Berisi tentang kesimpulan dan saran dalam pembuatan tugas akhir.
Bab II Tinjauan Pustaka
II.1 Acuan Penelitian Sebelumnya
Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan topik perancangan titik hotspot dan dijadikan sebagai bahan masukan untuk pelaksanaan rancangan dapat diuraikan sebagai berikut:
Ono W. Purbo (2005), Wi-Fi pada dasarnya adalah istilah generik untuk peralatan Wireless LAN atau dikenal sebagai WAN. Sedangkan Hotspot adalah sebuah wilayah terbatas yang dilayani Access Point Wireless LAN standar 8012a / b / g. Dimana pengguna / user dapat masuk ke dalam Access Point secara bebas dan mobile menggunakan perangkat sejenis notebook, laptop, PDA, dan sejenisnya.
Menurut Akbar Kadarusman (2008), pembangunan Wireless LAN didukung beberapa access point yang bertujuan memberikan fasilitas mengakses internet nirkabel. Mengakses tanpa harus ada penempatan khusus atau pemasangan jaringan apabila ada permintaan penambahan user. Dengan adanya teknologi wireless ini kita dapat mengakses selama user telah menggunakan teknologi Wi-Fi ini
Menurut Janner Simarmata (2006), mengatakan acess point pada dasarnya adalah padanan wireless dari LAN hub. Suatu access point biasanya dihubungkan dengan wired backbone melalui kabel Ethernet standar, dan berkomunikasi dengan perangkat wireless dengan menggunakan antenna. Area cakupan dari access point menentukan batas dari LAN dan omni-directional dengan access point pusatnya, yang membentuk sel(cell). Ukuran sel tergantung pada kekuatan yang disebarkan oleh sinyal radio dan jenis serta konstruksi dinding, dan karakteristik fisik lingkunganya
Putu Surya Gs (2008), mengungkapkan pada umumnya sistem komunikasi bergerak beroperasi di daerah perkotaan yang cenderung bersifat NLOS, terdapat banyak penghalang antara pengirim dan
penerima seperti gedung-gedung dan pepohonan, sehingga permodelan perambatan gelombang radio akan semakin rumit. Demikian pula untuk sistem komunikasi di dalam ruangan, bahkan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi karena memiliki variable yang lebih banyak, seperti : adanya sekat antar ruang, pengaruh tubuh manusia, kondisi ruangan, jumlah jendela dan pintu yang terbuka dan lain-lain. Secara umum, mekanisme perambatan gelombang radio ketika menemui penghalang dibedakan menjadi tiga yaitu pemantulan (reflection), pembelokan (diffraction) dan penghamburan (scattering).
Andrew S. Tanenbaum (2007), membahas Wireless LAN adalah sistem dimana setiap komputer mempunyai sebuah modem radio dan antenna yang dapat berkomunikasi dengan sistem lainnya.
II.2 Wi-Fi (Wireless Fidelity)
Wi-Fi yaitu sekumpulan standar yang digunakan untuk Jaringan Lokal Nirkabel (Wireless Local Area Networks - WLAN) yang didasari pada spesifikasi IEEE 802.11. Dimana IEEE (Institute of Electrical and Electronic Engineers) berdasarkan standar teknis bernomor 802.11b, 802.11a, 802.16 dan sekarang mempunyai empat variasi dengan spesifikasi yang berbeda. Spesifikasi Wifi dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Spesifikasi Wi-fi
Spesifikasi Kecepatan Frekuensi Bandwith
802.11b 11Mb/s 2.4Ghz
802.11a 54Mb/s 2.4Ghz
802.11g 54Mb/s 2.4Ghz
802.11n 100Mb/s 5 Ghz
Untuk versi wifi yang paling luas dalam penggunaan saat ini berdasarkan IEEE 802.11b/g beroprasi pada 2.400 Mhz sampai 2.483,50 Mhz. Karena itu
dapat mengijinkan operasi dalam 14 kanal dengan dengan masing-masing 5 Mhz.
Tabel kanal dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Tabel Kanal
Kanal Frekuensi(Mhz) Kanal Frekuensi(Mhz)
1 2.412 8 2.447 dengan masing-masing 5 Mhz pada saat ini.
