• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK Perancangan Titik Hotspot di Politeknik Batam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ABSTRAK Perancangan Titik Hotspot di Politeknik Batam"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Perancangan Titik Hotspot di Politeknik Batam

Hotspot merupakan wilayah terbatas yang menggunakan satu atau lebih access point. Media transmisi data pada access point menggunakan gelombang elektromagnetik yang kualitasnya sangat dipengaruhi oleh struktur bangunan. Untuk melakukan perancangan hotspot dibutuhkan site survey untuk meminimalisir gangguan sinyal yang kemungkinan terjadi akibat pemantulan, pemecahan, peredaman dan pembelokan sinyal yang diakibatkan oleh struktur bangunan tersebut.

Pada tugas akhir ini dibutuhkan langkah untuk merancang titik hotspot di Politeknik Batam.

Perhitungan dilakukan untuk mendapatkan titik-titik terbaik penempatan access point sehingga dapat menjangkau seluruh area hotspot.

Kata kunci: Hotspot, access point, sinyal

(2)

ABSTRACT

Hotspot Design in Batam Polytechnic

Hotspot is a restricted internet access area with one or more access points. Access point uses electromagnetic signal as transmission media which its quality is depend on the building structure. To design a hotspot, site survey is required to minimize signal interference that may occur due to signal reflection, resolution, attenuation, and deflection caused by the building structure.

This final project consist steps needed to design access point location in Politeknik Batam.

Calculation is performed to determine the optimum number of access points needed to cover all hotspot area.

Keywords: Hotspot, access point, signal

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan kasih karunia-Nya penyusun dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Perancangan Titik Hotspot di Politeknik Batam”. Tujuan dari perancangan ini adalah agar sinyal wireless dapat menjangkau seluruh area layanan hotspot di Politeknik Batam dengan menggunakan biaya yang seminimal mungkin.

Dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini, penulis juga banyak mendapat bantuan, dukungan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu kesempatan ini, penyusun mengucapkan terima kasih kepada:

1. Yang terhormat Bapak Prof. Dr. Ir Priyono Eko Sanyoto, selaku Direktur Politeknik Batam,

2. Yang terhormat Bapak Uuf Brajawidagda, MT, selaku koordinator Tugas Akhir dan pembimbing.

3. Yang terhormat Dosen-dosen Penguji atas saran-saran dan kritikannya dalam proses perkembangan TA ini.

4. Kepada Keluarga tercinta yang memberikan dukungan, semangat dan doa.

5. Kepada UKM PD-ELSHADDAI atas doa-doanya, kiranya Tuhan Memberkati.

6. Kepada BSI dan LKP atas peralatanya, untuk access point dan kabel rool.

7. Untuk Mas Ucha (Putra Akbar) dan adik kami Jey (Jenny Damaris), terima kasih untuk PDA, Ekahau Heatmapper dan Kalkulatornya.

Dalam penulisan ini, penyusun mengakui bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusunanya. Oleh sebab itu, penyusun sangat mengharapkan bantuan dari berbagai pihak berupa kritik dan saran guna penyempurnaan selanjutnya.

Batam, 24 Februari 2011

Penulis

(4)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

LEMBAR PERNYATAAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

DAFTAR ISI ...8

DAFTAR GAMBAR ...10

DAFTAR TABEL ...12

Bab I Pendahuluan ...14

I.1 Latar Belakang ...14

I.2 Rumusan Masalah ...15

I.3 Batasan Masalah ...16

I.4 Tujuan ...16

I.5 Sistematika Penulisan ...17

Bab II Tinjauan Pustaka ...18

II.1 Acuan Penelitian Sebelumnya ...18

II.2 Wi-Fi (Wireless Fidelity) ...19

II.3 Teknologi Access Point ...22

II.4 Faktor Teknis Pengaruh Sinyal Wi-Fi ...23

II.5 Penguatan Sinyal Wi-Fi ...24

II.6 WEP(Wired Equivalent Privacy) ...26

II.7 Aplikasi Pendukung ...27

Bab III Analisis dan Kondisi Saat Ini ...28

III.1 Kondisi Saat Ini ...29

III.1.1Pemetaan Indoor Gedung Politeknik Batam ...30

III.1.1.1 Partikel Penghambat ...30

III.2 Pengukuran ...31

(5)

III.3 Teknik Pengumpulan Data ...33

III.3.1Pengumpulan Data...33

III.3.2Analisis Data Secara Kualitatif ...34

III.4 Hasil Analisis ...34

III.4.1Infrastruktur Jaringan Wireless Politeknik Batam ...35

III.4.2Kebutuhan Untuk Pengguna Wireless ...36

III.5 Teknologi Access Point ...37

III.6 Pemetaan Outdoor Gedung Politeknik Batam ...38

Bab IV Perancangan ...39

IV.1 Desain Jaringan Wireless Indoor ...39

IV.1.1Perhitungan Penempatan Access Point Indoor Lantai 3–Lantai 8 Politeknik Batam dengan Blok-Blok ...40

IV.1.1.1 Perhitungan Penempatan Access Point ...42

IV.1.2Perhitungan Penempatan Access Point Indoor Lantai 2 Politeknik Batam 55 IV.1.3Perhitungan Penempatan Access Point Indoor Lantai 1 Politeknik Batam 59 Bab V Implementasi dan Analisis Hasil Implementasi ...62

V.1 Implementasi ...62

V.2 Hasil Implementasi ...65

Bab VI Kesimpulan dan Saran ...68

DAFTAR PUSTAKA ...69

Lampiran A Daftar Hasil Pengukuran Sinyal ...70

Lampiran B Daftar Hasil Pengukuran Sinyal Menggunakan PDA ...79

Lampiran C Daftar Hasil Pengujian ...81

Lampiran D Daftar Hasil Pengujian Menggunakan PDA ...98

Lampiran E Perincian Biaya Perangkat Wireless Hotspot ...101

Lampiran F Rancangan Titik Hotspot ...102

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Topologi Mode Ad-Hoc ...21

Gambar 2 Topologi Mode Infrastruktur ...21

Gambar 3 Jaringan Konvensional ...29

Gambar 4 Infrastruktur Jaringan Wireless Politeknik Batam...35

Gambar 5 Lynksys WRT45GL ...37

Gambar 6 Perhitungan Penempatan Access Point Lantai 3–Lantai 8 ...41

Gambar 7 Penempatan Access Point Lantai 3–Lantai 8 Yang terpilih ...47

Gambar 8 Perhitungan Penempatan Access Point Lantai 2 ...55

Gambar 9 Perhitungan Penempatan Access Point Lantai 1 ...59

Gambar 10 Coverage Sinyal Access Point Lt 1 ...70

Gambar 11 Coverage Sinyal Access Point Lt 2 ...71

Gambar 12 Coverage Sinyal Access Point Lt 3 ...72

Gambar 13 Coverage Sinyal Access Point Lt 4 ...73

Gambar 14 Coverage Sinyal Access Point Lt 5 ...74

Gambar 15 Coverage Sinyal Access Point Lt 6 ...75

Gambar 16 Coverage Sinyal Access Point Lt 7 ...76

Gambar 17 Coverage Sinyal Access Point Lt 8 ...77

Gambar 18 Coverage Sinyal Access Point Kantin Lantai 1...78

Gambar 19 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 10(a) ...81

Gambar 20 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 10(b) ...82

Gambar 21 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 10(c) ...82

Gambar 22 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 10(d) ...83

Gambar 23 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 10(e) ...83

Gambar 24 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 10(f) ...84

Gambar 25 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 10(g) ...84

Gambar 26 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 10(h) ...85

Gambar 27 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 10(i) ...85

Gambar 28 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 10(j) ...86

Gambar 29 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 09(a) ...86

(7)

