• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1KESIMPULAN

1. Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh beberapa kesimpulan, pasar modern terdapat kontaminasi oleh STH pada 19 sampel (25.0%). Di pasar tradisional terdapat kontaminasi pada 57 sampel (75.0%). Hasil ini menunjukkan ada bermaknaanperbedaan di pasar tradisional dan pasar modern dengan nilai p<0.05 adalah 0.011.

2. Jumlah sayur selada, kubis, timun, daun perai dan daun bawang yang kebanyakkan terkontaminasi adalah daun bawang oleh parasit dan kebanyakkan larva filariform ditemui di pasar tradisional dan modern. 3. Dari semua sayur, daun bawang yang paling terkontaminasi dan di antara

pasar tradisional dengaan modern terdapat pasar tradisional yang paling terkontaminasi 24 sampel (96.0%) dari pasar tradisional dan tidak ada bermakna dengan nilai p adalah 1.000 (p>0.05).

4. Hasil menunjukkan perbedaan pencucian pada sayur sayuran yang dijual di pasar tradisional dengan pasar modern ada perbedaan.

5. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan mengamalkan perlakuan seperti mencuci sayur sebelum ia dijual dapat menurunkan angka kejadian kontaminasi parasit.

35

6.2 SARAN

Bedasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran diantaranya ialah,

1. Kepada pengusaha sayuran agar melakukan perlakuan atau pengolahan sebelum sayuran dijual kepada pembeli dalam upaya membekalkan sayuran yang berkualitas bagi pembeli.

2. Kepada pembeli agar dapat mencuci dan memasak terlebih dahulu sayuran yang dibeli dari pasar tradisional atau pasar modern sebelum mengkonsumsinya sebagai langkah untuk mencegah infeksi parasit.

3. Diharapkan pada penelitian selanjutnya untuk mengadakan penelitian yang berskala lebih besar dan komprehensif.

4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Penyakit cacingan

Sebagian besar nematoda pada usus menyebabkan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Nematoda merupakan spesies yang ditularkan melalui

tanah dan disebut sebagai “Soil Transmitted Helminths (STH)”, spesies yang

sering menyerang pada manusia adalah Ascaris lumbricoides, Necator

americanus, Ancylostoma duodenale, dan Trichuris trichiura (Margono S.S,

1998).

a) Ascaris lumbricoides (Cacing Gelang)

Ascaris lumbricoides dapat menyebabkan penyakit yang disebut askariasis, yang ditemukan kosmopolit. Angka kejadian askariasis berdasarkan hasil survei terjadi 70% atau (Margono S.S, 1998).

Tabel 2.1.1. Morfologi dan daur hidup Ascaris lumbricoides (Brown H.W, 1979).

Jenis cacing: Jantan dan Betina

Ukuran : Jantan:10 – 31 cm ; Betina: 22 – 35 cm Lengkungan : Jantan: Ke ventral ; Betina:Tidak ada

Bentuk: Lapisan kutikulum rata, bergaris halus, ujung anterior dan posterior membulat(conical) dan 3 buah bibir lonjong dengan papil peraba

Warna: Putih ataupun merah muda

Telur: Seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak 100,000 – 200,000 butir

Telur ascaris ditemukan dalam dua bentuk, yang dibuahi (fertilized) dan tidak dibuahi (unfertilized). Telur yang tidak dibuahi khas dengan lebih

5

panjang dan kurang lebar daripada telur-telur yang dibuahi, mempunyai kulit tebal yang lebih tipis dengan lapisan albumin yang tidak teratur, dan terisi penuh dengan protoplasma. Dalam linkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu (Brown H.W,1979).

Telur yang tertelan manusia dalam bentuk infektif, dan akan menetes di usus halus. Larva cacing akan menebus dinding usus halus menuju ke pembuluh darah atau saluran linfe, lalu akan dialirkan ke jantung dan kemudian mengikuti aliran darah ke paru. Larva di paru akan menembus dinding pembuluh darah, menuju dinding alveolus masuk ke rongga alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva ini menuju ke faring sehingga menimbulkan rangsangan pada faring. Penderita batuk karena rangsangan ini dan larva akan tertelan ke dalam esofagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus halus larva akan berubah menjadi cacing dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperlukan waktu kurang lebih 2 bulan (Brown H.W, 1972 dan Margono S.S, 1998). Gejala yang timbul adalah perdarahan kecil pada dinding alveolus dan gangguan pada paru dengan batuk, demam, eosinofilia dan juga terdapat Loeffler sindrom. Penderita mengalami gejala seperti mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi. Pada anak yang infeksi berat terjadi malaabsorbsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi (Margono S.S, 1998).

b) Trichuris trichiura (Cacing Cambuk)

Manusia merupakan hospes cacing ini dengan penyakit disebabkan oleh trikuriasis, cacing ini juga bersifat kosmopolit terutama ditemukan di daerah panas dan lembab seperti di Indonesia (Margono S.S, 1998).

