dari suatu permasalahan yang diangkat serta memberikan saran yang berdayaguna menciptakan suatu jalam keluar dari suatu permasalah yang ada.
BAB II
PENGATURAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA EKSPLOITASI SEKSUAL (PERKOSAAN) DI BAWAH UMUR OLEH ORANG TUA TIRI
A. Peraturan Menurut KUHP
Tindak pidana kesopanan dalam hal persetubuhan tidak ada yang termasuk pada jenis pelanggaran, semuanya masuk pada jenis kejahatan. Kejahatan yang dimaksudkan ini dimuat dalam lima pasal, yakni: 284 (perzinahan), 285 (perkosaan bersetubuh), 286 (bersetubuh dengan perempuan yang bukan isterinya yang dalam keadaan pingsan), 287 (bersetubuh dengan perempuan yang belum berumur lima belas tahun yang bukan isterinya), dan pasal 288 (bersetubuh dalam perkawinan dengan perempuan yang belum waktunya dikawin dan menimbulkan luka atau kematian. Dibentuknya kejahatan di bidang ini, ditujukan untuk melindungi kepentingan hukum kaum perempuan di bidang kesusilaan dalam hal persetubuhan24
a. Tindak pidana mengadakan hubungan kelamin di luar pernikahan dengan seorang wanita yang belum mencapai usia lima belas tahun atau yang belum dapat dinikahi oleh pembentuk undang-undang telah diatur dalam pasal 287 KUHP, yang rumusan aslinya di dalam bahasa Belanda berbunyi sebagai berikut:
.
Pada bab ini membahas tentang pengaturan-pengaturan yang berkenaan dalam kasus perkosaan atau persetubuhan oleh ayah tiri terhadap anak dibawah umur. Dapat kita telaah sebagai berikut:
(1). Hij die buiten echt vleselijk gemeenschap heft met ene vrouw van wie hij weet of redelijkerwijs moet vermoeden dat zij den leeftijd van vijftien jaren nog niet heft bereikt of dat zij indien van haar leeftijd niet blijkt, nog niet huwbaar is, wordt gestraft met gevangenisstraf van ten hogste negen jaren.
(2). Veruolging heft niet plaats dan op klachte, tenzij de vrouw den leeftijd van twaalf jaren nog niet heft bereikt, of een der van de art. 291 en 294 aanwezig is25
hal-hal seperti yang diatur dalam pasal 291 dan pasal 294 .
Artinya:
(1). Barang siapa mengadakan hubungan kelamin di luar pernikahan dengan seorang wanita, yang ia ketahui atau sepantasnya harus ia duag bahwa wanita itu belum mencapai usia lima belas tahun ataupun jika tidak dapat diketahui dari usianya, wanita itu merupakan seorang wanita yang belum dapat dinikahi, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya Sembilan tahun.
(2). Penuntut tidak akan dilakukan apabila tidak ada pengaduan, kecuali jika wanita tersebut belum mencapai usia dua belas tahun atau jika terjadi
26
(b). unsur-unsur objektif : 1. Barang siapa
.
Tindak pidana yang diatur dalam pasal 287 ayat (1) KUHP terdiri atas unsur-unsur:
(a). unsur-unsur subjektif : 1. Yang ia ketahui
2. yang sepantasnya harus ia duga
25
Mr. Engelbrecht. M. L., De Wetboeken, Wetten en Verordeningen benevens de Grondwet van 1945 van de Republiek Indonesia, A. W. Sijthoffs Uitgeversmaatschappij N. V., Leiden, 1960, Pasal 287
26
Drs. P.A.F. Lamintang, S. H. dan Theo Lamintang, S. H., Delik-Delik Khusus Kejahatan Melanggar Norma Kesusilaan & Norma Kepatutan, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, Halaman. 113
2. mengadakan hubungan kelamin diluar pernikahan 3. wanita yang belum mencapai usia lima belas tahun atau yang belum dapat dinikahi.
Diisyaratkan dua unsur subjektif secara bersama-sama yakni unsur yang ia ketahui dan unsur pidana yang sepantasnya harus ia duga di dalam rumusan tindak pidana yang diatur dalam pasal 287 ayat (1) KUHP, orang dapat mengetahui bahwa tindak pidana yang diatur dalam pasal 287 ayat (1) KUHP itu mempunyai unsur subjektif yang proparte dolus dan proparte culpa.
