Bab ini berisi tentang kesimpulan-kesimpulan serta saran tentang kerja praktek yang dilakukan.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Profile Tempat Kerja Praktek 2.1.1 Sejarah Perusahaan
Sejarah perusahaan PT.Cinovasi Rekaprima berawal dari sebuah
laboratorium yang bergerak dalam bidang instrumentasi dan control dibawah Departemen Teknik Fisika – Institut Teknologi Bandung, dengan diberi nama Laboratorium Control atau disingkat LABKON.
Kegiatan utama laboratorium ini sebenarnya adalah tempat mahasiswa melakukan penelitian dalam bidang instrumentasi serta otomasi, seiring dengan perkembangan waktu karena banyak bidang yang berhubungan dengan dunia industri maka kegiatan penelitian lebih banyak terlibat langsung dalam dunia industri. Karena permasalahan di dunia industri sangat kompleks yang memerlukan solusi yang tepat, tidak jarang dari pihak industri membawa permasalahan tersebut ke dalam dunia pendidikan untuk dijadikan contoh kasus. Atas dasar itulah karena melihat kepentingan bisnis yang baik maka dibuat kerjasama antara pihak industri dengan lembaga pendidikan yang dalam hal ini di wakili oleh laboratorium kontrol.
Perkembangan laboratorium kontrol sendiri mengalami perubahan lembaga yang asalnya hanya cakupannya satu departemen teknik fisika berkembang menjadi Pusat Instrumentasi Dan Otomasi dengan nama CITA (Center for Instrumentation Technology and Automation) yang langsung dibawah lembaga
Institut Teknologi Bandung, yang mempunyai kegiatan mengadakan pelatihan dan kerjasama bisnis dengan pihak industri.
Pada tahun 2006 dikarenakan ada kebijakan ITB mengenai kerjasama bisnis industri dengan dunia pendidikan harus diluar area kampus, maka kemudian lembaga CITA membentuk perusahaan dengan nama PT.Cinovasi Rekaprima dengan tujuan untuk mengakomodir kerjasama bisnis dengan pihak industri, sedangkan lembaga CITA sendiri kegiatannya terfokus kepada kegiatan pelatihan serta pendidikan magang kepada mahasiswa.
2.1.2 Logo Perusahaan
Gambar 2.1 Logo PT.Cinovasi Rekaprima
2.1.3 Tempat dan Kedudukan Perusahaan
PT. Cinovasi Rekaprima merupakan perusahaan yang bergerak di bidang
engineering instrumentasi serta otomasi. Lokasi perusahaan PT.Cinovasi
7
2.1.4 Bentuk dan Badan Hukum Perusahaan
Bentuk permodalan Cinovasi Rekaprima adalah permodalan dalam negeri berbadan hukum perseroan terbatas (PT) sebagai perusahaan swasta nasional yang bergerak dalam bidang engineeering minyak dan gas, serta dalam bidang pengukuran, PLC, dan otomatisasi.
2.1.5 Bidang Pekerjaan Perusahaan
Bidang pekerjaan yang ditangani oleh PT. Cinovasi Rekaprima antara lain:
1. Automation Software Development 2. Automation Software Customization 3. PLC System
4. Measurement and Control System Integration 5. Instrumented Safety Shut down System
6. Equipment/Instrumentation Reverse Engineering 7. Production Equipment/Instrumentation Reconditioning
2.1.6 Bidang Pekerjaan Divisi / Departemen Tempat Kerja Praktek
Penulis ditempatkan di divisi Hardware Engineering, dimana divisi ini mengerjakan sistem yang berhubungan dengan hardware. Dikarenakan sistem pekerjaan di PT. Cinovasi Rekaprima berbasis proyek, maka pada saat penulis melakukan kerja praktek, penulis ditempatkan pada proyek Sistem Monitoring BBM di Depot Cikampek (PT.Pertamina).