6

Tabel 2.1.2. Morfologi dan daur hidup Trichuris trichiura (Brown H.W, 1979 dan Linnaeus, 1771)

Jenis: cacing Jantan dan Betina

Panjang: Jantan: 30 – 45 mm ; Betina: 35 – 55 mm Bagian posterior: Jantan: Melingkar dengan satu spikulum ;

Betina: Bulat tumpul

Bentuk: Cambuk dan runcing, menyerupai rantai merjan dan lebih tebal di bagian posterior

Telur: Seekor cacing betina menghasilkan sebanyak 3,000 – 10,000 butir sehari dan bentuk seperti tempayan

Warna: Bagian luar Kekuningan Bagian dalam jernih

Cara infeksi langsung tidak memerlukan hospes perantara, apabila telur yang berisi embrio tertelan manusia, larva yang menjadi aktif keluar melalui dinding telur yang sudah tidak kuat lagi, masuk ke dalam usus halus bagian proksimal dan menembus villus usus, dan menetap selama 3 sampai 10 hari disekitar kripta lieberkuhn. Cacing yang telah menjadi dewasa makin ke bawah ke daerah coecum. Suatu struktur yang menyerupai tombak pada bagian anterior membantu cacing itu menembus dan kemudian menempatkan bagian anteriornya yang seperti cambuk ke dalam mukosa usus hospesnya, tempat cacing itu mengambil makanannya. Sekresinya mungkin dapat mencairkan sel-sel mukosa yang berdekatan (Linnaeus, 1771).

Gejala pada infeksi berat akan tersebar di seluruh kolon dan rektum terutama pada anak dan mengakibatkan mengejannya pada waktu defekasi. Seterusnya cacing ini akan menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus, pada tempat perlekatannya dapat terjadi perdarahan sehingga dapat menyebabkan anemia. Infeksi trichuris menunjukkan gejala-gejala seperti diare

7

yang sering, berat bedan menurun dan kadang kadang disertai prolapsus rektum (Margono S.S, 1998).

c) Necator americanus dan Ancylostoma duodenale (Cacing Tambang)

Hospes parasit ini adalah manusia dan ini menyebabkan nekatoriasis dan ankilostomiasis. Sebagai distribusi geografik cacing ini tersebar di seluruh daerah khatulistiwa dan di tempat lain dengan keadaan yang sesuai, contohnya di daerah pertambangan dan perkebunan. Selain itu terdapat prevalensi yang tinggi di Indonesia sekitar 40% (Margono S.S, 1998).

karakteristik diferensial dari cacing tambang (Dubini, 1843) Table 2.1.3. Morfologi Ancylostoma duodenale

Ancylostoma duodenale

Panjang : Jantan: 8 – 11 mm ; Betina: 10 – 13 mm

Bentuk: kepala terus ke arah yang sama dengan kelengkungan tubuh Panjang kerongkongan: 1.3 mm, oval pembukaan

Bursa: lebih luas dari panjang, Tulang ekor pada betina: Ada

Pukas: posterior tengah tubuh Table 2.1.3. Morfologi Necator americanus

Necator americanus

Panjang : Jantan: 5 – 9 mm ; Betina: 9 – 11 mm

Bentuk: kepala berlawanan melengkung ke kelengkungan tubuh Panjang kerongkongan: 0.5 – 0.8, pembukaan kecil

