22
MENURUT AL-QUR`AN
A. Arti Munafik Secara Etimologi dan Terminologi
Secara etimologi, kata munafik dalam bahasa Arab diambil dari akar kata
nafiqa (ﻖﻔﻧ) yang berarti lobang tikus. Dalam hal ini, antara lobang tikus dengan
kemunafikan memang ada kesejajaran sifat. Bagian atas (luar) dari liang tikus tertutup dengan tanah, sedangkan bagian bawahnya berlobang. Demikian pula dengan kemunafikan yang bagian luarnya adalah Islam tetapi bagian dalamnya merupakan keingkaran serta penipuan.1 Atau karena biasanya tikus selalu menampakkan jalan masuknya ke lobang, namun tidak menampakkan jalan keluarnya. Jadi, arti dasarnya adalah menampakkan sesuatu dan menyembunyikan lawannya.2
Kata munafik juga berasal dari kata nâfaqa-nifâqan (ﺎًﻗﺎَﻔﻧِ - َﻖَﻓﺎﻧَ) yang mengandung arti mengadakan, mengambil bagian dalam membicarakan sesuatu yang dalam pandangan keagamaan, pengakuannya dari satu orang berbeda-beda dengan yang lainnya.3 Al-Râghib al-Ashfahânî mengartikan nifâq dengan masuk ke dalam syara’ (agama) dari satu pintu dan keluar daripadanya melalui pintu lain.4 Hal ini didasarkan pada al-Qur`an Surat al-Tawbah/9 ayat 67 yang menyatakan bahwa
1Lihat Ahmad ‘Izz al-Dîn al-Bayânûnî, Al-Kufr wa al-Mukaffirât, (Halb: Maktabah al-Hudâ, 1979), h. 47
2
Ibrâhîm bin Muhammad bin 'Abdullâh al-Buraikan, Pengantar Studi Aqidah Islam, Penerjemah: Muhammad Anis Matta, (Ttp: Litbang Pusat Studi Islam Al-Manar, tt), h. 200
3‘Abdullâh 'Abbâs, Qâmûs al-Fâzh al-Qur`ân, (Beirut: Dâr al- Fikr, tt), h. 524
4
orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq. Oleh Al-Jurjânî kata nifâq diartikan menampakkan keimanan melalui perkataan dan menyembunyikan kekafiran dalam hati.5
Dalam al-Qur`an kata nifâq dengan berbagai bentuknya yang mengandung makna kemunafikan, disebut sebanyak 37 kali. Bila diklasifikasikan, ayat-ayat al-Qur`an yang membahas tema kemunafikan, kebanyakan diturunkan di Madinah
(Madaniyyah).6 Ini disebabkan karena fenomena kemunafikan kelihatan sangat
kentara kemunculan dan perkembangannya pada periode Madinah.
