BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
Dalam penelitian ini, peneliti juga memberikan saran kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap penelitian ini antara lain :
1. Hasil penelitian menyatakan bahwa variabel Loyalitas Merek (X4) dan variabel Kesadaran Merek (X1) yang dimiliki oleh UD. Martabe perlu dipertahankan karena variabel ini mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Loyalitas Pembelian yang sesuai dengan pernyataan pelanggan yang selalu mengutamakan merek produk UD. Martabe ketika
membeli kacang sihobuk. Pihak UD. Martabe harus selalu mempertahankan keunggulan dari kualitas yang ada pada merek UD. Martabe ini karena merek tersebut sangat terkenal dikalangan masyarakat Tarutung dan sekitarnya.
2. Sedangkan untuk variabel Persepsi Kualitas (X2) dan Asosiasi Merek (X3) yang dimiliki oleh UD. Martabe perlu lebih ditingkatkan lagi walaupun variabel ini tidak mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Loyalitas Pembelian. UD. Martabe diharapkan dapat menciptakan perbedaan asosiasi merek antara produk mereka dengan produk lain agar konsumen dapat membangun persepsi yang lebih baik terhadap produk mereka. Hal ini sangat diperlukan untuk memenangkan persaingan bisnis.
3. Bagi para peneliti selanjutnya yang akan mengkaji lebih dalam tentang penelitian yang sama diharapkan agar hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu informasi yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya.
BAB II
KERANGKA TEORI 2.1 Merek
2.1.1 Pengertian Merek
Menurut UU Merek No. 15 Tahun 2001 Pasal 1 ayat 1, merek adalah ”tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa”. Definisi ini memiliki kesamaan dengan definisi versi American Marketing Association yang menekankan peranan merek sebagai identifier dan
differentiator. Berdasarkan definisi versi UU Merek No. 15 Tahun 2001 dan
American Marketing Association, secara teknis apabila seorang pemasar membuat nama, logo atau simbol baru untuk sebuah produk baru, maka ia telah menciptakan sebuah merek (Tjiptono, 2011:3).
Menurut Keller, merek adalah produk yang mampu memberikan dimensi tambahan yang secara unik membedakannya dari produk-produk lain yang dirancang untuk memuaskan kebutuhan serupa. Dengan kata lain, merek mencerminkan keseluruhan persepsi dan perasaan konsumen mengenai atribut dan kinerja produk, nama merek dan maknanya, dan perusahaan yang diasosiasikan dengan merek yang bersangkutan (Tjiptono, 2011:40).
2.1.2 Tujuan Merek
Tjiptono dan Diana (2000:39) menyatakan bahwa merek memiliki berbagai macam tujuan, yaitu:
1. Sebagai identitas perusahaan yang membedakannya dengan produk
pesaing, sehingga mudah mengenali dan melakukan pembelian ulang.
2. Sebagai alat promosi yang menonjolkan daya tarik produk (misalnya dengan bentuk desain dan warna-warni yang menarik).
3. Untuk membina citra, yaitu dengan memberikan keyakinan, jaminan kualitas, serta citra prestise tertentu kepada konsumen.
4. Untuk mengendalikan dan mendominasi pasar. Artinya, dengan
membangun merek yang terkenal, bercitra baik, dan dilindungi hak eksklusif berdasarkan hak cipta/paten, maka perusahaan dapat meraih dan mempertahankan loyalitas konsumen.
2.1.3 Makna dan Tipe Merek
Tjiptono dan Diana (2000:40) menjelaskan dalam suatu merek terkandung enam macam makna, yaitu:
1. Atribut
Merek menyampaikan atribut-atribut tertentu, misalnya Mercedes mengisyaratkan tahan lama (awet), mahal, desain berkualitas, nilai jual kembali tinggi, cepat dan sebagainya.
2. Manfaat
Merek bukanlah sekedar sekumpulan atribut, sebab yang dibeli oleh konsumen adalah manfaat, bukannya atribut.