Bursa: panjang, lebar dan bulat Tulang ekor pada betina: Tidak ada

Pukas: anterior tengah tubuh

8

Cacing dewasa hidup di rongga usus halus, dengan mulut yang besar melekat pada mukosa dinding usus. Telur dikeluarkan dengan tinja dan setelah menetes dalam waktu 1 hingga 1,5 hari, keluarlah larva rhabditiform. Dalam waktu kira-kira 3 hari larva rhabditiform tumbuh menjadi larva filariform, yang dapat menembus kulit dan dapat hidup selama 7 hingga 8 minggu di tanah. Sebagai daur hidup pada cacing tambang adalah mulai dari telur yang ini akan mengeluarkan larva rhabditiform dan larva ini berubah menjadi larva filariform, setelah itu larva ini akan menembus ke kulit dan memasukkan di kapiler darah, seterusnya berlanjutkan ke paru dengan melalui jantung kanan dan larva ini akan naik ke trakea dan laring, akhirnya menuju ke usus halus. Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit (Margono S.S, 1998). Gejala pada nekatoriasis dan ankilostomiasis terjadi perubahan kulit bila larva filariform menembus kulit akan terdapat ground itch dan juga perubahan pada paru biasanya ringan. Infeksi dari cacing Necator americanus menyebabkan kehilangan darah sebanyak 0,005 – 0,1 cc sehari, sedangkan Ancylostoma duodenale 0,08 – 0,34cc. Biasanya tidak menyababkan kematian tetapi daya tahan berkurang dan prestasi kerja menurun (Margono S.S, 1998).

2.2 Pencemaran sayuran

Sayur-sayuran dapat terkontaminasi dengan bakteri, virus dan parasit

patogen saat panen (karena kurangnya fasilitas sanitasi pekerja atau penyimpanan kapasitas kotor) atau penanganan pasca panen (penanganan, penyimpanan dan transportasi) (HAQ et al, 2014).

Kesadaran akan potensi wabah yang ditularkan melalui makananyang terinfeksi parasite mengalami peningkatan. Untuk alasan ini, pemulihan parasit dari sayuran yang ditemukan untuk menjadi sumber infeksi mungkin hal penting dalam pertimbangan epidemiologi. Konsumsi baku atau matang sayuran memfasilitasi transmisi sejumlah besar infeksi zoonosis (Ebrahimzadeh A et al , 2013)

9

Infeksi parasit sering tidak dianggap sebagai sumber penyakit, terutama ketika gejalanya mirip dengan bakteri atau virus infeksi. Oleh karena itu, dalam banyak kasus parasit penyakit terkait melalui terdiagnosis, yang dapat menyebabkan pelaporan miring pada insiden parasit penyakit. Tergantung pada sistem di berbagai negara melaporkan, akurat perkiraan kejadian tahunan makanan ditanggung penyakit sulit dan kadang-kadang tidak mungkin. Itu prevalensi parasit tertentu dalam persediaan makanan bervariasi antara negara dan wilayah. Tingginya tingkat kontaminasi parasit ini mungkin disebabkan karena kekurangan penanganan higienis dan sanitasi sayuran, kekurangan transportasi dan kemasan sayuran, limbah dan irigasi air yang terkontaminasi dan mencuci dan lainnya kondisi budidaya (HAQ et al, 2014).

Kontaminasi sayuran oleh telur nematoda usus diduga berasal dari air penyiram yang digunakan oleh para petani perkebunan sayur untuk menyiram sayuran, karena air penyiram berasal dari kolam yang juga dipergunakan untuk buang air besar oleh masyarakat sekitar. Setelah sayuran dipanen, keesokan harinya kemudian diangkut menuju kota/pasar untuk dijual, supaya tidak layu, sayuran disiram dengan air selokan ataupun air sungai yang berada ditempat terdekat dengan perkebunan sayur tersebut. Air selokan atau air sungai yang digunakan dikhawatirkan mengandung telur nematoda usus sehingga dapat mengkontaminasi sayuran pada saat proses penyiraman dan menempel pada sayur-sayuran (Suryani D, 2012).

Masyarakat di sekitar perkebunan masih banyak yang melakukan aktivitas buang air besar di jamban yang berada di kolam-kolam yang terdapat dekat dengan area perkebunan sayur-sayuran. Kolam-kolam yang digunakan sebagai wadah penampungan tinja yang berasal dari masyarakat sekitar tersebut terdapat saluran air yang mengalir menuju parit atau sungai. Oleh karena itu, jika terdapat orang yang terinfeksi cacingan maka telur cacing yang berada pada kolam tersebut dapat mengalir menuju sungai sehingga dapat mencemari air sungai. Apabila air sungai tersebut digunakan untuk mencuci dan menyiram

10

sayur-sayuran setelah dipanen dikhawatirkan telur nematoda usus dapat menempel pada sayuran (Suryani D, 2012).

