• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN

Dalam dokumen PROFIL KESEHATAN KOTA PASURUAN 2012 (Halaman 8-200)

3 BAB II

GAMBARAN UMUM

A. KONDISI GEOGRAFIS

Kota Pasuruan terletak antara 112o 45’ - 112o 55’ BT dan 7o 35’ -7o 45’ LS dan tergolong dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 4 meter dari permukaan laut, berjarak ± 40 km dari Kota Surabaya. Secara administratif, Kota Pasuruan mempunyai daerah seluas ± 36,58 km2 yang terbagi atas 3 kecamatan yakni Kecamatan Bugul Kidul dengan luas 17,66 km2, Kecamatan Purworejo dengan luas 8,39 km2, dan Kecamatan Gadingrejo dengan luas 10,53 km2 (Tabel 1 Profil).

Batas-batas Kota Pasuruan adalah sebagai berikut : Sebelah Utara : Selat Madura

Sebelah Timur : Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Sebelah Selatan : Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan Sebelah Barat : Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan

Gambar II.1 Wilayah Kota Pasuruan Dan Batas – Batasnya

Sumber : Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2012.

Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, Kota Pasuruan memiliki 2 musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan yang berganti tiap 6 bulan sekali. Musim kemarau jatuh pada bulan Mei-September dan Musim penghujan jatuh pada bulan Oktober-April.

SELAT MADURA

U

4

Iklim tropik basah yang dimiliki Kota Pasuruan dipengaruhi oleh angin monsun barat dan monsun timur. Dari bulan November-Mei, angin bertiup dari arah utara barat laut dengan membawa banyak uap air yang menyebabkan musim penghujan dimana-mana. Sedangkan pada bulan Juni-Oktober, angin bertiup dari selatan tenggara dengan sedikit uap air yang menyebabkan musim kemarau / kering dimana-mana.

Wilayah Kota Pasuruan dilalui beberapa sungai, antara lain : Sungai Gembong dengan panjang 7,5 Km yang membelah pusat kota yang terletak di Kecamatan Purworejo, Sungai Welang dengan panjang 1,00 Km terletak di Kecamatan Gadingrejo. Sedangkan di wilayah Kecamatan Bugul Kudul terdapat beberapa sungai, yaitu Sungai Petung panjang 6,00 Km, Sungai Sodo 3,00 Km, Sungai Kepel panjang 3,00 Km dan Sungai Calung dengan panjang 3,00 Km.

Mengingat Kota Pasuruan mempunyai kemiringan antara 0–1%, dan ketinggiannya mempunyai range antara 0–10 meter di atas permukaan laut, maka keberadaan sungai selain menguntungkan sebagai irigasi teknis juga membawa dampak merugikan, yakni rawan banjir di musim penghujan terutama di wilayah bagian utara. Hal ini disebabkan karena di daerah tersebut terdapat bagian yang agak cekung sehingga menghambat pembuangan air ke laut.

B. KONDISI DEMOGRAFI

Kota Pasuruan yang mempunyai luas ± 36,58 km2 dihuni oleh penduduk sebanyak 190.045 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 5.195 jiwa/km2 (Tabel 1 dan 3 Profil).

Gambar II.2 Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Kota Pasuruan Tahun 2012

Sumber : BPS Kota Pasuruan (2012).

Berdasarkan gambar II.2 di atas dapat diketahui bahwa Kota Pasuruan mayoritas berpenduduk golongan muda yang tak lain merupakan ciri dari negara berkembang termasuk Indonesia. Penduduk Kota Pasuruan didominasi oleh kelompok umur produktif yakni 15-44

0 5,000 10,000 15,000 20,000 < 1 1 4 5 9 10 -14 15 -19 20 -24 25 -29 30 -34 35 -39 40 -44 45 -49 50 -54 55 -59 60 -64 ≥ 65 3845 13798 16011 1636517070 152421618016035 1498414337 13102 10672 8153 5284 8967

Laki-laki Perempuan Total

Jumlah (Orang)

5

tahun dan 45-64 tahun (Tabel 3 Profil). Kondisi yang demikian berpengaruh pada rasio beban tanggungan di Kota Pasuruan tahun 2012 sebesar 0,45. Angka ini menunjukkan setiap 100 orang produktif di Kota Pasuruan menanggung 45 orang tidak produktif. Adapun untuk rasio jenis kelamin Kota Pasuruan didapatkan angka 0,98 yang artinya ada 98 orang penduduk laki-laki dengan setiap 100 orang penduduk perempuan di Kota Pasuruan (Tabel 2 Profil).

