• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Bungkil Biji Jarak Pagar (BBJP) dapat digunakan sebagai salah satu alternatif sumber protein untuk ayam kampung tetapi harus melalui pengolahan terlebih dahulu.

2. Pengolahan secara pengukusan dilanjutkan dengan fermentasi menggunakan R oligosporus merupakan suatu teknologi sederhana yang dapat diaplikasikan kepada petani peternak. Ekstrak BBJP tidak menunjukkan aktivitas terhadap Salmonella typhimurium.

3. Protein BBJP fermentasi dapat mengantikan protein bungkil kedelai sampai 32,17%.

4. BBJP fermentasi pada taraf 5 sampai 10% dalam pakan yang disuplementasi enzim selulase dan fitase dapat meningkatkan performa maupun kualitas karkas yang lebih baik dibandingkan BBJP tanpa diolah.

5. BBJP fermentasi dan suplementasi tidak memberikan efek negatif terhadap bobot organ dalam, gambaran darah maupun histopatologi pada ayam kampung.

6. BBJP yang sebelumnya mempunyai kendala sebagai bahan pakan ternak yang aman, setelah melalui pengolahan dalam penelitian ini, BBJP dapat mempunyai nilai nutrisi dan nilai ekonomis yang lebih baik.

SARAN

1. Penggunaan BBJP fermentasi disarankan dilakukan pada ayam kampung sampai periode produksi telur dan reproduksi ayam jantan

2. Alat /mesin pengepres biji jarak yang lebih unggul untuk mendapatkan hasil bungkil biji jarak yang lebih maksimal atau yang bebas dari cangkang.

3. Penelitian lebih lanjut untuk mengetahui sifat genetik ayam kampung yang tahan terhadap senyawa racun dan antinutrisi dari BBJP

DAFTAR PUSTAKA

Aderibigbe AO, Johnson COLE, Makkar HPS, Becker K. 1997. Chemical composition and effect of heat on organic matter and nitrogen degradability and some anti-nutritional components of Jatropha meal. Anim. Feed Sci.Technology. 67 : 223-243.

Ahmed OE, Adam SE. 1979a. Toxicity of Jatropha curcas in sheep and goats. Res. Vet. Sci. 27: 89 – 96.

Ahmed OE, Adam SE.1979b. Effect of Jatropha curcas on calves. Vet. Pathol.16(4):476-82

AisjahT, Rukmana MP, Suharto, Yumiarti Y. 1998. Pendekatan bioteknologi bungkil biji jarak melalui fermentasi dalam rangka meningkatkan kualitas bahan pakan ternak. Laporan Hibah Bersaing. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta

Aisjah T. 2000. Nilai kecernaan protein ransum yang mengandung bungkil biji jarak (Ricinas communis Linn.) terfermentasi pada ayam broiler. J. Bionatura. 2(3) : 151-156.

Akintayo ET. 2004. Characteristics and composition of Parkia biglobbossa and Jatropha curcas oils and cakes. Bioresource Technology. 92: 307-310.

Aregheore EM, Becker K, Makkar HPS. 1997. Lectin activity in toxic and non toxic varieties of J. curcas using a latex agglutination test. Proceeding of Jatropha 97: Internasional Sysmposium on biofuel and industrial products from Jatropha curcas and other tropicalboil seed plants. Managua, Nicaragua, Mexico, 23 – 27 February 1997.

Aregheore EM, Becker K, Makkar HPS. 1998. Assessment of lectin activity in a toxic and a nontoxic variety of Jatropha curcas using latex and agglutination and haemagglutination methods and inactivation of lectin by heat treatments. Sci. Food Agric. 77: 349 – 352.

Aregheore EM, Becker K, Makkar HPS. 2003. Detoxification of a toxic variety of Jatropha curcas using heat and chemical treatments, and preliminary nutritional evaluation with rats. S. Pac. J. Nat. Sci. 21:50-56.

Badwi EL, Adam SEI. 1992. Toxic effects of low levels of dietary Jatropha curcas seed on Brown Hisex chicks. Vet. Hum. Toxicol. 34(2): 112 – 115.

Badwi EL, Mousa HM, Adam SEI. 1992. Response of Brown Hisex chicks to low levels of Jatropha curcas, Ricinus communis or their mixture. Vet. Hum. Toxicol. 34(4): 304 – 306.

