• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

II. 1.2 Komunikasi Massa

II.1.2.1 Definisi Komunikasi Massa

Banyak definisi tentang komunikasi massa yang telah dikemukakan para ahli komunikasi. Banyak ragam dan titik tekan yang dikemukakannya. Tetapi, dari sekian banyak definisi itu ada benang merah kesamaan definisi satu sama lain. Pada dasarnya komunikasi adalah komunikasi massa melalui media massa (media cetak dan elektronik). Sebab, awal perkembangannya saja, komunikasi massa berasal dari pengembangan kata media of mass communication (media komunikasi massa), yaitu media massa (atau saluran) yang dihasilkan oleh teknologi modern. Hal ini perlu ditekankan sebab ada media yang bukan media massa yakni media tradisional seperti kentongan , angklung, gamelan dan lain-lain. Jadi di sini jelas media massa menunjuk pada hasil produk teknologi modern sebagai saluran dalam komunikasi massa.

Massa dalam arti komunikasi massa lebih menunjuk pada penerima pesan yang berkaitan dengan media massa. Dengan kata lain, massa dalam sikap dan perilakunya berkaitan dengan peran media massa. Oleh karena itu, massa di sini menunjuk kepada khalayak , audience, penonton, pemirsa atau pembaca. Beberapa istilah ini berkaitan dengan media massa.

Ada satu definisi komunikasi massa yang dikemukakan Michael W. Gamble dan Teri Kwal Gamble (1986) akan semakin memperjelas apa itu komunikasi massa. Menurut mereka sesuatu bisa didefinisikan sebagai komunikasi massa jika mencakup ;

1. Komunikator dalam komunikasi massa mengandalkan perlatan modern untuk menyebarkan atau memancarkan pesan secara cepat kepada khalayak yang luas dan tersebar. Pesan itu disebarkan melalui media modern pula antara lain surat kabar, majalah, televisi, film atau gabungan diantara media tersebut.

2. Komunikator dalam komunikasi massa dalam menyebarkan pesan-pesannya bermaksud mencoba berbagi pengertian dengan jutaan orang yang tidak saling kenal atau mengetahui satu sama lain. Anonimitas audience dalam komunikasi massa inilah yang membedakan pula dengan jenis komunikasi yang lain. Bahkan pengirim dan penerima pesan tidak saling mengenal satu sama lain.

3. Pesan adalah publik. Artinya bahwa pesan ini bisa didapatkan dan diterima oleh banyak orang. Karena itu, diartikan milik publik.

4. Sebagai sumber, komunikator massa biasanya organisasi formal seperti jaringan, ikatan atau perkumpulan. Dengan kata lain, komunikatornya tidak berasal dari seseorang, tetapi lembaga. Lembaga ini pun biasanya berorientasi pada keuntungan bukan organisasi suka rela atau nirlaba. 5. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper (pentapis informasi).

Artinya, pesan-pesan yang disebarkan atau dipancarkan dokontrol oleh sejumlah individu dalam lembaga tersebut sebelum disiarkan lewat media

massa. Ini berbeda dengan komunikasi antar pribadi, kelompok atau publik dimana yang mengkontrol tidak sejumlah individu. Beberapa individu dalam komunikasi massa itu ikut berperan dalam membatasi, memperluas pesan yang disiarkan. Contohnya adalah seorang reporter, editor film, penjaga rublik dan lembaga sensor lain dalam media itu bisa berfungsi sebagai gatekeeper.

6. Umpan balik dalam komunikasi massa sifatnya tertunda. Kalau dalam komunikasi jenis lain, umpan balik bisa bersifat langsung. Misalnya, dalam komunikasi antar persona. Dalam komunikasi ini umpan balik langsung dilakukan, tetapi komunikasi yang dilakukan lewat surat kabar tidak bisa langsung alias tertunda (delayed).

Dengan demikian, media massa adalah alat-alat dalam komunikasi massa yang bisa menyebarkan pesan secara serempak, cepat kepada audience yang luas dan heterogen. Kelebihan media massa dibanding dengan jenis komunikasi lain adalah ia bisa mengatasi hambatan ruang dan waktu. Bahkan media massa mampu menyebarkan pesan hampir seketika pada waktu yang tak terbatas.

Alaxis S. Tan (1981) mencoba untuk memberikan sifat khusus yang dipunyai oleh komunikasi massa. Ia memberikan ciri komunikasi massa dengan membandingkannya dengan interpersonal communication. “Jika kita bisa membedakan komunikasi massa dengan interpersonal communication kita akan mengetahui apa itu komunikasi massa,” katanya.

