• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

a. Sistem budidaya polikultur perlakuan (ikan Kerapu Macan dalam Keramba Jaring Apung dengan rumput laut jenis Gracilaria verrucosa) dapat menjaga kualitas air lebih baik dari parameter fisika air dan parameter kimia air jika dibandingkan dengan sistem budidaya monokultur kontrol. Adapun pada parameter kekeruhan, kecerahan, oksigen terlarut, ammonia, nitrit, pH, fosfat dan besi ada beda nyata, sedangkan parameter suhu, nitrat dan salinitas tidak beda nyata dikarenakan rumput laut (Gracilaria verrucosa) dapat berfungsi sebagai bio filter pada perairan budidaya.

b. Sistem budidaya polikultur perlakuan dapat meningkatkan produksi budidaya, dari 4.000 ekor benih ikan Kerapu Macan mengalami kematian sebanyak 449 ekor (tingkat kelangsungan hidup) sebesar 72% lebih tinggi dibandingkan dengan sistem budidaya monokultur kontrol dari 4.000 ekor benih ikan Kerapu Macan mengalami kematian sebanyak 878 ekor (tingkat kelangsungan hidup) sebesar 55%.

5.2 Saran

Dengan adanya hasil penelitian ini maka penulis menyarankan beberapa hal antara lain:

a. Pada budidaya perikanan harus selalu memperhatikan daya dukung alam agar usaha dapat berkelanjutan, sebagai salah satu aspek perbaikan dapat digunakan rumput laut yang berfungsi sebagai bio filter agar perairan dapat terjaga (terciptanya areal tambak yang ramah lingkungan) dan dapat meningkatkan produksi budidaya.

b. Kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara agar melakukan pelatihan dan himbauan kepada pembudidaya ikan agar tetap menjaga lingkungannya dalam melaksanakan usahanyadengan jalan memperhatikan daya dukung alam dan penggunaan sistem budidaya polikultur sebagai salah satu alternatif.

c. Kepada pembudidaya agar melakukan monitoring kualitas air secara berkala dan teratur sehingga perubahan kualitas air dapat diketahui sedini mungkin agar komoditas budidaya terhindar dari kematian.

d. Penelitian ini tentunya mempunyai kekurangan yang masih jauh dari ideal untuk itu bagi para peneliti yang tertarik dengan bidang yang sama dapat lebih memperdalam parameter kimia air yang mempengaruhi kehidupan biota air, penggunaan mangrove dan kekerangan yang dapat berfungsi sebagai bio filter dalam perairan budidaya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, T., Wiyanto, A. 1991. Operasional Pembesaran Ikan Kerapu dalam Karamba Jaring Apung. Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai. Maros. Hal 59.

Anggadiredja, J.T., A. Zatnika., H. Purwoto dan S. Istini. 2006. Rumput Laut. Penebar Swadaya. Jakarta.

Aslan, Laode. M. 1998. Budidaya Rumput Laut. Kanisius. Yogyakarta.

Boyd, C.E. 1990. Water Quality In Ponds For Aquaqulture. Birmingham Publishing CO. Birmingham, Alabama: ix+482.

Burgess, W.E and Axelrod H.R. and Raymond E.H. 1990. Marine Aquarium Fishes. T.F.H. Publications Inc. USA. 3rd edition.

Chua, T. E. and Teng, S. K. 1978. Effects of Feeding Frequency on the Growth of Young Estuary Grouper, (Epinephelus tauvina) Forskal, Culture in Floating Net Cages. Aquaculture. 14: 31-47.

Departemen Kelautan dan Perikanan. Laporan Kegiatan dan Anggaran Tahun 2009. Balai Karantina Ikan Polonia Medan. Medan.

Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003. Masterplan Pengembangan Budidaya Payau di Indonesia. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Jakarta. 1x+164p.

Departemen Kelautan dan Perikanan. 2005. Profil Rumput Laut Indonesia. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Jakarta.

Departemen Kelautan dan Perikanan. 2006. Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut (Eucheuma spp). Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Jakarta. Hal 11-14. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara. Buku Tahunan Statistik

Perikanan Budidaya Tahun 2009. Medan.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta. Hal 296.

Evalawati., M. Meiyana dan T.W. Aditya. 2001. Biologi Kerapu, Pembesaran Kerapu Bebek dan Kerapu Macan di Keramba Jaring Apung. Ditjenkan. BBL Lampung. Hal 3-6.

FAO. 1991. Reducing Enviromental Impact of Coastal Aquaculture. Report and Studies No. 47. IMO/FAO/Unesco/WMO/WHO/IAEA/UN/UNEP Joint GESAMP, Rome. P.v+35.

Gavino C. Trono, Jr. 1990. A Review of the Production Technologies of Tropical Spicies of Economic Seaweeds. Vol. II, Cebu City. Philippines.

Ghufran, M dan Andi B. T. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perairan. Rineka Cipta. Jakarta. xiv. Hal 85-99.

Indriani Hety dan Sumiarsih Emi. 1992. Pengolahan dan Pemasaran Rumput Laut. Penebar Swadaya. Jakarta.

Ismail, W. dan Pratiwi, E. 2002. Budidaya Laut Menurut Tipe Perairan. Warta Penelitian Perikanan Indonesia. Vol. 8. No 2. Pusat Riset Perikanan Budidaya. Jakarta. Hal 8-12.