Bakrie B, Andayani D, Yanis M, Zainuddin D. 2003. Pengaruh penambahan jamu ke dalam air minum terhadap preferensikonsumen dan mutu karkas ayam buras. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner “Iptek untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani melalui Agribisnis Peternakan yang Berdaya Saing”. Bogor, September 2003. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Becker K, Makkar HPS. 2000. Studien zur nutzung von Jatropha curcas. Samenjuchen Als Tierfutter. Research Report. University of Hohenheim.

http://www.uni-hohenheim.de/[14 Juli 2010].

Coelho MB. 1999. Ecological Nutrition : A costly or smart move?. Di dalam: Coelho MB, Kornegay ET, editor. Phytase in Animal Nutrition and Waste Management. A BASF Reference Manual. Ed ke-2. BASF Corporation.

Departemen Pertanian. 2008. Kajian Sistem Usahatani Jarak Pagar di Lahan Kering Dataran Rendah di Sulawesi Tengah (APBN). BPTP Sulawesi Tengah. http://sulteng.litbang.deptan.go.id/index2.php?option=com_content&do_pdf= 1&id=48. [01 September 2009]

Despal N, Sigit, Hasanah P.2007. Kandungan nutrisi dan kecernaan in vitro bungkil biji jarak pagar (Jatropha curcas, L) terdetoksifikasi. Proceeding of Seminar AINI (Indonesian association of Nutrition and Feed Science) VI, 26 – 27 July,pp. 340-346

Fardiaz S. 1988. Fisiologi Fermentasi. Pusat Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor.

Fasina YO, et al. 2004. Response of turkey poults to soybean lectin levels typically encountered in commercial diets. 1. Effect on growth and nutrient digestibility. Poult. Sci. 83: 1559 – 1571.

Fatmawati H. 2011. Fermented Jatropha curcas meal L as Concentrate Feed Ingredient for Sheep. Disertasi, Fakultas Peternakan.Universitas Gadjah Mada. Jogyakarta.

Guibitz GM,Mittelbach M, Trabi M.1998. Exploitation of the tropical oil seed plant Jatropha curcas L. Bioresource Tech. 67:73-82

Gunawan. 2002. Evaluasi Model Pengembangan Usaha Ternak Ayam Buras dan Upaya Perbaikannya. Disertasi. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Gunawan, Sundari MMS. 2003. Pengaruh penggunaan probiotik dalam ransum terhadap produktivitas ayam. Wartazoa 13(3): 9 2 - 9 8

Hambali E, et al. 2006. Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodiesel. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.

Hariyadi. 2005. Budidaya tanaman jarak (Jatropha curcas) sebagai sumber bahan alternatif biofuel. Makalah seminar “Fokus Grup Diskusi (FGD) Tema Prospektif Sumberdaya Lokal Bioenergi pada Deputi Bidang Pengembangan Sisteknas, KMNRT, Serpong, 14-15 September 2005.

IndradjiM, Widiyastuti T. 2011. Effect of fermented jatropha meal in the ration on several blood parameter of Rex Rabbit. In: Rahayu, S. et al. (Eds.): Proc. National Seminar: “Prospek dan Potensi Sumberdaya Ternak Lokal dalam Menunjang Ketahanan Pangan Hewani” Fakultas Peternakan Uni of Jenderal Soedirman, Purwokerto 15th Oct 2011.

Iskandar S, et al. 1998. Respons pertumbuhan ayam kampung dan ayam persilangan pelung terhadap ransum berbeda kandungan protein. JITV 3(1): 8 1 4 -8 2 0 .

IskandarS, Siregar S.2004. Karakter dan manfaat ayam Pelung. http://balitnak.litbang.deptan.go.id (Januari 2010)

Kornegay ET, Yi Z, Baker DH. 1999. Effect of supplemental natuphos phytase on trace mineral availability for poultry. Di dalam: Coelho MB, Kornegay ET, editor. Phytase in Animal Nutrition and Waste Management. A BASF Reference Manual. Ed ke-2. BASF Corporation.

Makkar HPS, Aderibigbe AO, Becker K. 1997. Comparative evaluation of non-toxic and non-toxic varietas of Jatropha curcas for chemical composition, digestibility, protein degrability, and toxic factor. Food Chemistry 62: 207-215.

Makkar HPS, Becker K, Sporer F, Wink W. 1997b. A studies on nutritive potential and toxic constituents of different provenances of Jatropha curcas. J. Agric. Food Chem. 45: 3152-3157.