2.1.7 Struktur Organisasi Perusahaan
Berikut ini adalah gambar struktur diagram PT.Cinovasi Rekaprima :
Gambar 2.2 Struktur Organisasi PT.Cinovasi Rekaprima 2.2 Landasan Teori
2.2.1 HMI (Human Machine Interface)
Human Machine Interface (HMI) atau sering juga disebut dengan Man Machine Interface (MMI) adalah software yang digunakan untuk memonitor dan mengontrol mesin atau proses di suatu pabrik.
Dalam dunia otomasi industri, HMI diinstall pada komputer desktop, sebelum menggunakannya harus membuat aplikasi (project) terlebih dahulu sesuai dengan fungsi yang diinginkan. Aplikasi/project tersebut dapat berisi gambar-gambar yang akan ditampilkan, data-data yang akan dimonitor/dikontrol/di-log, alarm-alarm, trending, report dan sebagainya. Project ini dibuat dengan software
9
HMI versi ‘development’, dan setelah selesai dapat dijalankan dengan software HMI versi ‘run time’untuk pemakaian sehari-hari oleh operator.
Software HMI umumnya memiliki kemampuan sebagai berikut :
1. Menampilkan gambaran suatu mesin atau proses yang sedang berlangsung 2. Memonitor dan mengontrol data-data secara real time.
3. Fungsi-fungsi Alarm, Trending, Logging Data. 4. Dapat menerapkan sistem kode akses/password user.
Aplikasi HMI pada umumnya tidak berhubungan langsung dengan peralatan yang dikontrol tetapi melalui perantara data server. Data server dapat berupa program OPC (OLE for Process Control) atau program Direct Driver khusus yang dibuat khusus untuk satu controller/PLC tertentu. Pada gambar bawah dijelaskan bagaimana sistem HMI memonitoring proses sebuah equipment.
Hampir sebagian besar HMI mengakses data peralatan melalui program controller yang dikenal dengan nama PLC (Programmable Logic Controller). HMI hanya mengakses data untuk monitoring serta mengontrol, sedangkan alur program proses nya sendiri sudah terprogram dalam PLC.
2.2.2 PLC (Programmable Logic Controller)
Programmable Logic Controllers (PLC) adalah komputer elektronik
yang mudah digunakan (user friendly) yang memiliki fungsi kendali untuk
berbagai tipe dan tingkat kesulitan yang beraneka ragam. Definisi
Programmable Logic Controller menurut Capiel (1982) adalah : sistem
elektronik yang beroperasi secara digital dan didisain untuk pemakaian di lingkungan industri, dimana sistem ini menggunakan memori yang dapat diprogram untuk penyimpanan secara internal instruksi-instruksi yang
mengimplementasikan fungsi-fungsi spesifik seperti logika, urutan,
perwaktuan, pencacahan dan operasi aritmatik untuk mengontrol mesin atau proses melalui modul-modul I/O digital maupun analog.
Berdasarkan namanya konsep PLC adalah sebagai berikut :
1. Programmable, menunjukkan kemampuan dalam hal memori untuk
menyimpan program yang telah dibuat yang dengan mudah diubah-ubah fungsi atau kegunaannya.
2. Logic, menunjukkan kemampuan dalam memproses input secara aritmatik
dan logic (ALU), yakni melakukan operasi membandingkan, menjumlahkan, mengalikan, membagi, mengurangi, negasi, AND, OR, dan lain sebagainya.
11
3. Controller, menunjukkan kemampuan dalam mengontrol dan mengatur
proses sehingga menghasilkan output yang diinginkan.