Kedua unsur subjektif tersebut meliputi unsur objektif ketiga dari tindak pidana yang diatur dalam pasal 287 ayat (1) KUHP yakni unsur wanita yang belum dapat dinikahi.
Pelaku dapat dinyatakan terbukti telah memenuhi unsur-unsur subjektif tersebut, baik penuntut umum maupun hakim harus dapat membuktikan bahwa pelaku memang mengetahui atau setidak-tidaknya dapat menduga bahwa wanita yang mengadakan hubungan kelamin di luar pernikahan dengan dirinya belum mencapai usia lima belas tahun atau belum dapat dinikahi.
Pengetahuan atau dugaan pelaku tersebut ternyata tidak dapat dibuktikan di siding pengadilan yang memeriksa dan mengadili perkara pelaku, maka hakim akan memberikan putusan bebas bagi pelaku.27
Unsur objektif pertama dari tindak pidana yang diatur dalam pasal 287 ayat (1) KUHP ialah unsur barang siapa.
Kata barang siapa menunjukkan pria, yang apabila pria tersebut memenuhi semua unsur dari tindak pidana yang diatur dalam pasal 287 ayat (1) KUHP, maka ia dapat disebut sebagai pelaku dari tindak pidana tersebut.
Unsur subjektif kedua dari tindak pidana yang diatur dalam pasal 287 ayat (1) KUHP ialah unsur mengadakan hubungan kelamin di luar pernikahan.
Terpenuhinya unsur ini oleh pelaku, tidaklah cukup jika hanya terjadi persinggungan di luar antara alat kelamin pelaku dengan alat kelamin korban, melainkan harus terjadi persatuan antara alat kelamin pelaku dengan alat kelamin korban, tetapi tidak diisyaratkan keharusan terjadinya ejaculatio seminis.
Terjadinya persatuan antara alat kelamin pelaku dengan alat kelamin korban itu saja, belum cukup bagi orang untuk menyatakan pelaku terbukti telah memenuhi unsur objektif kedua dari tindak pidana yang diatur dalam pasal 287 ayat (1) KUHP, karena disamping itu, undang-undang juga mensyaratkan bahwa persatuan antara alat-alat kelamin itu harus terjadi di luar pernikahan atau buiten
echt28
28 Ibid. Halaman. 115
.
Sesuai yang dimaksud dengan pernikahan di dalam rumusan tindak pidana yang diatur dalam pasal 287 ayat (1) KUHP ialah pernikahan yang sah menurut undang-undang nomor 1 tahun 1974.
(1). Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.
(2). Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku29
Diisyaratkan unsur culpa yang oleh undang-undang telah dinyatakan dengan kata-kata van wie hij redelijkerwijs moet vermoeden atau yang sepantasnya harus ia duga di dalam rumusan tindak pidana yang diatur dalam pasal 287 ayat (1) KUHP memang tepat, karena jarang terjadi seorang pelaku dapat mengetahui dengan tepat mengenai usia wanita yang mengadakan hubungan
.
Menurut Prof. Van Bemmelen dan Prof. Van Hattum, ketentuan pidana diatur dalam pasal 287 ayat (1) KUHP telah dibentuk untuk mencegah disalahgunakannya ketidakpengalaman anak-anak atau het misbruik maken van jeugdige onervarenheid oleh orang dewasa.
Itulah sebabnya, pembentuk undang-undang telah melarang dilakukannya perbuatan mengadakan hubungan kelamin di luar pernikahan dengan anak-anak yang belum mencapai usia lima belas tahun atau yang belum dapat dinikahi.
Secara kebetulan penentuan tentang usia wanita tersebut ternyata sesuai dengan penentuan tentang usia wanita yang belum didizinkan untuk menikah menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974, karena menurut ketentuan yang diatur dalam pasal 7 ayat (1) undang-undang nomor 1 tahun 1974, perkawinan itu hanya diizinkan jika pria telah mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita telah mencapai usia 16 tahun.
kelamin dengan dirinya, kecuali jika wanita tersebut dapat menunjukkan akta identitasnya, misalnya dengan menunjukkan akta kelahirannya atau kartu tanda kependudukannya.
Pidana yang diatur dalam pasal 287 ayat (2) KUHP, undang-undang telah menentukan bahwa pelaku dari tindak pidana yang diatur dalam pasal 287 ayat (1) KUHP itu tidak akan dituntut kecuali jika ada pengaduan.
