BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
7 BAB II
PERSAMAAN DIFERENSIAL DAN TOPIK TERKAIT
Dalam bab ini akan dibahas mengenai landasan teori dari skripsi ini.
Landasan teori yang digunakan adalah turunan, integral, persamaan diferensial, persamaan panas, kondisi Stefan, transformasi Boltzmann.
A. Turunan
Dalam subab ini akan dibahas mengenai turunan dengan menggunakan referensi dari buku karangan Stewart (1999).
Definisi 2.1
Turunan fungsi π pada titik π, dinotasikan dengan πβ²(π) yaitu πβ²(π) = lim
ββ0
π(π + β) β π(π) β
jika nilai limitnya ada.
Contoh 2.1
Contoh ini diambil dari buku Stewart (1999).
Tentukan turunan dari π(π₯) = π₯2β 8π₯ + 9!
= lim
ββ0(2π + β β 8)
= 2π β 8
Jadi, nilai turunan dari fungsi π(π₯) = π₯2 β 8π₯ + 9 di π₯ = π adalah 2π β 8.
Definisi 2.2
Definisi turunan di atas dapat ditulis sebagai berikut (Stewart, 1999):
Jika ditulis π₯ = π + β, maka β = π₯ β π dan β mendekati 0 jika dan hanya jika π₯ mendekati π. Jadi didapat
πβ²(π) = lim
π₯βπ
π(π₯) β π(π) π₯ β π
jika nilai limitnya ada.
Contoh 2.2
Contoh ini diambil dari buku Stewart (1999).
Gunakan definisi 2.2 untuk mencari πβ²(π) jika π(π₯) =2π₯β1π₯ .
Jika π terdiferensialkan di π, maka π kontinyu di π (Stewart, 1999).
Bukti:
Untuk membuktikan π kontinyu di π akan ditunjukkan bahwa lim
π₯βππ(π₯) = π(π). Hal tersebut dilakukan dengan menunjukan perbedaan π(π₯) β π(π) mendekati 0.
Diketahui π terdiferensialkan di π, sehingga πβ²(π) = lim
π₯βπ
π(π₯) β π(π) π₯ β π
ada (berdasarkan definisi 2.2). Selanjutnya, membagi dan mengalikan π(π₯) β π(π) dengan π₯ β π (dengan π₯ β π) sehingga diperoleh
π(π₯) β π(π) = π(π₯) β π(π)
π₯ β π (π₯ β π)
Kemudian, dengan menggunakan Hukum Perkalian dan definisi 2.2 dapat ditulis
π₯βπlim[π(π₯) β π(π)] = lim
Bukti di atas dapat digunakan, dimulai dengan π(π₯) dan tambahkan serta kurangi dengan π(π): Jadi, terbukti π kontinyu di π.
Aturan rantai Teorema 2.2
Jika π dan π keduanya terdiferensial dan πΉ = π π π adalah fungsi komposisi yang didefinisikan dengan πΉ(π₯) = π(π(π₯)), maka πΉ terdiferensialkan dan πΉβ²
adalah
πΉβ²(π₯) = πβ²(π(π₯))πβ²(π₯)
Jika π¦ = π(π’) dan π’ = π(π₯) keduanya fungsi terdiferensial, maka ππ¦ π(π). Diberikan suatu fungsi terdiferensial π yaitu
βπ¦ = πβ²(π)βπ₯ + πβπ₯ dimana π β 0 dan βπ₯ β 0.
Jika βπ₯ adalah kenaikan di π₯ dan βπ’ dan βπ¦ adalah kenaikan yang sesuai di π’ dan π¦, maka dapat ditulis
βπ’ = πβ²(π)βπ₯ + π1βπ₯ = [πβ²(π) + π1]βπ₯ (2.1) dimana π1 β 0 dan βπ₯ β 0. Demikian pula
βπ¦ = πβ²(π)βπ’ + π2βπ’ = [πβ²(π) + π2]βπ’ (2.2) dimana π2 β 0 dan βπ’ β 0.
Substitusi persamaan (2.1) ke persamaan (2.2), sehingga diperoleh
βπ¦ = [πβ²(π) + π2][πβ²(π) + π1]βπ₯ Jadi,
βπ¦
βπ₯ = [πβ²(π) + π2][πβ²(π) + π1]
Ketika βπ₯ β 0, persamaan (2.1) menunjukkan bahwa βπ’ β 0. Jadi keduanya π1 β 0 dan π2 β 0 ketika βπ₯ β 0.
Misalkan π’ = π₯3 dan π¦ = cos π’. Dengan menggunakan Teorema 2.2 diperoleh
Pada contoh ini perhitungan aturan rantai berbentuk ππ€
Dalam subbab ini akan dibahas mengenai definisi dan contoh integral yang menggunakan referensi dari buku karangan Larson dan Bruce (2010), dan Anton, dkk (2012).
Definisi 2.3
Suatu fungsi πΉ disebut anti-turunan dari fungsi π pada interval πΌ jika πΉβ²(π₯) = π(π₯) untuk setiap π₯ di πΌ.
Contoh 2.5
Contoh ini diambil dari buku Larson dan Bruce (2010).
Carilah anti-turunan dari fungsi π(π₯) = 3π₯2. Penyelesaian:
Fungsi πΉ(π₯) = π₯3 β 5 memenuhi anti-turunan dari π(π₯) = 3π₯2. Pada kenyataannya,
πΉ(π₯) = π₯3+ πΆ adalah anti-turuan dari π, untuk suatu konstanta πΆ.
