• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kesimpulan

Dalam penelitian ini, nilai dan norma agama Islam yang disosialisasikan pada anak usia dini oleh guru dan orangtua meliputi, (1) Nilai dan Norma Akidah, diantaranya: Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Kitab Suci, Iman kepada Rasul, Iman kepada Kiamat, Iman kepada Qada dan Qadar. (2) Nilai dan Norma Ibadah, diantaranya: Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, dan Haji. (3) Nilai dan Norma Akhlak, diantaranya: Kejujuran, Kesabaran, Keadilan, Meminta Izin, Bergaul yang baik, Bicara yang baik, dan Adab makan dan minum.

Nilai dan norma di atas disosialisasikan melalui metode pendidikan Islam, antara lain yang pertama adalah metode keteladanan, yakni memberikan contoh kepada anak baik berupa tingkah laku, sifat, maupun cara berpikir. Metode keteladanan bisa diterapkan melalui berbagai pengajaran nilai dan norma agama Islam pada anak usia dini oleh guru dan orangtua, diantaranya mengajarkan membaca kalimat Thayyibah agar anak lebih mengenal Allah, mengajarkan membaca Iqro’ agar anak mengenal Al-Qur’an, mengajarkan membaca Syahadat agar anak mengenal Allah dan Rasul-nya, mengajarkan Sholat agar anak tahu bagaimana caranya menyembah Allah, mengajarkan Puasa agar anak tahu dan merasakan bagaimana keadaan orang-orang lemah (fakir miskin), mengajarkan Zakat agar anak memiliki sifat dermawan, mengajarkan Kejujuran, mengajarkan Keadilan, mengajarkan Kesabaran, mengajarkan Meminta Izin, mengajarkan Bergaul yang baik, mengajarkan Bicara yang baik, mengajarkan Adab makan dan minum. Dalam teori yang dipakai pada penelitian ini, yakni teori tindakan sosial, pengajaran nilai dan norma agama

commit to user

Islam di atas merupakan perwujudan dari tindakan Rasional Instrumental dan Rasional Nilai. Dalam rasional instrumental, orangtua memiliki tujuan atau harapan agar anaknya berperilaku sesuai dengan nilai dan norma agama Islam. Tindakan rasional instrumental dapat diterapkan pada pengajaran nilai dan norma Akhlak dan nilai dan norma Ibadah karena guru dan orangtua menilai bahwa pengajaran- pengajaran yang dilakukan merupakan cara terbaik bagi anak mereka mengenal nilai dan norma agama Islam sejak dini, selain itu guru dan orangtua juga menilai bahwa tujuan dari pengajaran nilai dan norma agama Islam pada anak sejak dini merupakan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi anak kedepannya nanti. Sedangkan dalam rasional nilai, tidakan yang dilakukan guru dan orangtua ditentukan oleh keyakinan penuh kesadaran akan nilai perilaku-perilaku etis, estetis dan religius. Tindakan rasional nilai dapat diterapkan pada pengenalan semua aspek dalam nilai dan norma agama Islam pada anak usia dini dan pengajaran nilai dan norma Akhlak karena berlandaskan pada perilaku etis dimana guru dan orangtua menentukan cara-cara yang terbaik dan paling tepat untuk mencapai tujuan. Tujuan dari pengajaran nilai dan norma Akhlak pada dasarnya adalah agar anak berperilaku sesuai dengan nilai dan norma dalam agama yang kebanyakan dianut oleh sebagian besar masyarakat, sehingga perilaku tersebut diterima oleh masyarakat di lingkungan sekitar dan masyarakat luas. Yang kedua adalah metode memberi nasihat, yakni memberikan penjelasan kepada anak tentang kebenaran dengan tujuan menghindarkan anak dari bahaya serta menunjukan jalan yang mendatangkan kebahagiaan. Metode ini diterapkan guru dan orangtua dalam pengajaran nilai dan norma Akhlak pada anak mereka. Selain mengajarkannya, guru dan orangtua juga memberikan nasihat-nasihat apabila anak melakukan perbuatan yang melanggar nilai dan norma agama Islam. Metode ini dalam teori tindakan sosial merupakan tindakan rasional nilai. Yang ketiga