Gambar 2.4 Sistem PLC
PLC ini dirancang untuk menggantikan suatu rangkaian relay sequensial dalam suatu sistem kontrol. Selain dapat diprogram, alat ini juga dapat dikendalikan, dan dioperasikan oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan di bidang pengoperasian komputer secara khusus. PLC ini memiliki bahasa pemrograman yang mudah dipahami dan dapat dioperasikan bila program yang telah dibuat dengan menggunakan software yang sesuai dengan jenis PLC yang digunakan sudah dimasukkan.Alat ini bekerja berdasarkan input-input yang ada dan tergantung dari keadaan pada suatu waktu tertentu yang kemudian akan
meng-ON atau meng-OFF kan output-output. 1 menunjukkan bahwa keadaan
tidak terpenuhi. PLC juga dapat diterapkan untuk pengendalian sistem yang memiliki output banyak.
Fungsi dan kegunaan PLC sangat luas. Dalam prakteknya PLC dapat dibagi secara umum dan secara khusus. Secara umum fungsi PLC adalah sebagai berikut:
1. Sekuensial Control. PLC memproses input sinyal biner menjadi output yang digunakan untuk keperluan pemrosesan teknik secara berurutan
(sekuensial), disini PLC menjaga agar semua step atau langkah dalam proses
sekuensial berlangsung dalam urutan yang tepat.
2. Monitoring Plant. PLC secara terus menerus memonitor status suatu
sistem (misalnya temperatur, tekanan, tingkat ketinggian) dan mengambil
tindakan yang diperlukan sehubungan dengan proses yang dikontrol
(misalnya nilai sudah melebihi batas) atau menampilkan pesan tersebut pada operator.
Prinsip kerja sebuah PLC adalah menerima sinyal masukan proses yang dikendalikan lalu melakukan serangkaian instruksi logika terhadap sinyal masukan tersebut sesuai dengan program yang tersimpan dalam memori lalu menghasilkan sinyal keluaran untuk mengendalikan aktuator atau peralatan lainnya.
2.2.3
OPC (Ole for Process Control)
OPC adalah sebuah standar industri untuk antarkonektivitas sistem. Yayasan OPC (OPC Foundation) mengatur semua spesifikasi OPC. OPC
13
merupakan kependekan dari OLE for Process Control. OPC menggunakan teknologi COM dan DCOM-nya Microsoft untuk membolehkan suatu aplikasi menukar-nukar data dengan satu atau lebih komputer melalui arsitektur TCP/IP. OPC mendefinisikan sekumpulan antarmuka umum. Dengan demikian, aplikasi akan mengambil data dengan format yang sama, tidak peduli asal datanya, apakah dari PLC, DCS, penganalisa, perangkat lunak aplikasi, meteran, atau lainnya. Jadi, OPC adalah solusi komunikasi yang tinggal diambil, dipasang dan dijalankan. Keuntungan dengan adanya OPC antara lain :
1. OPC menstandarisasi komunikasi data kontrol proses 2. OPC menstandarisasi teknologi, bukan sebuah produk
3. OPC menyediakan interoperabilitas dan skalabilitas sesungguhnya 4. OPC bisa mengurangi waktu dan ongkos implementasi
Tujuan dari OPC adalah menyediakan sebuah infrastruktur standar untuk pertukaran data kontrol proses. Misalnya, pabrik biasanya memiliki berbagai macam sumber data seperti PLC, DCS, basisdata, meteran, RTU dan lain sebagainya. Data-data ini tersedia melalui berbagai macam koneksi yang berbeda-beda, misalnya, serial, ethernet, atau bahkan melalui pemancar radio. Sedangkan aplikasi kontrol prosesnya bisa menggunakan berbagai macam sistem operasi yang berbeda, seperti windows, UNIX, DOS, atau VMS.
Dulu, penjual (vendor) akan mengambil data-data ini untuk aplikasi mereka menggunakan antarmuka peralatan mereka sendiri. Data akan tersimpan dalam format kepemilikan (proprietary), artinya Anda hanya bisa mengakses data-data menggunakan perangkat lunak atau alat dari penjual yang sama yang telah
disedikan. Setiap kali terjadi perubahan atau pengembangan, anda perlu (dipaksa) mendatangi penjualnya (lagi).