Gambar 30 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 09(b) ...87

Gambar 31 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 09(c) ...87

Gambar 32 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 09(d) ...88

Gambar 33 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 09(e) ...88

Gambar 34 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 09(f) ...89

Gambar 35 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 09(g) ...89

Gambar 36 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 09(h) ...90

Gambar 37 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 09(i) ...90

Gambar 38 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 09(j) ...91

Gambar 39 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 01(a) ...91

Gambar 40 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 01(b) ...92

Gambar 41 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 01(c) ...92

Gambar 42 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 01(d) ...93

Gambar 43 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 02(a) ...93

Gambar 44 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 02(b) ...94

Gambar 45 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 02(c) ...94

Gambar 46 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 02(d) ...95

Gambar 47 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 03(a) ...95

Gambar 48 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 03(b) ...96

Gambar 49 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 03(c) ...96

Gambar 50 Coverage Sinyal dan Nilai Bar pada titik 03(d) ...97

Gambar 51 Rancangan Titik Hotspot Lantai3-Lantai8 ...102

Gambar 52 Rancangan Ttik Hotspot Lantai 2...103

Gambar 53 Rancangan Titik Hotspot Lantai 1 dan Area Outdoor ...104

Gambar 54 Infrastruktur Jaringan Wireless Politeknik Batam...106

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Spesifikasi Wi-fi ...19

Tabel 2 Tabel Kanal ...20

Tabel 3 Tabel Material ...20

Tabel 4 Tabel Alat-alat Memperkuat Sinyal Wireless ...25

Tabel 5 Nilai Atenuasi ...31

Tabel 6 Area Jangkauan Sinyal Wi-Fi per lantai ...32

Tabel 7 Perangkat Jaringan Nirkabel Politeknik Batam ...35

Tabel 8 Spesifikasi Lynksys WRT54GL ...37

Tabel 9 Penjelasan Dari Abjad...42

Tabel 10 Penjelasan Dari Hasil Perhitungan ...46

Tabel 11 Besar Nilai FSL Access Point pada Gambar 7 (Nilai dalam dB) ...50

Tabel 12 Signal Strength yang Diterima dari Access Point pada Gambar 7 (Nilai dalam dBm) ...50

Tabel 13 Besar Nilai FSL Access Point pada Gambar 7 (Nilai dalam dB) di lantai n+1 ...51

Tabel 14 Signal Strength yang Diterima dari Access Point pada Gambar 7 (Nilai dalam dBm) di lantai n+1 ...51

Tabel 15 Besar Nilai FSL Access Point pada Gambar 7 (Nilai dalam dB) di lantai n-1 ...52

Tabel 16 Signal Strength yang Diterima Oleh Access Point pada Gambar 7 (Nilai dalam dBm) di lantai n-1 ...52

Tabel 17 Kekuatan Sinyal dari Signal Strength Access Point pada Gambar 7 di Lantai n ...53

Tabel 18 Kekuatan Sinyal dari Signal Strength Access Point pada Gambar 7 di Lantai n+1 ...53

(9)

Tabel 19 Kekuatan Sinyal dari Signal Strength Access pada Gambar 7 di Lantai

n-1 ...54

Tabel 20 Penjelasan Dari Abjad...56

Tabel 21 Penjelasan Dari Hasil Perhitungan ...57

Tabel 22 Besar Nilai FSL Access Point pada Gambar 8 (Nilai dalam dB) ...57

Tabel 23 Signal strength yang Diterima Oleh Access Point pada Gambar 8 (Nilai dalam dBm) ...57

Tabel 24 Kekuatan Sinyal dari Signal Strength Access Point pada Gambar 8 ...58

Tabel 25 Penjelasan Dari Abjad...59

Tabel 26 Besar Nilai FSL Access Point pada Gambar 9 (Nilai dalam dB) ...60

Tabel 27 Signal strength yang Diterima Oleh Access Point pada Gambar 9 ...61

Tabel 28 Kekuatan Sinyal dari Signal Strength Access Point pada Gambar 9 ...61

Tabel 29 Kekuatan Sinyal dari Signal Strength Access Point di Lantai n ...65

Tabel 30 Kekuatan Sinyal dari Signal Strength Access Point di Lantai n+1 ...66

Tabel 31 Kekuatan Sinyal dari Signal Strength Access Point di Lantai n-1 ...67

Tabel 32 Hasil Pengukuran Sinyal lantai 3-8 menggunakan PDA ...79

Tabel 33 Hasil Pengukuran Sinyal lantai 1 menggunakan PDA ...80

Tabel 34 Hasil Pengukuran Sinyal lantai 2 menggunakan PDA ...80

Tabel 35 Hasil Pengukuran Sinyal Kantin menggunakan PDA ...80

Tabel 36 Hasil Pengukuran Sinyal lantai 8 menggunakan PDA ...99

Tabel 37 Hasil Pengukuran Sinyal lantai 2 menggunakan PDA ...99

Tabel 38 Hasil Pengukuran Sinyal lantai 1 menggunakan PDA ...100

Tabel 39 Hasil Pengukuran Sinyal area outdoor menggunakan PDA ...100

Tabel 40 Perincian Biaya dari Rancangan yang di Implementasikan ...101

Tabel 41 Perincian Biaya Jika Menggunakan Perangkat Tambahan ...101

Tabel 42 Tabel Keterangan Rancangan Titik Hotspot indoor dan Outdoor ...105

Tabel 43 Perangkat Rancangan Jaringan Nirkabel Politeknik Batam ...107

(10)

Bab I Pendahuluan

I.1 Latar Belakang

Komunikasi nirkabel telah menjadi kebutuhan dasar atau gaya hidup baru masyarakat informasi. Jaringan nirkabel menjadi teknologi alternatif dan relatif lebih mudah untuk diimplementasikan, sehingga membuat hotspot semakin berkembang di kota-kota besar.

Menurut Onno W Purbo (2005), hotspot adalah sebuah wilayah terbatas yang dilayani Access Point Wireless LAN standar 8012a / b / g, dimana pengguna dapat masuk ke dalam Access Point secara bebas dan mobile. Selain menawarkan kemudahan, teknologi komunikasi nirkabel seperti ini menghemat pengeluaran biaya untuk pembelian kabel UTP, serta meminimalisir kerusakan yang bersifat fisik. Pengguna hanya perlu membawa perangkat yang mendukung Wireless Network Adapter untuk melakukan koneksi internet.

Layanan hotspot sangat diperlukan di tempat yang membutuhkan akses internet setiap hari, seperti area publik, tempat bekerja, maupun gedung kampus seperti yang telah dilakukan oleh Politeknik Batam. Di Politeknik Batam, jaringan internet nirkabel dilakukan dengan menempatkan access point di setiap lantai gedung yang berjumlah delapan lantai, termasuk kantin sebagai area layanan hotspot.

Masalah yang timbul dalam penggunaan hotspot di Politeknik Batam adalah lemahnya sinyal yang diterima oleh pengguna sehingga mengakibatkan kesulitan mahasiswa dalam melakukan authentifikasi untuk melakukan koneksi. Beberapa ruang juga mengalami Blank Spot karena tidak dapat dijangkau oleh sinyal. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang dapat menggangu kinerja sinyal gelombang radio untuk transmisi data, seperti struktur bangunan gedung yang memiliki banyak sekat dengan tembok yang tebal, partikel penghambat transmisi sinyal yang ada hampir di semua gedung seperti kaca, keramik yang melapisi sebagian dinding gedung, dan partikel besi yang terdapat pada lift.

(11)

Faktor utama yang menjadi penyebab masalah implementasi jaringan WLAN (Wireless Local Area Network) adalah karena rancangan desain yang kurang baik. Pengetahuan tentang teknik site survey, mengatasi interferensi, rambatan serta perhitungan panjang gelombang, dan kanal di infrastruktur 802.11 sangat penting untuk melakukan desain sebuah jaringan WLAN.

Dari masalah di atas maka dapat disimpulkan perlunya perancangan titik hotspot dengan tujuan agar sinyal Wi-Fi (Wireless Fidelity) dapat menjangkau seluruh gedung Politeknik Batam. Untuk memecahkan masalah yang terjadi, serta meminimalisasi biaya dalam penggunaan alat-alat keperluan Jaringan Lokal Nirkabel (Wireless Local Area Network), dimana fasilitas yang diberikan oleh kampus Politeknik Batam dapat dimanfaatkan dengan baik dan memberi banyak fungsionalitas kepada mahasiswa.

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang diangkat dalam judul tugas akhir ini adalah bagaimana cara merancang titik hotspot dengan lebih baik, dengan rincian sebagai berikut:

1. Bagaimana merancang titik hotspot yang baik dengan analisis dan perhitungan yang tepat, sehingga tidak mengeluarkan banyak biaya seperti pembelian perangkat tambahan untuk memperkuat dan memperpanjang jangkauan sinyal, contohnya repeater.