Tentang unsur objektif ketiga, bahwa pengaduan seperti yang dimaksudkan di atas tidak perlu ada, jika korban ternyata merupakan seorang wanita yang belum mencapai usia dua belas tahun30
b. Tindak pidana melakukan tindakan melanggar kesusilaan dengan anaknya sendiri, dengan anak tirinya, dengan anak angkatnya atau dengan seseorang anak dibawah umur yang pengawasannya, pendidikannya atau pengurusannya dipercayakan kepada pelaku itu, oleh pembentuk undang-undang telah diatur dalam pasal 294 KUHP yang rumusan aslinya di dalam bahasa Belanda berbunyi sebagai berikut:
.
(1). Hij, die ontucht pleegt met zijn minderjaring kind, stiefkind of pleegkind, zijn pupil, een aan zijne zorg, opleiding of waakzaamheid teovertrouwden minderjarige, of zijn minderjaringen bediende of ondergeschikte, wordt gestraft met gevangenisstraf van ten hoogste zeven jaren31
2. de bestuurder, geneeskundige, onderwijzer, beambte opzichter of bediende in ene gevangenis, lands-werkinrichting, opvoedingsgesticht,
.
(2). Met dezelfde straf wordt gestraft:
1. de ambtenaar, die ontucht pleegt met een person, die ambtelijk aan hem ondergeschikt is of aan zijne waakzaamheid is toevertrouwd of aanbevolen;
30
P.A.F. Lamintang dan Theo Lamintang, Op.cit, Halaman 119
weeshuis, ziekenhuis, krankzinningengesticht of instelling van weldadigheid, die ontucht pleegt met een person daarin opgenomen32
2. pengurus, tabib, guru, pegawai, mandor atau bujang dalam penjara, rumah tempat melakukan pekerjaan untuk negeri, rumah pendidikan, rumah piatu, rumah sakit, rumah sakit ingatan atau balai derma, yang melakukan pencabulan dengan orang yang ditempatkan disitu
. Artinya:
(1). Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya yang belum dewasa, anak tiri atau pungutnya, anak peliharaannya, atau dengan seseorang yang belum dewasa yang dipercayakan padanya untuk ditanggung, dididik atau dijaga, atau dengan bujang atau orang sebawahnya yang belum dewasa, dihukum penjara selama-lamannya tujuh tahun.
(2). Dengan hukuman yang serupa dihukum:
1. pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dibawah perintahnya atau dengan orang yang dipercayakan atau diserahkan padanya untuk dijaga.
33
1. Barangsiapa;
.
Tindak pidana yang dimaksudkan di dalam ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 294 ayat (1) KUHP hanya terdiri atas unsur-unsur objektif, masing-masing yakni:
2. Melakukan tindakan-tindakan melanggar cabul/kesusilaan;
32
Ibid.
3. Anak sendiri, anak tiri, anak asuh atau anak angkat yang belum dewasa ataupun anak belum dewasa yang pengurusan, pendidikan, atau penjagaannya dipercayakan pada pelaku;
4. Seorang pembantu atau seorang bawahan yang belum dewasa.
Unsur objektif pertama dari tindak pidana yang dimaksudkan di dalam ketentuan pidanan yang diatur pasal 294 ayat (1) KUHP, yakni unsur barangsiapa menunjukkan orang, yang apabila orang tersebut terbukti memenuhi semua unsur dari tindak pidana yang dimaksudkan di dalam ketentuan pidanan yang diatur pasal 294 ayat (1) KUHP, maka ia dapat disebut pelaku dari tindak pidana tersebut34
34 P.A.F. Lamintang, S. H. dan Theo Lamintang,Op.cit, Halaman 175
.
Unsur objektif kedua dari tindak pidana yang dimaksudkan di dalam ketentuan pidana yang diatur pasal 294 ayat (1) KUHP ialah unsur melakukan tindakan-tindakan cabul.
Menurut Prof. Simons, kata ontucht di dalam rumusan ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 294 ayat (1) KUHP harus diartikan sama dengan kata ontucht di dalam rumusan ketentuan pidana yang diatur pasal-pasal 289 dan 290 KUHP yakni Handelingen, welke het geslachtelijk leven betreffende met wellustige bedoelingen geschieden en het agemene zedelijkheidsgevoel krenken atau tindakan-tindakan yang berkenaan dengan kehidupan seksual, yang dilakukan dengan maksud-maksud untuk mendapatkan kenikmatan secara bertentangan dengan pandangan umum tentang kesusilaan.