3. Nilai-Nilai
Merek juga menyatakan nilai-nilai yang dianut produsennya. Contohnya Mercedes mencerminkan kinerja tinggi, keamanan dan prestise.
4. Budaya
Dalam merek terkandung pula budaya tertentu.
5. Kepribadian
Merek bisa pula memproyeksikan kepribadian tertentu. Apabila suatu merek divisualisasikan dengan orang, binatang, atau suatu objek, maka akan terbayangkan sesuatu dalam benak konsumen.
6. Pemakai
Merek juga mengisyaratkan tipe konsumen yang membeli atau menggunakan produknya.
Menurut Tjiptono dan Diana (2000:42) agar suatu merek dapat mencerminkan makna-makna yang ingin disampaikan, maka ada beberapa syarat yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Merek harus khas dan unik.
2. Merek harus menggambarkan sesuatu mengenai manfaat produk dan
pemakaiannya.
4. Merek harus mudah diucapakan, dikenali dan diingat.
5. Merek tidak boleh mengandung arti yang buruk di negara dan dalam bahasa lain.
6. Merek harus dapat menyesuaikan diri dengan produk-produk baru
yang mungkin ditambahkan kedalam lini produk.
2.2 Brand Equity (Ekuitas Merek)
2.2.1 Pengertian Brand Equity (Ekuitas Merek)
Menurut Kotler & Keller dalam Surachman (2008:5), ekuitas merek atau kekuatan suatu merek adalah suatu aset. Ekuitas merek dapat juga didefinisikan sebagai efek diferensial positif yang ditimbulkan oleh pengetahuan nama merek terhadap tanggapan pelanggan atas produk atau jasa tersebut. Ekuitas merek suatu produk akan menarik pelanggan untuk memperlihatkan preferensi terhadap produk tersebut dari pada produk yang tidak bermerek meski pada dasarnya kedua produk tersebut identik.
Menurut David Aaker dalam Tjiptono (2011:96), brand equity adalah serangkaian aset dan kewajiban (liabilities) merek yang terkait dengan sebuah merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan sebuah produk atau jasa kepada perusahaan dan/atau pelanggan perusahaan tersebut.
2.2.2 Elemen Brand Equity
Menurut Aaker dalam Durianto dkk (2001:4) brand equity dapat
1. Kesadaran merek (Brand Awareness)
Menunjukkan kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu.
2. Persepsi kualitas (Perceived Quality)
Mencerminkan persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas/keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkenaan dengan maksud yang diharapkan.
3. Asosiasi merek (Brand Associations)
Mencerminkan pencitraan suatu merek terhadap suatu kesan tertentu dalam kaitannya dengan kebiasaan, gaya hidup, manfaat, atribut produk, geografis, harga, pesaing, selebritis, dan lain-lain.
4. Loyalitas merek (Brand Loyalty)
Mencerminkan tingkat keterikatan konsumen dengan suatu merek produk.
Penjelasan mengenai empat elemen utama dari ekuitas merek tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kesadaran merek (Brand Awareness)
Tingkatan penerimaan awal dari seseorang ketika melihat dan atau mendengar suatu informasi tentang produk beserta mereknya
adalah kesadaran merek (brand awareness), yaitu kesanggupan
bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu. (Surachman, 2008:7).
Menurut Kartajaya (2010:64) tingkatan dari kekuatan merek adalah sebagai berikut :
a. Tidak menyadari merek (Unaware of brand)
Pada tahapan ini, pelanggan merasa ragu atau tidak yakin apakah sudah mengenal merek yang disebutkan atau belum. Tingkatan ini yang harusnya dihindari oleh perusahaan.
b. Pengenalan merek (Brand recognition)
Pada tahapan ini, pelanggan mampu mengidentifikasi merek yang disebutkan.
c. Pengingatan kembali merek (Brand recall)
Pada tahapan ini, pelanggan mampu mengingat merek tanpa diberikan stimulus.
d. Puncak pikiran (Top of mind)
Pada tahapan ini pelanggan mengingat merek sebagai yang pertama kali muncul di pikiran saat berbicara mengenai kategori produk tertentu.