Makkar HPS, Becker K. 1998. Potential of Jatropha curcas seed meals as a protein supplement to livestock feed, constrain to its utilization and possible strategis to overcome constraints. Proceedings of Jatropha 97: International Symposium of Biofuel and Industrial Product from Jatropha curcas and other Tropical Oil Seed Plant. Managua, Nicaragua, Mexico, 23-27 Februari 1997.

Makkar HPS, Becker K. 1999. Plant toxic and detoxification methods to improve feed quality of tropical seed. Asian-Aus. J. Anim. Sci. 12(3): 467-480

Makkar HPS. 2003. Effects and fate of tannins in ruminant animals, adaptation to tannins dan strategies to overcome detrimental effects of feeding tannin-rich feeds. Small Rum. Res. 49: 241 – 256.

Makkar HPS, Herrera M, Becker K. 2008. Variations in seed number per fruit, seed physical parameters and contents of oil, protein and phorbol ester 32 in toxic and non-toxic geno types of Jatropha curcas. J. Plant Sci. 3: 260-265.

Mansjoer SS. 1985. Pengkajian sifat-sifat produksi ayam kampung serta persilangannya dengan ayam Rhode Island Red. Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Mardiningsih D, Rahayuning TM, Roesali W, Sriyanto DJ. 2004. Tingkat produktivitas dan faktor-faktor yang mempengaruhi tenaga kerja wanita pada peternakan ayam lokal intensif di Kecamatan Ampal Gading, Kabupaten Pemalang Jawa Tengah. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2004. Buku II. Bogor, 4 - 5 Agustus 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Martinez-Herrera, Siddhuraju JP, Davila-Ortiz G, Becker K. 2006. Chemical composition, toxic/antimetabolic constituents and effecta of different treatments on their levels, in four provenances of Jatropha curcas L. from Mexico. Food Chem. 96: 80-89

Oboh G. 2006. Nutrient enrichment of Cassava peels using a mixed culture of Saccharomyces cerevisae and Lactobacillus spp. Solid media fermentation techniques.Biotechnology 9, 46-48.

Pasaribu T, Wina E, Tangendjaja B, Iskandar S. 2009. Performans ayam yang diberi bungkil biji jarak pagar (Jatropha curcas) hasil olahan secara fisik dan kimiawi . JITV 14 (1): 11-18

Permana IG, Despal, Gardini L. 2007. Nutritional properties of three different origins of Indonesian Jatropha (Jatropha curcas) meal for ruminant. Seag Mini Workshop Abstract, Manado, 3-5 Mei.

Prayitno CH, Widiyastuti T. 2011. Effect of fermented Jatropha meal and prebiotic in ration of broiler chicken on Small Intestine condition In: Rahayu, S. et al. (Eds.): Proc. National Seminar: “Prospek dan Potensi Sumberdaya Ternak Lokal dalam Menunjang Ketahanan Pangan Hewani” Fakultas Peternakan Uni of Jenderal Soedirman, Purwokerto 15 Oct 2011

Ravindran V. 1999. Occurence of phytic acid in plant feed ingredients. . Di dalam: Coelho MB, Kornegay ET, editor. Phytase in Animal Nutrition and Waste Management. A BASF Reference Manual. Ed ke-2. BASF Corporation. Ravindran V, Cadogan DJ, Cabahug M, Bryden W, Selle PH. 1999. Effects of

phytic acid on the performance of poultry and swine. . Di dalam: Coelho MB, Kornegay ET, editor. Phytase in Animal Nutrition and Waste Management. A BASF Reference Manual. Ed ke-2. BASF Corporation.

Rohaeni ES, Ismadi D, Darmawan A, Suryana, Subhan A. 2004. Profil usaha peternakan ayam lokal di Kalimantan Selatan (Studi kasus di Desa Murung Panti Kecamatan Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Desa Rumintin Kecamatan Tambarangan, Kabupaten Tapin). Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan danVeteriner 2004. Buku II. Bogor,4 - 5 Agustus 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

SartikaT, Iskandar S, Prasetyo LH, Takahashi H, Mitsuru M. 2004. Kekerabatan genetik ayam kampung, pelung, sentul, dan kedu hitam dengan menggunakan penanda DNA mikrosatelit. : I. Grup pemetaan pada makro kromosom. J. Ilmu Ternak dan Veteriner 9(2):81-86

Sastradipraja D, et al. 1989. Penuntun Praktikum Fisiologi Veteriner. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Selle PH, Ravidran V, Caldwell RA, Bryden WL. 2000. Phytate and phytase: Consequences for protein utilization. Nut. Res. Review 13: 255 – 278.