Adapun secara terminologi syari’at Islam, munafik adalah orang yang menampakkan sesuatu yang sejalan dengan kebenaran di depan orang banyak, padahal kondisi batin atau perbuatannya yang sebenarnya tidak demikian. Kepercayaan atau perbuatannya itu disebut nifâq.7
Dalam istilah al-Qur`an, menurut al-Thabâthabâ’î, nifâq adalah menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran.8 Hal ini didasarkan pada Qs. al-Mâ’idah/5 ayat 41 yang berbunyi:
ﻢﹶﻟﻭ ﻢِﻬِﻫﺍﻮﹾﻓﹶﺄِﺑ ﺎﻨﻣﺍَﺀ ﺍﻮﹸﻟﺎﹶﻗ ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ ﻦِﻣ ِﺮﹾﻔﹸﻜﹾﻟﺍ ﻲِﻓ ﹶﻥﻮﻋِﺭﺎﺴﻳ ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ ﻚﻧﺰﺤﻳ ﺎﹶﻟ ﹸﻝﻮﺳﺮﻟﺍ ﺎﻬﻳﹶﺃﺎﻳ
ﺑﻮﹸﻠﹸﻗ ﻦِﻣﺆﺗ
ﻙﻮﺗﹾﺄﻳ ﻢﹶﻟ ﻦﻳِﺮﺧﺍَﺀ ٍﻡﻮﹶﻘِﻟ ﹶﻥﻮﻋﺎﻤﺳ ِﺏِﺬﹶﻜﹾﻠِﻟ ﹶﻥﻮﻋﺎﻤﺳ ﺍﻭﺩﺎﻫ ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ ﻦِﻣﻭ ﻢﻬ
ﻦﻣﻭ ﺍﻭﺭﹶﺬﺣﺎﹶﻓ ﻩﻮﺗﺆﺗ ﻢﹶﻟ ﹾﻥِﺇﻭ ﻩﻭﹸﺬﺨﹶﻓ ﺍﹶﺬﻫ ﻢﺘﻴِﺗﻭﹸﺃﹾﻥِﺇ ﹶﻥﻮﹸﻟﻮﹸﻘﻳ ِﻪِﻌِﺿﺍﻮﻣ ِﺪﻌﺑﻦِﻣ ﻢِﻠﹶﻜﹾﻟﺍ ﹶﻥﻮﹸﻓﺮﺤﻳ
5'Alî bin Muhammad bin ‘Alî al- Husainî al- Jurjânî, Al-Ta’rîfât, (Beirut: Dâr al- Kutub al- Ilmiyyah, 1424 H/2003 M), Cet. ke-2, h. 241
6
Muhammad Fu’ad Abd al- Bâqî, al- Mu’jam al- Mufahras Li Alfâzh al-Qur`ân al-Karîm, (Beirut: Dâr al- Fikr, 1417 H), h. 886-887
7
Ibrâhîm bin Muhammad bin 'Abdullâh al-Buraikan, Pengantar Studi … , h. 201
8Muhammad Husain al- Thabâthabâ’î, al-Mîzân fî Tafsîr al-Qur`ân, (Teheran: Mu’assat Dâr al-Kutub al- Islamiyyah, 1396 H), Jilid XIX, h. 323
ﻪﺘﻨﺘِﻓ ﻪﱠﻠﻟﺍ ِﺩِﺮﻳ
ﻲِﻓ ﻢﻬﹶﻟﻢﻬﺑﻮﹸﻠﹸﻗ ﺮﻬﹶﻄﻳ ﹾﻥﹶﺃﻪﱠﻠﻟﺍ ِﺩِﺮﻳ ﻢﹶﻟ ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ ﻚِﺌﹶﻟﻭﹸﺃ ﺎﹰﺌﻴﺷ ِﻪﱠﻠﻟﺍ ﻦِﻣ ﻪﹶﻟ ﻚِﻠﻤﺗ ﻦﹶﻠﹶﻓ
ﻢﻴِﻈﻋ ﺏﺍﹶﺬﻋ ِﺓﺮِﺧﺂﹾﻟﺍ ﻲِﻓﻢﻬﹶﻟﻭ ﻱﺰِﺧ ﺎﻴﻧﺪﻟﺍ
) .
ﺓﺪﺋﺂﳌﺍ
/
٥
:
٤١
(
Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah" Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dandi akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (Qs. Al-Maidah/5: 41)
Jadi orang-orang munafik itu melalui lidahnya mengaku beriman, tunduk dan patuh kepada Allah, padahal sesungguhnya tidaklah demikian, bahkan merekalah penentang yang sangat gigih yang di dalam hati mereka dikotori oleh kekafiran. Dengan demikian mereka sebenarnya dapat dikelompokkan dalam golongan orang-orang kafir.