2.3Jenis sayuran (lalapan)

Makanan mentah berarti makan yang belum diproses, organik, mentah,

seluruh makanan, seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, rumput laut, kacang-kacangan, biji-bijian, buah-buahan kering dan lain-lain, kenyataan bahwa memasak pada waktu menghilangkan rasa dan gizi dari sayuran dan buah-buahan (easygreenliving.org).

Pola makan ini dipercaya menyehatkan tubuh karena didalam buah dan

sayur mentah masih terdapat enzim yang baik bagi tubuh. Selain itu, dalam makanan mentah terdapat zat-zat yang tidak tahan panas yang akan rusak jika diolah, terlebih jika dipanaskan. Pemberian raw food terbukti dapat membantu menormalkan kembali kerja sistem kontrol usus pada hewan percobaan, bahkan manfaat peningkatan fungsi kekebalan tersebut juga terjadi pada bagian tubuh lainnya (Octavia S.Y, 2014).

Raw food merupakan makan alami yang mudah diperoleh dan telah

dikenal akrab oleh tubuh manusia. Penyakit-penyakit yang kita takuti, termasuk kanker, hampir selalu dipicu atau dipengaruhi oleh makanan kita (Sung-Joo 274). namun perlu yang diperhatikan dalam mengkonsumsi makanan mentah adalah kebersihan dan kesegaran dari makanan tersebut, karena jika tidak diperhatikan bukannya menjadi makanan yang baik bagi tubuh, justru membuat sakit perut atau diare.( Octavia Santosa Y)

sayur yang bisa dimakan dalam keadaan mentah ( Farida I, 2010)

1. Bawang putih. 2. Brokoli dan kol. 3. Tomat.

11 5. Cabai merah. 6. Wortel. 7. Selada. 8. Bawang bombai. 9. Paprika.

10.Selada sir dan salada biatik. 11.Kacang panjang.

12.Terong belanda. 13.Seledri.

14.Daun kemangi.

2.4Pasar

Pasar adalah sarana bagi pengecer atau peritel dalam melakukan seluruh

aktivitasnya yang berhubungan antara lain dengan penawaran, penjualan barang dan jasanya kepada konsumen akhir. Pasar adalah tempat bertemunya pihak penjualan dan pihak pembeli untuk melaksanakan transaksi dimana proses jual beli terbentuk, yang menurut kelas mutu pelayanan dapat digolongkan menjadi Pasar Tradisional dan Pasar Modern, dan menurut sifat pendistribusiannya dapat digolongkan menjadi Pasar Eceran dan Pasar Perkulakan atau Grosir (Rufaidah P, 2008)

Keberadaan pasar tradisional dan pasar modern sudah menjadi bagian yang tidak terlepaskan dalam kehidupan masyarakat perkotaan. Beberapa pendapat mengungkapkan bahwa dengan semakin berkembangnya pasar modern, mengakibatkan pasar tradisional menjadi semakin terpinggirkan keberadaannya. Pasar tradisional memiliki potensi sebagai ikon daerah akan tetapi, dengan semakin berkembangnya pasar modern, pasar tradisional menjadi semakin terpinggirkan keberadaannya. Hal ini diperparah oleh kondisi pasar tradisional yang tidak tertata dengan baik, misalnya banyak terdapat pasar

12

tumpah yang menjalar di sekeliling pasar, dan banyaknya tumpukan sampah yang berserakan ( Andriani MN dan Ali MM, 2013).

Pasar sebagai perusahaan daerah digolongkan menurut beberapa hal, yakni menurut jenis kegiatannya, menurut lokasi dan kemampuan pelayanannya, menurut waktu kegiatannya,dan menurut status kepemilikannya (Oktavina G, 2012)

1) Menurut jenis kegiatannya, pasar digolongkan menjadi tiga jenis: pasar eceran, pasar grosir, dan pasar induk.

2) Menurut lokasi dan kemampuan pelayanannya, pasar digolongkan menjadi lima jenis: pasar regional, pasar kota, pasar wilayah (distrik), pasar lingkungan, dan pasar khusus,

3) Menurut waktu kegiatannya, pasar digolongkan menjadi empat jenis: a. Pasar siang hari, yang beroperasi dari pukul 04.00‐16.00.

b. Pasar malam hari, yang beroperasi dari pukul 16.00‐04.00. c. Pasar siang malam, yang beroperasi 24 jam nonstop.

d. Pasar darurat, yaitu pasar yang menggunakan jalanan umum atau tempat umum tertentu atas penetapan Kepala Daerah dan ditiadakan pada saat peringatan hari‐hari tertentu. Contohnya: Pasar Maulud, Pasar Murah Idulfitri, dan sebagainya.