Yang jelas, OPC menstandarisasi suatu teknologi, bukan suatu produk. Dengan menggunakan standar OPC, data dapat dikirimkan dari berbagai macam sumber data ke aplikasi apapun yang memenuhi standar OPC. Aplikasi-aplikasi ini termasuk HMI atau Human Machine Interface, trender, spreadsheet, pengarsip data, aplikasi ERP (Enterprise Resource Planning) dan lain sebagainya.
OPC merupakan sebuah standar komunikasi yang menyediakan
interoperabilitas dan skalabilitas sesungguhnya. Hal ini membolehkan Anda memvisualisasikan, menganalisis, melaporkan, atau melakukan apa saja yang Anda inginkan, melalui aplikasi dari pabrik mana saja menggunakan satu atau lebih spesifikasi OPC.
Dengan memilih teknologi standar OPC, Anda mengaktifkan interoperabilitas sesungguhnya, mengurangi ongkos implementasi, dan membuat sistem terskala penuh untuk masa depan.
15
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Jadwal Kerja Praktek
Jadwal kerja praktek yang dilakukan penulis dilakukan selama 1 bulan, dimulai dari tanggal 12 Oktober 2009 hingga tanggal 31 Desember 2009, dimana penulis melakukan kerja praktek setiap hari, dari pukul 08.30 sampai dengan pukul 17.30.
3.2 Cara/Teknik Kerja Praktek
Kegiatan yang dilakukan penulis selama kerja praktek adalah penelitian dan pengamatan dengan cara melakukan wawancara dengan pembimbing dan karyawan perusahaan, sebagai bahan untuk penulis melakukan perancangan dan pembuatan program sistem monitoring BBM. Adapun kegiatan yang dilakukan penulis, antara lain :
Tabel 3.1. Uraian Kegiatan Kerja Praktek
Kegiatan Uraian
Masuk kerja Praktek Menentukan pembimbing kerja praktek di
instansi dan menentukan metoda kerja praktek.
Profil Perusahaan Membahas kedudukan, tugas pokok,
fungsi, serta susunan organisasi dan tata kerja perusahaan.
Tabel 3.1. Lanjutan
Mengenal sistem yang ada di perusahaan Mengetahui proses bisnis dan proses
teknis yang dijalankan di perusahaan. Membangun program aplikasi Sistem
Monitoring BBM
Mempelajari sistem arsitektur, sistem proses dari sistem monitoring BBM,
membuat perancangan sistem serta
implementasi sistem monitoring BBM.
3.3 Membangun Aplikasi Sistem Monitoring BBM
Sistem Monitoring BBM adalah program aplikasi yang dibangun untuk membantu kepentingan perusahaan dalam melakukan monitoring proses yang terjadi dilapangan sehingga meminimalkan waktu operasi serta mengurangi error yang dilakukan operator. Progam aplikasi Sistem Monitoring BBM dibangun dengan menggunakantool programmingdengan pendekatan berorientasi objek.
Program aplikasi ini dibangun dengan menggunakan metode Waterfall, dimana proses-proses yang dilakukan meliputi analisis sistem, perancangan sistem, implementasi sistem serta pengujian sistem.
3.3.1. Analisis Sistem
Proses analisis sistem dilakukan dengan cara melakukan observasi dan wawancara yang dilakukan pada jadwal awal kerja praktek, dimana hal ini dilakukan untuk mengetahui proses yang terjadi dilapangan secara langsung serta mengetahui keinginan dari calon pengguna program aplikasi yang akan dibangun. Data tersebut diatas akan sangat membantu dalam memahami permasalahan yang
17
ada dan sangat membatu dalam menentukan spesifikasi program aplikasi yang diinginkan oleh calon pengguna.