Teorema 2.3
Jika πΉ adalah turunan dari π pada sebuah interval πΌ maka πΊ adalah anti-turunan dari π pada interval πΌ jika dan hanya jika πΊ berbentuk πΊ(π₯) = πΉ(π₯) + πΆ, untuk setiap π₯ di πΌ dimana πΆ adalah konstanta.
Bukti:
Jika πΊ(π₯) = πΉ(π₯) + πΆ, πΉβ²(π₯) = π(π₯), dan πΆ adalah konstanta, maka πΊβ²(π₯) = π
ππ₯[πΉ(π₯) + πΆ] = π(π₯).
Asumsikan πΊ adalah anti-turunan dari π.
Didefinisikan suatu fungsi π» sedemikian sehingga π»(π₯) = πΊ(π₯) β πΉ(π₯).
Untuk dua titik π dan π (π < π) pada interval, π» adalah kontinu pada [π, π] dan terdiferensialkan di (π, π). Dengan menggunakan teorema nilai rata-rata didapat
π»β²(π₯) =π»(π) β π»(π) π β π
untuk beberapa π di (π, π). Namun, π»β²(π) = 0, jadi π»(π) = π»(π). Karena π dan π adalah sebarang titik pada interval dan π» adalah suatu fungsi konstan πΆ. Jadi πΊ(π₯) β πΉ(π₯) = πΆ sehingga πΊ(π₯) = πΉ(π₯) + πΆ.
Terbukti.
Teorema 2.4
Andaikan πΉ(π₯) dan πΊ(π₯) adalah anti-turunan dari π(π₯) dan π(π₯), berturut-turut, dan π adalah konstanta. Maka
i. β« ππ(π₯)ππ₯ = ππΉ(π₯) + πΆ
ii. β«[π(π₯) + π(π₯)]ππ₯ = πΉ(π₯) + πΊ(π₯) + πΆ iii. β«[π(π₯) β π(π₯)]ππ₯ = πΉ(π₯) β πΊ(π₯) + πΆ
Bukti dapat dilihat di buku Anton (2012) yang berjudul Calculus.
C. Persamaan diferensial
Dalam subbab ini akan dibahas mengenai definisi dan contoh persamaan diferensial, persamaan diferensial biasa, persamaan diferensial parsial, tingkatan (orde) persamaan diferensial, dan persamaan diferensial linear/taklinear yang menggunakan referensi dari buku karangan William dan Richard (1986).
Definisi 2.4
Persamaan diferensial adalah sebuah persamaan yang memuat satu atau lebih turunan dari fungsi yang tidak diketahui (William dan Richard, 1986).
Contoh 2.6
Persamaan dibawah ini beberapa contoh dari persamaan diferensial (William dan Richard, 1986):
ππ¦
ππ₯+ π₯π¦2 = 0 (2.3)
πΏπ2π
ππ‘2 + π ππ ππ‘ +1
πΆπ = πΈ(π‘) (2.4)
π2π’
ππ₯2 +π2π’
ππ¦2 = 0 (2.5)
πΌ2π2π’
ππ₯2 = ππ’
ππ‘ (2.6)
Definisi 2.5
Persamaan diferensial biasa adalah suatu persamaan diferensial yang melibatkan turunan biasa dimana fungsi yang tidak diketahui bergantung pada satu variabel bebas.
Contoh 2.7
Contoh dari persamaan diferensial biasa ditunjukkan pada persamaan (2.3) dan (2.4). Persamaan (2.3) adalah persamaan diferensial biasa dengan variabel π₯ adalah suatu variabel bebas dan π¦ adalah variabel tak bebas. Pada persamaan (2.4)
adalah persamaan diferensial biasa dengan variabel π‘ adalah variabel bebas dan π adalah variabel tak bebas
Definisi 2.6
Persamaan diferensial parsial adalah suatu persamaan diferensial yang melibatkan turunan parsial dimana fungsi yang tidak diketahui bergantung pada satu atau lebih variabel bebas.
Contoh 2.8
Contoh dari persamaan diferensial parsial ditunjukkan pada persamaan (2.5) dan (2.6). Persamaan (2.5) adalah persamaan diferensial parsial dengan variabel π₯ dan π¦ adalah suatu variabel bebas dan π’ adalah variabel tak bebas. Persamaan (2.6) adalah persamaan diferensial biasa dengan variabel π₯ dan π‘ adalah variabel bebas dan π’ adalah variabel tak bebas.
Definisi 2.7
Orde dari persamaan diferensial adalah tingkat tertinggi dari turunan yang muncul pada persamaan diferensial. Persamaan umum dari orde π berbentuk
πΉ(π₯, π¦, π¦β², . . . , π¦(π)) = 0 (2.7) disebut persamaan diferensial biasa orde ke-π.
Contoh 2.9
Persamaan (2.3) adalah contoh persamaan diferensial biasa orde satu dan persamaan (2.4) adalah contoh persamaan diferensial orde dua. Persamaan (2.5) dan (2.6) adalah contoh persamaan diferensial parsial orde dua.
Definisi 2.8
Persamaan (2.7) disebut linear jika πΉ adalah fungsi linear dari variabel π¦, π¦β², β¦ , π¦π. Bentuk umum persamaan diferensial biasa linear dari orde π adalah
π0(π₯)π¦(π)+ π1(π₯)π¦(πβ1)+ β― + ππ(π₯)π¦ = π(π₯) (2.8) dengan π0 tidak sama dengan 0.
