Berisikan kesimpulan dan saran yang mengemukakan kesimpulan semua hal yang dilakukan penelitian, terutama akan hal pengolahan data yang diperoleh pemecahannya serta langkah-langkah yang patut dilakukan pihak perusahaan.
6. DAFTAR PUSTAKA
Daftar pustaka berisikan literatur untuk penyusunan laporan tugas akhir.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pabrik Perkebunan Nusantara IV Unit Bah Butong
Pada tahun 1917 sebuah perusahaan Belanda yang bernama Namblodse Venotschhaaf Nederland Handel Maskapai (NV NHM) membuka areal kebun teh Bah Butong. Pada tahun 1927 kemudian didirikannya sebuah pabrik dan mulai beroperasi pada tahun 1931 (Tindaon. R.F. 2009)
Pada tahun 1957 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 229/UM/57 pada tanggal 10 Agustus 1957 yang diperkuat dengan Undang- undang Nasionalisasi Nomor 86/1958 pemerintah Indonesia melakukan pengambil alihan perusahaan yang dikelola bangsa asing, dalam hal ini termasuk perusahaan Nederland Handel Maskapai (NHM) yang turut diambil alih.
Pada tahun 1961, melalui Undang- Undang Nomor 141 Tahun 1961 Sumut III dan Jo PP Nomor 141 Tahun 1961, dinyatakan bahwa dua lembaga PPN Baru dan Pusat Perkebunan Negara mengalami peleburan menjadi satu bagian yaitu Badan Pimpinan Umum PPN Daerah Sumatera Utara I-IX. Perkebunan The Sumatera Utara pada tahun 1963 mengalami peralihan perusahaan menjadi Perusahaan Aneka Tanaman IV (ANTAN-IV) yang dihasilkan melalui PP Nomor 27 Tahun 1963. Perubahan nama perusahaan terjadi pada tahun 1968 dari Perusahaan Aneka Tanaman IV (ANTAN-IV) menjadi Perusahaan Negara Perkebunan VIII (PNP VIII) melalui PP Nomor 141 Tahun 1968 yang ditetapkan tanggal 13 April 1968.
Pada tahun 1974, terjadi perubahan pengelolahan menjadi Persero yang membuat nama perusahaan berubah menjadi PT. Perkebunan VIII (PTP VIII) yang dilandasi hokum melalui Akta Notaris GHS Lumban Tobing SH Nomor 65 Tanggal 31 April 1974 yang diperkuat dengan SK Menteri Pertanian Nomor YA/5/5/23 Tanggal 7 Januari 1975. Pada awal tanggal 11 Maret 1996 terjadi perubahan restrukturisasi yang membuat Perkebunan Teh Bah Butong menjadi masuk dalam ruang lingkup PTP Nusantara IV melalui Akta Pendirian PTPN IV
Nomor 37 Tanggal 11 Maret 1996 yang didalamnya berisi tentang pengaturan peleburan PTP VI, PTP VII dan PTP VIII menjadi PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero).
Pada tahun 1998 hingga tahun 2000 dibangunkannya pabrik baru Bah Butong yang lebih besar dan lebih modern. Seusia pengerjaannya, maka pabrik tersebut diresmikan pada tanggal 20 Januari 2001. Melalui perundangan yang didasarkan pada keputusan pemegang saham No.: PTPNIV/RUPS/01/X/2014 atau No.: SK- 51/DI.MBU/10/2014 yang dimuat dalam SD No.: 04.01/SE/18/10/2014 tersebut telah terjadi perubahan anggaran dasar PTPN IV, dimana salah satunya adalah terkait perihal perubahan status Perseroan. Perubahan status kepemilikan Negara Republik Indonesia pada PTPN IV hanya 10% (sepuluh persen), maka status PTPN IV tidak lagi sebagai perusahaan BUMN tetapi anak perusahaan BUMN atau PTPN III (Persero). Berdasarkan ketentuan dalam SE tersebut, telah dilakukan perubahan nama perusahaan menjadi PT Perkebunan Nusantara IV.
