Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran yang mungkin berguna untuk penelitian lanjutan dariSkripsi ini.
BAB II DASAR TEORI
2.1 Parameter Video
Video adalah teknologi untuk menangkap, merekam, memproses, mentransmisikan dan menata ulang gambar bergerak. Biasanya menggunakan film seluloid, sinyal elektronik, atau media digital. Videomerupakan gabungan gambar-gambar mati yang dibaca berurutan dalam suatu waktu dengan kecepatan tertentu. Gambar-gambar yang digabung tersebut dinamakan frame dan kecepatan pembacaan gambar disebut dengan frame rate, dengan satuan fps (frame per second). Karena dimainkan dalam kecepatan yang tinggi maka tercipta ilusi gerak yang halus, Semakin besar nilai frame rate maka akan semakin halus pergerakan.
Pada pengkodean video terdapat beberapa parameter yang mempengaruhi kapasitas video. Di antaranya adalah [7]:
1. Lebar frame: ukuran lebar setiap gambar pada video 2. Panjang frame: ukuran panjang setiap gambar pada video
Gambar 2.1. Parameter video pada menu details video.
3. Bit rate: banyaknya bit dalam setiap detik
4. Frame rate: banyaknya gambar dalam setiap detik 5. Durasi video: lamanya durasi video
Parameter-parameter tersebut dapat diakses melalui jendela editor seperti ditunjukkan pada Gambar 2.1.Parameter-parameter tersebut menentukan seberapa besar kualitas video.
Selain parameter di atas, terdapat parameter video codec, video container, group of picture, frame sequence, dan tipe audio.
2.2 Kode H.264
Kode H.264 merupakan kode yang dikembangkan oleh ITU-T dan Moving Picture Group (MPEG). Tujuan standar H.264 adalah menghasilkan kualitas video yang baik, namun harga lebih murah, dan kompeksitas desain yang mudah untuk diterapkan [8]. Selain itu, kode H.264 dapat diterapkan untuk aplikasi dengan laju bit rendah maupun tinggi, serta resolusi video rendah maupun tinggi.
Kode H.264 muncul pada tahun 2003 dan telah digunakan oleh facebook danyoutube[9].Standar H.264 scalable video coding (SVC) mencakup tiga profil yang memungkinkan skala kualitas yang berbeda. SVC memungkinkan kualitas pengalaman yang berbeda untuk pengguna yang berbeda.
Macroblock adalah blok bangunan utama yang metode decodingnya ditentukan. Setiap macroblocks berisi area gambar persegi panjang 16 × 16 sampel untuk komponen luma dan 8 × 8 daerah sampel yang sesuai untuk masing-masing dari dua komponen kroma. Macroblocks diproses dalam irisan yang disebut di H.264 / AVC sedangkan sepotong biasanya sekelompok macroblocks diproses dalam urutan pemindaian raster. Beberapa standard kompresi kode video dilihat pada Tabel 1.
Tabel 2.1 standard kompresi kode video
Dalam standar pengkodean video H.264, estimasi gerak kerangka referensi berganda didukung untuk mendapatkan hasil prediksi yang lebih baik. Oleh karena itu, vektor gerakan dalam satu frame mungkin menunjuk ke frame referensi yang berbeda [10].
Kode H.264 menggunakan ukuran blok variabel untuk prediksi mode inter, yang memiliki 7 mode pengkodean MB yang berbeda sehingga detail temporal dan spasial dalam MB paling baik disajikan. H.264 / AVC mendukung prediksi gerak yang dikompensasi melalui ketepatan seperempat-pel dari vektor gerakan.
2.3 Kontainer AVI
Avi merupakan format video yang paling populer, karena kualitas gambar yang di berikan sangat baik.AVI singkatan dari( Audio Video Interleaved ) [11]
AVI sendiri diperkenalkan oleh Microsoft pada tahun 1992 sebagai bagian dari teknologi Video for Windows miliknya. File AVI ini dapat menyimpan data audio dan video pada struktur interleaved. Dimana file ini hanya berupa kontainer - dan data audio videoini dapat dikompres menggunakan berbagai codec. Kualitas dan kapasitas tergantung pada codec dan secara khusus codec yang digunakan yaitu MPEG, Divx atau WMV [9].