Proses analisis sistem ini dilakukan dengan pendekatan berorientasi objek dimana model yang dibuat menekankan pada apa yang harus dilakukan bukan pada bagaimana melakukannya, sehingga mendapatkan pemahaman sistem seutuhnya sebagai persiapan menuju ke tahap perancangan. Proses ini juga membantu dalam perancangan program aplikasi yang akan dibuat. Perancangan yang matang sangat dipengaruh oleh hasil analisis dari masalah yang dihadapi. Salah satu cara untuk melakukan perencanaan adalah dengan cara pemodelan, dimana pada proses pemodelan tersebut model program aplikasi dianalogikan
seperti pembuatan blueprint pada pembangunan gedung. Membuat model dari
sebuah sistem yang kompleks sangatlah penting karena kita tidak dapat memahami sistem semacam itu secara menyeluruh. Semakin komplek sebuah sistem, semakin penting pula penggunaan teknik pemodelan yang baik.
Kesuksesan suatu pemodelan piranti lunak ditentukan oleh tiga unsur, yang kemudian terkenal dengan sebuan segitiga sukses (the triangle for success). Ketiga unsur tersebut adalah metode pemodelan (notation), proses (process) dan
toolyang digunakan.
Memahami notasi pemodelan tanpa mengetahui cara pemakaian yang sebenarnya (proses) akan membuat proyek gagal. Dan pemahaman terhadap
metode pemodelan dan proses disempurnakan dengan penggunaan tool yang
Gambar 3.1Triangle of success
Dalam kegiatan proses perancangan sistem digunakan program Rational Rose yang dapat membantu dalam pemodelan sistem. Berikut ini model analisis pada aplikasi Sistem Monitoring BBM dengan pendekatan program bantu Rational Rose.
a) Proses Bisnis
Dalam suatu organisasi mungkin terdapat banyak proses bisnis. Proses bisnis adalah sekumpulan aktivitas yang dirancang untuk menghasilkan keluaran (output) tertentu bagi customer tertentu. Sebuah proses bisnis menekankan pada bagaimana sebuah organisasi dengan berfokus pada produk yang dihasilkan proses tersebut. Proses disini adalah urutan aktivitas tertentu terhadap waktu dan tempat, dengan sebuah titik awal, sebuah titik akhir dan berbagaiinputdanoutputyang diidentifikasikan dengan baik.
Pemodelan dari sebuah proses bisnis merupakan bagian yang sangat penting dalam rekayasa sofware yang akan diterapkan dalam lingkungan organisasi tertentu. Memodelkan proses bisnis dapat membantu menangkap garis besar skema dan prosedur yang menentukan apa yang dikerjakan suatu proses bisnis. Model bisnis didapatkan dengan cara memodelkan proses
19
bisnis tersebut memberikan gambaran mengenai dimana sebaiknya sistem software yang akan dibuat dianggap cocok untuk diterapkan dalam struktur
dan pengujian sistem. Dibawah diterangkan Activity Diagram antara
operator dan Mesin PLC.
Tidak
PLC (Mesin) Operator
Cek Status parameter
Field Scan All Field device
Read status device
Action peralatan Start
End
Ya
Read parameter Device Menerima Status
parameter Field
Status Field
OK
Gambar 3.3Activity DiagramCek Status Lapangan
3.3.2 Perancangan Sistem
Perancangan sistem merupakan langkah selanjutnya jika kita telah menganalisis sistem yang akan di bangun. Perancangan ini mencakuprequirement
dari program aplikasi yang akan dibangun dan mendukung bisnis proses yang
telah dibuat pada analisis sistem. Requirement merupakan kondisi atau
kemampuan yang dipenuhi oleh program aplikasi yang akan dibuat. Requirement
dalam program aplikasi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu : 1. Fungtional requirement
Menentukan tindakan yang harus dapat dimainkan sebuah program aplikasi.