Definisi lain pernah dikemukakan oleh Joseph A.Devito yakni, “ Pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak komunikasi yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak

meliputi seluruh penduduk atau semua orang membaca atau semua orang yang menonton televisi, agaknya ini tidak berartipula bahwa khalayak itu besar dan pada umumnya agak sukar untuk didefinisikan. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio dan atau visual. Komunikasi massa barang kali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya;televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku dan pita. II.1.2.2 Ruang Lingkup Komunikasi Massa

Ada beberapa bentuk atau pola komunikasi yang kita kenal antara lain, komunikasi dengan diri sendiri (intrapersonal communication), komunikasi anrat persona (interpersonal communication), komunikasi kelompok (small group communication) dan komunikasi massa (mass communication). Jadi komunikasi massa itu kedudukannya sejajar dengan pola komunikasi yang lain.

Secara ringkas, komunikasi itu melibatkan komunikator sebagai pengampai pesan dan komunikan sebagai penerimanya. Kemudian dua unsur itu dikembangkan lebih lanjut dengan melibatkan saluran (channel), umpan balik (feedback). Perbedaan unsur-unsur yang ada dalam komunikasi ini sangat tergantung pola komunikasi mana yang sedang dibahas.

Dalam komunikasi dengan diri sendiri misalnya, ia hanya membutuhkan unsur komunikator (dirinya sendiri), pesan (dari dirinya sendiri) dan komunikan (dirinya sendiri pula). Dalam komunikasi antar pesona lebih kompleks lagi, misalnya ada noise (kegaduhan), komunikator juga bertindak sebagai komunikan dan sebaliknya. Dalam komunikasi massa lebih kompleks lagi. Ia melibatkan banyak hal. Mulai dari komunikator, komunikan, medeia massa (dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing), unsur proses menafsirkan pesan

(decoder), feedback yang lebih kompleks karena melibatkan khalayak dalam jumlah besar.

Misalnya kita membayangkan televisi. Dalam televisi ada komunikator yakni televisi itu sendiri. Komunikator di sini tidak hanya satu orang sebab yang namanya televisi itu kumpulan dari banyak unsur. Kemudian ada pesan yang beragam yang dipengaruhi oleh beberapa pihak misalnya wartawan, editor kameraman dan lain-lain. Ketika pesan itu disebarkan ia juga akan sangat terkait dengan banyak hal pula. Apakah gambarnya jelas? Apakah stasiun televisinya tidak dalam keadaan rusak? Apakah suaranya juga jernih terdengar dan lain-lain. Semuanya ini akan sangat mempengaruhi proses penerimaan pesan seseorang. Antar satu orang dengan orang yang lain juga berbeda proses penangkapannya. Misalnya, mereka yang berpendidikan menengah dengan pendidikan tinggi, jelas akan mempunyai perbedaan yang signifikan. Sama-sama menikmati acara film kartun, apa yang ditangkap oleh orang tua dengan anak-anak berbeda. Artinya pesan yang direncanakan oleh komunikator (yakni televisi tersebut) tidak semudah ditangkap 100 persen oleh masing-masing penonton. Artinya, pesan yang disebarkan pada masing-masing pola komunikasi itu berbeda satu sama lain. II.1.2.3 Ciri-ciri Komunikasi Massa

A. Komunikator dalam Komunikasi Massa Melembaga

Komunikator dalam komunikasi massa itu bukan satu orang, tetapi kumpulan orang-orang. Artinya, gabungan antar berbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga. Lembaga yang dimaksud di sini meyerupai sebuah sistem. Sebagaimana kita ketahui, sistem itu adalah “Sekelompok orang, pedoman dan media yang melakukan suatu kegiatan

mengolah, meyimpan, menuangkan ide, gagasan, simbol, lambang menjadi pesan dalam membuat keputusan untuk mencapai satu kesepakatan dan saling pengertian satu sama lain dengan mengolah pesan itu menjadi sumber informasi”.