Gambar 2.2.format video .avi
Pada Gambar 2.2. Merupakan struktur File Interleave Audio video. Pada dasarnya, file AVI mendukung multi streaming audio dan video. File ini berisi 3 bagian seperti RIFF: Index, block (chunks), File header. Indeks merupakan offset dari potongan data dalam file. Kemudian pada Header Berisi metadata tentang file video (seperti frekuensi gambar, lebar, dan tinggi. Selanjutnya pada Chunks atau body akan membawa data audio / visual di dalam potongan di hampir semua skema kompresi, termasuk waktu, motion JPEG, editable MPEG.
Jumlah gambar yang terlihat setiap detik disebut dengan frame rate.
Diperlukan frame rate minimal sebesar 10 fps (frame per second) [9] untuk menghasilkan pergerakan gambar yang halus. Film-film yang dilihat di gedung bioskop adalah film yang diproyeksikan dengan frame rate sebesar 24 fps, sedangkan video yang dilihat pada televisi memiliki frame rate sebesar 30 fps (tepatnya 29.97 fps) [9]. Frame rate digunakan sebagai format standar NTSC, PAL dan SECAM yang berlaku pada negara-negara didunia.
Resolusi pada frame size dilihat bahwa Lebar dan tinggi frame video disebut dengan frame size, yang menggunakan satuan piksel, misalnya video dengan ukuran frame 640×480 piksel. Dalam dunia video digital, frame size disebut juga dengan resolusi. Semakin tinggi resolusi gambar maka semakin besar pula informasi yang dimuat, berarti akan semakin besar pula kebutuhan memory untuk membaca informasi tersebut. Misalnya untuk format PAL D1/DV berukuran 720×576 piksel, format NTSC DV 720×480 piksel dan format PAL VCD/VHS (MPEG-1) berukuran 352×288 piksel sedangkan format NTSC VCD berukuran 320×240 piksel.
2.4 Jaringan 802.11
Jaringan 802.11 Wireless local area network (WLAN) atauwireless fidelity (WiFi) telah menjadi teknologi yang umum digunakan untuk berbagiinternet access[12] ataupun bahkan data informasi dalam suatu jaringan private local[13].
Hal ini karena mobilitas dan kecepatan koneksi yang lebih baik dari pada penggunaan kabel, selain itu standard 802.11 mampu memberikan kecepatan
hingga 135 Mbps [10].IEEE atauInstitute of Electrical and Electronics Engineers adalah Group dari Organisasi Insinyur yang mengatur standarisasi dalam bidang teknologi informasi. Setiap standarisasi yang diciptakan memiliki kode tersendiri.
Salah satunya standarisasi dijaringan wireless yang memiliki kode 802.11.
Dengan adanya standar ini dimaksudkan agar setiap perangkat wireless yang berbeda tetap dapat berkomunikasi meski berbeda vendor.
Gambar 2.3. Jaringan Wireless tanpa acces Point
Protokol yang digunakan oleh semua varian 802, termasuk Ethernet, memiliki kesamaan tertentu dalam struktur. Tampilan parsial stack protokol 802.11 diberikan pada Gambar 3. Lapisan fisik sesuai dengan physical layer OSI cukup baik, tapi data link layer di semua protokol 802 dibagi menjadi dua atau lebih sublayers. Dalam 802.11, MAC (Medium Access Control) sublayer menentukan bagaimana channel dialokasikan, yaitu siapa yang mendapat giliran untuk mengirimkan frame berikutnya. Di atasnya adalah LLC (Logical Link Control) sublayer, yang tugasnya adalah untuk menyembunyikan perbedaan antara varian 802 yang berbeda dan membuat mereka tidak dapat dibedakan sampai lapisan jaringan yang bersangkutan (logical link control).Berikut standarisasi yang sudah digunakan pada saat ini yaitu :
a) 802.11
Pada Tahun 1997, IEEE menciptakan standar wireless yang pertama bekerja pada frekuensi 2,4 GHz yang dinamakan 802.11.