commit to user

adalah metode motivasi dan intimidasi. Metode motivasi bersandar pada pembangkitan dorongan intrinsik manusia dan pengaruhnya relative lama. Sedangkan metode intimidasi bersandar pada rasa takut dan pengaruhnya relative sementara. Metode motivasi dan intimidasi diterpakan orangtua ketika memberikan sosialisasi nilai dan norma agama Islam pada anak mereka. Metode motivasi berkaitan erat dengan proses pengajaran nilai dan norma agama Islam. Misalnya, jika anak belum lancar membaca Iqro’ maka orangtua senantiasa mengajari anaknya hingga lancar membaca atau menyuruh anak mereka untuk mengikuti kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di Masjid. Metode motivasi juga bisa dilakukan dengan pemberian fasilitas pada anak, misalnya, memfasilitasi anak dengan memberikan baju muslim, Iqro’, peci, sarung, mukena, kerudung, dan lain-lain. Karena sifat dasar anak usia dini yang masih suka bermain, maka tak jarang ada orangtua yang memberikan mainan kepada anaknya jika anak tersebut mau melakukan peribadatan yang diperintahkan orangtuanya. Selain metode motivasi, juga ada metode intimidasi. Metode intimidasi lebih bersifat pada penerapan hukuman. Konsep hukuman di sini bukanlah hukuman fisik melainkan hukuman non fisik. Hukuman non fisik yang sering diterapkan orangtua pada anak, seperti melarang anak bermain, tidak memberikan uang jajan, tidak membelikan mainan, menyuruh anak masuk ke kamar dan tidak boleh kemana- mana, dan lain-lain. Hukuman-hukuman seperti ini diterapkan orangtua ketika anaknya melakukan perbuatan yang melanggar nilai dan norma agama Islam karena pada dasarnya anak usia dini belum mengerti dan belum bisa membedakan mana tingkah laku yang salah dan mana tingkah laku yang benar. Tujuan orangtua menerapkan hukuman-hukuman seperti di atas adalah agar anak tidak mengulangi tindakan-tindakan yang melanggar nilai dan norma agama Islam dan yang tidak diinginkan masyarakat. Sedangkan penerapan hukuman yang dilakukan oleh guru di

commit to user

sekolah seperti menyuruh anak menyanyi di depan kelas, mengahafalkan surat-surat pendek dalam Al-Qur’an dan doa-doa sehari-hari, menyuruh anak membereskan minan yang tercecer, tidak memberi pujian pada anak, dan yang terakhir adalah mendudukkan anak sendirian di ruang kantor guru, Pelanggaran-pelanggaran tersebut kebanyakan berkaitan erat dengan nilai dan norma Akhlak, misalnya, merebut makanan teman, mendorong teman disaat bermain, menjahili teman (khususnya anak laki-laki terhadap anak perempuan), berbicara tidak sopan (kasar dan kotor), mengejek teman, dan masih banyak lagi. Ketika pelanggaran-pelanggaran itu terjadi, guru hanya memberikan nasihat kepada anak bahwa perbuatan itu tidak boleh dilakukan dan menyuruh anak untuk saling bermaafan. Pemberian hukuman atau intimidasi merupakan tindakan afektif, dimana tindakan orangtua dipenuhi dengan emosi. Yang keempat adalah metode pembiasaan, merupakan proses penanaman kebiasaan perilaku dalam kehidupan sehari-hari anak. Metode ini diterapkan guru di sekolah dalam membiasakan pengenalan dan pengajaran nilai dan norma Akidah, Ibadah, dan Akhlak. Misalnya, anak didik dibiasakan untuk membaca kalimat Syahadat sebelum memulai pelajaran, dibiasakan untuk menghapal surat-surat pendek dalam Al-Qur’an, dibiasakan untuk membaca Iqro’, dibiasakan untuk bersabar menunggu giliran masuk kelas, dibiasakan untuk meminta izin ketika akan ke luar kelas atau mengambil sesuatu dari keranjang APP dan APE, dibiasakan untuk berbicara yang baik dengan tidak membentak guru atau mengucapkan perkataan kotor, dibiasakan untuk berbuat adil dengan bergantian untuk memainkan APP dan APE, dan dibiasakan untuk makan dan minum dengan cara yang benar. Sedangkan orangtua, sebagian ada yang menerapkan metode pembiasaan dan sebgaian ada yang tidak. Orangtua yang menerapkan metode pembiasaan kebanyakan didasarkan pada kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya pada masa lalu. Misalnya, membiasakan

commit to user

anaknya berdoa sebelum berangkat sekolah, sebelum makan, dan sebelum tidur, membiasakan anaknya meminta izin bila masuk ke kamar orangtuanya, berangkat sekolah, bermain di luar rumah, dan lain-lain. Metode pembiasaan dalam teori tidakan sosial erat kaitannya dengan tindakan tradisional, dimana tindakan yang dilakukan orangtua merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan pada masa lalu. Biasanya, tindakan yang dilakukan orangtua pada masa lalu merupakan tindakan yang dianggap benar karena tindakan tersebut didapat dari generasi sebelumnya.

