia. Bandung: Angkasa.

Lickona, Thomas (1992). ”Educating For Character How Our Schools Can Teach

Respect and Responsibility”, New

York-Toronto-London-Sydney-Auckland: Bantam Books.

Marwadi dan Hidayati, Nur. 2002. Ilmu Alamiah Dasar Ilmu Sosial Dasar Ilmu

Budaya Dasar. Bandung: CV Pustaka Setia.

Megawangi, R. 2004. Pendidikan Karakter (Solusi yang Tepat untuk Membangun

Karakter Anak). Bandung: (Sponsor) BPMIGAS dan Energi.

Miles & Huberman. (1992). Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang

Metode-Metode Baru. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).

Moleong, J, Lexy. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Musfiroh. (2008). Pengembangan Karakter Anak Melalui Pendidikan Karakter dalam Character Building. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Nasution. (1996). Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif. Bandung: Tarsito. Pemerintah Republik Indonesia. 2010. Desain Induk Pembangunan Karakter

Bangsa Tahun 2010-2025.

Permana, Cecep Eka. 2010. Kearifan Lokal Masyarakat Baduya dalam

Mengatasi Bencana.Jakarta: Wedatama Widia Sastra..

Purwadarminta, W.J.S. (1985). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Pusat Bahasa (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka

Utama.

Ronnie, Dani. (2006). The Power of Emotional & Adversity Quetient for

Bangsa. Jakarta: Forum Kajian Antropologi Indonesia.

Saptomo, Ade. 2010. Hukum dan Kearifan Lokal. Jakarta. PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.

Simantujak, B dan Pasaribu. (1990). Membina dan mengembangkan generasi muda. Bandung: Tarsito

Soedarsonao, HS. (2002). Character Building (Membentuk Watak) Mengubah Pemikiran, Sikap, dan Perilaku untuk Membentuk Pribadi Efektif guna Mencapai Sukses Sejati. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Somantri, Numan, (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Srijanti, Purwanto.S.K, Artiningrum Prini. 2007. Etika Membangun sikap

Profesionalisme Sarjana. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sugiono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Alfabeta: Bandung.

Sukmadinata, N.S. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sumahamijaya, Suparman. (2003). Pendidikan Karakter Mandiri Dan

Kewiraswastaan. Bandung: Angkasa.

Suprapti, W., Sri Ratna. 2001. Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri.

Desertasi

Sapriya (2007). Perspektif Pemikiran Pakar Tentang Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Pembagunan Karakter Bangsa. Disertasi.

Program Studi Pasca Sarjana UPI . Bandung: tidak diterbitkan.

Skripsi

Ulfa, Ira Fatria. 2012. Pembinaan Karakter Melalui Seni Tradisional. Skripsi PKn FPIPS UPI: Tidak diterbitkan

Sumber dari internet

Cherly E. Czuba. (http://www.joe.org/joe/ 1999 october/ pemberdayaan. comm1. Html.

Elly Burhainy Faizal, (SP Daily). 31 Oktober 2003. [Online] Tersedia dalam : http://www. papuaindependent.com Elly Burhainy Faizal, (SP Daily) 31 Oktober 2003.301011

Iun, 4 September 2003. “Menggali Kearifan Lokal untuk Ajeg Bali”. [Online]

Tersedia dalam :

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/9/17/bd1hl.htm. 301011.

http://id.wikipedia.org/wiki/Ikatan_Pencak_Silat_Indonesia http://www.persilat.org/Informasi-indonesia.htm

Dokumen terkait