Namun standar ini hanya mendukung bandwidth jaringan maksimal 2 Mbps, telalu kecil untuk komunikasi jaringan pada saat ini. Oleh karena itu perangkat wireless dengan standar ini tidak diproduksi lagi.
b) 802.11 b
IEE menciptakan standar lanjutan yang dinamakan 802.11b pada tahun 1999 mendukung bandwidth mencapai 11 Mbps. Masih bekerja pada frekuensi 2,4 GHz. Vendor perangkat elektronik pada umumnya lebih memilih menggunakan frekuensi ini dikarenakan dapat menekan biaya produksi. Seperti yang diketahui, frekuensi 2,4 GHz merupakan frekuensi radio yang tidak diatur sehingga dapat menimbulkan gangguan dari perangkat elektronik lainnya seperti microwave, televisi dan perangkat lainnya yang menggunakan frekuensi 2,4 GHz. Namun hal tersebut dapat dihindari dengan mengatur jarak antar perangkat elektronik sehingga tidak menimbulkan gangguan atau interferensi.
Router yang hanya menggunakan standar 802.11b ini juga sudah tidak diproduksi lagi. Namun beberapa router baru masih mendukung standar ini. Standar ini, secara teoritis mendukung
bandwidth data mencapai 11 Mbps dan jangkauan sinyal mencapai sekitar 150 kaki (+-45 Meter).
c) 802.11 a
Saat standar 802.11b sedang dikembangkan, IEEE membuat ekstensi untuk standar 802.11 yang dinamakan 802.11a. Standar ini diciptakan pada saat yang bersamaan dengan standar 802.11b.
Standar ini sudah mendukung bandwidth data mencapai 54 Mbps dan menggunakan frekuensi 5 GHz (semakin tinggi frekuensi maka semakin pendek jangkauan sinyal). Dikarenakan berjalan pada frekuensi yang bebeda dengan standar 802.11b, kedua teknologi ini tidak kompatible satu sama lain. Beberapa vendor menawarkan perangkat jaringan hybrid 802.11a/b. Namun perangkat tersebut hanya dapat menjalankan satu standar pada satu waktu.
d) 802.11 g
Standar ini diciptakan pada tahun 2002 dengan menggabungkan kelebihan masing masing standar 802.11a dan 802.11b. Standar ini mendukung bandwidth 54 Mbps dan menggunakan frekuensi 2,4 GHz yang berarti memiliki jangkauan sinyal yang luas. Perangkat dengan network adapter yang mengadopsi standar ini juga kompatibel dengan standar 802.11b begitu juga sebaliknya.
e) 802.11 n
Standar 802.11n sering dikenal dengan sebutan Wireless-N diciptakan untuk memperbaiki standar 802.11g dalam hal jumlah bandwidth yang didukung dengan memanfaatkan beberapa sinyal
wireless dan antena (disebut dengan teknologi MIMO, Multiple in Multiple out). IEEE meresmikan standar ini pada tahun 2009 dengan spesifikasi menyediakan bandwidth sampai 300 Mbps.
Standar ini juga menawarkan jangkauan sinyal yang lebih baik dibandingkan standar wireless sebelumnya serta memiliki kompabilitas dengan perangkat yang memiliki standar 802.11b/g.
Standar wireless ini beroperasi 2 frekuensi yaitu 2,4 GHz dan 5GHz.
f) 802.11 ac
Generasi terbaru dari standar Wifi yang populer digunakan.
Memanfaatkan teknologi wireless dual band mendukung koneksi secara bersamaan pada frekuensi 2,4 GHz dan 5 GHz.