Wireless bekerja dengan menggunakan sinyal radio. Oleh karena itu, kondisi suatu tempat atau ruangan sangat mempengaruhi terhadap baik buruknya sinyal yang diterima oleh perangkat Wireless / nirkabel. Material penghambat sinyal Wireless dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Tabel Material
Nama Bahan Hambatan Contoh
Kayu Kecil Ruangan dengan partisi kayu
atau triplek
Bahan-bahan sintesis Kecil Partisi dengan bahan plastic
Asbes Kecil Langit-langit
Air Sedang Akuarium
Tembok Bata Sedang Dinding
Keramik Tinggi Lantai keramik, tembok yang
Nama Bahan Hambatan Contoh dilapisi keramik
Bahan-bahan yang
memantul
Sangat tinggi Cermin
Plat Besi Sangat tinggi Filling cabinet, meja, lift
Dalam perancangan daerah akses internet dengan Wireless dikenal juga sebuah istilah Topologi jaringan. Topologi jaringan komputer merupakan hal yang penting dalam perancangan jaringan hotspot. Topologi jaringan dapat mempengaruhi performa jaringan dan jika dirancang dengan benar maka topologi jaringan akan dapat memudahkan akses jaringan nirkabel di seluruh area.
Topologi jaringan Wireless dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2.
Gambar 1 Topologi Mode Ad-Hoc
Gambar 2 Topologi Mode Infrastruktur
Wifi menggunakan dua mode akses koneksi, yaitu mode Ad-Hoc dan Infrastruktur, mode koneksi Ad-Hoc adalah mode dimana beberapa komputer terhubung secara langsung, atau lebih dikenal dengan istilah Peer-to-Peer.
Kemudian adalah mode Infrastruktur yaitu mode yang menggunakan acess point sebagaipengatur lalu lintas data, sehingga memungkinkan Client dapat saling terhubung melalui jaringan. Terdapat beberapa jenis sistem keamanan jaringan wifi, antara lain:
1. WPA Pre-Shared Key 2. WPA Radius
3. WPA Pre-Shared Key Mixed 4. WPA2 Radius Mixed
5. RADIUS 6. WEP
II.3 Teknologi Access Point
Digunakan untuk melakukan pengaturan lalulintas jaringan dari mobile radio ke jaringan kabel atau dari backbone jaringan wireless client/server.
Access Point biasanya berbentuk kotak dengan satu atau dua antena kecil.
Peralatan ini merupakan radio based, berupa receiver dan transmitter yang akan terkoneksi dengan LAN kabel atau broadband Ethernet. Setiap hotspot mempunyai batas jangkauan daerah yang mampu dilayani oleh access point diatur oleh EIRP,
EIRP adalah total energi yang di keluarkan oleh sebuah access point dan antenna.
Saat sebuah access point mengirim energinya ke antena untuk di pancarkan, sebuah kabel mungkin ada diantaranya.
Beberapa pengurangan besar energi tersebut akan terjadi di dalam kabel.
Untuk mengimbangi hal tersebut, sebuah antena menambahkan power / Gain, dengan demikian power bertambah. Jumlah penambahan power tersebut tergantung tipe antena yang digunakan. FCC dan ETSI mengatur besar power yang bisa dipancarkan oleh antena. EIRP inilah yang digunakan untuk
memperkirakan area layanan access point. Rumus untuk menentukan area layanan hotspot dengan Persamaan 11.
(Persamaan 1)
Dalam pembuatan wilayah jaringan Wireless sangat diperlukan pemilihan teknologi Access Point yang digunakan. Gedung seperti Politeknik Batam, hanya untuk indoor diperlukan Access Point yang khusus untuk dalam ruangan, dan daerah seperti area publik diperlukan Access Point untuk di luar gedung.
II.4 Faktor Teknis Pengaruh Sinyal Wi-Fi
Adapun beberapa faktor-faktor teknisnya sebagai berikut :
1. Kualitas Teknologi Access Point yang dapat mentransmisi sinyal Wi-Fi 2. Jarak / Jangkauan Sinyal Wireless yang ditangkap dengan
memperhatikan sejauh mana jarak perangkat nirkabel dengan Access Point untuk menangkap sinyal Wireless.
3. Absorption (Penyerapan/ Peredaman Sinyal) dimana terdapat benda-benda yang menganggu transmisi Wireless dengan menyerap sinyal seperti tembok, tubuh manusia, karpet.