2. Persepsi Kualitas (Perceived Quality)
Menurut Kartajaya (2010:73) persepsi kualitas didefenisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa sehubungan dengan tujuan yang diinginkan. Jika persepsi pelanggan terhadap kualitas keseluruhan buruk, sebesar
apapun usaha perusahaan untuk menciptakan loyalitas terhadap produk cenderung tidak akan berhasil.
Pelanggan mempersepsikan kulaitas produk berdasarkan elemen - elemen sebagai berikut :
a. Serviceability
Serviceability merupakan kemudahan untuk memperbaiki atau mendapatkan layanan terkait dengan produk.
b. Reliability
Reliability merupakan konsistensi kinerja dari suatu produk.
c. Features
Features merupakan elemen sekunder atau tambahan dari suatu produk.
d. Performance
Performance merupakan karakteristik operasional utama dari suatu produk.
e. Conformance with specifications
Conformance with specifications merupakan keadaan di mana tidak ada cacat pada produk, dan ada kesesuaian produk dengan dengan standar kualifikasi.
f. Durability
Durability merupakan nilai ekonomis dari suatu produk.
g. Fit and finish
Fit and finish merupakan kualitas tampilan akhir dari suatu produk yang tangible, tapi beda halnya dengan produk yang
sifatnya intangible karena kualitas tampilannya bersifat
abstrak.
3. Asosiasi merek (Brand Associations)
Menurut Durianto dkk (2001:69) asosiasi merek (brand
associations) adalah segala kesan yang muncul di benak seseorang yang tekait dengan ingatannya mengenai suatu merek. Kesan-kesan yang terkait merek akan semakin meningkat dengan semakin banyaknya pengalaman konsumen dalam mengkonsumsi suatu merek atau dengan semakin seringnya penampakan merek tersebut dalam strategi komunikasinya.
Asosiasi-asosiasi yang terkait dengan suatu merek umumnya dihubungkan dengan berbagai hal berikut :
a. Atribut produk (Product attributes)
Atribut produk yang paling banyak digunakan dalam strategi
positioning adalah mengasosiasikan atribut atau karakteristik produk, sehingga asosiasi bisa secara langsung diterjemahkan dalam alasan untuk pembelian suatu produk.
b. Atribut tak berwujud (Intangibles attributes)
Suatu faktor tak berwujud merupakan atribut umum, seperti halnya persepsi kualitas, kemajuan teknologi, atau kesan nilai yang mengikhtisarkan serangkaian atribut yang obyektif. c. Manfaat bagi konsumen (Customers benefits)
Biasanya terdapat hubungan antara atribut produk dan manfaat bagi konsumen. Terdapat dua manfaat bagi konsumen, yaitu: Manfaat rasional (rational benefit), adalah manfaat yang berkaitan erat dengan suatu atribut produk dari produk yang dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan yang rasional. Dan manfaat psikologis (psychological benefit), seringkali merupakan konsekuensi ekstrim dalam proses pembentukan sikap, berkaitan dengan perasaan yang ditimbulkan ketika membeli atau menggunakan merek tersebut.
d. Harga relatif (Relative price)
Evaluasi terhadap suatu merek di sebagian kelas produk ini akan diawali dengan penentuan posisi merek tersebut dalam satu atau dua dari tingkat harga.
e. Penggunaan (Application)
Pendekatan ini adalah dengan mengasosiasikan merek tersebut dengan suatu penggunaan atau aplikasi tertentu.
f. Pengguna/konsumen (User/customer)
Pendekatan ini adalah dengan mengasosiasikan sebuah merek dengan sebuah tipe pengguna atau konsumen dari produk tersebut.
g. Orang terkenal/khalayak (Celebrity/person)
Mengkaitkan orang terkenal atau artis dengan sebuah merek dapat mentransfer asosiasi kuat yang dimiliki oleh orang terkenal ke merek tersebut.