Contoh 2.10
Contoh persamaan diferensial biasa linear (William dan Richard, 1986).
π2π¦
ππ₯2 + (π₯ + π¦) = π₯ (2.9)
π¦β²β²+ π¦ = 0 (2.10)
Persamaan (2.9) dan (2.10) adalah persamaan diferensial biasa linear orde dua. Dalam persamaan (2.9) dan (2.10) variabel π¦ adalah variabel tak bebas.
Definisi 2.9
Suatu persamaan diferensial biasa yang tidak berbentuk (2.8) disebut persamaan diferensial tak linear (William dan Richard, 1986).
Contoh 2.11
Contoh persamaan diferensial biasa tak linear π3π¦
ππ₯3+ π¦ππ¦
ππ₯+ (πππ 2π₯)π¦ = π₯3 (2.11) π¦β²β²β²+ 2ππ₯π¦β²β²+ π¦π¦β² = π₯4 (2.12) Persamaan (2.11) adalah persamaan diferensial biasa tak linear karena terdapat bentuk π¦π¦β². Persamaan (2.12) bukan persamaan diferensial biasa linear karena terdapat bentuk π¦ππ¦ππ₯ yang melibatkan perkalian terhadap variabel tak bebas dengan turunannya.
D. Persamaan Panas
Pada subab ini akan dibahas mengenai persamaan panas dengan menggunakan referensi dari buku karangan OβNeil (2014) dan Santos (2003).
Misalkan π adalah panas spesifik dari suatu bahan batang. Jumlah energi panas harus disuplai ke satuan massa dari material untuk menaikan suhunya satu derajat.
π₯ + βπ₯ πΉ(π₯, π‘)
π₯
Gambar 2.1. Ilustrasi persamaan panas
Segmen dari batang antara π₯ dan π₯ + βπ₯ mempunyai massa ππ΄βπ₯, dan akan diambil pendekatannya πππ΄π’(π₯, π‘)βπ₯ satuan dari energi panas untuk perubahan suhu segmen dari nol sampai π’(π₯, π‘), suhu tersebut dalam waktu π‘. Hal ini diilustrasikan dalam Gambar 2.1.
Total energi panas pada segmen dalam waktu π‘ > 0 (OβNeil, 2014) πΈ(π₯, βπ₯, π‘) = β«π₯π₯+βπ₯πππ΄π’(π, π‘)ππ.
Jumlah energi panas dalam segman pada waktu π‘ dapat meningkat dalam dua cara. Pertama, energi panas dalam segmen dapat mengalir ke ujung-ujungnya.
Kedua, adanya sumber atau hilangnya energi panas dalam segmen tersebut.
Kejadian itu disebut suatu reaksi kimia atau bahan bersifat radioaktif.
Tingkat perubahan suhu dalam segmen bergantung terhadap waktu (OβNeil, 2014)
ππΈ
ππ‘ = β« πππ΄ππ’
ππ‘(π, π‘)ππ.
π₯+βπ₯
π₯
Energi panas yang mengalir dari daerah panas ke daerah dingin dan jumlah energi panasnya sebanding dengan perbedaan suhu disebut Hukum pendingin Newton. Formulanya berbentuk (Wiley dan Sons, 2014):
πΉ(π₯, π‘) = βπΎππ’
ππ₯(π₯, π‘)
dimana πΎ adalah konduktivitas panas. Tanda negatif menunjukan bahwa energi mengalir dari yang lebih hangat ke segmen yang lebih dingin.
Persamaan panas satu dimensi berbentuk (OβNeil, 2014):
π’π‘ = ππ’π₯π₯ (2.13)
dimana π = πΎ/ππ adalah difusi dari bahan.
πΉ(π₯ + βπ₯, π‘)
π₯
Jika persamaan (2.13) ditambah dengan suatu fungsi π(π₯, π‘), maka bentuk persamaan panasnya adalah
π’π‘ = ππ’π₯π₯ + Q(x, t). (2.14) Persamaan (2.13) disebut persamaan homogen dan persamaan (2.14) adalah persamaan non homogen. Persamaan (2.13) dan (2.14) adalah persamaan diferensial orde dua karena tingkat tertinggi dari persamaan itu adalah dua.
Persamaan (2.13) dan (2.14) adalah persamaan diferensial linear.
Kondisi awal pada persamaan panas berbentuk (Wiley dan Sons, 2014) π’(π₯, 0) = π(π₯), 0 < π₯ < πΏ
dimana π(π₯) adalah suatu fungsi.
Kondisi batas pada persamaan panas berbentuk (Wiley dan Sons, 2014) π’(π₯, 0) = πΌ(π‘), π’(πΏ, π‘) = π½(π‘), 0 < π₯ < πΏ
dimana πΌ(π‘) dan π½(π‘) adalah fungsi.
E. Kondisi Stefan
Pada subab ini akan dibahas mengenai kondisi Stefan menurut (Jiji, 2003).
