KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Film Tendangan Dari Langit adalah film yang mencoba merepresentasikan nasionalisme dalam olah raga, penelitian ini dilakukan dengan analisa semiotika Roland Barthes yang bertujuan mengetahui bagaimana penggambaran nasionalisme dalam film Tendangan Dari Langit melalui kecintaan, kesetiaan, kekaguman, kekaguman, serta pengabdian yang menjadi unsur dari simbol sosial dan simbol teknis berupa scene, shot, visual, audio dan dialog yang di dadapat pada emblem, kaos tim nasional, dan bendera merah putih. Simbol sosial tersebut antara lain:
a. Kecintaan
Nasionalisme lebih membicarakan kecintaan, kecintaan Wahyu terhadap olah raga sepak bola yang juga telah diwarisi bakatnya oleh Ayah Wahyu. Wahyu berlatih sepak bola secara rutin dan dengan cara sembunyi-sembunyi dari sang Ayah, merupakan wujud kecintaanya yang mendalam terhadap sepak bola. Dari beberapa scene di atas dapat disimpulkan bahwa kecintaan tokoh Wahyu yang merepresentasikan ke nasionalismean dalam film Tendangan Dari Langit adalah mempresentasikan kecintaan terhadap bangsanya dengan cara
73
meneriakan sila-sila dalam Pancasila dalam salah scene nya serta betapa Wahyu sangat cinta terhadap sepak bola dan bercita – cita untuk menjadi pemain sepak bola nasional dan ingin membela Negara Republik Indonesia dalam bidang olahraga (sepakbola). Simbol nasionalisme melalui kecintaan adalah bendera Merah Putih, sepakbola, kaos serta emblem timnas Indonesia.
b. Kesetiaan
Nasionalisme pun tidak hanya membicarakan kecintaan semata, tetapi juga tentang kesetiaan terhadap sesuatu yang dirasakan lebih. Begitu pula kesetiaan Wahyu untuk tetap berlatih sepak bola walau dapat tentangan dari Ayah nya, selain itu pula Wahyu pun dapat kesetiaan dari sahabat-sahabatnya yang terus mendukung Wahyu dengan bakat yang terpendam selama ini, Wahyu menjalin persahabatan tidak hanya di sekolah saja, tetapi dalam aktifitas di luar sekolah pun mereka sering bermain bersama. Simbol nasionalisme melalui kesetiaan adalah kesetiaan tokoh Wahyu terhadap sepakbola serta tetap fokus untuk menggapai cita – citanya sebagai pemain timnas Indonesia serta kesetiaan Wahyu terhadap keluarga serta sahabat – sahabatnnya.
c. Kekaguman
Kekaguman Wahyu terhadap tim nasional, menjadikan Wahyu lebih bercita- cita untuk dapat menggunakannya pula, dan mendorong Wahyu lebih giat dan bekerja keras untuk dapat lolos dalam seleksi Tim Persema Malang. Karena dengan masuk tim Persema Malang menjadi sebuah batu loncatan untuk mengikuti seleksi masuk tim nasional Indonesia. Dengan kekaguman yang
dimiliki Wahyu terhadap seragam tim nasional merupakan pencerminan jiwa Nasionalisme, pada seragam tim nasional yang tak lain adalah simbol negara Wahyu yaitu Indonesia.
d. Kebanggaan
Wahyu mengenakan seragam sepak bola resmi dari Persema Malang merupakan kebanggaan Wahyu yang terpendam tokoh Wahyu dapat bergabung dalam sebuah club sepak bola, yang suatu saat akan memabawanya ke pertandingan yang dapat mewakili desanya di kancah nasional dan dapat mewakili Indonesia di ajang internasional sebagai pemain sepak bola Timnas Indonesia. Nasionalisme dapat dilihat dari rasa kebanggaan, kebanggaan yang dimiliki Wahyu menjadi warga negara Indonesia sehingga dapat mengenakan atribut kebangsaannya.
e. Pengabdian
Nasionalisme tidak hanya berupa kesetiaan dan kecintaan, tetapi juga pengabdian. Wujud nyata dari pengabdian Wahyu di film Tendangan Dari Langit ini berupa upaya dan usaha Wahyu yang fokus dan disiplin terhadap apa yang diinginkan, walaupun banyak yang dijalaninya dengan banyak kegiatan latihan tambahan. Wahyu mengabdikan dirinya demi menjadi pesepak bola nasional Indonesia yang dapat mengharumkan nama persepak bolaan Indonesia di ajang Internasional.
75
Nasionalisme sebagai sebuah konsep ideal dalam film ini mampu menjadi sebuah media yang ampuh untuk menanggulangi berbagai pemikiran yang tidak sesuai dengan pemikiran atau gagasan yang berasal dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Dalam film ini terdapat sebuah konsep tentang bagaimana mencintai bangsa dan negara melalui olahraga sepak bola.
B. Saran
Kecintaan terhadap sesuatu memang harus diperjuangkan, rasa nasionalisme dan patriotisme tidak melulu hanya dalam peperangan, pertahankan rasa nasionalisme dan jiwa patriotisme, khususnya pada era modern saat ini yang sudah semakin ketat dalam persaingan secara ekonomi, politik dan dari segi aspek apapun. Selain mempertahankan dan memperjuangakan apa yang diinginkan, peneliti menyarankan agar riset mengenai film perlu digalakkan lagi tentu dengan mencoba menganalisisnya menggunakan metode yang lain. dalam perkembangan film sekarang ini banyak film-film yang dihasilkan hanya untuk mengejar sisi komersil semata. Oleh karena itu, kini sudah saatnya para sineas film untuk lebih memahami bahwa film dapat menjadi wahana bagi pembebasan dan pengaktualitasan kondisi yang riil (nyata) untuk mampu menampilkan nilai-nilai ideal yang kini telah luntur atau bahkan telah hilang dari bangsa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, Elvinaro, dkk. 2007. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar Edisi Revisi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Ardianto, Elvinaro dan Komala, Lukiati. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Berger, Arthur Asa. 1999. Media Analysis Techniques. Alih Bahasa Setio Budi. Yogyakarta: Andi Offset.
Danesi, Marcel. 2010. Pengantar Memahami semiotika Media. Yogyakarta: Jalasutra.
Kansil, C.S.T., dan Julianto. 1993. Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Kriyantono, Rachmat. 2009. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Kusnadi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa: Sebuah Analisis Media Televisi. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Moleong, Lexy. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa: Kontroversi, Teori, dan Aplikasi. Bandung: Widya Padjadjaran.
Narbuko, Cholid dan Achmadi, Abu. 2005. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Nugroho, Garin, 1995, Kekuasaan dan Hiburan, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta.
Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sobur, Alex. 2002. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya. __________. 2006. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wibowo, Indiwan Seto Wahyu. 2010. Semiotika Komunikasi Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Sumber Lain
Anonim, Tendangan dari Langit, http://id.wikipedia.org/wiki.
Anonim, Rekonstruksi Nasionalisme Kaum Muda.
http://www.tempointeraktif.com
Television Culture. Memaknai Realitas Sosial Dengan Simbol http://id.shvoong.com