Berisikan kesimpulan dan saran sehubungan dengan adanya kemungkinan pengembangan sistem dan desain pada masa yang akan datang.
STIKOM
5
BAB II
GAMBARAN UMUM DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA SURABAYA
2.1 Uraian Tentang Perusahaan
Dinas Komunikasi dan Informatika adalah Dinas yang mempunyai tugas melaksanakan kewenangan daerah di bidang pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi serta melaksanakan tugas pembantuan yang diberikan oleh pemerintah dan pemerintah provinsi dimana dalam setiap kegiatannya selalu berhubungan dengan pembangunan dan pengembangan system informasi, pengembangan dan pemeliharaan jaringan komputer antar bidang, pengelolaan produksi informasi dan publikasi, pengelolaan dan pengembangan komunikasi publik, yang mana pada setiap kegiatan-kegiatan tersebut terbagi menjadi 3 bidang serta 1 Sekretariat dan dikepalai oleh kepala bidang dari setiap bidangnya.
Sebagai lembaga pemerintahan yang mempunyai tanggung jawab besar dan bergerak di dalam lingkungan Pemerintah Kota Surabaya, maka DINKOMINFO mempunyai tugas pokok dan fungsi yang besar dalam membangun Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ) di Kota Surabaya. Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surabaya saat ini berkedudukan dan menempati kantor dengan alamat Jl. Jimerto No. 25 – 27 lantai V Kantor Pemkot Surabaya, telephone Telp. (031) 5312144 Pesawat 384; 527; 278; 175; 164; 232; 275;292 dan Fax. ( 031 ) 5450154.
Dalam melaksanakan Tugas Pokok dan Fungsinya, Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surabaya didukung oleh 52 (Lima Puluh Dua) PNS. Untuk
STIKOM
6
mencapai efisiensi dan efektifitas kinerja, dilakukan pembagian tugas bagi Pejabat Eselon, sesuai dengan Peraturan Walikota Surabaya No. 42 Tahun 2011.
Berikut data jumlah Pegawai Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surabaya berdasarkan eselonisasi ditunjukkan pada gambar 2.1 dan Tingkat Pendidikan sebagaimana gambar 2.2 berikut:
(dinkominfo.surabaya.go.id)
Gambar 2.1 Gambar grafik PNS Dinkominfo berdasarkan eselon
(dinkominfo.surabaya.go.id)
Gambar 2.2 Gamnbar grafik PNS Dinkominfo berdasarkan tingkat pendidikan
STIKOM
7
Sedangkan bila ditinjau dari aspek sarana dan prasarana untuk mendukung Kinerja Pengelolaan dan Pelayanan Kegiatan Komunikasi dan Informatika, bahwa sebagaimana kondisi yang ada, fasilitas yang dimiliki Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surabaya sebagaimana ditunjukkan tabel 2.1 berikut :
FASILITAS UTAMA DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KOTA SURABAYA
(dinkominfo.surabaya.go.id) Tabel 2.1 Tabel Fasilitas/Sarana
STIKOM
8
2.2 Sejarah Dinkominfo
Pada awalnya Badan Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (BAPETIKOM) berdiri pada bulan November 2005. Karena ada Peraturan baru dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, maka di laksanakan langkah– langkah penyelarasan dan penataan kembali organisasi perangkat daerah yang ada sebagai upaya penguatan peraturan, akuntanbilitas kinerja kelembagaan Perangkat Daerah. Bahwa untuk mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat melalui langkah-langkah sebagai mana dimaksud diatas, telah di bentuk Organisasi Perangkat Daerah sesuai karakteristik, kebutuhan danpotensi, kemampuan keuangan Daerah serta ketersediaan sumber daya aparatur Peraturan Daerah nomor 8 tahun 2008 pada tanggal 15 Desember 2008.