Penelitian ini dilakukan di PAUD Purnama Pedan karena PAUD Purnama merupakan salah satu Taman Kanak-Kanak yang berada di Kecamatan Pedan yang berlandaskan pada pendidikan agama Islam dan merupakan Taman Kanak-Kanak dibawah naungan yayasan yang memiliki jumlah murid paling banyak. Data penelitian ini diperoleh dari beberapa sumber data yaitu data primer yang berasal dari wawancara yang mendalam kepada para guru yang mengajar di PAUD Purnama dan para orangtua yang menyekolahkan anaknya di PAUD Purnama. Data sekunder berasal dari data-data monografi Kecamatan Pedan, Kelurahan Kedungan, dan Petunjuk Pelaksanaan PAUD Purnama.

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, dengan jumlah 6 responden yang diambil berdasar data orangtua yang menyekolahkan anaknya di PAUD Purnama yang memiliki anak usia 0 s.d 6 tahun. Ditambah 1 informan yaitu kepala sekolah PAUD Purnama.

Untuk menetapkan keabsahan data, peneliti menggunakan triangulasi. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber. Sumber yang dipakai adalah orangtua murid sebagai fokus penelitian dan murid sebagai pembandingnya.

commit to user

Kelemahan yang terdapat dalam penelitian ini terletak pada proses triangulasi data, di mana peneliti harus menyinkronkan jawaban antara orangtua dengan anaknya. Untuk melakukan wawancara terhadap anak usia dini merupakan sesuatu yang sulit, karena anak usia dini belum paham akan sesuatu yang bersifat logis. Maka dari itu peneliti mengambil cara lain dengan cara melakukan observasi atau pengamatan, di mana peneliti mengamati perilaku anak apakah sesuai dengan yang diungkapkan oleh orangtuanya.

Data di lapangan menunjukkan bahwa anak didik PAUD Purnama telah dikenalkan nilai dan norma agama Islam, seperti akidah, ibadah dan akhlak sejak pertama masuk sekolah, sehingga tidak asing lagi bagi mereka ketika belajar di rumah bersama orangtuanya. Kehadiran PAUD yang berbasiskan agama (Islam) sangat membantu orangtua dalam mengajarkan agama kepada anak, orangtua tidak perlu panjang lebar lagi dalam memberikan pengertian agama kepada anak.

Tugas orangtua selanjutnya adalah membiasakan anak mereka untuk selalu melaksanakan hal-hal yang diperintahkan agama dan menjauhi segala yang dilarang oleh agama. Seperti membiasakan sholat, membaca iqro’, menghafal surat-surat pendek dalam Al-Qur’an, dan lain-lain. Secara sosiologis, nilai akhlak (moral/perilaku) lebih sesuai jika diajarkan kepada seorang anak sedini mungkin. Karena perilaku seorang anak akan selalu dinilai dan mendapatkan perhatian khusus dalam masyarakat. Jika perilaku seorang anak itu menyimpang dari nilai dan norma yang ada dalam masyarakat dan yang telah diatur dalam agama maka perilaku anak tersebut akan ditolak oleh sebagian masyarakat, dan begitu juga sebaliknya.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa peran orangtua dalam sosialisasi nilai dan norma agama Islam pada anak usia dini di PAUD Purnama tidak hanya

commit to user

ditentukan oleh peran ibu saja yang dikarenakan kedekatan kejiwaan anak lebih condong kepada ibu, tetapi peran bapak sebagai kepala keluarga juga tidak terlepas.

Dalam sosialisasi nilai dan norma agama pada anak usia dini sangat tergantung pada tingkat pengetahuan dan pemahaman keagamaan yang dimiliki oleh orangtua, baik ibu maupun bapak. Tingkat pendidikan antara responden yang satu dengan yang lain sama sekali tidak berpengaruh terhadap sosialisasi nilai dan norma agama Islam pada anak usia dini. Meskipun tingkat pendidikan orangtua itu tinggi namun jika pemahaman agamanya minim maka dalam proses sosialisasi nilai dan norma agama Islam pada anaknya akan mengalami kesulitan.