Berdasarkan gambar II.1 dan II.3 dapat diketahui bahwa Kota Pasuruan memiliki 3 kecamatan yakni kecamatan Gadingrejo dengan 63.621 jiwa, kecamatan Purworejo dengan 68.064 jiwa dan kecamatan Bugulkidul dengan 58.361 jiwa. Kecamatan Purworejo terdiri dari 11 kelurahan dan mempunyai tingkat kepadatan penduduk yang paling tinggi yakni sebesar 8.113 jiwa/km2. Disusul Kecamatan Gadingrejo yang terdiri dari 13 kelurahan dan mempunyai kepadatan penduduk 6.042 jiwa/km2, dan Kecamatan Bugul Kidul yang memiliki 10 kelurahan dan memiliki kepadatan penduduk 3.305 jiwa/km2. Dari kelurahan yang ada tersebut Kota Pasuruan memiliki 932 RT (Rukun Tetangga) dan 212 RW (Rukun Warga) terhitung sejak tahun 2009 sebagaimana dijelaskan dalam tabel II.1.

Gambar II.3 Wilayah Kota Pasuruan menurut Kelurahan

Sumber : Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2012. .

6

Tabel II.1 Jumlah RT dan RW di Wilayah Kota Pasuruan Tahun 2012.

Kecamatan Kelurahan Jumlah

RW RT I. Gadingrejo (1) Gadingrejo (2) Tambaan (3) Trajeng (4) Karanganyar (5) Karangketug (6) Sebani (7) Petahunan (8) Bukir (9) Randusari (10) Krapyakrejo (11) Gentong 5 4 11 7 6 6 5 8 8 6 7 28 20 31 41 31 18 24 26 25 23 23 Jumlah 73 290

II. Purworejo (1) Ngemplakrejo (2) Mayangan (3) Bangilan (4) Kebonsari (5) Purworejo (6) Kebonagung (7) Purutrejo (8) Pohjentrek (9) Wirogunan (10) Tembokrejo 9 5 4 12 8 8 5 5 7 7 37 16 15 44 56 40 35 43 23 38 Jumlah 70 347

III. Bugul Kidul (1) Panggungrejo (2) Mandaranrejo (3) Bugullor (4) Kandangsapi (5) Bugulkidul (6) Pekuncen (7) Petamanan (8) Krampyangan (9) Blandongan (10) Kepel (11) Tapaan (12) Sekargadung (13) Bakalan 4 5 8 2 6 3 7 2 7 6 4 6 9 9 23 45 14 44 12 24 14 24 20 14 26 26 Jumlah 69 295 Jumlah Seluruhnya 212 932

7 BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

A. ANGKA KEMATIAN

Gambar III.1 Angka Kematian Kota Pasuruan Tahun 2010-2012

1. ANGKA LAHIR MATI (DILAPORKAN)

Angka Lahir Mati adalah jumlah lahir mati di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu per 1000 kelahiran (hidup dan mati). Angka lahir mati di Kota Pasuruan dilaporkan sebesar 0,0 dari 3.518 jumlah kelahiran hidup dan mati (Tabel 6 Profil).

Secara berturut-turut dari tahun 2010 ke tahun 2012 Angka lahir mati Kota Pasuruan sebagaimana dituangkan dalam grafik III.1 diatas.

2. ANGKA KEMATIAN BAYI (DILAPORKAN)

Angka Kematian Bayi (AKB) dilaporkan menggambarkan jumlah bayi (umur < 1 tahun) yang meninggal di suatu wilayah tertentu selama 1 tahun diantara jumlah kelahiran hidup di wilayah dan pada kurun waktu yang sama.