Dalam Peraturan Daerah tersebut, Badan Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi ditetapkan dan berubah menjadi Dinas Komunikasi dan Informatika. Secara umum DINKOMINFO membawahi 51 PNS yang terbagi dalam 4 bidang yaitu :
1. Sekretariat
2. Bidang Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi (SKDI) 3. Bidang Aplikasi dan Telematika (APTEL)
4. Bidang Posdan Telekomunikasi (POSTEL)
Sedangkan DINKOMINFO sendiri adalah Dinas yang mempunyai tugas melaksanakan kewenangan daerah di bidang pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi serta melaksanakan tugas pembantuan yang diberikan oleh Pemerintah danatau Pemerintah Provinsi dimana dalam setiap kegiatannya selalu
STIKOM
9
berhubungan dengan Pembangunan dan Pengembangan Sistem Informasi, Pengembangan dan Pemeliharaan Jaringan Komputer Antar Bidang, Pengelolaan Produksi Informasi dan Publikasi, Pengelolaan dan Pengembangan Komunikasi Publik, yang mana pada setiap kegiatan-kegiatan tersebut terbagi menjadi 3 bidang yang dibawahi oleh kepala bidang dari setiap bidangnya. Sebagai Lembaga pemerintahan yang mempunyai tanggung jawab besar dan bergerak di dalam lingkungan Pemerintah Kota Surabaya maka tidak menutup kemungkinan DINKOMINFO mempunyai tugas pokok dan fungsi yang besar dalam membangun Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Kota Surabaya.
2.3Visi dan Misi
Adapun visi dan misi dari Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya ini adalah sebagai berikut:
2.3.1 Visi
Visi Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya adalah :
“TERCIPTANYA SISTEM INFORMASI PEMERINTAH KOTA YANG TERPADU MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI & KOMUNIKASI”. Pernyataan visi diatas mempunyai penjelasan bahwa terwujudnya Kota Surabaya sebagai pusat perdagangan dan jasa dalam merespon semua peluang dan tuntutan global, didukung oleh penyelenggaraan komunikasi dan informatika yang efektif dan efisien.
STIKOM
10
2.3.2 Misi
Misi Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya adalah :
1. Meningkatkan kapasitas pelayanan informasi dan pemberdayaan potensi masyarakat dalam rangka mewujudkan masyarakat berbudaya informasi. 2. Meningkatkan kerjasama kemitraan & pemberdayaan lembaga
komunikasi & informatika pemerintah & masyarakat.
3. Meningkatkan daya jangkau infrastruktur komunikasi & informatika untuk memperluas aksesbilitas masyarakat terhadap informasi dalam rangka mengurangi kesenjangan informasi.
4. Meningkatkan sumber daya manusia di bidang komunikasi & informatika menuju profesionalisme
STIKOM
11
2.4 Struktur Organisasi
Adapun struktur organisasi dari Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya tersebut ditunjukkan pada gambar 2.3:
(dinkominfo.surabaya.go.id) Gambar 2.3 Struktur Organisasi
STIKOM
12
2.5Tanggung Jawab dan Wewenang Bidang Pos dan Telekomunikasi
Bidang Pos dan Telekomunikasi mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas Komunikasi dan Informatika di bidang pos dan telekomunikasi.
Rincian tugas Bidang Pos dan Telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 123, sebagai berikut:
1. Pemrosesan teknis perizinan/rekomendasi sesuai Bidangnya. 2. Penertiban jasa titipan untuk kantor agen.
3. Pengawasan/pengendalian terhadap penyelenggaraan telekomunikasi yang cakupan areanya kota, pelaksanaan pembangunan telekomunikasi dan penyelenggaraan warung telekomunikasi, warung seluler atau sejenisnya. 4. Penanggungjawab panggilan darurat telekomunikasi.
5. Pengendalian dan penertiban terhadap pelanggaran standarisasi pos dan telekomunikasi.
6. Pelaksanaan fasilitasi pelaksanaan koordinasi penyelenggaraan pos dan telekomunikasi serta penggunaan frekuensi radio di daerah perbatasan dengan negara tetangga.
(1) Seksi Pos dan Standarisasi mempunyai fungsi :
1. Menyiapkan bahan penyusunan rencana program dan petunjuk teknis di bidang pos dan standarisasi.
STIKOM
13
2. Menyiapkan bahan pelaksanaan rencana program dan petunjuk teknis di bidang pos dan standarisasi.
3. Menyiapkan bahan koordinasi dan kerjasama dengan lembaga dan instansi lain di bidang pos dan standarisasi.
4. Menyiapkan bahan pengawasan dan pengendalian di bidang pos dan standarisasi.
5. Menyiapkan bahan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas.
6. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pos dan Telekomunikasi sesuai dengan tugas dan fungsinya.