4. Pemantulan Sinyal Wireless oleh kaca, dimana efek dari pemantulan sinyal Wi-Fi adalah terjadinya Multipath yang artinya sinyal datang dari dua arah yang berbeda, sehingga dapat menyebabkan sinyal yang = 0, artinya saling membatalkan, istilahnya disebut Out of Phase Signal.
5. Refraction / Pembelokan sinyal disaat sinyal melewati sesuatu yang beda massanya seperti sinyal yang melewati segelas air.
1 References:http://www.scribd.com/doc/36862526/13-1-IndraHencanAgung-Analisis-Sistem-hal-1-16
EIRP = Power Output Transmitter (AP) - Cable loss + Antenna Gain
II.5 Penguatan Sinyal Wi-Fi
Untuk menentukan pengaruh dari kekuatan sinyal wireless, ada beberapa hal dan metoda yang dapat digunakan yaitu :
1. Fresnel Zone, adalah metode dapat menentukan posisi ketinggian antena dengan Jarak yang dapat di tembus oleh sinyal Wireless
2. RSSI / Received Signal Strenght Indicator. Metode RSSI ini menggunakan nilai yang spesifik untuk tiap vendor. Oleh karena itu penilaian vendor A belum tentu sama dengan vendor B. RSSI biasa diukur dalam besaran dBm. Salah satu alat untuk menentukan RSSI adalah software Network Stumbler.
3. SNR / Signal to Noise Ratio. Metode SNR adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seberapa kuat sinyal dibandingkan dengan gangguan di sekeliling yang menggangu sinyal. Bila sinyal lebih kuat daripada gangguan / Noise maka sinyal dapat di tangkap oleh receiver lebih baik, dan sebaliknya demikian. Bila Noise sekitar terlalu besar, maka yang akan di tangkap oleh receiver adalah sinyal yang samar-samar dan transmisi data tidak dimengerti.
Link Budget, yaitu nilai yang menghitung semua gain dan loss antara pengirim dan penerima, termasuk atenuasi, penguatan / gain antena, dan loss lainnya yang dapat terjadi. Link Budget dapat berguna untuk menentukan berapa banyak power yang dibutuhkan untuk mengirimkan sinyal agar dapat di mengerti oleh penerima sinyal. Rumus untuk menghitung Link Budget dapat dilihat pada Persamaan 22.
(Persamaan 2)
2 References : http://en.wikipedia.org/wiki/Link_budget
Received Power (dBm) = Transmitted Power (dBm) + Gains (dB) - Losses (dB)
Selain metode-metode yang di atas juga Access Point yang digunakan untuk mentransmisi sinyal Wireless, terdapat juga dalam perangkat nirkabel yang mendukung untuk memperkuat sinyal Wireless. Beberapa contoh alat-alat untuk memperkuat sinyal Wireless dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Tabel Alat-alat Memperkuat Sinyal Wireless
Gambar Nama Keterangan Harga
Wifi Omni-Indoor Antenna 8dBl TP-Link TL-ANT240BCL
Perangkat TP-Link ini berfungsi
untuk memperkuat dan (luar ruangan), dengan keluaran sinyal 8dBl dengan frekuensi 2.4
Digunakan untuk melapisi kotak luar Access Point yang pengaruh buruk cuaca diluar ruangan misal panas matahari dan air hujan. Kotak yang terbuat dari bahan plastik keras ini dirancang
Rp. 60.000
Gambar Nama Keterangan Harga untuk ditempatkan 1 unit AP
didalamnya dan digunakan untuk menyambung AP tersebut ke antena outdoor yang diletakkan di atas menara/tower. Sehingga diharapkan perangkat wifi di dalamnya akan terlindungi dan meminimalisir kerusakan yang ditimbulkan oleh pengaruh buruk kondisi cuaca ekstrim diluar ruangan.
WEP merupakan suatu algoritma enkripsi yang digunakan oleh shared key pada proses autentikasi untuk memeriksa user dan untuk meng-enkripsi data yang dilewatkan pada segment jaringan wireless pada LAN. WEP digunakan pada standar IEEE 802.11. WEP juga merupakan algoritma sederhana yang menggunakan pseudo-random number generator (PRNG) dan RC4 stream cipher.
RC4 stream cipher digunakan untuk decrypt dan encrypt
WEP merupakan sistem keamanan yang lemah. Namun WEP dipilih karena telah
WEP dimaksudkan untuk tujuan keamanan yakni kerahasiaan data, mengatur hak akses dan integritas data. Selain WEP terdapat standar lain yakni standar 802.1x yakni EAP atau VPN.