2. Bagaimana mengatasi faktor-faktor penghambat transmisi sinyal

3. Bagaimana agar sinyal gelombang radio pada wireless dapat menjangkau semua area layanan hotspot.

(12)

I.3 Batasan Masalah

Pada tugas akhir ini, permasalahan dibatasi sebagai berikut:

1. Rancangan hotspot mengambil studi kasus layanan hotspot di Politeknik Batam.

2. Tidak membuat autentifikasi bagi pengguna dalam penggunaan jaringan nirkabel

3. Tahap perancangan hanya dilakukan pada hotspot dengan tidak melibatkan jaringan kabel LAN

4. Masalah yang diselesaikan hanya pada perancangan titik hotspot, tidak termasuk konfigurasi.

I.4 Tujuan

Tujuan dari perancangan ini agar semua pengguna yang berada di Politeknik Batam dapat menikmati jaringan Wireless baik di area gedung dan area luar gedung dengan biaya penggunaan alat-alat jaringan nirkabel dengan sekecil mungkin. Berikut adalah spesifikasi yang akan dicapai:

1. Analisis daerah indoor dan outdoor Politeknik Batam

2. Merancang titik hotspot di Politeknik Batam dengan menentukan titik penempatan access point berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan dan interferensi sinyal terhadap lingkungan

3. Melakukan pengujian, pengukuran sinyal dan mencatat parameter- parameter penting sebagai analisis penjangkauan sinyal Wireless

(13)

I.5 Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan laporan ini terdiri dari:

Bab I Pendahuluan

Berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan dan sistematika penulisan

Bab II Tinjauan Pustaka

Berisi definisi atau penjelasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan Wireless atau hotspot seperti pengertian Wi-Fi, teknologi access point, faktor- faktor penguat dan partikel penghambat dalam membangun hotspot dan juga berisi tentang acuan penelitian sebelumnya.

Bab III Analisis dan Kondisi Saat Ini

Bagian ini memuat tentang berbagai analisis rancangan hotspot yang ada pada Politeknik Batam untuk saat ini termasuk melakukan pemetaan terhadap jangkauan sinyal access point di masing-masing lantai gedung beserta melakukan analisis terhadap partikel-partikel penghambar transmisi sinyal wireless di Politkenik Batam.

Bab IV Perancangan

Bagian ini berisi desain perancangan jaringan wireless dengan menempatkan titik-titik access point pada denah beserta perhitungan-perhitungan sinyal dengan memperhatikan partikel-partikel penghambat yang ada, sehingga setelah perhitungan didapati perancangan hotspot yang baik dan dapat meng-cover seluruh area

Bab V Implementasi

Bagian ini berisi tentang implementasi sistem untuk melakukan desain sistem yang telah disetujui untuk menguji, memulai sistem baru atau memperbaiki sistem yang lama. Di tahap ini akan dijelaskan langkah-langkah dalam pembuatan jaringan hotspot berdasarkan rancangan yang disetujui.

Bab VI Kesimpulan dan Saran

Berisi tentang kesimpulan dan saran dalam pembuatan tugas akhir.

(14)

Bab II Tinjauan Pustaka

II.1 Acuan Penelitian Sebelumnya

Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan topik perancangan titik hotspot dan dijadikan sebagai bahan masukan untuk pelaksanaan rancangan dapat diuraikan sebagai berikut:

Ono W. Purbo (2005), Wi-Fi pada dasarnya adalah istilah generik untuk peralatan Wireless LAN atau dikenal sebagai WAN. Sedangkan Hotspot adalah sebuah wilayah terbatas yang dilayani Access Point Wireless LAN standar 8012a / b / g. Dimana pengguna / user dapat masuk ke dalam Access Point secara bebas dan mobile menggunakan perangkat sejenis notebook, laptop, PDA, dan sejenisnya.

Menurut Akbar Kadarusman (2008), pembangunan Wireless LAN didukung beberapa access point yang bertujuan memberikan fasilitas mengakses internet nirkabel. Mengakses tanpa harus ada penempatan khusus atau pemasangan jaringan apabila ada permintaan penambahan user. Dengan adanya teknologi wireless ini kita dapat mengakses selama user telah menggunakan teknologi Wi-Fi ini

Menurut Janner Simarmata (2006), mengatakan acess point pada dasarnya adalah padanan wireless dari LAN hub. Suatu access point biasanya dihubungkan dengan wired backbone melalui kabel Ethernet standar, dan berkomunikasi dengan perangkat wireless dengan menggunakan antenna. Area cakupan dari access point menentukan batas dari LAN dan omni-directional dengan access point pusatnya, yang membentuk sel(cell). Ukuran sel tergantung pada kekuatan yang disebarkan oleh sinyal radio dan jenis serta konstruksi dinding, dan karakteristik fisik lingkunganya

Putu Surya Gs (2008), mengungkapkan pada umumnya sistem komunikasi bergerak beroperasi di daerah perkotaan yang cenderung bersifat NLOS, terdapat banyak penghalang antara pengirim dan

(15)

penerima seperti gedung-gedung dan pepohonan, sehingga permodelan perambatan gelombang radio akan semakin rumit. Demikian pula untuk sistem komunikasi di dalam ruangan, bahkan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi karena memiliki variable yang lebih banyak, seperti : adanya sekat antar ruang, pengaruh tubuh manusia, kondisi ruangan, jumlah jendela dan pintu yang terbuka dan lain-lain. Secara umum, mekanisme perambatan gelombang radio ketika menemui penghalang dibedakan menjadi tiga yaitu pemantulan (reflection), pembelokan (diffraction) dan penghamburan (scattering).

Andrew S. Tanenbaum (2007), membahas Wireless LAN adalah sistem dimana setiap komputer mempunyai sebuah modem radio dan antenna yang dapat berkomunikasi dengan sistem lainnya.

II.2 Wi-Fi (Wireless Fidelity)

Wi-Fi yaitu sekumpulan standar yang digunakan untuk Jaringan Lokal Nirkabel (Wireless Local Area Networks - WLAN) yang didasari pada spesifikasi IEEE 802.11. Dimana IEEE (Institute of Electrical and Electronic Engineers) berdasarkan standar teknis bernomor 802.11b, 802.11a, 802.16 dan sekarang mempunyai empat variasi dengan spesifikasi yang berbeda. Spesifikasi Wifi dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Spesifikasi Wi-fi

Spesifikasi Kecepatan Frekuensi Bandwith

802.11b 11Mb/s 2.4Ghz

802.11a 54Mb/s 2.4Ghz

802.11g 54Mb/s 2.4Ghz

802.11n 100Mb/s 5 Ghz

Untuk versi wifi yang paling luas dalam penggunaan saat ini berdasarkan IEEE 802.11b/g beroprasi pada 2.400 Mhz sampai 2.483,50 Mhz. Karena itu

(16)

dapat mengijinkan operasi dalam 14 kanal dengan dengan masing-masing 5 Mhz.

Tabel kanal dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Tabel Kanal

Kanal Frekuensi(Mhz) Kanal Frekuensi(Mhz)

1 2.412 8 2.447

2 2.417 9 2.452

3 2.422 10 2.457

4 2.427 11 2.462

5 2.432 12 2.467

6 2.437 13 2.472

7 2.442 14 2.477

Perlu diketahui kanal merupakan sebuah bagian pada pita atau band frekuensi radio. Kanal untuk pemasangan access point adalah 1,6 dan 11. Pada perangkat standar wifi IEEE 802.11b/g beroprasi pada 2.400 Mhz sampai 2.483,50 Mhz. Karena itu dapat mengijinkan operasi dalam 14 kanal dengan dengan masing-masing 5 Mhz pada saat ini.

Wireless bekerja dengan menggunakan sinyal radio. Oleh karena itu, kondisi suatu tempat atau ruangan sangat mempengaruhi terhadap baik buruknya sinyal yang diterima oleh perangkat Wireless / nirkabel. Material penghambat sinyal Wireless dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Tabel Material

Nama Bahan Hambatan Contoh

Kayu Kecil Ruangan dengan partisi kayu

atau triplek

Bahan-bahan sintesis Kecil Partisi dengan bahan plastic

Asbes Kecil Langit-langit

Air Sedang Akuarium

Tembok Bata Sedang Dinding

Keramik Tinggi Lantai keramik, tembok yang

(17)

Nama Bahan Hambatan Contoh dilapisi keramik

Bahan-bahan yang

memantul

Sangat tinggi Cermin

Plat Besi Sangat tinggi Filling cabinet, meja, lift

Dalam perancangan daerah akses internet dengan Wireless dikenal juga sebuah istilah Topologi jaringan. Topologi jaringan komputer merupakan hal yang penting dalam perancangan jaringan hotspot. Topologi jaringan dapat mempengaruhi performa jaringan dan jika dirancang dengan benar maka topologi jaringan akan dapat memudahkan akses jaringan nirkabel di seluruh area.

Topologi jaringan Wireless dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2.