(2) Seksi Spektrum Frekuensi, Telekomunikasi dan Standarisasi Postel mempunyai fungsi:
1. Menyiapkan bahan penyusunan rencana program dan petunjuk teknis di bidang spektrum frekuensi telekomunikasi dan standarisasi postel.
2. Menyiapkan bahan pelaksanaan rencana program dan petunjuk teknis di bidang spektrum frekuensi telekomunikasi dan standarisasi postel.
3. Menyiapkan bahan koordinasi dan kerjasama dengan lembaga dan instansi lain di bidang spektrum frekuensi telekomunikasi dan standarisasi postel. 4. Menyiapkan bahan pengawasan dan pengendalian di bidang spektrum
frekuensi telekomunikasi dan standarisasi postel.
5. Menyiapkan bahan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas.
6. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pos dan Telekomunikasi sesuai dengan tugas dan fungsinya.
STIKOM
14 BAB III LANDASAN TEORI
3.1 Telekomunikasi
3.1.1 Pengertian Telekomunikasi
Telekomunikasi adalah teknik pengiriman atau penyampaian informasi dari suatu tempat ke tempat lain (http://www.satriakurnia.com/telecomunication.php). Dalam kaitannya dengan ‘telekomunikasi’ bentuk komunikasi jarak jauh dapat dibedakan atas tiga macam :
1. Komunikasi Satu Arah (Simplex). Dalam komunikasi satu arah pengirim dan penerima informasi tidak dapat menjalin komunikasi yang berkesinambungan melalui media yang sama. Contoh : Pager, televise, dan radio.
2. Komunikasi Dua Arah (Duplex). Dalam komunikasi dua arah pengirim dan penerima informasi dapat menjalin komunikasi yang berkesinambungan melalui media yang sama. Contoh : telepon dan VOIP. 3. Komunikasi Semi Dua Arah (Half Duplex). Dalam komunikasi semi dua
arah, pengirim dan penerima informasi berkomunikasi secara bergantian namun tetap berkesinambungan. Contoh : Walkie Talkie dan FAX.
Perangkat telekomunikasi bertugas menghubungkan pemakainya dengan pemakai lain. Kedua pemakai ini bisa berjarak dekat dan bisa berjarak jauh. Kalau menilik arti harfiah dari telekomunikasi (tele = jauh, komunikasi = hubungan dengan pertukaran informasi) memang teknik telekomunikasi dikembangkan manusia untuk menembus
STIKOM
15
perbedaan jarak yang jauhnya bisa tak terbatas menjadi perbedaan waktu yang sekecil mungkin.
Perbedaan jarak yang jauh dapat ditempuh dengan waktu yang sekecil mungkin dengan cara merubah semua bentuk informasi yang ingin disampaikan oleh pengirim kepada penerima menjadi bentuk gelombang elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik dapat bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, yakni diruang hampa adalah seratus ribu KM per detik.
Jaringan telekomunikasi adalah segenap perangkat telekomunikasi yang dapat menghubungkan pengguna dengan pengguna lain, sehingga kedua penggua tersebut dapat saling bertukar informasi (dengan cara bicara, menulis, menggambar, atau mengetik) pada saat itu juga.
3.2 Macro Cell
Macro Cell adalah sel pada jaringan telepon mobile yang menghasilkan/memancarkan sinyal radio yang terhubung oleh selular base station bertenaga tinggi (http://stakeholders.ofcom.org.uk/sitefinder/glossary/jargon/). Umumnya, Macro Cell menghasilkan sinyal yang jauh lebih luas daripada Micro Cell. Antenna yang terdapat pada Macro Cell menempel dengan tiang besar yang tertancap ditanah, rooftop, dan struktur bangunan lainnya. Dengan ketinggian yang dapat dengan mudah menyebar ke seluruh bangunan dan medan. Macro Cell memiliki output puluhan watt.