2.4.1. Pasar tradisional

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta

ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar (Burhanudin A, 2011)

13

Pasar tradisional merupakan pasar yang memiliki keunggulan bersaing alamiah yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern. Lokasi yang strategis, area penjualan yang luas, keragaman barang yang lengkap, harga yang rendah, sistem tawar menawar yang menunjukkan keakraban antara penjual dan pembeli merupakan keunggulan yang dimiliki oleh pasar tradisional. Kelebihan yang dimiliki pasar tradisional ternyata tidak didukung oleh pihak pemerintah, salah satunya terlihat pemerintah lebih membanggakan adanya pasar modern dari pada pasar tradisional, yang itu dilakukan dengan cara “mengusir” satu per

satu pasar tradisional dengan cara dipindahkan dari tempat yang layak ke tempat yang jauh dan kurang refresentatif. Pasar tradisional juga memiliki kelemahan, yang paling urgen ialah pada kumuh dan kotornya lokasi pasar. Bukan hanya itu saja, banyaknya produk yang banyak didagangkan oleh oknum pasar tradisional dengan mendagangkan barang yang menggunakan bahan kimia dan itu marak di pasar tradisional. Pengemasan pasar juga membuat kurang diliriknya pasar tradisional, bahkan mungkin makin hari bukan malah makin bagus akan tetapi malah makin buruk kondisinya (Burhanudin A, 2011).

Beberapa pasar tradisional di Kota Medan: (Karuppiah G, 2010)

a. Pusat Pasar merupakan salah satu pasar tradisional tua di Medan yang sudah ada sejak zaman kolonial. Menyediakan beragam kebutuhan pokok dan sayur mayur.

b. Pasar Petisah menjadi acuan berbelanja yang murah dan berkualitas. c. Pasar Beruang yang terletak di Jalan Beruang.

d. Pasar Simpang Limun merupakan salah satu pasar tradisonal yang cukup tua dan menjadi trade mark Kota Medan. Terletak di persimpangan Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Sakti Lubis.

e. Pasar Ramai yang terletak di Jalan Thamrin yang bersebelahan dengan Thamrin Plaza.

14

f. Pasar Simpang Melati merupakan pasar yang terkenal sebagai tempat perdagangan pakaian bekas dan menjadi lokasi favorit baru para pemburu pakaian bekas setelah Pasar Simalingkar dan Jalan Pancing.

2.4.2. Pasar modern

Pasar modern tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun pasar

jenis ini penjual dan pembeli tidak bertransakasi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual, selain bahan makanan makanan seperti; buah, sayuran, daging; sebagian besar barang lainnya yang dijual adalah barang yang dapat bertahan lama (Burhanudin A, 2011).

Kelebihan pasar modern dibanding pasar tradisional cukup jelas, mereka memiliki banyak keunggulan yakni nyaman, bersih serta terjamin. itu membuat para konsumen mau membeli ke pasar modern. Tersedianya AC, bersih, kenyamanan dan mempunyai gengsi yang tinggi menjadi andalan dari pasar modern, dan hal itu tidak dimiliki oleh pasar tradisional. Bahkan tidak ada kelemahan dari pasar modern ini, dengan modal yang cukup besar mereka bisa melakukan apa saja untuk makin mempercantik penampilannya (Burhanudin A, 2011).

Beberapa pasar modern di Kota Medan (Karuppiah G, 2010): a. Brastagi plaza

b. Hypermarket c. Swalayan d. Carrefour e. Supermarket

Terdapat pengelompokan dan jenis barang di pasar menurut kebersihan, yaitu (Karuppiah G, 2010):

a. Kelompok bersih (kelompok jasa, kelompok warung, toko). b. Kelompok kotor, tidak bau (kelompok hasil bumi, buah-buahan).

15

c. Kelompok kotor dan berbau (kelompok sayur dan bumbu). d. Kelompok kotor, bau, basah (kelompok kelapa).

e. Kelompok bau, basah, kotor, dan busuk (kelompok ikan basah dan daging).

Biasanya kelompok bersih diletakan di depan dan kelompok kotor, bau, basah, dan busuk di belakang. Pengelompokan ini bertujuan agar tidak tercampur baur dan juga agar pembeli tidak kebingungan mencari barang. Salah satu hal yang paling mendasar yang membedakan antara pasar tradisional dan modern adalah transaksi yang dilakukan dimana pelakunya antara orang per orang. Dan barang yang biasa diperjualbelikan adalah barang kebutuhan pokok (Karuppiah G, 2010).