Kondisi Stefan adalah suatu proses pembekuan pada daerah cairan semi tak terbatas. Cairan awalnya adalah pada suhu fusi ππ. Pada permukaan π₯ = 0 suhunya π0 < ππ. Proses pemadatan dimulai secara langsung pada π₯ = 0. Karena tidak ada panas yang ditransfer ke fase cair maka suhunya tetap, sehingga
ππΏ(π₯, π‘) = ππ (2.15)
Persamaan umum fase padat berbentuk (Jiji, 2003)
π2ππ
ππ₯2 = 1 πΌπ
πππ
ππ‘ (2.16) dengan kondisi batas:
(1) ππ (0, π‘) = π0 (2) ππ (π₯π) = ππ
(3) ππ πππ ππ₯(π₯,π‘)= ππ πππ₯ππ‘1
kondisi awalnya:
(4) π₯π(0) = 0
Persamaan (2.16) dapat diselesaikan dengan menggunakan transformasi similaritas. Andaikan dua variabel bebas π₯ dan π‘ dapat dikombinasi dengan variabel tunggal π = π(π₯, π‘). Konduksi sementara dalam variabel semi tak terbatas berbentuk (Jiji, 2003) :
π = π₯
β4πΌπ π‘ (2.17) Dari persamaan (2.16) dapat dinyatakan sebagai
ππ = ππ (π) (2.18)
Menggunakan persamaan (2.17) dan (2.18), persamaan (2.16) ditransformasikan menjadi
π2ππ
ππ2 + 2ππππ ππ = 0
F. Transformasi Boltzmann
Pada subab ini akan dibahas mengenai Transformasi Boltzmann menurut Jiji (2003) dan Fulford dan Broadbrigde (2002).
Tranformasi Boltzmann adalah metode yang memperkenalkan variabel similaritas dengan menggabungkan dua variabel bebas dan mengubah persamaan diferensial parsial ke persamaan diferensial biasa (Jiji, 2003). Namun, ketika menerapkan metode ini untuk variabel konduktivitas termal persamaan diferensial parsial nonlinear ditransformasikan menjadi persamaan diferensial biasa nonlinear.
Transformasi Boltzmann merupakan pendekatan yang didasarkan pada metode yang terdapat pada penyelesaian konduksi sementara di daerah semi tak terbatas dan dalam masalah perubahan fase.
Transformasi Boltzmann berbentuk (Fulford dan Broadbrigde, 2002):
π’(π₯, π‘) = π(π) dimana π = π₯
βπΌπ‘ ,
π0 0
dengan π adalah fungsi satu variabel dan π₯
βπΌπ‘ adalah temperatur, π₯ adalah variabel ruang, π‘ adalah variabel waktu dan πΌ adalah konstanta.
Contoh: Konduksi sementara di daerah semi tak terbatas dengan konduktivitas variabel.
Diketahui daerah semi tak terbatas dengan suhu awal seragam ππ. Permukaan di π₯ = 0 tiba-tiba dipertahankan pada suhu konstan π0 dan konduktivitas termalnya bergantung pada suhu. Gunakan transformasi Boltzmann untuk menentukan distribusi temperatur transien.
Penyelesaian:
a. Pengamatan:
i. Karena daerah tersebut adalah daerah semi tak terbatas dan awal suhunya seragam, maka masalah tersebut dapat diselesaikan dengan transformasi .
ii. Karena konduktivitas termalnya bergantung pada suhu maka masalah tersebut bersifat nonlinear,
b. Titik pusat dan koordinat
Gambar 2.2 menunjukkan titik pusat dan sumbu koordinat.
Gambar 2.2. Ilustrasi koordinat terkait suhu c. Formula
i. Asumsi: konduksi transien satu dimensi dan suhu awalnya seragam.
ii. Persamaan umum:
π
ππ₯(πππ
ππ₯) = πππππ
ππ‘. (2.19)
iii. Kondisi awal dan kondisi batas:
π(π) π₯
ππ
β
1. π(0, π‘) = π0
2. π(β, π‘) = ππ (2.20) 3. π(π₯, 0) = ππ
d. Penyelesaian
Mengikuti metode yang digunakan untuk menyelesaikan konduksi sementara pada daerah semi tak terbatas dengan sifat konstan maka diperkenalkan variabel π(π₯, π‘) yang didefinisikan
π(π₯, π‘) = π₯
βπ‘. (2.21)
Kemudian, terapkan persamaan (2.17), sehingga diperoleh:
π
ππ(πππ
ππ) +πππ 2 πππ
ππ = 0. (2.22)
dengan kondisi 1. π(0) = π0 2. π(β) = ππ 3. π(β) = ππ Kesimpulan:
1. Masalah tersebut berhasil ditransformasikkan ke persamaan diferensial biasa dengan mengubah variabel π₯ dan π‘ menjadi π.
2. Persamaan (2.21) adalah orde kedua yang memenuhi dua kondisi batas.
Karena dua dari tiga kondisi menjadi identik dalam masalah tranformasi, persamaan (2.21) memiliki jumlah yang diperlukan kondisi.
3. Persamaan (2.22) adalah persamaan non linear karena π, π dan ππ bergantung pada suhu.
4. Untuk kasus khusus dari konstanta π dsan ππ pada persamaan (2.21) dapat diselesaikan dengan pendekatan berturut-turut.
G. Fungsi galat
Pada subab ini akan dibahas mengenai fungsi galat menurut Jiji (2003).