Kemunafikan dimasukkan dalam kategori kekafiran karena pada hakikatnya, perilaku nifâq adalah kekafiran yang terselubung. Orang-orang munafik, pada dasarnya, adalah mereka yang ingkar kepada Allah, kepada Rasul-Nya dan ajaran-ajaran yang dibawa rasul itu, kendatipun secara lahir mereka memakai baju mukmin.9
9
Dari pembahasan di atas, perilaku nifâq dapat dikelompokkan menjadi dua kategori. Yaitu, nifâq yang berhubugan dengan keimanan (aqîdah) dan nifâq yang berhubungan dengan amal perbuatan (‘amali).10
Nifâq aqîdah adalah menyembunyikan kekafiran dalam hati dan
menampakkan keimanan dalam lisan dan perbuatan. Orang-orang yang berperilaku demikian biasanya hanya akan dan sengaja menampakkan keimanannya melalui pernyataan lisan dan perbuatan bila ia berhadapan atau berada di tengah-tengah orang beriman. Dalam hal ini, keyakinannya tentang hakekat Islam sesungguhnya sangat bertentangan dengan pernyataan keimanan dan keislamannya tersebut.11
Sedang nifâq ‘amali adalah menampakkan perbuatan yang berbeda dengan
apa yang diperintahkan syari’at Islam. Orang-orang yang berperilaku demikian memiliki akhlak orang munafik dalam memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir, berkasih sayang kepada mereka, mendukung perjuangan mereka, menyalahi janji, membiasakan berdusta, atau berkhianat dan curang, dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari orang-orang seperti ini akan berusaha kelihatan bersikap manis dan lembut untuk mendapat simpatik dan kepercayaan dari orang di sekitarnya, padahal di dalam hatinya berkecamuk kebencian dan tipu daya.12
10
Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah menggunakan istilah lain untuk pembagian nifâq ini, yaitu
Nifâq Akbar (Nifâq Besar) dan Nifâq Ashghar (Nifâq Kecil). Lihat Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah,
Madarijus Salikin; Pendakian Menuju Allahi, terj. Kathur Suhardi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998), Cet. ke-1, h. 68. Sedangkan Sa'îd Hawwâ menyebutnya Nifâq Nazhari (konsepsional) dan Nifâq
‘Amali. Lihat Sa'îd Hawwâ, Mensucikan Jiwa; Konsep Tazkiyatun Nafs Terpadu, terj. Aunur Rafiq Shaleh Tamihid, (Jakarta: Rabbani Press, 1998), Cet. ke-1, h. 182
11Lihat Ibid.
12 Ibid.
Dari beberapa pengertian tentang nifâq dan orang munafik yang diutarakan di atas dapat disimpulkan bahwa kemunafikan tidaklah semata berhubungan dengan persoalan keimanan yang menjurus pada masalah kebohongan dan pengkhianatan kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi munafik juga meliputi segala persoalan yang berhubungan dengan amal perbuatan manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya, yakni dengan berperilaku ganda atau bermuka dua dalam bersikap di hadapan orang, kata lisan dan perbuatannya sangat bertentangan dengan kata hatinya. Termasuk dalam hal ini melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan dan tuntutan syara’ sebagaimana yang telah diyakini kebenarannya.
Berdasarkan itu, orang munafik itu dapat dibagi dalam tingkatan-tingkatan sebagaimana yang telah dikelompokkan oleh ulama berdasarkan pada jenis-jenis nifâq yang dilakukannya, yaitu:
1. Orang munafik dengan tingkat nifâq besar (berkaitan dengan akidah). Ciri-ciri munafik pada tingkat ini adalah: mendustakan Rasulullah saw. secara parsial dan keseluruhan, mendustakan sebagian ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw berdasarkan al-Qur`an dan hadis-hadisnya, membenci Rasulullah saw., membenci sebagian ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw., merasa gembira dengan kekalahan agama Rasulullah saw., dan merasa benci dengan kemenangan agama Rasulullah saw.13
13Ibrâhîm bin Muhammad bin 'Abdullâh al-Buraikan, Pengantar Studi..., h. 202-203. Lihat Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Madarijus Salikin;..., h. 68;Sa'îd Hawwâ, Mensucikan Jiwa;..., h. 182
2. Orang munafik dengan tingkat nifâq kecil (berkaitan dengan perbuatan). Ciri-ciri munafik pada tingkat ini adalah: dusta dalam perkataan, tidak menepati janji, menghkhianati amanah, berlaku curang ketika bertengkar dengan jalan keluar dari aturan akhlak yang luhur, dan menipu.14
Kemunafikan tingkat pertama yang bernuansa akidah (keyakinan) di atas dianggap telah keluar dari agama secara total. Kemunafikan pada tingkat ini disamakan dengan kekufuran.