Sulandari S, et al. 2007. Sumber daya genetik ayam lokal Indonesia. Dalam Keanekaragaman Sumber Daya Hayati Ayam Lokal lndonesia: Manfaat dan Potensi. Pusat Penelitian Biologi, Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia, Bogor.

Sumiati, Sudarman A. 2006. Toksisitas, prosesing dan nilai hayati energi dan protein bungkil biji jarak (Jatropha curcas L.) Laporan Akhir Hibah Penelitian ProgramDue-like 1PB. Bogor.

Sumiati, Sudarman A, Hidayah LN, Santoso WB. 2007.Toxicity of Jatropha curcas L. meal toxins on broilers. Proceeding of Seminar AINI (Indonesian association of Nutrition and Feed Science) VI, 26 – 27 July,pp. 195-201

Sumiati, Sudarman A, Nurhikmawati I, Nurbaeti. 2008. Detoxification of Jathropha curcas meal as poultry feed. Proceeding of the 2 nd International Symposium on food security, Agricultural Development and Enviromental Conversation in Southeast and East asia. Bogor, 4 – 6 th September 2007. Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University.

Sumiati, et al. 2011. Performa ayam broiler yang diberi ransum mengandung bungkil biji jarak pagar pagar (Jatropha curcas L.) hasil fermentasi menggunakan Rhizopus oligosporus. Med.Pet. 34: 117-125.

Tjakradidjaja AS, Suryahadi, Adriani. 2007. Fermentasi bungkil biji jarak pagar (Jatropha curcas .L) dengan berbagai kapang sebagai upaya penurunan kadar serat kasar dan zat antinutrisi. Prosiding Konferensi Jarak Pagar Menuju Bisnis Jarak Pagar yang Fleksibel. Selasa, 19 Juni 2007. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Wina E, Muetzel S, Becker K. 2005. The impact of saponins or saponin containing plant materials on ruminant production – A Review. J. Agric. Food Chem. 53(21): 8093 – 8105.

Wina E, Munarso J. 2009. Perubahan bahan kering, kadar lemak dan kadar fitat bungkil biji jarak yang difermentasi. Lokakarya Nasional Jarak Pagar V, Malang, 4 Nov 2009

Wina E, Tangendjaja B, Pasaribu T, Purwadaria T. 2010. Performans ayam pedaging yang diberi bungkil biji jarak pagar (Jatropha curcas) didetoksifikasi dengan perlakuan fermentasi, fisik dan kimia. JITV 15:174-181.

Wink M. 1993. Forschungs bericht zum project “Nutzung pflanzlicher Öle als Krafstoffe” Consultan’s report prepared for GTZ, Germany. In : Heller,J.Physic nut. Jatropha curcas L. Promoting the conservation and use of underutilized and neglected crops. Institute of Plant genetic and crop plant research, Gatersleben/International Plant Genetic Resources Institute, Rome.

Yusriani Y, Toharmat T, Sumiati, Wina E, Setiyono A. 2011. Kombinasi perlakuan penggunaan bungkil biji jarak pagar terfementasi dan penambahan enzim terhadap energi termetabolis, retensi N, P, Ca dan serat kasat tercerna. JITV 16(3); 163-172

Zakaria S. 2004a. Pengaruh luas kandang terhadap produksi dan kualitas telur ayam burasyang dipelihara dengan sistemlitter. Bulletin Nutrisi dan Makanan Ternak 5(1): 1 11 -1 18 .

Zakaria S. 2004b. Performans ayam buras fase dara yang dipelihara secara intensif dan semiintensif dengan tingkat kepadatan kandang yang berbeda. Bulletin Nutrisi dan Makanan Ternak 5(1): 41 -45

Lampiran 1Histologi hati , ginjal dan usus

Untuk melakukan pengamatan histologi hati, ginjal dan usus dilakukan tiga tahap kegiatan yaitu ; a) Pengambilan sampel, dilakukan pada ginjal dan hati yang dipotong secara membujur, b) Pemeriksaan histopatologi ginjal dan hati, diawali dengan fiksasi dengan Buffer Netral Formalin (BNF) 10% (pH 7.2–7.4) kemudian secara berturut-turut dilakukan dehidrasi, penjernihan (clearing) dan infiltrasi parafin, pembuatan blok parafin (embedding), pemotongan, pewarnaan, dan c) Pengamatan preparat dibawah mikroskop binokuler (olympus). Selanjutnya siap untuk diamati pada mikroskop maupun dilakukan pemotretan. Pengamatan dilakukan di bawah mikroskop binokuler (Olympus) dengan pembesaran obyektif 40x, sedangkan pemotretan dilakukan pada pembesaran obyektif 20x. Pengambilan sampel dilakukan dua kali, yaitu pada awal minggu ketujuh dan minggu kesepuluh.