STIKOM
16
3.3 Pengertian BTS (Base Transceiver Station) Macro Cell
BTS (Base Transceiver Station) berfungsi menjembatani perangkat komunikasi
pengguna dengan jaringan menuju jaringan lain
(http://www.idt.com/application/wireless-infrastructure/wireless-base-station-bts). Satu cakupan pancaran BTS dapat disebut Cell. Komunikasi seluler adalah komunikasi modern yang mendukung mobilitas yang tinggi. Dari beberapa BTS kemudian dikontrol oleh satu Base Station Controller (BSC) yang terhubungkan dengan koneksi microwave ataupun serat optik.
Meskipun istilah BTS dapat diterapkan ke salah satu standar komunikasi nirkabel, biasanya dan yang umumnya terkait dengan teknologi komunikasi mobile seperti GSM yang beroperasi di frekuensi 900 MHz dan CDMA yang beroperasi di frekuensi 800 MHz/1900 MHz.
3.3.1 Jenis Tower BTS Macro Cell
Tower BTS adalah menara yang terbuat dari rangkaian besi atau pipa, baik segi empat, segi tiga, atau hanya berupa pipa panjang, yang bertujuan untuk menempatkan antenna dan radio pemancar maupun penerima gelombang telekomunikasi dan informasi. Tower BTS Macro Cell sebagai sarana komunikasi dan informatika, berbeda dengan Tower SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) Listrik PLN dalam hal konstruksi. Tower BTS Macro Cell komunikasi dan informatika memiliki derajat keamanan tinggi terhadap manusia dan makhluk hidup di bawahnya, karena memiliki radiasi yang sangat kecil. Sehingga aman bagi masyarakat dibawah maupun disekitarnya.
STIKOM
17
Tower Macro Cell juga dibedakan berdasarkan jenis lokasinya, ada 2 jenis (dinkominfo.surabaya.go.id) yaitu:
1. Rooftop : Tower yang berdiri di atas sebuah gedung.
(http://steelintheair.com/different-types-of-cell-tower-leases-explained.html) Gambar 3.1 Tower pada rooftop sebuah gedung.
2. Greenfield : Tower yang berdiri langsung di atas tanah)
(http://www.indiamart.com/rohan-infotech/tower.html Gambar 3.2 Tower di atas tanah
STIKOM
18
Sedangkan jika diklasifikasi berdasarkan bentuk, tower dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Tower dengan 4 kaki (Rectangular)
Tower 4 kaki sangat jarang roboh, karena memiliki kekuatan tiang pancang serta sudah dipertimbangkan konstruksinya. Tower ini mampu menampung banyak antenna dan radio pemancar. Tipe tower ini banyak dipakai oleh perusahaan – perusahaan bisnis komunikasi yang bonafid.
(http://mer-telecom.com/telecom_towers) Gambar 3.3 Tower 4 kaki
STIKOM
19 2. Tower dengan 3 kaki (Triangle)
Tower 3 kaki dibagia 2 macam: Pertama, tower tiga kaki besi pipa berdiameter 9 cm keatas. Tower ini juga mampu menampung banyak antenna dan radio. Kedua, tower tiga kaki besi pipa berdiameter 2 cm ke atas. Beberapa kejadian robohnya tower jenis ini karena memakai besi dibawah 2 cm. Ketinggian maksimal tower jenis ini yang direkomendasikan adalah 60 meter. Ketinggian rata – ratanya dalah 40 meter.
(wwwen.zte.com.cn/en/products/power/infrastructure/tower/201102/t20110216_ 352292.html)
Gambar 3.4 Tower 3 kaki
3. Tower dengan 1 kaki (Pole)
Tower satu kaki dibagi 2 macam. Pertama tower yang terbuat dari pipa atau plat baja tanpa spanner, diameter antara 40 – 50 cm, tinggi mencapai 42 meter, yang dikenal sebagai monopole. Tower kedua lebih cenderung untuk dipakai secara personal. Tinggi tower pipa ini sangat disarankan
STIKOM
20
tidak melebihi 20 meter (jika lebih dari itu, tower akan melengkung). Teknis penguatannya dengan spanner. Kekuatan pipa sangat bertumpu pada spanner. Tower ini bias dibangun pada areal yang dekat dengan pusat transmisi/NOC = Network Operation Systems (maksimal 2 km), dan tidak memiliki angina kencang, serta benar – benar diproyeksikan dalam rangka emergency biaya.