Adapun kemunafikan pada tingkat kedua dalam bentuk perbuatan (amal), meskipun tidak sampai menyebabkan pelakunya dianggap keluar dari agama secara total, tetapi ia merupakan lorong menuju kekufuran. Barangsiapa pada dirinya telah terkumpul ciri-ciri kemunafikan tersebut berarti telah berkumpul padanya kejelekan, dimana semua sifat itu merupakan sifat yang menjadi karakter orang munafik.
Karakter-karakter orang munafik yang dikelompokkan di atas diungkap dalam al-Qur`an sebagaimana yang diuraikan pada pembahasan berikut.
B. Karakteristik Orang Munafik
Karakteristik orang munafik menurut al-Qur`an terdapat dalam surat-surat yang diturunkan di Madinah. Hal inilah yang mendasari sebahagian besar ulama tafsir berpendapat bahwa orang munafik baru muncul pada periode Madinah. Ibn Katsîr di antaranya menjelaskan bahwa kemunafikan pertama kali muncul di Madinah setelah terjadi peristiwa Badar al-‘Uzhma (hebat) dan Allah menampakkan kalimah-Nya
14 Ibid.
serta memuliakan Islam dan pemeluk-Nya, maka masuk Islamlah 'Abdullâh bin Ubay bin Salûl, yang dahulunya sebagai penguasa Madinah, berasal dari kabilah Khazraj. Ia adalah pemimpin kabilah Aus dan Khazraj pada masa jahiliah yang dahulunya mereka pernah akan menjadikannya sebagai raja mereka. Akan tetapi, datanglah kepada mereka kebaikan, lalu mereka masuk Islam sehingga keinginan mereka terlupakan. Dalam diri Ubay tersimpan dendam terhadap Islam dan pengikutnya. Setelah kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar, 'Abdullâh bin Ubay bin Salûl berkata, “Ini adalah perkara yang unggul”. Maka dia pura-pura masuk Islam bersama golongan yang mengikuti jejak dan pola hidupnya serta beberapa orang Ahli Kitab. Dari peristiwa itu, timbullah kemunafikan pada penduduk Madinah dan yang ada di sekitarnya. Adapun kaum muhajirin tidak ada seorangpun yang munafik, sebab dia berhijrah bukan karena dipaksa oleh kaumnya, namun karena pilihannya sendiri. Dia meninggalkan harta, anak, dan lahannya karena mengharapkan apa yang ada pada sisi Allah di negeri akhirat.15
Jadi fenomena nifâq berdasarkan uraian di atas, baru muncul dan terjadi dalam sejarah Islam setelah Rasulullah saw. beserta kaum muslimin berada di Madinah, setelah kaum muslimin memiliki negara. Mereka (kaum munafik) berasal dari kabilah Aus dan Khazraj yang waktu itu disebut sebagai kaum Anshor. Sifat munafik ini muncul disebabkan oleh rasa iri, dengki serta rasa dendam terhadap
15'Imâduddîn Abî al-Fidâ` Ismâ'îl bin Katsîr (selanjutnya ditulis Ibn Katsîr), Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm, (Kairo: Maktabah al-Shafâ, 1425 H/2004 M), Cet. ke-1, Juz I, h. 65
Rasulullah dan para sahabatnya (kaum Anshâr) yang mendapat perlakuan baik dan istimewa di tengah-tengah masyarakat Madinah kala itu.