2.1.1 Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi merupakan suatu bagian yang dibutuhkan bagi sebuah perusahaan untuk mempermudah pencapaian sasaran dan target perusahaan yang telah direncanakan sejak awal. Dibutuhkannya struktur organisasi supaya pelaksanaan tugas dan tanggung jawab masing-masing tenaga kerja atau personil dapat terkoordinir dengan baik dan jelas.
Tanggung jawab yang dimiliki oleh setiap anggota peusahaan melalui struktur organisasi yang berada pada perusahaan, maka setiap anggota yang berada didalamnya akan dapat mempertanggung jawabkan setiap hal atau tugas yang menjadi bagiannya untuk dilakukan dengan baik. Berikut struktur Organisasi pada PT Perkebunan Nusantara IV Unit Bah Butong pada gambar 2.1.
7
Gambar 2.1 Struktur Organisasi 2.1.2 Proses produksi
PT. Perkebunan Nusantara IV, Unit Bah Butong merupakan perusahaan BUMN yang bergerak pada produksi teh hitam. Produk yang dihasilkan PTPN IV terdapat beberapa macam produk teh hitam,
1. BOP I ( Broken Orange Pekoe ) : Bagian bagiannya pendek, agak kecil, hitam terpilih, terdiri dari tulang tulang daun pendek terutama berasal dari daun muda mengandung sedikit atau tanpa tip
2. BOP (Broken Orange Pekoe ) : Bagian bagiannya pendek, agak kecil, hitam terpilih, terdiri dari tulang tulang daun pendek terutama berasal dari daun muda mengandung sedikit atau tanpa tip
3. BOPF (Broken Orange Pekoe Fanning) : Berbentuk seperti BOP tetapi lebih kecil
4. BP (Broken Pekoe) : Pendek lurus, terdiri dari tangkai dan tulang daun muda yang tidak terkelupas
5. BT (Broken Tea) : kecil,pipih,tidak terpilih dengan baik
6. PF (Pekoe Fanning) : berbentuk seperti BOP, tetapi berukuran lebih besar dari fanning
7. DUST I : berukuran kecil
8. BP II (Broken Pekoe II) : berbentuk seperti BP,tetapi lebih banyak mengandung tangkai dan tulang daun tua yang terkelupas, bewarna lebih kemerhan disbanding BP
9. BT II (Broken tea II ) : seperti BP namun mengandung serat
10. PF II ( Pekoe Fanning II) : seperti PF,lebih banyak mengandung serat 11. DUST II : sangat kecil dan mengandung banyak serat
12. DUST III : sangat kecil dan lebih banyak serat dibanding DUST II 13. DUST IV
14. FANNING II : berukuran lebih kecil dari BOPF, campuran antar partikel pipih ,keriting dan lebih banyak serat
Proses produksi teh hitam harus melalui tahapan fermentasi (pemeraman).
PTPN IV Bah Butong memproduksi jenis teh hitam dengan sistem pengolahan orthodox. Untuk menjadi teh yang siap dikosumsi di pabrik Bah Butong secara garis besar dibagi menjadi 7 tahapan yaitu:
1. Stasiun Penerimaan Pucuk Teh Basah 2. Stasiun Pelayuan
3. Stasiun Penggulungan 4. Oksidasi enzymatic 5. Stasiun Pengeringan 6. Stasiun sortasi 7. Pengepakan
Bisa dilihat pada gambar 2.2, alur proses produksi dari daun teh basah menjadi teh siap dikosumsi di pabrik Bah Butong.