Menawarkan kompabilitas dengan standar 802.11b/g/n serta mendukung bandwidth mencapai 1300Mbps pada frekuensi 5 GHz ditambah 450Mbps pada frekuensi 2,4 GHz.
2.5 Streamer Moses
MoSES (MObile Streaming untuk vidEo Surveillance)[5] merupakan aplikasi video streaming open source yang di buat oleh Giovanni Gualdi, dkk.MoSES terdiri dari dua aplikasi yaitu Mo.Vie yang digunakan sebagai pengirim dan Mo.Vi.De sebagai penerima. adapun tampilan aplikasi Mo.Vie dan Mo.Vi.De dapat dilihat pada Gambar 2.4(a) dan 2.4(b) :
(a)
(b)
Pada Gambar 2.4 (a) tampilan dari aplikasi Mo.ViE terlihat video source stream dapat berupa video live dari camera, ataupun file video dengan format avi dengan type output dapat berupa raw H.264 UDP stream,raw H.264 file, dan avi video file.Streaming aplikasi Mo.ViE menggunakan encode streaming.264, dengan beberapa parameter control pada MoViE seperti bit rate control, ukuran frame, dan frame rate. Pada Gambar 2.4 (b) tampilan dari aplikasi Mo.Vi.De terlihat video source dari aplikasi Mo.ViE dengan menggunakan protocol transmisi data UDP ataupun file video dengan format .264, pada aplikasi
MoViDeterdapat FPS playback control, dan beberapa informasi decoded, seperti decoded frame, nominal frame rate, dan decoded frame size. [3].
2.6 Kualitas video
Penilaian kualitas video merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan dalam menjaga kualitas video. penilaian kualitas video dapat dilakukan dengan membandingkan untuk dinilai secara subjektif. selain itu, penilaian juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode untuk mengukur kualtias video secara objektif. Penilaian secara objektif [3]membutuhkan waktu dan sumber daya yang lebih sedikit dibandingkan dengan penilaian secara subjektif. Namun, dari segi tingkat akurasi, penilaian secara subjektif memiliki akurasi yang lebih baik. Pada penelitian ini diajukan sebuah aplikasi yang menggabungkan kedua jenis penilaian kualitas video ini[14].berikut penjelasan istilah kualitas video mulai dari yang paling jelek sampai terbagus, dan sering dilihat dalam memutar video:
a. CAM/HDCAM
Kualitas jenis ini merupakan hasil dari rekaman camera digital, suaranya pun ngambil dari microphone built-in handycamnya, yang langsung di bioskop sehingga kadang penonton yang lalu lalang ikut terekam.
Rekaman kualitas ini biasanya menggunakan mini tripod sehingga sering terdapat sedikit goncangan. kualitas video ini sangat jelek.
Gambar 2.5. Kualitas CAM/HDCAM
Pada Gambar 2.5. merupakan hasil terburuk dari sebuah kualitas video.
Disebut CAM dikarenakan video ada didapat dengan merekam ulang pada layar bioskop dengan kamera, baik itu handycam atau kamera yang lain.
Sehingga kualitas gambar dan suaranya pun sangat buruk, Terkadang kualitas CAM merekam orang lalu lalang saat bioskop diputar sehingga terlihat bayangan kepala maupun goyangan saat merekam video.
b. TS
Singkatan dari Telesync atau bisa juga HDTS, kualitasnya hampir sama dengan jenis CAM. Namun kualitas suaranya sudah ditimpa memakai suara yang bagus tetapi kualitas gambarnya sama saja dengan CAM.
Gambar 2.6. Kualitas HDTS
Pada Gambar 2.6. Sama halnya seperti kualitas CAM, TS berasal dari rekaman bioskop. Hanya saja suara direkam secara terpisah dengan gambarnya. Biasanya peletakan perekam suara ini didekat speaker pada bioskop. Sehingga kualitas audionya lebih bagus dibanding CAM. Namun secara keseluruhan, kualitas CAM masih belum layak untuk ditonton.
c. TC(Telecine) dan SDTV (Standart Definition TV) Mesin telechine (telesinema) mengcopy (menduplikat) video secara digital langsung dari pita film proyektor (reels). Gambar dan suara sudah cukup bagus namun karena perkembangan alat telesinema dan biaya pembuatan yang cukup mahal membuat tipe ini sudah jarang di pasaran.