Terdapat 33 kematian bayi diantara 3.518 kelahiran hidup di Kota Pasuruan atau AKB (dilaporkan) sebesar 9,38 per 1.000 kelahiran hidup (Tabel 7 Profil).

Pada tahun 2012 angka kematian bayi ini menjadi meningkat dari tahun sebelumnya yang sempat mengalami penurunan, yaitu tahun 2011 sebesar 23 kematian bayi atau 6,5 per 1.000 kelahiran hidup dan tahun 2010 sebesar 24 kematian bayi atau 6,71 per 1.000 kelahiran hidup (Grafik III.1).

0 2 4 6 8 10 12 Angka Lahir Mati Angka Kematian Bayi Angka Kematian Anak balita Angka Kematian Balita Angka Kematian Ibu Per 1000 K e lah ir an Hi d u p

Angka Lahir Mati Angka Kematian Bayi Angka Kematian Anak balita Angka Kematian Balita Angka Kematian Ibu 2010 0.28 6.71 0 6.71 0.56 2011 0 6.5 0 6.5 0.56 2012 0 9.38 0.85 10.23 0

8

Pada masa yang akan datang Dinas Kesehatan dan jaringannya akan berupaya terus menekan angka kematian bayi melalui peningkatan upaya penyuluhan, manajemen KIA, serta pemberdayaan masyarakat (melalui posyandu maupun kelurahan siaga) didukung kerja sama lintas sektor.

3. ANGKA KEMATIAN BALITA (DILAPORKAN)

Angka Kematian Balita menggambarkan jumlah anak berumur < 5 tahun yang meninggal di suatu wilayah tertentu selama 1 tahun diantara jumlah kelahiran hidup di wilayah dan pada kurun waktu yang sama.

Tahun 2012, menjadi tahun yang berbeda karena ditemukan kematian anak balita sejumlah 3 anak balita atau angka kematian anak balita sebesar 0,85 per 1.000 kelahiran hidup.

Sehingga berbeda untuk angka kematian balita, tahun 2012 sebesar 10,23 per 1.000 kelahiran hidup yang berasal dari 9,38 kematian bayi ditambah 0,85 kematian anak balita (Tabel 7 Profil).

Pada tahun 2011 kematian anak balita tidak ditemukan sehingga angka kematian anak balita (dilaporkan) sebesar 0. Angka ini sama dengan angka kematian anak balita tahun 2010 sebesar 0 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan besaran angka kematian tahun 2011 dan 2010 sebesar angka kematian bayi saat itu (Grafik III.1).

4. ANGKA KEMATIAN IBU (DILAPORKAN)

Angka Kematian Ibu (AKI) menggambarkan jumlah ibu hamil yang meninggal karena hamil, bersalin, nifas, dan bukan karena kecelakaan di suatu wilayah tertentu selama 1 tahun diantara jumlah kelahiran hidup di wilayah dan pada kurun waktu yang sama.

AKI Kota Pasuruan tahun 2012 sebesar 0 per 100.000 kelahiran hidup (Tabel 8 Profil) atau sebesar 0 per 1.000 kelahiran hidup (Garfik III.1 diatas).

Dibandingkan tahun 2011 dan 2010, AKI menurun karena AKI sebelumnya sebesar 56 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun tersebut terdapat 2 kematian ibu, yaitu 2011, 1 kematian ibu pada masa nifas dan 1 kematian ibu pada masa bersalin dan pada tahun 2010, 2 kematian ibu terjadi pada masa nifas.

Untuk menekan AKI, Dinas Kesehatan dan jaringannya akan terus melakukan upaya penyuluhan yang lebih intensif kepada masyarakat terutama ibu hamil, peningkatan manajemen KIA serta pemberdayaan masyarakat dalam upaya Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) menuju persalinan yang aman dan selamat.