h. Gaya hidup/kepribadian (Lifestyle/personality)
Sebuah merek bisa diilhami oleh para konsumen merek tersebut dengan aneka kepribadian dan karakteristik gaya hidup yang hampir sama.
i. Kelas produk (Product class)
Beberapa merek perlu membuat keputusan positioning yang menentukan dan melibatkan asosiasi-asosiasi kelas produk. j. Para pesaing (Competitors)
Mengetahui pesaing dan berusaha untuk menyamai atau bahkan mengungguli pesaing.
k. Negara/wilayah geografis (Country/geographic area)
Sebuah negara dapat menjadi simbol yang kuat asalkan memiliki hubungan yang erat dengan produk, bahan, dan kemampuan.
4. Loyalitas Merek (Brand Loyalty)
Menurut Tjiptono dan Diana (2000:43) loyalitas merek merupakan dimensi inti dari ekuitas merek. Pelanggan yang loyal akan menjadi hambatan masuk bagi para pesaing, dan bisa menjadi benteng pelindung dari kemungkinan kompetisi harga.
Menurut Kartajaya (2010:71) tingkatan ketertarikan pelanggan terhadap suatu merek adalah sebagi berikut :
a. Switchers/price sensitive
Pada tingkat ini, pelanggan tidak loyal kepada merek atau
belum memiliki brand equity yang kuat. Setiap merek
dipersepsikan memberi kepuasan yang sama. Merek berperan kecil dalam keputusan pembelian. Pada tingkatan ini, pelanggan lebih sensitive dengan perbedaan harga
b. Satisfied/habitual buyer
Pada tingkatan ini, pelanggan merasa puas terhadap merek produk yang dikonsumsinya. Pelanggan juga sensitif terhadap
benefit baru yang ditawarkan kepada mereka.
c. Satisfied buyer with switching cost
Pada tingkatan ini, pelanggan merasa puas terhadap produk. Mereka harus mengeluarkan biaya tertentu apabila ingin berpindah merek.
d. Commited buyer
Pada tingkatan ini, pelanggan memiliki rasa bangga menggunakan produk yang ditawarkan. Mereka merekomendasikan merek yang sama kepada orang lain.
2.2.3 Manfaat Brand Equity
Bagi perusahaan, ekuitas merek memiliki potensi untuk menambah nilai dengan lima cara (Simamora, 2003:48), yaitu:
1. Ekuitas merek dapat memperkuat program memikat para konsumen
baru, atau merangkul kembali konsumen lama.
2. Empat dimensi ekuitas merek dapat menguatkan loyalitas merek dan nama yang teerkenal dapat memberikan alasan untuk membeli dan dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan.
3. Ekuitas merek memungkinkan margin yang lebih tinggi dengan
menjual produk pada harga optimum (premium pricing) dan
mengurangi ketergantungan pada promosi.
4. Ekuitas merek dapat memberikan dorongan bagi keseluruhan
distribusi.
2.3 Loyalitas Pembelian
2.3.1 Pengertian Loyalitas Pembelian
Oliver, dalam Hurriyati (2005:128) mendefinisikan “loyalitas adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalam untuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk/jasa terpilih secara konsisten dimasa yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan
usaha-usaha pemasaran mempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku.
Menurut Griffin, “Loyalty is defined as non random purchase
expressed over time by some decision making out”. Berdasarkan definisi tersebut dapat di jelaskan bahwa loyalitas lebih mengacu pada wujud perilaku dari unit-unit pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian secara terus menerus terhadap barang/jasa suatu perusahaan yang dipilih (Hurriyati, 2005:129).
Menurut Keller dalam Ferrinadewi (2008:173), loyalitas merupakan
hasil dari brand equity. Konsumen yang setia akan memberikan banyak
manfaat diantaranya :
1. Menciptakan hambatan bagi pemain baru untuk masuk dalam
industri yang sama.
