• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

A. Kesimpulan

2. Kesimpulan Tambahan

Berikut kesimpulan tambahan yang diperoleh dalam penelitian, yaitu: a. Hasil tambahan penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata kepuasan

pernikahan subjek penelitian lebih tinggi daripada skor rata-rata kepuasan pernikahan populasi berdasarkan skala kepuasan pernikahan yang disusun oleh peneliti (rata-rata empirik>rata-rata hipotetik).

b. Berdasarkan hasil analisis kepuasan pernikahan ditinjau dari tahap-tahap pernikahan, usia ketika menikah, pendidikan terakhir, dan penghasilan perbulan, diperoleh sumbangan efektif masing-masing secara berurutan sebesar 0,037 (3,7%), 0,013 (1,3%), 0,036 (3,6%), 0,106 (10,6%). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat 80,8% variabel lain yang mempengaruhi kepuasan pernikahan pada wanita.

c. Persentase jumlah subjek pada tahap pasangan awal yang memiliki kepuasan pernikahan tinggi sebanyak 20%, yang memiliki kepuasan pernikahan sedang sebanyak 76%, dan yang memiliki kepuasan pernikahan rendah sebanyak 4%. Persentase jumlah subjek pada tahap membesarkan anak yang memiliki kepuasan pernikahan tinggi sebanyak 10%, yang memiliki kepuasan pernikahan sedang sebanyak 80%, dan yang memiliki kepuasan pernikahan rendah sebanyak 10%. Persentase subjek pada tahap kekosongan yang memiliki kepuasan pernikahan tinggi sebanyak 12%, yang memiliki kepuasan pernikahan sedang sebanyak 68%, dan yang memiliki kepuasan pernikahan rendah sebanyak 20%. d. Hasil analisis tambahan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan

kepuasan pernikahan pada wanita ditinjau dari usia ketika menikah. Selain itu, bila dilihat dari tiap aspek kepuasan pernikahan disimpulkan bahwa ada perbedaan kepuasan pernikahan pada wanita pada aspek penyelesaian konflik ditinjau dari usia ketika menikah.

e. Hasil analisis tambahan selanjutnya menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kepuasan pernikahan pada wanita ditinjau dari pendidikan

terakhir. Selain itu, bila dilihat dari tiap aspek kepuasan pernikahan disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kepuasan pernikahan pada tiap aspek dari kepuasan pernikahan pada wanita ditinjau dari pendidikan terakhir.

f. Hasil analisis tambahan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kepuasan pernikahan pada wanita ditinjau dari jumlah penghasilan (p=0.089, SE=10.6%). Selain itu, bila dilihat dari tiap aspek kepuasan pernikahan disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kepuasan pernikahan pada wanita pada aspek pengelolaan keuangan (0.036, SE=13.6%) dan pada aspek kesetaraan peran (p=0.072, SE=11.3%) ditinjau dari jumlah penghasilan.

g. Hasil analisis tambahan menunjukkan bahwa interaksi antara tahap pernikahan dengan pendidikan terakhir mempengaruhi kepuasan pernikahan pada aspek keluarga dan teman (p=0.074, SE= 15.5%).

B. DISKUSI

Asumsi peneliti pada penelitian ini meyatakan bahwa ada perbedaan kepuasan pernikahan pada wanita ditinjau dari tahap-tahap pernikahan. Asumsi tersebut didasarkan pada hasil penelitian Cole (dalam Lefrancois, 1993) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan berbentuk kurva linier antara kebahagiaan dan tahap pernikahan dimana kepuasan pernikahan mencapai level tertinggi pada tahun-tahun sebelum kelahiran anak, menurun pada tahun-tahun membesarkan

anak, dan kembali lagi ke level yang lebih tinggi pada tahun-tahun berikutnya setelah anak meninggalkan rumah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata tidak terdapat perbedaan kepuasan perikahan pada wanita ditinjau dari tahap-tahap pernikahan. Kesimpulan dari hasil penelitian ini tidak sesuai dengan asumsi penelitian. Menurut peneliti, hal ini terjadi karena metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian cross sectional yaitu membandingkan orang-orang yang berbeda pada tahapan usia yang berbeda dalam proses perkembangan (Bhrem, 2002). Dalam penelitian ini, latar belakang subjek penelitian tidak dikontrol dengan ketat sehingga subjek penelitian berasal dari latar belakang yang berbeda. Latar belakang yang dimaksud adalah usia ketika menikah, pendidikan terakhir, dan penghasilan.