(http://www.indiamart.com/laasmapower/high-mast-lighting-system.html) Gambar 3.5 Tower berbentuk pipa.
STIKOM
21 3.4 Micro Cell
Micro Cell adalah sel pada jaringan telepon mobile yang terhubung dengan selular base station bertenaga rendah, menghasilkan sinyal yang lebih kecil daripada macro cell (http://stakeholders.ofcom.org.uk/sitefinder/glossary/jargon/). Micro cell biasanya digunakan di daerah dengan kepadatan pengguna yang tinggi, seperti mall, areal kantor, dll. Agar suatu daerah yang memiliki populasi pengguna yang padat dapat dilayani dengan baik, maka daerah tersebut tidak dapat hanya dilayani dengan macro cell yang hanya mengandalkan coverage luas saja. Tapi harus dibagi – bagi menjadi beberapa daerah coverage yang lebih kecil yang disebut micro cell. Dengan pembagian ini, maka kapasitas kanal dapat ditingkatkan. Sehingga daerah padat pengguna tersebut dapat dilayani dengan baik. Keuntungan lain micro cell adalah daya transmisinya tidak terlalu besar, karena wilayah coverage-nya juga tidak terlalu jauh. Maksimal hanya dapat memancarkan sinyal sejauh radius 500 meter.
(http://misnt.indstate.edu/harper/UMTS.html)
Gambar 3.6 Coverage dari masing-masing jenis teknologinya.
STIKOM
22 3.4.1 Spesifikasi Micro Cell
• Memiliki tinggi antara 18 – 20 meter
• Jarak antara micro cell yang satu dengan yang lainnya maksimum 1 kilo meter
• Lebih diutamakan meletakkannya pada daerah padat penduduk • Maksimal 3 provider pada satu micro cell
3.5 Kelebihan dan kekurangan Macro Cell Kelebihan:
1. Jangkauan sinyal luas
2. Cepat dalam pelebaran wilayah coverage jika ingin ditambah 3. Penerapan lebih efekti pada daerah tidak padat penduduk Kekurangan:
1. Memakan banyak tempat 2. Resiko rubuh
3. Membutuhkan daya besar
3.6 Kelebihan dan kekurangan Micro Cell Kelebihan:
1. Ukuran bandwith bisa jauh lebih besar
2. Lebih banyak kanal yang digunakan dalam satu waktu lebih banyak 3. Kualitas sinyal pada daerah sekitar gedung – gedung besar lebih reliable 4. Sinyal yang lebih stabil
5. Membutuhkan daya yang kecil
STIKOM
23 6. Tidak banyak membutuhkan tempat Kekurangan:
1. Proses pemasangan yang membutuhkan waktu cukup lama karena banyaknya jumlah
2. Penerapan hanya efekti pada daerah padat penduduk 3. Jangkauan hanya kurang dari radius 500 meter
STIKOM
24 BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Identifikasi Masalah
Semakin banyaknya pertumbuhan tower – tower telekomunikasi oleh para provider telekomunikasi menjadikan ancaman bagi tatanan suatu kota. Sehingga jika dilihat dari atas gedung banyak sekali terlihat berdirinya tower, bahkan yang diatas gedung atau yang diatas tanah. Untuk mengatasi hal ini pemerintah mempunyai suatu rencana rancangan yang akan diterapkan di kota Surabaya untuk mengurangi pertumbuhan tower tersebut dengan layanan yang memuaskan.
Dalam tahap pembahasan ini yang dilakukan adalah menunjukkan hasil desain antenna Micro Cell yang terintegrasi dengan PJU (Penerangan Jalan Umum) dari kerja praktek yang dilakukan di Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya. Dalam kasus ini hasil yang didapat adalah foto sebelum pengimplementasian Micro Cell di wilayah tertentu yang direncanakan dan desain sesudah pengimplementasian.
Pemotretan dilakukan di sepanjang jalan Ahmad Yani, Diponegoro, Basuki Rahmat, Praban, Panglima Sudirman, dan H.R. Muhammad. Karena sekitar di jalan protokol itulah tingkat pengguna cukup tinggi.