9
Gambar 2.2 Alur Proses Pengolahan Teh Hitam 2.2 Stasiun Pelayuan
Sebelum masuk pada stasiun penggulugan daun teh akan dilayukan. Pada proses pelayuan merupakan tahap penting dari pengolahan teh hitam, dilakukan proses kimiawi guna mengurangi kadar air pada pucuk daun teh basah. Pada dasarnya tujuan dari proses pelayuan adalah untuk menguapkan sebaigan kadar air
secara perlahan pada pucuk daun teh basah, sehingga daun menjadi lemas dan mudah untuk dilakukan proses penggulungan. Secara langsung baik atau tidaknya hasil layuan menentukan kualitas mutu teh yang dihasilkan. Proses pelayuan dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu suhu, kelembaban udara, dan volume udara yang menembus disela-sela daun yang dilayukan. Dalam proses pelayuan suhu udara harus dijaga dengan baik agar daun tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lama ketika layu. Untuk mendapatkan tingkat kelayuan daun yang baik, maka pada proses pelayuan suhu yang digunakan yaitu berkisar antara 28⁰C-30⁰C, namun suhu yang digunakan tidak boleh melebihi dari 30⁰C karena dikhawatirkan daun akan terlalu layu, karena derajat layu yang baik yaitu berkisar antara 44⁰-46⁰.
Ciri-ciri pucuk layu sesuai dengan yang diharapkan yaitu sebagai berikut:
a. Ketika pucuk daun dikepal, maka pucuk daun akan berbentuk seperti bola dan meninggalkan bekas tangan pada kepalan tersebut.
b. Ketika diraba dengan menggunakan tangan, pucuk daun terasa sepert meraba sapu tangan sutera.
c. Karena tidak terlalu kering, pucuk daun ketika diremas mengeluarkan bunyi seperti patahan batang daun.
d. Ketika dihirup daun yang sudah layu dengan baik akan mengeluarkan aroma wangi teh, hal ini berbeda ketika pucuk daun belum layu dengan baik.
e. Struktur daun menjadi lemas dan batang daun terasa lentur.
f. Protein pada daun teh akan terbongkar menjadi asam amino bebas.
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pelayuan diantaranya:
a. Kondisi pucuk daun teh, dimana pucuk teh yang berumur tua dan kasar akan mudah cepat layu dibanding pucuk daun teh berumur muda dan halus.
b. Cuaca, ketika musim hujan daun akan lebih sulit untuk dilayukan dan membutuhkan penanganan khusus disbanding pelayuan pucuk daun ketika musim kemarau.
c. Lama pelayuan, kisaran waktu normal untuk pelayuan pucuk daun basah yaitu berkisar antara 16-18 jam). Jika tidak sesuai dengan waktu tersebut
11
maka berdampak daun terlalu kering dan daun terlalu basah, hal tersebut akan mempengaruhi kualitas produk akhir. Jika daun teh terlalu kering maka hasil seduhan akan bewarna lebih gelap, rasa sepat, serta aroma teh yang kurang sedap. Ketika daun terlalu cepat diangkat maka pucuk layu akan sulit untuk digulung serta sifat organoleptiknya akan sulit keluar (rasa dari teh)
d. Suhu pelayuan, disarankan suhu tidak lebih dari 30°C.Apabila suhu terlalu tinggi akan mengakibatkan protein enzim polifenol oksidase mulai terdenaturasi yang akan menghambat bahkan berpeluang untuk tidak terjadi oksidasi enzimatis pada tahap proses pengolahan selanjutnya.
e. Peralatan, apabila peralatan (witehring trough dan blower) bekerja dengan baik, maka proses pelayuan dapat berjalan dengan baik pula
f. Tebal hamparan, dengan memperhatikan ketebalan hamparan pucuk daun akan dapat mengoptimalkan proses pelayuan.
Setelah melewati proses pelayuan daun teh akan di proses pada stasiun penggulungaan.
2.3 Stasiun penggulungan
Proses penggulungan bertujuan untuk membentuk mutu teh dengan cara kimia maupun fisik. Pada proses penggulungan dari satu pucuk daun teh nantinya dibagi menjadi 5 jenis teh, yaitu Bubuk 1, Bubuk 2, Bubuk 3, Bubuk 4, dan Badag.
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses penggulungan, diantaranya:
1. Kelembaban udara, kelembaban udara dalam stasiun penggulungan harus tetap terjaga pada kisaran 90-95%, alat yang digunakan yaitu humidifier (kipas kabut)
2. Suhu ruangan, untuk mempertahankan keaktifan protein enzim polifenol oksidase maka suhu ruangan harus dijaga pada kisaran 22-24 ⁰C
3. Lama waktu penggilingan, untuk memperoleh hasil yang maksimal maka waktu penggilingan harus tepat, tidak boleh terlalu cepat atau terlalu lambat.