Dalam penelitian ini, usia ketika menikah subjek penelitian bergerak dari 15 tahun dampai dengan 36 tahun dan ini berada pada rentang usia yang berbeda yaitu remaja dan dewasa awal (Hurlock, 1999). Selain itu, dilihat dari tingkat pendidikan terakhir, subjek dalam penelitian ini berasal dari latar belakang pendidikan rendah sampai dengan tinggi yaitu SD,SMP, SMA, Diploma, S1 dimana menurut Long (dalam Domikus, 2004) latar belakang pendidikan ikut mempengaruhi pola pikir serta memperluas wawasan dan cara pandang subjek, baik dari sudut pandang pribadi maupun sudut pandang yang lain secara lebih positif, sehingga mampu mengatasi dan mencari solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapi.

Dilihat dari faktor penghasilan, hasil analisis yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kepuasan pernikahan ditinjau dari jumlah penghasilan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hendrick & Hendrick (1992) yang menyatakan bahwa status ekonomi yang dirasakan tidak sesuai dengan harapan dapat menimbulkan bahaya dalam pernikahan dan mempengaruhi kepuasan pernikahan.

Menurut peneliti, faktor yang menyebabkan tidak adanya perbedaan kepuasan pernikahan pada wanita adalah budaya. Domikus (2004) menyatakan bahwa tradisi dan norma sebagian besar menempatkan wanita sebagai istri yang berbakti, nrimo, dan menurut kepada suami sebagai sebuah kemuliaan, sehingga subjek dalam penelitian ini pun menerima peran tersebut secara positif. Hal ini juga tidak lepas dari kesepakatan awal antara suami istri mengenai kejelasan pembagian peran dalam rumah tangga.

Selain itu faktor lain yang menyebabkan tidak adanya perbedaan kepuasan pernikahan adalah kehadiran anak. Jayantini (2003) berpendapat bahwa kehadiran anak menjadi suatu hal yang penting di Indonesia mengingat bahwa pernikahan merupakan suatu sarana untuk memperoleh keturunan, namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa kehadiran anak membawa perubahan terhadap pasangan suami istri terutama masalah keuangan dan pola hubungan suami istri. Selain itu, budaya Indonesia menekankan bahwa ketiadaan anak dalam rumah tangga dapat memicu adanya ketegangan bagi pasangan dikarenakan oleh adanya tuntutan dari masyarakat untuk memenuhi fungsi keluarga sebagai wahana untuk melahirkan keturunan (Hidir, 2000).

Faktor lain yang mungkin mempengaruhi kepuasan dalam pernikahan adalah kepribadian. Hasil penelitian Skolnick (dalam Lefrancois, 1993) menemukan bahwa kepribadian yang berlawanan tidak akan saling tertarik dan saling melengkapi satu sama lain, dan orang-orang yang memiliki kemiripan akan saling tertarik satu sama lain. Semakin mirip kepribadian seseorang dengan pasangannya maka semakin cenderung mereka memiliki kepuasan pernikahan yang tinggi.

C. SARAN

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, maka terdapat beberapa saran yang diberikan oleh peneliti untuk lebih menyempurnakan hasil maupun penelitian selanjutnya, antara lain:

1. Saran Metodologis

a. Untuk peneliti selanjutnya peneliti menyarankan untuk melengkapi metode pengambilan data dengan observasi dan wawancara untuk dapat memperkaya hasil penelitian.

b. Hendaknya peneliti selanjutnya memberi kontrol yang ketat terhadap karakteristik sampel sehingga sampel penelitian lebih representatif.

c. Peneliti selanjutnya hendaknya menggunakan teknik pengambilan sampel secara random dan memperbanyak jumlah sampel sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi.