Adapun menurut memorie van toelichting, harus pula dimasukkan kedalam pengertian ontuchtige handelingen, yakni perbuatan mengadakan suatu vleselijke gemeenschap atau mengadakan suatu hubungan kelamin atau senggama.
Unsur objektif ketiga dari tindak pidana yang dimaksudkan di dalam ketentuan pidana yang diatur pasal 294 ayat (1) KUHP ialah unsur-unsur anak sendiri, anak tiri, anak asuh atau anak angkat yang belum dewasa ataupun anak belum dewasa yang pengurusannya, pendidikannya atau penjagaannya telah dipercayakan pada pelaku.
Menurut hemat penulis pengertian dari anak-anak seperti yang dimaksudkan di atas sudah cukup jelas, sehingga tidak akan dibicarakan lebih lanjut.
Unsur objektif keempat dari tindak pidana yang dimaksudkan di dalam ketentuan pidana yang diatur pasal 294 ayat (1) KUHP ialah unsur pembantu atau seorang bawahannya yang belum dewasa35
35 Ibid, halaman 176
.
Kata pembantu berasal dari kata bediende, yang artinya pelayan atau pesuruh, sehingga termasuk pula ke dalam pengertiannya yakni pembantu rumah tangga, pelayan tangga, pelayan toko, pesuruh kantor, dan lain-lain.
Kata bawahan itu berasal dari kata ondergeschikte yang artinya orang yang membawah, sehingga dapat dimasukkan ke dalam pengertiannya antara lain pekerja, buruh, karyawan, pegawai, dan lain-lain.
Tindak pidana yang dimaksudkan di dalam ketentuan pidana yang diatur di dalam ketentuan pidana yang diatur pasal 294 ayat (1) KUHP, hanya terdiri atas unsur-unsur objektif, masing-masing yakni:
1. Pegawai negeri;
2. Melakukan tindakan-tindakan melanggar kesusilaan;
3. Orang yang menurut jabatan merupakan seorang bawahan pelaku atau orang yang penjagaanya telah dipercayakan atau diserahkan kepada pelaku.
Unsur objektif pertama dari pihak tindak pidana yang dimaksud di dalam ketentuan pidana yang diatur pasal 294 ayat (2) KUHP ialah ambtenaar atau pegawai negeri.
Menurut arrest-arrest hogeraad masing-masing tanggal 30 Januari 1991, W. 9149, 25 Oktober 1915, NJ 1915 halaman 1205, W. 9861 dan tanggal 26 Mei 1919, NJ 1919 halaman 653, W. 10426, yang dimaksudkan dengan pegawai negeri ialah mereka yang diangkat oleh pemerinta untuk melakukan tugas atau sebagian dari tugas Negara atau tugas alat-alat perlengkapannya, dan yang diberikan pekerjaan yang bersifat umum36
Tentang yang dimaksudkan dengan ontucht di dalam ketentuan pidana yang diatur pasal 294 KUHP, dan hubungannya dengan ketentuan pidana yang
.
Unsur objektif kedua dari tindak pidana yang dimaksud di dalam ketentuam pidana yang diatur pasal 294 ayat (2) KUHP ialah unsur ontuch plegen atau unsur-unsur melakukan tindakan-tindakan melanggar kesusilaan.
36
Drs. P.A.F. Lamintang, S. H., Samosir, S. H., C. Djisman, S. H., Hukum Pidana Indonesia, Cetakan Kedua, 1985, Halaman 16 dan 82
melarang dilakukannya hubungan kelamin di luar pernikahan dengan seorang anak yang belum mencapai usia lima belas tahun seperti yang dimaksudkan dalam pasal 287 KUHP.
Unsur objektif ketiga dari tindak pidana yang dimaksudkan di dalam ketentuan pidana yang diatur pasal 294 ayat (2) angka 1 KUHP ialah unsur orang yang menurut jabatan merupakan seorang bawahan pelaku atau orang yang penjagaanya telah dipercayakan atau diserahkan kepada pelaku.