9 B. ANGKA KESAKITAN

1. AFP Rate (Non Polio)

< 15 tahun

Penemuan penderita AFP (Acute Flaccyd Paralysis Rate) per 100.000 penduduk < 15 tahun atau AFP rate adalah persentase jumlah penderita AFP (non polio) yang ditemukan dibandingkan dengan 100.000 penduduk < 15 tahun dalam wilayah tertentu dalam waktu satu tahun.

Standar Pelayanan Minimal (SPM) tahun 2012 menetapkan target untuk AFP rate sebesar ≥ 2. Artinya bila diketahui penduduk <15 tahun Kota Pasuruan sebesar 50.019 penduduk maka target penemuan kasus yang harus dipenuhi adalah sebesar 2 kasus.

Sedangkan, AFP rate terrealisasi sebesar 4 atau 2 kasus AFP dapat ditemukan per 100.000 penduduk <15 tahun Kota Pasuruan (Tabel 9 Profil). Target penemuan AFP sebesar ≥ 2 telah tercapai.

Gambar III.2 Cakupan Penemuan Penderita AFP – AFP rate Kota Pasuruan Tahun 2009-2012

Sumber : Seksi Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2012.

Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tren pencapaian AFP rate tahun ini mulai merangkak naik kembali. Puncaknya penurunan terjadi saat tahun 2011. Hal tersebut menjadi pacuan bagi penemuan kasus AFP (non polio) yang harus berjalan efektif seiiring dengan penguatan surveilans aktif di Puskesmas dan jaringannya.

2. ANGKA INSIDENS TB PARU

Angka insidens TB paru Kota Pasuruan sebesar 156 per 100.000 penduduk, angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya sebesar 110 per 100.000 penduduk.

Angka tersebut mempunyai arti, bahwa di Kota Pasuruan (per 100.000 penduduknya) di diagnosis kasus baru TB Paru sebanyak 156 kasus (Tabel 10 Profil). Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya karena tahun mulai tahun ini mendapatkan kontribusi dari Klinik Paru YPP.

10.65 5.94 1.9 4 2 2 2 2 0 2 4 6 8 10 12 2009 2010 2011 2012 PENCAPAIAN TARGET

10 3. ANGKA KEMATIAN AKIBAT TB PARU

Angka kematian akibat TB Paru sebesar 1,58 per 100.000 penduduk artinya setiap 100.000 penduduk Kota Pasuruan ada yang meninggal akibat TB Paru sebanyak 1 orang (Tabel 10A Profil). Dibandingkan dengan angka sebelumnya tahun 2011 sebesar 3,2 per 100.000 penduduk, angka ini menurun.

Angka kematian TB Paru tahun 2012 adalah jumlah kematian akibat TB Paru pada tahun 2011 oleh karena proses evaluasi dan lama pengobatan TB Paru.

4. ANGKA PENEMUAN KASUS TB PARU (CDR) BTA POSITIF

Angka penemuan kasus TB Paru (CDR) BTA + sebesar 94,91% (Tabel 11 Profil). Bila dibandingkan dengan target SPM, maka tahun ini telah memenuhi target SPM sebesar 75% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sempat belum memenuhi target SPM sebagaimana terlihat dalam grafik berikut :

Gambar III.3 Cakupan Penemuan Dan Penanganan Pasien Baru TB BTA Positif Kota Pasuruan Tahun 2009-2012

Sumber : Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2012.

5. SUCCESS RATE TB PARU DAN ANGKA KESEMBUHAN PENDERITA TB PARU BTA POSITIF

Success Rate (SR) dapat diartikan sebagai angka keberhasilan pengobatan. SR di Kota Pasuruan sebesar 92,41% yang merupakan pertambahan dari angka kesembuhan dan angka Pengobatan Lengkap - PL - (Tabel 12 Profil).

Angka kesembuhan penderita TB Paru BTA positif sebesar 86,21% (Tabel 12 Profil) merupakan persentase cakupan penderita TB paru BTA + yang ditemukan, diobati, dan pada akhir pengobatan dinyatakan sembuh dibandingkan dengan cakupan penderita TB paru BTA + yang ditemukan dan diobati di kota Pasuruan selama periode 1 tahun yang lalu (tahun 2011).