2. Saran Praktis

a. Saran untuk wanita menikah dan akan menikah

Melalui hasil penelitian ini, diharapkan kepada wanita yang telah menikah dan yang akan menikah agar dapat lebih memahami dinamika yang terjadi dalam suatu pernikahan mulai dari awal menikah, memiliki anak, dan masa tua. Cara-cara yang dapat dilakukan adalah dengan memperbanyak informasi mengenai seluk-beluk pernikahan melalui buku, televisi, internet, pengalaman orang lain, dan berkonsultasi dengan konsultan pernikahan, serta mempersiapkan diri dari segi fisik, psikis, spiritual, dan finansial sehingga mempunyai cukup bekal untuk mengambil peran dan status baru dalam pernikahan.

b. Saran untuk pasangan (suami)

Berdasarkan hasil studi diketahui bahwa pria/suami memiliki kepuasan pernikahan yang lebih tinggi daripada wanita/istri. Oleh karena itu, bagi suami maupun calon suami diharapkan dapat lebih memahami posisi wanita dalam sebuah pernikahan dengan mengambil peran yang seimbang dengan istri baik dalam urusan rumah tangga maupun dalam hal pengasuhan anak.

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Caecilia D. P. (2003). Hubungan Kualitas Komunikasi Dan Toleransi

Stres Dalam Perkawinan. Suksma. 1, 52-60.

Azwar, S. (2000). Reliabilitas Dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

______. (2002). Penyusunan Skala Psikologi (edisi 1). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Basow, Susan A. (1992). Gender: Stereotype And Roles (3rd ed.). Pacific Grove,

California: Brooks/Cole Publishing Company.

Bhrem, S. (2002). Intimate relationship. New York : McGraw Hill Inc.

Billindeau, M. (1997). Marital satisfaction: Recent Research. [on-line]. http://www.hope.edu/academic/psycholody/335/webrep/marsat.html.. Tanggal akses: 30 Maret 2007.

Domikus, Y. (1999). Perilaku Sosioemosional Dalam Perkawinan Aplikasi Teori

Pertukaran Sosial Dalam Mewujudkan Perkawinan Yang Stabil Dan Memuaskan. Jurnal Psikologi Sosial: No.V. Jakarta: Fakultas Psikologi UI.

Dyer, Iverett D. (1983). Courtship, Marriage, And Family: American Style. Illinois: The Dorsey Press.

Gunarsa, Singgih D., (2003). Psikologi Untuk Keluarga. Jakarta: Gunung Mulia Hadi, S. (2000). Metodologi Research. Yogyakarta : Penerbit Andi.

Hendrick, S. & Hendrick, C. (1992). Liking, Loving, and Relating (2nd ed.).

California: Brooks/Cole Pub.Co

Henslin, J. M., & Miller. B. C. (1985). Marriage and family in a changing

society. New York: Macmillan, Inc.

Hidir, A. (2000). Bias Jender dalam Infertilitas. [on-line]. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0303/03/swara/151618.htm.

Tanggal Akses: 30 Oktober 2007

Hoyer, William J., & Roodin, Paul A. (2003). Adult Development And Aging (5th ed.). New York: McGraw Hill

Hurlock, E.B. (1999). Psikologi perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang

Rentang Kehidupan. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Jayantini, S. (2003). Menanti Kehadiran Anak, Kapan Suami Istri Siap. [on-line]. http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2003/3/30/kl.html. Tanggal Akses: 30 Oktober 2007

Judge, Timothy A, dkk. (2006). Work-Family Conflict And Emotions: Effects At

Work And At Home. [on-line].

http://proquest.umi.com/pqdweb?did=1182691071&sid=1&Fmt=4&client Id=63928&RQT=309&VName=PQD. Vol. 59, Iss. 4; pg. 779, 36 pgs. Tanggal akses: 30 Maret 2007.