Gambar 1 Topologi Mode Ad-Hoc

Gambar 2 Topologi Mode Infrastruktur

(18)

Wifi menggunakan dua mode akses koneksi, yaitu mode Ad-Hoc dan Infrastruktur, mode koneksi Ad-Hoc adalah mode dimana beberapa komputer terhubung secara langsung, atau lebih dikenal dengan istilah Peer-to-Peer.

Kemudian adalah mode Infrastruktur yaitu mode yang menggunakan acess point sebagaipengatur lalu lintas data, sehingga memungkinkan Client dapat saling terhubung melalui jaringan. Terdapat beberapa jenis sistem keamanan jaringan wifi, antara lain:

1. WPA Pre-Shared Key 2. WPA Radius

3. WPA Pre-Shared Key Mixed 4. WPA2 Radius Mixed

5. RADIUS 6. WEP

II.3 Teknologi Access Point

Digunakan untuk melakukan pengaturan lalulintas jaringan dari mobile radio ke jaringan kabel atau dari backbone jaringan wireless client/server.

Access Point biasanya berbentuk kotak dengan satu atau dua antena kecil.

Peralatan ini merupakan radio based, berupa receiver dan transmitter yang akan terkoneksi dengan LAN kabel atau broadband Ethernet. Setiap hotspot mempunyai batas jangkauan daerah yang mampu dilayani oleh access point diatur oleh EIRP,

EIRP adalah total energi yang di keluarkan oleh sebuah access point dan antenna.

Saat sebuah access point mengirim energinya ke antena untuk di pancarkan, sebuah kabel mungkin ada diantaranya.

Beberapa pengurangan besar energi tersebut akan terjadi di dalam kabel.

Untuk mengimbangi hal tersebut, sebuah antena menambahkan power / Gain, dengan demikian power bertambah. Jumlah penambahan power tersebut tergantung tipe antena yang digunakan. FCC dan ETSI mengatur besar power yang bisa dipancarkan oleh antena. EIRP inilah yang digunakan untuk

(19)

memperkirakan area layanan access point. Rumus untuk menentukan area layanan hotspot dengan Persamaan 11.

(Persamaan 1)

Dalam pembuatan wilayah jaringan Wireless sangat diperlukan pemilihan teknologi Access Point yang digunakan. Gedung seperti Politeknik Batam, hanya untuk indoor diperlukan Access Point yang khusus untuk dalam ruangan, dan daerah seperti area publik diperlukan Access Point untuk di luar gedung.

II.4 Faktor Teknis Pengaruh Sinyal Wi-Fi

Adapun beberapa faktor-faktor teknisnya sebagai berikut :

1. Kualitas Teknologi Access Point yang dapat mentransmisi sinyal Wi-Fi 2. Jarak / Jangkauan Sinyal Wireless yang ditangkap dengan

memperhatikan sejauh mana jarak perangkat nirkabel dengan Access Point untuk menangkap sinyal Wireless.

3. Absorption (Penyerapan/ Peredaman Sinyal) dimana terdapat benda- benda yang menganggu transmisi Wireless dengan menyerap sinyal seperti tembok, tubuh manusia, karpet.

4. Pemantulan Sinyal Wireless oleh kaca, dimana efek dari pemantulan sinyal Wi-Fi adalah terjadinya Multipath yang artinya sinyal datang dari dua arah yang berbeda, sehingga dapat menyebabkan sinyal yang = 0, artinya saling membatalkan, istilahnya disebut Out of Phase Signal.

5. Refraction / Pembelokan sinyal disaat sinyal melewati sesuatu yang beda massanya seperti sinyal yang melewati segelas air.

1 References:http://www.scribd.com/doc/36862526/13-1-IndraHencanAgung-Analisis-Sistem-hal- 1-16

EIRP = Power Output Transmitter (AP) - Cable loss + Antenna Gain

(20)

II.5 Penguatan Sinyal Wi-Fi

Untuk menentukan pengaruh dari kekuatan sinyal wireless, ada beberapa hal dan metoda yang dapat digunakan yaitu :

1. Fresnel Zone, adalah metode dapat menentukan posisi ketinggian antena dengan Jarak yang dapat di tembus oleh sinyal Wireless

2. RSSI / Received Signal Strenght Indicator. Metode RSSI ini menggunakan nilai yang spesifik untuk tiap vendor. Oleh karena itu penilaian vendor A belum tentu sama dengan vendor B. RSSI biasa diukur dalam besaran dBm. Salah satu alat untuk menentukan RSSI adalah software Network Stumbler.

3. SNR / Signal to Noise Ratio. Metode SNR adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seberapa kuat sinyal dibandingkan dengan gangguan di sekeliling yang menggangu sinyal. Bila sinyal lebih kuat daripada gangguan / Noise maka sinyal dapat di tangkap oleh receiver lebih baik, dan sebaliknya demikian. Bila Noise sekitar terlalu besar, maka yang akan di tangkap oleh receiver adalah sinyal yang samar-samar dan transmisi data tidak dimengerti.

Link Budget, yaitu nilai yang menghitung semua gain dan loss antara pengirim dan penerima, termasuk atenuasi, penguatan / gain antena, dan loss lainnya yang dapat terjadi. Link Budget dapat berguna untuk menentukan berapa banyak power yang dibutuhkan untuk mengirimkan sinyal agar dapat di mengerti oleh penerima sinyal. Rumus untuk menghitung Link Budget dapat dilihat pada Persamaan 22.

(Persamaan 2)

2 References : http://en.wikipedia.org/wiki/Link_budget

Received Power (dBm) = Transmitted Power (dBm) + Gains (dB) - Losses (dB)

(21)

Selain metode-metode yang di atas juga Access Point yang digunakan untuk mentransmisi sinyal Wireless, terdapat juga dalam perangkat nirkabel yang mendukung untuk memperkuat sinyal Wireless. Beberapa contoh alat-alat untuk memperkuat sinyal Wireless dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Tabel Alat-alat Memperkuat Sinyal Wireless

Gambar Nama Keterangan Harga

Wifi Omni-Indoor Antenna 8dBl TP-Link TL-ANT240BCL

Perangkat TP-Link ini berfungsi

untuk memperkuat dan

memperluas jangkauan sinyal radio Wi-Fi pada perangkat Wi-Fi (adapter, Access Point atau Router) pada indoor(dalam ruangan)

Rp. 75.000

Wifi Omni-Outdoor Antenna TP-Link TL- ANT2415D

Fungsi sama seperti di atas, namun antena ini untuk eksternal (luar ruangan), dengan keluaran sinyal 8dBl dengan frekuensi 2.4 Ghz

Rp.

330.000

Aluminium Foll Adhesive Tape

Digunakan untuk melapisi kotak luar Access Point yang diharapkan tidak adanya kebocoran

Rp. 75.000

WLAN Access Point (AP) External Box Outdoor

Alat ini digunakan untuk melindungi perangkat Access Point (AP) radio wifi dari pengaruh buruk cuaca diluar ruangan misal panas matahari dan air hujan. Kotak yang terbuat dari bahan plastik keras ini dirancang

Rp. 60.000

(22)

Gambar Nama Keterangan Harga untuk ditempatkan 1 unit AP

didalamnya dan digunakan untuk menyambung AP tersebut ke antena outdoor yang diletakkan di atas menara/tower. Sehingga diharapkan perangkat wifi di dalamnya akan terlindungi dan meminimalisir kerusakan yang ditimbulkan oleh pengaruh buruk kondisi cuaca ekstrim diluar ruangan.

Wi-Fi Yagi-Outdoor Grid Antenna TP-Link TL-ANT2424B

Berfungsi untuk memperkuat sinyal radio Wi-Fi sehingga jangkauannya bisa lebih jauh pada perangkat Wi-Fi pada eskternal

Rp.

289.000

Wi-Fi Yagi-Indoor Antenna TP-Link TL- ANT2406B

Berfungsi untuk memperkuat sinyal radio Wi-Fi sehingga jangkauannya bisa lebih jauh pada perangkat Wi-Fi pada indoor

Rp.

139.000

II.6 WEP(Wired Equivalent Privacy)

WEP merupakan suatu algoritma enkripsi yang digunakan oleh shared key pada proses autentikasi untuk memeriksa user dan untuk meng-enkripsi data yang dilewatkan pada segment jaringan wireless pada LAN. WEP digunakan pada standar IEEE 802.11. WEP juga merupakan algoritma sederhana yang menggunakan pseudo-random number generator (PRNG) dan RC4 stream cipher.