SR tahun ini menurun dibandingkan tahun ebelumnya sebesar 95,4%, senada dengan angka kesembuhan yang juga menurun dari tahun sebelumnya sebesar 90,77%.

60 65 70 75 50 64 72 95 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 2009 2010 2011 2012 TARGET SPM PENCAPAIAN

11

Pencapaian angka-angka tersebut cukup tinggi, secara logis berkaitan dengan ketepatan penerapan strategi pemberantasan DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) dengan unsur-unsur komitmen politis, diagnosis berdasarkan mikroskopis, ketersediaan OAT/ Obat Anti TB, Pengawas Menelan Obat/ PMO, dan pencatatan pelaporan.

6. PNEUMONIA BALITA DITEMUKAN DAN DITANGANI

Persentase balita pneumonia ditangani adalah persentase balita dengan pneumonia yang ditemukan dan diberikan tatalaksana sesuai standar dibandingkan dengan jumlah pneumonia balita di satu wilayah dalam waktu satu tahun.

Persentase balita pneumonia ditemukan dan ditangani tahun ini sebesar 69,6% (Tabel 13 Profil). Angka ini jauh menurun dari tahun sebelumnya sebesar 76.93%.

Bila dibandingkan dengan target SPM, Kota Pasuruan tahun 2012 jauh dari kata memenuhi target SPM yang telah ditetapkan yaitu sebesar 80%. Hal ini mengindikasikan belum optimalnya upaya Dinas Kesehatan dan jaringannya dalam tatalaksana penemuan dan penanganan penderita pneumonia sesuai standar pelayanan.

7. JUMLAH KASUS BARU HIV/AIDS DAN KEMATIAN AKIBAT AIDS

Pada tahun 2012 ditemukan 16 ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) di Kota Pasuruan. Angka 16 merupakan sumbangsih 8 kasus dari HIV dan 8 kasus dari AIDS.

Sedangkan jumlah kematian akibat HIV-AIDS sejumlah 1 orang berjenis-kelamin laki-laki (Tabel 14 Profil).

Jika melihat tren, maka kejadian HIV-AIDS memilik tren naik 100% bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yaitu hanya 8 ODHA (2011) dan 4 ODHA (2010).

III.4 Kejadian HIV-AIDS Kota Pasuruan 2010-2012

Sumber : seksi pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2012.

2010 2011 2012 HIV 5 8 AIDS 3 8 HIV-AIDS 4 8 16 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

12

Pendekatan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan dalam pelaksanaan surveilans HIV adalah dengan cara unlinked anonymous (tanpa identitas/tidak dapat ditelusuri) sehingga faktor confidentiality atau kerahasiaan ODHA dapat terjaga.

Angka kematian akibat AIDS sebesar 0. Adanya komitmen Dinas Kesehatan dan jaringannya dalam membangun klinik VCT HIV/AIDS, melakukan deteksi dini pada kelompok berisiko tinggi melalui pemeriksaan darah/serosurvey, dan pendampingan bagi ODHA serta mengupayakan adanya pengobatan ART (Anti Retroviral Treatment) merupakan suatu bentuk perhatian yang didapatkan ODHA di Kota Pasuruan.

8. JUMLAH INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) DITANGANI

Pada tahun 2012 ditemukan 2.671 kasus baru IMS di Kota Pasuruan. Angka ini naik 350% dibandingkan tahun 2011 sebesar 763 kasus baru IMS.

III.5 Kasus baru Infeksi Menular Seksual (IMS) Kota Pasuruan 2010-2013

9. DONOR DARAH DISKRINING POSITIF HIV

Jumlah pendonor di UTD PMI tahun 2012 Kota Pasuruan sebesar 3.698 orang dan 100% sampel darah orang tersebut telah melalui proses screening (pemeriksaan 1 tes).