Kail, R.V., & Cavanaugh, J.C. (2000). Human development (2nd ed). USA:

Wadsworth Publishing Company.

Kurdek, L. A. (1999). The Nature And Predictors Of The Trajectory Of Change In

Marital Quality For Husbands And Wives Over The first 10 YearsOf Marriage. Journal Of Development Psychology, 35, 1283-1296.

Lemme, B.H. (1995). Developmental In Adulthood. USA : Allyn & Bacon.

Lefrancois, Guy. (1993). The Life-Span (4th ed.). Belmont California: Wadsworth Publishing Company.

Litwin, Mark. S. (2003). How To Assess And Interpret Survey Psychometrics (2nd ed.). California: Sage Publications, Inc.

Mantra, I. B. (2004). Filsafat penelitian dan metode penelitian sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Matlin, M. W. (2004). The Psychology Of Women (5th ed.). California: Wadsworth.

Newman, & Newman. (2004). Development Through Life: A Psychosocial

Approach (9th ed.). USA: Wadsworth.

Olson, D. H., & Fowers B. J., (1989). Enrich Marital Inventory: Discriminant

validity and cross-validity assessment. [on-line]. Available FTP:

www.prepareenrichcanada.com/studies/study3.html. Tanggal akses: 27 Februari 2007.

Papalia, D. E, dkk. (2000). Human Development (8th ed.). New York: McGraw Hill Inc.

Prasetya, Berta Esti Ari. (Maret, 2005). Socioeconomic Variables in Correlation

with Marital Satisfaction Among Filifino Wives. Jurnal Psikologi. Vol 15,

No. 1.

Pujiastuti, E., & Retnowati, S. (2004). Kepuasan Pernikahan Dengan Depresi

Pada Kelompok Wanita Menikah Yang Berkerja Dan Yang Tidak Bekerja.

Jurnal Psikologi Indonesia. 1, 1-9.

Rosen, J. R., & Grandon. (1999). The Role Of Kids And Religion In Marital

Satisfaction. [on-line]. http://www.dr-jane.com/chapters/satisfaction.htm.

Tangggal Akses: 27 Februari 2007.

Santrock, John W. (1997). Life Span Development (6th ed.). USA: Brown &

Benchmark Publisher.

Sadarjoen, Sawitri Supardi. (2005). Konflik Marital Pemahaman

Konseptual, Aktual Dan Alternatif Solusinya. Bandung: Refika Aditama.

Saragih, R. (2003). Perbedaan Kepuasan Perkawinan Pada Wanita Bekerja Pasangan Single Career dan Pasangan Dual Career. Skripsi (tidak diterbitkan). Program Studi Psikologi Universitas Sumatera Utara. Medan. Sarwono, Sarlito W. (2003). Psikologi Remaja (cetakan keenam). Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada.

Scanzoni, L., & Scanzoni, John. (1976). Men, Women, And Change: A

Sociobiology Of Marriage And Family. New York: McGraw Hill Book

Company.

Sigelman, Carol. K., Rider, Elizabeth A. (2003). Life-Span Human Development (4th.ed). Belmont California: Wadsworth Publishing Company.

Sobardi, Ahmad. (2005). Selingkuh Dominasi Perceraian Di Medan. [on-line]. http://www.waspada.co.id/serba_serbi/features/artikel.php?article_id=71126. Tanggal akses: 9 Juni 2007

Suara Merdeka. (2004). Ingin Bahagia, Suami Istri Harus Mau Berkorban. [on- line]. http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0410/27/dar5.htm. Tanggal Akses: 30 Maret 2007.

Then, Debbie. (2002). Jika Suami Anda Berselingkuh. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Wahyuningsih, H. (2002). Perkawinan : Arti Penting, Pola Dan Tipe Penyesuaian

Wikipedia. (2007). Pernikahan. [on-line]. http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pernikahan&oldid=675890. Tanggal

Dokumen terkait