B. Saran-Saran

1. Bagi Orangtua

a. Meskipun di sekolah telah disosialisasikan nilai dan norma agama Islam, orangtua janganlah melepaskan tanggung jawab untuk mengajarkan anaknya tentang pendidikan keagamaan. Karena anak usia dini lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama orangtuanya. Maksimalkan penggunaan ”Buku Penghubung PAUD Purnama” sebagai acuan perkembangan belajar anak, sehingga dengan begitu orangtua akan tahu sejauh mana anaknya telah mengalami perkembanngan dalam bidang pengembangan fisik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, seni, dan khususnya pengembangan moral dan nilai dan norma agama.

b. Hendaknya orangtua lebih memahami karakteristik anak usia dini yang lebih suka bermain daripada belajar. Maka dari itu orangtua harus sepintar mungkin memanfaatkan waktu anak ketika bermain dengan sedikit memberikan pelajaran agama. Dengan begitu anak tidak akan sadar bahwa

commit to user

ketika bermain ia juga sedang belajar, sehingga belajar bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.

c. Hendaknya orangtua konsisten terhadap apa yang diajarkan kepada anaknya. Lakukan dengan tahap pembiasaan agar nantinya anak bisa mengerjakan perbuatan yang diperintahkan agama dengan sendirinya. d. Hindari hukuman yang bersifat kekerasan fisik pada diri anak jika anak

melakukan suatu kesalahan dengan melakukan tindakan yang menyimpang pada nilai dan norma yang telah ditetapkan dalam agama. Karena hal ini akan membuat anak merasa ketakutan jika melakukan kesalahan dalam mengerjakan suatu perbuatan.

e. Sebaliknya, berikanlah penghargaan atau pujian kepada anak jika melakukan suatu tindakan yang sesuai dengan nilai dan norma dalam agama. Karena masa usia dini adalah masa-masa yang penuh dengan lautan pujian maupun penghargaan. Pujian bisa dilakukan dengan cara memberikan kasih sayang yang lebih kepada anak, berupa ciuman, pelukan, ataupun kata-kata yang bersifat memuji. Namun sebenarnya anak akan merasa lebih senang jika ia mendapatkan penghargaan berupa hadiah dalam bentuk barang (mainan) jika melakukan suatu tindakan yang dianggap benar.

2. Bagi Guru

Kepada guru PAUD Purnama perlu memperhatikan segala tingkah laku anak didik di dalam maupun di luar kelas. Pengawasan yang sepenuhnya sangat dibutuhkan, karena pada masa usia dini seorang anak belum bisa membedakan perbuatan mana yang dianggap baik dan perbuatan mana yang dianggap buruk. Ketika anak didik sedang bermain bersama temannya di luar

commit to user

kelas, para guru perlu diharapkan untuk selalu menerapkan nilai dan norma akhlak berupa bergaul yang baik kepada sesama.

Melakukan komunikasi yang terbuka kepada para orangtua untuk membahas perkembangan belajar anak mereka, sehingga dengan begitu tujuan pendidikan dapat tercapai secara maksimal.

Masa usia dini adalah masa-masa di mana anak senag sekali bermain, maka dari itu sesekali proses belajar mengajar bisa dilakukan di luar kelas (out door). Misalnya untuk menambah pengetahuan umum anak yakni bisa mengajak anak didik untuk belajar mengamati bagaimana proses pembuatan tempe.

Sarana dan prasarana dalam menunjang proses pendidikan anak usia dini perlu ditingkatkan, seperti dalam hal pengadaan Alat Peraga Pendidikan dan Alat Permainan Edukatif. Karena pada masa usia dini imajinasi anak belum berkembang, sehingga mereka belum bisa memikirkan hal-hal yang bersifat abstrak dan logis. Dengan APP dan APE maka akan sangat membantu anak dalam mengenal benda-benda di sekitarnya.

Dalam sosialisasi nilai dan norma agama Islam pada anak usia dini, hendaknya para tenaga pendidik juga menerapkan metode pembiasaan dalam mengenalkan dan mengajarkan anak didiknya tentang pengetahuan agama. Seperti praktek sholat, membaca iqro’, menghafal surat-surat pendek, do’a- do’a, dan masih banyak lagi. Maka dengan begitu akan membantu orangtua dari anak didik yang memiliki pengetahuan agama yang minim.

Dokumen terkait