Namun dalam hal ini al-Thabâthabâ’î berpendapat bahwa orang munafik sudah mulai muncul di Mekkah dan tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa orang munafik baru muncul di Madinah. Menurutnya, surat al-‘Ankabût/29, secara keseluruhan termasuk Makkiyyah, termasuk sebelas ayat dipermulaannya. Kata jihâd
dan munâfîq yang terdapat di dalamnya (ayat 5 dan 11) tidak dapat dijadikan alasan
untuk mengklaimnya sebagai Madaniyyah. Jihad yang dimaksud di sana bukanlah perang melainkan jihâd al-nafs (memerangi hawa nafsu dan keinginan-keinginan jahat dalam diri).16
Sejalan dengan pendapat di atas, Fazlur Rahmân mengemukakan bahwa konsep “munafik” di periode Mekkah berbeda dengan konsep “munafik” di periode Madinah. Menurutnya, munafik sudah muncul di periode Mekkah, dan sebelas ayat di awal surat al-‘Ankabût/29 jelas sekali tergolong ayat-ayat Makkiyah. Orang munafik
di periode Mekkah berarti orang yang mempunyai iman yang lemah dan berpendirian goyah. Mereka adalah orang-orang yang menyerah pada tekanan atas diri mereka dan tidak memiliki iman yang cukup untuk menahan tekanan tersebut. Sedang orang-orang munafik di periode Madinah adalah sekelompok orang-orang, khususnya pengikut
16
'Abdullâh bin Ubay yang sengaja menyusup ke dalam tubuh kaum muslimin untuk menyingkirkan Muhammad saw. dan meruntuhkan Islam dari dalam.17
Menyikapi perbedaan pendapat di atas, menurut penulis orang munafik sudah muncul dan ada di masa Mekkah. Hanya saja dalam konteks sejarah –sebagaimana telah dikemukakan di atas- fenomena nifâq memang baru kentara pada masa Rasulullah Muhammad saw. di Madinah. Dimana sejak kedatangan Rasulullah Muhammad saw. di Madinah dan Islam berkembang di sana, penduduk Madinah dari kalangan Yahudi (Ahli Kitab) kian hari semakin merasa terdesak, padahal merekalah yang selama itu menjadi tuan di Madinah. Demikian juga 'Abdullâh bin Ubay bin Salûl yang dipandang sebagai pemuka masyarakat Arab Madinah dari suku Aus dan Khazraj merasa bahwa sejak kedatangan Rasulullah Muhammad saw., dia kian hari semakin ditinggalkan orang. Jadi mereka, penduduk Madinah dari suku Aus dan Khazraj serta orang Yahudi merasa tersingkir dan iri sejak kedatangan Rasulullah Muhammad saw. beserta para pengikutnya (kaum Muhajirin) dari Mekkah. Karena sadar apabila mereka mengkonfrontasi Rasulullah Muhammad saw. secara kasar dan terang-terangan, mereka pasti mengalami kekalahan, sebab kebanyakan masyarakat Madinah saat itu telah menerima Rasulullah Muhammad saw. dan mendukung perjuangan beliau. Mereka tidak berani berhadapan secara terang-terangan menentang Rasulullah karena takut mereka akan disisihkan orang. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan mereka menggunakan strategi khusus dalam menghadapi Rasulullah
17Lihat Fazlur Rahmân, Major Themes of The Qur`an, (Chicago: Bibliotheca Islamica, 1980), h. 151-160
dengan sifat kemunafikannya, yaitu berpura-pura berpihak pada Rasulullah padahal sesungguhnya di belakang itu mereka adalah orang-orang yang menentang beliau.
Orang munafik pada periode Mekkah adalah orang yang menyembunyikan kebenaran imannya atau berpaling dari kebenaran itu dikarenakan oleh tekanan dan ketidaksanggupan mereka dalam menghadapi tekanan itu. Dimana itu mereka lakukan untuk menyelamatkan diri dari rasa takut dan sakit akan siksaan yang mereka alami dikarenakan lemahnya iman mereka, tetpi mereka tidk melakukan suatu tindakan atau konspirasi untuk meruntuhkan Islam dari dalam. Sedangkan orang munafik pada periode Madinah adalah orang yang menyembunyikan imannya yang sebenarnya dan cenderung melakukan konspirasi untuk mengecoh kaum muslim agar ambisi mereka untuk menyingkirkan Muhammad saw. dan meruntuhkan Islam dapat tercapai. Dengan begitu orang munafik pada periode Madinah lebih kentara untuk dikenali daripada orang munafik pada periode Mekkah.