STIKOM
25 4.1.1 Peta Surabaya dengan jumlah tower
(net.surabaya.go.id)
Gambar 4.1 Peta Surabaya beserta posisi Macro Cell
Gambar 4.1 menggambarkan peta Surabaya yang terdiri dari 31 kecamatan dan 163 kelurahan dengan luas kota 374,8 km2 dan lebih dari 460 BTS eksisting di Kota Surabaya. Dengan banyaknya tower yang berdiri di daerah protokol, mengganggu pemandangan apabila dilihat dari atas gedung. Dengan ini pemerintahan
mempunyai terobosan untuk memanfaatkan teknologi Micro Cell yang sudah
diterapkan di Kota Jakarta dan Bandung.
4.1.2 Kondisi PJU saat ini
Ada 10 lokasi yang rencananya akan menjadi titik penempatan antenna Micro Cell yang akan diintegrasikan menjadi satu dengan PJU (Penerangan Jalan Umum), dan juga beberapa kondisi bentuk dan lokasi tower saat ini yang ada di Kota Surabaya. Berikut kondisi PJU di beberapa jalan yg rencananya menjadi titik penempatan Micro Cell.
STIKOM
26
Gambar 4.2 lokasi Jalan Basuki Rahmat didepan gedung Bumi Surabaya Pada gambar 4.2 foto berlokasi di pusat Kota Surabaya dengan bentuk trotoar jalan yang telah dibangun. Sehingga terlihat bagus dan luas bagi pejalan kaki. Pada trotoar inilah nantinya akan ditempatkan PJU dengan antenna Micro Cell.
Gambar 4.3 lokasi Jalan Diponegoro
Pada gambar 4.3 foto berlokasi di Jalan Diponegoro, di jalan ini bentuk karakteristik jalannya ada dua sis yang dipisah dengan pepohonan. Pada jalan ini bentuk trotoar terlihat tidak terawat, sehingga tidak ada jalur bagi pejalan kaki.
STIKOM
27
Sehingga kesulitan untuk menerapkan pemasangan Micro Cell, tetapi saat ini sedang ada pembangunan untuk melebarkan trotoar di jalan ini. Selanjutnya akan dijelaskan pada pembahasan.
4.1.3 Desain Micro Cell yang terintegrasi dengan PJU
Rencananya tiang Micro Cell akan dijadikan satu dengan PJU di trotoar. Dengan begitu dapat mengurangi penggunaan dan menggantikan BTS yang ada pada sekitar lokasi di titik tersebut.
PJU ini dikategorikan menjadi 2 jenis, yaitu: 1. PJU dengan Micro Cell, terdapat 2 jenis:
• Di sepanjang trotoar.
• Di pembatas tengah jalan
Gambar 4.4 tiang PJU dengan antenna Micro Cell Lampu penerang jalan
Antenna Micro Cell
9 meter 18 meter
STIKOM
28
2. PJU tanpa Micro Cell
• Di sepanjang trotoar
• Di pembatas tengah jalan
Gambar 4.5 tiang PJU tanpa antenna Micro Cell
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengimplementasian Micro Cell
Untuk menerapkan teknologi Micro Cell yang akan diterapkan di Surabaya, harus ada prosedur dan cara menerapkan teknologi tersebut. Pemerintah Kota Surabaya bersama Dinkominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) bagian Postel (Pos Telekomunikasi) bekerja sama untuk membangun dan menerapkan teknologi tersebut.
Pemerintah kota pada akhirnya memilih dan berkonsentrasi penuh menerapkan seperti di Korea Selatan, dan di Indonesia sendiri seperti Jakarta dan Bandung. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk desainnya adalah:
a. Standar tinggi antenna
b. Bentuk antenna Micro Cell
STIKOM
29 4.2.2 Hal-hal yang perlu diperhatikan
1. Antenna Micro Cell ini akan digunakan oleh operator seluler, mereka menginginkan tinggi antenna-nya setinggi kurang lebih 18 – 20 meter, ditunjukkan pada gambar 4.6. Dengan setinggi itu coverage yang dipancarkan akan optimal. Namun luas coverage area-nya masih jauh dibawah tower Macro Cell, maka dari itu akan banyak dipasang antenna tersebut dalam satu lokasi.