Di dalam sebuah sistem ada interdepedensi, artinya komponen-komponen itu saling berkaitan, berinteraksi dan berinterdepedensi secara keseluruhan. Tidak bekerjanya satu sama lain unsur akan mempengaruhi kinerja unsur-unsur yang lain. Eksistensi kesatuan (totalitas) itu dipengaruhi oleh komponen-komponenya, sebaliknya eksistensi masing-masing komponen itu dipengaruhi oleh kesatuannya. Dengan demikian – dalam sistem sebagai sebuah lembaga dalam komunikasi massa itu – ada beberapa unsur yang membuat sesuatu itu akhirnya disebut sebagai lembaga. Sedang antara unsur dalam lembaga itu ada kerjasama satu sama lain. Tidak bekerjanya satu unsur akan menyebabkan tidak bekerjanya unsur yang lain. Oleh karena itu, berbagai unsur itu saling melengkapi, bekerjasama satu sama lain sehingga sempurnalah sesuatu itu dikatajan sebagai lembaga.

Di dalam komunikasi massa, yang namanya komunikator itu media massa itu sendiri. Itu artinya, komunikatornya bukan orang per orang seperti seorang wartawan misalnya. Wartawan adalah salah satu bagian dari sebuah lembaga. Wartawan sendiri bukan seorang komunikator dalam komunikasi massa. Ia adalah seorang yang sudah terinstitusikan/dilembagakan (institutionalised person). Artinya, berbagai sikap dan perilaku wartawan sudah diatur dan harus tunduk pada sistem yang sudah diciptakan dalam saluran komunikasi massa tersebut.

Menurut Alexis S. Tan (1981) komunikator dalam komunikasi massa adalah organisasi sosial yang mampu memproduksi pesan dan mengirimkannya

secara serempak, ke sejumlah khalayak yang banyak dan terpisah. Komunikator dalam komunikasi massa biasanya adalah media massa (surat kabar, jaringan televisi, stasiun radio, majalah atau penerbit buku). Media massa ini bisa disebut organisasi sosial karena merupakan kumpulan beberapa individu yang bertanggung-jawab dalam proses komunikasi massa tersebut.

Komunikator dalam komunikasi massa itu lembaga disebabkan elemen utama komunikasi massa itu adalah media massa. Media massa hanya bisa muncul karena gabungan kerjasama dengan beberapa orang. Hal demikian berbeda dengan bentuk komunikasi yang lain. Misalnya komunikasi antar pribadi. Orang terlibat dalam komunikasi ini punya inisiatif sendiri ketika mengadakan komunikasi tanpa aturan tertentu seperti yang disyaratkan dalam komunikasi massa.

Dengan demikian, komunikator dalam komunikasi massa setidak-tidaknya punya ciri sebagai berikut; 1) kumpulan individu-individu, 2) dalam komunikasi individu-individu itu terbatasi perannya dengan sistem dalam media masa, 3) pesan yang disebarkan atas nama media yang bersangkutan dan bukan atas nama pribadi unsur-unsur yang terlibat, 4) apa yang dikemukakan oleh komunikator biasanya untuk mencapai keuntungan atau mendapatkan laba secara ekonomis.

B. Komunikan dalam Komunikasi Massa Bersifat Heterogen

Untuk memetakan secara jelas mengapa komunikan dalam komunikasi massa itu heterogen bisa dimulai dengan menjadi pertanyaan sebagai berikut; siapa penonton televisi, siapa pembaca surat kabar, siapa pendengar radio dan siapa pengguna internet?.

Herbert Blumer pernah memberikan ciri tentang karakteristik audience/komunikan sebagai berikut;

1. Audience dalam komunikasi massa sangatlah heterogen. Artinya, ia mempunyai heterogenitas komposisi atau susunan. Jika ditinjau dari asalnya, mereka berasal dari berbagai kelompok dalam masyarakat. 2. Berisi individu-individu yang tidak tahu atau mengenal satu sama lain.

Disamping itu, antar individu itu tidak berinteraksi satu sama lain secara langsung.

3. Mereka tidak mempunyai kepempimpinan atau organisasi formal.

Jadi semakin jelas sifat heterogen yang melekat pada diri komunikan. Dari karakteristik Blumer tersebut ada beberapa hal yang perlu dijelaskan. Misalnya kita bertanya, bagaimana mungkin antar keluarga yang berlainan kota, pada saat acara tertentu sama-sama melihat televisi tidak saling mengenal tidak saling mengenal? Tidak mengenal di sini tidak berarti diartikan khusus. Memang, satu atau dua kasus antar diri komunikan dalam komunikasi massa itu mengenal. Jadi karakteristik ini harus dipahami secara luas bukan sempit.