II.7 Aplikasi Pendukung
Untuk mendukung penelitian ini, penulis menggunakan sebuah aplikasi free yaitu Ekahau HeatMapper. Ekahau HeatMapper adalah sebuah aplikasi untuk pembuatan coverage berdarkan warna yang menggambarkan seberapa kuat dari transmisi sinyal wireless di atas denah yang di import atau denah kosong.
Aplikasi ini juga dapat memberikan nilai kuat signal strenght (kekuatan sinyal).
Selain itu kemampuan yang membedakan Ekahau Heatmapper dengan aplikasi Site Survey lainya seperti Netstumbler adalah ESS, dimana satu-satunya alat dengan teknologi Survey Hybrid yang mudah dan berjalan dengan cepat. ESS ini dapat membuat tes pasif dan aktif. Dengan kata lain, ESS secara simultan melakukan pengukuran secara otomatis dan memetakannya menggunakan konektivitas end-to-end. Hal Ini memungkinkan kita untuk mengukur sinyal hanya dari satu tempat saja tanpa kemana-mana sehingga mempersingkat waktu selama survei, memetakan kekuatan sinyal wifi berdasarkan warna kode, data rate, packet loss, roaming, tumpang tindih dan berbagai karakteristik lainnya yang tersedia.
Heatmapper juga memberikan informasi access point secara real-time.
Aplikasi lain yang mendukung penelitian ini adalah Wifi Analyzer, dimana aplikasi ini juga untuk menghitung kuat sinyal wireless (dB). Aplikasi tersebut diinstal pada PDA.
Bab III Analisis dan Kondisi Saat Ini
Pada bab ini berisi penjelasan langkah-langkah Site Survey tentang kondisi gedung Politeknik Batam pada saat ini, meliputi pemetaan denah gedung serta partikel-partikel penghambat transmisi sinyal dan struktur jaringan wireless yang dimiliki oleh Politeknik Batam. Ada 4 langkah yang dilakukan untuk dapat menganalisa dan memetakan kondisi dari gedung Politeknik Batam.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menganalisis dan mengetahui konfigurasi jaringan Wi-Fi di Politeknik Batam dan melakukan pemetaan struktur gedung. Dimana pemetaan ini berguna untuk mengetahui sekat pada setiap lantai dan peralatan elektronik, yang bertujuan untuk menghitung redaman sinyal yang terjadi.
Langkah kedua melakukan pengukuran sinyal. Hal ini dimaksudkan untuk menganalisa kekuatan gelombang radio yang ditransmisikan oleh access point sebagai perbandingan kekuatan gelombang yang dipancarkan dan diterima oleh client. Setelah melakukan pengukuran dapat dilihat apakah sinyal dapat dengan baik atau tidak diterima oleh pengguna pada area layanan titik hotspot pada gedung tersebut. Apabila sinyal yang diterima tidak maksimal, maka langkah selanjutnya yaitu menganalisis bahan dan material yang berpotensi tinggi meredam kekuatan sinyal pada gedung tersebut.
Langkah ketiga melakukan pengumpulan data dengan metode wawancara.
Di dalam pelaksanaannya, penulis melakukan wawancara dengan informan dengan menanyakan secara langsung guna mendapatkan informasi yang diperlukan seputar infrastruktur jaringan wireless di Politeknik Batam, perangkat-perangkat nirkabel yang digunakan, besar bandwidth yang diberikan dan pembagiannya, peletakan access point, keperluan mahasiswa/i Politeknik Batam dalam penggunaan jaringan wireless dan rata-rata jumlah mahasiswa/i yang menggunakan jaringan wireless setiap harinya.
Langkah terakhir yaitu analisis teknologi access point untuk mengetahui spesifikasi perangkat wireless yang digunakan serta kelebihan dan kekurangan perangkat tersebut. Dengan menganalisa teknologi access point yang dipakai kita dapat mengetahui teknologi access point seperti apa yang dibutuhkan dalam jaringan hotspot di Politeknik Batam.