10. PERSENTASE DIARE DITEMUKAN DAN DITANGANI

Angka kesakitan diare menggambarkan jumlah penderita kasus diare di suatu wilayah tertentu selama 1 tahun diantara jumlah penduduk di wilayah dan pada kurun waktu yang sama. Pada tahun 2012 ditemukan 19.735 kasus diare diantara 190.045 penduduk Kota Pasuruan (Tabel 16 Profil).

Indikator kinerja SPM diare adalah penanganan penderita diare selama 1 tahun 2012, dengan perkiraan kasus yang dihitung dari 10% X Angka kesakitan diare Nasional

2010 2011 2012 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 Infeksi Menular Seksual K asu s B ar u

Infeksi Menular Seksual

2010 525

2011 763

13

(411/1000) X Jumlah Penduduk. Perkiraan kasus didapat untuk Kota Pasuruan tahun ini adalah sebesar 7.811 kasus diare. Sehingga dengan kasus ditemukan Pencapaian Kota Pasuruan adalah sebesar 252,66%. Angka ini lebih besar dari tahun sebelumnya sebesar 241.5%.

Pencapaian tersebut memenuhi target SPM sebesar 100%. Bila dikaji lebih lanjut, angka tersebut terlalu besar untuk pencapaian kasus diare. Beberapa evaluasi telah dilakukan dalam sistem surveilans yang dijalankan di Dinas Kesehatan, Puskesmas dan jaringannya (posyandu maupun kelurahan siaga). Hasilnya, form pelaporan yang digunakan Puskesmas masih tidak mengakomodir kewilayahan (PWS/ Pemantauan Wilayah Setempat) sehingga sejumlah besar angka diare dari masyarakat daerah berbatasan (Kabupaten Pasuruan) tercover dalam pelaporan. Diasamping itu memang kasus diare cukup tinggi di Kota Pasuruan.

Untuk keberhasilan program yang akan datang Dinas Kesehatan dan jaringannya berupaya terus meningkatkan sistem surveilans agar penemuan dan penanganan penderita diare sesuai standar dapat memenuhi target SPM dengan baik.

11. JUMLAH KASUS BARU KUSTA PB, MB DAN ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA (NCDR)

Penyakit kusta diklasifikasikan menjadi 2 yakni kusta tipe PB (Pause Baciller) atau tipe kering dan MB (Multi Baciller) atau tipe basah. Tipe PB mempunyai gejala macula/ kelainan kulit antara 1-5 buah, kerusakan syaraf tepi 1 buah, pemeriksaan BTA negatif, tidak menular, dan membutuhkan pengobatan tepat waktu 6 dosis dalam waktu 6-9 bulan. Sedangkan tipe MB mempunyai gejala macula/ kelainan kulit > 5 buah, kerusakan syaraf tepi > 1 buah, pemeriksaan BTA positif, menular, dan membutuhkan pengobatan tepat waktu 12 dosis dalam waktu 12-18 bulan.

III.6 Gambaran Kasus Kusta Kota Pasuruan 2011-2012

0 21 3 11.05 0 5 10 15 20 25 PB MB cacat tingkat II NCDR 2011 2012

14

Di Kota Pasuruan tahun 2012 ditemukan 21 kasus baru dan ke-semuanya kasus MB dengan penderita usia ≥ 15 tahun (Tabel 17 Profil) dan dengan kecacatan tingkat 2 sebesar 14,29% (3 kasus) sesuai tabel 18 Profil.

Oleh karena 21 kasus baru ditemukan, maka NCDR/ New Case Detection Rate (Angka Penemuan Kasus Baru) Kusta sebesar 11,05 per 100.000 penduduk sesuai tabel 17 Profil.

Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ditemukan 19 kasus baru yang terdiri dari 1 kasus PB dan 18 kasus MB, dengan penderita usia 0-14 tahun sebesar 10,5% (2 kasus di Puskesmas Purworejo dan Puskesmas Kebonsari) dan dengan kecacatan tingkat 2 sebesar 26,3% (5 kasus) sesuai tabel 18 Profil dan NCDR Kusta sebesar 10,1 per 100.000 penduduk.