Langkah awal pada stasiun ini adalah pucuk teh yang telah diturunkan dari stasiun pelayuan langsung masuk ke mesin OTR (Open Top Roller) dengan ketentuan pengisian tidak boleh terlalu cepat dan terlalu lambat dengan estimasi waktu pengisian yaitu berkisar antara 5-7 menit.
Proses penggulungan mengakibatkan bentuk pucuk daun teh menjadi hancur, robek, yang pada proses selanjutnya digunakan untuk membedakan kualitas produk melalui proses pengayakan dengan menggunakan mesin DIBN (Double Indian Burblelaker Netehrland). Hasil penggilingan dari mesin OTR kemudian dibawa dengan menggunakan gerobak angkut menuju mesin DIBN 1, hasil yang lolos ayakan kemudian disebut Bubuk 1.
Pucuk teh yang tidak lolos pada DIBN 1 dibawa dengan menggunakan gerobak angkut menuju mesin PCR (Press Cap Roller) untuk dilakukan penggilingan kembali. Hasil dari mesin PCR dibawa kembali pada mesin DIBN 2 untuk dilakukan proses ayakan yang akan menjadi Bubuk 2
Pucuk yang tidak lolos pada mesin DIBN 2 kemudian dibawa dengan menggunakan Conveyor menuju RV 1 (Rotorvane), hasil dari RV 1kemudian diayak dengan menggunakan mesin DIBN 3, hasil yang lolos ayakan nantinya akan menjadi Bubuk 3. Pucuk yang tidak lolos ayakan pada mesin DIBN 3 kemudian dibawa dengan menggunakan Conveyor menuju mesin RV 2 untuk dilakukan penghancuran pucuk teh kembali, setelah diayak dengan menggunakan DIBN 4, pucuk yang lolos ayakan akan menjadi Bubuk 4, dan yang tidak lolos akan disebut sebagai Badag. Berikut ini mesin dan peralatan yang digunakan pada stasiun penggulungan:
1. Open Top Roller (OTR)
Open Top Roller berfungsi untuk mengeluarkan cairan sel pucuk layu dan menggulung teh pucuk layu. Mesin ini memiliki kapasitas 350 kg hingga 375 kg/ proses. Sekali proses mesin ini membutuhkan waktu 45 menit atau mesin Open Top Roller memproses daun teh yaitu 500kg/jam. Untuk mengeluarkan pucuk layu yang telah digulung dan digiling, pintu pengeluaran yang terpasang pada meja dibuka secara manual dengan memutar tuas pembuka.
13
2. Dubbele India Balbreaker Natsorteerder (DIBN)
Dubbele India Balbreaker Natsorteerder (DIBN) untuk sortasi bubuk dari hasil olah mesin OTR dan PCR maupun rotorvane sesuai dengan ukuran ayakan yang digunakan. Pada DIBN pertama terpasang mesh berukuran 5x5 dan 6x6, pada DIBN kedua dan ketiga terpasang ayakan mesh dengan ukuran 6x6. Bagi bubuk yang terayak pada mesh 5x5 akan menjadi bubuk I, bagi pucuk layu yang terayak pada mesh 6x6 pada ayakan II di DIBN no.1 akan menjadi bubuk 2.
