• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan Penambahan Usaha Bidang Mortar

Dalam dokumen LAPORAN STUDI KELAYAKAN (Halaman 70-77)

BAB VIII ASPEK KEUANGAN

6. Biaya Operasional

8.9 Kesimpulan Penambahan Usaha Bidang Mortar

Berdasarkan kajian, evaluasi dan analisa keuangan serta proyeksi-proyeksi lainnya dengan syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka dapat disimpulkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha bidang mortar yang akan dilaksanakan oleh PT Emdeki Utama Tbk adalah layak untuk dilaksanakan.

Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha Bidang Mortar - PT Emdeki Utama Tbk VIII - 16 8.10 Proyeksi Keuangan Konsolidasi dengan Penambahan Kegiatan Usaha

Bidang Mortar dan PCC

Selain rencana penambahan kegiatan usaha mortar, PT Emdeki Utama Tbk juga berencana menambah kegiatan usaha lain yaitu produksi PCC (Precipitated Calcium Carbonate). Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PCC dibuat dalam laporan yang terpisah.

Proyeksi keuangan dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha disusun dengan memperhatikan bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha telah dilaksanakan dan Perseroan memperoleh dana dari hasil tersebut. Dengan dilaksanakannya Rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan mendapatkan tambahan pendapatan yang berasal dari pemanfaatan sisa bahan baku utama menjadi produk mortar dan PCC.

Asumsi-asumsi yang mendasari penyusunan proyeksi keuangan adalah sebagai berikut:

 Penyusunan asumsi sampai tahun 2026, atas pertimbangan bahwa usaha utama Perseroan mempunyai kesamaan dengan kegiatan penambahan usaha, sehingga pemasaran untuk kegiatan penambahan usaha tidak sulit;

 Pendapatan Perseroan dengan pendapatan usaha baru pada bidang mortar dan PCC diproyeksikan rata-rata naik sebesar 7,08% selama tahun 2022–2026 (CAGR). Prediksi kenaikan penjualan diperoleh dari manajemen Perseroan;

 Beban pokok pendapatan/penjualan diproyeksikan rata-rata sebesar 74,24%

dari pendapatan/penjualan selama tahun 2022–2026;

 Beban usaha diproyeksikan mengalami kenaikan per tahun selama tahun 2022–

2026 dengan rata-rata sebesar 4,62%;

 Perseroan diproyeksikan menerima pendapatan dari Rencana Penambahan Kegiatan Usaha proyek mortar dan PCC pada pertengahan tahun 2022;

Pendapatan Perseroan berasal dari penjualan kalsium karbida ekspor, kalsium karbida dalam negeri dan carbide desulphuriser. Selain itu, Perseroan berencana akan melakukan Penambahan Kegiatan Usaha bidang mortar dan PCC sehingga ada pendapatan tambahan dari kegiatan usaha tersebut.

Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha Bidang Mortar - PT Emdeki Utama Tbk VIII - 17 Gambar berikut menunjukkan proyeksi pendapatan dan beban pokok pendapatan Perseroan dengan Penambahan Kegiatan Usaha Mortar dan PCC mulai tahun 2022 sampai dengan tahun 2026.

Figur 42. PT Emdeki Utama Tbk

Proyeksi Pendapatan dan Beban Pokok Penjualan Tahun 2022-2026 Dengan Penambahan Kegiatan Usaha Mortar dan PCC

Sumber: Manajemen Perseroan, data diolah

Apabila ditampilkan dengan angka persentase dari tahun 2022 ke tahun 2026, adalah sebagai berikut.

Figur 43. COGS to Sales, Tahun 2022-2026

Dalam Jutaan Rupiah

PROJ PROJ PROJ PROJ PROJ

2022 2023 2024 2025 2026

Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des

PENDAPATAN 432.725 464.279 496.627 531.416 568.943 BEBAN POKOK PENJUALAN 334.614 350.125 368.774 387.028 406.002

%COGS to Sales 77,33% 75,41% 74,26% 72,83% 71,36%

KETERANGAN

2. Proyeksi Beban Usaha

Beban usaha terdiri dari beban-beban usaha eksisting dan usaha baru meliputi beban penjualan, beban umum dan administrasi, pendapatan lain-lain, serta beban lain-lain.

Gambar berikut menunjukkan proyeksi beban usaha mulai tahun 2022 sampai dengan tahun 2026.

Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha Bidang Mortar - PT Emdeki Utama Tbk VIII - 18 Figur 44. PT Emdeki Utama Tbk

Proyeksi Beban Usaha Tahun 2022–2026

Dengan Penambahan Kegiatan Usaha Mortar dan PCC

Sumber: Manajemen Perseroan, data diolah

3. Proyeksi Laba Sebelum Pajak dan Laba Bersih

Gambar berikut menunjukkan proyeksi laba sebelum pajak dan laba bersih Perseroan dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha mulai tahun 2022 sampai dengan tahun 2026.