Izzati. 2004. Desain Pengelolaan Air Limbah pada Kawasan Industri Pertambakan. http://digilib.biitb.ac.id [12 Juli 2008].

Johnny F.D. Roza dan Zafran. 2005. Penyakit Infeksi Parasit pada Ikan Laut Budidaya dan Upaya Pengendaliannya, Sebagai Bahan Diseminasi Budidaya Laut Berkelanjutan. Balai Besar Riset Perikanan Laut. Gondol. Bali.

Jones, A.B. 1999. Enviromental Management of Aquaqulture Effluent: Development of Biological Indicators and Biological Filters. Departement of Botany The University of Queensland. P.117.

Komaruddin, 1991. Azas-Azas Manajemen. Kanisius. Yogyakarta.

Langkosono dan Wenno, L. F. 2003. Distribusi Ikan Kerapu (Serranidae) dan Kondisi Lingkungan Perairan Kecematan Tanimbar Utara, Maluku Tenggara. Prosiding Lokakarya Nasional dan Pameran Pengembangan Agribisnis Kerapu II. Jakarta, 8 – 9 Oktober 2002. “Menggalang Sinergi untuk Pengembangan Agribisnis Kerapu”. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Budidaya Pertanian BPPT, Jakarta. Hal 203-212.

Lin, C.K., P. Ruamthaveesub and P. Wanuchsoontorn. 1993. Integrated Colture of The Green Mussel (Perna Viridis) In Waste Water From an Intensive Shrimp Pond. Concept and Practice. World Aquaqulture. 24: 68-73.

Mayunar, R. Purba dan P.T. Imanto. 1995. Prosiding Temu Usaha Pemasyarakatan Keramba Jaring Apung Bagi Budidaya Laut. Jakarta. 12-13 April 1995. Hal 179-189.

Meiyana, M., Evalawati, dan Prihaningrum, A. 2001. Biologi Rumput Laut. Teknologi Budidaya Rumput Laut (Kappaphicus alvarezii). DIRJENKANBUD BBL. Lampung. Hal 3-5.

Poernomo, A. 1997. Peranan Tata Ruang, Desain Interior Kawasan Pesisir dan Pengelolaannya dan Pengelolaannya terhadap Kelestarian Budidaya Tambak. Majalah Techner, No. 29, Tahun VI. Jakarta. Hal 18-23.

Puja Y., Evalawati dan S. Akbar. 2001. Teknik Pembesaran. Pembesaran Kerapu Bebek dan Kerapu Macan di Keramba Jaring Apung. Ditjenkan. BBL. Lampung. Hal 26-30.

Reantoso, M.G.B, Shomkiat, K and Chinabut, S. 2004. Review of Grouper Diseases and Health Management. Regional Workshop on Sea Farming Grouper Culture. Departement of Fisheries Compound. Thailand.

Sapto D.F dan Suriawan A. 2006. Petunjuk Teknis Budidaya Kerapu di Keramba Jaring Apung. Departemen Kelautan dan Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Hal 7-11.

Sisterkarolin. 2008. Data Ekspor Tahunan Komoditi Ikan Hidup Melalui Pintu Pengeluaran Bandara Polonia-Medan. Sistem Informasi Karantina Ikan On- Line. Pusat Karantina Ikan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Soegiharto, A., Wanda S., Atmadja, dan Hasan Mubarak. 1979. Rumput Laut (Algae)

Manfaat, Potensi, dan Usaha Budidayanya. LON. LIPI. Jakarta.

Standar Nasional Indonesia. 2000. Produksi Benih Ikan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscoguttatus) Kelas Benih Sebar.

Steentoft, M. and Farham, W.F. 1997. Northern Distribution Boundaries and Thermal Requirements of Gracilaria and Gracilariopsis (Gracilariales, Rhodophyta) in Atlantic Europe and Scandinavia. Nord. J. Bot. 5: 87-93. Sudjana. 2002. Metode Statistika. Tarsito. Bandung.

Sudradjat. A. 2008. Komoditas Laut Menguntungkan. Budidaya 23. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sunaryat. 2004. Analisa Usaha pada Usaha Perikanan. Balai Budidaya Laut. Lampung.

Sunyoto, P. 1994. Pembesaran Kerapu dengan Keramba Jaring Apung. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suprakto, B. dan Fahlivi, M.R. 2007. Studi tentang Kesesuaian Lokasi Budidaya Ikan di KJA di Perairan Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep. Pembangunan Kelautan Berbasis IPTEK dalam rangka Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir. Prosiding Seminal Kelautan III. Universitas Hang Tuah 24 April 2007. Surabaya. Hal 58-65.

Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep- 02/MENKLH/I/1988 tanggal 19 Januari 1988 tentang Baku Mutu Air untuk Perikanan dan Taman Laut Konservasi.

Tinggal H. H. Nono. Zakimin. S. Akbar. Rusflan. H.W. Arik. M.B. Manja. L. Surya dan S. Agustiatik. 2003. Manajemen Pembesaran Kerapu Macan di Keramba Jaring Apung. Ditjenkan. Loka Budidaya Laut. Batam.

Utrech, 1952. The International Code of Botanical Nomenclature. International Association for Plant Taxonomy (IAPT). Viena.

Yoshimitsu, T. H. Eda and Hiramatsu, K. 1986. Groupers Final Report Marineculture Research and Development in Indonesia. ATA 192, JICA. p.103-129.

Dokumen terkait