Gambar 2.7. Kualitas TC(TELECINE)
Gambar 2.7 merupakan hasil rekaman dari TV Analog, kualitas yang dihasilkan pun hampir menyerupai CAM maupun TS. Banyak cut-scene karena sensor maupun banyaknya watermark pada tampilan.
d. R5/DVDScr
Kualitas ini masuk dalam kategori kurang bagus. yaitu merupakan dupiklat dari promo DVD yang akan digunakan sebagai promosi. DVDScr akan ada sebelum DVD originalnya keluar di pasaran. Kualitas gambar dan suaranya hampir setara dengan DVDRip meskipun masih ada yang jelek, hanya saja pada gambar video sering terdapat beberapa tulisan penjelasan yang terpampang di layar tentang DVD tersebut yang biasanya sedikit menggangu. Kualitas jenis ini setara dengan BDscr (Gambar 2.8).
Gambar 2.8. Kualitas R5/DVDscr e. DVDRip
Kualitas ini merupakan salinan dari DVD Original. Kualitas gambar dan suaranya cukup bagus. Meski jauh dari kualitas BRRip, namun ukurannya jauh lebih kecil.
Gambar 2.9. Kualitas DVDRip
Gambar 2.9 merupakan hasil copy DVD Original. Kualitas ini cukup dibilang baik baik dari ukuran gambar dan video sehingga layak untuk ditonton. Biasanya perilisan DVDRip 1-3 bulan setelah film muncul pada bioskop.
f. HDRip
Kedua kualitas ini sudah sangat layak untuk ditonton. Kualitas gambar dan suaranya pun cukup bagus dan ukurannya tidak terlalu besar. HDTV adalah hasil rip dari TV dengan kualitas HD jadi gambar dan audio sangat bagus. HDTV biasanya untuk serial TV yang tayang seminggu sekali.
Gambar 2.10 Kualitas HDRip
Pada Gambar 2.10. merupakan kualitas yang baik. Beresolusi HD yang tentunya diatas 720p atau 720i. High Definition Television ini merupakan hasil rekaman dari channel TV yang menyediakan situs online TV Digital.
Biasanya HDTV direkam menggunakan SmartTV.
g. WEB-DL
Kualitas ini sedikit di bawah kualitas BRRip atau bisa dikatakan setara.
Biasanya kualitas WEB-DL akan muncul sebelum kualitas BRRip muncul.
Source Web-DL biasanya diunduh dari iTunes Store atau situs lainnya yang menyediakan siaran TV melalui jaringan internet. Resolusi yang ada biasanya 720p dan 1080p.
Gambar 2.11. Kualitas WEB-Dl
Pada Gambar 2.11. merupakan hasil download dari situs penyedia film streaming online, seperti iTunes. Kualitasnya sangat baik karena biasanya hampir sama dengan BluRay yang tentunya HD.
h. BRRip/Bluray
BRRip merupakan istilah lain dari Bluray karena hasil rip dari bluray sehingga kualitasnya pun sama. BRRip merupakan kualitas tertinggi jenis film sharing saat ini. Resolusi yang tersedia untuk BRRip biasanya 720p dan 1080p. Semakin tinggi resolusinya maka semakin jernih kualitas gambarnya. Namun makin tinggi resolusi maka diperlukan spesifikasi komputer yang tinggi juga, jika tidak maka akan terjadi lag atau patah-patah saat video dimainkan.