RC4 stream cipher digunakan untuk decrypt dan encrypt

(23)

WEP merupakan sistem keamanan yang lemah. Namun WEP dipilih karena telah memenuhi standar dari 802.11 yakni

- Exportable - Reasonably strong - Self-Synchronizing - Computationally Efficient - Optional

WEP dimaksudkan untuk tujuan keamanan yakni kerahasiaan data, mengatur hak akses dan integritas data. Selain WEP terdapat standar lain yakni standar 802.1x yakni EAP atau VPN.

II.7 Aplikasi Pendukung

Untuk mendukung penelitian ini, penulis menggunakan sebuah aplikasi free yaitu Ekahau HeatMapper. Ekahau HeatMapper adalah sebuah aplikasi untuk pembuatan coverage berdarkan warna yang menggambarkan seberapa kuat dari transmisi sinyal wireless di atas denah yang di import atau denah kosong.

Aplikasi ini juga dapat memberikan nilai kuat signal strenght (kekuatan sinyal).

Selain itu kemampuan yang membedakan Ekahau Heatmapper dengan aplikasi Site Survey lainya seperti Netstumbler adalah ESS, dimana satu-satunya alat dengan teknologi Survey Hybrid yang mudah dan berjalan dengan cepat. ESS ini dapat membuat tes pasif dan aktif. Dengan kata lain, ESS secara simultan melakukan pengukuran secara otomatis dan memetakannya menggunakan konektivitas end-to-end. Hal Ini memungkinkan kita untuk mengukur sinyal hanya dari satu tempat saja tanpa kemana-mana sehingga mempersingkat waktu selama survei, memetakan kekuatan sinyal wifi berdasarkan warna kode, data rate, packet loss, roaming, tumpang tindih dan berbagai karakteristik lainnya yang tersedia.

Heatmapper juga memberikan informasi access point secara real-time.

Aplikasi lain yang mendukung penelitian ini adalah Wifi Analyzer, dimana aplikasi ini juga untuk menghitung kuat sinyal wireless (dB). Aplikasi tersebut diinstal pada PDA.

(24)

Bab III Analisis dan Kondisi Saat Ini

Pada bab ini berisi penjelasan langkah-langkah Site Survey tentang kondisi gedung Politeknik Batam pada saat ini, meliputi pemetaan denah gedung serta partikel-partikel penghambat transmisi sinyal dan struktur jaringan wireless yang dimiliki oleh Politeknik Batam. Ada 4 langkah yang dilakukan untuk dapat menganalisa dan memetakan kondisi dari gedung Politeknik Batam.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menganalisis dan mengetahui konfigurasi jaringan Wi-Fi di Politeknik Batam dan melakukan pemetaan struktur gedung. Dimana pemetaan ini berguna untuk mengetahui sekat pada setiap lantai dan peralatan elektronik, yang bertujuan untuk menghitung redaman sinyal yang terjadi.

Langkah kedua melakukan pengukuran sinyal. Hal ini dimaksudkan untuk menganalisa kekuatan gelombang radio yang ditransmisikan oleh access point sebagai perbandingan kekuatan gelombang yang dipancarkan dan diterima oleh client. Setelah melakukan pengukuran dapat dilihat apakah sinyal dapat dengan baik atau tidak diterima oleh pengguna pada area layanan titik hotspot pada gedung tersebut. Apabila sinyal yang diterima tidak maksimal, maka langkah selanjutnya yaitu menganalisis bahan dan material yang berpotensi tinggi meredam kekuatan sinyal pada gedung tersebut.

Langkah ketiga melakukan pengumpulan data dengan metode wawancara.

Di dalam pelaksanaannya, penulis melakukan wawancara dengan informan dengan menanyakan secara langsung guna mendapatkan informasi yang diperlukan seputar infrastruktur jaringan wireless di Politeknik Batam, perangkat- perangkat nirkabel yang digunakan, besar bandwidth yang diberikan dan pembagiannya, peletakan access point, keperluan mahasiswa/i Politeknik Batam dalam penggunaan jaringan wireless dan rata-rata jumlah mahasiswa/i yang menggunakan jaringan wireless setiap harinya.

(25)

Langkah terakhir yaitu analisis teknologi access point untuk mengetahui spesifikasi perangkat wireless yang digunakan serta kelebihan dan kekurangan perangkat tersebut. Dengan menganalisa teknologi access point yang dipakai kita dapat mengetahui teknologi access point seperti apa yang dibutuhkan dalam jaringan hotspot di Politeknik Batam.

III.1 Kondisi Saat Ini

Pada sistem jaringan Wi-fi di Politeknik Batam menggunakan konfigurasi jaringan Wi-fi konvensional, yaitu menggunakan sebuah server komputer sebagai pusat pengaturan aliran data, kemudian dihubungkan pada sebuah router, dapat berupa komputer biasa atau router switch, dari router tersebut dihubungkan kepada sebuah hub/switch yang dibagi-bagi kepada area layanan hotspot menggunakan kabel kedalam access point yang telah diletakkan pada setiap area layanan hotspot, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3

Gambar 3 Jaringan Konvensional

(26)

III.1.1 Pemetaan Indoor Gedung Politeknik Batam

Pada gedung Politeknik Batam terdapat sembilan penempatan titik access point sebagai area layanan hotspot. Pengukuran menggunakan laptop dengan memakai aplikasi Ekahau Heatmapper. Untuk membaca hasil pengukuran, kita dapat melihat pada daerah yang diberi kode warna seperti hijau, kuning dan abu-abu sebagai gambaran kekuatan sinyal yang diterima.

Area hijau menandakan bahwa sinyal itu masih diterima dengan bagus, untuk warna kuning sinyal diterima kurang bagus, sedangkan untuk warna abu-abu berarti area tersebut Blank Spot. Hasil analisis untuk pengukuran sinyal access point yang dilingkari warna merah setiap lantai dapat dilihat pada lampiran A dan untuk pengukuran sinyal menggunakan PDA dapat dilihat pada lampiran B.

III.1.1.1 Partikel Penghambat

Adapun partikel-partikel pada indoor Politeknik Batam yang dapat mengganggu transmisi sinyal wireless adalah:

- Tembok biasa atau tembok berlapis keramik - Kaca

- Spoon - Keramik - Besi - Kayu - Manusia

Beberapa contoh nilai atenuasi pada konstruksi kantor umum dapat dilihat pada Tabel 5. Untuk diketahui nilai-nilai atenuasi merupakan tambahan untuk path loss.

(27)

Tabel 5 Nilai Atenuasi

Material Nilai Path Loss (sinyal yang hilang) / dB

Dinding Eternit 3dB

Kaca dinding dengan bingkai logam

6dB

Dinding Bata blok 4dB

Kantor jendela 3dB

Metal Pintu 6dB

Logam pintu di dinding bata 12.4dB

III.2 Pengukuran

Kekuatan sinyal wifi yang dipancarkan oleh access point dapat diukur seberapa luas coverage sinyal pada gedung. Untuk mengukur sinyal wifi, penulis memakai beberapa aplikasi untuk mendukung pengukuran tersebut. Aplikasi tersebut adalah Ekahau HeatMapper dan Wifi Analyzer, dimana untuk aplikasi Ekahau diinstal pada laptop lalu penulis berjalan mengelilingi ruangan sambil mengukur sinyal wifi pada masing-masing lantai gedung Politeknik Batam. Pada aplikasi tersebut otomatis akan menampilkan coverage (jangkauan) penerimaan sinyal wifi pada access point di masing-masing denah. Sedangkan untuk aplikasi Wifi Analyzer diinstal pada PDA, lalu penulis berjalan di setiap lantai dan melihat besaran sinyal yang ditampilkan pada aplikasi tersebut.

Metode yang digunakan pada tugas akhir ini adalah dengan mengukur sinyal pada skala 2:100 pada denah per lantai. Di setiap 2 meter dari lantai penulis akan mengukur sinyal yang diterima oleh access point menggunakan aplikasi di atas.

Setelah melakukan site survey lalu pemetaan dan mengukur wireless signal coverage (pada lampiran A), hasil nya dapat dilihat pada Tabel 6.