Adapun pendapat Sayyid Quthb yang menyatakan bahwa fenomena nifâq
tersebut belum atau tidak terdapat pada masa Rasulullah di Mekkah. Karena Islam di Mekkah saat itu belum mempunyai kekuasaan dan belum mempunyai kekuatan, bahkan belum mempunyai kelompok yang ditakuti oleh penduduk Mekkah sehingga mereka perlu bersikap nifâq. Bahkan sebaliknya, Islam selalu ditindas, dakwah ditolak, dan diusir. Orang-orang yang bergabung dalam barisan Islam itulah orang-orang yang tulus akidahnya, yang lebih mengutamakan akidah itu dari sesuatu, dan
siap menanggung risiko apapun di dalam menempuh jalannya.18 Menurut penulis berdasarkan Qs. Al-Ankabût/29 ayat 10, akibat penindasan dan tekanan yang dialami oleh orang-orang Islam waktu itulah, ada di antara mereka yang menanggalkan keimanannya, berpura-pura beriman atau sebaliknya. Ini adalah salah satu indikasi adanya munafik di masa Mekkah.
Yang jelas adalah bahwa keberadaan orang munafik telah ada pada masa Rasulullah Muhammad saw. mengembangkan risalahnya di tengah-tengah umat. Dan Allah Swt. melalui firman-Nya dalam al-Qur`an banyak memberikan informasi, baik dalam konteks menceritakan tentang keadaan dan ciri-ciri mereka, maupun ancaman yang Allah tujukan kepada mereka. Hal ini sekaligus menunjukkan kejelekan sikap mereka dan bahayanya bagi kehidupan umat.
Berkenaan dengan itu, Sayyid Quthb ada menegaskan ketika dia mengawali penafsiran ayat 8-16 dalam surat Al-Baqarah/2 tentang gambaran orang-orang munafik sebagai berikut:
Ini adalah gambaran yang realistis dan kenyataan faktual di Madinah, akan tetapi ketika kita melewati suatu masa dan tempat, kita jumpai bahwa gambaran ini merupakan contoh yang berulang-ulang terjadi pada semua generasi manusia. Kita dapati bahwa manusia jenis ini adalah golongan munafik yang merasa sok tinggi tetapi tidak memiliki keberanian untuk menghadapi kebenaran dengan iman yang sahih, dan tidak pula berani mengemukakan pengingkaran secara transparan terhadap kebenaran itu. Tetapi pada waktu yang sama mereka memposisikan dirinya sebagai manusia yang tertinggi kedudukannya dibandingkan semua golongan manusia, dan persepsi mereka terhadap semua urusan juga dianggap paling tinggi dibandingkan dengan yang lain. Oleh karena itu, kami cenderung untuk membicarakan nash-nash ini secara khusus terhadap golongan munafik ini pada setiap generasi dengan tidak
18Lihat Sayyid Quthb, Fî Zhilâl al-Qur`ân, (Kairo: Dâr al- Syurûq, 1419 H/1998 M), Cet. ke-27, Jilid I, h. 31
melupakan sejarah. Kami tujukan pula pembicaraan ini kepada lubuk hati manusia pada setiap generasi.19
Jadi adalah penting untuk mengetahui secara mendalam tentang karakteristik orang munafik. Karena dia senantiasa akan dapat muncul dalam perjalanan sejarah umat manusia sampai akhir zaman, maka mereka perlu diidentifikasi dan selanjutnya dihadapi dengan cara yang benar. Sehingga kekhawatiran terhadap bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh mereka akan dapat diantisipasi sebelumnya.