Requirement ini sering dimodelkan dalam bentuk use-case dalam use-case
21
sebuah program aplikasi. Functional Requirement mencakup fitur
kemampuan (Capabilities), sifat(Properties) use-casetersebut.
a) Actor
Actor menggambarkan pengguna program aplikasi. Actor membantu
suatu gambaran jelas tentang apa yang harus dikerjakan program aplikasi. Sebagai contoh, sebuah actordapat memberikan masukan ke dalam dan menerima informasi dari program aplikasi. Berikut ini
actordari Sistem Monitoring BBM.
Gambar 3.4ActorSistem Monitoring BBM
b) Use-Case Model dan Interaksinya dengan Aktor
Use-case Model menggambarkan prilaku program aplikasi, termasuk didalamnya interaksi antara aktor dengan program aplikasi tersebut. Use Case model dibuat untuk mengidentifikasi fungsionalitas yang penting secara arsitektual dari perangkat lunak yang akan dibuat dari lingkungannya.
Berikut merupakan Use Case Model dan interaksinya dengan aktor: a. Diagram Use Case Proses Penerimaan
Gambar 3.5Use Case DiagramProses Penerimaan Minyak
Diagram Use Case Proses Penerimaan digunakan untuk
menjelaskan Operator dalam melakukan proses penerimaan minyak Untuk lebih menggambarkan Diagram Use Case proses penerimaan dilakukan dengan membuat Diagram Sequence dari Use Case Diagram diatas, Berikut ini merupakan Diagram Sequence dari Diagram Use Case Proses Penerimaan.
23
Gambar 3.6Sequence DiagramProses Penerimaan Minyak
Update Status MOV( ) Form Proses
: Operator
PackScan MOV Interf ace Dev ice
(PLC)
Kirim ni lai Preset( )
Kirim Status Penerimaan Selesai( )
Status penerimaan Selesai( )
Masukan Preset( )
Klik Start Receiv ing( )
Close Valv e MOV T-01( )
Close Valv e MOV R-01( )
Close Valv e MOV-047( ) Jalankan M ode Auto( )
Update Status MOV( )
Preset Count OK( )
Open Valv e MOV T-01( )
Open Valv e MOV R-01( )
Open Valv e MOV-047( ) Kirim Command Open Valv e( )
Kirim Command Close Valv e( ) Pilih Produk Miny ak( )
b. Diagram Use Case Proses Penimbunan
Gambar 3.7Use Case DiagramProses Penimbunan Minyak
Diagram Use Case Proses Penimbunan digunakan untuk
menjelaskan Operator dalam melakukan proses penimbunan (blending tanki) minyak Untuk lebih menggambarkan Diagram Use Case proses penimbunan dilakukan dengan membuat Diagram Sequence dari Use Case Diagram diatas, Berikut ini merupakan Diagram Sequence dari Diagram Use Case Proses Penimbunan.
25
c. Diagram Use Case Proses Distribusi
Gambar 3.9Use Case DiagramProses Distribusi Minyak
Diagram Use Case Proses Distribusi digunakan untuk menjelaskan Operator dalam melakukan proses Distribusi (Penyaluran minyak ke tanki). Untuk lebih menggambarkan Diagram Use Case proses distribusi dilakukan dengan membuat Diagram Sequence dari Use Case Diagram diatas, Berikut ini merupakan Diagram Sequence dari Diagram Use Case Proses distribusi.
27
d. Diagram Use Case Monitoring Penerimaan
Operator
(f rom Actors)
View Penerimaan Login
(f rom Login)
<<include>>
Gambar 3.11Use Case DiagramMonitoring Penerimaan
Diagram Use Case Monitoring Penerimaan digunakan untuk
menjelaskan Operator dalam melakukan proses Monitoring
Penerimaan. Untuk lebih menggambarkan Diagram Use Case
proses monitoring penerimaan dilakukan dengan membuat
Diagram Sequence dari Use Case Diagram diatas, Berikut ini merupakan Diagram Sequence dari Diagram Use Case Proses Monitoring Penerimaan.