(28)

Tabel 6 Area Jangkauan Sinyal Wi-Fi per lantai Lantai Area mendapat Sinyal Wi-Fi yang tidak

baik

Area mendapat Sinyal Wi-Fi yang sangat baik 1 Sayap kiri, sayap kanan, area depan lantai Depan pintu masuk,

depan lift dan koridor 2 Sayap kiri, sayap kanan, area depan lantai Koridor, depan lift dan

kelas-kelas yang berdekatan dengan access point

3 Sayap kiri, sayap kanan, area depan lantai, taman, musholla

Depan madding, depan lift

4 Musholla, kelas-kelas yang berada diujung koridor

Depan mading, depan lift, koridor sekitar 6 meter dari access point 5 Musholla, kelas-kelas yang berada diujung

koridor

Depan mading, depan lift, koridor sekitar 6 meter dari access point 6 Musholla, kelas-kelas yang berada diujung

koridor

Depan mading, depan lift, koridor sekitar 6 meter dari access point 7 Musholla, kelas-kelas yang berada diujung

koridor

Depan mading, depan lift, koridor sekitar 4 meter dari access point 8 Musholla, kelas-kelas yang berada diujung

koridor

Depan mading, depan lift, koridor sekitar 4 meter dari access point

Kantin Arah pintu luar Tengah-tengah kantin

(29)

III.3 Teknik Pengumpulan Data

Dalam Tugas Akhir ini penulis menggunakan salah satu metode pengumpulan data yaitu dengan metode wawancara. Di dalam pelaksanaannya penulis melakukan wawancara dengan informan dengan menanyakan secara langsung guna mendapatkan informasi.

Jenis wawancara yang dilakukan adalah dengan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Untuk wawancara terstruktur yaitu wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya, sedangkan untuk wawancara tidak terstruktur yaitu peneliti mengajukan pertanyaan secara bebas sesuai informasi yang dibutuhkan. Sehingga informasi-informasi yang didapat diharapkan dapat memecahkan persoalan yang ada.

III.3.1 Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang diperlukan pada Tugas Akhir ini dalam pemecahan masalah adalah dengan data primer, dimana data primer ini adalah data yang didapat langsung dari sumber datanya. Cara mendapatkannya pada penelitian ini adalah dengan wawancara. Data Primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini seperti data-data infrastruktur jaringan wireless di Politeknik Batam, perangkat-perangkat nirkabel yang digunakan, besar bandwidth yang diberikan dan pembagiannya, peletakan access point, keperluan mahasiswa/i Politeknik Batam dalam penggunaan jaringan wireless dan rata-rata jumlah mahasiswa/i yang menggunakan jaringan wireless setiap harinya.

Untuk mendapatkan data-data tersebut, penulis langsung mendatangi dan mewawancara pihak yang mengerti dan terlibat langsung dalam struktur jaringan nirkabel di Politeknik Batam. Penulis akan mengajukan beberapa pertanyaan- pertanyaan yang sesuai kebutuhan untuk Tugas Akhir ini ke pihak yang akan diwawancara, sehingga dalam pengumpulan datanya diharapkan dapat menghasilkan informasi yang berguna melalui penelitian ini.

(30)

III.3.2 Analisis Data Secara Kualitatif

Data yang diperoleh dalam penelitian ini selanjutnya akan dianalisis secara kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah pendekatan yang temuan-temuan penelitiannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau perhitungan lainnya, prosedur ini menghasilkan temuan-temuan yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan beragam sarana (Asep, 2007). Sarana tersebut salah satunya adalah dengan teknik wawancara.

Dengan kata lain hasil penelitian yang dianalisis secara kualitatif adalah dalam bentuk kata-kata, bukan bentuk angka. Tujuan akhir dari analisis secara kualitatif adalah memperoleh makna, menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep serta mengembangkan hipotesis atau teori baru. Analisis data kualitatif adalah proses mencari serta menyusun secara sistematis dari data-data yang diperoleh melalui beragam sarana seperti teknik wawancara yang digunakan di penelitian ini, sehingga dapat menghasilkan informasi yang berguna bagi orang lain.

III.4 Hasil Analisis

Dalam bab ini, data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan akan dianalisis secara kualitatif. Dimana hasil-hasil jawaban wawancara di masing-masing pertanyaan akan dianalisis sehingga menghasilkan informasi dan pengertian-pengertian yang berguna. Dari hasil data wawancara tersebut akan dibagi menjadi beberapa subbab, sehingga dari masing-masing kategori subbab akan lebih mudah dimengerti.

Kategori pertama seperti Infrastruktur jaringan wireless Politeknik Batam yang mencakup tentang struktural jaringan wireless, termasuk perangkat- perangkat nirkabel yang digunakan dan peletakan access point di masing-masing lantai. Kategori yang lain yaitu Kebutuhan untuk Pengguna Wireless Politeknik Batam. Di kategori ini akan menjelaskan besar bandwidth yang diberikan pada wireless, pemantauan real time penggunaan bandwidth, situs-situs yang sering diakses dan pemakaian jam-jam jaringan wireless.

(31)

III.4.1 Infrastruktur Jaringan Wireless Politeknik Batam

Untuk infrastruktur jaringan wireless Politeknik Batam dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Infrastruktur Jaringan Wireless Politeknik Batam

Sumber data tersebut didapat dari wawancara dengan pihak terkait.

Untuk keterangan infrastruktur jaringan dari gambar 4 dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Perangkat Jaringan Nirkabel Politeknik Batam

Nama Jumlah Keterangan

Linksys WRT54GL 9

Switch (16 port) 1

Komputer (sebagai router)

3

Starcom Sumber internet wireless

(32)

Pada infrastruktur jaringan wireless Politeknik Batam terdapat 9 Access Point di Kantin, lantai 1 – lantai 8. Komputer (sebagai router) yang mempunyai sumber internet dari Starcom terhubung ke switch 16 port , lalu port-port tersebut terhubung ke 9 access point. Peletakan access point untuk kantin berada di plafon di tengah-tengah kantin, lalu untuk lantai 1, access point terletak di depan musholla dan lantai 2 – lantai 8, access point terletak di atas madding di atas plafon. Jaringan nirkabel di Politeknik Batam tidak memakai repeater sebagai penguat sinyal wireless.

III.4.2 Kebutuhan Untuk Pengguna Wireless

Untuk jaringan wireless Politeknik Batam, sumber internetnya berasal dari Starcom yang diberikan untuk jaringan wireless memiliki bandwidth 256 kbps. Bandwidth 256 kbps tersebut sepenuhnya diberikan bagi pengguna wireless untuk browsing dan download. Pembagian bandwidth belum dilakukan pada konfigurasi jaringan wireless di Politeknik Batam, karena untuk sekarang hanya terbatas pada pemantauan terhadap penggunaan bandwidth oleh pengguna.

Aplikasi yang digunakan pada jaringan nirkabel Politeknik Batam untuk memantau penggunaan bandwidth secara real time adalah Iftop.

Dari hasil wawancara situs-situs yang sering diakses oleh pengguna wireless Politeknik Batam yaitu: http://learning.polibatam.ac.id, http://akademik.polibatam.ac.id dan situs-situs luar lainnya. Penggunaan waktu untuk pengguna wireless biasanya ketika jam istirahat, jam kosong, ketika pulang kuliah. Untuk penggunaan lokasi yang paling sering digunakan oleh pengguna wireless adalah di kantin dan lantai 1.

(33)

III.5 Teknologi Access Point

Teknologi access point yang digunakan pada jaringan Wi-Fi di Politeknik Batam adalah Lynksys WRT45GL, merupakan access point dengan menggunakan stadar Wi-Fi IEEE 802.11g yang dapat dilihat padaa Gambar 5 di bawah ini

Gambar 5 Lynksys WRT45GL

Spesifikasi Lynksys WRT54GL dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Spesifikasi Lynksys WRT54GL

Jenis Keterangan

Manufacturer Lynksys

Manufacturer Part WRT54GL

Device Type Wireless Router with Integrated 4 Port Switch Enclosure Type Stand Alone

Connectifity Wireless – 802.11g Data Transfer Rate Up to 54 Mbps Remote Management Web-Based

Status Indicators Power, DMZ, WLAN, LAN (1, 2, 3, 4/DMZ), Internet Features Auto-MDI/MDI-X Cable Detection, 128-bit WEP

Encryption, DHCP, DDNS, Static and Dynamic Routing (RIP1 and 2), VPN Pass-Through (IPSec and PPTP).

DMZ Hosting, Stateful Packet Inspaction (SPI) Firewall, Internet Policy, Packet Filtering, WPA, MAC Filtering,

(34)

Jenis Keterangan Built-in 4 Port Switch

Power Supply External, 12V DC, 0.5A RF Power Output 18 dBm

Frequency Band 2.4 GHz

Keunggulan 802.11g adalah kompabilitasnya dengan 802.11b sehingga perangkat 802.11g bisa dipakai dilingkungan standar 802.11b selain itu mendukung 3 non overlaping pada kanal (1,6,11), metode transmisi yang digunakan adalah OFDM, untuk Range Area perangkat wi-fi jenis 802.11g mempunyai jangkauan 150 feet/45 meter untuk indoor. Adapun kekurangan dari 802.11g adalah karena menggunakan metode transmisi OFDM sehingga lebih resistan terhadap interferensi dari gelombang yang lainnya.