Dalam pemecahan masalah konduksi semi tak terbatas dengan menggunakan transformasi Boltzmann terdapat tiga kondisi (2.20). Dengan mendefinisikan variabel suhu tidak berdimensi π adalah
π = π β ππ π0β ππ, sehingga kondisi awal dan kondisi batasnya menjadi
1. π(0, π‘) = 1 2. π(β, π‘) = 0 3. π(π₯, 0) = 0
Diberikan persamaan panas untuk konduksi satu dimensi transien adalah
π2π
ππ₯2 = 1 πΌ
ππ
ππ‘. (2.23)
sehingga kondisi awal dan kondisi batasnya menjadi 1. π(0, π‘) = 1
2. π(β, π‘) = 0 3. π(π₯, 0) = 0
Asumsikan bahwa dua variabel bebas π₯ dan π‘ dapat digabung menjadi satu variabel π = π(π₯, π‘), sehingga dapat ditulis
π(π₯, π‘) = π(π). (2.24) dimana,
π = π₯
β4πΌπ‘. (2.25) Dengan menggunakan persamaan (2.25) untuk membentuk turunan dari persamaan (2.23), sehingga diperoleh
Kemudian, substitusi ke persamaan (2.23), sehingga π2π
ππ2 + 2πππ
ππ = 0. (2.26)
Tiga kondisi akan diubah kedalam bentuk π. Dari persamaan (2.25), diperoleh 1. π₯ = 0, π‘ = π‘ menjadi π = 0
2. π₯ = β, π‘ = π‘ menjadi π = β 3. π₯ = π₯, π‘ = 0 menjadi π = β
Jadi kondisi awal dan kondisi batasnya berubah menjadi 1. π(0, π‘) = π(0) = 1
2. π(β) = 0 3. π(β) = 0
Penyelesaian untuk persamaan (2.26) menggunakan variabel terpisah yaitu π(ππ ππβ )
dimana π΄ adalah konstanta, integralkan dengan batas atas π dan batas bawah 0
β« ππ = π΄ β« πβπ2
Menggunakan kondisi batas (1) diperoleh π = 1 + π΄βπ
2 [2
πβ« ππ βπ2
0
ππ] (2.27)
Pada persamaan (2.27) formula yg ada didalam kurung siku disebut dengan fungsi galat, sehingga didefinisikan sebagai berikut
erf π = π β π(0) = π΄ β« π0π βπ2ππ.
Contoh nilai dari fungsi galat diberikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Nilai erf π
πΌ ππ«π πΌ
0 0
0.1 0.11246292
0.2 0.22270259
0.3 0.32862676
0.4 0.42839236
0.5 0.52049988
0.6 0.60385609
0.7 0.67780119
0.8 0.74210096
0.9 0.79690821
1 0.84270079
Catatan: nilai erf β = 1.
H. Hukum Fourier
Pada subab ini akan dibahas mengenai Hukum Fourier menurut Jiji (2003).
Misalkan jika salah satu ujung batang logam dipanaskan maka suhu diujung batang yang lain akan naik. Hal tersebut dikarenakan adanya aktivitas molekuler.
Molekul pada ujung panas saling bertukar energi kinetik dan getaran dengan lapisan tetangga melalui gerak acak dan tabrakan. Gradien suhu atau kemiringan ditetapkan dengan energi yang diangkut ke arah penurunan suhu. Mode transfer energi ini disebut konduksi.
Misalkan suhu dari suatu dinding yang salah satu permukaan (π₯ = 0) adalah ππ π dan suhu dari permukaan lainnya (π₯ = πΏ) adalah ππ π. Ketebalannya adalah πΏ dan luas daerah permukaan π΄. Empat permukaan yang tersisa terisolasi dengan baik sehingga panas ditransfer dalam arah π₯ saja. Asumsikan panasnya stabil dan dibiarkan menjadi laju perpindahan panas dalam arah π₯. Hal tersebut menunjukkan
bahwa ππ₯ berbanding lurus dengan π΄ dan (ππ πβ ππ π) tetapi berbanding terbalik dengan πΏ, sehingga diperoleh persamaan
ππ₯π΄(ππ πβ ππ π)
πΏ (2.28)
Memperkenalkan suatu konstanta proporsionalitas π, maka diperoleh ππ₯ = ππ΄(ππ πβ ππ π)
πΏ (2.29)
dimana π adalah sifat dari material/bahan (konduktivitas termal) dan ππ₯ adalah laju perpindahan panas dalam arah π₯.
Persamaan (2.29) berlaku untuk kondisi stabil, konstanta π dan konduksi satu dimensi. Menerapkan persamaan (2.29) ke elemen ππ₯ dan mengubah ππ π
Dari persamaan (2.30) diperkenalkan aliran panas ππ₯, yang didefinisikan sebagai laju aliran panas per satuan luas permukaan normal ke π₯, dengan demikian
ππ₯β²β² =ππ₯
π΄. (2.31)
Dari persamaan (2.31) dapat didefinisikan hukum Fourier. Hukum Fourier (Hukum konduksi panas) menyatakan bahwa tingkat perpindahan panas yang melalui sebuah material/ bahan adalah berbanding lurus dengan gradien negatif pada suhu dan luas, pada sudut siku pada gradien tersebut, melalui dimana panas mengalir.
Rumus Hukum Fourier (Jiji,2003) adalah ππ₯ = βπππ
ππ₯
dimana tanda negatif menunjukan bahwa gradien negatif dan π adalah konduktivitas panas dan π adalah suhu permukaan bahan serta π₯ adalah arah perpindahan panas.
I. Metode Newton
Pada subab ini akan dibahas mengenai metode Newton menurut Burden (2010).