C. Pesannya Bersifat Umum

Pesan-pesan dalam komunikasi masa itu tidak ditujukan kepada satu orang atau satu kelompok masyarakat tertentu. Dengan kata lain, pesan-pesannya ditujuka n pada khalayak yang plural. Oleh karena itu, pesan-pesan yang dikemukakannya pun tidak boleh bersifat khusus. Khusus di sini, artinya pesan itu memang tidak disengaja untuk golongan tertentu.

Kita bisa melihat televisi misalnya. Karena televisi itu ditujukan dan untuk dinikmati oleh orang banyak, maka pesannya harus bersifat umum.

Misalnya dalam pilihan kata-katanya, sebisa mungkin memakai kata-kata populer bukan kata-kata ilmiah. Sebab, kata ilmiah itu monopoli kelompok tertentu. D. Komunikasinya Berlangsung Satu Arah

Ketika Anda membaca koran maka komunikasi yang berlangsung hanya satu arah, yakni dari media massa (koran) ke Anda dan tidak sebaliknya. Ini sangat berbeda sekali ketika kita melakukan komunikasi tatap muka. Dalam diskusi tentang Aa’ Gym misalnya dengan teman sekelas, saat itu terjadi komunikasi dua arah, dari kita ke teman dan sebaliknya. Bahkan jika kita tidak suka atau tidak setuju dengan pendapat teman kita tadi kita langsung bisa membantahnya. Ini namanya komunikasi dua arah.

Dalam media cetak seperti koran, komunikasi hanya berjalan satu arah. Kita tidak bisa langsung memberikan respon kepada komunikatornya (media massa yang bersangkutan). Kalaupun bisa, sifatnya tertunda. Misalnya, kita mengirimkan ketidaksetujuan pada berita itu melalui rubluik surat pembaca. Jadi, komunikasi yang hanya berjalan satu arah itu akan memberi konsekuensi umpan balik (feedback) yang sifatnya tertunda atau tidak langsung (delayed feedback). E. Komunikasi Massa Menimbulkan Keserempakan

Dalam komunikasi massa itu ada keserempakan dalam proses penyebaran pesan-pesannya. Serempak di sini berarti khalayak bisa menikmati media massa tersebut hampir bersamaan. Tentunya bersamaan ini juga sifatnya relatif. Majalah atau media sebagai contohnya. Bisa jadi surat kabar bisa dibaca di tempat terbit jam 5 pagi, tetapi di luar kota baru jam 6 pagi. Ini masalah teknis semata. Tetapi, harapan komunikator dalam komunikasi massa, pesan itu tetap ingin dinikmati secara bersamaan oleh para pembacanya. Tak terkecuali bahwa pesan itu (lewat

surat kabar) disebar (didistribusikan) oleh media cetak tersebut secara bersamaan pula. Hanya karena wilayah jangkauannya saja yang berbeda memungkinkan perbedaan penerimaan. Tetapi, komunikator dalam media massa itu berupaya menyiarkan informasinya secara serentak.

Saat ini, kesulitan tersebut sudah bisa diatasi. Dengan memakai Sistem Cetak Jarak Jauh (SCJJ), kekurangan yang melekat pada media massa cetak itusudah bisa diatasi. Banyak media cetak di Indonesia yang cetaknya di luar kota. Sebut misalnya, Jawa Pos melakukan cetak jarak jauh di Solo, Jakarta dan di daerah Nganjuk. Kompas melakukan cetak jarak jauh untuk wilayah Jawa Tengah di Bawen dan untuk penyebaran di Jawa Timur di kota Surabaya.

F. Komunikasi Massa Mengandalkan Peralatan Teknis

Media massa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan kepada khalayaknya sangat membutuhkan bantuan peralatan teknis. Peralatan teknis yang dimaksud misalnya pemancar untuk media elektronik (mekanik atau elektronik). Televisi disebut media massa yang kita bayangkan saat ini tidak akan lepas dari pemancar. Apalagi dewasa ini sudah terjadi revolusi komunikasi massa dengan perantaraan satelit. Peran satelit akan memudahkan proses pemancaran pesan yang dilakukan media elektronika seperti televisi. Bahkan, saat sekarang sudah sering televisi melakukan siaran langsung(live), dan bukan siaran yang direkam (recorded).