3. Press Cup Roller (PCR)
Mesin Press Cup Roller (PCR) berfungsi untuk menggulung memotong hasil gulungan dan mengeluarkan cairan sel semaksimal mungkin. dilengkapi dengan tutup guna memberikan tekanan dari bobot pucuk serta tekanan yang dikehendaki.Di unit usaha Bah Butong memiliki 8 buah PCR. Adapun cara kerja yang digunakan oleh PCR hampir sama dengan OTR, namun perbedaannya adalah meja roller dibuat diam dan yang bergerak adalah bagian silinder pembawa pucuk sehingga disebut dengan mesin single action roller
4. Rotorvane
Rotorvane berfungsi untuk mengecilkan ukuran partikel dengan cara penekanan dan penyobekan. Penyobekan ini meningkatkan persentase teh bermutu baik dan memperbaiki seduhan teh kering. Mesin ini terdiri dari sebuah silinder horizontal dengan bagian dudukan penyangga yang terbuat dari plat dasar. Mesin Rotorvane memiliki prinsip kerja yaitu perputaran poros engkel yang memutar ulir pendorong menyebabkan pucuk teh akan terdorong kedepan dengan kecepatan putar 33 rpm dan daya tampung sebanyak 760-900 kg. Rotorvane memiliki ukuran silinder sebesar 15 inchi.
5. Conveyor
Conveyor dalam stasiun penggulungan berguna untuk memindahkan bubuk teh secara berkelanjutan dari mesin satu kemesin yang lain dengan jumlah bahan relatif tetap karena Conveyor dilengkapi dengan pengatur ketebalan supaya bubuk tersebar secara merata.
6. Humidifier
Humidifier berguna untuk mengatur kelembaban udara pada ruang penggulungan sehingga proses oksidasi enzimatis dapat berjalan dengan baik dan suhu ruangan penggulungan tetap terjaga baik. Jumlah humidifier pada ruang penggulungan adalah 30 buah. Humidifier menggunakan air sebagai bahan untuk mendinginkan ruangan dan kapasitas air kondensasi yang digunakan sebanyak 18 liter tiap jamnya dengan putaran kipas mesin sebanyak 2810 rpm.
2.3.1 Open Top Roller (OTR)
Mesin Open Top Roller (OTR) adalah mesin yang digunakan di pabrik teh yang fungsinya untuk mengeluarkan cairan sel pucuk layu dengan menggulung teh pucuk layu. Pabrik teh unit Bah Butong memiliki 9 buah dengan 8 buah mesin Open Top Roller (OTR) yang masih dapat digunakan. Mesin Open Top Roller berkapaitas (OTR) 375 kg.
Prinsip kerja yaitu perputaran poros engkol yang dihubungkan dengan silinder penggulung dan meja penggiling sehingga menyebabkan pucuk teh akan tergulung dan tergiling. Kulit Silinder penggulung pada mesin Open Top Roller terbuat dari plat baja dan disambunngkan dengan sambungan baut pada ring pengikat selinder penggulung. Meja penggiling pada mesin Open Top Roller ini dilengkaping dengan alat yang berupa tonjolan (batten) dan alat pembalik (cones).
Mesin Open Top Roller bias dilihat pada gambar 2.3.
15
Gambar 2.3 Open Top Roller
a. Merk : TEHA
b. Bentuk model : Horizontal
c. Panjang : 2700 mm
d. Diameter silinder : 1200 mm e. Kapsitas : 375 kg
f. Daya : 20 hp
g. Putaran : 44 rpm
Gambar 2.4 Sketsa mesin Open Top Roller
Pada gambar 2.4 mesin Open Top Roller menggunakan elektro motor sebagai penggerak. Daya putaran yang dihasilkan pada elektro motor akan didistribusikan menggunakan v-belt ke gearbox dengan perbandingan pulley 1:3.
Gearbox bertujuan untuk menstransmisikan putaran pada mesin Open Top Roller dan merubah arah putaran. Gearbox dihubungkan ke poros engkol untuk menggerakkan silinder penggulung dan meja penggiling.
Pada Open Top Roller silinder digunakan untuk menggulung daun teh yang sudah dilayukan, sedangkan meja penggiling merupakan alas yg berputar sehingga daun teh akan menyentuh batten. Jika bahan menyentuh ujung batten yang lebih tebal, maka gesekkannya lebih tajam sehingga pucuk daun yang sudah tergulung tersebut akan terpotong. Pembalikkan pucuk daun teh dilakukan oleh cones.
17
Batten merupakan kuningan yang berbentuk seperti bulan sabit yang berjumlah 8 buah batten yang mengelilingi 1 buah cones. Dimana masing masing batten berukuran yaitu Panjang 500 mm tebal 25 mm sedangkan cones tinggi 10 mm.