12. ANGKA PREVALENSI KUSTA

Prevalensi kusta Kota Pasuruan berdasarkan Tabel 19 Profil sebesar 0,95 per 10.000 penduduk, angka ini turun dari tahun sebelumnya sebesar 1,3 per 10.000 penduduk namun memiliki arti yang sama bahwa setiap 10.000 penduduk Kota Pasuruan, ada yang menderita kusta sebanyak 1 orang.

13. PENDERITA KUSTA PB DAN MB SELESAI BEROBAT (RFT)

Pada tahun 2012 di Kota Pasuruan seluruh penderita kusta baik tipe PB maupun MB telah menyelesaikan pengobatan atau RFT (Release From Treatment) dengan jumlah penderita sebagai berikut (Tabel 20 Profil) :

a. Persentase RFT PB sebesar 100%.

Angka ini berasal dari kohort ditemukannya 1 orang penderita kusta PB pada tahun 2011 dan diberi pengobatan tepat waktu dengan dosis 6 bulan dan RFT-nya berhasil. b. Persentase RFT MB di Kota Pasuruan sebesar 88,89%.

Angka ini berasal dari kohort ditemukannya 9 orang penderita kusta MB pada tahun 2010 dan diberi pengobatan tepat waktu dengan dosis 12 bulan dan RFT-nya belum berhasil, hanya mencapai 88,89% dari target yang 90%, ini karena penderita banyak yang berasal dari luar Kota Pasuruan sehingga tingkat kepatuhan berobat rendah.

14. JUMLAH KASUS PENYAKIT MENULAR YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI (PD3I) DAN CFR

PD3I yang dimaksud dalam hal ini adalah penyakit difteri, pertusis, tetanus, tetanus neonatorum (TN), campak, AFP, dan hepatitis B. Adapun jumlah kaus PD3I di Kota Pasuruan sepanjang tahun 2012 seperti diinterpretasikan pada gambar III.7 dan secara detail tertuang dalam Tabel 21 dan 22 Profil.

15

Gambar III.7 Kasus Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) Per Wilayah Kerja Puskesmas di Kota Pasuruan Tahun 2012.

Sumber : Seksi Pencegahan Penyakit dan Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2012.

Gambar III.7 menunjukkan bahwa kasus PD3I yang ada di Kota Pasuruan sepanjang tahun 2012 sebagai berikut :

a. Kasus Pertusis, Tetanus Neonatorum, Tetanus Neo Neonatorum, Polio, Hepatitis B dan CFR

Di Kota Pasuruan sepanjang tahun 2012 tidak ditemukan kasus Pertusis, Tetanus Neonatorum, Tetanus Neo Neonatorum, Polio, Hepatitis B. Data ini sama dengan tahun 2010.

b. Difteri dan CFR

Tahun 2012, ditemukan 3 kasus masing-masing 1 kasus di Puskesmas Bugulkidul, Kandangsapi, dan Kebonsari.

Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tahun 2011 ditemukan Difteri 2 kasus di Wilayah Puskesmas Bugulkidul dan Puskesmas Kandangsapi, 1 kasus di kelurahan blandongan dengan hasil pemeriksaan positif ( 4 orang) dan 1 kasus lagi di kelurahan Bugul Lor tetapi hasil pemeriksaan menunjukkan negatif.

Sedangkan di tahun 2010 kasus ini tidak ditemukan. Adapun CFR dari Kasus Difteri sebesar 0%.

1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 6 0 0 3 0 0 0 15 0 0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Pkm Bugulkidul Pkm Kandangsapi Pkm Sekarsono Pkm Purworejo Pkm Kebonsari Pkm Gadingrejo Pkm Karangketug Pkm Bukir Kota Pasuruan Jumlah (Kasus)

16

c. Kasus Campak dan CFR

Kasus campak sepanjang tahun 2012 tercatat sejumlah 15 kasus yang berasal dari Laporan C1 per Puskesmas di Kota Pasuruan. Kasus terbesar di Puskesmas Gadingrejo dengan catatan 6 kasus.

Adapun CFR kasus campak sebesar 0%.