III.6 Pemetaan Outdoor Gedung Politeknik Batam

Untuk bagian outdoor Politeknik Batam meliputi jalan masuk dan jalan keluar kendaraan, taman dan lapangan parkir. Pada tempat-tempat outdoor ini belum adanya fasilitas hotspot yang dapat dinikmati. Oleh karena itu pada Tugas Akhir ini penulis juga melakukan perancangan titik hotspot untuk daerah outdoor Politeknik Batam.

Pada perancangan untuk daerah outdoor ini juga memperhitungkan partikel- partikel penghambat transmisi sinyal wireless dan teknologi access point yang dipakai, agar dalam penempatan titik hotspot dapat menjangkau area-area outdoor Politeknik Batam. Dalam perancangannnya juga dilakukan pengukuran dan pengujian jangkauan sinyal wireless menggunakan laptop dan PDA.

(35)

Bab IV Perancangan

Pada bab ini berisi tentang perancangan titik hotspot di Politeknik Batam, dimana pada bab ini akan menjelaskan penentuan titik hotspot itu sendiri dengan menganalisis berbagai hambatan-hambatan yang dapat menganggu transmisinya sinyal wireless, mengukur sinyal yang dipancarkan oleh access point dan sinyal yang diterima oleh perangkat nirkabel, serta menjelaskan pemilihan penempatan access point pada suatu titik tertentu. Pada perancangan titik hotspot ini dilakukan pada daerah indoor dan outdoor Politeknik Batam.

Setelah dilakukan perancangan seperti di atas, langkah selanjutnya adalah tahap implementasi. Di tahap implementasi penulis akan melakukan pengujian dari semua rancangan titik hotspot yang telah dilakukan berdasarkan analisis- analisis dari perancangan tersebut.

IV.1 Desain Jaringan Wireless Indoor

Jaringan nirkabel bekerja menggunakan gelombang radio. Oleh karena itu kondisi suatu ruangan sangat menentukan seberapa baik atau tidaknya penerimaan sinyal wireless. Salah satu kegagalan dari implementasi jaringan wireless adalah karena kegagalan desain. Dibutuhkan pengetahuan tentang site survey terhadap kondisi ruangan yang akan dibangun jaringan nirkabel yang sudah dilakukan pada bab sebelumnya, pengetahuan tentang cara mengatasi berbagai interferensi yang dapat menganggu sinyal wireless dan juga pemilihan access point untuk hotspot.

Untuk mendesain jaringan wireless indoor ini dilakukan juga langkah perhitungan penempatan access point pada ruangan. Langkah-langkah perhitungan penempatan access point tersebut adalah dengan memperhatikan denah ruangan yang akan di survey, lalu denah tersebut dilengkapi dengan partikel-partikel hambatan yang dapat menganggu transmisi sinyal wireless, setelah itu dilakukan perhitungan penempatan access point pada tempat-tempat di denah yang telah di survey tadi. Sehingga hasil akhir dari perhitungan penempatan access point

(36)

tersebut akan diketahui titik penempatan yang tepat dengan memperhatikan partikel-partikel penghambat sinyal wireless tersebut.

Untuk mengetahui berapa sinyal yang loss setelah melewati berbagai partikel penghambat digunakan dengan perhitungan Link Budget. Link Budget adalah proses perhitungan awal dalam mendesain suatu kebutuhan sistem komunikasi. Melalui perhitungan Link Budget kita dapat mengetahui besar daya maksimum pancaran sinyal yang keluar dari transmitter (access point), besar sinyal yang loss dan besar sinyal yang diterima oleh perangkat nirkabel (laptop, PDA). Beberapa tahap perhitungan Link Budget secara umum adalah sebagai berikut:

1. Menghitung EIRP (Effective Isotropic Radiated Power) dari sisi transmitter

2. Menghitung nilai Free Space Loss / Path Loss.

3. Menghitung Signal Strength / sinyal yang diterima oleh perangkat nirkabel.

IV.1.1 Perhitungan Penempatan Access Point Indoor Lantai 3–Lantai 8 Politeknik Batam dengan Blok-Blok

Di bab ini akan merancang penempatan access point di denah-denah yang terdapat pada indoor Politeknik Batam. Perhitungan penempatan access point tersebut dilakukan dengan menempatkan icon access point pada gambar denah beserta alasan penempatan access point tersebut. Dimana masing-masing access point tersebut ditempatkan pada blok-blok di denah. Dalam perhitungan penempatannya, akan diberi penjelasan dengan memperhatikan jangkauan sinyal yang akan diterima oleh perangkat nirkabel dan juga memperhatikan partikel- partikel penghambat di area penempatan access point yang dapat meredam sinyal wireless tersebut.

Setelah melakukan analisis pada bab 3, dapat diketahui area-area mana saja yang masih mendapat sinyal Wi-Fi yang tidak baik (dapat dilihat pada tabel 2 di bab 3). Untuk perhitungan penempatan access point untuk lantai 3–lantai 8

(37)

dapat dilihat pada Gambar 6. Struktur area lantai 3–lantai 8 adalah sama, sehingga diambil sample gambaran denah yang mencakup struktur area lantai 3–lantai 8.

Gambar 6 Perhitungan Penempatan Access Point Lantai 3–Lantai 8

Pada gambar di atas terdapat 14 perhitungan penempatan titik yang ditandai dengan icon access point. Icon access point nomor 1 terletak di plafon tepat di atas mading, untuk nomor 2 terletak di sayap kanan di atas jendela samping toilet, lalu untuk nomor 3 penempatan terletak di sayap kiri di atas jendela samping musholla dan icon access point nomor 4 terletak di atas jendela depan mading dekat lift. Untuk letak access point nomor 5–14 dapat dilihat pada denah. Pada gambar juga terdapat partikel-partikel penghambat pada area lantai gedung seperti: manusia, tembok, tembok berlapis keramik, kaca, baja/besi, kayu dan plafon spoon. Partikel-partikel tersebut yang juga mempengaruhi pancaran transmisi sinyal wireless. Untuk penjelasan dari masing-masing abjad pada gambar dapat dilihat pada Tabel 9.

(38)

Tabel 9 Penjelasan Dari Abjad

Abjad Keterangan

a, j, b, g, i Kelas-kelas

C Koridor sayap kanan

D Koridor depan madding

E Koridor sayap kiri

F Musholla

H Depan lift

Penjelasan dari masing-masing perhitungan penempatan access point akan dijelaskan pada masing-masing sub bab berikut.

IV.1.1.1 Perhitungan Penempatan Access Point

Penempatan untuk nomor 1 tersebut adalah penempatan untuk titik rancangan hotspot Politeknik Batam saat ini. Menurut penulis penempatan access point tersebut sudah bagus, karena terletak di tengah-tengah gedung. Access point tersebut memiliki antenna internal yang bersifat omni (lurus vertikal) yang artinya memiliki pancaran atau radiasi 360 derajat dan memiliki gain antenna sebesar 3 dBi. Sehingga area yang ter-cover berbentuk lingkaran dan bagian di luar lingkaran akan mendapat sinyal yang kurang baik.

Untuk TX Power Output terdapat pada spesifikasi Lynksys WRT54GL yaitu 18 dBm (lihat bab 3, III.5), sedangkan untuk jangkauan dari access point ini adalah 150 feet / 45 meter. Perlu diketahui luas area untuk lantai 3-lantai 8 gedung Politeknik Batam kurang lebih sebesar 48 x 22.4 m, lalu untuk lantai 1 dan 2 kurang lebih sebesar 150 x 55 m, sedangkan untuk kantin kurang lebih sebesar 10 x 10 m.

Pada denah dapat dilihat berbagai partikel-partikel penghambat pada area perhitungan penempatan access point nomor 1 seperti lantai, keramik, tembok, kaca dan manusia. Jalur jalan pada denah seperti huruf T, sehingga pancaran

(39)

sinyal wireless yang paling baik berada di area h (lihat tabel 1), dikarenakan untuk area depan access point adalah LOS (Line of Sight), yaitu sinyal antara pengirim dan penerima tembus pandang secara langsung tanpa ada rintangan dan untuk daerah NLOS (Non Line of Sight), sinyal yang sampai pada penerima telah mengalami pemantulan, pemencaran dan pembiasan. Pada denah dapat diketahui daerah NLOS seperti area c, a, g, e dan f, karena banyak partikel penghambat yang akan mengakibatkan sinyal itu loss. Setelah diukur sinyal nya didapatkan SS (Signal Strength / Sinyal yang diterima) rata-rata -80.0 dBm - -30.0 dBm.