Metode Newton adalah salah satu metode yang paling kuat dan terkenal pada metode numerik dalam memecahkan masalah pencarian akar. Misalkan suatu fungsi πππΆ2[π, π]. Andaikan π0[π, π] suatu pendekatan untuk π sedemikian sehingga πβ²(π0) β 0 dan |π β π0| kecil. Pertimbangkan dengan menggunakan deret Taylor polynomial pertama untuk π(π₯) diperluas sekitar π0 dan dievaluasi di π₯ = π.
π(π) = π(π0) + (π β π0)πβ²(π0) +(π β π0)2
2 πβ²β²(π(π)),
dimana π(π) berada diantara π dan π0. Karena π(π) = 0, sehingga persamaannya menjadi
0 = π(π0) + (π β π0)πβ²(π0) +(π β π0)2
2 πβ²β²(π(π)).
Metode Newton diturunkan dengan menggunakan asumsi bahwa karena
|π β π0| kecil, sehingga (π β π0) sangat kecil, jadi 0 β π(π0) = (π β π0)πβ²(π0).
Sehingga diperoleh persamaan
π β π0β π(π0)
πβ²(π0)β‘ π1.
Selanjutnya, menetapkan tahapan untuk metode Newton yang dimulai dengan perkiraan awal dan menghasilkan urutan {ππ}π=0β , sehingga
ππ = ππβ1βπβ²(ππ(ππβ1)
πβ1), for π β₯ 1.
Perkiraan metode Newton yang diperoleh dengan menggunakan garis singgung diilustrasikan pada Gambar 2.3. Dimulai dengan pendekatan awal π0, π1 adalah titik potong antara garis tangen dengan fungsi π pada titik (π0, π(π0)).
Pendekatan π2 adalah titik potong antara garis tangen dengan fungsi π pada titik (π1, π(π1)).
π
Gambar 2.3. Ilustrasi pendekatan metode Newton dengan garis singgung.
Contoh 2.11.
Tentukkan akar-akar pendekatan dari fungsi π(π₯) = πππ₯ π₯ β π₯ dengan menggunakan metode Newton.
Penyelesaian:
Dengan menggunakan metode Newton, pertama dicara turunan pertama dari fungsi π = πππ₯ π₯ β π₯ diperoleh
πβ²(π₯) = β sin π₯ β 1, pendekatan awalnya dimulai dengan π0 = π/4, sehingga
ππ = ππβ1β π(ππβ1) πβ²(ππβ1)
= ππβ1βcos ππβ1β ππβ1
β sin ππβ1β 1 . Dengan meggunakan program Excel untuk π β₯ 1, diperoleh
π₯ π¦
π2
(π1, π(π1)) Slope πβ²(π1)
(π0. π(π0)) π0
π1
π¦ = π(π₯)
Slope πβ²(π0)
Tabel 2.2. Hasil akar pendekatan dari fungsi π(π₯) = cos π₯ β π₯.
π ππ
1 0.739536134
2 0.739085178
3 0.739085133
4 0.739085133
Dari Tabel 2 diatas diperoleh pendekatan saat π = 3 dengan akar pendekatannya 0.739085133.
J. Metode biseksi
Pada subab ini akan dibahas mengenai metode biseksi menurut Burden (2010).
Metode biseksi adalah algoritma pencarian akar dari sebuah fungsi π: β β β pada interval [π, π]. Metode ini berlaku jika ingin memecahkan persamaan π(π) = 0 dengan π(π) adalah fungsi kontinu. Teorema nilai tengah menyiratkan bahwa π berada pada interval [π, π] dengan π(π) = 0. Langkah-langkah metode biseksi sebagai berikut:
Misalkan π = π1 dan π = π1, π1 adalah titik tengah dari interval [π, π]
π1 = π1+π1β π1
2 = π1+ π1 2 . 1. Jika π(π1) = 0, maka π = π1 berarti iterasi selesai.
2. Jika π(π1) β 0, maka π(π1) mempunyai tanda yang sama dengan keduanya π(π1) atau π(π1).
a. Jika π(π1) dan π(π1) mempunyai tanda kurang dari maka π β (π1, π1).
Sehingga didapat interval yang baru yaitu π2 = π1 dan π2 = π1. b. Jika π(π1) dan π(π1) mempunyai tanda lebih dari maka π β (π1, π1).
Sehingga didapat interval yang baru yaitu π2 = π1 dan π2 = π1.
π
Berdasarkan interval baru yang diperoleh dari hasil perhitungan , proses di atas diulangi sampai menemukan pembuat minimum dari fungsi π(π). Pendekatan dengan metode biseksi diilustrasikan pada Gambar 2.4.
Gambar 2.4. Ilustrasi pendekatan metode biseksi. (Sumber: Burden, 2010) Contoh 2.12.
Tentukan akar-akar dari fungsi π(π₯) = π₯3 + 4π₯2β 10 pada interval [1,2]
dengan menggunakan metode Biseksi dengan tingkat keakuratan 10β4. Penyelesaian:
Iterasi pertama dari metode biseksi adalah menentukan titik tengah dari interval [1,2], diperoleh
sehingga π(1,5) = 1.53+ 4(1.5)2β 10 = 2.375 > 0. Kemudian didapat interval baru [1,1.5] yang digunakan untuk iterasi kedua.
π2 =1 + 1.5
2 = 1.25,
Sehingga π(1,25) = 1.253+ 4(1.25)2β 10 = β1.796875 < 0. Kemudian didapat interval baru [1.25,1.5] yang digunakan untuk iterasi ketiga.