Angka kejadian kasus ini turun dari tahun sebelumnya sejumlah 21 kasus dengan wilayah kerja Puskesmas Kandangsapi yang memiliki jumlah kasus terbanyak yakni sebesar 10 kasus.

Bila dibandingkan dengan tahun 2010, angka tersebut mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 ditemukan 36 kasus campak, dengan kontributor terbanyak adalah Puskesmas Kebonsari sebanyak 12 kasus.

15. INSIDENS RATE DBD DAN CFR

Insiden Rate/IR (Angka Kesakitan) DBD menggambarkan jumlah penderita kasus DBD di suatu wilayah tertentu selama 1 tahun diantara jumlah penduduk di wilayah dan pada kurun waktu yang sama. Penderita DBD yang dimaksud adalah penderita yang demam tinggi mendadak, terus menerus berlangsung 2-7 hari tanpa sebab yang jelas, tanda-tanda perdarahan dari atau pembesaran hati, serta hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan positif DBD. Semakin rendah angka kesakitan DBD mengindikasikan semakin berhasilnya program penanggulangan DBD.

Pada tahun 2012 ditemukan 94 kasus DBD diantara 190.045 penduduk Kota Pasuruan atau IR sebesar 49,46 per 100.000 penduduk (Tabel 23 Profil). Angka ini menunjukkan sedikit kenaikan dari tahun sebelumnya. Secara berturut-turut angka IR DBD di Kota Pasuruan dari tahun 2007 sampai dengan 2012 adalah 75,3; 94,44; 84,09; 147,23, 41, dan 49,46 per 100.000 penduduk (Gambar III.8).

Gambar III.8 Angka kesakitan (Insiden Rate/IR) DBD di Kota Pasuruan Tahun 2007 s/d 2012.

Sumber : Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2012.

75.3 94.44 84.09 147.23 41 49.46 0 20 40 60 80 100 120 140 160 2007 2008 2009 2010 2011 2012

17

Tahun 2012 merupakan IR DBD cukup rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya, sehingga dapat dikatakan bahwa angka kesakitan DBD di Kota Pasuruan dapat ditekan dan program penanggulangan DBD berhasil.

Disamping itu CFR sebesar 0% yang artinya tidak ada penderita DBD yang meninggal akibat DBD.

16. PERSENTASE DBD DITANGANI

Persentase DBD ditangani di Kota Pasuruan pada tahun 2012 sebesar 100% artinya dari 94 kasus DBD yang ada, seluruhnya mendapatkan penanganan yang fokus dan terarah (Tabel 23 Profil). Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu mulai tahun 2007 hingga 2012, persentase DBD ditangani tetap yakni sebesar 100% seperti tampak pada gambar III.9 berikut :

Gambar III.9 Jumlah Kasus DBD dan DBD Ditangani Di Kota Pasuruan Tahun 2007 s/d 202.

Sumber : Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2012.

Persentase DBD ditangani sebesar 100% dinilai sudah memenuhi target SPM Kesehatan Kota Pasuruan tahun 2012 sebesar 100%. Namun bila dilihat dari jumlah kasus DBD, tahun 2010 merupakan puncak kasus DBD tertinggi diantara 6 tahun terakhir. Terlepas dari itu semua, dari tahun ke tahun DBD masih menjadi permasalahan kesehatan yang serius di Kota Pasuruan meskipun setiap ada kasus mendapatkan penanganan. Alasan faktualnya adalah faktor alam (musim, iklim, kemiringan, ketinggian, dan lain-lain) yang merupakan best habitat / bionomik nyamuk untuk perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypty Sp. dan faktor sosial masyarakat Kota Pasuruan yang masih berpendapat bahwa fogging adalah upaya utama dalam penanggulangan DBD.

Fogging bukanlah solusi utama penanggulangan DBD, tetapi fogging harus tetap dilakukan pada setiap ada kasus DBD yang berdasarkan hasil Penyelidikan

Dalam dokumen PROFIL KESEHATAN KOTA PASURUAN 2012 (Halaman 8-200)

Dokumen terkait