Lampiran 2 Metode Agar Berlubang (Bintang, 1993)

Langkah kerja 1 :

1. Bakteri Salmonella typhymurium ditumbuhkan pada media broth, selama 24 jam pada suhu 370C

2. Disentrifus untuk dibuat suspensi dan disetarakan dengan larutan Mc. Farlans 1 (108 cfu/ml)

3. Suspensi siap pakai Langkah kerja II :

1. Buat medium Muller Hilton Agar dalam cawan sebanyak 20 ml 2. Kontrol 24 jam dalam suhu 37 0C, untuk menghindari kontaminasi 3. Medium siap pakai

Langkah kerja III :

1. Ekstraksi BBJP dibuat pengenceran : 800;400;200;100;50 mg/ml 2. Pengencer menggunakan aquadest steril

Langkah IV :

Sebanyak 100 ul suspensi bakteri Salmonella typhimurium umur 24 jam dimasukkan ke dalam cawan petri steril, ditambah 20 ml medium Muller Hilton

Agar (MHA) steril, kemudian dicampur merata dan dibiarkan memadat pada suhu kamar. Setelah medium memadat, dibuat lubang berdiameter 0,5 cm dan ditetesi dengan larutan ekstrak 25 ul kemudian diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam. Sebagai kontrol antibiotik sebanyak 25 ul. Peubah yang diamati adalah zona bening di sekitar lubang yang menunjukkan aktivitas terhadap bakteri.

Lampiran 3. Ekstraksi BBJP Segar

Bungkil Biji Jarak Segar 4 gram Ditambah H2O sebanyak 25 ml

Ultrasonik selama 30 menit sentrifus selama 15 menit saring melewati kertas saring dengan

bantuan penyaring vakum Dipekatkan dengan evaporator

vakum pada suhu 40 oC

Filtrat yang sudah didapatkan kemudian dilarutkan dalam 5 ml menjadi 800 mg/ml dan dilakukan 3 kali ulangan

Hasil yang diperoleh sebagai filtrat dengan menggunakan H2O

Endapan kemudian di ekstraksi kembali dengan menggunakan metanol, etil asetat dan aceton. Prosedur kerja sama dengan menggunakan H20

Hasil ekstraksi akan di uji secara invitro untuk anti bakteri S. typimurium

Lampiran 4Analisis Kandungan Nutrien

Analisis kandungan nutrien meliputi kadar air, abu, protein kasar, lemak kasar, mineral Ca dan P serta energi Bruto bahan.

Analisis phorbolester (senyawa racun) pada bungkil biji jarak

Metode analisis phorbolester dengan HPLC. Senyawa phorbolester merupakan senyawa dalam kelompok diterpen yang memiliki ikatan ester dengan asam-asam lemak. Oleh sebab itu, senyawa ini larut dalam pelarut lemak dan dapat dideteksi pada panjang gelombang 254 nm

Kolom HPLC: SunFire C18 4.6x 250mm (Waters Co.) Suhu kolom: 40oC, UV detector: 254nm, Kecepatan alir eluen: 1.3 ml/menit

Standar : phorbol miristat asetat 100 ppm, waktu retensi 25.79 menit Waktu (menit) Eluen A: Air B: Acetonitrile

0 60 40

10 0 100

25 0 100

30 60 40

Lampiran 5Analisis aktivitas Tripsin Inhibitor , metode Smith et al , (1980).

Prinsip metode:

1. Ekstraksi tripsin inhibitor dilakukan pada pH 9,5 lalu dicampur dengan tripsin

2. Aktivitas tripsin yang tersisa diukur dengan penambahan BAPNA.

P-Nitroaniline akan dilepaskan dan diukur pada panjang gel 410nm

Pereaksi:

6,05 g Tris (hydroxy methyl) methlamine + 2,94 g CaCl2. 2H2O dilarutkan dalam 900ml air deion. pH dijadikan 8,2 dengan HCl dan diukur setelah 1 liter.