Secara umum, al-Qur`an menjelaskan tentang karakteristik orang munafik di antaranya dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Berdusta dalam perkataan
Berdusta atau berkata bohong merupakan ciri orang munafik yang paling menonjol. Sifat ini muncul akibat orang munafik tidak berani secara terang-terangan menunjukkan sikap dan pernyataan di depan orang karena takut dan khawatir akan keberadaannya atau demi tujuan tertentu yang dimaksudnya. Hal ini akan begitu mudah muncul pada diri orang munafik, karena kepada Allah sajapun dia berani berbohong, yaitu ketika dia mengatakan beriman kepada Allah padahal di dalam hati ia mengingkari. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur`an surat al-Baqarah/2 ayat 8-10:
ﲔِﻨِﻣﺆﻤِﺑ ﻢﻫ ﺎﻣﻭ ِﺮِﺧﺂﹾﻟﺍ ِﻡﻮﻴﹾﻟﺎِﺑﻭ ِﻪﱠﻠﻟﺎِﺑ ﺎﻨﻣﺍَﺀ ﹸﻝﻮﹸﻘﻳ ﻦﻣ ِﺱﺎﻨﻟﺍ ﻦِﻣﻭ
)
٨
(
ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍﻭ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﹶﻥﻮﻋِﺩﺎﺨﻳ
ﹶﻥﻭﺮﻌﺸﻳ ﺎﻣﻭ ﻢﻬﺴﹸﻔﻧﹶﺃ ﺎﱠﻟِﺇ ﹶﻥﻮﻋﺪﺨﻳ ﺎﻣﻭ ﺍﻮﻨﻣﺍَﺀ
)
٩
(
ﻟﺍ ﻢﻫﺩﺍﺰﹶﻓ ﺽﺮﻣ ﻢِﻬِﺑﻮﹸﻠﹸﻗ ﻲِﻓ
ﺎﺿﺮﻣ ﻪﱠﻠ
ﹶﻥﻮﺑِﺬﹾﻜﻳ ﺍﻮﻧﺎﹶﻛ ﺎﻤِﺑ ﻢﻴِﻟﹶﺃ ﺏﺍﹶﺬﻋ ﻢﻬﹶﻟﻭ
)
١٠
) .(
ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ
/
٢
:
٨
-١٠
(
19 Ibid., h. 42Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.(8) Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.(9) Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi
mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.(10) (Qs.
Al-Baqarah/2: 8-10)
Ayat tersebut menjelaskan tentang sifat orang munafik yang tidak memiliki pendirian yang kokoh dan tegas dalam akidah. Dia menyatakan beriman kepada Allah dan hari kemudian, padahal hakekatnya dia tidak beriman. Sifat seperti ini tentu akan sangat mempengaruhi sikapnya terhadap manusia dalam pergaulan sehari-hari.
Dengan berdusta, dia mengira telah menipu Allah dan orang-orang yang beriman. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian, bahkan sebenarnya dialah yang telah menipu dirinya sendiri. Orang-orang seperti itu mengira bahwa mereka itu adalah orang-orang yang cerdas dan pandai serta mampu melakukan tipu daya dan rekayasa terhadap orang-orang yang lapang dada itu.