2. Konsumen menjadi lebih luwes terhadap perubahan harga.
3. Memberikan waktu kepada konsumen untuk bereaksi pada inovasi
pesaing.
Menurut Griffin (2003:31) memberikan definisi bahwa pelanggan yang digolongkan loyal adalah:
1. Melakukan pembelian berulang secara teratur 2. Membeli antarlini produk dan jasa
Menurut Griffin dalam Hurriyati (2005 : 129), adapun keuntungan yang akan didapatkan oleh perusahaan jika memiliki pelanggan yang loyal antara lain:
1. Mengurangi biaya pemasaran (karena biaya untuk menarik
pelanggan baru cenderung lebih mahal). 2. Mengurangi biaya transaksi.
3. Mengurangi biaya turn over konsumen (karena penggantian
konsumen yang lebih sedikit).
4. Meningkatkan penjualan silang, yang akan memperbesar pangsa
pasar perusahaan.
5. Word of mouth yang lebih positif, dengan asumsi bahwa pelanggan yang loyal juga berarti mereka yang puas.
6. Mengurangi biaya kegagalan (separti biaya penggantian).
2.3.2 Loyalitas dan Siklus Pembelian
Setiap kali pelanggan membeli, ia bergerak melalui siklus pembelian. Langkah-langkah yang dilewati pelanggan tersebut (Griffin, 2003:18) adalah:
1. Kesadaran
Pada tahap ini pelanggan mulai membentuk “pangsa pikiran” yang dibutuhkan untuk memposisikan produk sebagai produk yang lebih unggul dari pesaing. Timbulnya kesadaran bisa melalui iklan konvensional (radio, TV, surat kabar, billboards), iklan di Website, komunikasi Word Of Mouth dan lain-lain.
2. Pembelian Awal
Pembelian pertama kali merupakan pembelian percobaan, disini perusahaan dapat menanamkan kesan positif atau negatif kepada pelanggan dengan produk atau jasa yang diberikan.
3. Evaluasi pasca pembelian
Setelah pembelian dilakukan, pelanggan secara sadar atau tidak sadar akan mengevaluasi transaksi. Bila pembeli merasa puas atau tidak begitu kecewa dengan produk yang dibelinya, maka keputusan untuk membeli kembali mungkin terjadi.
4. Keputusan untuk membeli kembali
Komitmen untuk membeli kembali merupakan sikap yang paling penting bagi loyalitas, bahkan lebih penting dari kepuasan. Keputusan membeli kembali seringkali merupakan langkah selanjutnya yang terjadi secara alamiah bila pelanggan telah memiliki ikatan emosional yang kuat dengan produk tertentu.
5. Pembelian kembali
Langkah akhir dalam siklus pembelian adalah pembelian kembali yang aktual. Pelanggan yang benar - benar loyal menolak pesaing dan membeli kembali produk yang sama kapan saja dibutuhkan.
2.3.3 Jenis Loyalitas
Griffin (2003:22) menyatakan jenis loyalitas yang berbeda muncul bila ketertarikan rendah dan tinggi diklasifikasi-silang dengan pola pembelian ulang yang rendah dan tinggi. Jenis loyalitas tersebut yaitu:
1. Tanpa Loyalitas
Secara umum, perusahaan harus menghindari membidik para pembeli jenis ini karena mereka tidak akan pernah menjadi pelanggan yang loyal.
2. Loyalitas yang Lemah
Ketertarikan yang rendah digabung dengan pembelian berulang yang
tinggi menghasilkan loyalitas yang lemah (inertia loyalty).
Pelanggan ini membeli karena kebiasaan, faktor nonsikap dan faktor situasi merupakan alasan utama membeli. Loyalitas jenis ini paling umum terjadi pada produk yang sering dibeli.
3. Loyalitas Tersembunyi
Tingkat preferensi yang relatif tinggi digabung dengan tingkat pembelian berulang yang rendah menunjukkan loyalitas tersembunyi (latent loyalty). Disini pengaruh situasi dan bukan pengaruh sikap yang menentukan pembelian berulang.