29
e. Diagram Use Case Monitoring Penimbunan
Operator
(f rom Actors)
View Penerimaan Login
(f rom Login)
<<include>>
Gambar 3.13Use Case DiagramMonitoring Penimbunan
Diagram Use Case Monitoring Penimbunan digunakan untuk
menjelaskan Operator dalam melakukan proses Monitoring
Penimbunan. Untuk lebih menggambarkan Diagram Use Case
proses monitoring Penimbunan dilakukan dengan membuat
Diagram Sequence dari Use Case Diagram diatas, Berikut ini merupakan Diagram Sequence dari Diagram Use Case Proses Monitoring Penimbunan.
31
f. Diagram Use Case Monitoring Distribusi
Gambar 3.15Use Case DiagramMonitoring Distribusi
Diagram Use Case Monitoring Distribusi digunakan untuk
menjelaskan Operator dalam melakukan proses Monitoring
Penimbunan. Untuk lebih menggambarkan Diagram Use Case
proses monitoring Penimbunan dilakukan dengan membuat
Diagram Sequence dari Use Case Diagram diatas, Berikut ini merupakan Diagram Sequence dari Diagram Use Case Proses Monitoring Penimbunan.
33
Berdasarkan Diagram-Diagram Use Case Diatas berikut keseluruhan Diagram Use Case Aplikasi Sistem Monitoring BBM :
35
Berdasarkan Diagram-diagram Sequence diatas berikut Diagram Class Aplikasi Sistem Monitoring BBM :
Gambar 3.18Class DiagramSistem Monitoring BBM
2. Non functional requirment
Non Functional Requirement menggambarkan atribut dari program aplikasi
dan lingkungannya. Requirement ini biasanya masuk di dalam use-case dan
3.3.3 Sistem Arsitektur Monitoring BBM AREA PENIMBUNAN AREA PENERIMAAN 4 3 2 1 ATG Pressure Transmitter MOV PLC
HMI Monitoring (RSView SE)
AREA DISTRIBUSI 4 3 2 1 Metering Densito Transmitter MOV 6 Loading Filling-point Batch Controller Mass Meter Ground Monitor i-Button Reader 5 SDV Control Valve Weight Bridge 4 3 2 Batch Controller Mass Meter Ground Monitor Card Reader 1 Control Valve MOV Pressure Level Temperature Flow Level Switch Pump Demand Valve Status Valve Command Pump Status Pump Command Etc
Gambar 3.19 Sistem Arsitektur Monitoring BBM
3.3.4 Perancangan Struktur Menu
Pembuatan aplikasi sistem monitoring BBM menggunakan software HMI RSView SE, berbeda dengan software programming pada umumnya seperti Borland Delphi, C++, Visual Basic dan sebagainya, software HMI RSView SE merupakan sofftware yang dikhususkan untuk aplikasi monitoring proses.
37
Software ini lebih mudah digunakan karena lebih banyak menggunakan objek yang telah tersedia dalam library yang telah dilengkapi dengan animasi objek serta penggunaan script yang sederhana sehingga listing program hampir tidak ada dikarenakan aplikasi ini tidak berjalan sendiri tetapi harus terpasang dengan software HMI RSView itu sendiri dengan istilah software runtime, berbeda dengan software programming umumnya yang lebih banyak menggunakan listing program fungsi atau procedure dalam membuat aplikasi software sehingga untuk membuat tampilan proses sangat sulit.
Sebelum membuat program aplikasi sistem monitoring BBM rancangan program sebelumnya harus kita buat terlebih dahulu. Dalam software HMI RSView sendiri kita dituntut membuat rancangan struktur menu yaitu halaman apa saja yang akan
ditampilkan dalam program aplikasi dikarenakan license HMI RSView
berdasarkan banyaknya halaman yang akan tampil dalam sebuah program aplikasi. Berikut rancangan struktur menu Sistem Monitoring BBM.
MAIN DISPLAY MENU FASILITAS PENERIMAAN FASILITAS PENIMBUNAN