2.3.2 Komponen Komponen Kritis Pada Mesin Open Top Roller (OTR) Katagori komponen kritis menurut (Tampubolon, 2004), yaitu:
Kerusakan fasilitas atau peralatan akan membahayakan keselamatan atau kesehatan para pekerja.
Kerusakan fasilitas atau peralatan akan mempengaruhi kualitas dari produk yang dihasilkan
Kerusakan fasilitas atau peralatan tersebut akan menyebabkan kemacetan dan terhentinya seluruh proses produksi
Pada mesin Open Top Roller terdapat 5 komponen mesin yang sering mengalami kerusakan yaitu Silinder penggulung, Meja penggiling, Poros engkol, Elektro motor, dan V-belt. Berikut ini komponen komponen pada mesin Open Top Roller yang sering mengalami kerusakan:
1. Silinder penggulung
Adalah Sebuah silinder merupakan wadah untuk menampung daun teh yang sudah layu dan silinder berputar untuk menggulung daun teh. Peluang kegagalan pada silinder penggulung pada mesin Open Top Roller terdapat pada pelat silinder dan sambungan pelat yang diakibatkan pembebanan yang secara terus menerus. Silinder penggulung dapat dilihat pada gambar 2.5.
Gambar 2.5 Silinder Penggulung Berikut spesifikasi Silinder Penggulung :
Merk :TEHA
Panjang : 1900 mm
Diameter : 1200 mm
Kapasitas : 375 kg/ 45 menit
2. Meja Pengiling
19
Adalah merupakan alas yg berputar sehingga daun teh akan menyentuh batten. Jika bahan menyentuh ujung batten yang lebih tebal, maka gesekkannya lebih tajam sehingga pucuk daun yang sudah tergulung tersebut akan terpotong.
Pembalikkan pucuk daun teh dilakukan oleh cones. Pada meja penggiling peluang kegagalan yang sering terjadi terjadi yaitu ausnya batten dan cones yang terdapat pada meja penggiling, bisa dilihat pada gambar 2.6
Gambar 2.6 Meja Penggiling Berikut spesifikasi Meja Penggiling:
Merk :TEHA
Kapasitas : 375 kg
Diameter : 2500 mm
Diameter cones : 7 mm Tinggi cones : 10 mm 3. Poros engkol
Sebuah rumah bantalan yang berfungsi untuk memutar silinder dan meja penggiling. Terdapat 3 buah poros engkol dan salah satu poros engkol digerakkan oleh elektro motor. Poros engkol digunakan untuk memutarkan silinder dan meja penggiling. Gambar 2.7 merupakan gambar poros engkol Peluang kegagalan yang sering terjadi yaitu shaft unbalance yang diakibatkan bearing yang terdapat pada poros engkol pecah.
Gambar 2.7 Poros engkol 4. Elektro motor
Elektro motor digunakan untuk menggerakkan dan memutar silinder dan meja penggiling yang dihubungkan melalui v-belt ke gearbox untuk mentransmisikan putaran pada mesin Open top roller (OTR). Pada elektro motor peluang kegagalan yang terjadi yaitu rusaknya elektro motor, yang diakibatkan kumparan pada elektro motor rusak dan coolingfan patah. Elektro motor pada mesin Open top roller yang digunakan yaitu satu elektro motor dan
21
satu sebagai cadangan apabila elektro motor mengalami kerusakan. Gambar 2.8 merupakan elektro motor yang terdapat pada mesin Open top roller.
Gambar 2.8 Elektro motor Spesifikasi :
Merk : TECO Daya : 30 HP Frekuensi : 50 Hz RPM : 1450 Made in : Singapore 5. V – belt
V-belt sebagai alat yang digunakan untuk mendistribusikan daya putar yang dihasilkan oleh elektro motor untuk memutar Open Top Roller (OTR), adapun masalah yang sering dijumpai pada V-belt adalah putus ataupun melonggar sehingga keefektifan putaran menurun. Gambar 2.9 V-belt yang terdapat pada mesin Open Top Roller.