4. Loyalitas Premium
Loyalitas premium, jenis loyalitas yang paling dapat ditingkatkan, terjadi bila ada tingkat keterikatan yang tinggi dan tingkat pembelian berulang yang juga tinggi. Pada tingkat preferensi paling tinggi tersebut, orang bangga karena menemukan dan menggunakan produk tertentu dan senang membagi pengetahuan mereka dengan rekan dan keluarga.
2.4 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang
sedang diteliti yaitu “Pengaruh Brand Equity Kacang Sihobuk Tarutung
Terhadap Loyalitas Pembelian (Studi Pada UD. Martabe Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara)” adalah sebagai berikut :
1. Penelitian oleh Yuni Sari (2007) dengan judul “ Pengaruh Brand
Equity Pasta Gigi Pepsodent Terhadap Loyalitas Pelanggan (Studi Kasus Pada Asrama Putri USU Medan)”. Dari penelitian ini diperoleh
hasil bahwa variabel bebas yang terdiri dari brand awareness
(kesadaran merek), perceived quality (persepsi kualitas), dan brand loyalty (loyalitas merek) berpengaruh positif terhadap loyalitas pelanggan pasta gigi pepsodent di asrama putri USU Medan. Sementara brand association (asosiasi merek) berpengaruh negatif. Dari hasil perhitungan data diperoleh nilai variabel brand awareness
(X1) sebesar 0,289, nilai variabel perceived quality (X2) sebesar 0,505, nilai variabel brand association (X3) sebesar -9,191, dan nilai
variabel brand loyalty (X4) sebesar 1,251. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa variabel brand loyalty adalah variabel yang
paling dominan. Sementara nilai konstanta (a) sebesar - 5,839, sehingga diperoleh persamaan regresi linier berganda : Y = -5,839 + 0,289 X1 + 0,505 X2 – 0,191 X3 + 1,251 X4.
2. Penelitian oleh Siti Wardani Purba (2007) dengan judul “Analisis
Negeri 1 Medan”. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Brand Equity yang terdiri dari Kesadaran Merek, Asosiasi Merek, Persepsi Kualitas, dan Loyalitas Merek terhadap pembelian Pulpen Pilot Pada Siswa SMP Negeri 1 Medan, dan juga untuk mengetahui Variabel Brand Equity yang paling dominan yang mempengaruhi Pembelian Pulpen Pilot Pada Siswa SMP Negeri 1 Medan. Metode Penelitian yang digunakan dalam pengukuran variabel yaitu Skala likert, metode penarikan sampel yang digunakan yaitu
Proportionate Stratified Random Sampling dan pengukuran sampel ditentukan dengan rumus slovin dan Sample Fraction. Hasil penelitian ini yaitu secara bersama-sama variabel brand equity berpengaruh signifikan terhadap pembelian. Variabel kesadaran merek (X1) dan asosiasi merek (X2) tidak berpengaruh signifikan terhadap pembelian (Y), sedangkan variabel persepsi kualitas (X3) dan loyalitas merek (X4) berpengaruh signifikan terhadap pembelian (Y). variabel yang paling dominan mempengaruhi pembelian yaitu loyalitas merek (X4).
3. Penelitian oleh Fachriza Dedi (2009) dengan judul “Analisis Pengaruh
Brand Equity Terhadap Loyalitas Pelanggan Pada Produk Celana
Jeans Wrangler di PT. Delami Garment Industries Cabang Medan”. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa Brand Equity yang terdiri dari Brand Awareness, Perceived Quality, Brand Association, dan Brand Loyalty berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan dengan nilai R Square sebesar 0,585 dan nilai Adjusted R
Square sebesar 0,561. Dari hasil perhitungan data diperoleh nilai variabel brand awareness (X1) sebesar 0,717, nilai variabel brand association (X2) sebesar 0,197, nilai variabel perceived quality (X3) sebesar 3,618, dan nilai variabel brand loyalty (X4) sebesar 4,205. Dari keempat variabel bebas brand equity yang paling dominan adalah variabel brand loyalty (X4) dengan nilai thitung sebesar 4,205.