III.1 Kondisi Saat Ini
Pada sistem jaringan Wi-fi di Politeknik Batam menggunakan konfigurasi jaringan Wi-fi konvensional, yaitu menggunakan sebuah server komputer sebagai pusat pengaturan aliran data, kemudian dihubungkan pada sebuah router, dapat berupa komputer biasa atau router switch, dari router tersebut dihubungkan kepada sebuah hub/switch yang dibagi-bagi kepada area layanan hotspot menggunakan kabel kedalam access point yang telah diletakkan pada setiap area layanan hotspot, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3
Gambar 3 Jaringan Konvensional
III.1.1 Pemetaan Indoor Gedung Politeknik Batam
Pada gedung Politeknik Batam terdapat sembilan penempatan titik access point sebagai area layanan hotspot. Pengukuran menggunakan laptop dengan memakai aplikasi Ekahau Heatmapper. Untuk membaca hasil pengukuran, kita dapat melihat pada daerah yang diberi kode warna seperti hijau, kuning dan abu-abu sebagai gambaran kekuatan sinyal yang diterima.
Area hijau menandakan bahwa sinyal itu masih diterima dengan bagus, untuk warna kuning sinyal diterima kurang bagus, sedangkan untuk warna abu-abu berarti area tersebut Blank Spot. Hasil analisis untuk pengukuran sinyal access point yang dilingkari warna merah setiap lantai dapat dilihat pada lampiran A dan untuk pengukuran sinyal menggunakan PDA dapat dilihat pada lampiran B.
III.1.1.1 Partikel Penghambat
Adapun partikel-partikel pada indoor Politeknik Batam yang dapat mengganggu transmisi sinyal wireless adalah:
- Tembok biasa atau tembok berlapis keramik - Kaca
- Spoon - Keramik - Besi - Kayu - Manusia
Beberapa contoh nilai atenuasi pada konstruksi kantor umum dapat dilihat pada Tabel 5. Untuk diketahui nilai-nilai atenuasi merupakan tambahan untuk path loss.
Tabel 5 Nilai Atenuasi
Material Nilai Path Loss (sinyal yang hilang) / dB
Dinding Eternit 3dB
Kaca dinding dengan bingkai logam
6dB
Dinding Bata blok 4dB
Kantor jendela 3dB
Metal Pintu 6dB
Logam pintu di dinding bata 12.4dB
III.2 Pengukuran
Kekuatan sinyal wifi yang dipancarkan oleh access point dapat diukur seberapa luas coverage sinyal pada gedung. Untuk mengukur sinyal wifi, penulis memakai beberapa aplikasi untuk mendukung pengukuran tersebut. Aplikasi tersebut adalah Ekahau HeatMapper dan Wifi Analyzer, dimana untuk aplikasi Ekahau diinstal pada laptop lalu penulis berjalan mengelilingi ruangan sambil mengukur sinyal wifi pada masing-masing lantai gedung Politeknik Batam. Pada aplikasi tersebut otomatis akan menampilkan coverage (jangkauan) penerimaan sinyal wifi pada access point di masing-masing denah. Sedangkan untuk aplikasi Wifi Analyzer diinstal pada PDA, lalu penulis berjalan di setiap lantai dan melihat besaran sinyal yang ditampilkan pada aplikasi tersebut.
Metode yang digunakan pada tugas akhir ini adalah dengan mengukur sinyal pada skala 2:100 pada denah per lantai. Di setiap 2 meter dari lantai penulis akan mengukur sinyal yang diterima oleh access point menggunakan aplikasi di atas.
Setelah melakukan site survey lalu pemetaan dan mengukur wireless signal coverage (pada lampiran A), hasil nya dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Area Jangkauan Sinyal Wi-Fi per lantai Lantai Area mendapat Sinyal Wi-Fi yang tidak
baik
Area mendapat Sinyal Wi-Fi yang sangat baik 1 Sayap kiri, sayap kanan, area depan lantai Depan pintu masuk,
depan lift dan koridor 2 Sayap kiri, sayap kanan, area depan lantai Koridor, depan lift dan
kelas-kelas yang
4 Musholla, kelas-kelas yang berada diujung koridor
Depan mading, depan lift, koridor sekitar 6 meter dari access point 5 Musholla, kelas-kelas yang berada diujung
koridor
Depan mading, depan lift, koridor sekitar 6 meter dari access point 6 Musholla, kelas-kelas yang berada diujung
koridor
Depan mading, depan lift, koridor sekitar 6 meter dari access point 7 Musholla, kelas-kelas yang berada diujung
koridor
Depan mading, depan lift, koridor sekitar 4 meter dari access point 8 Musholla, kelas-kelas yang berada diujung
koridor
Depan mading, depan lift, koridor sekitar 4 meter dari access point
Kantin Arah pintu luar Tengah-tengah kantin
III.3 Teknik Pengumpulan Data
Dalam Tugas Akhir ini penulis menggunakan salah satu metode pengumpulan data yaitu dengan metode wawancara. Di dalam pelaksanaannya penulis melakukan wawancara dengan informan dengan menanyakan secara langsung guna mendapatkan informasi.