Radio juga sangat membutuhkan stasiun pemancar atau relay. Pemancar ini adalah peralatan teknis yang dibutuhkan radio. Di dalam media surat kabar, dengan SCJJ, peran satelit juga tidak bisa dianggap enteng. SCJJ tidak akan terlaksana tanpa bantuan peralatan teknis seperti halnya satelit tersebut. Meskipun

ada peralatan teknis lain yang sifatnya lebih sederhana seperti mesin cetak. Untuk saat sekarang, peralatan teknis semakin kompleks seperti yang dipunyai oleh jaringan internet. Dalam jaringan internet disamping dibutuhkan data sebagai bahan dalam internet dibutuhkan perangkat komputer, telepon, modem dan jaringan satelit untuk memudahkan pengiriman pesan-pesannya. Peralatan teknis adalah sebuah keniscayaan yang sangat dibutuhkan media massa. Tak lain agar proses pemancaran atau penyebaran pesannya bisa lebih cepat dan serentak kepada khalayak yang tersebar.

G. Komunikasi Massa Dikontrol oleh Gatekeeper

Gatekeeper atau yang sering disebut pentapis informasi/palang pintu/penjaga gawang, adalah orang yang sangat berperan dalam penyebaran informasi melalui media massa. Gatekeeper ini berfungsi sebagai orang yang ikut menambah atau mengurangi, menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami.

Sebagaimana kita ketahui, bahan-bahan, peristiwa atau data yang menjadi bahan mentah pesan yang akan disiarkan media massa itu beragam dan sangat banyak. Tentu, tidak semua bahan-bahan tersebut bisa dimunculkan. Di sinilah perlu ada pemilahan, pemulihan dan penyesuaian dengan media yang bersangkutan. Misalnya, televisi sangat berkepentingan untuk melihat gerak isyarat dari para kandidat calaon presiden ketika melakukan kampanye. Maka televisi perlu mengambil gambar yang dianggap unik itu. Sementara pihak media cetak hanya bisa menceritakannya, atau didukung oleh foto, tetapi tidak semua bisa diambil. Media cetak perlu memilih mana gerak isyarat yang paling menarik. Perbedaan demikian, akan mempengaruhi pesan-pesan yang disebarkan.

Gatekeeper yang dimaksud antara lain reporter, editor film/surat kabar/buku, manajer pemberitaan, penjaga rublik, kameraman, sutradara dan lembaga sensor film yang semuanya mempengaruhi bahan-bahan yang akan dikemas dalam sebuah pesan-pesan dari media massa masing-masing.

Gatekeeper ini juga berfungsi untuk menginterpretasikan pesan, menganalisis, menambah data dan mengurangi pesan-pesannya. Intinya, adalah pihak yang ikut menentukan pengemasan sebuah pesan dari media massa. Semakin kompleks sistem media yang dipunyai semakin banyak pula gatekeeping (pemalangan ointu atau pentapisan informasi) yang dilakukan. Bahkan bisa dikatakan, gatekeeper sangat menentukan berkualitas tidaknya informasi yang akan disebarkan. Baik buruknya dampak pesan yang disebarkan pun tergantung pada fungsi pentapisan informasi atau pemalangan pintu ini.

Dalam pola komunikasi tatap muka atau komunikai kelompok jelas tidak harus dibutuhkan gatekeeper. Tetapi, dalam komunikasi massa, hal demikian tidak bisa dihindari. Gatekeeper keberadaannya sama pentingnya dengan peralatan mekanis yang harus dipunyai media dalam komunikasi massa. Oleh karena itu, gatekeeper menjadi keniscayaan keberadaannya dalam media massa dan menjadi salah satu cirinya.

II.1.2.4 Fungsi Komunikasi Massa

Fungsi-fungsi komunikasi massa menurut Jay Black dan Frederick C. Whitney (1988) antara lain; (1) to inform (menginformasikan), (2) to entertain (memberi hiburan), (3) to persuede (membujuk), dan (4) the transmission of culture (transmisi budaya). Sedangkan fungsi komunikasi menurut John Vivian dalam bukunya The Media of Mass Communication (1991) disebutkan; (1)

providing information, (2) providing entertainment, (3) helping to persuede, dan (4) contributing to social cohesion (mendorong kohesi sosial).

Ada pula fungsi komunikasi massa yang pernah dikemukakan oleh Harold D. Lasswell yakni, (1) surveilance of the environment (fungsi pengawasan), (2) correlation of the part of society in responding to the environment (fungsi korelasi), dan (3) transmission of the social heritage from one generation to the next (fungsi pewarisan sosial). Sama seperti pendapat Lasswell, Charles Robert Wright (1988) menambah fungsi entertainment (hiburan) dalam fungsi komunikasi massa.