Oleh Sayyid Quthb dijelaskan bahwa mereka menipu diri sendiri, ketika mereka menganggap bahwa mereka akan beruntung dan berhasil dengan tindakan dan dana yang mereka keluarkan, serta memeliharanya dengan menyembunyikan kekafiran dikalangan kaum mukminin. Akan tetapi pada waktu yang sama, sebenarnya mereka membinasakan dirinya sendiri dengan melakukan kekafiran yang mereka sembunyikan dan kemunafikan yang mereka nyatakan itu. Akibatnya mereka mendapatkan tempat kembali yang amat buruk. Mereka melakukan penipuan semacam ini dikarenakan mental mereka sakit, dalam hati mereka ada penyakit, dan inilah yang memalingkan mereka dari jalan yang terang dan lurus, serta menyebabkan
mereka pantas mendapatkan tambahan penyakit dari Allah. Dengan begitu penyelewengan yang mereka lakukan semakin berkembang dan semakin bertambah. Ini adalah sunnah Allah yang tidak pernah berganti. Sunnah Allah pada segala sesuatu dan dalam semua urusan, serta pada perasaan dan perilaku.20
Hamka menjelaskan, bahwa ciri orang munafik yang pertama ini adalah orang yang pecah di antara hatinya dengan mulutnya. Mulutnya mengakui percaya, tetapi hatinya tidak, dan pada perbuatannya lebih terbukti lagi bahwa pengakuan mulutnya tidak sesuai dengan apa yang tersimpan dihatinya. Walaupun dia memaksakan dirinya berbuat suatu perbuatan yang hanya diakui oleh mulut, padahal tidak dari hati, maka tidaklah akan lama dia dapat mengerjakan perbuatan itu.21
Hal itu dijelaskan juga dalam firman-Nya pada surat al-Tawbah/9 ayat 77:
ﹶﻥﻮﺑِﺬﹾﻜﻳ ﺍﻮﻧﺎﹶﻛ ﺎﻤِﺑﻭ ﻩﻭﺪﻋﻭ ﺎﻣ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﺍﻮﹸﻔﹶﻠﺧﹶﺃ ﺎﻤِﺑ ﻪﻧﻮﹶﻘﹾﻠﻳ ِﻡﻮﻳ ﻰﹶﻟِﺇ ﻢِﻬِﺑﻮﹸﻠﹸﻗ ﻲِﻓ ﺎﹰﻗﺎﹶﻔِﻧ ﻢﻬﺒﹶﻘﻋﹶﺄﹶﻓ
.
)
ﺔﺑﻮﺘﻟﺍ
/
٩
:
٧٧
(
Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena merekaselalu berdusta. (Qs. Al-Tawbah/9: 77)
Lebih tegas lagi Allah Swt. menjelaskan tentang orang munafik sebagai pendusta adalah sebagaimana firman-Nya:
20Sayyid Quthb, Fî Zhilâl al-Qur`ân, Jilid I, h. 43
21
ﹶ
ﺫِﺇ
ﱠﻥِﺇ ﺪﻬﺸﻳ ﻪﱠﻠﻟﺍﻭ ﻪﹸﻟﻮﺳﺮﹶﻟ ﻚﻧِﺇ ﻢﹶﻠﻌﻳ ﻪﱠﻠﻟﺍﻭ ِﻪﱠﻠﻟﺍ ﹸﻝﻮﺳﺮﹶﻟ ﻚﻧِﺇ ﺪﻬﺸﻧ ﺍﻮﹸﻟﺎﹶﻗ ﹶﻥﻮﹸﻘِﻓﺎﻨﻤﹾﻟﺍ ﻙَﺀﺎﺟ ﺍ
ﹶﻥﻮﺑِﺫﺎﹶﻜﹶﻟﲔِﻘِﻓﺎﻨﻤﹾﻟﺍ
) .
ﻥﻮﻘﻓﺎﻨﳌﺍ
/
٦٣
:
١
(
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benarorang pendusta. (Qs. Al-Munâfiqûn/63: 1)
Bahkan sabda Rasulullah saw. pun semakin menegaskan bahwa berdusta adalah salah satu sifat munafik, sebagaimana dalam hadis berikut:
ﱠﻠﻟﺍ ﻰﱠﻠﺻ ﻲِﺒﻨﻟﺍ ِﻦﻋ ﹶﺓﺮﻳﺮﻫ ﻲِﺑﹶﺃﻦﻋ
ﻪ
ﺍﹶﺫِﺇﻭ ﺏﹶﺬﹶﻛ ﹶﺙﺪﺣ ﺍﹶﺫِﺇ ﹲﺙﺎﹶﻠﹶﺛ ِﻖِﻓﺎﻨﻤﹾﻟﺍ ﹸﺔﻳﺁ ﹶﻝﺎﹶﻗ ﻢﱠﻠﺳﻭ ِﻪﻴﹶﻠﻋ
ﻒﹶﻠﺧﹶﺃﺪﻋﻭ
ﹶﻥﺎﺧﻦِﻤﺗﺅﺍ ﺍﹶﺫِﺇﻭ
.
22Dari Abî Hurairah, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Tanda orang