Gambar 2.9 V-belt
2.4 Pemeliharaan (Maintenance)
Secara alamiah tidak ada barang yang dibuat oleh manusia yang tidak dapat rusak, tetapi usia kegunaannya dapat diperpanjang dengan melakukan perbaikan berkala dengan suatu aktivitas yang dikenal sebagai pemeliharaan.
Kelancaran proses produksi dipengaruhi oleh sistem perawatan yang diterapkan. Setiap peralatan mesin atau fasilitas yang terlibat dalam proses produksi pasti akan mengalami keausan sehingga pada suatu saat pasti akan mengalami kerusakan. Seberapa cepat keausan ini terjadi atau seberapa sering frekuensi kerusakan muncul akan menimbulkan prmasalahan sehubungan dengan munculnya gangguan pada suatu fasilitas ataupun pada keseluruhan proses produksi. Sistem pemeliharaan yang tidak dirancang dengan baik akan meningkatkan ketidaksesuaian produk dan biaya produksi yang terlibat, atau bahkan mengubah lingkungan kerja menjadi tidak aman. Beberapa akibat buruk ini secaralangsung akan menurunkan efisiensi dari proses produksi. (Nasution, 2006)
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pemeliharaan dilakukan untuk merawat ataupun memperbaiki peralatan perusahaan agar dapat melaksanakan proses produksi dengan efektif dan efesien sesuai dengan ketentuan yang telah direncanakan dengan hasil produksi yang berkualitas. Untuk mencapai
23
hasil yang diinginkan sebagai tujuan dari sebuah pabrik tentu melibatkan pihak-pihak yang memiliki tugas di bidang masing-masing
2.4.1 Tujuan Pemeliharaaan (Maintenance)
Maintenance merupakan kegiatan pendukung bagi kegiatan komersil, maka seperti kegiatan lainnya, maintenance harus efektif, efisien dan, berbiaya rendah.Dengan adanya kegiatan maintenance ini, maka mesin/peralatan produksi dapat digunakan sesuai dengan rencana dan tidak mengalami kerusakan selama jangka waktu tertentu yang telah direncanakan tercapai.
Beberapa tujuan maintenance yang utama (Assauri, 2008) antara lain:
1. Kemampuan berproduksi dapat memenuhi kebutuhan dengan rencana produksi.
2. Menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang di butuhkan oleh produk itu sendiri dan kegiatan produksi yang tidak terganggu.
3. Untuk membantu mengurangi pemakain dan penyimpangan yang di luar batas dan menjaga modal yang diinvestasikan dalam perusahaan selama waktu yang ditentukan sesuai dengan kebijakan perusahaan mengenai investasi tersebut.
4. Untuk mencapai tingkat biaya maintenance secara efektif dan efisien keseluruhannya.
5. Untuk menjamin keselamatan orang yang mengunakan keselamatan tersebut
6. Memaksimumkan ketersediaan semua peralatan sistem produksi (mengurangi downtime)
7. Untuk memperpanjang umur/masa pakai dari mesin/peralatan.
2.4.2 Fungsi Pemeliharaan
Menurut (Ahyari, 2002) Fungsi pemeliharaan adalah agar dapat memperpanjang umur ekonomis dari mesin dan peralatan produksi yang ada serta mengusahakan agar mesin dan peralatan produksi tersebut selalu dalam keadaan optimal dan siap pakai untuk pelaksaanaan proses produksi.
Keuntungan-keuntungan yang diperoleh dengan adanya pemeliharaan yang baik teradap mesin,adalah sebagai berikut :
1. Mesin dan peralatan produksi yanga ada dalam peruahaan yang bersangkutan akan dapat dipergunakan dalam jangka waktu panjang.
2. Pelaksanaa proses produksi dalam perusahaan yang bersangkutan berjalan dengan lancar.
3. Dapat menekan sekecil mungkin terdapatnya kemungkinan
3. Dapat menekan sekecil mungkin terdapatnya kemungkinan