Figur 45. PT Emdeki Utama Tbk

Proyeksi Laba Sebelum Pajak dan Laba Bersih Tahun 2022–2026 Dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha Mortar dan PCC

Sumber: Manajemen Perseroan, data diolah

Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha Bidang Mortar - PT Emdeki Utama Tbk VIII - 19 4. Biaya Investasi dan Sumber Pembiayaan

Dalam merealisasikan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha, dijalankan dengan memanfaatkan sisa bahan baku berupa kapur yang belum terpakai. Selama ini bahan baku yang tidak terpakai tersebut sebagian dijual dan sebagian yang sudah rusak dibuang. Sisa bahan baku tersebut dapat dipakai untuk bahan baku produk lain yaitu mortar. Biaya investasi rencana penambahan kegiatan usaha

Modal kerja adalah ukuran likuiditas suatu perusahaan, termasuk efisiensi operasional dan kesehatan keuangan dalam jangka pendek yang merujuk pada perbedaan aset lancar perusahaan dan kewajiban yang ditanggung dalam periode berjalan. Modal Kerja Bersih adalah selisih jumlah aset lancar dikurangi

Biaya operasional atau beban usaha terdiri dari beban-beban usaha eksisting dan usaha baru meliputi beban penjualan, beban umum dan administrasi, pendapatan lain-lain, serta beban lain-lain. Berdasarkan proyeksi dari manajemen, besaran biaya operasional diperkirakan mengalami kenaikan yang

Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha Bidang Mortar - PT Emdeki Utama Tbk VIII - 20 tidak signifikan dibandingkan dengan kondisi tanpa melakukan penambahan usaha.

Salvage Value atau biasa disebut Residual Value diperoleh dari nilai buku dari aset tetap perusahaan yang digunakan dalam rencana penambahan usaha bidang mortar pada saat memulai usaha penambahan tersebut sampai pada periode akhir proyeksi tahun 2026. Nilai buku dari aset tetap pada akhir proyeksi adalah sebesar Rp3.672 juta yang merupakan selisih antara nilai buku aset tetap tanpa penambahan usaha dengan nilai buku aset tetap dengan penambahan usaha.

Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha Bidang Mortar - PT Emdeki Utama Tbk VIII - 21 8.10.2 Analisis Titik Impas

Titik impas atau break even point (BEP) adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan (revenue) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja. BEP dalam Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:

BEP = Total Biaya Tetap

1 - Total Biaya Variabel Penjualan

Berdasarkan persamaan BEP dalam Rupiah, diperoleh BEP dalam Rupiah untuk masing-masing periode selama masa proyeksi. Nilai BEP dalam rupiah mencerminkan pendapatan minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. Perhitungan BEP untuk Rupiah pada proyeksi Dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha Mortar dan PCC adalah sebagai berikut:

Analisis profitabilitas adalah analisis untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam usahanya mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan. Jenis-jenis rasio profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang diperoleh dari kinerja suatu perusahaan. Sebagai gambaran bagaimana Perseroan dalam usahanya mendapatkan laba terdapat pada figur berikut ini:

Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha Bidang Mortar - PT Emdeki Utama Tbk VIII - 22 digambarkan dalam persentase laba operasi (Operating Profit Margin) terhadap pendapatan dan persentase laba bersih (Net Profit Margin) terhadap pendapatan mengalami peningkatan selama masa proyeksi tahun 2022 sampai dengan 2026, yang dapat diartikan bahwa Perseroan memiliki kemampuan dalam menghasilkan laba bagi perusahaan semakin baik.

8.10.4 Analisis Tingkat Imbal Balik Investasi (Return on Investment)

Return on Invesment adalah rasio yang menunjukkan hasil dari jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen. Rasio ini menunjukkan hasil dari seluruh aktiva yang dikendalikan dengan mengabaikan sumber pendanaan. Dengan ROI, Perseroan dapat mengetahui seberapa efisien perusahaan guna memanfaatkan aktiva untuk kegiatan operasional dan dapat memberikan informasi ukuran profitabilitas Perseroan. Dalam figur 45, dapat terlihat bahwa tingkat imbal balik investment cenderung mengalami peningkatan selama masa proyeksi tahun 2022 sampai dengan 2026, yang dapat diartikan bahwa Perseroan tingkat balikan dari investasi Perseroan semakin baik.

Dalam dokumen LAPORAN STUDI KELAYAKAN (Halaman 70-77)

Dokumen terkait