Gambar 2.12. Kualitas BRRip/Bluray
Pada Gambar 12. Merupakan Kualitas film yang saat ini merupakan
kualitas film terbaik, diambil langsung dari Bluray Disk kualitas gambar dan suara tidak diragukan lagi. Pastinya sangat detail dan bagus. Seperti tampilan pada bisokop asli. BRip/BDRip merupakan hasil encode dari versi BluRay sehingga ukurannya lebih kecil.
2.6 Regresi Linier
Regresi linier adalah metode statistika yang digunakan untuk membentuk model hubungan antara variabel terikat (dependen; respon; Y) dengan satu atau lebih variabel bebas (independen, prediktor, X). Apabila banyaknya variabel bebas hanya ada satu, disebut sebagai regresi linier sederhana, sedangkan apabila terdapat lebih dari 1 variabel bebas, disebut sebagai regresi linier berganda.
Analisis regresi setidak-tidaknya memiliki 3 kegunaan, yaitu untuk tujuan deskripsi dari fenomena data atau kasus yang sedang diteliti, untuk tujuan kontrol,
serta untuk tujuan prediksi. Regresi mampu mendeskripsikan fenomena data melalui terbentuknya suatu model hubungan yang bersifatnya numerik. Regresi juga dapat digunakan untuk melakukan pengendalian (kontrol) terhadap suatu kasus atau hal-hal yang sedang diamati melalui penggunaan model regresi yang diperoleh. Selain itu, model regresi juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan prediksi untuk variabel terikat. Namun yang perlu diingat, prediksi di dalam konsep regresi hanya boleh dilakukan di dalam rentang data dari variabel-variabel bebas yang digunakan untuk membentuk model regresi tersebut. Misal, suatu model regresi diperoleh dengan mempergunakan data variabel bebas yang memiliki rentang antara 5 s.d. 25, maka prediksi hanya boleh dilakukan bila suatu nilai yang digunakan sebagai input untuk variabel X berada di dalam rentang tersebut. Konsep ini disebut sebagai interpolasi.
Data untuk variabel independen X pada regresi linier bisa merupakan data pengamatan yang tidak ditetapkan sebelumnya oleh peneliti (obsevational data) maupun data yang telah ditetapkan (dikontrol) oleh peneliti sebelumnya (experimental or fixed data). Perbedaannya adalah bahwa dengan menggunakan fixed data, informasi yang diperoleh lebih kuat dalam menjelaskan hubungan sebab akibat antara variabel X dan variabel Y . Sedangkan, pada observational data, informasi yang diperoleh belum tentu merupakan hubungan sebab-akibat.
Untuk fixed data, peneliti sebelumnya telah memiliki beberapa nilai variabel X yang ingin diteliti. Sedangkan, pada observational data, variabel X yang diamati bisa berapa saja, tergantung keadaan di lapangan. Biasanya, fixed data diperoleh dari percobaan laboratorium, dan observational data diperoleh dengan menggunakan kuesioner.
Di dalam suatu model regresi kita akan menemukan koefisien-koefisien.
Koefisien pada model regresi sebenarnya adalah nilai duga parameter di dalam model regresi untuk kondisi yang sebenarnya (true condition), sama halnya dengan statistik mean (rata-rata) pada konsep statistika dasar. Hanya saja, koefisien-koefisien untuk model regresi merupakan suatu nilai rata-rata yang berpeluang terjadi pada variabel Y (variabel terikat) bila suatu nilai X (variabel bebas) diberikan. Koefisien regresi dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
1. Intersep (intercept) Intersep, definisi secara metematis adalah suatu titik perpotongan antara suatu garis dengan sumbu Y pada diagram/sumbu kartesius saat nilai X = 0. Sedangkan definisi secara statistika adalah nilai rata-rata pada variabel Y apabila nilai pada variabel X bernilai 0. Dengan kata lain, apabila X tidak memberikan kontribusi, maka secara rata-rata, variabel Y akan bernilai sebesar intersep. Perlu diingat, intersep hanyalah suatu konstanta yang memungkinkan munculnya koefisien lain di dalam model regresi. Intersep tidak selalu dapat atau perlu untuk diinterpretasikan. Apabila data pengamatan pada variabel X tidak mencakup nilai 0 atau mendekati 0, maka intersep tidak memiliki makna yang berarti, sehingga tidak perlu diinterpretasikan.