Untuk lebih mengetahui berapa sinyal wireless yang loss setelah melewati berbagai partikel penghambat dapat diketahui melalui perhitungan Link Budget.

Besar Link Budget untuk perhitungan penempatan masing-masing access point sesuai penomoran adalah sebagai berikut:

Keterangan:

- EIRP1 = Jumlah EIRP untuk access point di nomor 1 - Tx Power = 18 dBm

- Gain Antenna = 3 dBi - loss tembok = 8 - loss manusia = 5.2 - loss baja / besi = 26 - loss kaca = 2.2

Perhitungan:

- EIRP1 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss manusia)

= 18 + 3 – (8 + 5.2 )

= 21 – 13.2

= 7.8 dBm

- EIRP2 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss manusia)

= 18 + 3 – (8 + 5.2 )

(40)

= 21 – 13.2

= 7.8 dBm

- EIRP3 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss manusia)

= 18 + 3 – (8 + 5.2 )

= 21 – 13.2

= 7.8 dBm

- EIRP4 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss baja / besi)

= 18 + 3 – (8 + 26 )

= 21 – 34

= -13 dBm

- EIRP5 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss manusia (kurang lebih 30) + loss kaca))

= 18 + 3 – (8 + 156 + 2.2)

= 21 – 166.2

= -145.2 dBm

- EIRP6 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss manusia (kurang lebih 30) + loss kaca))

= 18 + 3 – (8 + 156 + 2.2)

= 21 – 166.2

= -145.2 dBm

- EIRP7 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss manusia (kurang lebih 30) + loss kaca))

(41)

= 18 + 3 – (8 + 156 + 2.2)

= 21 – 166.2

= -145.2 dBm

- EIRP8 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss manusia (kurang lebih 30) + loss kaca))

= 18 + 3 – (8 + 156 + 2.2)

= 21 – 166.2

= -145.2 dBm

- EIRP9 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss kaca + loss manusia))

= 18 + 3 – (8 + 2.2 + 5.2)

= 21 – 15.4

= 5.6 dBm

- EIRP10 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss kaca + loss manusia))

= 18 + 3 – (8 + 2.2 + 5.2)

= 21 – 15.4

= 5.6 dBm

- EIRP11 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss manusia (kurang lebih 30) + loss kaca))

= 18 + 3 – (8 + 156 + 2.2)

= 21 – 166.2

= -145.2 dBm

- EIRP12 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss manusia (kurang lebih 30) + loss kaca))

(42)

= 18 + 3 – (8 + 156 + 2.2)

= 21 – 166.2

= -145.2 dBm

- EIRP13 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss manusia (kurang lebih 30) + loss kaca + loss baja/besi)

= 18 + 3 – (8 + 156 + 2.2 + 26)

= 21 – 192.2

= -171.2 dBm

- EIRP14 = Tx Power(dBm) + Gain Antenna(dBi) – Total Loss(dB)

= 18 + 3 – ( loss tembok + loss manusia (kurang lebih 30) + loss kaca))

= 18 + 3 – (8 + 156 + 2.2)

= 21 – 166.2

= -145.2 dBm

Untuk lebih mengetahui dimana letak perbandingan di masing-masing penempatan access point yang sudah dihitung dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Penjelasan Dari Hasil Perhitungan No Nomor

Access Point

EIRP Jumlah

(dBm)

Keterangan tempat AP

1 1, 2, 3 EIRP1, EIRP2, EIRP3

7.8 Atas mading, sayap kanan dan sayap kiri

2 4 EIRP4 -13 Samping lift

3 5, 6 ,7, 8, 11, 12, 14

EIRP5, EIRP6, EIRP7, EIRP8, EIRP11, EIRP12,

EIRP14

-145.2 Kelas-kelas

(43)

No Nomor Access Point

EIRP Jumlah

(dBm)

Keterangan tempat AP

4 9, 10 EIRP9, EIRP10 5.6 Koridor kiri dan koridor kanan

5 13 EIRP13 -171.2 Kelas samping lift

Dari hasil perhitungan di atas, untuk nilai EIRP yang negatif (-) tidak terpilih untuk menjadi penempatan titik access point yang baik dikarenakan sudah pasti sinyal tidak ada. Oleh karena itu penempatan access point yang terpilih adalah nomor 1, 2, 3, 9 dan 10. Sehingga penempatan access point yang terpilih dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Penempatan Access Point Lantai 3–Lantai 8 Yang terpilih

Untuk mengetahui berapa besar sinyal access point yang diterima oleh perangkat nirkabel (laptop, PDA) untuk koneksinya. Besar sinyal ini disebut RSSI

(44)

(RX Signal Level / Receive Signal Strenght Indication). Rumus untuk RSSI dapat dilihat pada Persamaan 33.

(Persamaan 3) Untuk rumus FSL (Free Space Loss), rumus ini digunakan untuk memperkirakan sinyal bila pada lintasa LOS antara transmitter (access point) dan receiver (laptop, PDA) tidak terdapat penghalang. Rumus FSL dapat dilihat pada Persamaan 44.

(Persamaan 4) Setelah mengetahui rumus-rumus di atas, penulis akan menghitung berapa sinyal yang diterima oleh perangkat nirkabel dapat dilihat pada perhitungan berikut. Perlu diperhatikan rumus yang dihitung dari nilai EIRP yang terpilih, yaitu: EIRP1 (access point nomor 1), EIRP2, EIRP3, EIRP9, EIRP10. Perhitungan disajikan pada Tabel 11, Tabel 12, Tabel 13, Tabel 14, Tabel 15, Tabel 16 dan untuk nilai bar nya dapat dilihat pada Tabel 17, Tabel 18, Tabel 19.

Asumsi peletakan access point adalah di lantai 7, setelah itu dilakukan perhitungan sinyal pada masing-masing abjad (lihat Tabel 9). Perhitungan sinyal juga dilakukan pada lantai 6 dan lantai 8, dimana access point berada di lantai 7,

3 References:http://www.scribd.com/doc/36862526/13-1-IndraHencanAgung-Analisis-Sistem-hal- 1-16

4 References:http://www.scribd.com/doc/36862526/13-1-IndraHencanAgung-Analisis-Sistem-hal- 1-16

RX Signal Level = EIRP – FSL + RX Antenna Gain – Material Loss

FSL (dB) = 20 log 10 (Frekuensi) + 20 log 10 (jarak) + 36.6

(45)

tetapi untuk lantai 6 dan lantai 8 titik access point yang diambil adalah titik no 09 dan titik no 10

Keterangan :

- Frekuensi = 2400 MHz

- Jarak = kurang lebih sesuai jarak pada abjad dengan AP, jarak dalam miles

Contoh: jarak access point nomor 1 dengan daerah b kurang lebih 16 meter

- 1 floor loss = 12.9 dB - Signal Strength indication:

4 bars = greater or equal to -60 dbm 3 bars = between -75 and -60 dbm 2 bars = between -90 and -75 dbm 1 bar = between -105 and -90 dbm no bar = below -105 dbm

Referensi

Dokumen terkait

Mattinek emanaldiaren eguna baino lehen hots-egin eta bere asmoen berri eman zien: mikrofono estereo baten bidez giro soinu guztia grabatuko zuen kontzertuak irauten zuen

Karakteristik pelatih gaya otoriter pada umumnya lebih banyak menggunakan gaya otoriter dalam pembinaan atletnya, sifatnya “perintah”, dan menuntut agar perintah perintahnya

(1) Pedagang yang tidak mentaati ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam surat ijin penempatan sebagaimana tersebut pasal 5 ayat (4) Peraturan daerah ini dan atau pedagang yang

Dari gambar simulasi fluksi yang dilakukan memperlihatkan bahwa neural network observer dapat mengestimasi fluksi direct dan fluksi quadratur dengan nilai kesalahan

Hasil asuhan kebidanan pada Ny.”R” masa hamil, bersalin, nifas, neonatus, dan keluarga berencana di wilayah kerja Puskesmas Puri keadaan yang fisiologis pada masa

Laporan tahunan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan kerjasama untuk bahan monitoring ,evaluasi,dalam penyusunan program kerja lembaga oleh Pimpinan Lembaga

membuat laporan hasil percobaan tentu tidak seketika dikuasai peserta didik, tetapi membutuhkan proses panjang, dimulai dari penulisan draf, perbaikan draf,

[r]