π3 = 1.25 + 1.5
2 = 1.375
sehingga π(1,375) = 1.3753 + 4(1.375)2β 10 = 0.16211 > 0. Kemudian didapat interval baru yang akan digunakan untuk iterasi selanjutnya sampai mendapatkan tingkat keakuratan 10β4. Untuk iterasi selanjutnya akan di hitung menggunakan bantuan program Excel.
Tabel 2.3. Hasil akar pendekatan dari fungsi π(π₯) = π₯3+ 4π₯2β 10.
π ππ ππ ππ π(ππ)
1 1 2 1.5 2.375
2 1 1.5 1.25 -1.796875
3 1.25 1.5 1.375 0.162109375
4 1.25 1.375 1.3125 -0.848388672
5 1.3125 1.375 1.34375 -0.350982666
6 1.34375 1.375 1.359375 -0.096408844
7 1.359375 1.375 1.3671875 0.032355785
8 1.359375 1.3671875 1.36328125 -0.032149971 9 1.36328125 1.3671875 1.365234375 7.20248E-05 10 1.36328125 1.365234375 1.364257813 -0.016046691 11 1.364257813 1.365234375 1.364746094 -0.007989263 12 1.364746094 1.365234375 1.364990234 -0.003959102
13 1.364990234 1.365234375 1.365112305 -0.001943659
Kesimpulan jadi akar pendekatan untuk fungsi π = π₯3 + 4π₯2 β 10 pada saat iterasi ke 19 yang mempunyai nilai π = 1.365234375 karena nilai π(π9) sudah memenuhi keakuratan 10β4.
31 BAB III
MODEL UNTUK PENYELESAIAN PENGECORAN LOGAM
Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai proses pengecoran logam dan metode transformasi Boltzmann. Metode tersebut digunakan untuk menyelesaikan model pada pengecoran logam.
A. Model matematis pada pengecoran logam
Proses pengecoran logam adalah menuangkan logam cair ke drum pendingin berputar. Proses tersebut akan digunakan untuk membuat lembaran logam dengan ketebalan 1mm sampai 10mm dan drum berputar dengan kecepatan 1m/s. Pengecoran logam diilustrasikan dalam Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Ilustrasi pengecoran logam
Panjang genangan logam cair yaitu jarak antara titik di mana logam cair berada dengan logam cair yang telah memadat, dengan tujuan agar logam cair tidak mengalir pada saat drum pendingin berputar. Dengan demikian, logam cair harus memadat sebelum bergerak terlalu jauh di sekitar drum.
Untuk menentukan panjang genangan dilakukan dengan merumuskan model matematikanya. Drum berputar dengan kecepatan π, panjang genangan π dengan formula
π = ππ‘β (3.1) dimana π‘β adalah waktu yang dibutuhkan untuk logam mengeras dengan ketebalan β dari lembaran logam. Untuk menentukan waktu π‘β dapat dilakukan dengan memodelkan perpindahan panas dan pemadatan logam cair dengan pendekatan satu dimensi. Model matematis untuk perpindahan panas dan proses pemadatan logam diilustrasikan dalam Gambar 3.2.
drum padat cair
π₯
π’1(π₯, π‘) π’2(π₯, π‘) π’π
π₯ = 0 π₯ = π (π‘)
Gambar 3.2. Model satu dimensi untuk perpindahan panas dan proses pemadatan.
Dimana π’π adalah suhu pemadatan logam cair, π’2 merupakan suhu logam padat serta π’1 adalah suhu drum pendingin. Perpindahan panas radiasi diabaikan dengan mengasumsikan bahwa semua panas mengalir ke arah drum pendingin dan suhu logam cair diasumsikan konstan.
Jari-jari drum lebih besar dibandingkan dengan ketebalan logam. Oleh karena itu, dalam model satu dimensi diasumsikan drum sebagai daerah semi tak terbatas ββ < π₯ < 0. Suhu dari drum pada jarak yang jauh dari permukaaan adalah π β 150β.
Misalkan π’2(π₯, π‘) suhu logam padat pada waktu π‘ dan jarak π₯ dari permukaan drum. Misalkan juga π₯ = π (π‘) adalah posisi antarmuka bergerak antara logam cair dan logam padat dan π adalah fungsi yang diketahui. Penyelesaian dari π’1 dan π’2 memenuhi persamaan konduksi panas yaitu
ππ’1
ππ‘ = πΌ1π2π’1
ππ₯2,
(3.2)
ππ’2
ππ‘ = πΌ2π2π’2
ππ₯2
dimana masing-masing persamaan mempunyai difusivitas termal yang berbeda πΌ1 dan πΌ2 karena bahan dari logam padat dan drum berbeda.
Kondisi batas untuk persamaan konduksi panas di atas adalah π₯ = ββ, π₯ = 0, dan pada batas bergerak antara padat dan cair.
Suhu inti drum pendingin π’π saat π₯ = 0, suhu dan aliran panasnya kontinu.
Suhu pada batas antara padat dan cair juga kontinu. Misalkan π₯ = π (π‘) adalah posisi batas bergerak maka π₯ < π (π‘) dinotasikan sebagai logam padat dan π₯ > π (π‘) sebagai logam cair. Misalkan π’π adalah suhu pemadatan logam cair. Sehingga kondisi batasnya adalah
π’1(ββ, π‘) = π’π,
(3.3) π’1(0, π‘) = π’2(0, π‘),
βπ1ππ’1
ππ₯ (0, π‘) = βπ2ππ’2
ππ₯ (0, π‘), π’2(π (π‘), π‘) = π’π
dimana π1dan π2 adalah konduktivitas drum dan logam padat.