Gambar 4.6 tinggi PJU Micro Cell
Gambar 4.6 adalah desain pekerjaan selama KP dengan pertimbangan bimbingan dari penyelia di POSTEL, yaitu tinggi PJU 9 meter dan antenna Micro Cell setinggi 18 meter dari permukaan tanah.
2. Bentuk antenna dari Micro Cell ini sendiri didesain berbentuk melingkar, ditunjukkan pada gambar 4.8. Seakan-akan antenna ada pada semua sisi dari tiang. Hal ini dilakukan agar antenna yang sifatnya sectoral mencakup seluruh area.
STIKOM
30
Gambar 4.7 antenna pemancar Micro Cell.
Gambar 4.8 tampak atas dari antenna pemancar Micro Cell
Penjelasan dari gambar 4.7 bentuk antenna seharusnya seperti antenna sectoral yang ada pada tower yang sudah ada, tetapi pada desain digambarkan melingkar. Dikarenakan agar seolah-olah antenna melingkar pada tiang. Lalu warna yang ada pada tiang ini dimaksudkan dari jenis-jenis operator seluler, misalnya operator telkomsel ditandakan dengan warna merah. Pada satu tiang Micro Cell dapat digunakan hingga 3 operator.
STIKOM
31
Gambar 4.8 adalah coverage yang didapatkan, melingkar sehingga mencakup semua sudut. Sifat antenna sectoral adalah mengirimkan sinyal yang berbanding lurus dengan arah antenna-nya.
4.2.3 Hasil
Setelah semua konsep penerapan Micro Cell dipelajari, selanjutnya yaitu pemilihan tempat dimana Micro Cell akan ditempatkan di jalan-jalan kota Surabaya. Dinkominfo Kota Surabaya berkeinginan menerapkan di pusat kota terlebih dahulu. Untuk merealisasikan di pusat kota, berarti penerapan penggalian dan pemasangan kabel dilakukan di jalan protokol Kota Surabaya.
Berikut adalah beberapa jalan protokol di Surabaya yang sudah difoto dan didesain beserta Micro Cell-nya oleh kami selaku mahasiswa yang melakukan kerja praktek di Dinkominfo Kota Surabaya.
Keterangan dari gambar:
A. Ilustrasi fiber optic yang ditanam
B. Gambar antenna Micro Cell
Gambar 4.9 Urip Sumoharjo
B A
STIKOM
32
Gambar 4.10 jalan Basuki Rahmat arah ke Tunjungan Plaza
Gambar 4.11 jalan Basuki Rahmat dari jl. Urip Sumoharjo B A B A
STIKOM
SURABAYA
33
Gambar 4.12 Mayjend. Sungkono arah ke bunderan Tol
Gambar 4.13 Mayjend. Sungkono dari jl. Adityawarman A B A B
STIKOM
SURABAYA
34
Gambar 4.14 Wonokromo ke arah Ahmad Yani
Gambar 4.15 Wonokromo ke arah Kebon Binatang
A B
B
A
STIKOM
35
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang di dapat selama kerja praktek pada Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya adalah:
1. Micro Cell yang dapat menggantikan tower Micro Cell sehingga
mengurangi polusi pemandangan yang mengganggu estetika dan
memperluas coverage jaringan seluler di Kota Surabaya.
2. Jika Pemerintah Kota Surabaya bersama Dinkominfo berhasil menerapkan
konsep Micro Cell. Akan sangat mempunyai banyak keuntungan, baik
disisi masyarakat Surabaya, Pemerintah Kota dan Provider.
3. Desain ini akan diimplementasilkan terlebih dahulu di jalan-jalan
protokol, seperti jl. Ahmad Yani, Basuki Rahmat, Mayjend. Sungkono, Wonokromo, Urip Sumoharjo, Darmo.
4. Antenna Micro cell ini tingginya 18 meter dari tanah yang terpasang diatas PJU yang tingginya 9 meter dari tanah.
5.2 Saran
Teknologi Micro Cell dikembangkan lagi supaya area coverage-nya bisa