2. Slope Secara matematis, slope merupakan ukuran kemiringan dari suatu garis. Slope adalah koefisien regresi untuk variabel X (variabel bebas).
Dalam konsep statistika, slope merupakan suatu nilai yang menunjukkan seberapa besar kontribusi (sumbangan) yang diberikan suatu variabel X terhadap variabel Y . Nilai slope dapat pula diartikan sebagai ratarata
pertambahan (atau pengurangan) yang terjadi pada variabel Y untuk setiap peningkatan satu satuan variabel X.
Contoh model regresi: Y = 9.4 + 0.7*X + ɛ
Angka 9.4 merupakan intersep, 0.7 merupakan slope, sedangkan ɛ merupakan error. Error bukanlah berarti sesuatu yang rusak, hancur atau kacau. Pengertian error di dalam konsep statistika berbeda dengan pengertian error yang selama ini dipakai di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam konsep regresi linier, error adalah semua hal yang mungkin mempengaruhi variabel terikat Y , yang tidak diamati oleh peneliti.
Berikut ini adalah contoh garis regresi di dalam sebuah grafik:
Gambar 2.13 contoh garis regresi
Dalam grafik diatas dapat kita lihat bahwa sumbu X berada pada kisaran angka 5 lebih sedikit hingga angka 15 lebih sedikit. Hal ini berarti bahwa kita hanya diijinkan untuk melakukan prediksi nilai Y untuk nilai X yang berada dalam rentang tersebut. Sebab, kita tidak memiliki dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa hubungan variabel X dan Y tetap linier untuk titik-titik data yang mendekati angka nol. Kondisi seperti ini berdampak terhadap interpretasi intersep. Dalam kasus ini, karena data untuk variabel X tidak memuat angka nol atau mendekati nol, intersep dikata 2.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Perancangan Alur Penelitian
Guna mencapai tujuan penelitian, perancangan alur penelitian dilakukan sesuai alur pada Gambar 3.1. Alur penelitian dimulai dengan melakukan studi pustaka guna mempelajari dan memahami bahan-bahan referensi. Dalam skripsi ini video streaming dilakukan menggunakan aplikasi MoSES.
Langkah selanjutnya adalah dengan menguji frame size yang sudah ada di aplikasi MoSES dan frame rate yang akan dievaluasi, sehingga data pada video streamingbisa diperoleh.
Dari data yang dikumpulkan, dianalisis nilai delay, packet loss dan throughput. Perhitungan dilakukan dengan mereratakan data yang diperoleh dari setiap eksperimen.
Pengukuran dilakukan dengan cara menangkaptransmisi paket-paket video streaming dari server ke clientmenggunakan software wireshark. Langkah terakhir adalah melaporkan hasil penelitian.
MULAI
Pengiriman video streaming dijalankan bersamaan dengan menggunakan aplikasi MoSES
Mengubah frame size 160x120, 176x144, 320x240, 352x288, 704x576, 720x576, 800x500, 1600x1200
Mengubah frame rate 10 fps, 20 fps, 30 fps, 40 fps, 50 fps, 60 fps
Menjalankan Wireshark untuk pengambilan data
Pengamatan parameter Qos
SELESAI
Gambar 3.1Alur Penelitian pengujian dan pengukuran
Pengujian dilakukan sebanyak 48 (empat puluh delapan) kali pengujian yaitu mulai dari 10 fps, 20 fps, 30 fps, 40 fps, 50 fps, 60 fps, selain mengubah
Pengujian dilakukan sebanyak 48 (empat puluh delapan) kali pengujian yaitu mulai dari 10 fps, 20 fps, 30 fps, 40 fps, 50 fps, 60 fps, selain mengubah