Perlu diperhatikan bahwa undang-undabg telah mensyaratkan sebagai unsur objektif ketiga antara lain bahwa orang dengan siapa pegawai negeri itu melakukan tindakan melanggar kesusilaan haruslah merupakan orang yang menurut jabatan harus bawahan pelaku, dan bukan orang yang menurut kepangkatan merupakan bawahan dari pelaku.
Sesuai dalam pasal 294 ayat (2) angka 2 KUHP jelas dituliskan bahwa pengurus, tabib, guru, pegawai, mandor atau bujang dalam penjara, rumah tempat melakukan pekerjaan untuk negeri, rumah pendidikan, rumah piatu, rumah sakit, rumah sakit ingatan atau balai derma, yang melakukan pencabulan dengan orang yang ditempatkan disitu dapat dihukum.
B. Peraturan di luar KUHP
Di atas telah dituliskan pengaturan tentang perkosaan orang tua tiri terhadap anak dibawah umur sesuai KUHP, namun di luar KUHP juga terdapat 2 pasal diantaranya, yaitu:
a. Pasal 81 Undang-undang nomor 23 Tahun 2002, yaitu:
(1). Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang
lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).
(2). Ketentuan pidanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
b. Pasal 82 Undang-undang nomor 23 Tahun 2002, yaitu:
Setiap orang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukukan perbuatan cabul, dipidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahundan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah)37.
BAB III
FAKTOR PENYEBAB TINDAK PIDANA PEMERKOSAAN TERHADAP ANAK TIRI
C. Etiologi Kriminal Secara Umum
Sebelumnya penulis disini akan menjelaskan alasan apa pria memaksakan kehendaknya kepada anak-anak? Kenikmatan seksual dan pelampiasan jelas merupakan alasan yang pasti, tetapi masih ada sebab yang lain. Mungkin kekerasan seksual berupa pemerkosaan terhadap anak di bawah umur salah satu pria atau orang tua untuk menunjukkan dominasi sosial atas kemarahannya pada wanita yang dibencinya sehingga melampiaskannya kepada anak-anak. Dalam menguraikan faktor-faktor timbulnya kejahatan, telah banyak para sarjana yang menguraikannya sesuai dengan bidang keahliannya, tetapi tidak seorang pun dapat memberikan batasan yang mutlak tentang faktor utama timbul tindak pidana.
Sebab timbulnya kejahatan ini sangat kompleks, dan di dalam faktor yang satu saling mempengaruhi dengan faktor yang lain.
Edwin H. Sutherland mengatakan bahwa:
“ Kejahatan adalah hasil dari faktor-faktor yang beraneka ragam dan bermacam-macam. Dan bahwa faktor-faktor itu dewasa ini dan untuk selanjutnya tidak bias disusun menurut suatu ketentuan yang berlaku umum tanpa ada pengecualian atau dengan kata lain; untuk menerangkan kelakuan kriminil memang tidak ada teori ilmiah”38
Sebelum kita membahas faktor penyebab terjadinya tindak pidana pemerkosaan oleh orang tua tiri terhadap anak di bawah umur, terlebih dahulu
.
dapat kita lihat faktor-faktor penyebab terjadinya kejahatan secara umum (Etiologi Kriminil) yaitu antara lain39
1. Pendapat Mazhab Antropologi :
Disebut juga Mazhab Italia, antara lain tokohnya yang terkenal kita sebut: C. Lombroso (1835-1909), dengan buah pekerjaannya yang paling penting ialah “L’uomo delinqunte” (1876).
Menurut Lambroso, manusia yang pertama adalah penjahat dari semenjak lahirnya.
Antropologi Penjahat:
Penjahat umumnya dipandangdari segi antropologi merupakan suatu jenis manusia tersendiri (gemus home delinguente nato) mereka tidak mempunyai predis posisi untuk kejahatan, tetapi suatu prodistinasi, dan tidak ada pengaruh lingkungan yang dapat merubahnya. Sifat batin sejak lahir dapat dikenal dari adanya stigmate-stigmate, suatu tipe penjahat yang dapat dikenal. Hypothese
atavisme:
Soalnya ialah bagaimana caranya menerangkan terjadinya makhluk yang abnormal itu (penjahat sejak lahir). Lambroso dalam memecahkan hal tersebut, memajukan hypothase yang sangat cerdik, diterima bahwa orang masih sederhana peradabannya sifatnya adalah amoral, kemudian dengan berjalannya waktu dapat memperoleh sifat-sifat susila (moral), maka orang penjahat merupakan suatu gejala atavistis, artinya ia dengan sekonyong-konyong dapat kembali menerima sifat-sifat yang sudah tidak dimiliki nenek moyangnya yang terdekat tapi dimiliki
39
Ridwan Hasibuan, Edi Warman, Asas-asas Kriminologi, USU Press, Medan, 1994, Halaman 65-68
nenek moyangnya yang lebih jauh (yang dinamakan pewarisan sifat secara jauh kembali).