Substrat BAPNA- siapkan selalu "FRESH", dilarutkan dengan 100 ml tris buffer yang telah dipanaskan 37oC lalu ditempatkan dalam suhu tersebut.

Larutan Tripsin

40 mg bovine tripsin (bebas garam) dalam 1mM HCl sebanyak 2 liter

Larutan stabil selama 2 hari 4oC

Larutan Asam asetat : 30 ml asam asetat glasial dalam 70 ml air deion

Cara ekstraksi sampel : 1 gram sampel (bebas lemak, 100mesh) diekstrak dalam 50ml 0,01 NaOH selama 3 jam sambil diaduk (stirrer). pH larutan berkisar 9,5-9,8 (20mg/ml)

Cara kerja

Untuk standar:

Blanko reagen yang digunakan 2 ml air deion (a)

standar : 2 ml tripsin ditambah 2 ml air (konsentrasi tripsin 40ug)--->(b)

Untuk sampel

Blanko sampel : 1ml ekstrak + 1 ml air deion (c)

Sampel bungkil jarak, dipipet 0,05; 0,1; 0,2; 0,4; 0,6 dan 0,8ml ekstrak ditambah air hingga 2 ml + 2 ml tripsin (d)

Baik larutan standar dan sampel masing-masing diinkubasi 37oC selama 10 menit, 5ml larutan BAPNA ditambahkan (larutan ini terlebih dahulu dipanaskan 37oC) lalu dikocok. Setelah diinkubasi 10 menit, 1 ml larutan asam asetat ditambahkan untuk menghentikan reaksi. Untuk blanko standar dan sampel, penambahan 2ml tripsin dilakukan setelah penambahan larutan BAPNA dan asam asetat Larutan disentrifus 10000 rpm, 10 menit. Diukur pada panjang gelombang 410 nm

Lampiran 6Analisis Kadar fitat, metode yang dilakukan dimodifikasi di Balitnak.

Senyawa fitat di dalam bungkil jarak diekstrak dengan asam nitrat 0,5M sambil dikocok selama 3,5 jam. Kemudian larutan asam nitrat disaring dan 0,2 ml filtrat dijadikan volume 1,4 ml dengan HNO3. Ke dalam larutan ditambah dengan 1 ml feriamoniumsulfat yang mengandung 50ug Fe dan tabung dididihkan selama 20 menit. Setelah dingin, larutan disentrifus dan 1 ml filtrat diambil dan ditambahkan dengan 5 ml air dan 0,1 ml ammonium tiosianat. Setelah dikocok, larutan didiamkan 15 menit, lalu absorbansi larutan diukur pada panjang gelombang 465 nm. Larutan standard disiapkan dari larutan natrium fitat 0,2 M dan dibuat berseri dari 0,01-0,2 mM dalam total volume 1,4ml dengan larutan HNO3 dan direaksikan seperti dengan contoh.

Lampiran 7Total fenolik dan total tanin dengan metode Folin-Ciocalteu (Makkar, 2003).

Analisis dilakukan 2x yakni sebelum dan setelah penambahan PVPP (polyvinyl polypyrrolidone). Larutan standar dengan konsentrasi 0,1 mg/ml diambil sebanyak 0,02 ml, 0,04 ml, 0,06 ml, 0,08 ml dan 0,10 ml lalu ditambahkan akuades hingga 0,5 ml kemudian ditambah 0,25 ml pereaksi Folin-Ciocalteu dan 1,25 ml larutan NaCO3.Setelah itu, larutan divortex dan diukur absorbansnya pada panjang gelombang 725 nm setelah 40 menit.Sebelum penambahan PVPP, larutan contoh diencerkan sebanyak 6x lalu diambil sebanyak 0,05 ml dijadikan 0,5 ml dengan penambahan akuades. Setelah itu, larutan contoh diperlakukan sama dengan larutan standar. Penambahan PVPP dilakukan untuk mengetahui banyaknya protein yang terendapkan oleh tanin. Sebanyak 0,1 g PVPP (polyvinyl polypyrrolidone) dilarutkan dengan 1 ml akuades dan 1 ml larutan contoh yang telah diencerkan 100x lalu divortex dan didinginkan pada suhu 4oC selama 15 menit. Setelah didinginkan, larutan divortex kembali dan disentrifuse dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Supernatan yang terbentuk lalu diperlakukan sama dengan prosedur sebelum penambahan PVPP.

