• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TEMUAN DATA

KESIMPULAN DAN SARAN

Kelurahan Desa Lama merupakan salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Pancurbatu. Kelurahan ini didiami oleh berbagai etnik diantaranya etnik Karo, Tionghoa, Jawa, Batak Mandailing, Padang dan lain sebagainya. Tetapi penduduk asli daerah ini adalah etnik Karo, sedangkan etnik Tionghoa dan yang lainnya adalah merupakan kaum pendatang ke daerah ini.

Penelitian ini mengambil fokus permasalahan bagaimanakah interaksi sosial antara etnik Tionghoa dengan etnik Karo serta masalah yang dibahas ialah bagaimanakah proses asimilasi etnik Tionghoa terhadap etnik Karo di Kelurahan Desa Lama.

Interaksi yang paling baik untuk dilaksanakan adalah interaksi langsung tanpa adanya perantara diantara mereka. Etnik Tionghoa dan etnik Karo telah menjamin interaksi yang baik dan interaksi yang mereka bangun telah dapat mempererat hubungan persaudaraan yang semakin akrab dan lebih bersifat kekeluargaan. Interaksi yang mereka lakukan merupakan suatu persahabatan yang akan dapat mendukung untuk terjadinya asimilasi karena interaksi tersebut telah bersifat langsung dan primer.

Selain adanya komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering juga mengadakan perkumpulan-perkumpulan yang diantaranya adalah perkumpulan dari Gereja yang biasanya berupa acara kebakdan yang diadakan di rumah-rumah penduduk, adanya STM lingkungan yang kegiatannya sangat berhubungan erat

dengan acara pesta adat-istiadat berupa kegiatan baik dalam suka cita maupun duka cita, dan juga adanya STM marga. Sehingga dengan adanya kegiatan tersebut akan semakin mempercrat hubungan antara kedua etnik untuk lebih mengenal satu dengan yang lainnya. Selain itu juga mereka saling mengunjungi pada waktu ada acara perayaan hari besar keagamaan terutama bagi mereka yang bertetangga dan juga saling melayat apabila ada anggota keluarga dari masing-masing etnik yang meninggal dunia. Begitu juga dengan berbagai acara pesta baik itu pesta perkawinan, maupun upacara penguburan orang yang meninggal dunia, kedua etnik tersebut saling mengundang dan saling menghadiri.

Kedua etnik tersebut sudah menjalin hubungan persaudaraan yang erat tanpa membeda-bedakan lagi ketika mereka berinteraksi dengan sesama mereka. Mereka sudah saling menerima tanpa ada lagi perasaan yang membeda-bedakan dan mereka tidak merasa asing lagi ketika mereka berinteraksi dengan etnik yang lainnya. Sejak awal kedatangan orang Tionghoa di daerah ini, mereka langsung diterima oleh masyarakat setempat yaitu etnik Karo sebagai penduduk asli daerah ini. Menurut mereka etnik Tionghoa sendiri. Menurut mereka mungkin faktor pendukung kecocokan itu adalah merupakan kaum pendatang yang pertama kali ke daerah ini. Di samping itu juga pada waktu kedatangan orang Tionghoa ke daerah ini, mereka langsung mendekatkan diri kepada para tokoh masyarakat yang dalam istilah orang Karo disebut Kalak si ituaken i kuta yang mana orang inilah yang sangat dihormati dan disegani di kampung itu dan mereka ini sudah sangat paham bagaimana adat- istiadat etnik Karo tersebut Juga dapat dilihat bahwa etnik Tionghoa di daerah ini

sangat pandai mengambil simpati dari orang Karo tersebut. Dengan adanya perasaan simpati terhadap lain maka akan mendukung seseorang itu untuk bekerja sama dengan orang lain tersebut sehingga akan menjadi faktor pendukung untuk adanya saling pengertian sesama mereka.