Hypothese pathologi:
Selama beberapa waktu Lombroso dengan penganut-penganutnya menyatakan bahwa penjahat adalah seorang penderita penyakit epilepsy.
Tipe Penjahat:
Ciri-ciri yang dikemukakan oleh Lombroso terlihat pada penjahat, sedemikian sifatnya, sehingga dapat dikatakan tipe penjahat. Para penjahat dipandang dari sudut antropologi mempunyai tanda-tanda tertentu, umpamanya isi tengkorak (pencuri) kurang bila dibandingkan dengan orang lain, dan terdapat kelainan-kelainan pada tengkoraknya. Dalam otaknya terdapat keganjilan yang seakan-akan mengingatkan kepada otak-otak hewan, biarpun tidak dapat ditunjukkan adanya kelainan-kelainan penjahat yang khusus. Roman mukanya juga lain daripada orang biasa, tulang rahang lebar, muka menceng, tulang dahi melengkung ke belakang (apa yang disebut front fuyan) dll. Juga kurang perasaanya dan suka akan tatouage seperti halnya pada orang yang masih sederhana peradabannya
2. Pendapat Mazhab Lingkungan
Disebut juga Mazhab Prancis, mengatakan : Mazhab ini menentang mazhab Italia. “Die Welt ist mehr schuld an mir, als ish”, yakni dunia adalah lebih bertanggung jawab terhadap bagaimana jadinya saya, daripada diri saya sendiri.
a. A. Lacassagne (1843-1924)
Ia merumuskan mazhab lingkungan sebagai berikut : “L’ important
eas le melieu social. Permettez-, oi une coparaison empruntee a’la theorie modern. Ie milieu social est lebouillon de culture de la criminalite : le microbe, c’ est le criminal un element quin’a d’importance que le jour on iltrouve le bouillon le fait fermenter”
artinya : “yang terpenting adalah keadaan sosial disekeliling kita adalah suatu pembenihan untuk kejahatan kuman adalah si penjahat, suatu unsure barun mempunyai arti apabila menemukan pembenihan yang membuatnya berkembang”.40
b. G. Tardo (1843-1904) menurut pandangannya kejahatan buikan suatu gejala yang antropologis tapi sosiologis, ysng seperti kejahatan-kejahatan masyarakat lainnya dikuasai oleh peniruan. Tous les
importans de la vie sociale sent excutes sous L’empire de L’exemple,
yakni semua perbuatan penting dalam kehidupan sosial dilakukan dibawah kekuasaan 41
3. Pendapat Mazhab Biososiologi .
Ferri memberikan suatu rumus tentang timbulnya tiap-tiap kejahatan adalah resultante dari keadaan individu. Fisik dan sosial. Pada suatu waktu unsure individu yang paling penting. Keadaan sosial memberi bentuk pada kejahatan, tapi ini berasal dari bakatnya yang biologis yang anti sosial (organis dan psychis). Di antara semua penganut dari lombroso,
40
ibid
Ferri yang paling berjasa dalam menyebarkan ajarannya. Sebagai seorang ahli ilmu pengetahuan, ia sudah mengetahui bahwa ajaran Lombroso dalam bentuk aslinbya tidak dapat dipertahankan. Dengan tidak mengubah intinya Ferri mengubah bentuknya, sehingga tidak lagi begitu berat sebelah, dengan mengakui pengaruh lingkungan.
Kita lihat dari uraian di atas aliran bio-sosiologis ini bersynthese kepada aliran antropologi yaitu keadaan lingkungan yang menjadi sebab kejahatan, dan ini berasal dari Ferri. Rumusnya berbunyi:
“ Tiap kejahatan adalah hasil dari unsur-unsur ang terdapat dalam