Sedangkan menurut Alexis S. Tan fungsi-fungsi komunikasi bisa beroperasi dalam 4 (empat) hal. Meskipun secara eksplisit ia tidak mengatakan fungsi –fungsi komunikasi massa, tetapi ketika ia menyebut bahwa penerima pesan dalam komunikasi bisa kumpulan orang-orang (a group of person) atau ia menyebutnya mass audience, sedangkan pengirim pesan atau komunikatornya termasuk kelompok orang atau media massa, maka itu sudah bisa dijadikan bukti bahwa fungsi yang dimaksud adalah fungsi komunikasi massa. Paling tidak ia bisa dilihat dari ciri komunikator dan audience-nya.

Untuk memperjelas fungsi-fungsi yang disodorkannya, Alexix S. Tan menyederhanakan dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 3

FUNGSI KOMUNIKASI MASSA ALEXIS S. TAN

NO TUJUAN

KOMUNIKATOR (Penjaga Sistem)

TUJUAN KOMUNIKAN (Menyesuaikan diri pada sistem;

pemuasan kebutuhan) 1 2 3 4 Memberi informasi Mendidik Mempersuasi Menyenangkan; memuaskan kebutuhan komunikasi

Mempelajari ancaman dan peluang; memahami lingkungan; menguji kenyataan; meraih keputusan.

Memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang berguna memfungsikandirinya secara efektif dalam masyarakatnya; mempelajari nilai, tingkah laku yang cocok agar diterima dalam masyarakatnya.

Memberi keputusan; mengadopsi nilai, tingkah laku dan aturan yang cocok agar ditemia dalam masyarakatnya.

Menggembirakan; meengendorkan urat syaraf, menghibur, mengalihkan perhatian dari masalah yang dihadapi.

(Sumber: Alexix S. Tan 1981)

1. Informasi

Fungsi informasi adalah fungsi yang paling penting yang terdapat dalam komunikasi massa. Komponen paling penting untuk mengetahui fungsi informasi ini adalah berita-berita yang disajikan. Iklan pun dalam beberapa hal punya fungsi memberikan informasi disamping juga fungsi-fungsi yang lain.

Fakta-fakta yang dicari oleh wartawan di lapangan kemudian dituangkan dalam tulisan juga tak terkecuali sebagai informasi. Fakta yang dimaksud adalah ada kejadian yang benar-nenar terjadi di masyarakat, dalam istilah jurnalistik, fakta-fakta itu biasa diringkas dalam istilah 5 W + 1 H (What, Where, Who,

When, Why + How). Serangkaian pertanyaan tersebut diatas merupakan fakta di lapangan yang bisa menjadi informasi yang dibutuhkan pembaca suatu surat kabar.

2. Hiburan

Fungsi hiburan bagi sebuah media elektronikmenduduki posisi yang paling tinggi dibanding dengan fungsi-fungsi yang lain. Masalahnya masyarakat kita memang masih menjadikan televisi sebagai media hiburan. Dalam sebuah keluarga, televisi bisa sebagai perekat keintiman keluarga itu. Misalnya, suami dan istri kerja seharian, anak sekolah. Karena dalam seharinya mereka capek dengan aktivitasnya masing-masing, maka ketika malam hari mereka berada di rumah punya kemungkinan besar menjadikan televisi sebagai media hiburan. Paling tidak, untuk hiburan karena dalam aktivitas hariannya telah membuatnya lelah. Acara hiburan itu juga dianggap perekat keluarga karena akan bisa melihat bersama-sama, bercanda, menikmati acara televisi sambil “ngemil”.

Ini sangat berbeda dengan media cetak. Media cetak biasanya tidak menempatkan hiburan pada posisi paling atas. Biasanya informasi. Tetapi, media cetak ini pun tetap harus memfungsikan hiburan. Gambar-gambar yang muncul di setiap halaman, adanya teka-teki, cerita bergambar (cergam) menjadi beberapa ciri di mana media cetak juga memberikan layanan hiburan. Itu pulalah kenapa, terbitan hari Minggu untuk harian sangat berbeda jauh dengan hari yang lain. Hari Minggu akan diisi rublik-rublik yang lebih menghibur.

3. Persuasi

Fungsi persuasif dalam komunikasi massa ini tidak kalah pentingnya

Dokumen terkait