Jenis wawancara yang dilakukan adalah dengan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Untuk wawancara terstruktur yaitu wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya, sedangkan untuk wawancara tidak terstruktur yaitu peneliti mengajukan pertanyaan secara bebas sesuai informasi yang dibutuhkan. Sehingga informasi-informasi yang didapat diharapkan dapat memecahkan persoalan yang ada.
III.3.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang diperlukan pada Tugas Akhir ini dalam pemecahan masalah adalah dengan data primer, dimana data primer ini adalah data yang didapat langsung dari sumber datanya. Cara mendapatkannya pada penelitian ini adalah dengan wawancara. Data Primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini seperti data-data infrastruktur jaringan wireless di Politeknik Batam, perangkat-perangkat nirkabel yang digunakan, besar bandwidth yang diberikan dan pembagiannya, peletakan access point, keperluan mahasiswa/i Politeknik Batam dalam penggunaan jaringan wireless dan rata-rata jumlah mahasiswa/i yang menggunakan jaringan wireless setiap harinya.
Untuk mendapatkan data-data tersebut, penulis langsung mendatangi dan mewawancara pihak yang mengerti dan terlibat langsung dalam struktur jaringan nirkabel di Politeknik Batam. Penulis akan mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan yang sesuai kebutuhan untuk Tugas Akhir ini ke pihak yang akan diwawancara, sehingga dalam pengumpulan datanya diharapkan dapat menghasilkan informasi yang berguna melalui penelitian ini.
III.3.2 Analisis Data Secara Kualitatif
Data yang diperoleh dalam penelitian ini selanjutnya akan dianalisis secara kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah pendekatan yang temuan-temuan penelitiannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau perhitungan lainnya, prosedur ini menghasilkan temuan-temuan yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan beragam sarana (Asep, 2007). Sarana tersebut salah satunya adalah dengan teknik wawancara.
Dengan kata lain hasil penelitian yang dianalisis secara kualitatif adalah dalam bentuk kata-kata, bukan bentuk angka. Tujuan akhir dari analisis secara kualitatif adalah memperoleh makna, menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep serta mengembangkan hipotesis atau teori baru. Analisis data kualitatif adalah proses mencari serta menyusun secara sistematis dari data-data yang diperoleh melalui beragam sarana seperti teknik wawancara yang digunakan di penelitian ini, sehingga dapat menghasilkan informasi yang berguna bagi orang lain.
III.4 Hasil Analisis
Dalam bab ini, data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan akan dianalisis secara kualitatif. Dimana hasil-hasil jawaban wawancara di masing-masing pertanyaan akan dianalisis sehingga menghasilkan informasi dan pengertian-pengertian yang berguna. Dari hasil data wawancara tersebut akan dibagi menjadi beberapa subbab, sehingga dari masing-masing kategori subbab akan lebih mudah dimengerti.
Kategori pertama seperti Infrastruktur jaringan wireless Politeknik Batam yang mencakup tentang struktural jaringan wireless, termasuk perangkat-perangkat nirkabel yang digunakan dan peletakan access point di masing-masing lantai. Kategori yang lain yaitu Kebutuhan untuk Pengguna Wireless Politeknik Batam. Di kategori ini akan menjelaskan besar bandwidth yang diberikan pada wireless, pemantauan real time penggunaan bandwidth, situs-situs yang sering diakses dan pemakaian jam-jam jaringan wireless.
III.4.1 Infrastruktur Jaringan Wireless Politeknik Batam
Untuk infrastruktur jaringan wireless Politeknik Batam dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4 Infrastruktur Jaringan Wireless Politeknik Batam
Sumber data tersebut didapat dari wawancara dengan pihak terkait.
Untuk keterangan infrastruktur jaringan dari gambar 4 dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Perangkat Jaringan Nirkabel Politeknik Batam
Nama Jumlah Keterangan
Linksys WRT54GL 9
Switch (16 port) 1
Switch (16 port) 1