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Cacing tanah adalah kelompok parasit cacing nematoda yang menyebabkan infeksi pada manusia melalui kontak dengan telur parasit atau larva yang berkembang dalam keadaan hangat dan tanah yang lembab pada negara tropis dan subtropis negara. Cacing dewasa soil transmitted hidup bertahun-tahun di saluran pencernaan manusia. Lebih Banyak dari satu miliar orang terinfeksi setidaknya satu spesies (Bethony J, 2006).

Strategi berupa penderita yang terinfeksi lebih dari satu spesies cacing usus seperti Ascaris lumbricoides,Trichuris trichiura dan cacing tambang (Ancylostoma

duodenale dan Necator americanus). Cacing Ascariasis dapat mengakibatkan malnutrisi

protein pada manusia. Sebanyak lebih kurang 4 gram protein dari diet yang mengandung 35-50 gram protein per hari dapat hilang pada anak-anak yang diinfeksi 13-14 cacing dewasa. Selain itu, infeksi Trichuris trichiura dapat menyebabkan anemia, malnutrisi dan diare pada anak-anak dengan infeksi yang lebih berat. Telur Ascaris dapat berkembang pada daerah tanah liat, yang merupakan tempat yang baik untuk perkembangan telur dan tetap infektif di sekitar genangan air karena terhindar dari kekeringan. Pada musim hujan atau bila terkena hujan, air bercampur dengan tanah menyebar ke tanaman sayuran atau buah-buahan yang selanjutnya ikut termakan atau beterbangan di udara dan akan mencemari lingkungan. Biasanya infeksi ini lebih sering yang terdapat pada anak-anak terutama umur 5-9 tahun dibandingkan dengan orang dewasa. Faktor lain yang berperan adalah pengetahuan, sikap, dan perilaku sehat masyarakat terhadap infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) (Sofiana L, 2010). STH dapat menurunkan kondisi kesehatan, gizi dan produktivitas penderita sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan kerugian, karena adanya kehilangan

2

karbohidrat, protein dan darah yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia. Pada anak-anak dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang dan penurunan konsentrasi dalam belajar sehingga akan mempengaruhi peran anak sebagai penerus bangsa. Rendahnya tingkat sanitasi pribadi mempengaruhi angka kejadian penyakit ini, seperti tidak mencuci tangan sebelum makan dan setelah BAB, tidak menjaga kebersihan dan memotong kuku. Faktor lain yang mempengaruhi angka kejadian penyakit kecacingan adalah lingkungan yang mendukong untuk perkembangan STH yaitu kondisi tanah yang gembur dan lembab (Asihka V, 2014).

Pada tahun 2012, cakupan global kecacingan sekitar 32.6%. Pengendalian infeksi STH didasarkan pada terapi obat periodik (cacingan), pendidikan kesehatan dan meningkatkan sanitasi. Pengobatan periodik, tanpa diagnosis individu sebelumnya semua berisiko, terutama prasekolah dan usia sekolah anak-anak yang tinggal di daerah endemik yang direkomendasikan oleh WHO. Targetnya adalah untuk menghilangkan morbiditas karena STH pada anak-anak pada tahun 2020 (Emovon O et al, 2014). Kontaminasi cacingan dapat terjadi terutama pada sayuran yang menjalar di permukaan tanah atau ketinggiaannya dekat dengan tanah. Kebiasaan makan sayuran mentah ini, sudah mentradisi di suku-suku tertentu di Indonesia sehingga kelihatannya sulit diubah. Namun, dari segi keamanannya, lalapan mentah beresiko terkontaminasi pestisida atau telur cacingan. Selain itu para petani seringkali menggunakan pupuk organik berupa humus atau kotoran ternak (bahkan kotoran manusia) untuk meningkatkan kesuburan tanah (Jusuf A, 2013).

1.2.Perumusan Masalah

Berdasarkan diatas maka dilakukan penelitiqn untuk mengetahui berapa besar kontaminasi pada Soil Transmitted Helminths (STH) pada sayuran?

3

1.3.Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui perbandingan pencemaran Soil Transmitted Helminth (STH) pada sayuran di pasar tradisional dan pasar modern di kota medan.

1.3.2. Tujuan Khusus

a) Mengidentifikasi jenis telur cacing yang mencemari sayuran di pasar modern

Dokumen terkait