4. Penelitian oleh Benny Frengki Manurung (2007) dengan judul
“Pengaruh Brand Equity Teh Botol Sosro Terhadap Keputusan
Pembelian Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara (USU) Medan”. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui bagaimana pengaruh brand equity Teh Botol Sosro
terhadap keputusan pembelian mahasiswa FKG-USU Medan. Dalam penelitian ini juga peneliti ingin melihat variabel mana saja yang paling dominan mempengaruhi variabel keputusan pembelian mahasiswa FKG-USU Medan. Sampel yang digunakan peneliti sebanyak 79 orang. Dari keempat variabel bebas, variabel loyalitas merek adalah yang paling dominan mempengaruhi variabel keputusan pembelian. Berdasarkan hasil uji thitung sebesar 6,857 lebih besar dari ttabel sebesar 2,000.
2.5 Kerangka Konseptual
Menurut Davis, dalam Simamora (2003:50) mencatat bahwa merek yang kuat dapat menciptakan loyalitas yang memungkinkan terjadinya
transaksi berulang. Ekuitas merek semakin tinggi dengan semakin tingginya kesetiaan merek, kesadaran merek, mutu yang diyakini, hubungan merek yang kuat, dan aktiva lainnya seperti paten, hak dagang dan hubungan distribusi.
Model Aaker, dalam Tjiptono (2011:97) menyatakan bahwa brand
equity diformulasikan dari sudut pandang manajerial dan strategi korporat, meskipun landasan utamanya adalah perilaku konsumen. Aaker menjabarkan aset merek yang berkontribusi pada penciptaan brand equity dalam empat dimensi, yaitu : kesadaran merek, persepsi kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek.
Dengan demikian hubungan ekuitas merek terhadap loyalitas pembelian dapat digambarkan dalam kerangka konseptual sebagai berikut:
Brand Equity (X) Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Sumber : Durianto dkk (2001:4) Kesadaran Merek (X1) Persepsi Kualitas (X2) Asosiasi Merek (X3) Loyalitas Merek (X4) Loyalitas Pembelian (Y)
2.6 Hipotesis
H1 : Adanya pengaruh Kesadaran Merek (Brand Awareness) secara positif dan signifikan terhadap loyalitas pembelian.
H2 : Adanya pengaruh Persepsi Kualitas (Perceived Quality) secara positif dan signifikan terhadap loyalitas pembelian.
H3 : Adanya pengaruh Asosiasi Merek (Brand Association) secara positif dan signifikanterhadap loyalitas pembelian.
H4 : Adanya pengaruh Loyalitas Merek (Brand Loyalty) secara positif dan signifikanterhadap loyalitas pembelian.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Kacang tanah adalah salah satu jenis tanaman kacang-kacangan yang tinggi kandungan proteinnya. Tanaman ini dapat ditanam di sawah maupun lahan yang kering. Di Indonesia kacang tanah terpusat di Pulau Jawa, Sumatera Utara, Sulawesi dan kini telah ditanam di seluruh Indonesia. Kebutuhan kacang tanah dari tahun ke tahun terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah kebutuhan pangan masyarakat, serta meningkatnya kapasitas industri makanan di Indonesia.
Salah satu kota di Sumatera Utara yaitu kota Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara, menjadikan kacang tanah sebagai salah satu bahan baku pembuatan oleh-oleh khas daerahnya yaitu kacang sihobuk. Kacang sihobuk merupakan salah satu produk dari daerah Tapanuli Utara yang sangat berpotensi jika dikembangkan. Ketenaran kacang sihobuk tidak hanya di Pulau Sumatera, melainkan hingga ke luar Pulau Jawa. Karena menurut para pendatang kota Tarutung, tidak ada artinya berkunjung ke kota Tarutung