Bahasa merupakan faktor yang penting yang mempermudah berinteraksi dengan siapapun juga. Bahasa yang dipergunakan ketika berinteraksi dengan masyarakat setempat adalah bahasa Karo, sehingga semua masyarakat pendatang di daerah ini sudah mengetahui bahasa Karo, termasuk orang Tionghoa sebagai kaum pendatang. Dari hasil penelitian lapangan dapat dilihat bahwa semua etnik Tionghoa di daerah ini sudah dapat berbahasa Karo, bahkan etnik Tionghoa tersebut sudah ada yang mempergunakan bahasa Karo tersebut ketika mereka berkomunikasi dengan anggota keluarga mereka di rumah. Para etnik Tionghoa tersebut banyak yang lahir di daerah ini, sehingga mulai dari masa kecilnya sudah mengetahui bahasa Karo karena teman-teman mereka baik di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah adalah orang Karo.

Berbeda halnya dengan orang Karo di daerah ini, dimana orang Karo tersebut tidak mengetahui bahasa Tionghoa karena mereka jarang mendengar bahasa Tionghoa. Hal itu diakibatkan oleh karena ketika mereka berkomunikasi dengan etnik Tionghoa bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Karo dan juga terkadang bahasa Indonesia. Sehingga orang Karo di daerah ini sangat sulit untuk mengetahui dan memahami bahasa Tionghoa. Bahkan dari 20 orang yang menjadi informan etnik Karo, hanya 7 orang atau sekitar 35% diantaranya yang mengetahui sedikit bahasa

Tionghoa dan itupun sebagian dari mereka mempelajarinya di luar daerah Desa Lama dan 13 orang lagi atau sekitar 65% mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui bahasa Tionghoa. Dengan adanya pemahaman etnik Tionghoa terhadap bahasa masyarakat setempat, maka hal ini memudahkan mereka untuk semakin cepat berbaur dengan masyarakat setempat yaitu orang Karo.

Etnik Tionghoa dan etnik Karo juga sudah ada yang melakukan perkawinan campuran (amalgamation) sehingga dengan adanya perkawinan campuran tersebut maka akan mempermudah bagi jalannya proses asimilasi yang semakin sempurna. Seperti hasil kuesioner lapangan menunjukkan bahwa dari 40 orang yang menjadi informan dapat dilihat bahwa 8 orang atau sekitar 20% diantaranya sudah melakukan perkawinan campuran, dimana 6 orang diantaranya istrinya bersal dari etnik Karo dan 2 orang diantaranya yang suaminya berasal dari etnik Karo. Namun dapat dilihat di daerah Desa Lama ini bahwa masih lebih banyak perempuan dari laki-laki etnik Karo yang menikah dengan etnik Tionghoa. Etnik Tioghoa tersebut juga sudah sama-sama memahami satu dengan yang lainnya seperti yang dikatakan oleh etnik Tionghoa karena mereka juga sudah berbaur dan sudah lama tinggal dengan orang Karo jadi mereka sudah memahami orang Karo dan juga karena mereka sudah mengadopsi dan menyesuaikan diri dengan adat orang Karo. Etnik Karo juga mengatakan perkawinan campuran itu tidak menjadi masalah lagi karena orang Tionghoa tersebut sudah memakai adat orang Karo. Informan etnik Karo yang menyetujui adanya perkawinan campuran sebanyak 17 orang atau sekitar 85% dan masih ada yang tidak setuju sebanyak 3 orang atau sekitar 3%. Mereka yang tidak setuju tersebut mengatakan

bahwa mereka masih memilih yang satu suku untuk menikah dengan anaknya karena orang Karo itu lebih memahami dan mengerti bagaimana sebenamya orang Karo itu.