Untuk menyelesaikan π’1 dan π’2 dibutuhkan kondisi batas tambahan dengan mempertimbangkan panas laten yang dilepaskan ketika logam cair memadat.
Penentuan kondisi batas dengan menggunakan kondisi Stefan. Kondisi Stefan dilakukan setelah menyelidiki beberapa konsep fisik dasar mengenai panas laten.
1. Panas laten
Perubahan fase adalah perubahan bentuk suatu zat menjadi bentuk lain.
Penyebab adanya perubahan fase adalah kalor. Pada suhu tertentu, energi panas yang ditambahkan ke suatu material/ bahan dapat mengubah struktur fisik material.
Contoh perubahan fase yaitu es batu yang mencair disebut mencair, air yang dimasukkan ke dalam freezer akan menjadi es batu disebut membeku.
Jumlah panas yang diperlukan pada perubahan fase disebut panas laten.
Panas laten fusi untuk bahan yang diberikan adalah jumlah panas yang diperlukan untuk mengubah massa padat pada suhu leleh menjadi cairan pada suhu yang sama.
Dalam proses perubahan fase dari cair menjadi padat, panas laten fusi adalah jumlah panas yang dilepaskan ketika bahan cair membeku.
Panas laten untuk perubahan fase dinyatakan per satuan massa yang dinotasikan dengan π disebut panas laten spesifik dengan satuan joule/kg. Beberapa nilai π ditunjukan pada tabel 3.1. Deskripsi yang serupa dapat diberikan untuk proses merebus cairan atau membalikkan kondensasi. Sebagai pembanding terdapat beberapa nilai untuk panas laten spesifik dari proses penguapan cairan yang ditunjukkan pada tabel 3.2.
Tabel 3.1. Suhu leleh π’π dan panas laten spesifik fusi π
Tabel 3.2. Suhu mendidih π’π£ dan panas laten spesifik dari penguapan π ππ β π π π€π βπ
Air 100 2.26
Etil alkohol 79 8.5 Γ 10β1
Helium -269 2.5 Γ 10β2
2. Kondisi Stefan
Kondisi stefan digunakan untuk menentukan kondisi batas pada batas bergerak π₯ = π (π‘). Diasumsikan batas bergerak dengan jarak πΏπ dalam waktu πΏπ‘.
Diilustrasikan pada Gambar 3.3.
padat πΏπ cair
π₯ = π (π‘)
π₯ = π (π‘ + πΏπ‘)
Gambar 3.3. Ilustrasi batas bergerak
Untuk daerah ketebalan πΏπ , akan dicari pelepasan panas dari proses pemadatan untuk menentukan jumlah panas yang dilepaskan dari proses konduksi.
Contoh berikut akan digunakan untuk menunjukkan bagaimana penggunaan konservasi energi untuk memperoleh tambahan kondisi batas pada π₯ = π (π‘).
Contoh 3.1
Tentukan kondisi batas yang menyatakan absorsi dari panas laten.
Penyelesaian:
Persamaan berikut menyatakan konservasi panas untuk daerah π (π‘) ke π (π‘ + πΏπ‘) adalah
Misalkan π adalah panas laten spesifik (per satuan massa) dari logam. Masa total dari bahan yang telah dipadatkan dalam interval waktu yang diberikan adalah ππ΄πΏπ = ππ΄(π (π‘ + πΏπ‘) β π (π‘)). Dimana π adalah massa jenis dari bahan (diasumsikan sama untuk fase padat dan cair) dan π΄ adalah daerah penampang. Jadi diperoleh
Karena logam cair diasumsikan berada pada suhu yang seragam maka tidak ada gradien dalam suhu berarah dari logam cair. Semua aliran panas berada pada batas π₯ = π (π‘) kembali padat. Jumlah konduksi panas yang melewati π₯ = π (π‘) diperoleh dengan mengalikan aliran panas dari persilangan daerah π΄ dan interval
waktu πΏπ‘. Dengan menggunakan hukum Fourier, π½ =βπππ’ππ₯ adalah aliran panas pada saat arah π₯ positif. Sehingga didapatkan
{
panas dilakukan kembali melalui penampang di x=s(t)
} = βπ½π΄πΏπ = πππ’ππ₯|
π₯=π (π‘)π΄πΏπ‘ (3.5) (tanda negatif menyatakan bahwa panas dilakukan dalam arah π₯ negatif menuju padat).
Dari persamaan (3.4) dan (3.5) masing-masing dibagi dengan π΄πΏπ‘, misalkan πΏπ‘ β 0 dan πΏπ β 0. Maka diperoleh
πππ’
ππ₯(π (π‘), π‘) = ππππ
ππ‘ (3.6)
Persamaan (3.6) disebut sebagai kondisi Stefan.
B. Penyelesaian model matematis pengecoran logam dengan transformasi Boltzmann
Pada subab ini dibahas mengenai transformasi Boltzmann untuk menyelesaikan model matematis pada pengecoran logam.
1. Transformasi Boltzmann
Konduksi panas di daerah semi-tak terbatas 0 < π₯ < β. Misalkan daerah
Konduksi panas di daerah semi-tak terbatas 0 < π₯ < β. Misalkan daerah