Lampiran 8Metode Vanillin +H2SO4 , method: Hiai (1976)

Vanilin : 1.6 g vanillin + 20 ml ethanol absolut

H2SO4 72% : 28 ml water + 72 ml H2SO4 conc Standar

Diosgenin : 10mg diosgenin + 20 ml MeOH (0.5 mg/ml) Cara kerja:

Standar saponin + MeOH dalam suhu kamar, simpan dalam waterbath estambahkan pereaksi vanillin sulfat. Panaskan dalam suhu 60oC selama 10 menit. Dinginkan dalam air es.Ukur absorbans 544nm (warna: kuning-orange), blanko:Kuning

Lampiran 9 Analisis ragam Energi Metabolis Semu (EMS) umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 384894,36 96223,590 15,13 3,06 4,89

error 15 95423,36 6361,557

total 19 480317,71

Lampiran 10 Analisis ragam Energi Metabolis Semu terkoreksi nitrogen (EMSn) umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 338357,13 84589,284 15,76 3,06 4,89

error 15 80488,87 5365,924

total 19 418846,00

Lampiran 11 Analisis ragam Energi Metabolis Murni (EMM) umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 399155,85 99788,962 16,50 3,06 4,89

error 15 90704,92 6046,994

Lampiran 12 Analisis ragam Energi Metabolis Murni terkoreksi nitrogen (EMMn) umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 351042,51 87760,628 17,16 3,06 4,89

error 15 76708,89 5113,926

total 19 427751,40

Lampiran 13 Analisis ragam konsumsi Nitrogen umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 0,83 0,208 3,73 3,06 4,89

error 15 0,84 0,056

total 19 1,67

Lampiran 14 Analisis ragam ekskresi Nitrogen umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 0,09 0,023 4,41 3,06 4,89

error 15 0,08 0,005

total 19 0,17

Lampiran 15 Analisis ragam retensi Nitrogen (gram) umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 0,18 0,044 18,128 3,06 4,89

error 15 0,04 0,002

total 19 0,21

Lampiran 16 Analisis ragam retensi Nitrogen (%) umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 316,79 79,198 4,32 3,06 4,89 error 15 275,22 18,348

Lampiran 17 Analisis ragam konsumsi P umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 316,79 79,198 4,32 3,06 4,89 error 15 275,22 18,348

total 19 592,01

Lampiran 18 Analisis ragam ekskresi P umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 316,79 79,198 4,32 3,06 4,89 error 15 275,22 18,348

total 19 592,01

Lampiran 19 Analisis ragam retensi P (gram) umur 10 minggu

SK Db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 316,79 79,198 4,32 3,06 4,89 error 15 275,22 18,348

total 19 592,01

Lampiran 20 Analisis ragam retensi P (%) umur 10 minggu

SK Db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 316,79 79,198 4,32 3,06 4,89 error 15 275,22 18,348

total 19 592,01

Lampiran 21 Analisis ragam konsumsi Ca umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 0,03 0,008 1,55 3,06 4,89

error 15 0,07 0,005

Lampiran 22 Analisis ragam ekskresi Ca umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 0,21 0,054 3,53 3,06 4,89

error 15 0,23 0,015

total 19 0,44

Lampiran 23 Analisis ragam retensi Ca (gram) umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 0,07 0,018 1,995 3,06 4,89

error 15 0,13 0,009

total 19 0,21

Lampiran 24 Analisis ragam retensi Ca (%) umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 5,71 1,428 4,65 3,06 4,89

error 15 4,61 0,307

total 19 10,32

Lampiran 25 Analisis ragam konsumsi SK umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 0,59 0,147 26,70 3,06 4,89

error 15 0,08 0,006

total 19 0,67

Lampiran 26 Analisis ragam ekskresi SK umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 12,84 3,211 21,09 3,06 4,89

error 15 2,28 0,152

Lampiran 27 Analisis ragam retensi SK (gram) umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 0,18 0,045 106,198 3,06 4,89

error 15 0,01 0,000

total 19 0,19

Lampiran 28 Analisis ragam retensi SK (%) umur 10 minggu

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

perlakuan 4 2,57 0,642 42,66 3,06 4,89

error 15 0,23 0,015

total 19 2,79

Lampiran 29 Analisis ragam konsumsi ransum ayam kampung selama penelitian

Dokumen terkait