Selain menggunakan bahasa Karo, para etoik Tionghoa tersebut juga sudah ada yang mengidentifikasikan dirinya dengan orang Karo dengan memakai marga Karo. Seperti berbagai kajian yang ditemukan di Asia Tenggara bahwa asimilasi orang Tionghoa telah nampak dalam pemakaian bahasa, pemakaian nama dan begitu juga yang telah terjadi di daerah ini bahwa orang Tionghoa tersebut sudah mau memakai marga orang Karo. Dari 20 orang yang menjadi informan etnik Tionghoa bahwa 8 orang atau sekitar 40% diantaranya sudah memakai marga orang Karo. Walaupun masih ada diantara mereka yang belum membuat marga orang Karo karena memakan biaya yang banyak dan harus mengadakan berbagai upacara adat Karo. Tetapi kebanyakan dari mereka membuat marga Karo Karo. Mereka (etnik Tionghoa) tersebut lebih suka membuat marga tersebut karena marga tersebut adalah marga yang pertama kali dan merupakan penduduk asli di daerah itu, jadi mereka lebih suka membuat marga tersebut. Alasan mereka membuat marga orang Karo adalah supaya mereka lebih cepat membaurkan diri dan menyesuaikan diri dengan masyarakat daerah itu yaitu orang Karo karena mereka telah tinggal di kampung orang Karo. Mereka juga mengatakan dengan dibuatnya marga mereka marga orang Karo maka mereka akan mengetahui posisi dan kedudukannya dalam masyarakat Dengan demikian keberadaan mereka akan lebih cepat diterima oleh orang Karo di daerah Desa Lama dan juga menurut mereka jika ada acara yang berhubungan dengan adat- istiadat keberadaan mereka lebih dihargai oleh orang Karo.

Juga dalam hal adat-istiadat bahwa etnik Tionghoa sebagai kaum pendatang telah mau mengadopsi budaya masyarakat setempat yaitu budaya Karo. Di daerah itu, budaya dominan adalah budaya Karo, sehingga seperti yang telah ditemukan di Bandung bahwa budaya dominan adalah budaya Sunda sehingga setiap pendatang telah menyesuaikan diri dengan budaya setempat. Demikian juga yang terjadi di Kelurahan Desa Lama dimana budaya yang dominan di daerah ini adalah budaya orang Karo sehingga etnik Tionghoa sebagai kaum pendatang di daerah ini telah mengadopsi dan telah menyesuaikan diri dengan budaya orang Karo.

Hal itu dapat dilihat bahwa etnik Tionghoa di daerah ini mau mengikuti adat- istiadat orang Karo. Pada waktu orang Karo mengadakan pesta, maka etnik Tionghoa tersebut mau mengikuti tradisi orang Karo, misalnya memakai uis nipes, membawa pertangis ataupun mereka mau juga memberikan uis nipes kepada orang-orang yang akan menerima uis nipes tersebut yang dalam istilah orang Karo kalau orang menerima uis tersebut berkedudukan sebagai mami.

Jika etnik Tionghoa mengadakan pesta, mereka ada yang mau mengadopsi budaya dan adat-istiadat orang Karo karena menurut mereka adat Karo itu wajib dilakukan karena mereka sudah tinggal di kampung orang Karo dan mereka telah bergabung dengan kehidupan orang Karo. Juga hal tersebut adalah salah satu cara mereka untuk lebih mengenal kehidupan orang Karo tersebut dan supaya mereka lebih cepat menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan orang Karo. Dengan demikian dapat dilihat bahwa etnik Tionghoa tersebut sudah mau membuka diri terhadap kehidupan orang Karo dan mereka sangat aktif untuk mengadakan pendekatan-

pendekatan terhadap orang Karo serta dapat dilihat bahwa mereka sudah mengadopsi dan telah menyesuaikan diri dengan budaya orang Karo. Dengan adanya sikap yang terbuka dari kelompok pendatang dan penduduk asli maka akan semakin mempermudah untuk menuju adanya asimilasi.

Dari hasil penelitian ini dapat ditemukan bahwa di Kelurahan Desa Lama Kecamatan Pancur Batu ini bahwa etnik Tionghoa sebagai kaum pendatang telah mulai melakukan pembauran terhadap kehidupan orang Karo, mereka telah menyesuaikan diri seperti orang Karo dan hal tersebut adalah strategi adaptasi etnik Tionghoa terhadap etnik Karo sebagai penduduk asli daerah ini supaya mereka lebih diterima oleh penduduk setempat. Dan kondisi demikian akan mendukung dalam menuju proses asimilasi antara etnik Tionghoa terhadap etnik Karo.

Dokumen terkait